13 Agustus 2017

Eksperimen Akun Palsu di Instagram Yang Mengejutkan

Pasca dibeli Facebook pada 2012 silam, Instagram terus melejit. Sebuah aplikasi yang hanya memiliki pengguna 40 jutaan saja, Instagram memang aplikasi kecil pada masanya. Namun visi Mark Zuckerberg ketika melihat aplikasi berbagi foto ini menepis segala kritik yang pernah terlontar. Dan ini terbukti setelah satu tahun kemudian, Instgram tumbuh dua kali lipat, jadi 90 juta pengguna.

Instagram tumbuh menjadi aplikasi raksasa, yang kini punya 700 juta pengguna. Selain mendapat berkah karena hubungan saudaranya dengan Facebook, Instagram berbeda sejak lahir. Rumusan postingan yang menarik dalam media sosial, yakni postingan yang memiliki gambar, alih-alih tulisan panjang, telah dibawa oleh Instagram semenjak dibuat. Sehingga pengguna Instagram diuntungkan dengan konsep berbagi foto ini, terlebih buat selebgram.

Istilah selebgram tentu tak perlu dijelaskan panjang-lebar 'kan? Yang perlu penjelasan, tentu saja sebuah pertanyaan mengapa di Facebook tak ada Facebook-seleb, sementara di Instagram ternyata ada. Pada Instagram, konsep membangun akun dimulai dari follow atau 'mengikuti'. Konsep ini erat kaitannya dengan influence yang dipakai dalam strategi social media marketing. Semakin banyak sebuah akun memiliki followers, semakin tinggi pula tingkat influence-nya.


Facebook tentu tak memiliki konsep semacam itu. Meski saat ini punya konsep yang sama dalam bentuk 'follow' serta 'like' dalam akun fanpage, namun Facebook merupakan media sosial yang berbeda.

Sayangnya belum ada kesepakatan tertulis yang menjelaskan seberapa banyak followers sebuah akun untuk bisa disebut sebagai selebgram. Tapi ketika akun sudah punya puluhan ribu followers, tentu bisa lah disebut punya influence yang bagus. Sehingga akun-akun semacam ini dilirik oleh brand untuk memberikan endorse atau mengiklankan produknya. Dan tentu saja uang pun mengalir.

Jika target menjadi influencer adalah soal uang, mungkin tak ada salahnya kalau menengok eksperimen Mediakix. Agen pemasaran digital yang berbasis di Amerika ini membuat sebuah eksperimen di Instagram yang cukup mengejutkan.

Eksperimen mengejutkan dalam menciptakan akun Instagram palsu. Ya, mengejutkan!

Mediakix membuat dua buah akun palsu, @calibeachgirl310 dan @wanderingggirl. Untuk akun @calibeachgirl310, Mediakix membuat konsep seorang gadis pantai. Akun ini dibuat dengan memakai seorang model lokal dengan aneka photoshoot dalam satu waktu dan beragam gaya yang menghasilkan puluhan foto cantik dan seksi. Kemudian untuk @wanderingggirl dibuat konsep seorang gadis traveller. Kalau akun ini memakai foto-foto wisata yang diambil dari internet.

Akun @calibeachgirl310 yang kini sudah memiliki 51 ribu followers.

Akun @wanderingggirl yang kini sudah memiliki 31 ribu followers.

Setiap harinya, kedua akun ini mengunggah foto dengan konsisten. Foto-foto tersebut diunggah sesuai dengan konsep pada masing-masing akun. Kemudian secara perlahan, kedua akun ini diberikan followers bayaran. Biayanya $8 per 1.000 followers. Followers ini pun dibeli secara perlahan untuk menghindari banned dari Instagram.

Totalnya Mediakix membayar hingga $120 untuk 15.000 followers. Namun biayanya pun tak hanya itu saja, sebab untuk memancing orang untuk tertarik atau istilahnya membuat account engagement maka dibuatlah comment dan like dalam setiap postingan kedua akun itu. Mediakix pun membayar lagi sebesar 12 sen per komentar serta $9 per 1.000 likes. Untuk setiap unggahan foto, Mediakix membuat 2.500 like dan 10 hingga 50 komentar.

Menurut situs Mediakix sendiri, eksperimen ini menghabiskan anggaran sekitar $300. Kedua akun mendapatkan followers 80 ribu lebih. Akun @calibeachgirl310 memiliki 51 ribuan followers, sementara @wanderingggirl mendapatkan 31 ribuan followers. Sepertinya nggak perlu dibahas ya mengapa gadis pantai lebih banyak followers-nya dibandingkan dengan gadis traveller. Sebab hal yang lebih menarik untuk dibahas adalah dari budget $300 tersebut, Mediakix mendapatkan sponsor!

Ya, kedua akun palsu tersebut berhasil menggaet sponsor. Meski Mediakix tidak menyebutkan nominalnya, tapi sponsor untuk kedua akun tersebut sepertinya menggiurkan. Akun @calibeachgirl310 mendapatkan sponsor dari perusahaan pembuat baju renang dan sebuah perusahaan makanan dan minuman. Sementara @wanderingggirl mendapatkan sponsor dari perusahaan minuman beralkohol serta perusahaan makanan dan minuman yang sama dengan akun satunya.

Tujuan eksperimen Mediakix ini berupaya membuktikan kalau inlfluencer palsu media sosial, khususnya Instagram, benar-benar ada dan membahayakn industri digital marketing.

Menurut Mediakix sendiri, perputaran uang di industri influencer Instagram sendiri mencapai $1 Milyar. Angka ini bakal berlipat ganda pada 2019 nanti. Sehingga banyak pihak berbondong-bondong untuk berebut kue yang sama. Sayangnya, banyak dari para pihak tersebut memanjat pohon persaingan dengan cara yang kurang elok, dan salah satunya adalah dengan cara seperti yang telah dicoba oleh Mediakix tersebut.

Sementara di pihak yang lain, brand ingin cepat merangsek ke pasar dan membelanjakan uangnya untuk menciptakan brand awareness pada calon konsumen. Namun daya gedor brand ini sering tidak dilengkapi pengetahuan yang mumpuni untuk membuat keputusan tentang kanal media sosial mana yang layak untuk diberikan anggaran sponsor. Sementara, ketika muncul sebagai iklan biasa di Instagram, brand mungkin kurang percaya diri sebab banyak nasehat dari ahli marketing yang menyarankan untuk beriklan native di kanal media sosial, dan salah satunya di akun selebgram.

