Selasa, 23 Agustus 2016

Perjalanan Yang Sehat Dan Nyaman Picu Kebahagiaan

Dale Carnegie bilang kebahagiaan kadang bukan terletak pada tujuan, tapi perjalanan mencapai tujuan tersebut. Bunga bakung di tepian sungai, pohon dan rerumputan di tepian jalan, serta aneka ragam penjaja makanan yang luput dipandang karena kita fokus pada tujuan. Selalu berpatokan pada tujuan atau hasil akhir sering mengabaikan bahwa ada proses yang mesti dijalani, yakni perjalanan itu sendiri. Maka nikmati perjalanannya, nikmati apa yang ada di sepanjang jalan tersebut. Itulah inti kebahagiaan yang sesungguhnya. Nikmati prosesnya, bukan hasil akhir, katanya.


Tapi Carnegie 'kan hidup di jaman yang berbeda dengan kita saat ini? Ia hidup saat polusi belum menjadi momok menakutkan di jalan raya. Ia berkendara saat jalan raya masih ditumbuhi pepohonan rindang. Pokoknya situasi jalanan dimana Carnegie hidup, mungkin, masih menyenangkan. Dan kita boleh bilang hidup saat ini tak sesuai dengan motivasinya Mario Teguh Dale Carnegie. Tapi benarkah pendapat demikian?

Saya punya cerita. Sekitar tiga bulan silam, saya pernah menemani seorang kawan menempuh perjalanan delapan jam pulang pergi Indramayu-Bandung. Mobil yang kami kendarai berperforma bagus, karena baru diservis. Ia dengan lincah bermanuver di jalanan naik-turun dan berkelok di sekitaran Cadas Pangeran. Namun sayangnya, beberapa kali ada banyak bau yang tidak enak berasal dari dasbor. Bau ini muncul ketika mobil kami diasapi kendaraan di depan. Untung saja, perjalanan kami ke Bandung tidak disalip oleh truk pengangkut ternak. Tapi bau demi bau yang mengendap di mobil kami membuat perjalanan empat jam ke Bandung menjadi mimpi yang menyeramkan.


Sesampainya di Bandung, mobil itu diperiksakan ke tempat servis untuk dicek kondisi mesinnya. Apakah ada masalah? Mesinnya ternyata baik-baik saja, bahkan cukup prima. Masalahnya ternyata ada pada filter udara di kabin yang luput diganti. Ya, filter alias saringan udara yang berada di bawah dasbor mobil ternyata tidak berfungsi normal. Bentuknya kecil, tapi ketika rusak sangat berpotensi membahayakan pengendara dan seluruh penumpangnya.

Kerusakan filter di mobil sangat berbahaya bagi pengendara. Coba sebutkan ada berapa jenis kandungan dari udara yang ada di jalan raya? Saya bantu menyebutkannya. Udara bebas di jalan raya setidaknya mengandung virus, bakteri, jamur, dan gas monoksida. Apakah itu tidak cukup berbahaya bagi anda? Tidak? Atau setidaknya bakal membuat penciuman anda terganggu selama perjalanan? Yang paling sering terjadi, partikel yang terkandung dalam udara bebas itu bisa membuat kita stres selama perjalanan. Stres, sebagaimana kita ketahui sering menjadi biang dari segala macam penyakit.

Anda tentu masih ingat tragedi yang merenggut 12 nyawa (Detik.com) pemudik di jalan tol Pejagan-Pemalang? Di dekat pintu keluar tol Brebes Timur terjadi macet parah yang menyebabkan banyak nyawa melayang. Tanpa bermaksud mengusik duka para keluarga korban, saya hanya ingin mengutip kembali sebab meninggalnya para korban itu. Sebab yang sering dikemukakan selain kesiapan infrastruktur adalah faktor kelelahan. Para pemudik telah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta menuju jalur tol tersebut.


Dari jarak tempuh itu pun sudah cukup menguras tenaga, ditambah pula macet yang berjam-jam melanda. Lelah dan stres pada akhirnya menerpa. Mengapa stres selalu disebut-sebut? Ya karena memang harapan cepat sampai berbanding terbalik dengan kondisi perjalanan. Harapan bertemu sanak saudara secepatnya, dengan ekspektasi jalur tol yang baru, ternyata malah menemui kenyataan macet horor. Akibatnya paduan fisik dan psikis yang lelah memicu kondisi tubuh yang tidak sehat. Balik lagi ke teori Dale Carnegie? Entahlah, saya hanya kembali mengingat perjalanan ke Bandung dengan filter yang bocor itu.

