20 November 2016

Inilah Rasanya Jadi Admin Situs Hater


Semenjak pemilihan presiden tahun 2014 silam, rasa-rasanya sejak saat itu saja negeri ini terbelah menjadi dua. Jika kamu tak berwarna putih, maka kamu hitam. Tak ada ruang abu-abu yang boleh dikata mewakili sikap netral. Irisannya benar-benar sangat tajam, karena tak menyisakan remah-remah yang memungkinkan seseorang punya sikap dan pandangan lain.

Kalau seseorang menegur kesalahan sikap si hitam, maka oleh kelompok si hitam, seseorang itu pastilah dituduh punya pandangan memihak kelompok putih. Begitu pun sebaliknya. Sebenarnya sangat tidak nyaman berada dalam kondisi semacam ini. Apalagi ketika kita memasuki dunia internet, ditambah kala mengakses situs jejaring sosial. Kondisi ini sangat bertambah-tambah parahnya.

Inilah rasanya jadi admin situs hater

Sepengamatan saya, kondisi ini diperuncing oleh hadirnya sosok-sosok pengelola situs hater. Ya, situs yang mengabarkan kebencian pada salah satu pihak. Jika sebuah situs mengabarkan berita-berita buruk kelompok si hitam, maka sudah dipastikan ia adalah bagian dari si putih. Nah, seperti sudah dibilang, begitu pun sebaliknya.

Tapi benarkah demikian adanya? Ternyata tidak begitu. Ada beberapa fakta dan pendapat lain yang sebenarnya bisa menjadi alasan mengapa situs-situs semacam ini muncul. Berikut ini saya paparkan sebuah dialog imajiner antara saya dengan pengelola situs hater.

Berawal dari Keberpihakan

"Saya memang nggak suka sama kelompok tertentu, makanya situs ini hadir," ujar sang admin.

Saya menyergah, tapi dalam hati, bukankah ini bertentangan dengan kaidah jurnalistik?

"Situs saya bukan situs media massa. Saya paham itu. Karena untuk mendirikan media massa, setidaknya mesti ada badan hukum yang menaunginya," sepertinya ia sudah tahu apa yang ada di kepala saya.

Kebanyakan situs hater, memang tak punya wartawan. Ya, jika wartawan untuk melakukan liputan jurnalistik saja tak punya, apalagi badan hukum. Ia hanya dikelola oleh satu-dua orang saja dengan cara mencari berita di situs-situs berita arus-utama, kemudian mengubah judul maupun lead beritanya agar cenderung memihak kepada salah satu kubu.

Dengan cara begitu, orang-orang yang berada di kubu yang dibela, akan dengan senang hati membagikan secara terus-menerus artikel tersebut di media sosial. Orang yang berseberangan pun, jangan salah, berandil besar untuk sama-sama meningkatkan tenarnya situs semacam ini. Silakan baca 'Cara Meningkatkan Jangkauan dalam Algoritma Facebook Terbaru'.

"Mas, orang-orang itu sebenarnya bukan sedang mencari kebenaran. Mereka cuma mencari siapa yang memihak mereka," lanjut sang admin.

Ada benarnya juga. Ini persis para korban hoax, yang sebenarnya mereka menginginkan kejadian di informasi hoax itu terjadi. Entah mereka terkena pengaruh film, buku, atau apapun saja yang mereka yakin bahwa kejadian hoax itu nyata. Maka jangan heran, ada banyak orang yang tersinggung ketika informasi yang dengan bangganya mereka bagikan di media sosial itu kita bilang 'hoax'. Persis pula ketika kita menyanggah informasi dari situs hater.

Motivasi

"Mereka adalah ladang traffic," kali ini sang admin tersenyum. Ia seperti memenangkan sesuatu.

Meski pengguna media sosial adalah orang-orang yang pelit kuota, tapi ketika ada ratusan ribu orang yang membagikan tautan tersebut, daya jangkau tautan tersebut bisa belasan kali lipat dari yang dibayangkan. Kalau saja ada 50.000 share dari pengguna Facebook, maka daya jangkau tautan tersebut bisa mencapai 500.000 jangkauan. Dari angka itu, peluang trafficnya memungkinkan untuk mendekati angka 250.000. Itu per artikel. Bagaimana jika ada 10 artikel dalam sehari?

