24 Oktober 2017

Selalu Nyaman dan Hemat Bersama AC Daikin

Dua kali ganti air conditioner (AC), dengan pengalaman buruk yang menyertainya, hampir membuat rumah saya bebas alat listrik yang satu ini. AC yang pertama cuma mirip kipas angin, hanya keluar angin tanpa ada hawa dingin sama sekali. AC yang kedua bunyi mesinnya keras, dan bikin mumet kalau habis bayar tagihan listrik.

Ya, hampir saja saya tak lagi memasang AC di rumah kalau saja mengabaikan Hanum, putri saya. Dia memang tak butuh kamar bagus layaknya milik Rapunzel. Namun syarat kamar agar dia bisa tertidur pulas baginya cuma dua: sejuk dan senyap.

Saya mesti memutar otak. Sebab memenuhi pulasnya tidur anak memang mudah. Tapi saya dan istri yang jadi tak pulas sebab memikirkan bengkaknya tagihan listrik. Dan mulailah pencarian AC setelah AC kedua sudah dipastikan tewas oleh tukang servis.


"Kalau AC ya Daikin," begitulah saran kakak ipar.

Untuk memastikan kalau kakak kandung dari istri saya itu tak termakan iklan, akhirnya mulailah saya searching di Google. Kata kunci "AC harga 3 jutaan" saya ketikkan di address bar. Mengapa "3 jutaan"? Sebab itulah budget yang saya punya setelah menjual beberapa barang. Ya itulah, demi anak.

Rata-rata AC dengan harga tiga jutaan rupiah memiliki kapasitas 0,5 PK dengan jenis non-inverter. Saya pun mesti mempertimbangkan AC yang bakal saya beli merupakan AC hemat energi. Jika tak begitu, meski harganya murah, saya tak mau tekor pada tagihan listrik.

Saya melupakan sementara AC Daikin yang direkomendasi oleh kakak ipar itu. Sebab bisa jadi di luar sana, setelah saya mencari justru ketemu yang lebih baik. Akhirnya tanpa pikir panjang, saya datang ke toko elektronik langganan untuk bertanya langsung.

"Koh, AC yang bagus apa sih?" saya bertanya kepada kokoh pemilik toko elektronik di bilangan Jalan Suprapto, Indramayu. Kokoh merupakan sebuah panggilan khas pada etnis Tionghoa.

"Kalau AC ya Daikin," jawab kokoh, persis sama dengan jawaban kakak ipar.

"AC Daikin bisa cepat dingin, hemat, dan paling minim keluhannya dibanding AC lain. Merek ini paling laris disini," kata kokoh.

Inilah AC Daikin yang saya beli.

Dengan budget seadanya, saya membeli AC Daikin model FTNE15MV14 dengan kapasitas 0,5 PK. Katanya AC ini termasuk tipe non-inverter. Saya deg-degan, sebab tipe AC ini bakal memakan daya listrik lebih besar, meski harganya lebih murah dibandingkan tipe inverter.

Setahun berlalu.

Persoalan AC yang paling umum adalah kotor, sehingga wajib rutin dibersihkan paling tidak tiga bulan sekali. AC Daikin yang saya miliki sudah empat kali dibersihkan, dan alhamdulillah tak ada keluhan selama setahun ini. Selain cepat dingin, mesin AC pun tak menimbulkan suara yang bising.

Bagaimana dengan tagihan listriknya? Kalau dibandingkan dengan AC yang lama, setoran AC Daikin menyumbang 25-30 persenan saja dibandingkan dengan AC yang lama yang mencapai 40 hingga 50 persen. Persentase tersebut didasarkan pada hasil hitungan Watt Meter yang dihasilkan AC Daikin dari tukang servis yang sama saat mengurusi AC yang lama.

