Selasa, 31 Mei 2016

Mengenal Native Advertising

Native advertising atau kita sebut saja dengan native ads merupakan sebuah bentuk periklanan baru yang memberikan distribusi promosi diluar iklan banner. Keberadaan native ads ini tumbuh dengan sangat cepat, dan menurut data Business Insider, pergerakan pengiklan yang ikut ke skema periklanan ini telah mencapai nilai $16 Milyar pada 2016. Bahkan diperkirakan setiap tahunnya akan naik sekitar $5 Milyar.


Google, sebagai salah satu raksasa dalam bisnis periklanan online, pun turut meramaikan kebangkitan native ads ini. Meski masih tetap mempertahankan platform lama bagi publisher-nya di Adsense, dan hanya menambahkan Matched Content saja, Google bergerak dengan cepat mengadopsi keseluruhan sumber dayanya di internet untuk meraup keuntungan dalam platform native ads ini. Sebagai contoh, Google telah menambahkan platform periklanan di DoubleClick dan pada saat yang sama menurunkan minat pengiklan untuk memasang iklannya di banner ads.


Ketika dicari siapa pionir dari penerapan native ads di industri konten, banyak pihak merujuk pada Buzzfeed. Media yang berbasis di New York ini memang tak memasang iklan banner sama sekali di medianya sejak pertama muncul. Bahkan Buzzfeed seperti tak memiliki iklan sama sekali pada tampilan lamannya. Mereka membuat sponsored content untuk menampung produk yang mau mengiklankan diri di Buzzfeed. Langkah ini banyak diikuti oleh media-media lain di Amerika Serikat.

Salah Paham Native Ads

Namun native ads pun sering ditafsirkan secara keliru alias sering terjadi miskonsepsi tentang pengertian yang sebenarnya dari native ads. Untuk itu, saya merangkum beberapa miskonspepsi yang terjadi atas pengertian native ads.

1. Native ads selalu tentang konten

Native ads bukan hanya soal konten semata. Paid search dari Google pun bukanlah konten, hanya sebuah tautan hasil pencarian yang muncul dengan kata kunci tertentu. Tapi itu tergolong sebagai native ads. Miskonsepsi ini memang muncul dari pionir native ads, Buzzfeed yang menaruh konten bersponsor dalam medianya. Lama-kelamaan banyak orang salah menduga bahwa native ads adalah konten itu sendiri. Sehingga mengabaikan bahwa distribusi melalui beragam kanal diluar banner pun bukan native ads.


2. Butuh kerjasama dengan pembuat konten untuk membuat native ads

Ini kelanjutan dari nomor 1. Memang betul jika ingin muncul dengan konten bersponsor, pengiklan wajib kerjasama dengan pembuat konten. Tapi 'kan native ads bukan cuma konten saja sehingga dengan kemampuan copy writing yang sederhana, pengiklan sudah bisa menayangkan native ads dimanapun sesuai dengan kemampuan budget-nya.

3. Native ads hanya muncul dalam satu platform

Ini salah kaprah. Sejak awal, native ads telah menurunkan mahkota banner ads. Kenapa banner ads bisa runtuh? Karena kemampuan banner ads hanya memindahkan yang tadinya di media cetak/konvensional, ke platform online. Sementara platform online begitu fleksibel dan sangat mungkin untuk berubah-ubah setiap waktunya. Oleh karena itu native ads bakal terus meningkat penggunanya, sementara banner ads cenderung menurun.

Sponsored content di Twitter.

Jadi, sudah paham pengertian dari native ads? Jika belum, cara sederhana untuk melihat apakah sebuah iklan adalah native ads tentu dengan memastikan bahwa iklan tersebut bukan jenis banner. Ya, sesederhana itu. Native ads adalah iklan diluar banner ads, baik bentuknya hanya sebuah update status di Facebook, twit di Twitter, maupun related articles di blog. Tentu pengiklan yang baik memberikan keterangan dengan cara menandai iklannya dengan ads maupun sponsored.

Demikianlah artikel tentang mengenal native advertising. Mudah-mudahan diberi kesempatan untuk menuliskan peluang dibalik keberadaaan native advertising secara lebih lengkap.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.


EmoticonEmoticon