Memang sih, sepertinya Mediakix juga berupaya untuk melakukan promo terhadap jasa konsultasi mereka di bidang digital marketing. Tapi eksperimen ini setidaknya membuka mata, bahwa cara-cara yang ditempuh untuk menjadi influencer dengan menciptakan 'fake account' sepertinya telah terbongkar. Ya, meski tak ada salahnya dicoba juga *ketawa jahat*.
Read More

4 Agustus 2017

Waspada dan Bijaklah Menggunakan Aplikasi Testony

Semakin tinggi pohon semakin kencang angin bertiup. Begitulah pepatah yang saat ini berlaku pada Testony. Aplikasi yang dibuat oleh  perusahaan pengembang aplikasi asal Jerman ini pada mulanya dianggap biasa saja. Tapi setelah Testony viral dan menghiasi beranda Facebook setiap harinya, banyak pihak mulai menengok tebak-tebakan random ini.

Seorang pendeta Nigeria menyebut Testony sebagai aplikasi setan, setelah salah satu sesi pertanyaannya menyinggung ajaran Kristen yang mapan. Mungkin tinggal menunggu waktu pula lembaga keagamaan di Indonesia bersikap yang sama. Pasalnya di beberapa status media sosial dan forum kajian pun sudah dibahas masalah aplikasi yang diindikasikan seperti ramalan ini.


Diluar konteks isu keagamaan, memang ada yang memanfaatkan aplikasi ini untuk menyebarkan konten negatif. Seperti yang terjadi dengan Testony yang menggunakan Bahasa Lombok, NTB. Pertanyaan Testony dengan Bahasa lokal Bali pun tak ketinggalan mengunggah hal yang sama.

Ya, viralnya Testony di Indonesia pun sebab mendukung Bahasa Indonesia, sehingga penggunaannya terbilang mudah. Ditambah pula, banyak pengguna Testony yang iseng-iseng membuat pertanyaannya sendiri. Loh, memangnya Testony bisa dimodifikasi?

Oh iya, sebelumnya memang ada Nametest yang mendahului viral sebelum Testony. Keduanya berasal dari Socialsweethearts, sebuah perusahaan pengembang aplikasi yang berbasis di Köln, Jerman. Nametest katanya berbasiskan AI, oleh karenanya tidak ada tombol untuk membuat tes sendiri. Itu perbedaannya dengan Testony.

Beberapa kuis yang ada di Testony. via id.testony.com


Membuat Pertanyaan Sendiri di Testony

Di setiap tes yang disodorkan Testony, selalu dibuat kalimat kecil 'Buat tes Anda sendiri' dengan simbol '+' yang menyertainya. Kalau mengunjungi beranda situsnya, tentu 'Buat tes Anda sendiri' ini disodorkan ke dalam tombol biru ala Facebook yang cukup besar.

Saya sudah pernah mencoba membuat satu tes, yakni 'Kelakuan Kamu Kalau Di Facebook'. Isinya memang random, atau lebih tepatnya ngawur dan ya buat lucu-lucuan saja. Sebab memang mudah membuat tes di Testony ini. Setelah tombol 'Buat tes Anda sendiri' itu diklik, kita diarahkan ke pop up login Facebook untuk memasang profil kita sebagai pembuat tes.

Contoh kuis yang saya buat di Testony. via id.testony.com

Untuk membuat tes tadi, sama sekali tidak dibutuhkan keterampilan coding. Bahkan sebagai pengguna Facebook awam pun bakal familiar dengan perintah dalam Testony, sebab tampilan antar muka aplikasi ini mirip dengan Facebook.

Setelah login, nanti ada 'Pilihlah tes seperti apa yang ingin kamu buat'. Ada dua jenis tes. Tes yang pertama merupakan tes dengan hasil berupa teks dan gambar. Di sini, kita akan diminta untuk mengunggah gambar dan beberapa kalimat hasil tes. Berapa banyak? Rata-rata enam poin saja. Maka siapkan enam gambar dan enam kata-kata untuk membuat hasil tes.

Tes yang kedua merupakan tes dengan hasil berupa gambar. Disini pembuat tes hanya perlu menyiapkan gambar dengan judulnya saja. Rata-rata enam buah juga. Tapi bisa lebih sesuai kebutuhan. Kalau dirasa sudah selesai, tekan 'Atur kuis online'. Maka tes yang tadi sudah dibuat, akan terpublikasi dan bisa digunakan oleh orang lain.

Penutup

Viralnya Testony disebabkan oleh tes atau kuis yang membumi. Orang-orang bisa memakai bahasa daerah untuk membuat tesnya sendiri. Kemudian tes itu muncul di beranda Facebook, dan banyak pula yang mencobanya. Salah satu bukti viralnya, fanpage Facebook Testony Bahasa Indonesia mendapatkan 1,2 juta like, cukup jauh melampaui fanpage Testony sendiri yang berada di angka 900 ribuan.

Kalau banyak konten negatif di Testony, siapa yang salah? Agaknya Testony memang bisa disalahkan sebab tidak melakukan filter terhadap setiap tes yang dibuat. Tapi, setiap tes yang dibuat akan memberikan kredit kepada akun Facebook pembuatnya. Dan ini masuk ke dalam sanggahan bahwa setiap tes yang dibuat menjadi tanggung jawab pembuatnya. Testony semacam melepas tangannya ketika ada konten negatif dalam platformnya. Mereka hanya menyediakan tombol 'Laporkan sebagai tes yang tidak pantas'.

Oleh karenanya, daripada kita yang ditangkap oleh aparat karena melanggar UU ITE, maka bijaklah ketika menggunakan Testony. Buatlah tes yang betul-betul tidak mengandung konten negatif. Dan pakailah Testony hanya ketika perlu saja, sebab sudah banyak yang mengeluh karena beranda Facebook-nya diserbu oleh konten-konten dari Testony.
Read More

1 Agustus 2017

5 Teknologi Yang Wajib Ada Dalam Mobil Keluarga

Revolusi industri di bidang teknologi digital merambah kemana-mana, termasuk ke industri otomotif. Aplikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) yang ditempel ke mobil menjadi bukti sahih dari perambahan ini.

Sudah banyak pabrikan yang mencicipi betapa menariknya AI dalam dunia permobilan. Meski di satu sisi mengancam profesi sopir, namun apa yang sering disebut self-driving car ini mudah-mudahan tidak membawa petaka ketika tiga tahun lagi bakal dimasifkan. Sebab melihat sebuah mobil bisa mengendarai dirinya sendiri sungguh barang yang ajaib. Apalagi kelak tahun 2020 akan dibuat sepuluh juta mobil semacam ini.


