Sabtu, 30 April 2016

Mengenal Local Business ala Google dan Cara Memaksimalkannya

Sebelum beranjak kedalam beberapa definisi, marilah kita melihat kembali penetrasi smartphone atau mobile phone ke dalam kehidupan manusia. Hari ini, apa yang belum terjangkau oleh smartphone? Belanja, transportasi, periklanan, kehidupan sosial, pengetahuan, bahkan cari pasangan, semuanya telah tersedia di smartphone. Kemasifan internet telah tumbuh semakin pesat seiring semakin terjangkaunya harga barang yang satu ini. Namun apa impak dari smartphone bagi pertumbuhan bisnis lokal kita?

Pertama tentu soal Local Business dalam terminologi Google. Anyway, pernah nonton The Internship? Coba simak kembali bagaimana tim dari Nick dan Billy memenangkan kompetisi Google Internship. Yup, mereka menang berkat kepiawaiannya menarik minat para pemilik bisnis di sekitar kantor Google untuk mendaftar di Google My Business dan memasang iklan di Adwords. Jadi, Local Business yang dimaksud Google adalah semacam UMKM, baik penjualan jasa maupun barang, yang terdapat di sekitaran kita. Tentu mereka bukanlah warung kecil milik tetangga kita, meskipun bolah jadi warung tersebut ada di Google.

Mengenal Local Business ala Google dan Cara Memaksimalkannya

Local Business adalah sebuah tempat usaha yang jangkauan usahanya masih dalam wilayah lokal saja, baik lokal kabupaten, maupun provinsi dalam istilah kewilayahan Indonesia. Lupakan pebisnis besar macam retail-retail mapan yang sudah wara-wiri di televisi. Local Business yang dimaksud adalah benar-benar usaha lokal. Boleh jadi tak ada aspek legalitasnya, bisa jadi tempat usahanya hanya sebuah warung kecil, bahkan tenda semi-permanen. Namun keinginan sang pemilik usaha ini adalah dikenal di internet baik gratis maupun berbayar menjadi penentunya. Apakah warung kecil milik tetangga kita butuh dikenal oleh pengguna internet. Mungkin, tapi skala prioritasnya masih kecil.

Kalau begitu siapa yang butuh agar usahanya dikenal oleh Google, dus, terkenal di internet? Dalam bahasa Google, siapa yang ingin agar usahanya ditemukan --catat: ditemukan-- setidaknya di tiga program Google, yakni Google Search Engine, Google Maps, dan Google+. Maka keinginan itu mesti diejawantahkan dalam sebuah program milik Google yang disebut diatas, yakni Google My Business.

Andalan Google tentu saja Google Search Engine, sehingga Google bakal mengoneksikan hasil pencarian tersebut dengan programnya yang lain seperti Google Maps dan Google+. Nah, apa langkah awal yang bisa ditempuh agar bisnis kita bisa ditemukan Google?

Pertama, buatlah akun Google. Untuk hal ini masuklah ke program Google dimanapun, baik Gmail, Blogger, dan lainnya. Maka kita bakal diarahkan untuk membuat akun Google yang kelak bakal diintegrasikan ke dalam program Google yang lain.

Kedua, daftarkan usaha kita di Google My Business di https://www.google.com/business/. Kalau sudah disini, bahkan tanpa kita buat, akun Google+ sudah tersedia dan terlacak di mesin pencari Google. Update juga peta yang mengarahkan pencarian usaha kita di Google Maps.

Ketiga, meskipun kadang sering dianggap nggak terlalu penting, yakni landing page. Ini bermanfaat sekali apabila kita bakal pasang iklan di Adwords. Landing page ini terutama untuk mempermudah pencarian di Google Search Engine. Terlebih di landing page tersebut kita bubuhkan data yang jauh lebih lengkap dibanding data di Google Maps. Apa sih landing page? Itu bahasa lain dari blog/website tapi tak memiliki konten yang banyak, yang biasanya hanya berisi pengenalan bisnis, testimoni, serta alamat dan cara pemesanan.

