Senin, 06 Juni 2016

Apakah Facebook Benar-benar Gratis?


If you are not paying for it, you're not the customer, you're the product being sold. Jika kita menggunakan produk dengan gratis, maka kita bukanlah konsumen, tapi sebuah produk juga yang dijual. Entah siapa yang mengemukakan kalimat tersebut pertama kali. Tapi saya menemukan dua jawaban di Quora yang menyatakan bahwa Andrew Lewis di MetaFilter pernah mengatakan hal yang sama. Namun lebih lama lagi, jawaban kedua menjelaskan bahwa kalimat tersebut bermula dari sebuah buku karya Richard Serra pada tahun 1970-1980-an. Buku yang memuat sebuah kutipan dari film pendek yang berjudul Television Delivers People, yang dibuat pada 1973.


Konsep you are the product ini kemudian berkembang tak cuma soal televisi pada tahun 1970-an saja, maupun era internet pertama kali pada 1990-an. Tapi saya mencoba mengkhususkan bahasan tentang Facebook, sebuah situs yang begitu digemari oleh 1,6 Milyar pengguna internet. Angka pengguna itu bahkan mungkin sebagian besarnya awam soal internet secara umum, tapi mereka begitu addict terhadap Facebook. Facebook telah menjadi identitas yang begitu penting dalam ranah pergaulan antar manusia. Semacam kartu nama digital.


Coba bayangkan apabila Mark Zuckerberg memunguti bayaran dari setiap sign-up yang kita lakukan. Ya, saya tahu, mengakses Facebook pun bayar, tapi itu urusannya dengan vendor penyedia layanan internet, bukan dengan situsnya. Jadi Facebook tetap saja gratis. Dan tebak, dari mana Facebook mendapatkan uang untuk mengoperasikan layanannya jika penggunanya tak dipungut biaya sama sekali? Ya, iklan.

Pada kuartal ke-4 tahun 2015, Facebook dilaporkan mendapatkan keuntungan sebesar $5,841 Milyar. Angka ini mengalami kenaikan sebesar $1,3 Milyar dibanding kuartal sebelumnya. Keuntungan ini tentu saja sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah pengguna Facebook setiap waktunya. Peningkatannya mungkin tak secepat yang dikira, hanya 2,58% per kuartal, tapi Facebook senantiasa punya peluang untuk berkembang. Apalagi penetrasinya ke negara-negara berkembang cukup bagus.

Nah, jika perolehan keuntungan Facebook hanya dari iklan, lantas posisi kita sebagai pengguna berada di mana?

Dalam Facebook Help Centre dijelaskan bahwa Facebook tidak menjual informasi penggunanya. Dan para pengiklan pun tidak memiliki akses atas informasi personal yang dimiliki oleh pengguna Facebook. Apakah Facebook memang melindungi data penggunanya? Soal perlindungan data, Facebook memang jagonya. Saya tak memedulikan rumor yang menghubungkan Facebook dengan NSA atau lembaga intelijen apalah. Tapi cobalah sekali-kali mengintip bagaimana teknis membuat iklan di Facebook.

Dalam sistem periklanan di Facebook, setiap data personal memang tak akan ditampilkan. Tapi secara umum, pengguna Facebook dikelompokkan sesuai usia, pekerjaan, jenis kelamin, minat, bakat, acara favorit, dan lain-lain. Hal ini digunakan oleh Facebook untuk penargetan iklan agar lebih tepat sasaran. Makanya jika kita tak pernah menyukai sesuatu di Facebook, maka sesuatu itu tak akan muncul bahkan jika sesuatu itu pun beriklan di Facebook. Algoritma Facebook bekerja disini. Sampai disini sudah merasa ada yang janggal?

Secara sederhana begini, kita adalah sekumpulan pengguna Facebook. Katakanlah oleh algoritma Facebook kita terbagi menjadi dua kelompok besar. Satu kelompok penyuka drama Korea dan satu lagi penyuka film action. Satu ketika ada sebuah promosi dari produk Paint Ball. Kira-kira siapa yang bakal dijadikan target promosi? Penyuka film action, dong. Nah persoalan intinya adalah, Facebook dapat duit dari si pemilik Paint Ball. Apa yang dijual Facebook sehingga mendapat keuntungan? Silakan jawab.

Penutup

Kita adalah pengguna Facebook. Ini benar, tapi tentu saja kurang tepat. Karena pada saat yang sama, Facebook memanfaatkan kita untuk meraup keuntungan sebanyak mungkin. Tapi tentu saja tidak adil apabila saya hanya menunjuk Facebook sebagai pelaku semata wayang. Di dunia internet, dimana ada begitu banyak penyedia konten gratis, maka tersedia pula begitu banyak cara untuk 'menjual' pengunjung. Misalnya blog ini. Harapannya tentu saja agar pengunjung bekerja sama mengklik you-know-what atas semacam 'bayaran' dari informasi yang telah didapatkan. Kalau saya yang mengoperasikan blog ini sendirian saja butuh biaya operasional, apalagi Facebook. Jadi, benarkah langkah yang ditempuh Facebook dengan memosisikan penggunanya sebagai produk?

Sebenarnya sah-sah saja selama terms and references yang pada waktu sign-up disepakati secara bersama-sama. Misalnya Facebook tidak boleh memberikan data personal penggunanya kepada siapapun. Lalu apa langkah yang bisa kita tempuh? Pertama, tak usah mengunggah hal-hal yang bersifat privasi. Biarkan orang tahu bahwa akun tersebut memang terasosiasi secara benar dengan kita hanya dengan nama dan interaksi kita dengan mereka. Kedua, jangan menyukai hal-hal yang terlalu spesifik. Misalnya ketika kita suka drama Korea, berikan porsi yang lumayan juga untuk like fanpage film-film action. Ketiga, efektifkan waktu di Facebook. Jika sudah didapatkan dari login kita di Facebook, secepatnya exit aplikasinya.


Pada dasarnya semua hal yang ada di dunia ini baik, sampai ada keburukan yang menyertainya. Maka keburukan itulah yang mesti dienyahkan agar tak berdampak pada tereduksinya kebaikan yang sudah ada. Demikian pula ketika kita menggunakan Facebook.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

2 comments

yg penting gak aneh" pake facebook dah aman sih mas :D



Salam Kenal

sering-sering berdoa aja mas, soalnya akunnya Mark Zuckerberg aja kena jebol. :D


EmoticonEmoticon