Ya, ajaib. Silakan flashback ke akhir tahun 2016, dimana Model X dari Tesla mampu memprediksi terjadinya kecelakaan. Video dasbor dari self-driving car pabrikan yang dimpimpin Elon Musk ini membuktikan betapa sahihnya peristiwa ajaib tersebut. Dan ini menunjukkan, self-driving car dengan otak AI-nya memang layak menjadi mobil masa depan.

AI memang satu sisi, tapi di sisi yang lain, pabrikan pun membuka ruang modifikasi sehingga mobil tak memiliki bentuk yang konvensional. Sebab selain itu, mungkin sudah terlanjur populer, kalau mobil-mobil nan futuristik tak lagi memakai body mobil tahun 1990-an. Pada sisi bahan bakar pun, tentu saja bakal berganti dengan listrik atau paling tidak hybrid. Agar mobil cerdas tak cuma di otak, tapi juga di tingkah laku yang ramah lingkungan.

Sayangnya mobil-mobil canggih yang sedang dirakit oleh berbagai pabrikan otomotif tersebut kebanyakan berorientasi mobil eksekutif. Selain mobil tersebut juga pastinya berharga selangit, ditambah pula fungsinya bakal diperuntukkan buat kalangan penumpang dewasa. Lantas, bagaimana dengan mobil keluarga?

Mobil Ramah Keluarga

Kalau melihat sebutan saat ini, semua mobil multi purpose vehicle (MPV) bisa disebut sebagai mobil keluarga. Alasannya mobil semacam ini bisa muat banyak orang, sekaligus muat banyak barang. Ya, buat saya definisinya sesimpel itu.

Mobil-mobil canggih, yang contohnya disebutkan diatas, kebanyakan menyasar sedan, hatchback, hingga mobil mewah. Sepengetahuan saya, belum ada self-driving car memakai Innova maupun Ertiga, misalnya. Sehingga ke depan, meskipun sudah ada yang membuat transportasi publik dengan konsep self-driving car, kemanfaatan untuk keluarga-keluarga kecil dengan teknologi tersebut belum bisa dirasakan.

Untuk itulah, saya bermimpi agar seluruh keluarga kecil di Indonesia bisa menikmati mobil low MPV dengan teknologi canggih. Dan berikut ini teknologi yang saya impikan berada di mobil-mobil sejuta umat yang sering lalu-lalang di jalan raya itu.

1. Driver assistant untuk meminimalisir hadirnya green-driver.



Anda pernah mendengar istilah green-driver? Keluarga kecil, yang karena kebutuhan mesti memiliki mobil, atau siapapun saja yang baru memiliki mobil biasanya terkena julukan ini. Menurut beberapa sumber, green-driver merupakan pemilik mobil baru yang belum sepenuhnya memahami mekanisme mobil dan penggunaannya di jalan raya dengan kendaraan tersebut. Mereka terbiasa dengan motor, sehingga mengendarai mobil pun disamakan dengan kendaraan roda dua ini. Padahal dimensi keduanya sama sekali berbeda.

Untuk itu, keberadaan AI yang diinstal di dasbor diharapkan mampu mengatasi fenomena green-driver. Jadi kalau mobil akan memutar arah, contohnya, driver assistant dari AI ini memberitahukan agar memberi ruang kosong minimal 30 meter pada kendaraan yang dibelakang atau di seberang jalan. Betapa banyak terjadi kecelakaan akibat kekeliruan sopir dalam membaca keramaian lalu lintas.

Intinya, para green driver ini betul-betul membutuhkan pemandu yang canggih diluar suara Google Maps yang sering pula membuat tersesat.

2. Menghapus blind spot sang sopir.



Beberapa waktu yang lalu, seorang anak kecil terlindas oleh sedan di sebuah SPBU daerah Kuningan, Jawa Barat. Mudah-mudahan sang anak tidak mengalami luka yang serius dan membahayakan jiwanya. Tapi kejadian tersebut cukup menyisakan perdebatan. Dan sebagaimana debat di internet, semuanya tak memiliki ujung pangkal. Masing-masing punya asumsi yang tak mau dipatahkan atas siapa yang salah pada peristiwa tersebut.

Daya pandang sopir memang tak mencakup semuanya, ada titik-titik tertentu dimana sopir tak mampu melihat. Ini biasa disebut dengan blind spot. Kejadian di Kuningan tersebut, kalau dilihat dari videonya, memang terjadi karena sang anak berada pada titik yang tak terlihat oleh sopir. Ya, titik blind spot tadi.

Disinilah mengapa teknologi sensor yang berasal dari AI wajib diinstal. Sebab mungkin saja ketika kita menyalakan mobil, ada entah-siapa yang sedang duduk di depan maupun belakang bumper mobil. Ia tak terbaca oleh sensor parkir karena rendah, juga tak terlihat oleh mata karena berada di titik blind spot.

3. Sensor sidik jari untuk mekanisme penguncian mobil.



Kalau belum sampai pada pemindai biometrik, maka sensor sidik jari pun tak apalah. Sebab dalam satu keluarga, tidak semua orang boleh membawa kendaraan. Katakanlah anak anda yang berumur 14 tahun sudah mampu menyetir mobil semahir Sébastien Loeb, tapi jelas ia melanggar hukum jika membawa kendaraan bermotor di jalan raya.

Namun yang namanya kunci mobil, bisa jadi diambil tanpa sepengetahuan kita. Untuk itulah, sensor sidik jari ini harus dibuat agar bisa mengendalikan siapa yang boleh membawa mobil di dalam keluarga.

4. Mengetahui siapa dan berapa penumpang mobil pada saat itu.



Saya cukup ngeri kalau membayangkan anak saya tertinggal dan terkunci di dalam mobil, sementara saya asik berbelanja di mall. Sebab ini bukanlah mimpi buruk yang hanya terjadi selaku bunga tidur semata, tapi memang benar-benar pernah terjadi. Coba saja cari di Google dengan kata kunci 'child left in car'.

Harapannya, teknologi yang diinstal pada mobil masa depan nanti bisa mengetahui bukan hanya sopirnya saja, tapi seluruh penumpang yang ada di mobil tersebut. Jadi kejadian sang anak tertinggal di mobil apalagi sampai terkunci di dalamnya tak terjadi pada siapapun.

5. Mobil low MPV dengan AI seharga LCGC.



Daftar terakhir ini memang tak terkait dengan teknologi secara langsung. Sebab selain merupakan kemusykilan saat ini, mengingat mobil ber-AI saja harganya sudah setinggi langit, apalagi jika dibanderol seharga LCGC alias low cost green car. Sudah pasti ini bagaikan mimpi di siang bolong.

Sebagaimana diketahui, mobil LCGC 'hanya' dibanderol seharga 100 juta keatas sedikit. Bahkan untuk off the road, ada yang menawarkan mobil LCGC dengan harga dibawah 100 juta.