Kesimpulannya setelah satu tahun saya pakai, AC Daikin yang saya pakai mampu memberikan dua hal sekaligus. Pertama, kenyamanan bagi putri saya, sebab mesinnya tidak bising dan kedua mampu menghemat pengeluaran rumah tangga saya.
Read More

22 Oktober 2017

Asus Zenfone 4 Selfie dan Zenfone 4 Selfie Pro, Duo Ponsel Wajib Penggemar Selfie

Ponsel baru Asus dari lini Zenfone 4 hadir lagi di Indonesia. Setelah meluncurkan Asus Zenfone 4 Max Pro sebagai pembuka, kini Asus menawarkan lagi lini yang dibuat khusus untuk seri selfie, Asus Zenfone 4 Selfie dan Asus Zenfone 4 Selfie Pro.

Kalau diperhatikan dengan seksama, Asus (mungkin) telah belajar dari peluncuran seri Zenfone 3 di Bali tahun kemarin. Pasalnya, meski diluncurkan pada satu waktu dan tentu saja melibatkan publikasi yang cukup megah, kenyataannya lini Zenfone 3 masih jauh dari ekspektasi. Sebab hingga kuartal 2 tahun 2017, Asus hanya mendapat market share sebesar 7% dari populasi penjualan smartphone tanah air.

Jadi ibarat perang, pada peluncuran Zenfone 3 itu, Asus mengeluarkan satu armada penuh dalam satu kali serangan. Dan hasilnya ya begitu. Bahkan hingga hari ini, produk flagship lini itu, yakni Asus Zenfone 3 Deluxe yang harganya hampir Rp.11 juta, jarang dibicarakan oleh digital influencer. Apalagi dilihat dari sisi pembelian, 'kan? Ya intinya untuk kelas flagship, Asus belum banyak berbicara dibanding beberapa brand sebelah.


Optimis. Setidaknya kata itulah yang selalu ada di benak setiap pemasar. Optimisme itulah yang mungkin dimiliki pula oleh Davina Larissa Rolos selaku Product Marketing Asus, dan tentu petinggi Asus Indonesia lainnya. Optimisme itulah yang menghantarkan Asus meluncurkan strategi pasar baru dan pada tanggal 25 Oktober 2017 meluncurkan Asus Zenfone 4 Selfie dan Asus Zenfone 4 Selfie Pro. Seperti apa sih ponselnya?

Zenfone 4 Selfie (ZD553KL)


Ada kata 'selfie' yang menjadi frase tambahan dari Zenfone 4 yang satu ini. Dan tentu saja ini menjadi penanda kalau ponsel ini memang diperuntukkan buat mereka yang gandrung selfie. Iya, swafoto yang mulai marak semenjak era media sosial hadir.

Dilihat dari desain bodinya, lini Asus Zenfone 4 mirip ponsel sebelah yang berasal dari Korea. Pun begitu dengan Asus Zenfone 4 Selfie. Namun perbedaannya langsung tampak ketika wajah ponsel ini dilihat dengan jelas. Ada dua kamera ganda yang berada di dua sudut atasnya.

Dua kamera di depan ini tidak berdekatan, tapi dipasang di kedua sudut dahi ponsel. Kamera pertama berkapasitas 20MP dengan bukaan f/2.0, serta kamera satu lagi 8MP yang berfungsi sebagai lensa wide 120˚. Bagian inilah yang menjadi andalan bagi Zenfone 4 Selfie.

Kalau di bagian belakang, Asus membenamkan kamera sebesar 16MP  dengan bingkai yang mengingatkan kita pada Asus Zenfone Deluxe.

Sementara untuk dapur pacu, Asus memberikan chipset Snapdragon 430 Adreno 505 dengan RAM sebesar 4GB dan memori internal sebesar 64GB. Dapur pacu ini hanya berbeda RAM saja dari Zenfone 4 Max Pro.

Dengan layar 5,5" HD dan baterai 3000mAh, sepertinya ponsel yang satu ini memang tak menunjang ketahanan daya layaknya seri Max. Apalagi, pada beberapa video unboxing, charging-nya pun bakal memakan waktu yang tak sebentar.

Zenfone 4 Selfie Pro (ZD552KL)


Pertanyaan mendasar yang pertama kali terlontar, apa sih perbedaan antara ponsel yang ada Pro-nya dengan yang enggak ada? Jawabnya ada pada kamera, chipset, dan layar.

