13 Juli 2018

LG G7+ ThinQ, Flagship LG dengan Jeroan Canggih dan Suara Menawan


Masyarakat Indonesia lebih mengenal LG sebagai brand pembuat peralatan elektronik rumah tangga dibandingkan produsen ponsel pintar. Nasib ini pun menimpa LG G7+ ThinQ, ponsel premium dari pabrikan Korea yang sudah resmi dipasarkan di tanah air. Warganet tampak tak begitu antusias menyambut pre-order ponsel ini seminggu terakhir. Padahal kurang apa sih LG G7+ ThinQ ini?

Dari segi tampilan, memang mainstream banget sih LG G7+ ThinQ ini. Meski begitu, material kaca Gorilla Glass 5 yang menyelimuti body depan belakang membuat ponsel ini memiliki tampilan glossy nan premium. Memang sih, begitu dipegang permukaan yang mengkilap tadi rentan dengan bekas sidik jari, tapi tak begitu parah sebab sepertinya ada coating yang khusus. Untuk memisahkan bagian depan dan belakang, di pinggiran ponsel ini melingkar bingkai aluminum yang membuatnya tampak kokoh.

Di bagian depan, LG G7+ ThinQ dihuni layar IPS LCD dengan lebar 6,1 inci, yang memiliki rasio 19,5:8. Layar dengan kerapatan piksel 1440 x 3120 ini cukup istimewa, sebab di setiap pikselnya ditambahi lagi dengan piksel putih. Hasilnya gambar yang dihasilkan menjadi cerah. Cukup? Ternyata tidak, sebab ada lagi keistimewaan layar dengan densitas ~564 ppi ini. Layar ini pun mampu menghasilkan cahaya sebanyak 1000 nits, sehingga ketika ponsel dipakai di tengah terik mentari, layarnya masih tampak jelas.

Satu hal lagi dari layar LG G7+ ThinQ yang paling terlihat adalah adanya poni. Kalau ada yang bilang poni hanya sekedar tren, sebetulnya benar juga, tapi kurang tepat. Sebab poni merupakan tempat bagi kamera depan dan ambience sensor, tanpa menghalangi layar untuk jadi lebar. Sayangnya, meski ngetren ada saja yang tak suka dengan poni. Makanya LG membuat pengaturan layar yang bisa menyamarkan poni ini dengan warna hitam atau warna gradasi RGB. Masya Allah cantik sekali.

Pada bagian belakang, LG memasangkan dua kamera dengan desain vertikal. Please, setelah poni, jangan bilang ini pun terinspirasi dari iPhone. Sebab LG memasang dua kamera tersebut bukan di pinggir, tapi di tengah ponsel. Walaupun sama-sama beresolusi 16 MP, dua kamera ini memiliki fungsi yang berbeda.

Satu kamera dengan bukaan f/1.6 memiliki fungsi sebagai kamera utama, sementara kamera kedua dengan bukaan f/1.9 digunakan untuk mengambil gambar dengan sudut lebar, atau kalau keminggris disebut  super wide angle. Sementara itu kamera bagian depan memiliki resolusi 8 MP dengan bukaan f/1.9.

Masih di seputaran body belakang, LG menempatkan sensor autofokus dan flash di samping dua kamera tersebut. Sementara itu di bagian bawahnya ada sensor sidik jari berbentuk bulat yang disusul dibawahnya ada logo G7 ThinQ. Loh, kog logonya gitu? Plus-nya mana? Sabar, nanti dijelaskan.

Masuk ke bagian dapur pacu, LG memasang chipset unggulan dari Qualcomm, yakni Snapdragon 845 dengan octa-core dengan kecepatan 2,8 GHz. Untuk urusan grafis dipercayakan pada Adreno 630. Ya memang LG G7+ ThinQ bukanlah yang pertama hadir di Indonesia dengan chipset kelas premium ini. Ada Asus Zenfone 5z yang telah mendahuluinya. Ya tapi kalau menjadi yang pertama tapi kemudian susah ditemukan alias ghaib, buat apa?