Nah, siapa tahu ada raksasa teknologi yang berniat untuk memberikan teknologi AI-nya secara cuma-cuma kemudian bisa diaplikasikan di mobil-mobil LCGC. Ya, meskipun kemudian di dasbor terdapat banyak iklan tertarget, tapi lumayan lah.

Atau adakah kejutan di GIIAS 2017? Pameran mobil yang diselenggarakan pada 10-20 Agustus 2017 ini memang bertajuk 'Rise of The Future Mobility', tapi apakah akan hadir mobil dengan kriteria seperti kelima mimpi saya diatas? Entahlah. Tapi siapalah kita yang mampu menebak sebelum terjadi?


Read More

25 Juli 2017

Aplikasi Ular Melata di Ponsel Yang Kekinian

Ketika 'klik like, share dan ketik amiin agar masuk surga' sudah redup pamornya, tangan-tangan iseng tak pernah lelah untuk mencari mangsa. Kali ini berbekal sebuah aplikasi android, Facebook dibuat cukup riuh dengan modus pendulang like bergaya baru.

"Ketik #ULAR di komentar, untuk memunculkan ular sanca di Facebook kamu," demikian salah satu status di Facebook. Postingan itu pun terselip satu gambar dan sebuah video yang menggambarkan bahwa memang benar ada ular yang melata di layar ponselnya. Sementara layar ponsel itu masih menyala dan aktif seperti biasa, seolah tak terganggu dengan keberadaan ular, yang tentu saja animasi itu.


Dan bisa ditebak, di kolom komentar kemudian bersahut-sahutan komentar '#ULAR' dari ratusan pengguna Facebook. Jumlah like dan share pun luar biasa. Tapi apa yang kemudaian didapat? Ya nggak ada sama sekali meski kata #ULAR itu ditulis ribuan kali dan dishare ratusan kali pun. Sebab Facebook tak pernah memunculkan aplikasi keluar ular di layar, hanya dengan mengetikkan sebuah kata di kolom komentar seseorang.



Ya, postingan semacam itu HOAX.

Tapi tunggu dulu, hoax tersebut hanya berlaku untuk postingannya saja, sementara untuk ular yang melata di layar ponsel itu memang nyata adanya. Ular tersebut merupakan aplikasi ponsel Android yang bisa diunduh di Play Store milik Google.

Bahkan kalau memakai fitur pencarian Play Store, kemudian mengetikkan 'snake on phone screen' maka muncul banyak aplikasi sejenis. Dan tak cuma ular saja, ada tikus, serangga, hingga kupu-kupu. Teknisnya sama, binatang-binatang tersebut bakal muncul di layar ponsel kita.

Saya mencoba salah satu aplikasi, yakni Snake on Screen hissing joke dari Just4Fun. Aplikasi yang lain pun bisa saja, seperti Snake on Screen Joke dari Eijoy Entertainment. Pilih saja yang kira-kira sesuai dengan apa yang dimaksud. Cara instalasinya pun sama saja dengan aplikasi yang lain. Bahkan untuk memainkan aplikasinya pun tergolong sederhana.

Patut dicatat, saya menginstal aplikasi Snake on Screen hissing joke dari Just4Fun, sehingga jika anda memasang aplikasi yang lain ada kemungkinan berbeda. Di aplikasi ini, untuk memunculkan ular, tinggal klik Show Snake yang ada di bagian atas tampilan aplikasi ini. Tunggu sejenak, maka akan muncul ular dari bawah, atau atas layar ponsel anda. Ular ini tak mengganggu sama sekali aktivitas bermain ponsel anda, cuma rayapannya yang panjang disertai bunyi desis memang agak mengganggu buat yang lumayan takut dengan ular.

Untuk mengatur besar ular dan jeda kemunculannya, silakan masuk ke menu pengaturan. Patut dicatat, aplikasi ini memang bertujuan untuk prank, dan tidak disarankan untuk digunakan kepada mereka yang phobia parah terhadap ular. Sebab ada tiga kemungkinan, pertama ia menjerit ketakutan, kedua ponsel kamu dibanting dan pecah, dan ketiga dua-duanya terjadi. Pilih mana?
Read More

23 Juli 2017

Waspada Akun Facebook Anda Dikloning, Hindari Dengan Cara Ini

Pernahkah mendapati permintaan pertemanan di Facebook dari teman yang sudah ada dalam daftar pertemanan? Jika anda juga pernah mengalaminya, maka ada seseorang yang melakukan kloning terhadap akun tersebut.

Ini bukanlah hack dan sejenisnya. Sebab meminta pertemanan kembali hanya dilakukan oleh akun yang baru dibuat. Kalau hacking hanya terjadi apabila si peretas memiliki akses login secara penuh terhadap akun tersebut, dan tentu saja tak perlu meminta pertemanan ulang. Jadi kejadian ini disebut kloning akun Facebook. Dan sesuai namanya, kloning berupaya menggandakan akun Facebook dari yang sudah ada.

Tapi tenang saja, kloning akun Facebook tidak terjadi pada setiap akun seperti hoax yang pernah beredar. Meski memungkinkan, tapi informasi bahwa setiap pemilik akun Facebook telah dikloning merupakan hoax. Catat, hoax.


Kloning akun Facebook ini tujuannya beragam. Tapi dari beberapa yang sudah ditemui, kloning akun ini bertujuan materi. Meski ada juga yang tujuannya untuk sekedar mencari hits dan popularitas saja, seperti mengkloning akun selebriti.

Nah, berbicara kloning terhadap akun Facebook selebriti atau instansi yang terkenal memang susah-susah gampang. Gampangnya ya tinggal membuat profil yang sama saja. Tapi susahnya dikarenakan akun pihak yang terkenal itu memiliki centang biru yang sudah terverifikasi oleh Facebook. Jadi sasaran kloning biasanya akun tokoh-tokoh masyarakat yang bisa dibuat kloningannya.

Tapi tunggu dulu, meskipun anda nggak terkenal-terkenal amat, seseorang bisa jadi menyasar akun anda untuk dibuat tiruannya. Ya meskipun nggak digunakan untuk tujuan menipu, tapi kalau tujuannya negatif tetap saja merugikan. Untuk itu, sebaiknya lindungi akun anda agar seseorang tidak menggunakannya untuk membuat anda malu di kemudian hari. Yuk kita cek caranya.

