Sabtu, 18 Juni 2016

Investasi Syariah Menjadi Jalan Ke Mekkah


Ibu itu menyeka sudut matanya. Suaranya tertahan sambil sekuat tenaga menahan tangisnya. Mbak Meitha, customer service yang melayaninya, hanya bisa terpana. Semua orang yang ada disitu memasang mata, termasuk saya dan istri yang berada di belakangnya. Ibu itu seperti berusaha tegar dari banyaknya masalah yang menimpa. Dan setelah semua urusannya dengan bank selesai, sang ibu langsung melangkahkan kakinya. Barulah setelah kepergiannya, saya mengetahui kejadian yang sebenarnya.

"Beliau gagal berangkat tahun ini, pak. Sawahnya gagal panen, sementara tabungannya habis untuk berobat," ungkap mbak Meitha.

Jadi ibu tadi gagal berangkat haji tahun ini. Gagal berangkat merupakan satu hal yang sangat menyesakkan hati. Betapa tidak, setidaknya lebih dari sepuluh tahun bakal calon jemaah haji menunggu momen ini. Momen dimana biaya haji dilunasi, dan administrasi dan syarat-syarat lainnya dipenuhi untuk beribadah ke tanah suci. Tapi ketiadaan biaya pelunasan erat kaitannya dengan manajemen finansial, selain tentu saja berurusan dengan rejeki dari Illahi.

"Tapi 'kan beliau bisa berangkat tahun depan, sambil mengumpulkan dana yang dibutuhkan?" saya mencoba bertanya.

"Betul pak, tapi kondisi finansialnya sedang bermasalah ditambah kesehatannya yang kurang memungkinkan," jawab mbak Meitha.

Uang dan kesehatan merupakan dua hal yang kadang tak terduga. Keduanya merupakan rejeki yang sering tak disangka datangnya. Namun diluar musibah yang menimpa, keduanya bisa dipersiapkan kehadirannya. Kesehatan bisa dijaga dengan cara menjaga diri, dan rejeki bisa dipelihara dengan cara melakukan pengaturan finansial yang mumpuni. Dan apa yang menimpa ibu tadi merupakan musibah dari Illahi. Semoga beliau sabar dan kepada-Nya lebih bisa mendekatkan diri.
Baitullah, semoga semuanya dimudahkan menuju kesana (Gambar: http://akucintakeuangansyariah.com)
Kedatangan kami ke bank ini memang bermaksud mendaftar haji. Kami mendapat rejeki yang cukup begitu lama dinanti datangnya, namun tiba-tiba hadir karena semacam nazar yang terucap dari istri. Istri saya berucap jika ada calon pembeli yang berjodoh, maka uang hasil penjualannya akan disisihkan untuk biaya haji. Ya, rumah yang telah kami tinggalkan berbulan-bulan akhirnya didatangi pembeli sehari setelah istri mengatakan hal tadi.

Sebelumnya, saya tanya istri saya terlebih dulu. Apakah ia sudah komitmen untuk menyisihkan sebagian dari hasil penjualan rumah untuk berangkat haji? Jawabannya insya Allah. Saya pun banyak bertanya perihal kewajiban berhaji bagi muslim. Dan ternyata jawaban dari para ustadz yang saya tanya semakin menguatkan saya dan istri saya untuk segera mendaftarkan diri. Kewajiban berhaji adalah bukan terletak pada wilayah mampu dalam artian seseorang itu kaya dan berkecukupan saja, tapi berlaku bagi siapa saja yang sudah memiliki biaya untuk melakukan perjalanan ke Mekkah. Jadi kalau seseorang itu sudah memiliki mobil seharga ratusan juta, tapi di sisi lain ia menunda-nunda untuk berhaji, maka ia telah berdosa karena tidak menunaikan kewajiban ibadahnya.

Kami menyisihkan Rp.50.000.000,00 untuk pendaftaran, dan Rp.20.000.000,00 yang awalnya bakal dipergunakan untuk melunasi biaya haji ini. Karena pada tahun ini, sekitar segitu biaya pelunasannya. Tapi biaya haji memang tak bisa dilunasi setelah pendaftaran. Pelunasan itu mesti dilakukan setidaknya tiga bulan sebelum keberangkatan. Namun melihat sang ibu yang gagal berangkat tadi, saya dan istri kemudian saling berpandangan mata. Kami berdiskusi kecil, berupaya meyakinkan satu sama lain dan meneguhkan keyakinan bersama-sama. Beberapa pertanyaan yang keluar, baik dari saya maupun istri saya memang tak berbeda. Dan pertanyaan utamanya cuma satu, yakni apakah lima belas tahun nanti kami bakalan punya uang untuk melunasi biayanya? Sementara uang yang ada dalam genggaman tidak menjadi jaminan akan terus berada di tangan.

Ya, lima belas tahun bakal menanti. Jumlah lima belas tahun ini hasil dari pengecekan di website kementerian agama atas nomor porsi kami. Lima belas tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk mengumpulkan uang agar bisa melunasi biaya haji nanti. Tapi sekali lagi ini soal rejeki. Kita tak pernah tahu datangnya kapan, besarannya berapa, dan kebutuhan mendesak apa yang menanti. Inilah yang sedang berkecamuk di pikiran kami.

Jika pada tahun 2015 dibutuhkan Rp.8.962.500,00 untuk melunasi biaya haji per orang, maka setidaknya lima belas tahun mendatang akan ada penambahan sekitar Rp.8.066.250,00. Sehingga biaya pelunasan per orangnya bakal ada di kisaran Rp.16.132.500,00 per orang atau Rp.32.265.000,00 untuk saya dan istri saya. Ini karena setiap tahunnya, uang yang kita miliki bakal mengalami penurunan nilai sekitar 6-8%. Dan uang sebanyak Rp.32.265.000,00 bukanlah jumlah yang sedikit bagi kami.

