14 Desember 2016

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Migrasi Ke 4G


Penyedia layanan telekomunikasi sedang ramaI-ramai menawarkan migrasi kartu SIM dari 3G ke 4G. Meski belum dibarengi dengan cakupan layanan yang cukup memadai, tawaran migrasi ini cukup menggiurkan. Selain bonus kuota internet yang besar, layanan 4G pun diklaim jauh lebih cepat dibanding dengan pendahulunya, 3G. Namun belakangan, muncul pula 4G LTE. Nah, apakah 4G dan LTE ini?

Sebelumnya sudah muncul teknologi jaringan 3G yang merupakan suksesor dari 2G. Teknologi yang dipakai oleh 2G tersebut belum secanggih sekarang. Smartphone yang mengadopsi 2G dalam jaringannya, hanya mampu menelepon, pesan teks, dan mengirim gambar dengan kuota data kecil yang disebut MMS. Kemudian 3G hadir dengan melakukan revolusi cukup besar bagi jaringan 2G.

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Migrasi Ke 4G

Kehadiran 3G pun saat itu sudah cukup menggantikan jaringan 2G yang telah cukup mapan dipakai sejak 1992. Jaringan 2G yang menggantikan kemapanan jaringan 1G sejak 1981 pun harus ditinggalkan, dan perangkat yang mengadopsinya mesti dipensiunkan. Pasalnya, jaringan 3G benar-benar menghadirkan apa yang tidak terbayangkan sebelumnya oleh konsumen.

Jaringan 3G mampu menghantarkan data yang lebih besar dengan waktu yang lebih cepat, sehingga pengguna smartphone bisa membuka halaman HTML standar, video, musik, dan tentu saja MMS tereliminasi keberadaannya karena banyaknya aplikasi chat yang sudah menggantikannya dengan jauh lebih baik.

Namun 3G pun masih dirasakan belum memenuhi ekspektasi kecepatan jaringan nirkabel. Sampai pada akhirnya, bagian dari badan PBB yang menangani informasi dan komunikasi, yakni International Telecommunication Union - Radiocommunication (ITU-R), melakukan standarisasi dengan sebutan International Mobile Telecommunications-Advanced (IMT-A) mencetuskan standar baru untuk jaringan telekomunikasi penerus 3G.

Pada mulanya, ada dua kandidat yang cukup memenuhi syarat sebagai penerus 3G, yakni WiMAX yang telah digunakan di Korea sejak 2007, dan Long Term Evolution (LTE) yang digunakan di beberapa negara Eropa sejak 2009. Keduanya punya standar masing-masing untuk dipakai dalam jaringan 4G.

Standar IMT-A sendiri mensyaratkan puncak kecepatan jaringan 4G bisa mencapai 100 Mbps untuk komunikasi yang bergerak seperti di mobil dan kereta. Sementara itu, batas yang mesti dicapai untuk pengguna dengan mobilitas lambat bisa mencapai 1 Gbps. Dan rilisan pertama baik WiMAX dan LTE sebenarnya belum memenuhi syarat untuk standar tersebut. Namun oleh penyedia layanan, keduanya sudah mendapat stempel 4G. Disinilah kebingungan akan jaringan 4G ini dimulai.

Sebelum kebingungan tersebut berlanjut, marilah kita simak satu-persatu runutannya sebelum kita memindahkan perangkat kita ke perangkat yang mendukung 4g LTE.

1. Kecepatan

Pada akhirnya, perang klaim pun dimulai. Provider yang mulai mengklaim jaringannya mendukung 4G akan berkilah apabila kecepatan 4G yang diperoleh pengguna tidak mencapai batas yang diinginkan, sebab koneksi tergantung dari lokasi dan perangkat yang digunakan. Betul juga sih. Sejak jaman Fred Flintstone juga begitu. Tapi 4G pun ada yang tak bisa mencapai kecepatan maksimum sesuai standar, namun 4G LTE mampu mencapainya.

Cobalah sekali-kali tes kecepatan jaringan 4G kamu di speedtest.net atau yang lainnya, lihat kecepatan unggah dan unduhnya sebesar apa. Jika kecepatannya sama seperti 3G, maka lihat faktor yang mempengaruhinya, seperti cakupan jaringan provider seluler, maupun kehandalan perangkat kita.

2. Perangkat

Ada dua prasyarat untuk mendapatkan kecepatan 4G, yakni sistem jaringan yang mendukung dan perangkat yang mampu menangkap dan menghantarkan kembali jaringan tersebut, katakanlah smartphone 4G-supported. Meski begitu, tidak sepenuhnya ketika kita membeli sebuah smartphone dengan label 4G LTE supported lantas bisa mendapatkan kecepatan sesuai standar. Ibaratnya kita membeli mobil yang mampu menembus kecepatan 300 KMpH, belum tentu ketika di jalan bisa menembus kecepatan tersebut. Ada banyak pengguna jalan lain, juga rambu lalu lintas, yang tidak memungkinkan kita untuk mengendarai mobil secepat itu.

Jaringan komunikasi ibarat jalan raya. Ketika mobil yang kita kendarai mampu menembus kecepatan suara, ia bahkan tak akan bisa jalan ketika lewat di Jakarta pada jam-jam sibuk. Begitu pun dengan jaringan. Bahkan ketika smartphone kita bagus, mendukung 4G LTE kualitas wahid, tapi ketika dalam daerah itu pemakainya sedang penuh, ya kecepatan jaringannya boleh jadi tetap saja lambat.

3. Biaya

Smartphone 4G memang lebih mahal di banding 3G. Selain pengubahan sumber daya internal perangkat, pemerintah Indonesia sudah menerapkan TKDN (Tigkat Kandungan Dalam Negeri) untuk smartphone 4G, yang mengharuskan produsen perangkat untuk menyesuaikan smartphone-nya. Hal ini menimbulkan biaya yang mesti ditanggung dalam tiap perangkat yang dijual. Tapi biaya yang dikeluarkan pengguna tidak hanya disitu saja. Kecepatan transfer yang jauh lebih baik dari 3G memungkinkan paket kuota data internet kita lebih cepat tersedot di jaringan 4G.

Itulah 3 hal yang perlu diperhatikan sebelum bermigrasi ke 4G maupun 4G LTE. Kecepatan yang akan didapat boleh jadi tidak sesuai ekspektasi. Perangkat juga mesti diganti, dan tentu saja biaya yang dikeluarkan bakal lebih banyak. Tapi jika kita membutuhkan 4G, maka konsekuensi yang ada memang harus ditempuh. Kecuali jika sudah cukup dengan jaringan 3G saja.

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

2 comments

Bulan kemarin migrasi kartu lama ke 4G, alesannya biar kekinian aja sih Bang hahaha

Silakan tinggalkan komentar ya, tapi jangan pakai anonim biar bisa dikunjungi balik dan jangan nitip backlink karena bakal terdeteksi spam by default... Thanks.
EmoticonEmoticon