19 Mei 2018

Samsung Galaxy A6 dan A6 Plus Untuk Mereka Yang Masih Setengah-Setengah


Sampai saat ini, brand yang paling woles dalam menyikapi perang antar ponsel adalah Samsung. Ya tentu diatas Samsung masih ada langit, eh maksudnya Apple. Saat yang lain mainan hestek #mending-mendingan, Samsung ibarat Thanos dalam menghadapi Avengers. Kalem banget. Setidaknya hal ini terungkap dalam perilisan Galaxy A6 dan A6 Plus di Bali pada Senin (7/8/2018) lalu.


Dengan entengnya, Samsung mengatakan kalau kompetisi itu baik. Ketika banyak brand berkompetisi, itu berarti konsumen lebih banyak pilihan. Samsung seperti mengajarkan kalau membangun loyalitas bukanlah dengan perang harga seperti yang terjadi saat ini. Loyalitas berdasarkan harga bakal luntur ketika ada brand lain yang berani memberi harga lebih murah dengan spesifikasi mirip. Itulah mengapa Samsung santai saja membanderol Galaxy A6 dengan Rp3.799.000 dan Rp4.899.000 untuk A6 Plus.

Samsung tak tertarik ikut-ikutan perang hestek, pasang harga bersaing, serta membuat gimmick flash sale. Padahal kalau mau dilakukan komparasi, harga sebesar itu untuk spesifikasi kedua ponsel barunya tentu dirasa cukup mahal buat kantong kismin macam saya. Tapi ya dasarnya brand lagi berjaya, Samsung bergeming. Apalagi market share globalnya menurut IDC masih 18,4%, hanya 1% dibawah Apple pada kuartal 4 tahun 2017 lalu. Ditambah lagi, kalau berbicara Indonesia, Samsung berjaya di angka 31,8%, jauh meninggalkan Oppo yang berada dibawahnya dengan 22,9%.

Spesifikasi Galaxy A6 dan A6 Plus terbilang standar-standar saja untuk harga semewah itu. Sales point dari kedua ponsel ini bisa dilihat dalam tabel berikut ini.


Keduanya memang memakai layar andalan Samsung, yakni Super AMOLED yang terang, cahayanya alami dan stabil, sedikit tipis sehingga tidak membuat tebal ponsel, dan tidak menyedot daya yang signifikan. Ya memang cuma Samsung yang bisa begini. Ponsel bukan-flagship tapi dipakaikan layar Super AMOLED. Perbedaan kedua layarnya terletak pada ukuran serta kualitas saja. Galaxy A6 memakai layar HD+ dengan ukuran 5,6 inci sementara A6 Plus memiliki layar FHD+ dengan ukuran 6,0 inci.

Samsung memasang Bixby Vision, yang sudah dipakai pada flagship mereka sejak Galaxy S8. Bixby Vision ini merupakan rangkaian kecerdasan buatan milik Samsung. Ya, disebut rangkaian karena teknologi Bixby yang diterapkan tidak semuanya, hanya satu fitur saja. Bixby Vision berfungsi untuk menjalankan augmented reality ketika sebuah kamera menangkap obyek. Jadi ketika kamera mengenai obyek, Bixby akan melakukan identifikasi terhadap obyek tersebut, baik memunculkan informasi yang diminta, maupun melakukan pembelian melalui e-commerce yang bekerjasama dengan Samsung.

Galaxy A6 dan A6 Plus diperuntukkan juga buat mereka yang gemar selfie. Ini bisa dilihat dari ukuran resolusi kamera depan keduanya yang cukup besar. Secara rinci, A6 memiliki kamera belakang beresolusi 16MP dengan f1.7, dan kamera depan 16MP dengan f1.9. A6 Plus memakai dual-camera dengan resolusi 16MP bukaan f1.7 dan 5MP dengan bukaan f1.9, sementara kamera depan lebih besar lagi, yakni 24MP dengan bukaan f1.9.

Dapur Pacu

Dapur pacu Galaxy A6 dan A6 Plus memang tak ditonjolkan begitu rupa. Minder, kali ya? Kayaknya enggak, sih. Samsung terbiasa mencantumkan ukuran clockspeed prosesornya, serta ukuran RAM dan memori saja pada situs dan sales point-nya. A6 memiliki RAM 3GB dengan memori 32GB, dan A6 Plus punya RAM 4GB dengan memori 32GB. Dari beberapa sumber diketahui chipset A6 dibekali dengan Exynos 7870, sementara A6 Plus memakai Snapdragon 450. Keduanya bakal menjalankan Android 8.0 Oreo.

Kedua ponsel ini memakai chipset dari pabrikan yang berbeda bukanlah tanpa sebab. Meski sama-sama memakai proses fabrikasi 14nm FinFET dan sama-sama octa-core, Exynos 7870 belum mendukung keberadaan kamera ganda. Ditambah pula clockspeed chipset ini terbatas di angka 1,6GHz. Sedikit berbeda dengan Snapdragon 450 yang sudah mendukung kamera ganda dan kecepatan prosesnya bisa mencapai 1,8GHz.

Untuk urusan baterai, Samsung merupakan brand yang paling pelit untuk memberikan catu daya yang jumbo. Kalau berbicara kualitas baterai, tentu banyak yang menyodorkan rekam jejak kasus Samsung Galaxy Note 7. Alhasil, pembeli galaxy A6 harus puas dengan catu daya sebesar 3000mAh, dan A6 Plus dengan 3500mAh.

Hal yang menarik lainnya adalah buat siapakah Samsung merilis Galaxy A6 dan A6 Plus ini? Sementara pasar ponsel sedang ramai perang harga, wualah Samsung kok woles saja dengan ponselnya sendiri tanpa peduli itu semua.

Galaxy A6 dan A6 Plus dibuat untuk mereka yang ingin mencicipi ponsel flagship, tapi kantongnya masih mid-range terendah. Sebab mid-range yang berada diatasnya bakal memilih galaxy A8 atau A8 Plus yang punya fitur anti air dan secara umum spesifikasinya lebih bagus, meski bukan flagship. Tapi Samsung menarik minat calon pembeli A6 dan A6 Plus dengan iming-iming nilai tambah seperti Bixby Vision diatas, dan tentu saja nama besar yang dimiliki brand ini.

Jadi, Galaxy A6 dan A6 Plus ini dirilis untuk menyasar konsumen kelas menengah yang masih setengah-setengah. Ya, setengah pertama adalah kantongnya yang belum sampai pada kelas flagship, setengah satu lagi adalah harapannya untuk menenteng gawai premium.

Artikel ini pernah dipublikasikan di Mojok.co

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

4 comments

Samsung kalau batrainya udah drop bikin kesel Mz, di ganti juga tetep aja bikin kezel.kalau apple pernah pakai sebulan trus mati total 😂

Coba bawanya ke Samsung service center, kali aja bener kaya semula. Tapi emang samsung ini kurang bagus soal batere, masih inget Samsung Galaxy Note 7 kan...

Kalau di bawa ke samsung center bisa setengah harga hp nya pernah servis juga soalnya 😑

Sengaja dibikin gitu sekarang sih, biar hape barunya ada yang beli hehe

Silakan tinggalkan komentar ya, tapi jangan pakai anonim biar bisa dikunjungi balik dan jangan nitip backlink karena bakal terdeteksi spam by default... Thanks.
EmoticonEmoticon