Dengan desain penempatan kamera depan yang berbeda, Zenfone 4 Selfie dan Zenfone 4 Selfie Pro sudah bisa dibedakan. Dua kamera Zenfone 4 Selfie Pro ditempatkan berdekatan. Mungkin karena kapasitasnya sama, yakni masing-masing 12 MP. Loh, kog lebih kecil?

Tenang saja, kemampuan kamera depan Zenfone 4 Selfie Pro bakal setara dengan Zenfone Zoom S, yang berarti pula bakal setara jika dibandingkan dengan iPhone 7 Plus. Sebab kamera depan Zenfone 4 Selfie Pro dibekali dengan sensor flagship yang dibuat Sony, yakni IMX 362.

Sementara kamera belakangnya sama dengan yang dimiliki Zenfone 4 Selfie, yakni 16MP.

Perbedaan selanjutnya terletak pada chipset. Kali ini Asus membenamkan chipset Snapdragon 625 dengan Adreno 506. Chipset ini memungkinkan Zenfone 4 Selfie Pro mampu merekam video dengan kualitas 4K.

Agar tampilan grafisnya bagus, ponsel ini pun dipasangi layar 5,5" Full HD AMOLED. Dan sayangnya, baterai yang diberikan sama dengan saudaranya itu, yakni 3000mAH. Sehingga penggunanya mesti bersiap-siap dengan power bank maupun tak boleh jauh-jauh dari colokan.

Bagaimana rekomendasinya? Jujur, saya sendiri tak begitu suka dengan seri Zenfone Selfie. Sebabnya selain muka saya enggak selfie-able, saya lebih sering menggunakan kamera belakang untuk fitur fotografi ponsel. Namun dengan maraknya foto selfie dan wefie, tentu saja ponsel ini patut dipertimbangkan untuk dibawa pulang ke rumah.

Berapakah harganya? Sayangnya kita mesti menunggu hingga 25 Oktober 2017 untuk mengetahui harga resminya di pasaran Indonesia. Sebab pada tanggal tersebut, ponsel ini bakal dirilis resmi di Indonesia dengan menghadirkan brand ambassador Asus di Asia, yakni aktor serial Goblin dari Korea, Gong Yoo.

Sekedar informasi, di luar negeri Asus Zenfone 4 Selfie dan Selfie Pro sudah dirilis. Harganya berkisar antara Rp.4,7 jutaan untuk Selfie, dan Rp.7 jutaan untuk Selfie Pro. Hmmm... setidaknya kita tahu bakal turun dan bersaing dengan ponsel apa seri Zenfone 4 Selfie ini.
Read More

12 Oktober 2017

Tiga Pelajaran dari Matinya Windows Mobile

Microsoft telah meniadakan Windows Mobile beberapa tahun belakangan ini. Alasannya sederhana, yakni pemakainya sedikit. Dalam hitungan BBC, Windows 10 Mobile saja dipakai hanya 0,03. Sementara menurut NetMarketShare, Windows Mobile hanya dipakai oleh 0,87 persen pengguna smartphone. Lini ini memang masih dikuasai Android dengan angka 65,53 persen, disusul kemudian oleh iOS di 32,34 persen.

Pilihan Microsoft memang ekonomis. Sebab apapun yang tak menghasilkan uang, selayaknya tak usah dilanjutkan. Meski begitu, tak perlu khawatir buat para pengguna ponsel berbasis Windows. Sebab menurut Joe Belfiore, ponsel tersebut bakal terus diberi dukungan keamanan dan perbaikan apabila ada bugs. Tapi tentu tak akan ada inovasi baru.


Orang yang memang memimpin tim di Microsoft untuk lini Windows Phone tersebut telah menjelaskan dalam rangkaian twit-nya. Joe menerangkan kalau Microsoft sebetulnya telah bersusah payah melakukan investasi untuk membuat aplikasi, mengeluarkan uang, dan tentu saja dibarengi dengan kerja keras siang-malam. Namun jumlah pengguna Windows Mobile tak kunjung naik siginifikan.

