25 Mei 2017

3 Fakta Pengguna Media Sosial Juga Membantu Terorisme

Ledakan bom terjadi di Kampung Melayu, Jakarta, pada Rabu (24/5) malam. Menurut pihak kepolisian, sebagaimana dikutip dari beberapa laman berita, ada 15 orang yang menjadi korban. Lima diantaranya meninggal dunia, dan sepuluh lainnya kini dirawat di rumah sakit.

Sampai saat ini, belum ada konfirmasi soal siapa yang berada dibalik bom yang diduga merupakan 'bom bunuh diri' di Kampung Melayu itu. Namun yang jelas, pelakunya adalah teroris. Sebab dalam Kamus Bahasa Indonesia (versi Kemendikbud) disebutkan kalau usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan disebut teror. Dan pelakunya disebut teroris.

bom kampung melayu

Teroris senantiasa bertujuan menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman, apapun caranya. Dan terdistribusi secara masif pesan-pesan ketakutan itu merupakan salah satu tujuan dari aktivitas terorisme. Dan dengan sadar maupun tidak sadar, kita pun ikut serta dalam kegiatan mendistribusikan kegiatan terorisme tersebut. Benarkah?

Ingat lagi kata kunci dari kegiatan terorisme, yakni takut, ngeri, dan kejam. Maka siapapun yang ikut serta menyebarkan pesan-pesan yang mengandung tiga kata kunci itu, secara tak langsung ia pun turut menyebarkan pesan-pesan terorisme. Dan di era media sosial ini, partisipasi penyebaran pun semakin bertambah masif pula. Mari kita simak beberapa alasan mengapa semakin banyak orang yang ikut serta menyebarkan terorisme.

bom kampung melayu
Aparat kepolisian sedang melakukan olah TKP / Gambar: BBC.com/indonesia

1. Menyebarkan Foto Korban dan Pelaku Yang Mengandung Unsur Sadisme

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akan melayangkan sanksi bagi televisi yang menayangkan adegan sadisme. Bahkan merahnya darah pun mesti disensor untuk mencegah kondisi traumatik bagi sebagian orang.

Untuk soal liputan televisi, media-media Indonesia memang mesti meniru media-media besar di Amerika Serikat. Sebab ketika ada kejadian terorisme, kecelakaan, dan bencana alam, tak ada tayangan darah apalagi mayat bergelimpangan. Yang ada hanyalah kesdihan, responsifnya aparat terkait dalam menangani kejadian, dan birokrat yang segera mengambil langkah-langkah tertentu. Sehingga di akhir tayangan, yang muncul adalah rasa simpati, kepedulian, dan semangat untuk segera melanjutkan jatah usia yang tersisa.

Televisi dan media di Indonesia pun pelan tapi pasti mengikuti teknik pemberitaan yang disebut oleh Jacob Oetama sebagai insight journalism itu. Namun di saat yang sama, ketika media-media melakukan sensor, justru muncul jurnalisme warga yang tidak bertanggung jawab. Sebab mereka dengan gampangnya mengunggah foto-foto sadisme di media sosial.

Ketika simpati dan kepedulian digaungkan oleh media massa arus utama, namun ketakutan dan kengerian sebagai bagian dari terorisme malah disebar oleh oknum pengguna gadget lewat media sosialnya. Mereka dengan bangganya menyebarkan foto-foto jasad dari korban maupun pelaku yang mengandung sadisme. Tanpa sadar, ketakutan dan kengerian yang menjadi bagian dari terorisme, telah disebar secara masif.

Selain itu, tidak menyebarkan konten sadisme dari jasad tersebut adalah merupakan bagian dari menghormati jasad manusia.

2. Meneruskan Pesan Berantai yang Berpotensi Hoax

"Hati-hati bom akan kembali meledak di tempat X," dan pesan-pesan sejenis mungkin akan membombardir gadget kita. Untuk itu segeralah berhenti di kotak masuk kita dan jangan biarkan orang lain ikut panik. Sebab yang berhak untuk menginformasikan adalah pihak kepolisian, bukan teman kita apalagi nomor yang sama sekali asing di kontak telepon kita.

Pesan berantai ini sangat sering terjadi setelah sebuah tindakan terorisme terjadi. Dan bisa saja tersebar saat tidak terjadi apa-apa. Tujuannya ya cuma satu, menciptakan ketakutan sebagaimana tujuan terorisme. Pesan tersebut bisa saja terjadi, namun sepanjang sejarahnya, pesan-pesan berantai semacam itu hanya berupa ancaman kosong belaka. Jika pun benar, maka aparat kepolisian akan selalu melakukan langkah-langkah terkait.

3. Menyebarkan Teori Konspirasi

Teori konspirasi terkait sebuah tindakan terorisme memang sangat marak dicetuskan oleh seseorang. Padahal dia bukan pengamat terorisme, bukan pula pakar di bidang penanggulangan terorisme, namun hanya punya gadget dan sedikit informasi perihal kejadian teror yang berlangsung. Dan di media sosialnya ia tulis panjang lebar mengenai persoalan yang terjadi dengan menggunakan unsur cocoklogi.

Punya pemikiran tentang terorisme boleh-boleh saja. Namun menyebarkan hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik lain, bahkan menjurus pada fitnah kepada kelompok tertentu sangat tidak disarankan. Sebab itulah juga yang menjadi tujuan dari terorisme.

Maka ada baiknya untuk menjaga diri, baik secara fisik di lingkungan masyarakat, serta menjaga lisan dan tulisan agar tidak mudah mengumbar dan ikut menyebarkan teori konspirasi yang tidak jelas kebenarannya. Berikan kesempatan agar pihak kepolisian melakukan tugasnya, dan kritisi kinerja mereka secara berimbang.

Penutup

Aksi terorisme memang dilakukan secara fisik. Tapi secara psikis, aksi ini bisa menyasar secara global. Sebab pesan-pesan berupa ketakutan dan kecemasan yang menyertainya bisa didistribusikan oleh siapapun, terutama di jaman digital ini. Maka hentikanlah di tangan kita sebisa mungkin konten-konten yang turut menyebarkan bagian dari pesan-pesan terorisme. Ikuti informasi dari sumber-sumber resmi secara kritis, tetap peduli kepada sesama, dan jaga keutuhan bangsa.

#KamiTidakTakut #PrayForIndonesia

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

2 comments

Bahayanya sosmed :( seperti telegram yang katanya mau di tutup gara" ini :(

Betul mas, kudu ekstra hati-hati di medsos ini mah...


EmoticonEmoticon