Kamis, 30 Juni 2016

Memahami Konflik Indosat vs Telkomsel

Konflik Indosat Ooredoo dengan Telkomsel yang terjadi minggu kemarin menemui titik dingin. Terlihat Telkomsel menjaga jarak dari konflik ini, sementara Indosat pasca mendapat teguran dari BRTI, masih terus bergerilya mencari bantuan. Ya, bagi Indosat, 'perang' ini masih berkecamuk. Makanya, CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli, mengajak operator seluler lainnya untuk sama-sama melawan Telkomsel. Kenapa Indosat begitu ngotot?


Pasca lengser dan digantikan oleh Merza Fachys, President Director Smartfren Telecom, selaku Ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (APTSI), Alexander Rusli masih memiliki keyakinan bahwa Telkomsel melakukan monopoli, terutama di luar Jawa. Ia pun beranggapan bahwa 'perlawanan' ini seharusnya dilakukan sejak lama. Sementara itu Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah, merasa bahwa tak ada monopoli disini. Hal senada pun sebenarnya diamini oleh Merza, akan tetapi ia meyakini bukan monopoli yang terjadi, tapi dominasi. Telkomsel terlampau mendominasi jaringan di luar Jawa, sehingga penjualan produk-produknya sangat mudah karena didukung infrastruktur penunjang yang sudah baik.



Lantas apa yang diinginkan oleh Indosat? Jadi ada sebuah Peraturan Pemerintah (PP) No 53/2000 dimana salah satu klausulnya menerangkan bahwa pemegang alokasi frekuensi radio tidak dapat mengalihkan alokasi frekuensi yang telah diperolehnya kepada pihak lain, begitu pun dengan ijinnya tanpa persetujuan menteri. Indosat, dan juga yang lain, menginginkan ada revisi atas aturan tersebut. Jadi ketika ada network sharing, maka payung hukumnya jelas. Hal ini untuk menghindari terjadinya kembali kasus IM2.

Tentu saja atas revisi aturan ini Telkomsel merasa keberatan. Pasalnya dibanding operator lain, Telkomsel telah banyak berinvestasi membangun infrastruktur berupa Base transceiver station (BTS). Hingga saat ini, Telkomsel telah membangun 116 ribu BTS sementara Indosat Ooredoo 53 ribu dan XL Axiata 59 ribu BTS. Kenapa Telkomsel keberatan?

Ibaratnya begini, ketika saya ingin pergi ke Jakarta sekali waktu, dibanding membeli mobil sendiri yang tentu harganya mahal, mending naik bus. Beli tiket, atau datang ke halte, mengklaim tempat duduk, dan tinggal menunggu waktu untuk sampai di Pulo Gadung. Sayangnya, akibat banyak orang yang sama dengan pilihan saya, jumlah bus semakin menyusut. Orang-orang jadi lebih memilih menumpang di bus orang lain dibanding membeli bus sendiri. Inilah yang terjadi dengan kondisi operator seluler di Indonesia. Menurut versi Telkomsel, mereka telah banyak membangun jaringan, kalau operator lain hanya menanti di tikungan, dikhawatirkan jumlah jaringan pun stagnan.

Sementara itu, menurut versi Indosat, Telkomsel memonopoli jaringan di luar Jawa karena didukung oleh Telkom selaku induknya. Penetrasi awal ada di Telkom, lalu Telkomsel tinggal membangun akses yang telah ada. Sementara ketika Indosat meminta disewakan jaringan milik Telkom justru tidak dikasih, dengan alasan tidak ada yang kosong karena dipakai Telkomsel. Padahal, ketika diluar saingan Telkomsel, meski anak usaha Indosat juga (Lintasarta), sewa itu diberikan. Makanya Indosat segera menginginkan revisi aturan itu dilakukan secepatnya, agar pemerintah bisa 'memaksa' BTS yang ada untuk memfasilitasi network sharing.

Dari kedua versi ini, siapa yang salah?

Sayangnya, para pengamat dan pelaku bisnis lainnya justru seperti berpihak ke Telkomsel. Alih-alih menengok rasionalisasi yang dilakukan Indosat, sepertinya banyak pihak yang tak bergeming dengan perang tersebut. Pasalnya, perang ini terjadi, kabarnya, akibat 'ledakan' di manajemen Indosat sendiri. Indosat sedang kesulitan berkembang, terlebih ketika melebarkan sayapnya di luar Jawa. Sementara tekanan dari pemilik saham terus bergejolak. Akhirnya manajemen berupaya memangkas biaya, menekan oeprator di lapangan, dan kita lihat hasilnya: perang terbuka terhadap Telkomsel, baik dari bawah juga dari atas.

Kalau mau jujur, sejak awal Telkomsel tak bergeming ketika membangun jaringan. Mereka seolah tak peduli dengan pengembalian investasi (ROI), juga tak peduli ketika banyak pihak yang mencibir dunia telekomunikasi seluler Indonesia. Dan ketika hasil manis itu datang, seperti saat ini, Telkomsel tinggal panen. Sementara operator lainnya hanya kebagian sisa-sisa saja, dan dengan enteng kemudian menuduh Telkomsel sebagai pihak yang melakukan monopoli.

Dan yang jauh lebih parah adalah perang antara Indosat dengan Telkomsel ini menjadi cerminan dari industri telekomunikasi dalam negeri yang tidak sehat. Di satu sisi pemerintah menginginkan agar terjadi konsolidasi yang bagus antara perusahaan telekomunikasi seluler, sehingga bisa sama-sama membangun jaringan sampai pelosok negeri. Namun yang terjadi justru saling tikam antar sesama. Miris. Bahkan lebih miris lagi, ketika tahu bahwa yang mendulang sukses lebih besar justru Facebook, Google, dan semacamnya yang tidak memiliki jaringan data sama sekali. Jadi? Ayo, pada baikan.

Tulisan ini diolah dari beragam sumber.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

4 comments

Persaingan di bidang telekomunikasi antara Indosat dengan Terkomsel ini sangat ketat dan sudah sangat terkenal saya juga tahu persaingan ini dari spanduk dan banner yang ada di pinngiran jalan yang nampak jelas persaingan telkomsel dengan indosat

yang akur2.. ini namanya bisnis dari pada.. :)

yang akur2.. ini namanya bisnis dari pada.. :)

Akurin mas, speedy kan senior hehe


EmoticonEmoticon