23 Februari 2017

Yuk, Intip Jeroan Smartphone Kamu

Hal yang paling menarik dari smartphone adalah fiturnya, semisal body metal nan aduhai, kamera yang bening, suara yang menggelegar, ataupun dukungan 4G LTE yang mumpuni. Namun tampilan fisik yang memang terlihat kala digunakan tidak ada apa-apanya apabila tidak didukung oleh jeroan yang membentuknya. Nah, sudah tahukah kamu jeroan apa saja yang membentuk smartphone? Yuk kita intip.

Layar

Pertama yang perlu diintip adalah layar. Bagian paling luar dari inti smartphone ini sekaligus pula menjadi bagian dalam. Di bagian luarnya, kita melihat bagaimana tampilan sistem operasi berkelindan mewujudkan kegunaan dari smartphone itu sendiri.

Diluar variasi ukurannya, layar terdiri dari berbagai jenis, yakni LCD dan LED. Liquid Crystal Display alias LCD ini sering dipakai oleh kebanyakan smartphone low-end, sebab harganya cukup rendah. Jenis LCD yang digunakan untuk smartphone saat ini bernama In-Plane Switching LCD atau IPS LCD. Layar jenis ini bekerja dengan memendarkan cahaya melalui filter kristal matriks. Variasi LCD kemudian ditentukan oleh voltase yang diberikan pada filter kristal tersebut. Sehingga ada ukuran-ukuran warna yang pada akhirnya menentukan bagus tidaknya layar tersebut.

Sementara itu LED alias Light Emitting Diodes merupakan layar yang terdiri dari pendaran piksel yang bercahaya sendiri. Teknologi terbaru dari layar LED disebut dengan AMOLED atau Active Metrix Organic LED, yang pendaran cahayanya lebih terang sekaligus rendah dalam mengonsumsi daya. LED tentu lebih bagus dibanding LCD, sehingga LED terlebih AMOLED banyak dipakai oleh smartphone flagship.

Komponen smartphone (Sumber: Pocketnow.com)

Baterai

Bagian dalam yang sekaligus terlihat dari luar selanjutnya adalah baterai. Benda pipih panjang ini selalu menjadi sumber daya bagi smartphone. Saat ini smartphone sudah banyak menggunakan baterai tanam alias non-removable. Kebanyakan baterai saat ini masih menggunakan jenis Lithium-ion atau yang biasa tertulis di bagian baterainya dengan kode Li-Ion. Jenis ini masih dipercaya bertahan lama dan menyimpan daya yang cukup bagus sebagai sumber daya smartphone. Fitur terkini yang terus dikembangkan dalam menyertai baterai setelah fast charging oleh Qualcomm, adalah wireless charging.

System on a Chip

Benda ini jarang disebut-sebut, sebab sistem kerjanya 'hanya' merangkaikan saja. System on a Chip atau sering disebut dengan SoC menjadi semacam dudukan bagi CPU yang kelak menempati ruang yang ada di SoC. Pembuat SoC yang banyak dikenal di ranah smartphone adalah Samsung, Qualcomm, MediaTek, dan Huawei.

CPU

Kebanyakan CPU dibentuk arsitekturnya oleh ARM, sebuah perusahaan komputer asal Inggris. Teknologi CPU yang dimiliki oleh ARM ini sudah dilisensikan dengan sebutan Cortex-A. Dan masing-masing pembuat SoC diatas mengambil lisensi atas Cortex dari ARM dan disesuaikan sendiri dengan SoC masing-masing.

Jika diibaratkan kepala, SoC adalah tempurung kepala dan CPU adalah otaknya.

GPU

GPU merupakan kependekan dari Graphic Processing Unit yang dibuat khusus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan tampilan grafis dalam smartphone. GPU jika di komputer adalah kartu grafis yang letaknya memang beriringan dengan prosesor atau CPU.

Pembuatan GPU masih dikuasai tiga nama besar yakni ARM dengan Mali, Qualcomm dengan Adreno, dan Imagination dengan PowerVR. GPU dari ARM dan Qualcomm banyak dipakai oleh smartphone Android, sementara Imagination dipakai oleh Apple.

