Sabtu, 19 Maret 2016

Blogging, Media Sosial dan Jurnalistik

Media sosial adalah aset. Tak peduli siapapun dia, dan jadi apa di dunia nyatanya, media sosial yang terverifikasi merupakan milik yang bersangkutan adalah asetnya. Maksudnya apa? Media sosial adalah kepanjangan tangan, ketika seseorang tak mampu lagi menjangkau ruang dan waktu yang membatasinya. media sosial mewakili dirinya secara utuh, tak kurang tak lebih.

Untuk itu, belakangan ini, eh enggak, maksudnya lima tahun belakangan ini, bagi para jurnalis, media sosial dipandang sebagai media non formal yang mampu menunjang tugas formalnya. media sosial menjadi alat informasi bagi berita yang telah dimuat. Misalnya berita tentang mogoknya angkutan di ibukota menolak angkutan yang memakai aplikasi daring. Di berita yang dimuat media tempat jurnalis itu bekerja, bahasa dan muatannya mungkin resmi sekali. Namun di media sosialnya, sang jurnalis bisa berbicara sesuai dengan bahasa yang apa adanya. Ia memaparkan sesuatu, mungkin disertai dengan opini (dalam kajian jurnalistik, opini dalam sebuah berita jelas masih dilarang), atas informasi yang dimuat di medianya.


Jadi blogger pun begitu. Apa-apa yang ditulis di blognya, diulas juga di media sosialnya. Jadi wajar saja ketika kita menulis tentang produk-produk tertentu, mengulasnya di blog, lalu ia pun mengulasnya di media sosial. Meski begitu, kita pun harus memperhatikan bahwa kita juga berteman (secara online) dengan manusia. Jangan sampai mereka seperti berteman dengan papan iklan, karena seringnya kita jadi buzzer.


Menjadi buzzer itu rejeki Blogger, persis nasibnya seperti bagian periklanan sebuah media kedatangan pengiklan. Sama-sama rejeki. Yang perlu disorot adalah soal kejujuran kita atas berita yang berkembang. Jadi media idealis itu sepi pengiklan, terkadang begitu, sama juga jadi blogger namun menolak untuk hanya mengungkap sisi positif saja dari produk yang bakal di-review. Iya, dilematis.
Persoalannya kemudian adalah terkait dengan kajian jurnalistik yang memberikan panduan ABC, yang bermakna accuracy, balance and clarity. Informasi yang dihasilkan mesti akurat. Jadi kalau mengulas produk A, maka data-data yang diambil mesti resmi milik produk A. Saya pikir ini selesai. Nah, apakah lolos pada balance? Ternyata sebagian besar kecil mungkin tidak lolos dari sisi balance ini. Misalnya kita diminta mengulas produk modem yang diklaim cepat. Ternyata produk ini sudah terkenal dengan leletnya, dan sewaktu kita mencobanya pun lelet juga. Apa yang mesti dilakukan? Menuliskan apa adanya dengan konsekuensi kerjasamanya tidak akan panjang, atau menutupi soal lelet tersebut? You choose.

Makanya saya sangat sepakat atas peringatan Google untuk memberikan keterangan sponsored content, paid content, atau apalah itu yang sekiranya pembaca tahu bahwa tulisan yang kita buat memang dibayar oleh produk tertentu. Karena rata-rata blogger mengulas yang bagus-bagusnya saja. Soal ini mudah-mudahan ada pengertian dari marketing produk. Karena percuma jika diminta dofollow, jika nantinya Google Bot enggak mau merayapi konten tadi. Siapa yang rugi? Dua-duanya bakal rugi.
Untuk itulah, meskipun kontennya tetap positif dan tak ada satupun ulasan yang menyanggah, namun berlaku jujur sesuai dengan kaidah jurnalistik dan etika dalam berinternet mesti dikedepankan.

Namun bagaimana jika Blogger tak mampu melakukan verifikasi atas semua informasi yang datang? Kemudian atas nama sensasi, mengunggahnya dan menimbulkan kehebohan?

Untuk masalah ini, sedang hangat dibicarakan tentang kisah seorang blogger, yang aktif sekali di media sosial, dan kini jadi editor in chief di sebuah situs berita. Ia mengunggah di akun Path soal yang sangat sensitif sekali. Soal Widji Thukul. Mungkin jika ditakar, informasi ini kelas intelijen. Namun media sosial yang seharusnya menjadi asetnya untuk mendukung pekerjaannya sebagai jurnalis, malah menjadi bumerang yang menghantam dirinya. Alih-alih diberi terima kasih atas informasi yang dimuat, ia malah dihujat. Kasihan.

Yang bersangkutan menyampaikan informasi yang tidak lolos pada poin balance. Ia seharusnya memverifikasi sebelum mengunggahnya di Path. Hatta Path adalah media sosial terbatas. Peristiwa-peristiwa yang disebutkannya berkaitan dengan pemberian penghargaan putri Thukul oleh Xanana Gusmao. Namun sayang, ia terburu-buru mengunggah status Path itu dan seseorang meng-capture-nya.

Lalu bagaimana dengan sumber daya yang terbatas, seorang Blogger melakukan verifikasi? Manfaatkan Google. Jika kaitannya dengan personal, kontak akun sosial medianya, kirim surat ke email pribadinya, kontaklah secara pribadi jika memungkinkan. Kalau gagal, ya nggak usah dimuat. Makanya banyak blogger yang memilih untuk mengulas produk yang informasinya tersedia di website resmi produk tersebut. Apalagi sudah banyak orang yang mengulasnya. Lebih enak lagi. Nah, tinggal mau atau tidak memberikan poin balance dalam tulisan tersebut. Karena saya yakin, poin accuracy dan clarity sudah selesai. Mau tidak?

Gambar: Pixabay

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

3 comments

aku baru satu kali dua kali dpet job review, dan untungnya yg aku review memg produknya oke, amaaannn. hehe
nice share tengkiu yak

Alhamdulillah, rejeki ya mbak... :)

Beberapa kali dapat job placement sih ya, dan jadi lumayan khawatir. Semoga nggak jadi masalah ke depannya. HAHA.


EmoticonEmoticon