Sabtu, 21 Mei 2016

Belajar Sikapi Tanggal Tua Dari Ibu-Ibu Perkasa

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi

Tanggal tua merupakan perlambang derita. Di tanggal ini, persediaan seringkali tak bersisa. Semuanya telah ludes tak meninggalkan apa-apa. Seringkali, yang tersisa hanya sesal atas diri yang tak mampu meredam gejolak kalap belanja saat tanggal muda. Lalu bagaimana menyikapinya?

Ada begitu banyak orang yang (ternyata) memiliki tanggal tua setiap hari.

Tanggal tua dan tanggal muda memang dua istilah yang tercipta karena dua hal pula, yakni gajian dan kebutuhan bulanan. Terlepas dari gaji tersebut turun setiap bulan, setiap minggu atau bahkan harian, tanggal tua dan tanggal muda senantiasa tercipta karena ada kebutuhan manusia yang perlu diatur secara bulanan. Misalnya pembayaran listrik, angsuran rumah, bayar kost, kredit kendaraan, biaya internet, yang semuanya sering menyita porsi lebih bagi pengeluaran. Ditambah pula dengan pertimbangan harga grosir, maka seringkali banyak barang-barang kebutuhan rumah tangga yang dibeli juga dengan partai besar.

Alhasil, pasca kebutuhan rutin bulanan tersebut, sisa gaji, honor, atau apapun sebutannya sering hanya menyisakan jumlah yang bahkan kalau dihitung-hitung untuk kebutuhan sehari-hari, tak akan mencapai hari ke-20 setelah menerima gaji. Miris memang. Tapi itulah yang sering terjadi pada kehidupan saya sendiri. Apakah setelah itu saya tak bisa hidup? Tentu tulisan ini membuktikan sebaliknya. Saya masih tetap bertahan, meski berulang kali tanggal tua menyiksa. Halaaah bahasanya. Tapi semenjak peristiwa itu, saya jadi sedikit bisa melakukan manajemen untuk menyikapi tanggal tua. Peristiwa yang membuat saya banyak mensyukuri kehidupan yang saya jalani saat ini. Peristiwa yang membuat saya mampu melewati setiap tanggal tua dengan sesungging senyum yang tulus, karena saya mampu melewatinya. Apa sih peristiwa itu?

Belajar Dari Ibu-Ibu Perkasa

Setiap bulan saya menerima transferan dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta I, atas pekerjaan saya sebagai pekerja sosial dibawah naungan Kementerian Sosial RI. Tapi jujur saja, gaji saya saat ini sudah berada diatas UMK. Sehingga untuk kebutuhan di tempat tinggal saya di Indramayu, nominal tersebut bisa dibilang cukup. Meski jika ditambah dengan beban kerja, ya pengennya sih ditambah lagi. *Kemudian ditelepon Ibu Khofifah*. Tapi namanya juga kebutuhan manusia, kadang nominal gaji saya sering tak cukup untuk menutupi kebutuhan satu bulan. Tapi tidak, saya tak akan bercerita tentang kisah tanggal tua saya. Menurut saya sendiri, itu hal yang klise. Hal itu sudah banyak yang membahasnya, dan kisah saya serta bagaimana menyikapinya memang mirip-mirip kebanyakan orang.

Sebagai bagian dari tugas pokok pekerjaan, saya diberikan objek dampingan ratusan ibu-ibu yang berasal dari kategori ekonomi paling bawah. Mereka adalah peserta Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial, dan saya adalah pendampingnya. Tugas saya adalah mendampingi mereka agar anak-anaknya sehat dan mampu mengakses fasilitas pendidikan dan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah. Komitmen kepesertaan tersebut diwujudkan dalam mekanisme punishment. Jadi ketika anak-anak mereka tidak komitmen untuk mengakses fasilitas pendidikan dan kesehatan, maka bantuannya akan dikurangi.

Dan di sela-sela mekanisme pemberian bantuan itu, selalu diselingi dengan motivasi di pertemuan kelompok.Jika satu kelompok memiliki komitmen yang kurang bagus, maka ada pemberian motivasi agar mereka kembali komitmen terhadap program PKH. Namun jika satu kelompok memiliki komitmen yang bagus, maka materi pertemuan kelompok tersebut saya selingi dengan hal yang lain. Kebetulan, saya pernah mendapatkan materi tentang pengelolaan keuangan keluarga, dan itulah yang saya sampaikan kepada kelompok tersebut.