MMU

Memory Management Unit (MMU) sebenarnya merupakan bagian dari CPU. Hanya saja secara fungsi ia memegang peranan yang berbeda dari CPU. MMU berfungsi membagi memori virtual sesuai dengan kemampuan memori fisik smartphone. Misalnya sebuah samrtphone punya memori internal 16GB dan eksternal sebesar 32GB, maka pembagian tersebut merupakan tugas MMU, dari mulai mengidentifikasi dan menempatkan aplikasi dan file di kedua jenis penyimpanan tersebut.

L1 dan L2 Cache

Lalu lintas memori yang masuk ke prosesor seringkali mengalami hambatan. Jika diibaratkan, jalur lalu lintas ini mirip dengan leher botol. Oleh karena itu potensi sumbatannya begitu besar. Untuk mengatasi sumbatan memori yang berasal dari RAM, dibuatlah L1 dan L2 Cache untuk menampung sementara agar CPU bisa bekerja maksimal dan tak ada data yang menumpuk.

Jadi semua data yang bakal masuk ke prosesor disimpan dalam bentuk cache di kedua benda ini. L1 atau Level 1 Cache lokasinya lebih dekat dengan CPU, dan bekerja lebih cepat, namun punya kapasitas yang jauh lebih kecil. L1 punya kapasitas antara 32 Kb hingga 48Kb. Sementara itu L2 punya kapasitas penyimpanan cache sebesar 512Kb hingga 4MB.

Memori dan Penyimpanan

Mengapa memori dan penyimpanan dipisah? Sebab jika kita berbicara memori, sebaiknya dirujuk kepada benda yang bernama RAM. RAM alias Random Access Memory ini bertugas untuk melakukan sokongan terhadap aplikasi yang sedang berjalan. Memori ini menggabungkan memori yang dibutuhkan sistem operasi, sekaligus memori yang digunakan oleh aplikasi. Semakin banyak aplikasi yang dibuka, maka semakin besar RAM terpakai. Google menyarankan sebuah smartphone dengan Android 7.0 paling tidak harus didukung oleh RAM sebanyak 2GB.

Sementara itu jika berbicara dengan penyimpanan, maka kita pun berbicara dengan penyimpanan yang digunakan smartphone untuk menyimpan file dan aplikasi secara fisik. Maksudnya jika aplikasi atau file yang kita simpan berukuran 100 MB, maka kapasitas simpan smartphone kita bakal berkurang 100 MB. Banyak smartphone sekarang yang memungkinkan penambahan penyimpanan eksternal hingga ratusan GB.

Konektivitas

Tentu saja kegunaan paling vital dari smartphone adalah kemampuannya dalam berkomunikasi. Smartphone punya opsi 3G, 4G LTE, WiFi, dan Bluetooth sebagai sarana berkomunikasi. Dan opsi tersebut butuh perangkat keras untuk mengaktifkannya secara terpisah.

Selain komponen-komponen diatas, yang tak boleh dilewatkan begitu saja adalah kamera, speaker, serta jack USB maupun jack phone. Sebab meski kita tidak begitu paham bagaimana perakitan smartphone itu, paling tidak kita tahu istilah-istilah yang membentuk smartphone yang setiap hari kita pegang itu.

Sumber: Androidauthority.com

22 Februari 2017

Inilah Perbedaan Nissan dan Datsun

Nissan merupakan pabrikan mobil asal Jepang. Ya, jika alergi dengan buatan Korea apalagi China, perlu ditekankan lagi bahwa Nissan adalah pabrikan yang berpusat di Nishi-ku, Yokohama, Jepang. Lalu, Datsun sih darimana? Ya sama sih dari Jepang juga, bahkan lahir dari rahim Nissan.

Nissan bermula dari The Kwaishinsha Motor Car Works yang didirikan oleh Masujiro Hashimoto pada tahun 1911. Kwaishinsha kemudian memproduksi mobilnya yang pertama tiga tahun kemudian. Mobil itu disebut dengan DAT. Nama DAT diambil dari nama keluarga Masujiro, yakni Den Kenjiro, Aoyama Rokuro, dan Takeuchi Meitaro.

DAT kemudian dipakai sebagai nama perusahaan pada 1925, yakni DAT Motorcar Co, setelah sebelumnya memakai nama Kwaishinsha Motorcar selama tujuh tahun. Mungkin karena Jepang sedang memasuki masa peperangan, maka mobil penumpang tidak begitu laku di negeri matahari terbit ini. DAT pun memproduksi truk sebagai produk utama perusahaan.