Mengubah Pengaturan Akun 

Sebenarnya sudah ada fasilitas untuk mengatasi kloning akun semacam ini. Facebook menyebutnya sebagai fitur Impersonation Checkpoint. Jika ditemukan ada akun yang ganda, anda atau orang lain bisa melaporkan kepada Facebook untuk dilakukan pendindakan. Tapi jujur saja, fitur ini kurang optimal dan jarang yang mau melewati prosesnya dengan baik.

Sehingga satu-satunya cara untuk melindungi akun dari pelaku kloning adalah mengubah pengaturan akun.

Pertama, menyembunyikan daftar teman. Caranya klik profil sendiri, lalu klik Teman, dan pilih edit yang dilambangkan dnegan pensil di sudut kanan atas. Jika sudah ketemu dan diklik, kita akan diarahkan ke menu pop-up Sunting Privasi. Disini silakan atur Daftar Teman untuk terlihat Hanya saya. Pilihan ini berguna agar orang yang mengkloning tidak bisa menambahkan teman dari daftar teman anda.




Facebook memang membatasi pengajuan permintaan pertemanan dalam seharinya, tapi dengan meminta pertemanan dari daftar teman anda secara asli, ada kemungkinan orang lain percaya bahwa akun kloning tersebut adalah punya anda sendiri.

Kedua, pilihlah siapa yang dapat melihat postingan anda di Facebook. Caranya dengan mengunjungi Pengaturan dan Privasi di tanda panah ke bawah di sudut kanan atas Facebook anda. Kemudian pilih logo gembok dengan tulisan Privasi di sebelah kiri layar anda. Lalu akan muncul pilihan Pengaturan dan Alat Privasi, kemudian di bagian 'Siapa yang dapat melihat kiriman saya?' pilihlah Teman agar hanya teman anda saja yang dapat melihat aktivitas anda di Facebook. Untuk lebih jelasnya bisa lihat di gambar berikut ini.


Ketiga, periksa kembali foto-foto profil anda. Kalau foto yang anda miliki bisa terlihat oleh publik, maka segera ubah privasinya. Cara mengubahnya hampir sama dengan cara menyembunyikan teman seperti diatas.

Keempat, coba lihat akun anda secara publik. Caranya bisa dengan melakukan klik di tanda titik tiga di atas profil anda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar berikut ini.



Kalau anda atau teman anda sudah terlanjur menjadi korban dari akun kloning, silakan mengunjungi Pusat Bantuan Facebook. Dan terakhir, agar tidak menjadi korban dari pengkloningan akun Facebook, yuk bareng-bareng edukasi teman-teman kita. Salah satu caranya dengan membagikan artikel ini :)
Read More

14 Juli 2017

Banyak Aplikasi Chat, Mengapa Telegram Yang Diblokir?

Saat ini keberadaan aplikasi percakapan di Play Store maupun App Store sungguh bak cendawan di musim penghujan. Rata-rata, pemilik smartphone biasanya memiliki empat hingga lima aplikasi percakapan. Sebut saja WhatsApp, Line, Facebook Messenger, BBM, Google Allo, dan Telegram. Namun dari sekian banyak aplikasi ini, pertanyaannya mengapa Telegram saja yang diblokir?

Pemerintah Indonesia melalui Kemenkominfo sudah memblokir aplikasi Telegram per Jum'at, 14 Juli 2017. Hal ini terlihat dari tidak bisa diaksesnya domain yang terkait dengan aplikasi Telegram, baik telegram.me maupun telegram.org. Warga internet pun ramai di Twitter dengan belasan ribu kicauan mempertanyakan pemblokiran ini. Google Trends pun sudah masif pencarian tentang Telegram. Bahkan sudah muncul pula petisi untuk membuka blokir Telegram. Namun pemerintah tak bergeming.



Lewat Siaran Pers dengan Nomor 84/HM/KOMINFO/07/2017 tentang Pemutusan Akses Aplikasi Telegram, Kominfo beralasan kalau aplikasi ini punya banyak kanal yang bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Pokok intinya menurut siaran pers tersebut, Telegram dapat membahayakan keamanan negara karena tidak menyediakan prosedur standar operasi untuk menangani konten-konten negatif yang melanggar hukum Indonesia.

Mengapa Telegram bisa demikian dianggap berbahaya?

Anggapan ini boleh bermula dari pendirinya, Pavel Durov. Sosok teknokrat ini memang disebut-sebut Mark Zuckerberg-nya Rusia. Sebab dua tahun setelah Facebook resmi dibuat, Durov pun membuat VKontakte. Namun media sosial yang mulai populer dan membesarkan nama Durov ini dipegang oleh orang-orang yang berada di luar kendalinya. Durov pun tersingkir. Ia menepi dari VKontakte dan bersama saudaranya, Nikolai Durov, kemudian membuat Telegram.

Pavel Durov (Sumber: vk.com/durov)

Resminya Telegram hadir sejak empat tahun silam. Pelan tapi pasti, Telegram diinstal dan disukai oleh ratusan juta pengguna ponsel pintar di seluruh dunia. Telegram menarik minat banyak orang karena fiturnya seperti media sosial, namun punya tingkat kerahasiaan yang dianggap berada diatas WhatsApp. Ya, fitur end-to-end encrypted message pun dimiliki oleh Telegram, bahkan ada fitur 'self destrution message' layaknya pesan dalam film Mission Impossible.

Telegram pun lebih ramah pengembangan dibandingkan WhatsApp. Di Telegram, banyak programmer merasa terbantu karena bisa membuat chat bot, juga ada sarana perekaman percakapan, dimana WhatsApp tidak punya keduanya.

Menurut Pavel Durov, fitur yang benar-benar ditawarkan dari Telegram adalah kerahasiaan percakapan itu. Bahkan, dikutip dari TechCrunch, Durov pada awalnya bertujuan menciptakan aplikasi percakapan yang tak bisa dilihat oleh dinas intelijen Rusia. Hal ini membuat pihak Rusia cukup gregetan dengan Telegram, dan terkhusus pada Durov sendiri.

Fitur kerahasiaan yang dimiliki Telegram pada akhirnya memang menyuburkan konten negatif seperti terorisme. Kanal-kanal yang ada di Telegram banyak dihuni oleh simpatisan terorisme. Salah satu contoh adalah kanal Nasher yang mengklaim diri sebagai saluran resmi ISIS di Telegram. Di kanal ini propaganda dan teknik-teknik melakukan teror disebarkan.

Tapi apakah dengan munculnya kanal terorisme lantas Durov dan Telegram yang mesti disalahkan? Agak kurang adil juga.

Mengapa harus diblokir?