Lantas kami harus bagaimana, dan kami mesti melakukan apa?

Investasi Syariah

Sisa uang kami untuk bekal pelunasan hanya tersedia Rp.20.000.000,00, sementara hitung-hitungan tadi, setidaknya kami membutuhkan Rp.32.265.000,00 untuk pelunasan. Uangnya masih kurang Rp.12.265.000,00 lagi. Kalau menabung setiap bulannya Rp.100.000,00 saja, maka dalam jangka waktu lima belas tahun, uang sebanyak itu mungkin bakal terkumpul. Tapi manajemen keuangan saya buruk, sementara gaji saya setiap bulan selalu habis untuk membayar semua kebutuhan bulanan.

Sempat terpikir untuk menitipkan Rp.20.000.000,00 yang tersisa ke teman yang punya usaha. Tapi teringat dengan beberapa pengalaman dulu soal investasi usaha semacam ini, sangat riskan posisinya. Kalau pengalaman saya, si teman yang pada mulanya berjanji akan memberikan pembagian sekian persen dari laba usahanya, ternyata memiliki perhitungan yang kurang bagus. Ia bilang terus-menerus merugi, tapi kondisi kehidupan dan usahanya semakin baik. Ini membuat saya tak bisa menaruh kepercayaan lagi, sehingga modal investasi tersebut saya ambil kembali. Lain lagi cerita teman saya, modalnya justru tak kembali, pemilik usaha yang dititipi modal malah pergi tak ada kabar sama sekali.
Kedua produk dari Mandiri Syariah, Tabungan Simpatik untuk investasi syariah,
dan Tabungan Mabrur untuk biaya haji.
Akhirnya, saya dan istri sepakat untuk kembali menemui Mbak Meitha. Tujuan kami adalah bertanya-tanya soal produk investasi syariah yang dimiliki bank ini. Jujur, kami tak begitu paham tentang keuangan syariah, apalagi jika berurusan dengan pasar modal syariah. Pengen sih tahu lebih banyak soal keduanya, tapi waktu dan kesempatan sepertinya tak memungkinkan. Dan soal produk-produk keuangan syariah ini ternyata bukan lagi bidang Mbak Meitha, dan kami diarahkan ke financial advisor, Mas Bustanul Arifin. Oleh Mas Bustanul, kami dijelaskan dengan beragam produk investasi yang tersedia. Kalimat kunci yang membuat kami nyaman untuk menitipkan uang kami disini adalah soal penggunaan uang. Label syariah yang dimiliki bank ini setidaknya menjamin bahwa uang yang kami berikan akan dikelola ke dalam usaha yang halal dan thoyyib. Sehingga kelak bagi hasil yang kami terima juga halal dan thoyyib. Tapi kami dibuat sedikit kaget, karena Mas Bustanul mengarahkan kami untuk ikut asuransi, alih-alih investasi.

"Ini tetap investasi, pak. Dan asuransi ini merupakan asuransi jiwa, yang menjadi penjaminan bapak ketika, mohon maaf, meninggal dunia sebelum usia 100 tahun. Jadi selain bakal mendapatkan perkembangan investasi setiap bulannya, keluarga bapak bakal mendapatkan pertanggungan oleh asuransi jiwa syariah yang bapak miliki," ungkap Mas Bustanul.

"Kenapa nggak asuransi kesehatan, Mas?" tanya saya.

"Boleh, tapi kalau itu bapak mesti bayar preminya setiap bulan," jawab Mas Bustanul sembari tersenyum.

"Oh, hehe," saya pun ikut tersenyum dan menandatangani investasi syariah yang ditawarkan.

Selang berjalan sembilan bulan, sejak pertengahan Agustus 2015 investasi itu saya setorkan, dan kini sudah menapaki Juni 2016, saya selalu diberikan email perkembangan investasi setiap bulannya. Saldonya naik secara gradual, dan sebentar lagi memasuki tahun pertama, angkanya persis sama dengan proyeksi yang diberikan pada proposal investasi yang diajukan pertama kali. Kami berdo'a kepada Allah, agar pada saat dibutuhkan untuk pelunasan, dana investasi ini bisa ditarik dan bersaldo sesuai dengan yang diperlukan.
Screen capture hasil browsing pada 17 Juni 2016
Kembali, saya cek lagi nomor porsi. Dan alhamdulillah sudah mengalami kemajuan dari yang semula perkiraan keberangkatan pada tahun 2031, sekarang sudah maju dua tahun atau di tahun 2029. Ini berarti perkiraannya tiga belas tahun lagi. Mudah-mudahan, setiap tahunnya bisa terus mengalami kemajuan, baik nilai investasi yang dibayarkan juga waktu keberangkatan. Agar nanti, sepuluh tahun lagi, saya dan istri sudah mampu menunaikan rukun Islam yang kelima. Ya Allah, permudahlah dan kabulkanlah.


DISCLAIMER: Artikel ini bukan untuk apa-apa, apalagi bermaksud riya' dan sejenisnya, tapi semata-mata bertujuan untuk diikutsertakan dalam Lomba Blog Investasi Syariah yang digelar oleh Direktorat Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan (DPMS OJK) dalam rangka kampanye nasional Aku Cinta Keuangan Syariah (ACKS).

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

4 comments


EmoticonEmoticon