Sabtu, 02 April 2016

Tentang Hoax Sang Penjaga Makam Rasulullah Saw


Satu ketika, secarik kertas yang kubaca pernah membuatku gemetar hingga ke persendian. Betapa tidak, ancaman bala bencana apabila mengabaikan hirauan tersebut dinyatakan dengan gamblang dan menyebut nama personal. Apalagi ancaman itu tersusun dengan rapi dan membawa-bawa Baginda Rasul meski dalam sebuah mimpi sang penjaga makamnya?

Anda masih ingat secarik kertas tersebut berisi apa? Clue-nya Syaikh Ahmad, beberapa pejabat Malaysia, dan menyebarkan ke 20 orang. Ya, ini tentang Rasulullah Saw. Sebuah legitimasi sahih bagi seorang muslim. Apalagi muslim itu masih kelas 3 SD, yang masih imut, lucu, ganteng lugu dan belum memiliki kerangka berpikir logis. Eh, bukan itu, maksudnya waktu itu saya belum kenal Google. Ya, saya menerima secarik kertas itu waktu masih kelas 3 SD. Yang membuat gemetar adalah, saya tak mampu menggandakannya hingga genap 20 lembar. Saya hanya urunan dengan teman yang sama-sama sial membaca tulisan tersebut. Kami menggandakannya hanya 30-an lembar. Kurang separuhnya, karena kami bertiga maka seharusnya ada 60 lembar. Ya, kami gemetar hingga dua minggu lamanya. Kami memohon maaf pada Allah, karena ongkos ke tempat foto copyan justru lebih mahal dari biaya penggandaannya.

Setelah tahu dua minggu tak ada apa-apa yang terjadi pada kita, kami masih percaya bahwa cerita itu benar adanya. Saat melihat ada lembaran tersebut sekitar kelas 2 SMP, kami mengabaikannya karena tanggung jawab saya sepertinya sudah selesai. Ya, kami yakin 'hukuman' bagi kita sudah berlalu. Buktinya tak ada sesuatu yang terjadi pada kami bertiga yang pernah tidak sesuai amanat dalam menyebarkannya.

Hoax Digital

Dan kini, selebaran itu muncul kembali dalam format yang berbeda. Sialnya, kali ini lebih mudah dan murah menyebarkan pesan tersebut. Tinggal salin dan tempel di broadcast, lalu kirim. Kalau tidak dilakukan delete contact, maka ada kemungkinan broadcast yang sama bakal terus menerus diterima dengan beragam kalimat namun pola yang serupa. Ada yang lebih praktis lagi, yakni mengunggahnya di blog maupun note Facebook, dan tag maksimal teman yang bisa di tag. Bahkan jangankan 20 orang, hingga 1000 jaringan teman pun bakal ikut membacanya.

Sejak saya SD, itu artinya sekitar 22 tahun yang lalu, selebaran itu masih terus bertahan dengan nama yang sama dan bahkan dengan susunan kata yang tak berubah. Eh, ada sih berubah sedikit, kalau dulu menggandakan kertasnya, sekarang cuma LIKE dan SHARE ya... Orang-orang semacam itu mungkin tak pernah mengenal Google, tak juga kenal forum-forum internet, mungkin. Yang mereka tahu adalah informasi yang bersumber dari internet adalah benar adanya. Sebagaimana saya, dulu, percaya bahwa ada seseorang bernama Syaikh Achmad yang menjadi penjaga makam Baginda Rasul Saw.

Ketidakpercayaan saya bermula memang bukan dari Google, tapi kenapa hanya sekedar secarik kertas kemudian menyebabkan sesorang mengalami bencana dalam kehidupannya. Ini bertentangan dengan kepercayaan pada Tuhan, bukan? Artinya bukan kertas yang membuat kita mengalami bencana, hatta karena kita bernafas pun, Tuhan mampu mencabut nyawa kita. Apalagi setelah kenal Google. Coba search ada tidak Syaikh Ahmad sebagai penjaga makam Rasulullah. Lihat susunan orang-orang yang pernah menjabat posisi yang lumayan strategis di Madinah itu. Tidak ada.

Solusi

Baca: Inilah cara mendeteksi hoax

Pernah kah kita menjelaskan kepada penyebar hoax bahwa apa yang disebarnya adalah hoax? Saya pernah. Seringnya mereka tidak terima dan marah atas teguran kita, hanya 30 persen saja yang menerimanya. Tegurannya sih cukup satu kata, yakni kita menuliskan 'hoax' di kolom komentarnya. Biasanya mereka acuh, dan menyebarkan hoax selanjutnya. Atau jika beruntung kita bakal diajak berdebat dan tentu saja mereka hanya jawab 'ooh' atas penjelasan kita yang panjang lebar. Lalu hoax yang lain pun mereka sebar.

Pelajaran moral yang bisa diambil adalah jaman tak pernah mengubah seseorang. Meskipun jaman canggih, tapi ketika otaknya telat selama 22 tahun maka kecanggihan itu hanya memberikan transparansi akan isi otaknya. Lalu apa yang bisa dilakukan? Report as spam akun pertama yang menyebarnya, kemudian unfollow teman kita.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

2 comments

Haha iya bang itu dulu pernah saya alami dah dulu masih polos sih sebenarnya jadi gak tahu apa apa.

Nah, ngalamin juga yak... eh, sekarang juga hoaxnya beralih ke format digital... banyak yang kena juga, hadeuh *tepok jidat*


EmoticonEmoticon