Sementara itu, geliat kekuatan baik dari sisi politik dan ekonomi hadir dari sosok Yoshisuke Aikawa. Pria kelahiran Yamaguchi, Jepang pada 1880 ini kemudian mengambil alih sebuah perusahaan induk, Nihon Sangyo, dari kakak iparnya pada 1928. Nihon Sangyo merupakan kepanjangan dari Nissan. Sebab mengguritanya bisnis Nissan di berbagai bidang, perusahaan ini pun akhirnya mampu membeli lini produksi mobil kecil DAT Motor pada 1933.

DAT yang saat itu sedang memproduksi merk Datson (Datson = Son of DAT, anak DAT) akhirnya diubah menjadi Datsun. Sebab kata 'son' dalam bahasa Jepang berarti kehilangan.

Singkat cerita, Nissan kemudian berkembang setelah prahara jaman peperangan yang dialami bangsa Nippon berakhir. Hingga kini, Nissan Motors Company Ltd telah punya empat lini produksi yang membuat jenis mobil yang berbeda-beda.



1. Infiniti

Nissan Infiniti merupakan lini produksi Nissan yang membuat mobil premium alias mobil mewah. Sayangnya Infiniti mengalami kelesuan dalam menghadapi pasar Indonesia. Bahkan sepanjang tahun 2016, Infiniti baru bisa menjual satu unit mobil saja. Kondisi yang berbalik jika dibandingkan dengan penjualan mobil Eropa dan Jepang lainnya.

2. Nismo

Nissan punya produsen mobil-mobil balap yang disebut Nissan Motorsport International Limited disingkat Nismo. Selain melakukan produksi, lewat Nismo, Nissan pun berpartisipasi dalam beberapa ajang balapan seperti JSPC, JTCC, 24 Hours of Le Mans, Super GT, dan 24 Hours of Daytona.

3. Nissan

Ya, lini produk yang satu ini dikhususkan untuk pembuatan mobil-mobil sehari-hari. Produknya biasa terlihat di jalanan Indonesia, seperti Nissan X-Trail, Nissan Terrano, Nissan March, Nissan Grand Livina, dan lainnya.


Baca juga:



4. Datsun

Datsun bukan lagi DAT yang dulu, namun demi mengenang sejarahnya nama Datsun tetap dipakai. Hanya saja lini produksi Datsun dibentuk untuk membuat mobil-mobil low-cost, ya mobil yang berharga murah.

Datsun menyasar pangsa pasar Indonesia yang dihuni oleh kelas menengah yang ingin berkendara roda empat, namun memiliki budget pas-pasan. Dan strategi ini pun sukses, sebab menurut informasi yang dihimpun dari Detik Oto, Datsun berhasil mendongkrak angka penjualan Nissan Motor Indonesia, terutama di Jawa Barat.

Jadi, sudah tahu dimana letak perbedaan Nissan dan Datsun? Silakan share di kolom komentar ya.

Tak Hanya 3310, Ponsel Nokia Unik Ini Seharusnya Dihidupkan Lagi

Jika ditanyakan berita tentang ponsel apa yang cukup menyita perhatian beberapa minggu ini? Tak salah apabila jawabannya adalah tentang Nokia 3310 yang akan dibangkitkan lagi dari kubur. Ya, ponsel jadul Nokia 3310. Ponsel yang pernah dirilis tahun 2000 dan mengalami diskontinu pada lima tahun kemudian.

HMD Global Oy sebagai pemilik nama Nokia memutuskan bakal kembali mengenalkan ponsel yang telah terjual 160 jutaan unit lebih itu pada agenda World Mobile Congress 2017 di Barcelona. Nokia 3310 yang baru akan dimodernisasi meski masih mempertahankan bentuk lawasnya. Namun tentu saja meski 3310 melegenda, HMD mestinya memikirkan pula ponsel Nokia lain yang cukup unik untuk dihadirkan kembali di rimba pasar elektronik.



Mengapa ponsel-ponsel Nokia perlu dihadirkan lagi? Selain betapa model smartphone Android yang itu-itu saja, aroma nostalgia pun bisa mengalahkan segalanya. Sebab ketika jaman Nokia berjaya, mereka yang mendamba hanya mampu dibelikan orang tua saja. Dan kini setelah bekerja, ponsel pertama yang dimodernisasi tentu akan dinanti sedemikian rupa.

