Sabtu, 02 Juli 2016

Ada Apa Dibalik Smartphone Rp.50 Ribuan?

Sejak diluncurkan pada Februari lalu, Freedom 251 telah disukai oleh setidaknya 70 juta orang. Angka tersebut tercermin dari banyaknya pendaftar yang ingin membeli smartphone keluaran Ringing Bells ini. Jumlah pendaftar itu memang hanya ada di India saja, dan itu berarti cuma sekitar 6% saja dari jumlah populasi di negara tersebut. Freedom 251 memang menyita perhatian, dan meski baru akan dipasarkan di India saja, smartphone seharga Rp.50 ribuan ini langsung menjadi perbincangan di banyak media. Ada apa sebenarnya?


Media memang telah mendapatkan smartphone ini sejak Februari, namun hanya berupa prototype saja. Dan setelah smartphone ini benar-benar dipasarkan, ada beberapa perubahan meski tidak mencolok. Desainnya masih mirip iPhone, dengan balutan plastik di panel belakang dengan kelir warna khas bendera India. Meski panel belakang ini bisa dibuka, jangan pernah mencoba untuk mencopot baterai dan membuka bagian dalamnya.

Freedom 251 memiliki layar qHD dengan lebar 4" dan punya resolusi 960x540 piksel, yang cukup memberikan kerapatan piksel yang mumpuni. Sayangnya, bezel samping terlampau tebal dibanding perangkat Android yang lain. Ini seperti kembali kepada desain di era awal smartphone. Sementara itu dapur pacunya dihuni oleh prosesor 1.3GHz quad-core yang dibalut dengan RAM 1GB. Dapur pacu ini bakal menggerakkan Android 5.1 Lollipop yang menjadi sistem operasi smartphone murah ini. Oh, iya, Freedom 251 cuma memiliki kamera belakang 3.2MP yang dilengkapi flash dan kamera depan 0.3MP saja. Lalu dibanding prototype-nya, ada sedikit perubahan tempat buat kamera belakang. Daya simpan internal 8GB, namun ini bisa ditambah dengan tambahan memori eksternal mencapai 32GB. Dan semuanya diberi daya oleh baterai dengan kapasitas 1450mA.

Kalau dipikir-pikir dengan spesifikasi semacam itu, cukup mustahil untuk mendapatkannya dengan hanya $4 dollar atau setara dengan Rp.50 ribuan, dan jika diukur dengan uang India pun cuma Rs251. Angka terakhir menjadi penanda dari angka yang mengikuti nama Freedom. Harga tersebut memang diluar ongkos kirim yang berlaku di India, tapi tetap saja Rp.50 ribu terlampau murah untuk smartphone dengan spesifikasi tersebut.

Menurut media-media India, ada 2 lakh unit, atau 200,000 unit, yang sudah dikemas dan siap dikirim ke pendaftar yang beruntung mencicipi smartphone ini pertama kali. CEO Ringing Bells, Mohit Goels, mengungkapkan untuk setiap unitnya, perusahaan yang berbasis di Noida, Uttar Pradesh, India ini tidak benar-benar memproduksinya dengan biaya Rs.251. Bahkan perusahaan ini meski kehilangan Rs 140 hingga Rs 150 untuk setiap unitnya. Dan 200,000 unit ini yang pertama, dan akan menyusul 200,000 unit berikutnya bulan depan, dan seterusnya.

Meski mengalami keterlambatan, peluncuran Freedom 251 yang sedianya dilakukan pada akhir Juni, lalu mundur seminggu menjadi tanggal 6 Juli, tetap disambut cukup antusias. Namun sebelum peluncuran tersebut dilaksanakan, eksekutif dari Ringing Bells ingin menemui Perdana Menteri India, Narendra Modi, terlebih dahulu. Mereka ingin mengungkapkan ide soal memberikan akses digital pada orang-orang miskin di India. Dan ini semua diawali dengan peluncuran Freedom 251. 'Digitalisasi India', 'Menyambungkan Kaum Miskin dan Pinggiran', 'Buatan Asli India' dan jargon-jargon sosial menjadi kampanye yang diluncurkan oleh Ringing Bells. Tapi benarkah demikian adanya?


Isu Buruh

Menyandang smartphone termurah di dunia tidak lantas menjadikan Freedom 251 mendapat medali. Karena ini bisnis, dan semua orang paham bagaimana yang terjadi ketika sebuah perusahaan melakukannya. Tak ada yang mau rugi untuk jangka panjang. Maka aktivis Civil Initiatives for Development and Peace India (Cividep India), Gopinath Parakuni, menyatakan bahwa harga murah ini dikhawatirkan memicu upah murah bagi buruh terutama buruh kontrak, sementara waktu kerja bertambah lebih banyak. Apalagi, lanjut Gopinath, regulasi di India tidak cukup kuat untuk melindungi buruh di industri elektronik.

Bulan lalu, Cividep dan GoodElectronics telah melaporkan Samsung Electronics karena membayar dengan begitu murah upah para pekerjanya. Namun pimpinan pasar smartphone di India ini menyangkalnya, dan mampu lolos dari jeratan hukum.

'Dibuat di India' memang telah menjadi jargon yang memicu investasi, pertumbuhan ekonomi, dan mengurangi pengangguran secara signifikan. Tapi dibalik itu tidak terjadi imbal balik yang bagus bagi kondisi buruhnya, terutama buruh di sektor elektronik. Bahkan menurut catatan Asia Monitor Resource Center pada 2013, industri elektronik India masuk ke dalam lingkungan bekerja yang kurang bagus.

Sehingga wajar ketika banyak yang meragukan niat dari Ringing Bells dengan Freedom 251-nya. Apalagi Pemerintah India pernah mengungkapkan pada tahun 2008 ada produksi laptop dengan harga $10 dengan biaya produksi $100, dan subsidi untuk tablet Android sehingga harganya hanya $20 saja. Dan kedua benda ini tak mampu bersaing di pasaran. Artinya, Freedom 251 boleh jadi bakal menyusul kedua pendahulunya tersebut. Atau siapa sangka justru melejit dan menjadi brand yang terkenal di dunia. Tapi pertanyaan yang kemudian tersisa adalah: Siapakah yang akan membayar selisih harga produksi dan penjualannya? Atau, biaya produksi satu unit smartphone memang lebih murah dari Rp.50 ribu?

Sumber: timesofindia.indiatimes.com, dnaindia.com, ringingbells.co.in, indianexpress.com

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

1 comments so far

Murah banget mas cuma dengan hrga 50rb bisa mendapatkn handphone dengan RAM 1GB . kalau disini sih 50rb cukup buat beli handphone jadul bekas pakai yang hampir punah gtu mas


EmoticonEmoticon