13 November 2018

Lasso: Upaya Facebook Saingi Tik Tok dan Cara Mengunduhnya


Awal November 2018, aplikasi video pendek asal Cina, Tik Tok, mengangkangi Facebook, Instagram, Snapchat, dan YouTube untuk jumlah unduhan di internet. Tik Tok mengungguli aplikasi 'senior' yang duluan populer tersebut berdasarkan perhitungan dari SensorTower. Situs pendata terkemuka ini menyatakan Tik Tok mencapai angka unduh sebesar 3,81 juta.

Angka unduhan Tik Tok tersebut merupakan gabungan dari jumlah unduhan di Play Store dan App Store. Sementara total jumlah unduhan Facebook 'hanya' 3,53 juta sehingga menempati urutan kedua dibawah aplikasi besutan ByteDance itu. Angka unduhan Tik Tok ini memperlihatkan pesatnya pertumbuhan aplikasi yang sempat mendapat julukan aplikasi goblok dari warganet Indonesia ini. Pertumbuhannya mencapai 237 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2017.

Membanjirnya pengguna Tik Tok yang notabene penyuka video pendek dan lip-sync, yang dipenuhi oleh kaum remaja akhirnya memikat Facebook jua. Aplikasi yang memiliki pengguna terbesar ini menurut beberapa media cukup kesulitan untuk menambah pengguna di kalangan remaja. Banyak laporan menyatakan kalau Facebook malah kehilangan pengguna di usia muda (di bawah 25 tahun) sekitar dua juta orang.

Kelompok usia ini lebih memilih Instagram dan Snapchat. Kalau di tanah air, kabarnya malah beralih ke Twitter, sebab Facebook katanya menjadi sarang hoax dan hate speech. Singkat cerita, Facebook betul-betul kehilangan pengguna dari kelompok ini karena bosan terhadap Facebook. Sialnya lagi, kalangan yang baru mengenal internet, yang banyak dihuni remaja tanggung, malah menjadi pengguna Tik Tok.


Inilah yang kemudian membuat Facebook merilis Lasso, aplikasi video pendek yang tak bisa disangkal memiliki banyak kemiripan dengan Tik Tok. Harapannya kalangan muda yang tertarik ke Snapchat, dan kalangan yang gemar video pendek berpindah ke aplikasi di bawah Facebook ini. Lasso menjadi aplikasi kesekian kalinya yang terpisah dari Facebook dan berupaya menyasar segmentasi tertentu.

Lantas bagaimana cara mengunduh Lasso?

Saat dirilis, Lasso tidak dikenalkan secara bombastis oleh Facebook. Bahkan rilis media dari Facebook pun tak ada. Hanya sebuah twit dari inisiator Facebook Marketplace, Bowen Pan, lewat akunnya @bowenpan yang mengunggah dua tautan untuk mengunduh Lasso di Play Store dan App Store. Twit ini pun kemudian di-retweet oleh Product Manager Facebook, Andy Huang, di akunnya @ahuang7.



Buat yang ada di Indonesia dan berminat untuk mengunduh Lasso, tampaknya harus banyak bersabar. Sebab menurut Bowen Pan, Lasso baru tersedia untuk pengguna Android di Amerika Serikat saja. Jadi buat yang mengklik tautan yang diselipkan Bowen itu, bakal muncul keterangan di Play Store dengan tulisan 'Item ini tidak tersedia di negara Anda' dengan huruf merah dan didahului simbol tanda seru di dalam segitiga alias simbol peringatan. Untuk pengguna iOS sepertinya tidak menemui masalah ini.

Namun tentu ada cara yang mujarab untuk bisa menikmati Lasso meskipun tidak tinggal di Amerika Serikat. Yak betul, caranya dengan memakai VPN. Melalui VPN anda bisa mengakses server 'palsu' dari negara yang terdaftar. Jadi dengan aplikasi ini, anda bisa mengakses internet seolah-olah berada di negara tersebut. Untuk kasus Lasso, silakan atur VPN agar berada di Amerika Serikat.

Setelah VPN diatur ke server Amerika Serikat, maka jangan terburu-buru masuk ke Play Store atau mengklik tautan yang diberikan Bowen tadi. Biasanya Play Store masih menyimpan cache regional semula, sehingga keterangan itu masih tetap muncul. Makanya bersihkan data terlebih dahulu. Caranya bisa masuk ke menu pengaturan aplikasi dan hapus cache dan hapus data juga sekalian. Kalau ini sudah dilakukan, silakan masuk ke tautan yang diberikan Bowen itu. Unduh. Instal. Selesai.

Cara Menggunakan Lasso

Saat baru pertama kali membuka Lasso, anda bakal dihadapkan ke tampilan login dengan dua pilihan yakni login dengan Instagram dan Facebook. Silakan pilih salah satu saja. Setelahnya Lasso betul-betul mengingatkan kita akan Tik Tok dengan segala desain, tampilan, dan keunikannya. Cuma karena dirilis pertama kali di Amerika Serikat, maka kebanyakan penggunanya bukanlah orang-orang bermata sipit yang menjadi penghuni negeri asal Tik Tok.


Di bagian pembuatan video pun Lasso mencontek Tik Tok. Jadi kalau sudah terbiasa dengan Tik Tok, ya pastinya bakal mudah saja untuk menggunakan Lasso. Atau malah tak usah pindah platform sama sekali. Keduanya hanya memiliki beda yang sedikit saja, terutama di interface alias tampilan antar muka. Tapi sedikit saja bedanya. Sebab kedua aplikasi secara garis besar hampir sama, antara memilih backsound, merekam, dan mengunggahnya dengan tanda pagar tertentu yang mengelompokkan video tersebut juga sama. Durasi videonya pun sama-sama 15 detik.

Perbedaannya, Lasso memberikan pilihan untuk mengunggahnya di story Facebook, buat yang login dengan Facebook, dan insta story buat yang login dengan Instagram. Saya rasa inilah yang menjadi daya tarik bagi Lasso, yakni terintegrasi dengan aplikasi populer lainnya. Sementara Tik Tok hanya bisa mengunggah tautan secara langsung ke Twitter saja.

Satu catatan buat pengguna Lasso yang tadi sudah mengunduh dengan VPN, untuk membuka Lasso lagi pastikan VPN-nya jangan dimatikan. Sebab penggunaan server regional ini tetap berlaku bukan hanya saat mengunduhnya saja. Kalau VPN-nya tidak aktif, beranda lasso yang berisi video-video rekomendasi, video populer, dan akun-akun yang populer tidak akan muncul.

Demikian tentang Lasso, apakah anda menginginkannya segera dirilis untuk regional Indonesia? Silakan tulis pendapat anda di kolom komentar ya. Terima kasih.

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

2 comments

Namanya kayak nama penyanyi ya hehe. Semakin tahun pasti semakin banyak media sosial baru bermunculan.

Iya, kayak vokalis Dewa 19 jaman dulu hehe, Ari Lasso

Silakan tinggalkan komentar ya, tapi jangan pakai anonim biar bisa dikunjungi balik dan jangan nitip backlink karena bakal terdeteksi spam by default... Thanks.
EmoticonEmoticon