Nah, inilah ponsel-ponsel Nokia yang perlu dipertimbangkan oleh HMD untuk diproduksi ulang. Selamat bernostalgia.

Nokia 8110

Penikmat The Matrix tentu akan sepakat jika ponsel tipe sliding ini masuk dalam daftar ponsel yang wajib dibangkitkan oleh HMD. Sebab ponsel yang jika masih hidup telah berusia 21 tahun ini pernah dipakai oleh Neo ketika berbicara dengan Morpheus sebelum mengenal dunia Matrix. Meski begitu, Nokia 8110 tak cuma menarik hanya dalam The Matrix.

Nokia 8110 sering disebut sebagai 'banana phone' sebab bentuknya yang mirip kontur pisang, sedikit melengkung. Hal ini membuat prosesi komunikasi seluler lebih mantap, sebab bentuknya mengikuti jalur telinga dan mulut yang memang tidak lurus. Ya, meski begitu tentu saja dengan slide-cover yang ada pada ponsel ini selain berfungsi melindungi tombol, juga membuat pemakainya seganteng Keanu Reeves.

Nokia 8110 dalam film Matrix / Sumber: red8.mx


N-Gage

'Mother of gamer phone' menurut saya layak disematkan kepada N-Gage, sebab bentuknya yang memang ditujukan untuk memainkan game. Ponsel yang pertama kali dirilis pada tahun 2003 ini punya bentuk yang tidak biasa dan lebih mirip kepada stik game. Konsekuensi dari posisi tombol inilah yang membuat Nokia menempatkan speaker dan mic untuk menelepon letaknya ada di atas. Dan bagian ini yang tidak menarik. Sebab kita mesti menelepon dengan memiringkan ponsel. Cukup aneh, tapi unik.

N-Gage saat dipakai / Sumber: Cybershack.com


Nokia N93i

Jika N-Gage diciptakan khusus untuk gamer, maka Nokia N93i khusus untuk pembuat video. Ponsel yang pertama kali dirilis pada 2007 ini memang punya bentuk yang bisa disesuaikan hingga mirip camcorder. Namun tak ada yang lebih membuat ponsel ini lebih dikenal selain ia mampu mengubah diri menjadi robot. Eh, itu hanya secuil adegan di film Transformers.

Nah, bukannya keren kalau ponsel kita mampu bertranformasi menjadi kamera video? Sebab dengan genggaman yang pas ketika N93i diubah bentuknya, dan tinggal resolusi kamera dan lensanya bisa ditingkatkan lagi oleh HMD.

Nokia N93i edisi Transformers / Sumber: tfw2005.com


Nokia 808 PureView

Inilah ponsel terakhir Nokia sebelum berpindah ke Microsoft. Sebenarnya langkah Nokia memang sudah tepat dengan peluncuran ponsel ini, sebab vendor Finlandia ini sudah membaca pasar yang bakal memanjakan penggunanya dengan kapasitas sensor kamera yang mumpuni. Sehingga keunggulan ponsel yang dirilis pada 2012 ini dibekali sensor PureView sebesar 41,3 MP. Hingga saat ini Nokia 808 PureView masih memegang rekor sebagai ponsel dengan resolusi kamera paling besar.

Di tangan Microsoft Nokia 808 PureView berganti nama menjadi Nokia Lumia 1020 setahun setelah peluncurannya. Di tangan Microsoft, Nokia 808 sedikit diubah bentuknya dan sistem operasi Symbian berganti menjadi Windows 8. Sementara itu, PureView dan besar sensor yang dimilikinya masih dipertahankan. Namun sayang, setelah Nokia 808 mengalami diskontinu pada 2015, Nokia Lumia 1020 pun menyusulnya setahun kemudian.

Dengan pertimbangan sensor yang besar, Nokia 808 PureView layak untuk dibangkitkan kembali dengan sistem operasi Android dan pembenaman kamera yang besar. Kalau boleh usul, kameranya jangan di belakang, tapi di depan sebagai selfie-cam. Bukannya mantap kalau punya kamera khusus selfie sebesar 41,3 MP?

