21 Desember 2016

Jika Google dan Facebook 'Mencuri' Data Pengguna, Buat Apa?


Isu tentang privasi pengguna yang menghantam perusahaan internet seperti Google dan Facebook sepertinya terus saja berlanjut. Banyak pihak yang tak begitu saja percaya bahwa banyak perusahaan internet yang menjaga dengan baik data penggunanya. Tapi kalau memang iya mereka mencuri data penggunanya, memangnya buat apa?

Saat kita mendaftar pada layanan perusahaan internet tersebut, baik membuat akun di Google, Facebook, Twitter, Instagram, LinkedIn, Path maupun Yahoo!, tentu kita akan diberikan opsi centang dimana kita 'dipaksa' setuju atas syarat dan ketentuan yang berlaku. Kolom centang ini biasanya terdapat di bagian paling bawah setelah form isian data pribadi kita isikan. Mengapa kita seperti dipaksa? Karena jika kita tidak mencentangnya, maka kita pun tidak bisa menikmati layanan dari perusahaan tersebut. Fair enough?


Permasalahan kemudian terjadi ketika sebagian besar dari kita, tidak pernah benar-benar serius untuk membaca 'syarat dan ketentuan yang berlaku' itu. Kita ingin cepat menggunakan layanannya. Lalu klik di bagian centang, isi kode verifikasi, dan daftar. Lalu kita diarahkan ke bagian isian data untuk profil yang lebih mendalam lagi. Biasanya ditandakan dengan 'profil anda hampir selesai'. Dan ketika profil pengguna kita di sebuah situs layanan internet sudah selesai, sebenarnya apa yang menjadi isu privasi ini baru saja dimulai.

Isu Privasi

Isu privasi yang saya tahu pada mulanya hanya berkutat pada data email atau username dan password untuk login. Ternyata isu privasi lebih jauh dari itu. Dan bahkan, ketika persoalan username dan password, kasusnya bukan lagi persoalan isu privasi, tapi sudah masuk ranah peretasan. Karena ketika bukan peretasan, maka perusahaan penyedia layanan tersebut akan kehilangan kredibilitas apabila memberikan username dan password pada pihak lain.

Dalam penjelasan Facebook, privasi pengguna meliputi data yang digunakan ketika mendaftar, konten apa yang dibagikan, dan pesan apa yang diterima dan dikirim. Tiga hal itu pula yang dijadikan acuan dalam menyusun algoritma Facebook yang baru. Facebook memang bisa membuat pengguna mengatur privasi lebih ketat lagi, tapi data pengguna tetap dipegang oleh Facebook.

Baca juga:

Hal yang kurang lebih sama juga dilakukan oleh Google. Raksasa dari Mountain View, California, AS ini lebih banyak memanfaatkan riwayat pencarian penggunanya. Google mencatat apa saja situs yang banyak dibaca oleh pengguna tersebut, kemudian jejaknya (cookies) dikumpulkan dan membentuk 'pembacaan' Google atasnya. Dan tentu saja data yang digunakan ketika pertama kali mendaftar akan dipakai untuk pembacaan tersebut.

Data pribadi yang diisikan kala pertama kali mendaftar, rekam jejak interaksi dan kata kunci serta hasil pencarian, tempat yang pernah dikunjungi ketika GPS kita aktif, bahkan sampai siapa saja yang berkomunikasi akan tercatat dalam data base perusahaan layanan tersebut. Dan sialnya, saya tak pernah membaca syarat dan ketentuan layanan yang tersedia. Bahkan saya tak terlalu ambil pusing ketika data-data itu diambil. Nggak penting juga sih. Tapi for whom you may concern, kalau data-data tadi digunakan (baca: dicuri) oleh Google, Facebook, Twitter, dan lainnya, memangnya digunakan untuk apa?

