4 Agustus 2017

Waspada dan Bijaklah Menggunakan Aplikasi Testony

Semakin tinggi pohon semakin kencang angin bertiup. Begitulah pepatah yang saat ini berlaku pada Testony. Aplikasi yang dibuat oleh  perusahaan pengembang aplikasi asal Jerman ini pada mulanya dianggap biasa saja. Tapi setelah Testony viral dan menghiasi beranda Facebook setiap harinya, banyak pihak mulai menengok tebak-tebakan random ini.

Seorang pendeta Nigeria menyebut Testony sebagai aplikasi setan, setelah salah satu sesi pertanyaannya menyinggung ajaran Kristen yang mapan. Mungkin tinggal menunggu waktu pula lembaga keagamaan di Indonesia bersikap yang sama. Pasalnya di beberapa status media sosial dan forum kajian pun sudah dibahas masalah aplikasi yang diindikasikan seperti ramalan ini.


Diluar konteks isu keagamaan, memang ada yang memanfaatkan aplikasi ini untuk menyebarkan konten negatif. Seperti yang terjadi dengan Testony yang menggunakan Bahasa Lombok, NTB. Pertanyaan Testony dengan Bahasa lokal Bali pun tak ketinggalan mengunggah hal yang sama.

Ya, viralnya Testony di Indonesia pun sebab mendukung Bahasa Indonesia, sehingga penggunaannya terbilang mudah. Ditambah pula, banyak pengguna Testony yang iseng-iseng membuat pertanyaannya sendiri. Loh, memangnya Testony bisa dimodifikasi?

Oh iya, sebelumnya memang ada Nametest yang mendahului viral sebelum Testony. Keduanya berasal dari Socialsweethearts, sebuah perusahaan pengembang aplikasi yang berbasis di Köln, Jerman. Nametest katanya berbasiskan AI, oleh karenanya tidak ada tombol untuk membuat tes sendiri. Itu perbedaannya dengan Testony.

Beberapa kuis yang ada di Testony. via id.testony.com


Membuat Pertanyaan Sendiri di Testony

Di setiap tes yang disodorkan Testony, selalu dibuat kalimat kecil 'Buat tes Anda sendiri' dengan simbol '+' yang menyertainya. Kalau mengunjungi beranda situsnya, tentu 'Buat tes Anda sendiri' ini disodorkan ke dalam tombol biru ala Facebook yang cukup besar.

Saya sudah pernah mencoba membuat satu tes, yakni 'Kelakuan Kamu Kalau Di Facebook'. Isinya memang random, atau lebih tepatnya ngawur dan ya buat lucu-lucuan saja. Sebab memang mudah membuat tes di Testony ini. Setelah tombol 'Buat tes Anda sendiri' itu diklik, kita diarahkan ke pop up login Facebook untuk memasang profil kita sebagai pembuat tes.

Contoh kuis yang saya buat di Testony. via id.testony.com

Untuk membuat tes tadi, sama sekali tidak dibutuhkan keterampilan coding. Bahkan sebagai pengguna Facebook awam pun bakal familiar dengan perintah dalam Testony, sebab tampilan antar muka aplikasi ini mirip dengan Facebook.

Setelah login, nanti ada 'Pilihlah tes seperti apa yang ingin kamu buat'. Ada dua jenis tes. Tes yang pertama merupakan tes dengan hasil berupa teks dan gambar. Di sini, kita akan diminta untuk mengunggah gambar dan beberapa kalimat hasil tes. Berapa banyak? Rata-rata enam poin saja. Maka siapkan enam gambar dan enam kata-kata untuk membuat hasil tes.

Tes yang kedua merupakan tes dengan hasil berupa gambar. Disini pembuat tes hanya perlu menyiapkan gambar dengan judulnya saja. Rata-rata enam buah juga. Tapi bisa lebih sesuai kebutuhan. Kalau dirasa sudah selesai, tekan 'Atur kuis online'. Maka tes yang tadi sudah dibuat, akan terpublikasi dan bisa digunakan oleh orang lain.

Penutup

Viralnya Testony disebabkan oleh tes atau kuis yang membumi. Orang-orang bisa memakai bahasa daerah untuk membuat tesnya sendiri. Kemudian tes itu muncul di beranda Facebook, dan banyak pula yang mencobanya. Salah satu bukti viralnya, fanpage Facebook Testony Bahasa Indonesia mendapatkan 1,2 juta like, cukup jauh melampaui fanpage Testony sendiri yang berada di angka 900 ribuan.

Kalau banyak konten negatif di Testony, siapa yang salah? Agaknya Testony memang bisa disalahkan sebab tidak melakukan filter terhadap setiap tes yang dibuat. Tapi, setiap tes yang dibuat akan memberikan kredit kepada akun Facebook pembuatnya. Dan ini masuk ke dalam sanggahan bahwa setiap tes yang dibuat menjadi tanggung jawab pembuatnya. Testony semacam melepas tangannya ketika ada konten negatif dalam platformnya. Mereka hanya menyediakan tombol 'Laporkan sebagai tes yang tidak pantas'.

Oleh karenanya, daripada kita yang ditangkap oleh aparat karena melanggar UU ITE, maka bijaklah ketika menggunakan Testony. Buatlah tes yang betul-betul tidak mengandung konten negatif. Dan pakailah Testony hanya ketika perlu saja, sebab sudah banyak yang mengeluh karena beranda Facebook-nya diserbu oleh konten-konten dari Testony.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

2 comments

wah baru tau kalau ternyata bisa membuat sendiri... makanya kok beberapa teman ada yang share testony pakai bahasa daerah....

Iya mbak Retno, banyak yang salah paham juga soal Testony ini.


EmoticonEmoticon