Nokia 808 PureView / Sumber: gadgetwiki.com

19 Februari 2017

Advan G1, Smartphone Lokal Berkamera Setara iPhone

Advan G1 telah bergema setidaknya pertengahan 2016 silam. Medio Agustus di tahun yang sama, pihak Advan memang telah menyebut-nyebut kalau pasar Indonesia akan diramaikan oleh kehadiran smartphone unggulan dari brand yang diklaim asli Indonesia ini. Dan tempo hari, pada Jum'at (17/02) bertempat di studio RCTI, Advan G1 resmi diluncurkan.

Sebagaimana layaknya pasar barang-barang sekunder, pasar smartphone pun punya ciri yang sama. Konsumen hanya melirik apabila sebuah produk punya ciri khas, unik, dan harganya bersaing. Lalu apa ciri khas dari Advan G1 sehingga brand yang menginduk pada PT Intech Surya Abadi ini optimis terhadap raihan targetnya?


Ramainya tuntutan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) oleh pemerintah membuat produsen smartphone, baik lokal apalagi luar negeri mesti memutar otak untuk memasarkan perangkat 4G mereka ke Indonesia. Tak terkecuali Advan. Meski menyandang sebagai brand lokal, namun tetap saja tidak seluruhnya jeroan perangkat itu bisa diproduksi di dalam negeri. Saat ini Advan baru memenuhi TKDN hanya 20 persen. Nah, agar punya ciri khas dan keunikan sekaligus mampu menambah persentase TKDN, Advan pun menjawabnya dengan Advan G1.

Advan G1 menggunakan sistem operasi yang asli Indonesia. Sistem operasi ini diberi nama IDOS alias Indonesia Operating System. Eh, sebenarnya nggak asli banget sih. Jadi sistem operasi yang sudah diluncurkan semenjak launching Advan Barca Hifi M6 pada 2015 silam ini merupakan modifikasi dari sistem operasi sejuta umat, Android. Kalau Barca Hifi memakai Android Kitkat, Advan G1 memodifikasi Android Marshmallow.

Pihak Advan sendiri, sebagaimana dikutip di berbagai media, mengklaim kalau IDOS ini merupakan penyesuaian terhadap kebiasaan orang Indonesia dalam menggunakan smartphone. Sebab, sebelum memproduksi smartphone ini, Advan telah melakukan riset mendalam, yang salah satunya adalah menyebarkan angket kepada pengguna smartphone.

Meski begitu, IDOS bukan satu-satunya ciri khas dari Advan G1, sebab untuk meramaikan pasar smartphone kekinian dibutuhkan penetrasi dari sisi kamera. Nah, Advan G1 kameranya memang standar keumuman smartphone saat ini, yakni 'cuma' 13 MP kamera belakang dan 8 MP kamera depan. Namun jika ditengok jeroannya, Advan G1 dibekali dengan lensa Largan. Sebuah lensa yang diproduksi oleh pabrikan asal Taiwan, Largan Precision, yang dikenal dengan keunggulan hasil jepretannya. Largan Precision pun merupakan mitra dari Apple untuk memperkuat kamera iPhone. Dan kamera yang dimiliki Advan G1 ini diklaim setara dengan iPhone 6s.


Advan G1 mengusun body yang sedang tren di ranah smartphone, sebab jika dilihat sekilas bodinya mirip-mirip Asus Zenfone 3, mirip juga dengan Vivo V5, hampir sama pula dengan Oppo F1s, dan memang mirip dengan smartphone yang lainnya lagi. Ya begitulah kalau sedang tren. Mungkin desainernya sama kali ya. Tapi kelebihan Advan G1 adalah komposisi bodinya benar-benar hampir seluruhnya terbalut dengan metal. iPhone yang 95 % metal pun kalah, sebab Advan G1 diklaim bodinya 98 % metal.

Sayangnya, layar Advan G1 belum full HD. Sementara jika ditengok harga yang ditawarkan, semestinya layar yang diusung sudah diatas 1280x720p. Untunglah Advan G1 terbantu dengan dukungan layar IPS selebar 5 inci, dan dibekali dengan fitur 2,5D. Fitur 2,5D adalah fitur lengkungan pinggir yang dipakai oleh Samsung Galaxy S7 Edge. Jadi layarnya tidak datar, tapi menyisakan lengkungan di samping sehingga cukup tahan jika benturan dan menyisakan tampilan layar yang unik.

