Senin, 23 Mei 2016

Smartphone Google Yang Bisa Dicopot-Pasang Kini Siap Dipakai

Hasil dari Project Ara telah diluncurkan. Ini merupakan proyek ambisius dari Google yang menggabungkan antara kemampuan ponsel dengan fleksibilitas penggunaan. Bahasa mudahnya, proyek ini memungkinkan ponsel bisa diganti-ganti perangkatnya dengan mudah. Semuanya sangat fleksibel dan anda tak butuh reboot Android untuk melakukan semuanya. Dan divisi Google yang disebut Advanced Technology and Product (ATAP) telah membuat ponsel yang disebut-sebut sejak tahun 2014 ini telah jadi nyata.

Ponsel modul dari Project Ara Google (sumber: Wired)
Kepala teknisi Project Ara, Rafa Camargo, kepada Wired menjelaskan, ini bukan tentang apa itu ponsel modul, tapi tentang bagaimana ponsel ini bekerja. Ia kemudian mengambil ponsel hitam yang ada di meja depannya, membaliknya untuk menekan tombol power. Dan ponsel itu menyala. Lalu Camargo pun mengambil modul kamera dari meja yang sama, memasangnya begitu saja, membuka aplikasi kamera di ponsel dan 'cekrek'. Sebuah foto diambil dari kamera yang baru terpasang itu. Ya, sesimpel itulah ponsel modul hasil dari Project Ara ini.

Tapi Camargo pun menyebutkan bahwa ini masih berupa prototype, sehingga bentuknya mungkin semacam mainan anak-anak. Meski telah dipakai sebagai ponsel utama oleh sekitar 30 orang yang terlibat dalam Project Ara ini, ponsel modul ini tetap masih mengkhawatirkan. Khawatir penggunaannya masih gagal, secara secara nyata ini bukanlah ponsel secara umum, karena ini benar-benar baru. Ini sudah bukan konsep lagi, kata Camargo, bukan lagi sebuah ide, apalagi sekedar video Youtube, ini adalah prototype. Ya, hanya semacam contoh dari sebuah platform yang sedang dikembangkan Google untuk dipasarkan secara publik.


Sikap Google Terhadap Industri Smartphone

Setelah ATAP dijadikan sebagai divisi terpisah, Google ternyata menginginkan hal yang lebih jauh dari sekedar ponsel modul yang tercipta lewat Project Ara ini. Yang diinginkan Google adalah ekosistem yang mendukung semua orang berkontribusi terhadap inovasi smartphone.

ATAP's Master of Creative, Blaise Bertrand, mengemukakan bahwa industri smartphone, atau industri ponsel secara umum, merupakan sebentuk platform teknologi paling luas dalam sejarah umat manusia. Sehingga, lanjut Bertrand, setiap pihak yang masuk ke dalam industri ini meski punya sumber daya dan pengalaman yang paling tidak setara Samsung dan Apple. Tak cukup hanya dengan produk baru, inovatif, maupun revolusioner saja untuk memenangkan persaingan, karena yang terjadi di pasar adalah meyakinkan konsumen bahwa produk kita yang diinginkan oleh mereka.

Apalagi banyak kendala yang menghambat meluncurnya ponsel modul ini. Seperti kepala tim Project Ara, Paul Emerenko, yang mundur dari Google. Disusul pula oleh Regina Dugan yang berhenti dari ATAP untuk bekerja di Facebook. Dan di Facebook pun, Regina mengerjakan hal yang mirip dengan Project Ara. Untunglah dengan konsolidasi untuk Project Ara yang dilakukan oleh Google dibawah Rick Osterloh, mantan punggawa Motorola, proyek ini kembali berjalan.

Keistimewaan Ponsel Modul Google

Yang perlu dicatat adalah hasil dari Project Ara adalah smartphone, bukan hardware. Sehingga ketika berbicara hasil dari Project Ara maka hasilnya adalah ponsel modul sebagai satu kesatuan. Sehingga prosesor, baterai dan layarnya masih terintegrasi jadi satu. Ini mungkin masih versi yang pertama, sehingga tidak semua dari bagian ponsel modul Google ini bisa dilepas-pasang.