Ada banyak yang menyayangkan mengapa Telegram diblokir. Pasalnya, aplikasi ini mirip dengan pisau. Ia memang tajam, tapi kalau digunakan oleh ibu-ibu di dapur untuk memasak, maka jadilah alat yang berguna sekali. Namun jika jatuh ke penodong, bisa ditebak pisau ini membantu kejahatan. Tapi, posisi pisau sendiri akan selalu netral.

Menurut NewsWeek Rusia menjadi negara pertama yang terus membicarakan Telegram. Ya sebabnya karena Durov berasal dari sana, dan ia tak mau membuka akses bagi pemerintah untuk mengintip percakapan di dalam aplikasi tersebut. Sama halnya dengan Indonesia saat ini.

Kominfo sudah memberikan 'karpet merah' bagi tiga institusi negara untuk mengawasi internet, termasuk melakukan pemblokiran. Tiga institusi itu adalah Polri, BNPT, dan BIN. Ketiganya bisa dengan mudah mengusulkan pemblokiran situs, bahkan tanpa perlu persetujuan Menteri Kominfo. Sehingga untuk kasus Telegram ini, Kominfo terbilang telat dalam memberikan penjelasan dalam bentuk jumpa pers kepada publik.

Mengapa Telegram saja? Sebab aplikasi lain bisa diintip, kog.

Iya, memang aplikasi lainnya tak senyaman Telegram dari sisi kerahasiaan. Bahkan untuk WhatsApp sendiri yang diklaim punya end-to-end encryption tetap bisa digunakan datanya oleh Facebook. Dan itulah mengapa akuisisi Facebook atas WhatsApp menjadi penyebab melonjaknya pengguna Telegram.

Aplikasi terkenal lainnya, Google Allo, pun sudah diperingatkan oleh Edward Snowden sejak awal rilis. Sebab data percakapan di Allo bakal dengan mudah diintip oleh dinas rahasia Amerika Serikat.

Itulah mengapa Telegram jadi tempat favorit untuk bercakap-cakap secara berkelompok di internet. Meski percakapannya tak membahayakan negara, banyak orang ingin agar percakapannya tetap rahasia.

Nah, kalau sasarannya pencegahan terorisme, mengapa bukan dengan membuat kanal edukasi saja? Sebab meski Telegram diblokir, pelaku dan simpatisan terorisme akan menemukan caranya sendiri dalam berkomunikasi.
Read More

2 Juli 2017

Beberapa Alasan Mengapa Kita Sering Terjebak Berita Palsu, Hoax, dan Sejenisnya

Internet memang memudahkan banyak hal, salah satunya mendapatkan informasi. Dalam beberapa menit, informasi yang berada di ujung dunia sekalipun bisa langsung diketahui berkat keberadaan teknologi komunikasi yang satu ini. Tapi sisi gelapnya tentu saja banyak, salah satunya adalah tersebar masifnya informasi palsu, fake news, atau lumrah juga disebut hoax.

Berita sebenarnya merupakan hasil produksi jurnalistik yang cukup melelahkan. Itulah sebabnya menjadi jurnalis itu tak mudah, sebab dalam membuat sebuah berita ia wajib melakukan riset dan verifikasi fakta yang ketat. Namun saat ini, seseorang bisa disebut 'jurnalis' -tanda kutip- hanya berbekal duduk manis di depan komputer bahkan smartphone dengan koneksi internet yang baik. Sebab sumber informasi saat ini begitu terbuka dan bisa diakses siapapun.

Fenomena semacam ini akhirnya membuat situs-situs berita tumbuh subur dan pada akhirnya berita-berita palsu begitu cepat tersebar sebab diproduksi berulang-ulang, entah sengaja, tidak tahu, atau memang sengaja untuk tidak mau tahu. Dan hal-hal yang palsu ini semakin tumbuh subur sebab bertemu dengan konsumen yang memang menjadi pelahap utama dari kepalsuan tersebut. Kamu juga? Atau sedang bertanya-tanya mengapa orang-orang kog suka banget dengan hal-hal semacam ini?



Takut ketinggalan, takut dibilang kudet, atau bahasa kerennya FOMO (fear of missing out) menjadi sebab mengapa konsumen hoax tetap banyak.

Fear of missing out menjadi tersangka utama dari fenomena menjamurnya orang-orang dengan ponsel pintar tapi tak mampu mengendalikan jarinya. FOMO merupakan sebuah kondisi dimana seseorang takut sekali ketinggalan informasi, sehingga dengan cekatannya ia ringan sekali untuk memencet tombol share. Harapannya tentu saja agar ia menjadi orang yang pertama kali tahu, dan memberitahukan kepada follower-nya atau jejaring temannya betapa ia menjadi yang pertama tahu, atau paling tidak bahwa ia tahu tentang hal-hal yang baru. Padahal hoax.

Konsumen yang mengidap FOMO ini biasanya terjebak pada judul click bait. Misalnya sebuah judul 'Sebarkan Agar Para Wanita Selamat! Minum Ramuan Ini Sangat Bermanfaat Untuk Mereka' dengan gambar organ tertentu yang rusak dan gambar-gambar disturbing lainnya disertai lingkaran-lingkaran merah. Ia membagikan tautan-tautan semacam ini, atau postingan-postingan semacam ini di sosial medianya, tanpa membaca dengan seksama apa isi artikelnya! Betulkah begitu?

Apabila pihak yang menyebarkan informasi berada pada sisi yang sama, maka bukan hal yang penting untuk mengetahui fakta sesungguhnya.

Mau nggak mau, saya memberikan contoh termudah bagi kasus ini: Pro-Jokowi dan Pro-Prabowo. Konten apapun yang diproduksi oleh pro-Jokowi akan direproduksi dan dibagikan oleh para pihak yang sejalan, begitu juga sebaliknya. Nah, sialnya banyak diantara mereka yang membagikan konten ini tanpa melihat isinya, sehingga boleh jadi kontennya diproduksi oleh pihak ketiga tapi disebarkan karena isi kontennya sejalan. Padahal hoax.

Kalau dalam metode riset, orang-orang yang berpihak semacam ini akan menemukan bias dalam setiap risetnya terhadap fakta. Dalam Psychology Today ada beberapa bias yang bisa terjadi saat seseorang berupaya mencari fakta namun terkendala keberpihakannya sendiri pada apa yang sedang dirisetnya. Ada yang disebut My-side Bias, ada juga Authoritative Bias, dan Confirmation Bias. Kalau dijelaskan bisa panjang, tapi setidaknya ketiga bias itulah yang menghalangi seseorang menemukan fakta yang dicarinyam, sehingga ia mendapatkan informasi palsu yang hanya sesuai dengan pola keberpihakannya.

Masih menjadi follower, subscriber, dan teman dari para penyebar hoax? Bertaubatlah!

