Kamis, 07 April 2016

Sonya Depari, Maafkan Abangmu Ini


Terima kasih Sonya Depari Ekarina Sembiring. Sudilah kiranya abang panggil kau cuma Sonya saja. Abang tak kuasa memanggil engkau dengan Sonya Depari, karena yang kau aku selaku bapakmu saja, menyangkalnya. Apalagi, jika abang panggil kau dengan Sonya Sembiring. Ah, jangan, nanti Tifatul Sembiring marah. Cukup Sonya saja, ya.

Nah, Sonya, kenapa abang bilang terima kasih? Karena cuma itu yang abang bisa. Tersebab betapa engkau telah membuka mata abang, betapa masih gagalnya generasi abang membina adik-adik dibawah abang.

Ujian Nasional

Abang memang lulus SMA dua belas tahun silam. Tapi abang tahu bagaimana rasanya lepas dari belenggu ujian nasional. Apalagi, ujian itu pertama kali diujicobakan pada generasi abang. Iya, ini bukan main stresnya, karena itu generasi abang pernah memasang poster di jendela-jendela kaca sekolah sebagai bentuk protes. Kebetulan sekolah abang berhadapan dengan dinas pendidikan setempat.

Tapi setelah lulus, alhamdulillah, beban stres itu hilang sekejap. Tapi melihat betapa ada kesedihan diantara kawan-kawan yang tak mampu melanjutkan sekolahnya, sekaligus berpisah dari almamater, abang juga sedih. Entah, kamu yang jadi pimpinan konvoi lewat mobil Honda Brio itu, sedih tidak. Aku sedih, Sonya.

Apa kegagalan abang? Kegagalan pertama abang adalah gagal dalam mentransformasikan ruang-ruang spiritual yang abang dapat ketika jelang ujian nasional itu. Betapa siang-malam sebelum ujian abang dan kawan-kawan betapa rajinnya ke masjid sekolah. Dhuha tak terlupa, apalagi yang wajib. Tapi setelah abang lulus, sering lupa juga untuk bersyukur pada-Nya. Itulah mungkin mengapa adik-adik abang, termasuk Sonya, jadi berbuat seperti itu.

Kultur Orde Baru

Kedua tentu perihal kultur yang pernah menjajah negeri ini selama 32 tahun. Meski saat kultur itu runtuh, engkau wahai Sonya, bahkan belum lahir, sudah kewajiban kami, abangmu untuk memberitahunya. Karena ketahuilah, bahkan ada banyak orang yang menjadi korban dari perilaku otoriter saat itu, baik moral maupun fisik. Sungguh sangat banyak korbannya.

Bagaimana perilaku buruk mereka yang paling kecil? Ya seperti kamu, Sonya. Kalau berhadapan dengan hukum, selalu bilang "Aku anak aparat, jenderal, pejabat," dengan diiringi tindakan kasar, maki-maki dan ancaman. Tapi, ah, kamu mana tahu perilaku yang pernah disebut perilaku orde baru itu.

Dan salah abang juga, yang melupakan bahwa kamu anak sekarang. Kekinian. Yang pastinya suka bilang move on. Kamu paling langganannya twitter, instagram dan facebook untuk mencari informasi. Abang juga lupa, kalau tempo hari ada pengusaha yang bilang-bilang kolega dekat pak menteri anu. Kemudian minta fasilitas untuk keluar negeri. Juga ada anggota dewan yang melakukan hal yang sama. Juga ada istri-istri pejabat yang melakukan...ah sudahlah.

Kamu tentu saja hanya bagian kecil dari anak-anak muda, atau kata entah siapa, hanyalah dhedhek-dhedhek gemes yang sedang mencari jatidiri. Kebetulan cermin yang engkau temukan adalah mereka yang meniru perilaku orde baru.

Lantas, siapa yang salah? Yang salah tentu saja abang, yang hingga akhir tulisan ini masih mengaku-aku sebagai abang kamu, Sonya. Tapi, jika ada netizen yang protes, tentu saja aku bakal bilang aku ini beneran abangmu, yang berarti, aku ini adalah anak petinggi BNN, Irjend Arman Depari. Keren 'kan? Kalau nggak percaya, kalian semua bakal aku tandai. Rasain!

Update: Turut berduka cita buat bapak kau Sonya. Kesalahan yang sudah terjadi, jangan diulangi. Mudah-mudahan bapak kau diampuni dosanya, dan diterima amalannya oleh Tuhan. Amiin.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

6 comments

cuma bisa menghela napas pas liat video si sonya ini... sudahlah... hukuman sosial dari para pengguna medsos di luar sana, ditambah lagi papanya meninggal juga, nth krn masalah anaknya ini ato bukan, udh cukup jadi hukuman untuk si sonya. Moga2 dia berubah jadi sadar ya bang, kalo udh ga jamannya lagi bawa2 om, ato keluarga yg punya kuasa lebih tinggi saat berhadapan ama hukum.

Iya, tulisan ini sebelum wafatnya bapaknya Sonya.
Awalnya emang agak jengah juga, cuma pas dipikir2, sikap Sonya itu memang sudah keumuman (yang salah) di Indonesia. Semua ikut bertanggung jawab.

Apik bener, Bang. Dan, iya. Miris juga kalo membandingkan pra dan pasca UN. Kalo kata abang itu, gagal dalam mentransformasikan ruang-ruang spiritual jelang ujian nasional. Jadi esensi ujian sendiri sudah salah fokus ya, Bang..

Keren bang, "dhedhek-dhedhek gemes yang sedang mencari jati diri" :D

Ya begitulah... ibarat orang sholat yang setelah sholat maksiat lagi, kan jadi "sia-sia lah orang yang sholat". Duh, jd kayak ustadz ya...

Kita jadi tahu, bahwa yang cantik dan menggemaskan tak selalu punya hati dan otak. #duh maaf agak kasar


EmoticonEmoticon