Ide dari materi pengelolaan keuangan keluarga tersebut sebenarnya sederhana, yakni bagaimana mengidentifikasi pemasukan dan mengatur pengeluaran sesuai pemasukan tersebut. Bentuk ilustrasinya dibuat seperti kantong-kantong. Jadi ada kantong pemasukan yang paling atas, kemudian kantong pengeluaran berada di bawahnya.

Kira-kira beginilah ilustrasinya.

Yang dilakukan pertama kali adalah menuliskan pemasukan apa saja dan berapa nominalnya. Kemudian masing-masing peserta diminta untuk menuliskan kebutuhannya secara rinci. Kuncinya, jangan dulu memasukkan kebutuhan sekunder, apalagi tersier. Masukkan seluruhnya kebutuhan primer, seperti makanan sehari-hari dan biaya pendidikan. Jika ada sisa, baru masukkan biaya tak terduga dan tabungan. Jika masih ada sisa lagi, boleh dimasukkan untuk kebutuhan sekunder bahkan tersier. Hampir seluruh peserta merasa kebingungan. Saya tak paham apa alasan mereka bingung, sampai saya tanya salah satu dari mereka.

"Ibu Dasinih, boleh disebutkan kebutuhannya apa saja?" tanya saya pada salah satu diantaranya.
"Makan, ongkos sekolah, cicilan bank harian," jawaban terakhir diberikan karena ia pernah meminjam kepada sebuah koperasi untuk modal usaha.
"Baiklah, hitung-hitungannya berapa?"
"Kalau makan diasumsikan di kisaran Rp.40.000,-, ongkos sekolah karena masih SD jadi Rp.5.000,-, dan cicilan bank harian Rp.5.000,-. Totalnya Rp.50.000,-"
"Pemasukannya bagaimana?"
"Nggak jelas, pak,"
"Dirata-rata saja, berapa?"
"Kalau sehari, paling Rp.40.000,-"

Terjadi minus Rp.10.000,- setiap harinya. Yang saya tahu, ibu ini memang berjualan lauk pauk setiap harinya, tapi itu pun tak banyak. Ia punya dua anak, yang satu masih SD, dan satu lagi sedang berkeliling menjajakan ijazah SMA. Sementara suaminya belum mendapat pekerjaan setelah diberhentikan dari penjaga keamanan di sebuah perumahan. Jika dihitung dengan dirinya, berarti ada empat perut yang diisi dengan makanan setara Rp.10.000,- seharian. Saya nggak tega jika mengurangi porsi ini.

"Apakah bisa Supriadi dikurangi uang jajan sekolahnya?" Supriadi adalah anaknya yang masih SD tadi.
"Ia bakal mogok sekolah,"

Jika anaknya mogok sekolah, maka bantuan ini akan dihentikan. Oh iya, bantuan ini digunakan sebagai tambahan penghasilan bagi ibu-ibu pesertanya. Tapi, nominalnya tidak begitu besar. Ibu ini hanya punya komponen kepesertaan anak SD saja. Jadi setiap tiga bulan sekali, ia bakal mendapatkan Rp.112.500,- yang diambil di Kantor Pos. Jika dihitung, tambahannya sehari hanya Rp.1.250,-.

Akhirnya saya bertanya, "Bagaimana bertahan hidup dengan penghasilan sebesar itu?"

Kebingungan mereka terurai. Seolah mereka sedang menepuk punggung saya dan berkata, "Hey 'dik, kalau mau belajar bagaimana mengatur keuangan, tanya kami". Mereka hampir serempak mengangguk bahwa mereka pun senasib dengan Ibu Dasinih yang barusan saya tanya tadi. Mereka satu nasib, bahwa setiap hari adalah tanggal tua bagi mereka. Bagaimana ibu-ibu ini menyiasatinya?