Ada enam slot modul dimana masing-masing modul merupakan modul generic yang memungkinkan tak akan terjadi salah pasang. Misalnya slot untuk kamera bisa dipasang di bawah sekali waktu, namun di lain waktu bisa juga dipasang di atas tanpa mengacaukan mekanisme modul yang ada. Jaringan standar 'Unipro' memungkinkan semuanya terkoneksi secara instan dan hal yang sama pun berlaku ketika masing-masing modul dilepas.

Jika semuanya sudah terpasang dan mau melepas salah satu modulnya anda tinggal bilang, "Okay Google, eject the camera," misalnya. Namun untuk versi manual, anda pun bisa melepas modul kamera tadi melalui Settings aplikasi yang ada di perangkat. Sempat terjadi beberapa masalah saat koneksi antar modulnya, sebagaimana yang terjadi saat uji coba di Puerto Rico. Namun tim Ara telah mengatasi masalah ini dan kegiatan lepas-pasang modulnya tak lagi temui kendala. Lewat tombol yang ada di samping ponsel, pengguna ponsel ini bisa melihat secara keseluruhan modul yang terpasang, hal ini juga untuk menghindari kesalahan mesin saat modul-modul tadi terpasang.

Lalu kapan ponsel modul Google ini dipasarkan secara umum? Sepertinya kita harus bersabar hingga 2017, karena untuk saat ini, Google bersiap untuk mengirimkan prototype tadi ke para pengembang untuk dilakukan uji coba sebelum dipasarkan secara umum. Bisa jadi waktu pemasarannya lebih cepat, bisa juga lebih lambat. Namun kemungkinan pertama jauh lebih masuk akal, karena Camargo sudah tidak lagi menguji ponsel ini dan sudah tidak lagi melakukan debugging, karena ia telah memakainya sebagai ponsel utama.

Saya kog nggak tertarik dengan ponsel modul ini. Setidaknya ini beberapa kekhawatiran saya:

Pertama, saya terbiasa memasukkan smartphone di kantong celana. Ya, saya tahu ini kurang bagus buat you-know-what, tapi setelah melihat smartphone milik Google ini, saya khawatir kebiasaan ini justru merusak modul yang telah terpasang dengan baik.

Kedua, ini hanyalah ponsel biasa, smartphone pada umumnya. Yang membedakan smartphone ini dari smartphone lain adalah modul. Ya, modul. Sebuah hardware tertentu, seperti kamera, alat perekam, sound system, dan lainnya yang bisa dicopot-pasang sesuai kebutuhan. Sementara smartphone lain sudah terintegrasi di sistem operasinya. Bedanya dimana? Ya cuma dicopot-pasang itulah.

Ketiga, kapitalisme bakal semakin meluas. Ya coba bayangkan setelah prototype ini jatuh ke tangan developer di masing-masing vendor, maka mereka bakal membuat setiap modul masing-masing, dan tebak apa yang akan terjadi selanjutnya: modul ini akan semakin dijual secara ekslusif. Meskipun ponsel Google-nya sendiri dijual dengan harga terjangkau. Ini duit lagi, bro.

Keempat, layarnya kecil. Ponsel ini bakal menghambat industri game yang membutuhkan layar yang lumayan besar. Atau game-nya yang justru menyesuaikan dengan layar dari ponsel modul Google ini? Mudah-mudahan tidak. Saya nggak mau memainkan Clash of Clans di layar sekecil itu.

Kelima, karena versi pertama, mungkin, jadi tidak banyak yang bisa dicopot-pasang dari ponsel Google. Bagaimana jika saya butuh baterai yang lebih kuat, prosesor yang lebih tangguh dan RAM yang lebih besar? Tidak, ponsel modul Google ini bukanlah komputer desktop di rumah saya yang bisa ditambah RAM-nya, di-up grade kapasitas harddisk-nya, bahkan diganti prosesornya hanya dengan membuka casing CPU saja.

Tapi, dear Google, saya tak keberatan jika harus menguji coba ponsel modul ini. Sumpah, nggak keberatan sama sekali. Oleh karena itu kelima alasan diatas akan saya eliminir jika ponsel modul ini benar-benar ada di tangan saya.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

2 comments

informasi Proyek Ara Google, Grow Up or Bye-Bye Google memang sangat membingungkan dan penuh tanda tanya. tapi, yang pasti google akan melakukan perubahan pada cara kerja mereka dan algorithma mesin pencari mereka

Project ARA tidak dilanjutkan oleh Google


EmoticonEmoticon