Ada kalanya, yang menjadi penyebar hoax adalah orang-orang yang kita hormati. Boleh jadi mereka adalah saudara sendiri, teman dekat, bahkan guru kita. Sehingga untuk memutus hubungan di media sosial agaknya menjadi suatu hal yang serba tidak enak. Untunglah di Facebook ada fitur Unfollow, dimana kamu masih tetap berteman tapi isi dari postingannya tak bakal ada di beranda kamu. Dan Twitter pun menyediakan fitur mute yang bisa dipakai untuk menyembunyikan semua kicauan dari yang bersangkutan.

Inti dari tindakan ini adalah membuang sumber-sumber informasi yang tidak kredibel. Tapi tentu saja cara melakukan filter itu setelah ada pengujian beberapa kali terhadap informasi yang dibagikan. Sebab boleh jadi baru sekali ia terpeleset membagikan hoax, dan ia tak tahu sama sekali atas apa yang dibagikannya.

Hal terakhir yang sepatutnya dilakukan agar kita tidak lagi terjebak pada hoax adalah senantiasa berpatokan sebagai seorang pencari ilmu atau seorang periset. Yakni tujuannya mencari ilmu pengetahuan baru dengan mengumpulkan sebanyak mungkin sumber-sumber informasi dari berbagai sisi. Catat ya, dari berbagai sisi. Kita boleh saja berpihak pada kelompok tertentu, tapi tentu tidak berpihak pada kesalahan dan kepalsuan.
Read More

20 Juni 2017

3 Alasan Mengapa Samsung Galaxy Note 8 Tidak Perlu Ditunggu

Samsung Galaxy Note 8 akan menjadi pelipur lara bagi Samsung. Ya, sebab pabrikan asal Korea ini telah dihantam habis oleh petaka yang dipicu meledaknya baterai Note 7. Sebuah petaka yang, meski tak membuat bangkrut, cukup menyita anggaran, perhatian, dan tentu saja kredibilitas Samsung sebagai pimpinan pasar ponsel Android. Lalu, dengan merilis Samsung Galaxy Note 8 tentu membawa secercah harapan agar ponsel premium ini tetap menjadi raja di pasaran.

Samsung Galaxy S8 dan S8+ setidaknya cukup menjadi pelipur lara Samsung, atau boleh jadi sebagai bahan move on dari petaka yang sudah terjadi sebelumnya. Dan kini sepertinya pabrikan Korea ini berupaya lebih mempercepat penyakit amnesia publik terhadap mengepulnya asap baterai Note 7 itu. Tapi masalahnya, apakah Samsung Galaxy Note 8 bisa menjadi penerus flagship di ranah phablet setelah dirilisnya seri S8?

Banyak yang menyangsikan turunnya kredibilitas Samsung pasca petaka itu bisa direhabilitasi dalam waktu singkat. Galaxy S8 pun ditemukan memiliki kelemahan dimana layarnya bisa merah sendiri. Kalau fanboy Samsung keberatan untuk menyebutnya cacat, layar merah yang disebut sebagai reddish tint dalam forum online ini layak disebut apa? Ya tetap saja disebut sebagai cacat. Sehingga beban berat memang diampu Samsung Galaxy Note 8 yang menurut media-media Korea, bakal dirilis pada 26 Agustus 2017 mendatang di New York, Amerika. Namun layakkah phablet ini dinantikan? Menurut saya tidak layak dinantikan, dan inilah alasannya.


Ilustrasi Samsung Galaxy Note 8 (Gambar: Trustedreviews.com)

1. Body Nggak Banyak Berubah

Samsung memang punya body yang tak begitu pasaran. Ya dibandingkan dengan produk kelas menengah ponsel-ponsel China di pasaran yang kebanyakan mirip dengan iPhone. Samsung memang lebih punya desain sendiri pasca gugatan kemiripan desain yang dilayangkan Apple terhadap pabrikan Korea ini. Dan kelanjutan kompetisi keduanya terus berlangsung yang menjadi wakil dari pertarungan antara ponsel Android dan iOS.

Meski begitu, desain yang tidak pasaran dari ponsel Samsung tidak menjadikannya istimewa. Apalagi berdasarkan banyak bocoran, Galaxy Note 8 bakal mengadopsi bentuk body serupa seri Galaxy S8. Hanya saja layar yang dibenamkan bakal sedikit lebih besar. Namun jika flash back ke Note 7 yang punya layar 5,7 inci, layar Note 8 akan meningkat sekitar 0,6 inci alias 6,3 inci. Layar ini sedikit lebih besar dibanding S8+ dengan layar 6,2 incinya.

Jadi kalau boleh disingkat, perubahan body meniru S8+ tapi dengan ciri khas Samsung Galaxy Note, yakni ada S-Pen.

2. Spesifikasi Nggak Banyak Peningkatan

Dari dapur pacu, kecuali ada kejutan Qualcomm atau Exynos menelurkan chipset terbaru dan langsung dibenamkan ke Note 8 sebelum tanggal rilisnya, maka ponsel ini akan memakai chipset yang lebih tinggi dari seri S8. Namun jika tanggal rilisnya di bulan Agustus, maka kemungkinan tersebut akan terkikis. Sebab saat ini, baik Exynos maupun Qualcomm, hanya memiliki chipset seri tertinggi sebagaimana yang terpasang di seri S8 saja. Begitu juga dengan RAM yang menyertainya, yang tidak berbeda dari seri S8. Note 8 bakal memiliki RAM 4 atau 6 GB serupa dengan S8.

Lalu apalagi? Kamera? Sama. Seri Android? Android O belum dirilis 'kan? Silakan sebut spesifikasi teknis dari Note 8, pasti nggak beda dengan S8.

3. Samsung Selalu Over Priced

Samsung selalu memberikan harga yang terlampau tinggi bagi ponselnya, terutama yang seri flagship. IHS Markit pernah merilis harga-harga dari komponen S8, dimana hasil penjumlahan keseluruhannya diperoleh nominal harga sebesar $300 saja. Sementara Samsung membanderol Galaxy S8 sebesar $720. Jadi ada margin untung yang cukup besar. Sehingga banyak orang yang menganggap Samsung terlalu over-price.

Nah, dengan rumor harga dari Note 8 yang berkisar antara $850-an, dan melihat spesifikasi yang tak banyak berubah kecuali layar sedikit besar dan S-Pen, maka sudah bisa ditebak kalau Samsung Galaxy Note S8 bakal terlampau mahal lagi.