Fakta inilah yang kemudian terungkap, kalau pengguna komputer dan ponsel punya preferensi yang berbeda soal sistem operasi. Meskipun Windows dipakai oleh 90,61 persen (data NetMarketShare) pengguna komputer, namun hal tersebut tak berpengaruh ketika jumlah pengguna tersebut menggunakan ponsel. Kebanyakan dari mereka tetap memilih Android.

Jadi kalau ada yang ngotot bilang kalau Microsoft Windows Mobile masih ada, ya memang masih ada. Tapi Microsoft tak akan membuat ponsel lagi yang berbasis Windows. Kalau boleh diistilahkan, sistem operasi ini mengalami diskontinu. Dan Microsoft telah mengumumkannya secara resmi pada bulan ini.

Kedigdayaan yang belum bisa ditundukkan

Alhasil, demi melanjutkan operasinya di ranah mobile, Microsoft pada akhirnya mengembangkan aplikasi di Android dan iOS. Sejak awal sudah ada Office Mobile, dan kini Microsoft Edge versi Mobile, kemudian ada lagi Microsoft Launcher for Android. Dan masih banyak lagi aplikasi milik Microsoft yang menyesuaikan dengan pasar demi bertahannya mereka di ranah mobile.

Meski data Bloomberg masih mengukuhkan Bill Gates di posisi pertama orang terkaya di dunia dengan $86,8 miliar, namun untuk nilai perusahaan, Microsoft harus rela berada di posisi ketiga. Dan dua perusahaan yang mengangkangi Microsoft tentu dua perusahaan yang produknya mengangkangi Windows Phone. Yup, Apple berada di posisi pertama dan Alphabet berada di posisi kedua. Buat yang belum tahu, Alphabet merupakan perusahaan induk dari Google.

Microsoft mau tak mau harus merelakan posisi-posisi tersebut pada dua pesaingnya di ranah teknologi itu. Dan tentu beberapa langkah bisnis yang dijalankan oleh Microsoft setidaknya meninggalkan beberapa pelajaran (bisnis) buat kita semua. Dan inilah tiga diantaranya.

1. Produk yang sukses di satu platform, belum tentu sukses di platform yang lainnya.

Windows yang menjadi raja desktop, ternyata tak berkutik ketika berhadapan dengan dinamika mobile. Perbedaan platform semacam ini mengakibatkan perbedaan preferensi pengguna. Sebab konsumen ternyata memiliki preferensinya tersendiri dalam memakai sebuah produk.

Salah satu contoh, ketika sebuah novel begitu laris di toko buku. Ternyata ketika novel itu difilmkan, produsernya menangguk rugi sebab film tersebut sepi penonton. Namun Harry Potter menjadi pengecualian. Novel ini sukses di versi cetak maupun film.

2. Kalau melawan 'raksasa' yang belum terkalahkan, luncurkan 'prajurit-prajurit' yang kecil dan nyaris tak terlihat.

Microsoft pada sisi desktop memang raksasa, tapi ketika sifat raksasa ini dipakai dalam industri mobile ternyata takluk oleh raksasa lain. Bendera putih dari Microsoft akhirnya berkibar. Namun perang tentu saja belum berakhir. Microsoft akhirnya meluncurkan prajurit-prajurit kecilnya berupa aplikasi Android itu, untuk tetap bertahan dan mungkin pada masanya akan kembali membangkitkan raksasa yang pernah mati.

3. Inovasi yang bertopang pada kebutuhan konsumen akan memenangkan persaingan.

Ada yang pernah memakai Windows Mobile awal kali hadir? Kalau pernah, tentu memahami mengapa sistem operasi ini takluk oleh Android dan iOS. Sebab pada saat itu Microsoft seolah hanya memindahkan Windows dari desktop ke mobile. Sehingga tombol-tombol yang kecil itu begitu susah beradaptasi dengan layar sentuh ponsel. Microsoft kemudian menyadari kekeliruan ini, sehingga meluncurlah perombakan tampilan yang bisa terlihat di Windows 8.