Sebelum filter di kabin diganti, untuk bernafas saja kami harus membuka jendela mobil, yang berimplikasi debu dan sampah masuk ke dalam. Boro-boro bisa menikmati perjalanan, karena dalam waktu empat jam itu, kalau tidak menutup hidung atas bau yang tiba-tiba menyengat, maka kedua tangan ini kami gunakan untuk menutup mata karena debu dari jendela. Maka darimana kami bisa menikmati saran dari Carnegie?

Maka kesimpulan saya, untuk perjalanan yang sehat dan nyaman, selain cek kondisi dan tekanan angin di keempat ban dan cadangannya, performa mesin, selain tentu saja isi dompet, jangan lupa juga untuk melihat kondisi filter udara yang ada di kabin ini. Siapa tahu kondisi dari filter ini kurang bagus. Para teknisi menyarankan agar filter ini diganti setiap jarak tempuh sekitar 15.000 km dan kelipatannya. Lalu seperti apa filter yang baik?

Seperti telah disinggung diatas, dalam udara bebas setidaknya terkandung beragam partikel mikroskopik yang berbahaya. Sebuah penelitian dan juga di beberapa blog menyebutkan bahwa paparan udara yang berpolusi sangat berbahaya bagi kesehatan pernafasan, dan bakal berpengaruh terhadap psikis pengendara dan tentu saja penumpang yang dibawanya. Partikel tersebut secara umum terdiri atas partikel hidup (virus, bakteri, penyebab alergi), partikel gas (karbonmonoksida), dan partikel mikroskopik (debu). Ketiga jenis partikel ini semestinya bisa ditangkal hanya dengan satu filter yang memang dibuat khusus untuk menangkal tiga jenis partikel tersebut. Salah satu contohnya adalah Filter Sakura.

Filter Sakura
filter sakura
Filter Sakura dibuat dengan Triple layer filtration yang berarti ada tiga tingkatan penyaringan. Yang pertama disebut dengan Bio-Guard Layer yang berfungsi menyaring partikel hidup seperti virus dan bakteri juga penyebab alergi. Lapisan kedua disebut Carbon layer, yang bertugas menyerap partikel gas berbahaya yang dikandung oleh udara. Dan ketiga, Filter Sakura memiliki Protective Layer yang bekerja untuk mencegah partikel mikroskopik yang memiliki kemungkinan lolos dari dua saringan sebelumnya. Dan pada ujungnya udara yang kita nikmati bakal bersih dan bebas dari partikel yang berbahaya bagi pernafasan.

filter sakura

filter sakura

Meski sepertinya eksklusif, Filter Sakura yang diberi nama Sakura Bio-Guard Cabin Air Filter ini bisa dengan mudah didapatkan dimana-mana, salah satunya di Tokopedia secara daring. Harganya pun relatif terjangkau, yakni mulai dari Rp.100.000-an. Jika dihitung-hitung, maka per 1 km anda menghabiskan biaya hanya Rp.6,66. Murah? Sekali lagi itu relatif. Tergantung dari kepedulian kita terhadap kondisi udara di kabin mobil. Jika kita ingin melindungi diri sendiri, serta para penumpang yang notabene adalah keluarga sendiri, kerabat dekat, dan teman-teman, maka harga sebesar itu tak perlu dirisaukan.

Karena kondisi kabin yang nyaman, yang bermula dari kondisi udara yang bersih, bakal membuat perjalanan jadi hal yang menyenangkan. Ini artinya kita bisa kembali lagi pada nasehat Dale Carnegie, bahwa letak kebahagiaan ada pada bagaimana kita menikmati perjalanan itu. Perjalanan yang menyenangkan membuat papan reklame ibarat pohon rindang, tumpukan sampah ibarat rerumputan, dan kubangan air ibarat danau yang ditingkahi katak dan burung bangau. Ini butuh perpektif positif dalam perjalanan. Dan itu hanya bisa dihasilkan dengan perjalanan yang sehat dan nyaman.

Sumber gambar: Pixabay.com, Flickr.com

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

4 comments

Ga tahan bnget sama asap ato bau yg menyengat pas di dalam mobil/kendaraan apapun. Soalnya bisa menyebabkan mabuk darat juga nih. hee

iya, mabuk darat dipicu dari 'aroma' kendaraan yang dihirup hidung dan menyebabkan otak mengalami gangguan, sehingga pusing dan mual.


EmoticonEmoticon