Tapi ketiga alasan diatas pastinya bisa berubah, sebab basis informasi yang dipakai masih sebatas rumor. Sebab Samsung belum resmi melepas Galaxy Note 8 di pasaran dan bahkan tak ada informasi resmi yang dikeluarkan oleh pabrikan Korea ini. Kalau kamu punya pendapat berbeda, silakan kemukakan di kolom komentar. Dan jika nggak sepakat dan mau menantikan Samsung Galaxy Note 8 dan membelinya, itupun sangat dipersilakan.
Read More

14 Juni 2017

Dilematika Judul Clickbait Bagi Blogger

Bagi banyak orang, clickbait adalah sampah digital yang mesti dibuang jauh-jauh. Namun jauh lebih banyak orang yang masih terpedaya dengan judul-judul clickbait, sehingga mereka memberikan kliknya terhadap judul tersebut. Dan dilema pun terjadi.

Clickbait adalah sebuah trik untuk memancing orang agar melakukan klik terhadap tautan yang disediakan. Alat pancingnya berupa judul yang membuat penasaran. Kadang-kadang dibuat sebombastis mungkin agar daya pancingnya betul-betul mantap. Lalu, mengapa mesti dilema?

Jurnalistik

Buat yang selalu bertahan dengan kaidah kepenulisan ala jurnalistik, maka judul clickbait ini memang penyakit dalam dunia kepenulisan. Sebab sebuah judul yang baik, dalam kaidah jurnalistik, wajib mengandung informasi yang mewakili tulisan secara keseluruhan. Sementara clickbait justru menyimpan misteri, bahkan kadang-kadang dibuat melenceng dari isi tulisan demi menggiring pengguna internet untuk melihat isinya.


Mari kita ambil contoh sebuah tulisan tentang perjalanan Jokowi melintasi Trans Papua. Dalam judul dengan standar baku jurnalistik, akan tertulis 'Jokowi Lintasi Trans Papua Pertama Kali'. Sementara dalam judul clickbait biasanya ditulis 'Wow! Jokowi Lakukan Hal Menakjubkan Saat di Papua'. Contoh lain bisa diambil dari artikel olahraga.

Misalnya setelah pertandingan di Liga Inggris, Chelsea menang atas lawannya. Pelatih Chelsea, Antonio Conte kemudian memeluk salah satu pemain sebagai ungkapan kegembiraan atas gol yang dihasilkan pemain tersebut. Dalam judul dengan standar baku akan ditulis 'Chelsea Menang, Conte Ucapkan Terima Kasih Pada Pemain'. Sementara itu ada lagi judul lain yang memakai clickbait 'Pasca Chelsea Menang, Conte Langsung Peluk Islam'. Eh, serius judul clickbait itu memang betul, meski anda bakal mengalami kejengkelan ketika membaca isinya. Sebab Conte tidak mengubah agamanya menjadi Islam, tapi memang ia memeluk seorang pemain Chelsea yang bernama Islam Feruz.

Dilematika

Nah, persoalan dilemanya kemudian ada pada pilihan antara mempertahankan standar penulisan jurnalistik yang baku, dengan pemenuhan harapan agar situs yang dikelolanya terus dibanjiri dengan traffic.

Dalam beberapa kali percobaan menggunakan clickbait, sebuah artikel yang saya buat ternyata memang memperoleh traffic yang lumayan dibandingkan dengan judul yang memenuhi standar baku jurnalistik. Percobaan ini saya lakukan baik di blog sendiri, maupun ketika menulis untuk beberapa situs kurasi. Bahkan sebuah situs kurasi memang mensyaratkan adanya judul clickbait dalam setiap artikel yang dibuat.

Namun jika dikembalikan pada ada sebagian orang yang menganggap sebuah judul clickbait adalah sampah, maka terlalu banyak menggunakan judul clickbait menjadi bumerang juga. Alih-alih mendulang traffic, orang-orang justru menuduh situs kita sebagai biang spam. Lantas bagaimana agar dilematika judul clickbait ini tidak bisa disikapi dengan arif? Berikut beberapa kiat yang bisa dilakukan.

1. Kenali calon pembaca

Mengetahui segmentasi pembaca bisa jadi langkah awal untuk membuat sebuah judul tulisan yang clickbait atau tidak. Kalau memang belum tahu, sebaiknya lakukan dulu riset kecil-kecilan. Misalnya pada satu waktu buatlah artikel dengan judul yang tidak clickbait, dan waktu yang lain buatlah judul yang clickbait. Lihatlah mana yang lebih baik traffic-nya. Jika memang traffic-nya lebih bagus yang clickbait, ya apa boleh buat. Tapi jika tidak, maka jangan buat judul clickbait.

Oh iya, percobaan ini hanya bisa dilakukan pada calon pembaca di media sosial. Sebab dalam pencarian Google, justu yang non-clickbait malah lebih mudah dirayapi oleh Robot Google.

2. Buatlah clickbait hanya ketika pembaca sudah tahu penulis dan situsnya

Pada kasus sebuah postingan tautan di media sosial dilaporkan sebagai spam, itu ketika orang-orang tidak mengetahui siapa yang membagikannya. Dalam hal ini si pembagi masih anonim. Sehingga orang-orang menaruh curiga bahwa clickbait yang dibuat disangka menyimpan malware, isinya tidak bagus, dan lain sebagainya.

Hanya saja, buatlah clickbait hanya sesekali saja, sebab judul semacam ini seringkali menjatuhkan kredibilitas penulisnya.

3. Pakai clickbait hanya pada tempatnya

Dalam beberapa situs kurasi, dimana penulis menulis di situs orang lain, judul clickbait cukup dianjurkan. Sebut saja UC News maupun Babe. Kalau di aplikasi situs tersebut, memang hanya tersaji judul-judul dan gambar sisipan saja untuk menarik perhatian. Sehingga setiap penulis atau kurator memang dianjurkan untuk membuat judul yang semenarik mungkin agar bisa bersaing dengan judul yang dibuat penulis lainnya.

Jika memang dianjurkan, maka pakailah clickbait di sini, di tempat yang memang ditentukan. Sebab traffic bagi situs-situs semacam ini adalah nyawa, dan semakin tinggi lonjakan traffic-nya, maka penulisnya pun akan kecipratan berkahnya. More clickabe a writing, more money is coming.

Saat ini, clickbait memang sudah menjadi senyawa yang sukar dipisahkan dari media sosial, dan internet secara umum. Meski Google dan Facebook berkomitmen melakukan razia konten clickbait, pada kenyataannya setiap hari jumlah clickbait terus muncul tak kenal waktu. Namun buat yang merasa kesal dengan konten clickbait, boleh bergabung di laman Facebook Stop Clickbait. Tapi jangan laporkan blog ini ya.
Read More