12 April 2018

Fakta Mengejutkan Dibalik Pencurian Data Pengguna Facebook


Ada 1,09 juta pengguna Facebook di Indonesia yang datanya diambil oleh Cambridge Analytica. Angka yang memang jauh lebih kecil dibandingkan 70,6 juta pengguna di Amerika Serikat yang menjadi sasaran utama. Hanya saja angka itu menempati urutan ketiga setelah Filipina dengan 1,17 pengguna.

Istilah 'pencurian data' kemudian mengemuka, dan Cambdridge Analyica menjadi tersangka utama. Mark Zuckerberg pun diminta bertanggungjawab atas bocornya data itu. Apa lacur, klien Cambdrige Analytica sudah terpilih menjadi presiden dan 87 juta pengguna Facebook yang diambil datanya hanya mendapatkan kompensasi permintaan maaf.


Agar skandal ini tidak terjadi lagi, Facebook pun memberikan sayembara yang ditujukan kepada siapapun. Tujuan sayembara ini guna menemukan celah keamanan situs Facebook yang bisa dipergunakan untuk memanen data dari aplikasi pihak ketiga. Hadiahnya mewah, US$40,000 atau setara dengan Rp500 juta lebih. Pertanyaan yang perlu diajukan, apakah sebenarnya yang terjadi antara data pengguna, Facebook, dan aplikasi pihak ketiga?

Dalam Kebijakan Data Facebook yang direvisi pada 29 September 2019, Facebook secara terbuka menginformasikan bahwa ada banyak data pengguna yang mereka ambil. Beberapa diantaranya adalah kontak pribadi, informasi perangkat, jaringan seluler, peramban internet, informasi pembayaran, dan layanan pihak ketiga yang tersambung ke Facebook. Selain itu, tentu saja interaksi pengguna di media sosial ini tercatat dengan baik.

Lebih lanjut, Facebook pun memberikan penjelasan bagaimana data pengguna diatas dipergunakan. Data itu diolah oleh algoritma Facebook untuk membantu dalam pengembangan aplikasi yang lebih memahami penggunanya. Maksudnya Facebook bakal lebih terfokus pada pemahaman terhadap data pengguna itu untuk menampilkan tampilan media sosial yang paling mendekati kepribadian penggunanya. Yang paling siginifikan, tentu saja pemahaman Facebook terhadap pengguna adalah dalam menampilkan iklan yang betul-betul tertarget.

Pengguna Yang Menyetujui Semuanya

Siapapun bisa berkilah kalau informasi yang diunggah dalam akun Facebook-nya bukan untuk konsumsi publik. Ada banyak orang yang menganggap kalau unggahan informasi itu seringkali dilakukan secara acak. Misalnya ia ikut grup tertentu, kemudian masuk ke dalam aplikasi tertentu, dan lain waktu membagikan artikel tertentu yang memang terpisah satu sama lain terutama dari segi waktu. Yang tidak disadari adalah Facebook mencatatnya sebagai sebuah kesatuan, sebab setiap akun pengguna punya Facebook ID yang unik. Dan yang paling ironis, pengguna sebetulnya menyetujui ini semua.

Sebelum 'Buat Akun' ada ketentuan yang jarang dibaca.

Ya, pengguna yang menyetujui keberadaan kebijakan ini. Ibarat orang ingin buang air, ia sering tak bisa memilih akan model toilet yang jongkok atau duduk. Pada Facebook pun demikian. Pengguna tak disuguhkan kalau tidak mencentang Term & Condition ia tetap bisa menggunakan Facebook meski dengan opsi tertentu. Sialnya lagi, pengguna pun mencentangnya tanpa membaca Term & Condition itu kemudian di lain waktu marah-marah datanya dicuri.

Aplikasi yang dibuat Cambdridge Analytica pun demikian adanya. 'This is Your Digital Life' memanen data pengguna karena pemakai aplikasi tersebut menyetujuinya. Tes-tes kepribadian yang menarik, membuat banyak orang ingin mencoba. Setiap pengguna yang telah mencoba aplikasi tersebut akan memberikan akses agar aplikasi tersebut mengunggah hasil tesnya di beranda Facebook pengguna. Inilah yang membuat aplikasi tersebut digunakan banyak orang. Sebelumnya, tentu saja pengguna 'dipaksa' menyetujui Term & Condition aplikasi ini agar secepat mungkin bisa menggunakannya. Dipaksa atau tidak, fakta yang tak bisa dibantah adalah pengguna tetap menyetujuinya.

Begitu juga dengan konektivitas aplikasi pihak ketiga.

Nah, pengguna yang sepakat dengan layanan aplikasi, mengapa atmosfer Amerika Serikat jadi panas? Kesalahan (kalau boleh disebut kesalahan) Cambridge Analytica adalah menjadi alat konsultan politik yang memenangkan Donald Trump. Presiden Amerika Serikat ke-45 ini memang lemah secara keterpilihan, ditambah pula haters-nya cukup banyak. Jadilah Cambridge Analytica dihajar habis-habisan, dan Facebook ikut terkena getahnya dengan bukti Mark Zuckerberg menjadi bulan-bulanan para Senator.

Pengguna Yang Akhirnya Memilih

Sejak masih dalam tahap beta, Mark Zuckerberg sudah mengumpulkan data pemakai sosial medianya yang saat itu hanya warga kampus Harvard saja. Ya, saat itu pun kejadiannya sama, orang-orang yang tertarik dengan Facemash (embrio Facebook) tertarik dengan model media sosial yang ditawarkan dan mengabaikan imbas dari pengumpulan data yang dilakukan Mark. Tabiat ini pun dibawa dalam model bisnis Facebook saat ini, yakni mengumpulkan data sebanyak mungkin dan memanfaatkannya untuk meraup keuntungan.

Untuk membesarkan ekosistem Facebook, para pengembang pun diundang untuk memasang aplikasinya di Facebook atau memasang plugin Facebook di situs mereka. Dan tujuannya sama, saling memanfaatkan data pengguna. Kini pilihan dikembalikan kepada pengguna Facebook, apakah akan tetap menggunakan Facebook atau meninggalkan Facebook. Saya pilih jalan tengah: tetap memakai Facebook tapi tidak mengunggah identitas penting di media sosial ini.

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

6 comments

Informasi yg akurat, tajam dan terpercaya. Mantep bang...

waduh, kaya Liputan 6 ya :)

Kita anteng2 aja ya, Bang, beda kalau kasus politik. Padahal yang satu ini juga sangat penting.. eh tapi ada hikmahnya tuh yang "memalsukan data", misalnya tempat kerja di FB: di PT Mencari Cinta Sejati :D

Bagus infonya... kalau saya intinya jamgn klik2 yg aneh2 bang

Wah iya tuh, PT yang legend banget hehe

Iya, dimanapun jangan pernah klik yang aneh-aneh. Banyak malware sekarang.

Silakan tinggalkan komentar ya, tapi jangan pakai anonim biar bisa dikunjungi balik dan jangan nitip backlink karena bakal terdeteksi spam by default... Thanks.
EmoticonEmoticon