6 Mei 2017

Mewaspadai Bisnis dengan Skema Ponzi


Skema Ponzi bermula dari seorang pria Italia yang terlahir bernama Carlo Ponzi. Pada tahun 1900-an, pria yang kemudian bermigrasi ke Boston, AS, ini kemudian memulai 'bisnis' dengan komoditas utama perangko. Nah, mengapa pria yang kemudian mengubah namanya jadi Charles Ponzi ini hingga kini begitu terkenal? Apa sebenarnya yang dimaksud Skema Ponzi ini?

Ponzi pada waktu itu memiliki konsep menjual perangko. Sebab saat itu, ada kupon perangko yang memungkinkan sebuah perangko dihargai lebih mahal di negara lain. Selisih harga ini kemudian diakali oleh Ponzi sebagai ladang bisnis. Merasa punya peluang usaha baru namun nihil modal, Ponzi pun merayap mencari investor. Ia menjual gagasannya, bahkan skema bisnisnya. Dan orang-orang pun banyak yang tertarik terhadap gagasan Ponzi dan menaruh uangnya pada skema bisnis tersebut.


Apa yang membuat banyak orang tertarik terhadap binsis Ponzi? Ya, keuntungan. Ponzi menawarkan keuntungan yang menggiurkan. Para investor dijanjikan keuntungan $150 dalam waktu 90 hari dari $100 yang mereka investasikan.

Target keuntungan yang dijanjikan Ponzi memang menggiurkan, namun sangat beresiko dan sulit diraih. Dan keserakahan para investor tentu membuat logika tak dipakai dan membuat 'bisnis' Ponzi ini terus berjalan. Kemudian bisa ditebak, Ponzi tak sanggup membayar dalam waktu yang dijanjikan. Investor pun resah, yang kemudian ditenangkan oleh Ponzi dengan membayar bunga meski tak seperti yang dijanjikan.

Dari sinilah Ponzi pada akhirnya terus-menerus mencari investor baru. Ia mengabaikan bisnis perangko yang pada mulanya memang digeluti. Bisnis yang riil itu tentu saja ditinggalkan sebab hanya digunakan Ponzi sebagai kedok dalam menjalankan skema investasinya. Ketika investor lama butuh uang, Ponzi pun menggunakan uang investor baru untuk menutup utang bisnisnya. Inilah yang disebut dengan Skema Ponzi.

Dari berbagai sumber, kita bisa tahu bagaimana akhir dari Ponzi dan skemanya itu. Namun waktu berganti, Ponzi pun terus bereinkarnasi. Ia menitiskan 'bakat' kepada banyak orang, yang kemudian menciptakan skema-skema baru yang diturunkan dari skema yang telah berumur lebih dari satu abad itu.

Skema Ponzi pun beradaptasi ke dalam berbagai bentuk bisnis. Ada yang menjual pulsa, emas, tanaman, tiket umroh, saham, dan mata uang. Bentuknya macam-macam dan tentu saja ajakannya menggiurkan. Meski sudah paham bahwa setiap bisnis dengan skema Ponzi ini cenderung fraud, tetap saja banyak yang tertarik. Faktor ketertarikan ini selain pada soal bagi hasil yang menggiurkan, juga faktor ketidaktahuan kalau itu merupakan bisnis dengan skema Ponzi. Lantas, bagaimana mengetahuinya?

Mengenal Skema Dasar

Skema Ponzi kekinian akan selalu mengikuti pola bisnis yang telah dilakukan oleh Carlo Ponzi. Pola tersebut biasanya bermula dari bisnis riil yang diolah sedemikian rupa seakan-akan mampu menghasilkan keuntungan yang tak biasa. Mari kita contohkan dengan bisnis jualan cilok.

Di kota A, penduduknya menjadikan cilok sebagai makanan pokok. Sialnya tak semua orang bisa membuat cilok. Sehingga ketika makanan ini sangat penting, membuat harganya jadi melambung tinggi. Para penjualnya pun menjadi orang terpandang, dengan kekayaan yang membuatnya bisa pipis di Bali dan cebok di Hawaii. Dan datanglah seseorang bernama Warji.

Warji ini menjadi distributor cilok dari para saudagar cilok. Ia melakukan promosi bisnis bahwa cilok yang dimilikinya jauh lebih murah dari pada di pasaran. Cilok milik Warji memang cilok yang sama yang diambil juga dari para saudagar itu, namun harganya jauh lebih murah. Ia mengatakan murahnya harga itu disebabkan adanya pemotongan mata rantai distribusi, dimana ia adalah orang pertama yang mengambil langsung dari juragan. Sehingga pembeli merupakan orang kedua sekaligus jadi end-user bagi cilok tersebut.