Mengenal Local Business ala Google dan Cara Memaksimalkannya
Screen shot pencarian dari 'zahra ro air minum pesan antar'

Apakah ketiga hal itu sudah cukup? Ternyata tidak juga. Menurut data yang dirilis oleh Consumer Barometer Survey, 82 persen pengguna smartphone memang menggunakan search engine untuk mencari local business yang ada di sekitar mereka. Sementara itu, Google pun mendukung data tersebut dengan sebuah rilisan internal yang menyatakan bahwa 88 persen pencarian di smartphone menyatakan bahwa pencarian itu hanya mencari yang dekat dengan mereka saja.

Ini angin segar bagi Local Business, tentu saja. Akan tetapi sejauh apakah peluang, efektifitas dan biaya yang mesti dikeluarkan agar bisnis kita sering muncul di Google?


Peluang Local Business

Pernah lihat iklan Google di televisi? Yup, di bawah ini saya sisipkan iklan tersebut.


Kog, Google sampai mengiklankan dirinya di televisi ya? Mungkin Google butuh banyak cara untuk lebih menguasai jagat internet. Karena raksasa baru telah lahir dan pelan-pelan menurunkan tahta Google dari raja internet, ya, raja baru itu bernama Facebook. Lihat artikel tentang bagaimana Facebook dan masa depan internet di blog ini.

Iklan yang mengutamakan pencarian di Google Search Engine itu setidaknya bisa menjadi peluang bagi siapapun yang memiliki bisnis, baik kecil apalagi besar untuk muncul dan ditemukan di Google. Syukur-syukur bisnis itu sampai pasang iklan di Adwords. Google mengarahkan ekosistem semacam ini. Meski kita tidak mengeluarkan biaya iklan pun, Google tetap memberi bantuan kog agar bisnis kita tetap muncul. Harapannya bisnis itu tumbuh dan berkembang bersama Google, untuk kemudian bisa menciptakan konten-konten positif dan memberi impak yang bagus juga buat Google.

Memaksimalkan Impak di Aktifitas Mobile

Semenjak smartphone menjadi raja, Google sementara ini turun pamor. Orang lebih banyak menggunakan social media. Kegiatan jual-beli pun terjadi disana. Sementara market place dan bisnis yang mendaftarkan dirinya di ekosistem Google sedikit terpengaruh secara negatif. Aktifitas online manusia, 1,6 milyar jumlahnya, tumpah ruah di Facebook. Baca lagi Facebook dan masa depan website. Ini cukup mengganggu ekosistem yang ada di Google.

Untuk itulah, Google tak memberi ruang traffic buat aktifitas situs yang traffic-nya bersumber dari social media. Artinya ketika situs kita mayoritas traffic-nya bersumber dari social media, kecuali Google+, maka siap-siap saja bakal dinomor-duakan di Google search engine. Google ngambek? Tentu saja, ngambek. Bayangkan saja, ketika platform sejuta umat, Android, yang digunakan mayoritas smartphone itu dibesut oleh Google, sementara aplikasi Google-nya malah kalah pamor dibanding Facebook dan Twitter.

Silakan saja untuk menciptakan sebesar-besarnya aset social media lain, tapi jangan dilupakan bahwa ada Google search engine yang mampu melokalkan keglobalan internet untuk menciptakan peluang bisnis lokal kita. Ketiga poin untuk mendaftar itu silakan diikuti dengan baik. Namun untuk menciptakan landing page, pastikan template-nya yang responsive dan mobile friendly. Soal ini silakan Google saja.

Tapi, terakhir tapi tidak singkat, perlu diingat bahwa seringkali karakter pengguna social media dengan pengguna Google secara umum berbeda. Sebagai contoh, info hoax seringkali dibagikan secara viral oleh pengguna Facebook dibanding di blog. Padahal kalau di cari di Google, hoax semacam itu sudah banyak dibahas. Artinya apa? Pengguna Facebook sering tidak memiliki akses terhadap Google, entah malas atau apalah saya nggak tahu. Ini bisa menjadi poin penting bahwa kita mesti memisahkan antara aset social media dan optimasi bisnis di Google. Jadi kalau mau bisnisnya memiliki impak yang maksimal, ikuti perkembangan dan optimasi keduanya. Ribet? Memang iya.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.


EmoticonEmoticon