19 Juni 2018

Mengenal VAR, Teknologi Yang Membantu Wasit Piala Dunia 2018


Video Assistant Referee atau cukup disebut VAR merupakan sebuah teknologi yang baru digunakan secara resmi pada Piala Dunia. Teknologinya sudah dikenal lama, sebab hanya merupakan pemanfaatan perekaman video. Namun karena baru kali ini digunakan secara resmi di pertandingan paling akbar antar negara, ini jadi menarik.

Ya, VAR sendiri baru disahkan pada Maret 2018 oleh Football Association Board FIFA di Zurich. Keputusan itu menghasilkan teknologi VAR bakal digunakan secara permanen pada Piala Dunia 2018 dan setelahnya. Ini kali kedua teknologi 'menginvasi' keputusan wasit di lapangan hijau.

VAR membantu keputusan wasit. (Sumber: Goal.com)
Sebelumnya, ada teknologi garis gawang yang membantu keputusan wasit untuk menentukan apakah bola sudah melewati garis gawang atau belum. Meski telah dipakai di berbagai level kompetisi, teknologi garis gawang baru disahkan penggunaannya pada Piala Dunia 2014 di Brazil. Dan Piala Dunia 2018 di Rusia ini menjadi giliran VAR untuk 'unjuk gigi'.

VAR secara resmi bakal membantu setiap keputusan wasit secara lebih luas dibandingkan teknologi garis gawang. Penggunaan teknologi ini sudah diuji coba di FA Cup, Carabao Cup, Liga Italia, serta Liga Jerman pada musim kemarin. Informasi yang cukup menarik ternyata datang dari Liga Italia terkait VAR.

Adalah seorang eks Presiden FIGC, Carlo Tavecchio, yang mengajukan proposal penggunaan VAR ke FIFA. Hal ini selain untuk mengurangi krisis kepercayaan wasit di liganya, juga berupaya menggerus citra kotor yang melekat akibat Calciopoli.

Namun tentu saja FIFA tidak merujuk pada proposal Tavecchio semata, sebab penggunaan VAR merupakan sebuah keniscayaan untuk membuat keputusan wasit tetap adil dan berpihak pada kebenaran. Lantas, bagaimana VAR bekerja dan seperti apa? Ini dia fakta-faktanya.

1. Petugas VAR terpisah dari lapangan hijau.
Petugas VAR. (Sumber: Scroll.in)
VAR terdiri atas berbagai monitor dan komputer untuk menyimak pertandingan, memutarnya kembali, dan memberikan hasil analisisnya kepada wasit di lapangan hijau melalui alat komunikasi. Makanya untuk mengamankan peralatan yang digunakan, petugas yang memonitor VAR dipisahkan dari lapangan hijau. Mereka ditempatkan di ruang kendali yang terpisah sendiri.

Meskipun terpisah, dari ruangan VAR ini petugas bisa mengamati jalannya pertandingan secara lebih mendetail karena memiliki akses terhadap kamera yang ada di lapangan hijau dari beragam sudut pandang. Tetapi meskipun terpisah dari lapangan hijau, petugas VAR tetap berada di stadion, kok.

2. Alat komunikasi berupa earpiece dan layar di pinggir lapangan.
Wasit dengan earpiece dan monitor VAR. (Sumber: refereeingworld.blogspot.com)
Petugas VAR bakal menginformasikan hasil analisisnya ke wasit yang bertugas dalam pertandingan. Petugas bakal memberitahunya melalui earpiece yang dipasang di telinga wasit. Kemudian jika diperlukan, wasit bisa melihat hasil analisis tersebut di layar monitor yang disediakan di pinggir lapangan.

Pertandingan bakal dihentikan sejenak demi menunggu wasit mengambil keputusan dengan melihat layar monitor tadi. Kalau ada kejadian semacam ini, penonton bakal diberitahu melalui layar monitor besar di dalam stadion kalau teknologi VAR sedang digunakan.

3. VAR bukanlah teknologi baru, tapi tak semua bisa memakainya.
Alat bantu yang cukup mahal. (Sumber: Goal.com)
VAR memang bukan teknologi yang baru. VAR menggunakan teknologi yang sebetulnya sudah lazim dipergunakan di industri pertelevisian. Teknologi perekaman, transmisi elektronik berupa gambar dan suara, tayang ulang siaran televisi, serta telekomunikasi inter-personal, yang mana sudah puluhan tahun dipergunakan untuk merekam pertandingan sepakbola. Namun tentu saja baru bisa diputuskan untuk dipakai dalam menunjang keputusan wasit pada Piala Dunia 2018 ini.