Perombakan tampilan itu terlambat. Sebab Android sudah melakukan penetrasi terlampau jauh yang sulit dikejar, bahkan oleh iOS sekalipun. Pengguna sudah nyaman dengan Android, dan sepertinya ogah melirik yang lain. Iya lah, siapapun kalau sedang nyaman, tentu sukar berpindah ke lain hati. Betul?
Read More

8 Oktober 2017

Inilah Lima Ponsel dengan Kamera Terbaik Saat Ini

Banyak orang yang melakukan upgrade ponsel hanya agar kamera ponselnya lebih baik. Oleh sebab itu, tren dua tahun ke belakang ini, pabrikan ponsel ramai-ramai membenamkan kamera nan gahar dengan fitur segudang demi merebut hati calon konsumen.

Slogan 'We Love Photo', 'Perfect Selfie', maupun 'Selfie Expert' dan sejenisnya bertebaran dimana-mana. Semuanya mengklaim diri sebagai penghasil kamera ponsel terbaik di kelas masing-masing. Namun tentu ada standarisasi tentang mana ponsel yang patut dinilai sebagai ponsel dengan kamera bagus, atau ponsel dengan kamera yang biasa-biasa saja.

Kalau performa chipset, grafis, dan tampilan ponsel sering dipercayakan pada AnTuTu Benchmark, maka untuk urusan kamera, banyak pihak memercayakannya pada DxOMark. Perusahaan piranti lunak yang berbasis di Boulogne-Billancourt, Perancis ini memang telah melakukan uji performa sensor, lensa, dan kamera ponsel pada ribuan perangkat. Konsistensinya sejak berdiri pada 2008 menghantarkan DxOMark sebagai perusahaan yang paling dipercaya untuk urusan kamera.


Ada beberapa hal yang diuji oleh DxOMark sebelum menentukan skor pada kamera sebuah ponsel. Dari pencahayaan pada hasil foto hingga bokeh yang dihasilkan. Semuanya diuji hingga menghasilkan skor yang berbeda-beda pada masing-masing kamera ponsel. Skor ini akhirnya memunculkan daftar ponsel dengan kamera-kamera terbaik yang ada di dunia ini. Dan inilah lima besar diantaranya:

5. Google Pixel

Ponsel produksi Google pada 2016 ini mendapatkan skor 90. Dengan spesifikasi kamera belakang 12 MP dengan sensor CMOS dan bukaan f/2.0, serta kamera depan 8 MP bukaan f/2.4. Dengan chipset Snapdragon 835, ponsel ini mampu dibawa ngebut tak cuma perihal komputasi saja, namun soal fotografi pun, menurut DxOMark, sangat mumpuni.

Harga Google Pixel berada di angka USD 650 atau sekitar Rp.8,5 juta.

4. iPhone 8

Ponsel dari Apple yang belum lama dirilis ini langsung menyodok di posisi empat besar, mengungguli Pixel yang membuntuti di bawahnya. Kegaharan kamera iPhone 8 terletak pada sensor BSI yang berada di balik kamera 12 MP dengan bukaan f/1,8.

Saat dites oleh tim DxOMark, iPhone 8 mendapat skor 92, beda 2 poin dari Pixel. Namun meski dirilis pada saat bersamaan, iPhone 8 berada di bawah iPhone 8 Plus yang menempati urutan pertama, meski hanya bertahan beberapa hari saja.

3. Samsung Galaxy Note 8

Ada rasa khawatir tentang nasib suksesor Note 7 ini. Sebab, turun di kelas flagship, mendiang Note 7 telah mempermalukan Samsung sejadi-jadinya, disamping membuat rugi jutaan dollar. Dan Note 8 tentu membawa misi yang cukup berat tersebab kasus baterai dari pendahulunya itu.

Dan untunglah, setelah dirilis beberapa hari, kamera Note 8 langsung menempati posisi ketiga dengan skor yang sama dengan iPhone 8 Plus, yakni 94. Berbekal kamera ganda 12 MP dengan ukuran sensor 1,4 ┬Ám 26 mm piksel dan 1 piksel 52 mm, dan didukung chipset Exynos 8895 (Global) atau Snapdrgaon 835 (AS dan Cina), Note 8 dibanderol Rp.12,9 juta, resmi.