LG G7+ ThinQ hadir dengan dua varian RAM dan memori. LG tampaknya ingin masuk di pasar tanah air yang sudah dihuni Samsung Galaxy S9 maupun Apple iPhone 8 daripada harus turun di kelas yang dihuni oleh flagship nanggung seperti Zenfone 5z, Honor View 10, maupun Nokia 8. Itulah kenapa LG membawa varian tertinggi dari LG G7 ThinQ, yakni RAM 6 GB dan memori 128 GB, yang kemudian untuk membedakannya disebut LG G7+ ThinQ. Sementara LG G7 ThinQ memiliki RAM 4 GB dengan kapasitas penyimpanan 64 GB.

LG G7+ ThinQ berjalan di Android Oreo 8.0 tanpa banyak kustomisasi. Kalau pernah memakai Samsung, user interface-nya 11-12 lah. Sama-sama simpel. Kabarnya, LG G7+ ThinQ ini akan segera mendapatkan pembaruan Android P 9.0 sesaat setelah dirilis secara resmi.

Agar lebih afdhol sebagai ponsel kelas premium, LG G7+ ThinQ punya beberapa fitur sebagai nilai tambah. Pertama, dari sisi soundsystem ada Boombox dan Hi-Fi Quad-DAC. Boombox dengan dukungan DTS-X 3D merupakan teknologi LG yang mampu memaksimalkan ruang ponsel untuk menciptakan suara speaker internal yang maksimal. Jadi melalui Boombox ini, suara yang dihasilkan bakal lebih ngebass, kencang, namun tetap jernih.

Kalau Quad-DAC ini merupakan teknologi yang mirip, tapi berlaku ketika LG G7+ ThinQ dipasangi earphone atau headphone. Quad-DAC bakal mengurangi noisy, impedansi, dan distorsi, tapi disisi lain meningkatkan dynamic range suara sehingga menghasilkan bunyi yang renyah dan alami di telinga.

Fitur kedua adalah AI atau kecerdasan buatan. Ponsel LG yang memiliki AI ditandai dengan frase ThinQ, yang kalau dilafalkan bisa berbunyi think you. Ya, sedikit maksa sih, tapi suka-suka LG lah.

AI yang pertama ada di kamera. AI ini pertama kali dipakai oleh LG V30S ThinQ, yang berguna untuk memilah-milah frame dalam sekali jepretan kamera, kemudian menyajikan filter yang paling pas agar menghasilkan gambar terbaik.

Untuk AI yang kedua di LG G7+ ThinQ, LG memercayakan pada Google Assitant dan Google Lens. Google Assistant bakal membantu pengguna untuk mengoperasikan ponsel, sementara Google Lens fungsinya mirip Bixby Vision yakni bisa memunculkan data dari gambar yang ditampilkan di Google Photos maupun kamera secara langsung. Kecuali Google Lens yang muncul pada kamera secara langsung, Google Assistant dan Google Lens pada Google Photos sudah bisa dinikmati di ponsel kelas mid-range. Bedanya pada LG G7+ ThinQ, kedua kecerdasan buatan ini bisa diakses instan lewat tombol di bawah tombol volume dan power. Lalu buat apa beli mahal-mahal ponsel flagship ini?

BACA JUGA



Iya, kalau dipikir-pikir buat apa mengeluarkan kocek hingga Rp11.499.000 hanya untuk menikmati performa yang bisa didapatkan pada ponsel flagship yang lebih murah? Apalagi baterainya tergolong kecil, cuma 3,000mAh.

Jawabannya adalah LG G7+ ThinQ ini diiklankan oleh BTS atau Bangtan Boys, boyband asal Korea yang sedang kondang itu. Eh, serius? Ya enggaklah, kecuali anda penggila K-Pop terkhusus BTS, ya mungkin saja.

Ada banyak nilai lebih dari sebuah ponsel flagship, sebab ketika sebuah ponsel memasuki kelas premium maka segala bagian dari ponsel itu mestilah nomor satu. Jadi bukan bagian tertentu saja yang dijadikan sales point, namun menihilkan atau mengurangi spesifikasi bagian yang lain agar harganya lebih rendah. Dan LG sepertinya ingin all out di kelas flagship, dan dalam jangka panjang ingin lepas dari bayang-bayang rekan senegaranya, Samsung.

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

Silakan tinggalkan komentar ya, tapi jangan pakai anonim biar bisa dikunjungi balik dan jangan nitip backlink karena bakal terdeteksi spam by default... Thanks.
EmoticonEmoticon