5 Januari 2019

Bagaimana Aplikasi E-Wallet Meraup Profit?

Saat mencari informasi tentang "darimana perusahaan e-wallet mendapatkan profit?", saya cukup kesulitan menemukan referensi yang pas.

Pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh beberapa orang teman itu, pada akhirnya menjadi keingintahuan saya pula. Sebab pada mulanya, saya tak ambil pusing dengan masifnya aneka ragam promo dari aplikasi kantong elektronik alias e-wallet yang ada di smartphone.


Pada mulanya saya menganggap kalau adanya selisih kecil yang biasanya mengendap di saldo e-wallet, merupakan uang yang bisa dijadikan profit. Namun setelah dikalkulasi, jumlahnya tidak signifikan untuk mendongkrak e-wallet sampai meraup profit miliaran bahkan triliunan.

Maksud saya begini. Misalnya saya mengisi saldo OVO sebesar Rp100.000. Keesokan harinya saya mesti naik Grab Bike dan membayar Rp15.000. Tentu ada sisa saldo Rp85.000. Saldo ini saya pakai untuk memesan makanan di Grab Food, dan menghabiskan Rp78.000.

Namun setelah penggunaan itu, saya tidak pernah memakai layanan Grab maupun melakukan pembelian di Tokopedia sehingga saldo Rp7.000 yang mengendap itu dipergunakan OVO untuk melakukan tindakan ekonomi lainnya. Misalnya berinvestasi, mengakuisisi bisnis lain, atau sejenisnya.

Hal yang sama pun terjadi dengan aplikasi DANA. Cuma aplikasi yang berada di bawah Elang Mahkota Teknologi dan AliPay ini kerap saya pergunakan di Bukalapak untuk mengikuti Serbu Seru - meski tak pernah dapat. Dan kondisinya sama, selalu ada saldo mengendap yang cukup lama barang Rp1.000 hingga Rp10.000 setelah transaksi rutin.

Nah, saya kira teknik saldo inilah yang membuat para pengelola e-wallet itu mendulang profit. Pada kenyataannya, saldo mengendap bukan pendulang profit utama. Bahkan bukan pendulang profit sama sekali. Lalu, apa?

Sebelum masuk ke bagaimana e-wallet mendapatkan profit, ada baiknya diketahui lebih jelas dulu bagaimana cara kerja e-wallet ini.

Cara Kerja E-Wallet

Tahun 2019 merupakan tahun dimana pembayaran non-tunai semakin masif. Salah satunya adalah dengan kehadiran berbagai aplikasi e-wallet seperti OVO, Dana, T-Cash, Paytren, AyoPop, Uang Hape, Go-Pay, dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak e-wallet yang ada, cara kerjanya hampir sama. Anda tinggal unduh aplikasinya, melakukan registrasi, mengisi saldo dengan sejumlah uang, dan melakukan transaksi menggunakan e-wallet ini.

Saat registrasi dilakukan, anda sudah memberikan kepercayaan pada pengelola e-wallet untuk dititipi sejumlah uang. Dan secara fisik, uang anda sudah diputar lagi. Angka digital yang ditunjukkan sebagai saldo, hanyalah perwakilan saja. Uang anda sudah bergerak entah kemana. Ya mirip cara kerja bank sih.

Setelah nominal saldo sudah muncul, anda bisa membelanjakan senilai angka yang ada disitu. Munculnya saldo mengendap biasanya disini, sebab jarang sekali ada barang atau layanan dengan tarif yang pas.

Soal transaksi inilah yang mestinya menjadi pertimbangan kala memilih e-wallet. Pasalnya e-wallet yang baik adalah e-wallet yang banyak diterima oleh vendor, baik vendor transportasi, vendor marketplace, vendor makanan, maupun vendor hiburan. Sayangnya, satu hal yang membuat bingung adalah beberapa layanan yang sering dipergunakan, memakai e-wallet yang berbeda-beda.

Ya sudah, cara kerjanya memang seperti itu saja. Lalu, darimanakah perusahaan e-wallet ini mendapatkan profit? Sebab mustahil kalau tanpa profit, banyak perusahaan baik perbankan, maupun raksasa kapital tergiur dengan bisnis ini.

Mari kita bahas cara kerja itu satu persatu. Sebab dari situlah profit e-wallet didapatkan.

Saat anda melakukan pengunduhan aplikasi dan melakukan registrasi, penyedia layanan e-wallet sudah mendapatkan profit. Pertama penambahan jumlah pemakai, dan kedua mendapatkan data pengguna, by name by address. Oke, ini bukan profit yang ternilai oleh uang, tapi ini merupakan aset yang kelak bisa meningkatkan valuasi.