2. iPhone 8 Plus

Ya, sempat menempati posisi puncak meski harus berbagi skor dengan Note 8, iPhone 8 Plus harus rela menempati runner-up daftar ponsel berkamera terbaik. Ponsel besutan Apple ini memang memenuhi hampir semua ekspektasi dari hasil pengujian terkait hasil gambar yang dihasilkan. Kamera ganda yang dibenamkan di belakangnya, yakni 12 MP dengan sensor BSI bukaan f/1,8, dan 12 MP telefoto dengan bukaan f/2,8, membuat segalanya jadi mungkin.

Saat iPhone 8 Plus diuji, DxOMark menganggap ponsel yang dibanderol USD 799 ini sudah memenuhi segala ekspektasi yang diharapkan dari sebuah kamera ponsel. Ya, itu sebelum Pixel 2 hadir yang mengubah segalanya.

1. Google Pixel 2

Inilah pertama kalinya sebuah ponsel menempati skor 98 pada pengujian DxOMark. Dan Google Pixel 2 cukup mengejutkan banyak orang, terutama karena menyingkirkan iPhone 8 Plus dan Galaxy Note 8 dengan rentang skor yang terbilang jauh, sebab keduanya merupakan ponsel dengan kamera terbaik.

Kamera Pixel 2 memiliki pencahayaan yang sangat alami, bokeh yang cukup artistik, dan gambar yang sangat tajam. Hasil pemotretan itu dihasilkan dari kamera dengan spesifikasi 12,2 MP dengan bukaan f/1,8 yang dimiliki Pixel 2.

Sebenarnya Pixel 2 hadir bersama Pixel 2 XL, namun di DxoMark ponsel yang berbeda dari sisi layar tersebut tidak dimunculkan. Mungkin karena secara spesifikasi Google Pixel dan Pixel 2 XL tak berbeda.

Itulah kelima ponsel dengan kamera terbaik versi DxOMark. Adakah ponsel kamu di daftar tersebut?

Cek juga videonya:

Read More

3 Oktober 2017

Kesan Pertama dengan Evercoss Winner Y Star, Ponsel Layar Anti Pecah

Pertengahan September kemarin, media sosial dihebohkan oleh 'ulah' sales ponsel yang membanting-banting dagangannya. Ditambah lagi, ponsel itu digunakannya untuk memalu paku. Dan, hebatnya, ponsel itu masih bertahan, tak ada retak apalagi pecah.

Iya, Evercoss Winner Y Star nama ponsel tersebut, atau bisa disebut pula sebagai U50A+. Sebuah ponsel buatan lokal yang dibanderol sebagai ponsel anti paku dan anti banting. Harganya pun cukup terjangkau, hanya Rp.1.299.000 saja sudah bisa membawa pulang ponsel dengan sistem operasi Android Nougat. Namun selain tahan banting dan bisa menggantikan palu, apa sih sisi positif dan negatif dari ponsel ini? Let see...


Desain

Tempo hari, saya berkesempatan untuk melakukan unboxing ponsel Evercoss Winner Y Star. Impresi awal dari tampilan, saya dibawa kembali pada era dimana ponsel asal Finlandia jatuh akibat diserbu oleh ponsel buatan Cina. Nah, Evercoss Winner Y Star ini adalah ponsel Cina tersebut.

Dengan desain mirip-mirip ponsel masa lalu, ditambah balutan plastik yang melingkupi body belakangnya, ponsel ini terkesan murahan. Jualannya ya memang pada layar IPS 5 inci yang diklaim sangat keras. Ada yang menyebutnya sebagai Kingkong Glass, sebagai upaya menyaingi Gorilla Glass. Dalam spesifikasi yang tertulis di kotak, Evercoss hanya menyebut kaca tersebut sebagai 'hard glass screen'. Mungkin itu kaca yang sama pada tameng yang dipakai oleh polisi huru-hara. Mungkin.

Sehingga sangat disarankan apabila melakukan uji coba ketahanan ponsel dengan paku, jangan melakukannya dengan bagian belakang ponsel ini. Sebab selain body glossy-nya yang rentan goresan, bagian ini pun sepertinya tidak diklaim sebagai plastik yang keras seperti pada layar.