Inilah spesifikasi lengkap yang ditawarkan Advan G1

SpesifikasiAdvan G1
LayarIPS 5 inci; 720x1280 piksel
Fitur lengkung 2,5D
ProsesorChipset Mediatek MT8735
CPU Quad-core 1.0GHz Cortex-A53
GPU Mali MT720MP
MemoriInternal 16GB
Eksternal up to 128GB
RAM 3GB
KameraKamera Utama 13 MP, Autofocus, LED flash
Kamera Depan 8 MP
Sistem OperasiAndroid Marshmallow 6.0
IDOS (Indonesia Operating System)
BateraiNon-removable, Li-on 2600 mAh
Fast Charging

Berbeda dengan smartphone yang lain, Advan G1 dalam satu bundle-nya terdapat box terpisah yang berisi earphone. Kabarnya, earphone-nya sendiri berharga Rp.500 ribuan. Sementara seperangkat Advan G1 menurut klaim Advan sendiri berharga hampir Rp.7 jutaan.

Lantas berapa harga yang dibanderol untuk meminang Advan G1? Berikut ini harga di dua e-commerce lokal. Harganya memang berbeda sedikit, namun Lazada memberikan bonus berupa voucher MAP sebesar Rp.200.000,- yang bisa ditukar di berbagai offline merchant. Ini dia harga yang ditawarkan:

Harga Advan G1 Rp.2.299.000,-Harga Advan G1 Rp.2.155.000,-
Klik logonya untuk melihat harga selengkapnya.

16 Februari 2017

Stalking Akun Facebook Dengan Stalkscan

Facebook pernah meluncurkan Graph Search pada tahun 2013. Namun tak lama kemudian, Facebook pun menarik kembali fitur tersebut dan menggantikannya dengan pencarian biasa. Mengapa Facebook menariknya?

Graph Search mampu menampilkan big data Facebook dalam sebuah pencarian. Misalnya kita ingin mencari foto yang pernah diunggah pada 2010. Tinggal ketik 'Photos by Bang Doel from 2010', maka tanpa mengorek-ngorek album foto, Graph Search akan menampilkannya di hasil pencarian.



Contoh yang lain adalah kita ingin mencari tempat mana saja yang dikunjungi teman kita dengan nama Si Anu pada 2010. Maka ketikkan saja di kolom pencarian dengan kalimat 'Place visited by Si Anu from 2010'. Hasilnya akan muncul deretan tempat yang pernah dikunjungi Si Anu pada tahun tersebut. Keren, atau justru mengerikan?

Menurut saya ini cukup mengerikan, pun banyak pihak berpendapat yang sama. Fitur Graph Search cukup mengerikan untuk tetap ditampilkan secara umum. Sehingga Facebook pun menariknya tak lama setelah peluncurannya. Hanya saja orang-orang sudah tahu kalau ada fitur semacam itu di Facebook. Sehingga banyak juga yang berupaya memanggilnya kembali, kemudian hasilnya dijadikan sebagai sebuah perangkat lunak dan dijual cukup mahal.

Seluruh jenis perangkat lunak yang demikian memakai Graph Search sebagai basis data. Graph Search yang terhubung dengan big data Facebook dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Biasanya banyak digunakan oleh internet marketer yang menyasar pengguna Facebook. Sebab dengan memakai Graph Search, target marketing yang disasar akan sangat terperinci. Salah satu contoh perangkat lunak ini adalah The Graph.

Enaknya memakai The Graph, kita bisa menyaring pengguna Facebook sesuai dengan keinginan kita. Tapi artikel ini bukan sedang mereview The Graph. Meski tidak terkait dengan The Graph dan perangkat lunak sejenisnya, kita pun masih bisa memanfaatkan fitur Graph Search apabila mendaftar sebagai pengiklan di Facebook. Tapi tetap saja tidak semuanya ditampilkan sebagaimana layaknya Graph Search dulu.

Jadi kalau mau stalking pengguna Facebook, sepertinya pintu sudah tertutup kecuali untuk cara-cara yang manual. Eh tapi ternyata, baru-baru ini hadir sebuah situs yang memungkinkan kita bisa menampilkan big data Facebook layaknya Graph Search. Cara penggunaannya pun sangat mudah.

Nama situsnya Stalkscan. Ya sepertinya memang buat stalking secara personal. Sebab disini, kita hanya bisa melakukan stalking satu persatu akun Facebook. Dan tidak bisa mengelompokkannya seperti fitur Graph Search.


