4 Februari 2017

3 Sistem Operasi Smartphone Yang Pernah Menantang Android


Semua orang mungkin sepakat kalau saat ini ada dua sistem operasi yang sedang berkuasa di pasaran, yakni Android dan iOS. Menurut data dari 9to5Mac, market share pengguna Android mencapai 86,2% dan iOS 12,9%. Jadi hampir tak ada ruang untuk sistem operasi lainnya di pasaran saat ini.

Ada banyak upaya untuk menjegal kedigdayaan dua sistem operasi tersebut. Yang utama tentu datang dari dua sistem operasi yang masih bertahan hingga sekarang. Dua sistem operasi yang masih bertahan itu, yakni Windows dan Blackberry, harus menelan pil pahit sebab keberadaannya semakin lama semakin punah.

Sebenarnya tak cuma Windows dan Blackberry saja yang punya hasrat untuk menggeser Android dan iOS sebagai raja di pasar. Sebab tercatat ada tiga sistem operasi lagi yang merangsek di pasar perangkat lunak demi memenuhi diversifikasi sistem operasi. Meski begitu, apalah daya iOS begitu kuat, terlebih Android yang masih solid bertengger di posisi puncak market share.

Jadi setidaknya ada lima sistem operasi yang pernah menancapkan eksistensinya di pasar smartphone. Sebagiannya memang tidak familiar di Indonesia, sehingga namanya mungkin masih asing di telinga. Tapi mereka memang pernah ada dan pernah dipakai oleh pengguna smartphone meski tak lama. Yuk diintip apa saja nama-nama sistem operasi yang pernah jadi penantang itu.

1. WebOS

Pernah tahu Palm? Yang ini bukan pohon palem, tapi nama sebuah perusahaan elektronik yang kini berada di bawah Hewlett Packard (HP). Jadi Palm ini pernah menelurkan WebOS pada tahun 2009. Debutnya dimulai pada arena CES di tahun yang sama.

Banyak yang beda dari Palm dibanding sistem operasi yang lain. Salah satunya adalah ada area khusus di bawah layar yang berguna sebagai dinamisasi gesture atau gerakan jari pada layar. Sebab dalam tampilan home smartphone pengguna WebOS, tidak ada widget dan icon aplikasi, sehingga digantikan oleh panel shortcut yang ada di bawah layar. Tak hanya itu, WebOS pun punya fitur pencarian yang apabila kita memasukkan kata kunci, maka list dari browser bookmarks and history, email, search history, local apps, contacts, dan juga suggestions dari Google akan muncul ke hasil pencarian.

Namun performa perangkat Palm yang memakai WebOS kurang laku di pasaran. Perangkat yang kebanyakan merupakan PDA itu, menyumbang kejatuhan Palm di pasar saham. Kemudian HP pun menjual lisensi produk WebOS-nya pada LG. LG pun akhirnya melakukan diskontinu produksi terhadap perangkat tersebut. Dan oleh LG, WebOS disulap menjadi sistem operasi smart-TV.

2. MeeGo

MeeGo merupakan buah kerjasama antara Nokia dan Intel. Pertama kali dikenalkan pada MWC 2010. Sayangnya, kerjasama ini muncul di saat yang benar-benar tidak tepat. Sebab setahun kemudian, Nokia diakuisisi oleh Microsoft yang mulai membuat ponsel dengan sistem operasi Windows.

Lupakan penjualan Nokia 6 saat ini yang melejit semena-mena, sebab pada tahun dimana MeeGo meluncur, Nokia dalam kondisi yang cukup sulit. Sebelumnya Nokia memakai Maemo, yang kemudian dipasang pada N9 dan N950. Pembaruan Naemo ini kemudian lahir atas prakarsa kerjasama dengan Intel, yang kemudian disebut dengan MeeGo. Namun ya itu tadi, terseok-seoknya Nokia menjadi sebab MeeGo tidak lama terpasang sistem operasi perangkat buatan Nokia.

Hanya saja, Maemo merupakan sistem operasi yang cukup fleksibel. Setelah gagal dengan MeeGo, ia pun mewariskan Mer, yang merupakan implementasi dari kode open-source Maemo. Mer ini dipakai juga oleh Sailfish OS, yang banyak dipakai oleh perangkat ponsel dan tablet murah. Hanya saja, nasibnya pun sama jatuhnya dengan Maemo.

3. Firefox

Ya Firefox si pemilik browser Mozilla ini pernah membuat sistem operasi yang kalau dikatakan gagal, ya nggak juga. Tapi mau dikatakan berhasil ya memang gagal sih. Jadi tujuan dibuatnya sistem operasi yang saat dibuat pada 2011 bernama "Boot to Gecko" ini tidak tercapai.

Meski "Boot to Gecko" diberi nama Firefox OS, tetap tidak mencapai tujuan yang dicanangkan yakni memiliki market share 1 persen dari pengguna Android. Mungkin Firefox yang salah strategi sebab menyasar negara berkembang. Tapi apakah jika yang disasar adalah negara maju pun akan membaik? Belum tentu.

Dan secara terang-terangan, Firefox OS memang kalah oleh Android dan iOS. Tak ada sebab internal seperti sistem operasi yang lain. Meski fiturnya lebih terbuka dan fleksibel untuk dikembangkan, nyatanya orang-orang lebih tertarik untuk membeli perangkat yang sudah mapan dan bisa berjalan di fitur offline maupun online.


Sementara itu, Blackberry dan Windows memang masih bertahan meski terseok-seok. Mungkin menunggu waktu yang tepat untuk menggulingkan sang raja, atau malah terjerembab ke pusaran sejarah sebab tak mampu lagi menghidupi rumah tangga industrinya. Yang jelas hingga saat ini, Android dan iOS masih memiliki ekosistem yang betul-betul tangguh, sehingga tak mudah dikalahkan begitu saja.

*disarikan dari berbagai sumber

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

Silakan tinggalkan komentar ya, tapi jangan pakai anonim biar bisa dikunjungi balik dan jangan nitip backlink karena bakal terdeteksi spam by default... Thanks.
EmoticonEmoticon