Sabtu, 19 Maret 2016

Mengelola Social Media dengan Aplikasi Otomatis, Perlu 'kah?

Mengelola Social Media

Mengelola social media memang butuh waktu, biaya, dan tenaga. Jika dilepas, sayang sekali, karena social media itu aset. Bagaimana mengantisipasinya? Ada tawaran dari beberapa aplikasi seperti Roundteam.co yang bakal mengupdate kicauan kita di Twitter. Saya sudah mencoba beberapa waktu untuk aplikasi semacam ini, hasilnya akun kita memang terus update. Namun alih-alih update, akun kita jadi kayak robot.

Memperbarui status memang jadi sumber penilaian bahwa akun kita update. Ketika menganggap bahwa social media adalah aset, baik aset afiliasi marketing, traffic blog maupun jualan barang, maka update status menjadi satu hal yang perlu diutamakan. Namun kembali lagi kala terbentur dengan kesibukan atau kuota internet yang habis, kita tak lagi bisa melakukan update di social media tersebut. Lalu bagaimana mengatasinya?

1. Berhentilah menggunakan aplikasi update otomatis

Saya sudah mencoba memakai Roundteam.co untuk update twitter dengan mengaitkan keyword 'indramayu'. Jadi semua orang yang memiliki twit dengan kata 'indramayu' bakal saya twit secara otomatis berkat bantuan Roundteam. Sayangnya, alih-alih update, cara ini menjadikan akun twitter saya bak robot. Akun saya seperti tak berpenghuni, ditinggal begitu saja kecuali dihuni oleh Roundteam. Ada banyak cerita soal ini. Salah satunya ketika yang di retwit merupakan teman yang saya kenal bukan di Twitter.


Untunglah pada saat yang bersamaan, tak menjeda terlampau lama, saya bisa menjelaskan bahwa itu ulah aplikasi. Kalau agak lama saja, mereka bakal beranggapan sedang berinteraksi dengan Roundteam, bukan dengan saya selaku pemilik akun. Berabe? Tentu saja.

FYI: saya sudah mengakhiri uji coba dengan Roundteam, dan memang hasilnya kurang bagus. Nanti ada kisahnya sendiri.

2. Perhatikan Efektifitas Update

Kalau dirasa update setiap hari memang penting, namun terhalang waktu, coba saja perhatikan efektifitas update-nya. Bisa jadi meski setiap hari update, social media kita kurang berinteraksi dengan jejaringnya. Maka efektifitas update menjadi penting. Cara mengefektifkan update ini sebenarnya sama dengan tulisan saya sebelumnya tentang Membuat Fanpage di Facebook. Disini dijelaskan tentang jadwal posting dan apa yang perlu diupdate. Tinggal disesuaikan dengan target jejaring kita saja. Nah, lebih baik update seminggu dua-tiga kali, bukan? Dibanding update tiap saat tapi dianggap cuma jadi sosok alay dan lebay. Hehe

3. Target Audience itu Penting

Seharusnya ini berada di awal, tapi dimanapun lokasinya yang penting terbaca. Jadi begini, sebelum memulai mengefektifkan social media, ada baiknya melihat kembali, siapa saja yang menjadi teman kita. Saya sendiri kebanyakan berteman dengan politisi gadungan di Facebook. Hal ini cukup mendongkrak traffic jika saya posting soal opini-opini politik. Tapi sayangnya, saya sudah tak berselera untuk menuliskan soal Ahok, Jokowi, Prabowo, dan sebangsanya. Jadi pelan-pelan saya pindah target ke para mahmud dan pahmud yang suka berjualan online, yang suka membaca teknik parenting, atau para jomblowan jomblowati yang tuna asmara akut yang butuh inspirasi untuk menghibur diri. Atau posting tentang hal-hal yang umum saja agar semuanya bisa tertarik untuk membacanya. Sekali lagi, lihat friend list kita.

Kalau sudah friend list dicek, cobalah gabung ke grup-grup facebook yang sedianya bisa sebagai aset juga. Tapi untuk grup, hati-hati, barangkali postingan kita dianggap spam jika terlampau sering posting disana.

4. Ingat, stay human!

Ya, tetaplah jadi manusia. Manusia itu kadang ada sibuknya, kadang ada kondisi nggak punya duit jadi tak mampu beli kuota, kadang pula menghadapi kendala teknis seperti gagal masuk ke akun. Jadi kalau teman kita di Facebook kehilangan untuk tiga, empat hingga tujuh hari, itu waktu yang cukup wajar mengingat sisi manusiawi tadi. Kemudian jika kita sebagai manusia tidak suka sesuatu di dunia nyata, maka tak usah memposting hal-hal yang orang lain nggak suka juga di dunia maya. Dunia maya dan dunia nyata punya penghuni sama: manusia. Jadi jangan mentang-mentang di dunia maya yang bisa membuat akun anonim, lantas kita bisa seenaknya berbuat sesuatu.

Jadi apakah ketika kita bertamu ke rumah orang, lalu sang tuan rumah karena saking canggihnya menerima para tamunya dengan robot, apakah kita merasa dihargai? Coba lihat film Iron Man 3, dimana adegan Pepper Potts yang marah ketika Tony Stark menerimanya dengan robot Iron Man. Nah, sama halnya ketika orang-orang dalam jejaring kita mengetahui kalau mereka berinteraksi dengan robot aplikasi.

Lalu, bagaimana jika kita mengaitkan akun Twitter, Facebook dan Instagram jadi satu? Ini sedikit berbeda bahasannya, nanti kita diskusikan lain waktu.

Itu saja ya, selamat berbahagia semuanya.


Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

2 comments

Iya tuh sebel juga kalo liat timeline twitter isinya dari kebanyakan RoundTeam dan kebanyakan gak penting. Lebih baik kelola sendiri daripada dikelola aplikasi tapi jadinya malah nge-spam hahaha

Baca tips dari saya juga ya, cara Memilih Paketan Internet Yang Tepat di www.jerapahsalto.com :) Terimakasih

Siap, nanti dikunjung balik.


EmoticonEmoticon