Untuk melakukan stalking pada salah satu akun Facebook, yang pertama kali dilakukan adalah mengunjungi akun yang bersangkutan. Kemudian salin tautan profilnya, misalnya https://facebook.com/profile.php?id=xxx atau https://facebook.com/xxx. Baru kemudian berkunjung ke Stalkscan. Berikut caranya:

1. Di kolom pencarian, masukkan tautan akun profil yang sudah kamu salin.
2. Klik logo pencarian di sampingnya.
3. Tunggu sejenak, dan jika tautannya benar, maka akan muncul ID Facebook di bawahnya.
4. Jika sudah benar, silakan scroll ke bawah, disitu tersaji seluruh data akun tersebut, bahkan hingga histori aktivitasnya.

Stalkscan kabarnya tidak melanggar privasi Facebook. Sebab ketika seseorang tidak membolehkan alias menyembunyikan kegiatannya untuk jaringan tertentu, maka diluar itu Stalkscan tak bisa menampilkannya.

Dan jangan kaget apabila situs tersebut dibuat oleh sekelompok hacker yang tergabung dalam Inti De Ceukelaire. Meski begitu tampaknya kelompok hacker asal Belgia ini bukan hacker black hat. Mereka sepertinya hanya sekelompok orang yang pekerjaannya mencari-cari bugs dari program-program yang sudah diluncurkan.

Mungkin, Stalkscan ini adalah hasil dari temuannya terhadap fitur Graph Search. Tapi, apapun terima kasih kepada mereka. Dan saya pun khawatir situs ini tidak berumur panjang.

14 Februari 2017

Nokia 3310 Bakal Kembali, Serius?

Generasi milenial yang saat ini berkelindan di jejaring sosial, mungkin hanya mengenal Nokia 3310 lewat meme. Di banyak meme, ponsel ini dikenal sebagai perangkat nan bandel, sebab desainnya tahan banting, baterainya awet, suaranya renyah, dan nyaman digenggam. Ya, hanya dari meme, sebab ponsel ini tinggal nama belaka.

Namun siapa sangka Nokia 3310 bakal direinkarnasi, bangkit dari kubur, dan dihidupkan kembali di pasaran. Nokia 3310, selain kisah nostalgianya, tentu saja akan mengobati kerinduan akan ponsel yang tahan lama dan tidak menjadikan penggunanya sebagai candu media sosial.


Tapi apakah kabar bakal diluncurkannya Nokia 3310 ini memang benar?

HMD Global Oy adalah pemegang merk Nokia saat ini. Setelah meluncurkan Nokia 6 di Cina awal tahun ini, pabrikan Finlandia tersebut akan membawa Nokia 5 dan Nokia 3 guna menerobos pasar di bawah segmen yang telah disasar Nokia 6. HMD akan membawa kedua perangkat tersebut ke Mobile World Congress 2017 mendatang di Barcelona.

Sebab menyasar target yang lebih rendah, Nokia 5 kabarnya akan dibekali dengan spesifikasi yang sedikit saja di bawah Nokia 6. Menurut Venture Beat, Nokia 5 akan memakai layar 5,2 inci dengan resolusi 720p, RAM 2GB, dan kamera 12 MP. Harganya berada pada kisaran USD 200, beda sekitar USD 50 dibanding Nokia 6. Sementara itu, Nokia 3 hanya dibanderol USD 150. Dan tentu saja sepsifikasinya akan berada di bawah Nokia 5.

Namun tak ada kabar yang paling mengejutkan sekaligus bikin senyum, selain HMD yang akan membawa serta Nokia 3310 pada peluncuran dua perangkat yang telah disebutkan di MWC 2017 kelak. Ponsel yang dirilis 17 tahun silam ini akan dihadirkan kembali sesuai dengan model jadulnya. Hanya saja mungkin akan ada sentuhan modern yang bakal diberikan oleh HMD. Apa itu? Belum ada rumor lanjutan.

Hanya saja, di beberapa situs berita teknologi, HMD bakal membanderol ponsel ini sebesar USD 60. Cukup mahal atau itu memang senilai dengan nilai nostalgia di belakangnya?