Promosi Warji pun tak cukup perihal distribusi, sebab ia pun mengklaim tahu tentang harga dasar dari cilok. Harga dasar cilok disebutkannya sangat murah. Dan harga yang dijualnya pun sudah dinaikkan sebanyak dua kali lipat, meski harga ini masih sangat murah dibanding harga di pasar.

Untuk mempermudah, katakanlah cilok di pasaran saat ini Rp.1.000,00 per buah. Sementara Warji menawarkan harga cilok sebesar Rp.850,00 per buah sebab ada pemotongan jalur distribusi. Ia pun mengklaim bahwa harga pembuatan cilok di para saudagar itu hanya Rp.450,00 per buah. Catat ya, Warji hanya mengklaim.

Promosi yang lebih tepat disebut dengan propaganda ini terus ditiupkan oleh Warji kepada orang-orang agar mereka membeli ciloknya berinvestasi di bisnis cilok yang mulai dikembangkannya. Ya, bukannya disuruh membeli cilok, Warji malah ingin agar orang berinvestasi dan sama-sama mencicipi keuntungan dari bisnis yang ia geluti. Warji ingin agar bisnisnya menarik sebanyak mungkin investor. Ya, tentu saja dengan iming-iming keuntungan yang menggiurkan.

Agar mendapatkan investor sebanyak mungkin, barulah teknik dalam skema Ponzi dimulai. Warji membuat skema agar orang-orang yang pertama bergabung mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, tapi dengan syarat mereka pun merekrut investor baru. Demikian seterusnya hingga berantai dan membentuk serupa piramida, sehingga banyak yang menyebut Skema Ponzi dengan skema piramida. Padahal keduanya ada sedikit perbedaan. Tapi nanti saja dibahasnya, ya.

Mengenal Bisnis Riil dari Skema Ponzi

Pertanyaan yang bisa diajukan dari kasus Warji diatas, benarkah cilok memang semurah itu? Jawabannya pun jadi dua pertanyaan lanjutan. Pertama, benarkah bahan dasar pembuatan cilok semurah yang diklaim Warji? Dan kedua, benarkah jalur distribusi cilok di kota A bisa dipotong dan bisa menurunkan harga?

Jawaban untuk pertanyaan pertama bisa kita lihat di kasus Samsung Galaxy S8. Ponsel flagship Samsung itu diketahui harga dasarnya hanya setengahnya saja, namun apa mungkin ada dealer yang membanderolnya dengan harga yang jauh lebih murah di pasaran? Bahkan hanya dengan mengetahui soal harga dasar kemudian tidak relevan untuk kasus cilok ini. Sebab persoalan cilok sudah menjadi monopoli beberapa juragan saja.

Jawaban kedua, distribusi cilok mungkin bisa dipotong. Artinya pembeli pertama, selaku distributor bisa langsung menjualnya ke konsumen terakhir. Namun apakah yang terjadi dalam dunia bisnis? Si distributor ini tentu akan kena teguran bahkan tidak akan mendapatkan hak menjual cilok lagi untuk selamanya. Sebab produsen akan menentukan harga jual standar agar pasar tidak panik.

Inilah bisnis riil dari Warji yang sebenarnya. Namun biasanya untuk menarik minat investor, yang dibutuhkan oleh Warji tentu teknik motivasi agar orang-orang tertarik menaruh uang dalam bisnisnya. Hmmm...ingat sesuatu?

Ingat Ini Agar Tidak Terjebak

Menurut Undang-undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, Skema Ponzi --atau dalam undang-undang ini disebut skema piramida-- telah dilarang dan pelakunya akan dikenai hukuman maksimal sepuluh tahun dan atau denda paling banyak sepuluh miliar rupiah. Larangan ini memang hanya untuk pucuk pimpinan dari pelaku Skema Ponzi saja.

Hanya saja, setiap kali ada Skema Ponzi muncul, senantiasa ada korban-korban baru sementara pelakunya bahkan tidak berhasil dihukum. Nah, untuk menghindari korban-korban berikutnya, dan kita sendiri tak menjadi korban, ada baiknya untuk banyak-banyak mencari tahu, googling, memahami skema bisnis riilnya dengan baik, dan terakhir jangan serakah dalam meraup untung.

Demikian agar kita selalu waspada terhadap Skema Ponzi ini. Buat yang mau memberikan tanggapan, silakan tulis di kolom komentar.

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

2 comments

Silakan tinggalkan komentar ya, tapi jangan pakai anonim biar bisa dikunjungi balik dan jangan nitip backlink karena bakal terdeteksi spam by default... Thanks.
EmoticonEmoticon