Kamis, 14 April 2016

Lima Kesalahan Awal Dalam Membuat Blog Pribadi

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh para pembuat blog saat pertama kali membuatnya. Sebenarnya bukan salah yang mutlak, tapi sebaiknya memang hal-hal semacam itu tak perlu dilakukan agar blog tersebut bisa ramah pengunjung dan memunculkan banyak traffic. Kesalahannya boleh jadi di awal ketika blog itu dibuat, atau sudah lama dibuat tapi hal-hal tersebut masih dipertahankan. Apa saja lima hal tersebut? Simak poin-poinnya berikut ini.

Lima Kesalahan Awal Dalam Membuat Blog Pribadi

1. Tidak ada social sharing

Mungkin ada yang beranggapan bahwa konten itu bersifat privasi, sehingga tak layak disebarkan di mana-mana. Untuk blogger macam ini, mungkin tak akan ditemukan satu tombol share, like, twit, atau social media lainnya pada setiap artikelnya. Mungkin anggapannya, ketika konten yang disiarkannya di internet hanya cukup dibaca oleh dirinya sendiri. Atau jangan-jangan dia lupa, bahkan tidak tahu dimana tombol-tombol tersebut berada untuk mengaktifkannya.

Template dasar blogger maupun wordpress untungnya sudah dipersiapkan untuk tombol-tombol social sharing. Sehingga pembaca bisa membagikannya kepada orang lain melalui tombol tersebut dan membagikannya ke social media asset mereka.

2. Tidak ada foto sang Blogger

Tak ada maksud untuk bernarsis ria. Tapi ada yang menganggap bahwa menjadi blogger itu merupakan upaya membangun sebuah media online. Tidak salah, namun kurang tepat. Serius, untuk menyaingi media online yang sudah mapan kita bakal kewalahan. Keutamaan blog adalah merupakan media personal dimana bahasa dan bahasannya bersifat pribadi. Sehingga, tak perlu membuat brand tersendiri untuk blog kita. Kita adalah brand tersebut. Untuk itulah ada bahasa 'social media asset' karena media sosial yang kita miliki merupakan aset kita untuk melejitkan blog tersebut. Untuk mengukur seberapa berpengaruh kita atas social media yang dimiliki, lihat skornya di Klout.

Untuk itu, ada baiknya memunculkan wajah sendiri di blog yang dimiliki, alih-alih memunculkan logo layaknya perusahaan. Ini upaya kita untuk membuat personal branding.

3. Komentar yang dimoderasi

Jujur saja sih, kalau saya mengomentari blog orang lain kemudian muncul pemberitahuan 'Your comment will be visible after approval', itu semacam wujud ketidakpercayaan. Saya seperti dianggap pembawa spam, sementara Blogger maupun Wordpress sudah menyediakan filter spam di dalamnya. Padahal memoderasi komentar dengan mengecek komentar yang sudah muncul pun sama-sama butuh waktu. Sementara saya sendiri, ingin agar komentar yang ditaruh saat blogwalking segera terlihat saat itu juga.

Nah, sebaiknya komentar itu dibuat otomatis diterima saja. Kita sedang membangun komunitas, dimana ada begitu banyak orang yang berbicara dan mengomentari konten yang kita tulis. Bayangkan saja, ketika kita berbicara dengan orang lain, lalu kita bilang 'sebentar, ya, perkataanmu saya saring dulu'.

4. Konten yang tidak personal

Saya pernah punya blog tentang film, traffic-nya pernah mencapai 2000 per hari. Tapi lambat laun, ah, saya kog jadi mirip tukang promo bioskop, alih-alih jadi blogger. Meski itu saya lakukan dengan senang hati, tapi lambat laun ada sedikit rasa lelah yang hinggap. Saya memang suka film, tapi ya sebatas suka. Makanya blog itu saya lepas pelan-pelan, tapi tidak saya tinggalkan.