Kalau proses registrasi tak mendapatkan profit langsung, maka saat pengguna mengisi saldo, barulah e-wallet mendapatkan keuntungan berupa nominal uang secara langsung. Pihak bank selaku perantara proses transfer itu akan membagi keuntungan dari nilai transaksi itu dengan pengelola e-wallet. Meskipun pengguna mengisi saldonya lewat Alfamart atau Indomart, tetap saja proses transfer akan melalui bank.

Setelah saldo terisi, pengguna tentu membelanjakan uangnya ke vendor yang sudah bekerjasama. Nah, sebelum e-wallet dipakai di marketplace, sebelumnya memang sudah ada perjanjian kerjasama dimana pihak vendor membayar sejumlah uang untuk memasang aplikasi e-wallet itu di layanannya.

Anda bisa mengambil contoh untuk hal ini pada Bukalapak yang memakai Dana atau Tokopedia yang memakai OVO. Hal ini disebabkan keduanya belum bisa membuat e-wallet sendiri. Tokopedia dengan TokoCash-nya dan Bukalapak dengan BukaDompet-nya, masing-masing gagal mendapat restu dari Bank Indonesia. Sesuatu yang sudah digenggam oleh e-wallet yang kini dipakai keduanya. Makanya kedua vendor marketplace ini tentu bersedia membayar untuk memakai fasilitas e-wallet tersebut.

Profit pun datang dari tampilan aplikasi maupun situs e-wallet. Sebab mereka menyediakan slot agar beberapa layanan yang bekerjasama dengannya mengiklankan diri untuk meningkatkan jumlah transaksi.

Makanya kembali ke awal, semakin banyak pengguna, maka nilai jual atau valuasi dari e-wallet akan meningkat. Makanya ketika sebuah marketplace berstatus unicorn seperti Tokopedia dan Bukalapak memakai sebuah e-wallet, maka valuasi e-wallet itu akan meningkat, sebab ada penambahan jumlah pengguna.

Anda boleh tidak percaya, namun kasus Go-Jek dengan Go-Pay bisa menjadi contoh. Meski berstatus unicorn dengan valuasi pada akhir 2018 mencapai Rp145 triliun, Go-Jek tidak banyak mendulang profit dari aplikasi transportasinya, Go-Ride. Namun bisnis ini tetap dipertahankan agar pengguna aplikasi tetap banyak. Bahkan ditambah pula dengan Go-Food.

Muara dari memperbanyak pilihan layanan Go-Jek itu agar penambahan konsumen atau istilahnya consumer acquisition semakin bergerak positif. Semaki banyak konsumen, maka jumlah transaksi Go-Pay terus meningkat. Dan disinilah profit itu bakal muncul.

Demikianlah artikel tentang "darimana aplikasi e-wallet meraup profit". Apabila ada yang perlu ditambahkan, silakan tulis di kolom komentar.

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

12 komentar:

  1. Sayang banget e-wallet di sini nggak bisa dipakai untuk segala jenis transaksi. Banyak yg komplain di Jakarta kalau tempat parkir A harus pakai e-wallet X sedangkan kita punya e-wallet Y. Kalau begini kan pengguna nggak dikasih hak untuk memilih ya :”””) Jahat sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul tuh, OVO emang gitu... eh keceplosan.
      Harusnya dikasih opsi pembayaran lain, bukan aplikasi tunggal.

      Hapus
  2. awalnya saya juga bingung Mas dengan aplikasi T-Cash milik Telkomsel waktu mau bayar tagihan listrik, ya gitu ceritanya,,, selalu ada saldo yang mengendap, mau transaksi lagi harus isi saldo dulu.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi saldo mengendap ini kabarnya bukan menjadi andalan ewallet meraup untung.

      Hapus
  3. Terus terang saya masih awam soal bisnis E-wallet ini bang, biarlah cukup jadi pengguna saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Artikel ini karena ada teman yang bertanya darimana ewallet mendapat profit, soalnya kesannya kayak bakar uang terus.

      Hapus
  4. Memang bikin penasaran sih, darimana perusahaan mendapat keuntungan yang besar, banyak hal yang belum kita pahami.

    BalasHapus
  5. Karena 1 e-wallet tidak bisa diterima di semua penyedia, akhirnya kita harus pny banyak mas. Kalo pny duit banyak, gampang ngebagi untuk naroh deposit hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu masalahnya Bang Day, jadinya bingung mau pake yang mana hehe

      Hapus
  6. Wah bisa dicoba tuh mas Aplikasinya, saya jadi tertarik...

    BalasHapus
  7. oalah pantesan tokocash sekarang entah dimana, ternyata nggak direstui BI toh, hehehe baru tau. kunjung balik ya mas... #jejakbiru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mas, TokoCash sama BukaDompet belum dapet izin BI. Nanti kalo udah dapet mereka beroperasi lagi.

      Hapus