Sebabnya jelas, penggunaan teknologi VAR pada mulanya belum diterima sepenuhnya oleh berbagai insan sepakbola. Pertama adalah soal biaya, dimana pemasangan VAR setidaknya membutuhkan biaya 2 juta euro atau setara dengan 3,2 miliar rupiah. Untuk liga-liga di negara berkembang, meski masih lebih murah dibandingkan teknologi garis gawang, rasanya biaya sebesar itu masih cukup mahal.

Kalau bukan soal biaya, maka ada faktor kedua, yakni penggunaan VAR banyak ditolak karena menghilangkan sisi humanisme dalam sepakbola. Ya, sebuah kesalahan dalam pertandingan olahraga adalah manusiawi. Sehingga penggunaan VAR berpotensi merusak jalannya laga.

4. VAR potensial merusak laga sepakbola.
VAR mengurangi kenikmatan selebrasi. (Sumber: Telegraph.co.uk) 
Meskipun diklaim oleh FIFA tingkat akurasinya mendekati 99%, VAR tetaplah sebuah sistem yang memiliki kekurangan. Sistem ini sebagaimana sudah disebut, berpotensi merusak asyiknya menontont sepakbola.

Keputusan wasit biasanya spontanitas. Ia mengawal pertandingan, melihat dengan mata kepalanya sendiri, dan memutuskan berdasarkan pengamatannya. Hal ini terjadi sepersekian detik setelah ada insiden. Namun ketika seorang wasit membutuhkan bantuan VAR untuk memutuskan, jeda antara insiden dan keputusan biasanya berlangsung selama lima hingga enam menit.

Nah, bayangkan sebuah selebrasi tim, yang dilakukan lima menit setelah salah satu pemainnya melesakkan bola ke gawang. Menurut saya sih, bakal ada selebrasi yang garing. Dan, percayalah, itu kurang asyik buat penikmat sepakbola, terutama mereka yang menyaksikan secara langsung. Hal ini berlaku juga dengan keputusan yang lain.

5. Meski potensial merusak, VAR mesti diambil sisi positifnya.
Demi mendekati tepatnya keputusan. (Sumber: cnnindonesia.com)
Akurasi keputusan, meski lambat, tetap bisa memuaskan semua pihak. Sebab VAR bakal menjadi 'teman' wasit dalam mengambil keputusan-keputusan yang krusial dalam sebuah pertandingan. Apabila keputusannya tepat, sebuah pertandingan tidak dicederei oleh keputusan wasit.

VAR sebetulnya bukan mengeliminir sisi manusiawi seorang pengadil lapangan hijau alias wasit, akan tetapi hanya sebagai alat bantu semata. Artinya, hasil analisis dari VAR tetap membutuhkan interpretasi lanjutan dari seorang wasit. Dan tentu saja sisi manusiawi itu bakal tetap muncul ke permukaan.

Itulah tadi beberapa fakta yang muncul dari kehadiran teknologi VAR dalam pertandingan sepakbola. Yang perlu diperhatikan adalah, teknologi hanyalah sebuah alat bantu, sementara sepakbola merupakan olahraga yang menuntut sebuah kerja-kerja humanis yang tidak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apapun.

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

4 comments

Yang jelas var mahal banget biayanya, gua pernah baca liga Thailand menggunakan juga, cuman hanya beberapa club gede aja, karena biayanya hehe

Iya, biaya instalasi VAR nyampe 3,2 miliar rupiah mas. Relatif juga, kalo liga besar ya ngga masalah.

3,5 miliar saya rasa berbaloilah dengan manfaatnya. Akurasi, meminimalkan kesalahan manusia.

Yang enggak sepakat malah bilang, teknologi menghilangkan sisi humanisme olahraga. hehe
Tapi saya sepakat, selama duitnya ada, mending pake VAR.

Silakan tinggalkan komentar ya, tapi jangan pakai anonim biar bisa dikunjungi balik dan jangan nitip backlink karena bakal terdeteksi spam by default... Thanks.
EmoticonEmoticon