Membuat blog sepatutnya mempersonalisasikan diri kita. Kita bisanya apa? Tulis saja di blog. Karena percuma dong kalau susah-susah menulis sesuatu, mendongkrak traffic-nya, lalu setelah itu, apa? Nah, kalau review gadget, misalnya, sambungkan dengan link affiliasi kita. Jadi konten itu nggak terputus setelah kita unggah. Kita yang bertanggung jawab atas konten tersebut. Konten adalah kita. Halaaah.

5. Membuat media sosial yang misterius

"Saya adalah warga negara dunia ini." Pernah menemukan bio semacam ini di Twitter maupun Facebook, atau di media sosial yang lain? Iya, saya tahu maksudnya, tapi hal semacam itu tidak spesifik. Semua orang adalah warga negara dunia ini. We are citizen of the world. Tapi dunia yang sebelah mana?

Jadikan biografi kita di media sosial merupakan penanda (awas saya tandai kamu *terSonya*) buat Blogger. Misalnya I am a tech geek, ketika blogger tersebut punya blog dengan tema teknologi maupun gadget. Lokasi kita pun mesti jelas, meski jangan jelas-jelas sekali sampai ke alamat detil. Nah, terakhir, sambungkan media sosial dengan link blog kita. Eh, kabarnya untuk ceklis biru Twitter alias yang terverifikasi memang harus seperti itu. Sesiapa yang banyak sumber link Twitter yang berasal dari blognya, atau sebaliknya, maka tinggal menunggu saja ceklis biru itu bakal mampir ke akun Twitter kita. Jadi, nggak usah sok-sok anonim, kecuali untuk stalking mantan.

Nah, lima hal itu memang boleh jadi bukan sebuah kekeliruan. Karena tujuan blogging masing-masing orang tentu saja sangat berbeda. Tapi, lima hal itu bisa jadi langkah awal untuk membuat sebuah personal branding bagi diri kita di jagat maya. Silakan dicoba.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

9 comments

cuma yg poin no3 aku kurang setuju mas :).. komen2 yg masuk di blogku memang ttp aku moderasi, krn walopun udh ada filter spam dr wordpress, tapi ttp aja, ada bbrp komen tukang jual obat, togel dkk nya itu, yg bikin sakit mata, ato org numpang jualan di blog org yg bener2 mau aku hindarin.. dan itu ga kesaring ama spam.. toh komen2 yg masuk ttp kok tiap hari bakal aku cek, dan ga bakal diubah apa2.. cuma komen2 ga sopan ato numpang jualan td yg lgs aku tendang masuk ke spam ;D..

dan 1 lagi, itu sbnrnya mempermudah aku utk bisa BW balik ke blog org2 yg udh dtg ke aku :)

Hmmmm :)
Sebenarnya soal pengecekan komentar aja. Yg dimoderasi, dgn yg tidak kan sama2 ngecek juga. Bedanya ngeliat dari sisi orang yg komentar. Toh kalo di data, presentase spam bakal sebenarnya sedikit dibanding komentar bukan spam.

Tapi ya sudahlah... :)

blogku yang termasuk dimoderasi karena bnyk gangguan promosi obat2an yg tidak sedap di mata, jadi proteksi blog dari nama - nama penyakit yang ngga etis :)

Hmmm makin banyak yang gak setuju sama nomor 3 :D

Sama! saya juga tak setuju yang nomor 3 !! :D

Aduh, kalah voting :D *melipir*

Untuk komentar yang dimodernisasi, alasannya karena ada beberapa obat ini itu meninggalkan komentar...kalau masih obat umum sih tidak terlalu masalah, etapi kalau obatnya yang "gitu deh", laaah, kan jadi risih hal semacam itu ada di komentar blog, apalagi kalau pas waktunya lumayan agak lama tidak ngecek blog #eh ini kok curhat ya :v

Btw, untuk filter spamnya bisa otomatis gak ya di blogger? :)

Spam filter sudah otomatis ada. Tapi ya gitu juga sih, kadang banyak yang gak kefilter.


Maksudnya gini loh, sebagai pengunjung blog, terkadang saya pengen komentar saya bisa langsung muncul di blog yg saya kunjungi.
Nah, kalau yg bersangkutan jarang ngecek blog, berarti komentar saya juga munculnya lama. Gitu.


EmoticonEmoticon