Sabtu, 06 Agustus 2016

Clickbait di Facebook dan Cara Menghindarinya

Sering menemukan judul artikel dengan kalimat-kalimat bombastis? Misalnya, "Pria Ini Main Pokemon GO Sambil Menyetir, Yang Terjadi Selanjutnya Membuat Terkejut", "Wanita Ini Memakai Kosmetik Alami, Lihat Yang Terjadi Pada Wajahnya Kemudian", "Astaghfirullah! Inilah Daftar Keburukan Koruptor, Nomor 5 Nggak Banget". Judul-judul semacam itu disebut dengan clickbait, atau dalam bahasa Indonesia bisa diartikan 'pancingan terhadap klik'.

Ya, sebutan pancingan terhadap klik memang layak disematkan kepada judul artikel semacam itu. Karena clickbait hanya muncul pada jaman media sosial, dimana untuk membaca sesuatu kita mesti melakukan klik terlebih dahulu. Dan ada begitu banyak publisher yang berharap agar share mereka di media sosial mendapatkan kunjungan melalui tautan yang dibagikan disana. Sehingga judul semacam itu menjadi salah satu trik agar jaringan di media sosialnya tertarik (baca: terpancing) untuk melakukan klik. Klik berarti traffic, dan semakin tinggi traffic, maka semakin tinggi pula nilai situs tersebut di mata pengiklan. Ya, ujung-ujungnya seringkali materi.



Facebook dan Clickbait

Tak ayal lagi, Facebook menjadi tempat persemaian tautan-tautan clickbait. Masifnya penyebaran konten dengan judul clickbait yang dibagikan kepada media sosial terbesar di dunia ini menjadikan Facebook sebagai tempat yang tidak nyaman. Setidaknya itu tercermin dari banyaknya feedback yang masuk ke Facebook soal clickbait ini. Dan ini telah dipikirkan oleh  Alex Peysakhovich dan Kristin Hendrix, dua peneliti Facebook yang khusus membidangi user experience Facebook.

Facebook pun pada akhirnya melancarkan perang terhadap clickbait. Lewat News Room-nya, Facebook menjelaskan bahwa ada begitu banyak pengguna Facebook yang menemukan judul clickbait di news feed mereka. Clickbait hanya memancing orang untuk melakukan klik, tanpa menyediakan artikel yang relevan yang diperlukan oleh penggunanya. Dan untuk mengatasinya, Facebook memperbaharui algoritma untuk mengurangi kemunculan artikel clickbait di news feed pengguna Facebook.


Karena pembaruan algoritma ini berkaitan dengan pembaruan sebelumnya tentang fanpage, maka soal clickbait ini dikaitkan pula dengan pembaruan sebelumnya. Facebook tak cuma membatasi kemunculan domain situs yang menjadi sumber clickbait, tapi juga fanpage yang menyebarkannya. Jika sekali-dua kali sebuah fanpage menyebarkan sebuah artikel clickbait, mungkin (mungkin, loh ya) Facebook masih melakukan toleransi. Tapi jika terus menerus menyebarkan hal yang sama, maka Facebook akan meminimalisir kemunculan fanpage dan domain sumbernya dari news feed. Mirip-mirip Google Sandbox.

Metode Facebook Menghalau Clickbait

Yang perlu dipahami kemudian bagi publisher adalah tentang bagaimana Facebook melakukan identifikasi atas sebuah judul artikel yang mengandung clickbait. Dalam News Room-nya itu, Facebook memberikan penjelasan:

  1. Jika sebuah judul artikel menahan informasi yang seharusnya disampaikan, maka judul artikel ini tergolong sebagai clickbait.
  2. Jika judul artikel membuat makna yang menyimpang dari informasi yang sebenarnya, alias mengecoh pembaca, maka judul artikel ini tergolong sebagai clickbait.

Untuk lebih jelasnya, Facebook memberi contoh: "Kamu Tak Akan Percaya Siapa Yang Terpeleset dan Jatuh di Karpet Merah..." Judul semacam ini berupaya menahan informasi tentang 'apa yang terjadi?' dan 'siapa yang terpeleset?'. Kemudian contoh selanjutnya adalah "Buah Apel Sangat Buruk Untuk Kamu". Judul tersebut sangat mengecoh pembaca karena apa yang dimaksud dengan buah apel disini? Apel yang beracun 'kah? Atau apa? Dan tim Facebook menentukan kriteria judul artikel yang mengandung clickbait dari kedua hal itu.