Spesifikasi

Kesan pertama, ponsel ini memang memiliki sistem operasi Android 7.0 alias Nougat. Tapi bukankah tak semua yang memakai Android yang baru adalah ponsel yang bagus? Dan hal ini pun sepertinya berlaku pada Evercoss Winner Y Star. Sebab dengan chipset dari MediaTek MT6737, Quad-core 1,3 GHz ARM Cortex-A53, GPU ARM Mali-T720 MP2 dengan kecepatan 550 MHz, kemudian RAM 2 GB dan ROM 16 GB, ponsel ini tentu tak terlalu bisa diandalkan selayaknya ponsel kelas menengah lainnya.

Hanya saja, kalau menengok harga yang ditawarkan, yakni di angka Rp.1,2 jutaan, spesifikasi tersebut tentu terbilang cukup melimpah. Apalagi sudah tersedia sensor finger print dengan kompatibilitas gesture swap, membuat ponsel ini selayaknya masuk radar untuk dipinang untuk jadi ponsel cadangan.

Baterai

Dari segi daya menjadi satu sisi lemah dari ponsel ini. Sebab Evercoss hanya memberikan daya baterai 2.450 mAh pada U50A+ ini. Ditambah pula kepala charger yang bertuliskan 1 A, yang berarti pengisian dayanya bakal cukup memakan waktu.

Jadi kalau dipikir-pikir lagi, Evercoss Winner Y Star memang menjadi ponsel yang patut diperhitungkan buat pekerja luar atau siapapun yang ponselnya sering terbanting, terbentur, terantuk, dan ter-ter yang lainnya yang menyebabkan layar menjadi retak hingga pecah. Evercoss sudah menjawab tantangan tersebut lewat ponsel ini. Sebab kalau menengok ponsel lainnya yang memiliki klaim anti-pecah namun punya sertifikat IP68 alias anti air, harganya bisa melejit jauh melampaui Evercoss Winner Y Star. Tengok saja misalnya ponsel dari CAT ini.

Buat yang penasaran seperti apa kuatnya layar Evercoss Winner Y Star? Yuk, tengok video berikut ini.

Read More

15 September 2017

Pengen Beli iPhone X Tapi Kemahalan? Ini Alternatifnya

Apple telah meluncurkan seri iPhone terbarunya. Kalau melihat tren pemberitaan, tampak Apple hanya menerbitkan iPhone X saja. Padahal ada tiga gawai yang diluncurkan dari markas Apple pada Rabu (13/9) kemarin ini, yakni iPhone 8, iPhone 8 Plus, dan iPhone X.

Ya, iPhone X menyita perhatian tersebab ia menjadi gawai unggulan yang diproduksi pula secara spesial. Ia menandai sepuluh tahun kehadiran iPhone sejak dibuat pertama kali pada 29 Juni 2007. Sehingga spesifikasi dan kecanggihan yang dibenamkan oleh Apple pada iPhone X begitu menggoda.

Sayangnya, harganya terlampau tinggi buat orang yang bukan fans fanatik Apple. Sebab untuk mendapatkan ponsel ini, anda mesti merogoh kocek sebesar $999 atau sekitar Rp.13 juta. Iya, harganya hampir setara dengan motor matic yang biasa dipakai ibu-ibu di pasar.


Baca juga:

Maka alangkah lebih baik jika anda mencari alternatif pengganti jika memang sudah terlanjur jatuh cinta dengan karakteristik yang dipunyai iPhone X ini, namun koceknya tak mencukupi. Setidaknya ada tiga hal yang menjadi pertimbangan untuk mencari alternatif, yakni hardware-nya setara, sama-sama tanpa bingkai alias bezel-less, dan harganya lebih rendah dari iPhone X. Berikut beberapa diantaranya:

1. Samsung Galaxy S8+


Ada Samsung Galaxy S8+ yang mewakili alternatif dari iPhone X. Sebab ya memang ponsel inilah yang bisa menjadi penantang serius ketika siapapun mencoba untuk membanding-bandingkan iPhone X dengan ponsel dari pabrikan lainnya.