Target Iklan dan Iklan Yang Tepat Sasaran

Yang perlu dijelaskan pertama kali adalah mengapa ada istilah pencurian data pengguna dalam isu privasi ini? Hal ini mesti kita kembalikan pada hukum yang berlaku di mana perusahaan-perusahaan itu terdaftar secara legal. Mereka kebanyakan ada di Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam ini, semuanya mesti transparan.

Sebagai contoh kasus kekinian, Consumer Watchdog dan the Privacy Rights Clearinghouse telah menggugat Google ke FTC, semacam badan perlindungan konsumen di AS. Oleh kedua LSM tersebut, Google dituduh tidak transparan dalam mengumpulkan data penggunanya. Sebab, Google tidak memberikan penjelasan jika data pengguna yang dikumpulkannya tersebut digunakan sebagai 'proposal' kepada pengiklan.

Baca juga:
Data-data pribadi yang telah disebutkan diatas, selain disesuaikan dengan algoritma mesin pencari Google, juga diberikan untuk para pengiklan yang terdaftar di Google Adwords. Secara singkat, Google memanfaatkan data ini untuk tujuan komersial. Nah, kalau komersial, seharusnya Google bilang sejak awal, sehingga ada pembagian keuntungan yang jelas antara Google dan penggunanya. Mungkin maksudnya itu.

Karena dengan penargetan ini, Google telah sukses menambah USD 19,1 Miliar dari lini iklan pada kuartal kedua tahun 2016 atau naik USD 3 Miliar dibanding penghasilan keseluruhan tahun 2015. Dan ini pun merupakan penghasilan mayoritas yang didapat oleh Alphabet, perusahaan induk Google, yang 'hanya' mendapatkan USD 21 Miliar secara keseluruhan pada kuartal kedua itu.

Facebook pun tak beda jauh. Mereka membuat semacam algoritma yang memungkinkan siapapun untuk membayar agar jangkauannya lebih banyak dan efektif. Apakah ini iklan? Tentu saja. Jika di Google ada Adwords, maka di Facebook ada Facebook Ads.

Dalam kasus iklan banner tradisional, pemilik situs hanya menempel iklan kliennya di kolom-kolom yang tersedia. Jadi iklan ini bakal muncul dimanapun tanpa melihat usia, jenis kelamin, interaksi, tempat tinggal, klub olahraga favorit, bahkan referensi politik para pengunjungnya. Ini tidak tertarget, dan tentu saja kemungkinan iklan itu ditindaklanjuti akan kecil.

Ya, berbeda dengan iklan-iklan yang berada di ekosistem periklanan milik perusahaan internet yang telah disebutkan diatas. Jika mereka memasang iklan di publisher-nya, tentu atas dasar pertimbangan data-data itu tadi. Semuanya disesuaikan atas nama algoritma. Jadi data kita itu, bisa digunakan untuk menentukan penargetan iklan oleh klien-klien perusahaan internet tadi. Soal apakah data itu dicuri atau tidak, kadang masih diperdebatkan.

Solusi

Di internet, sekali lagi, tak ada solusi yang benar-benar bisa diandalkan. Maksudnya tak ada cara yang benar-benar bisa dilakukan untuk menangkal 'pencurian' data pengguna tadi. Pasalnya, kita yang menaruh data itu, kita juga yang menyetujui syarat dan ketentuannya, lalu apa lagi? Nah, saran saya cuma bertindaklah hati-hati di internet. Bersihkanlah cookies dan history peramban (browser) secara berkala. Jangan pernah mengunggah privasi di manapun. Kecuali kita memang punya bakat jadi eksibisionis.

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

2 comments

iya mas emang belakangan ini banyak kabar kaya gitu tapi kepastiannya belum ada yg tau

kabarnya ada perubahan term and condition dari Google, yang membuat Google punya hak untuk 'mengintip' dan menggunakan data penggunanya

Silakan tinggalkan komentar ya, tapi jangan pakai anonim biar bisa dikunjungi balik dan jangan nitip backlink karena bakal terdeteksi spam by default... Thanks.
EmoticonEmoticon