1. Memutus Urat Malu

"Gila aja lu, masak sarjana jualan gorengan,"

Sering mendengar kalimat nyinyir semacam ini? Saya sering. Dan itulah yang menjadikan saya tak memiliki usaha apapun sampai hari ini. Gengsi dan malu menjadi batu besar yang senantiasa menghadang. Sementara ibu-ibu tadi, dan tentu saja suaminya, telah berhasil menyingkirkan penghalang yang besar tersebut dan mengambil kesempatan berusaha sekecil apapun. Dan kita tahu, mengapa mereka senantiasa bertahan dan anak-anaknya masih terus bersekolah meski terseok-seok. Urat malu mereka telah putus untuk urusan nafkah. Mulai dari menjadi buruh cuci, buruh tani, buruh setrika, tukang masak, bahkan membuat ratusan cangkang petasan yang perkilonya hanya Rp.5.000,-, asalkan itu halal, mereka tempuh semuanya demi menghilangkan beban tanggal tua yang setiap hari hinggap pada rumah tangganya.

2. Makan ala kadarnya

Untungnya mereka tak kenal Instagram. Jika mereka kenal, timeline saya bakal penuh dengan foto-foto sayur kangkung, tempe goreng, sambal terasi, dan lalap terong yang dipetik dari kebun belakang. Makan di kafe dan restoran merupakan barang yang teramat mewah bagi mereka. Bahkan untuk sebuah warung bakso kaki lima di dekat pasar hanya mereka sambangi saat lebaran tiba. Karena tanggal tua, maka menu-menu ala kadarnya selalu mereka santap asal perut tetap terisi. Bahkan mungkin ada waktu-waktu dimana tak ada beras untuk mereka masak, dan hutang selalu menjadi jalan keluar.

3. Rela antri demi kupon sembako murah

Kalau saja mereka mampu mengakses internet, maka Tanggal Tua Surprise atau promo-promo diskon dari Matahari Mall akan sering mereka kunjungi. Ini saja yang pembagian kupon sembako murah, mereka selalu rela berdesak-desakan. Pantang pulang tanpa hasil, meski peluh bercucuran, dan kaki terinjak-injak. Tapi begitulah, demi penghematan luar biasa untuk beberapa hari ke depan, apapun dilakukan.

Tiga hal itulah yang menjadi alasan mengapa mereka mampu bertahan. Bahkan dari waktu ke waktu, kehidupan mereka semakin membaik. Anak-anak mereka yang telah lulus SMA, biasanya langsung merantau ke kota-kota besar. Banyak dari mereka yang secara ekonomi sudah bagus, dan akhirnya mampu membantu ekonomi keluarga. Apalagi ketika mereka punya anak perempuan, maka pilihannya kalau tidak Hongkong, ya ke Taiwan. Menjadi buruh migran merupakan pilihan yang cukup masuk akal jika dibandingkan bekerja di dalam negeri. Dari mereka, para ibu-ibu tadi menapaki jenjang ekonomi yang lebih baik.

Apakah kehidupan mereka disana pun berlimpah? Menurut penuturan ibu-ibu tadi sih tidak juga. Kisahnya mirip cerita Budi. Sudah tahu cerita Budi? Silakan tonton dulu videonya.


Ya, mereka berhemat demi membahagiakan orang tuanya di kampung. Mereka berhemat untuk menyikapi tanggal tua yang senantiasa datang tak terduga. Lalu, bagaimana dengan tanggal tua saya? Berkat ibu-ibu nan perkasa itulah, saya bisa belajar bagaimana menyikapi tanggal tua dengan baik. Saya sering melakukan kerja-kerja tambahan tanpa gengsi, pun berhemat dengan mengurangi makan di tempat-tempat mahal, tapi kalau dapat kupon sembako murah memang tak bisa, dan ini bisa disiasati dengan mencari diskonan seperti di Matahari Mall tadi.

Penutup

Ibu-ibu tadi beserta kisah anak-anaknya adalah refleksi. Clue yang saya dapat dari menyikapi tanggal tua adalah bekerja keras untuk menghindari minus dalam pengeluaran, berhemat sebisa mungkin, dan memanfaatkan diskon agar bisa membeli kebutuhan hidup dengan harga yang lebih murah. Klise, ya? Tapi tanpa ada kisah dari ibu-ibu tadi, saya jadi banyak mengeluh mengapa tanggal tua senantiasa datang setiap bulannya. Padahal mereka yang tanggal tuanya mampir setiap hari saja senantiasa kuat dan mampu melewatinya dengan baik-baik saja.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.


EmoticonEmoticon