Saya kemudian iseng menanyakan berapa earning Adsense dari situs-situs tersebut? Sang admin hanya tersenyum. Ia ingin menjawab, tapi ada upaya menahan diri agar ia tak ingin terlihat bahwa motivasinya membuat situs adalah karena uang. Tapi kalau mau membandingkan, kita bisa menengok kembali artikel saya yang berjudul 'Berburu Dollar dari VivaLog'. Saat artikel saya menembus 50.000 kunjungan, earning Adsense langsung tembus di angka USD 17. Silakan hitung jika lebih dari itu.

Tapi Benarkah Keberpihakan?

Internet adalah dunia yang memungkinkan anonymous, tanpa identitas. Artinya kita pun bisa menjadi banyak orang dalam satu waktu. Kita bisa mengubah identitas diri kita menjadi bukan diri kita. Artinya apa? Ya artinya dalam kondisi seperti disebutkan diatas, kita pun bisa menjadi dua orang yang saling bersilang pendapat dalam waktu yang sama. Satu di posisi memihak si hitam, dan satu lagi memihak di posisi si putih.

Jika begini, maka sang admin pun sebenarnya bisa menjelma menjadi pengelola dua situs atau lebih untuk memuat artikel yang memihak dua kubu sekaligus. Maka bisa dibayangkan berapa traffic yang didapatkan jika satu situs saja dalam satu hari bisa mendapatkan 50.000 lebih kunjungan unik.

"Ah, nggak begitu kog mas. Saya nggak sudi memihak kubu lawan," jawab sang admin.

"Tapi apakah kondisi itu memungkinkan?" tanya saya.

Lagi-lagi sang admin hanya tersenyum. Tapi ini bukanlah senyum kemenangan seperti sebelumnya. Ini hanyalah senyum yang menyiratkan sebuah tanda bahwa saya terlalu banyak bicara. Tapi ya namanya juga dialog imajiner, terserah saya untuk memilih apakah dialog ini saya hentikan atau saya teruskan.

Dan saya lebih memilih untuk menghentikannya. Bukan apa-apa, saya khawatir dengan artikel ini, saya justru menciptakan kebencian terhadap kebencian yang sudah ada. Doubled the hate. Dan itu jahat, Rangga. #eh...

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

4 comments

Ya bang doel, kondisi ini menciptakan pasar bagi ladang trafik.. saya yakin sebenarnya ini memang motif ekonomis didalamnya.. klw memang murni itu adalah perjuangan mengapa iklan adsensenya bertebaran disana sini.

Kadang2 juga apakah itu tidak dipikirkan dampaknya secara meluas jika tidak diberikan informasi yang berimbang? Tapi saya meyakini masyarakat kita sekarang sudah bisa menentukan apakah situs itu berpihak atau tidak. Pertaruhannya adalah kita para blogger bisa saja suatu saat nanti kena imbas dari stigma negatif situs2 para haters/buzzer.

Betul pak, ngomongnya ideologis, tapi ideologi apa yang diperjuangkan?
Apalagi belakangan diketahui ada admin situs begituan yang juga mengelola situs judi.
Kadang-kadang blogger2 juga yang kena imbas negatif. Mudah-mudahan kita sama2 bisa mengedukasi netizen yang belum paham.

Terima kasih sudah berkunjung. Blog sampean apik tenan pak :)

iya mas.. saya juga hampir terseret kearah yang sama.. haha.. di blog yang satunya.. tapi untung sadar dan tidak mau jadi provokator.. ya kadang-kadang menulis tentang berita politik yang seperti itu tapi harus berimbang dan ada perbandingan..

Haha godaannya gede emang pak.. kalau masih punya naluri politik yang terjebak sama emosi mendingan nggak usah ikut-ikutan ya pak... serem hihi

Silakan tinggalkan komentar ya, tapi jangan pakai anonim biar bisa dikunjungi balik dan jangan nitip backlink karena bakal terdeteksi spam by default... Thanks.
EmoticonEmoticon