Sumber: venturebeat.com, thenextweb.com

12 Februari 2017

Vivo V5 Plus Hadir Dengan Dua Kamera Depan

November 2016 lalu, Vivo dengan berani meluncurkan Vivo V5 dengan slogan 'perfect selfie'. Sebab sorotan publik memang tertuju pada kamera dengan megapiksel besar yang justru ditaruh di depan demi memaksimalkan hasil swafoto. Dan melihat pangsa pasar yang cukup prospektif, Vivo pun melansir kembali varian terbarunya, yakni Vivo V5 Plus.

Vivo V5 Plus memang menyemarakkan smartphone kelas atas yang sering muncul dengan dua versi. Misalnya iPhone 7 dan iPhone 7 Plus, Google Pixel dan Google Pixel XL, dan lainnya. Namun kedua varian Vivo V5 ini memang sedikit berbeda meski memiliki ukuran layar yang sama.

Pevita Pearce, bersama Afghan, menggeser posisi Agnes Monica sebagai brand ambassador Vivo.

Desain

Vivo V5 Plus hadir dengan desain yang tak jauh berbeda dengan Vivo V5. Hadir dengan balutan body metal dengan tampilan premium yang menawan, Vivo V5 Plus memang sedikit mirip dengan iPhone. Kemiripan ini terlihat dari posisi penguat sinyal yang berbeda dari Vivo V5. Vivo V5 Plus punya penguat sinyal yang berada di bagian paling atas dan paling bawah.

Layar

Vivo V5 Plus mengusung layar Full HD 1920 x 1080 berukuran 5.5 inci. Layar yang cukup mengesankan ini pun sudah dibalut oleh kaca pelindung dari Gorilla Glass 5. Ya, versi paling baru dari sang pelindung layar legendaris ini sudah bisa dinikmati oleh pengguna Vivo V5 Plus.

Performa

Satu hal yang pasti ditingkatkan oleh Vivo adalah persoalan performa perangkat. Vivo V5 Plus punya jeroan yang disesaki oleh Qualcomm Snapdragon 625 Cortex-A53. Prosesor yang memiliki clocked speed 2.0 GHz tersebut pun dibantu oleh kartu grafis dari Adreno 506 GPU. Ditambah dengan RAM berkapasitas 4GB, maka kemampuan multitasking dari perangkat ini tidak diragukan lagi.

Baca juga



Sayangnya jika melihat baterai Vivo V5 Plus, agaknya cukup membuat khawatir kehabisan daya. Namun ketika menengok kembali prosesor Snapdragon 625 yang berada di balik dapur pacunya, baterai sebesar 3055 tidak menjadi masalah.

Penyimpanan Vivo V5 Plus dibekali dengan ROM sebesar 64GB, yang pastinya cukup untuk ratusan foto dan video pendek. Atau daya simpan sebesar itu masih kurang? Tenang saja, ada tambahan slot microSD yang berada di samping perangkat untuk mengatasinya.

Oh iya, Vivo V5 Plus berjalan di sistem operasi Android 6.0 Marshmallow.



Kamera

Fitur ini memang paling mencolok dan cukup banyak dibicarakan di internet. Setelah kamera depan besar telah sukses menyita perhatian dalam peluncuran Vivo V5, kini Vivo dengan berani menambahkan sesuatu di Vivo V5 Plus.

Memang posisi Vivo V5 Plus masih bertahan dengan kamera depan yang mengusung 20 MP dan kamera belakang yang masih bertahan dengan 13 MP. Sama seperti Vivo V5. Namun ada tambahan kamera di bagian depan sebesar 8 MP yang berfungsi untuk memberikan efek bokeh saat pengambilan swafoto.

Harga

Nah ini yang paling penting, sebab antara Vivo V5 dan Vivo V5 Plus punya banyak kemiripan meski performanya jauh lebih meningkat. Vivo sendiri mengklaim bahwa kedua perangkat tersebut punya segmentasi yang berbeda. Jadi ada jarak yang memang sengaja diciptakan agar keduanya tidak bertemu dalam satu segmen konsumen sehingga terjadi 'kanibalisme'. Untuk itu, setelah membanderol Vivo V5 dengan harga Rp.3.499.000,- maka kali ini Vivo memberikan harga yang lebih tinggi.

Harga yang ditawarkan untuk Vivo V5 Plus adalah Rp.5.499.000. Bagaimana, apakah harganya sudah sesuai?