Menghindari Clickbait

Untuk pembaca, telah disediakan pilihan apakah mau melakukan klik atau tidak. Judul artikel yang semacam diatas sudah dipastikan tergolong clickbait. Dan jika menemukan judul lain yang setipe dengan itu pun, seperti tidak informatif dan informasi yang disampaikan menyimpang, waspadalah bahwa itu merupakan clickbait juga. Dan tentu saja sebaiknya tak usah di klik. Karena dalam clickbait, kalau beruntung kita memang bakal disuguhi konten yang bagus, tapi kalau apes, maka perangkat kita bakal disusupi malware yang merugikan. Jadi, kalau saya lebih memilih untuk tidak melakukan klik terhadap judul artikel yang mengandung clickbait, dan jika ada waktu saya akan report ke Facebook untuk ditanggapi.

Kemudian untuk publisher, Facebook memang bukan segalanya dalam menyumbang traffic situs. Tapi kalau domain dan fanpage kita tercatat sebagai pelaku clickbait, saya cuma khawatir ke depannya bakal terkena imbas negatif. Untuk itu, buat yang khawatir seperti saya, sebaiknya judul artikel yang mengandung clickbait layak dihindari. Caranya?

Yang perlu dipahami sejak awal adalah dalam membuat konten, secara tidak langsung kita semua adalah jurnalis. Jadi untuk membuat judulnya pun mesti memenuhi kaidah jurnalistik. Kaidah yang dimaksud adalah untuk membuat judul yang baik harus memenuhi unsur informatif. Dalam judul itu harus sudah memuat informasi yang dibutuhkan oleh pembaca. Misalnya contoh judul-judul clickbait diatas seharusnya seperti ini:

  1. Clickbait = Pria Ini Main Pokemon GO Sambil Menyetir, Yang Terjadi Selanjutnya Membuat Terkejut | Bukan clickbait = Akibat Sopirnya Bermain Pokemon Go, Sebuah Minibus Menabrak Warung
  2. Clickbait = Wanita Ini Memakai Kosmetik Alami, Lihat Yang Terjadi Pada Wajahnya Kemudian | Bukan clickbait = Kulit Wanita Ini Mulus Karena Pakai Masker Bengkoang
  3. Clickbait = Astaghfirullah! Inilah Daftar Keburukan Koruptor, Nomor 5 Nggak Banget | Bukan clickbait = Sepuluh Dampak Buruk Korupsi
  4. Clickbait = Kamu Tak Akan Percaya Siapa Yang Terpeleset dan Jatuh di Karpet Merah... | Bukan Clickbait = Pakai Gaun Panjang, Madonna Terpeleset di Red Carpet Grammy Awards
  5. Clickbait = Buah Apel Sangat Buruk Untuk Kamu | Bukan clickbait = BPOM: Hati-Hati Dampak Buruk Apel Berpengawet


Penutup

Pada akhirnya semuanya dikembalikan kepada pembaca dan publisher atau pembuat konten itu sendiri. Untuk pembaca kita memang sudah diberi kesempatan untuk mengetahui bahwa sebuah judul artikel mengandung clickbait, dan sebagaimana umumnya, isi konten dari clickbait biasanya hanya mengejar klik tanpa memperhatikan unsur kualitas konten. Jadi kalau masih terpancing dengan judul-judul yang mengandung clickbait, berarti bukan salah siapa-siapa kecuali kita sendiri.

Sementara itu, untuk publisher atau pembuat konten, membuat artikel dengan judul clickbait memang sering mengundang klik dan kunjungan yang lumayan banyak ke situs kita. Tapi jika imbasnya kurang bagus, buat apa dilanjutkan? Jika pun tanpa algoritma Facebook semacam ini, sebenarnya pegiat clickbait pun, menurut saya, sudah kehilangan integritas sebagai pembuat konten. Mereka tak punya kepercayaan diri bahwa artikelnya bakal dibaca oleh orang lain. Dan paling parahnya mereka punya niat jahat untuk menyebarkan malware merugikan dibalik judul clickbait itu.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

1 comments so far

Haven't started playing Pokemon Go? Download It Now (Available for Android and iOS)


EmoticonEmoticon