Spesifikasi S8+ yang bisa menjadikannya alternatif tentu karena chipset octa-core dari Qualcomm Snapdragon 835 yang dimilikinya. Bahkan jika diadu lebar layar, S8+ tentu lebih jago karena dengan 6,2 inci layar S8+ lebih lebar.

S8+ juga punya dua tipe ponsel kalau dilihat dari RAM dan ROM-nya. Pilihannya ada yang RAM 4GB dengan ROM 64GB, ada pula yang RAM 6GB dengan ROM 128GB. Harga yang ditawarkan pun mulai dari Rp.9,5 jutaan.

2. LG V30+


LG V30+ merupakan penantang selanjutnya terhadap iPhone X. V30+ punya chipset yang serupa dengan S8+, yakni Qualcomm Snapdragon 835 octa-core 2,45 GHz. Layar V30+ dibekali dengan P-OLED dengan lebar 6 inci.

Sayangnya, V30+ belum dipasarkan di Indonesia, sehingga harganya belum bisa disesuaikan dengan pasaran tanah air. Namun pasca dirilis di ajang IFA Berlin 2017, LG V30+ kemudian dibanderol dengan harga KRW 998.800 atau setara dengan $880 atau jika dirupiahkan maka kocek yang perlu dirogoh sebesar Rp.11,6 juta. Ya masih lebih murah daripada iPhone X.

3. Xiaomi Mi Mix 2


Tanda pagar #mendingXiaomi bertambah menggema semenjak ponsel flagship ini keluar. Sebabnya jelas, dengan spesifikasi yang mumpuni di kelas flagship, seperti Snapdragon 835, RAM 6 GB dan ROM 64 GB, Mi Mix 2 'hanya' dibanderol dengan harga Rp.6 jutaan. Dan versi RAM 8 GB dengan ROM 128 GB, yang merupakan versi tertinggi dengan nama Mi Mix 2 Special Edition dengan body keramik, dibanderol dengan harga Rp.9,5 jutaan.

Namun itu hanya perkiraan harga dari hasil penyesuaian kurs terhadap Yuan. Sebab ponsel ini belum dirilis secara resmi di tanah air. Sabar ya, Mi fans.



Siapa pencipta Android? Sundar Pichai? Big no. Dialah Andy Rubin, sosok yang kini sudah hengkang dari Google dan memilih mendirikan perusahaan rintisan yang diberi nama Essential.

Dan pada bulan Mei 2017, Essential ini merilis sebuah ponsel yang diberi nama Essential Phone. Dengan spesifikasi chipset dari Snapdragon 835, RAM 4 GB, ROM 128 GB, serta layar 5,7 inci, Essential Phone menjadi penantang serius ponsel kelas flagship.

Sayangnya, untuk konsumen Indonesia, ponsel yang dibanderol $699 atau setara dengan Rp.9,2 jutaan ini belum dipasarkan secara resmi.

Itulah keempat ponsel yang bisa menjadi alternatif bagi iPhone X. Ya kalau buat konsumen tanah air, satu-satunya yang bisa menjadi pilihan hanyalah Samsung Galaxy S8+. Namun ponsel yang lain pun bisa didapatkan lewat e-commerce luar negeri. Ya setidaknya anda punya alternatif pilihan selain iPhone X dengan spesifikasi yang nggak beda jauh, dan harga yang jauh lebih rendah.
Read More

13 September 2017

10 Kecanggihan Ini Hadir Pertama Kali di iPhone X

Dari Steve Jobs Theater, Cupertino, Apple akhirnya merilis gawai yang paling dinanti penggemarnya. Tak tanggung-tanggung, dari markas besar Apple di Amerika Serikat ini, Apple menelurkan tiga ponsel pintar sekaligus, yakni iPhone 8, iPhone 8 Plus, dan iPhone X.

Nah, nama yang terakhir memang gawai nan spesial dari Apple. Sebab iPhone X merupakan sebuah gawai penanda kalau iPhone sudah berusia sepuluh tahun sejak generasi pertama dikenalkan Apple pada 29 Juni 2007. Jadi simbol 'X' disitu merupakan bilangan Romawi yang berarti sepuluh.

Sepuluh tahun perjalanan iPhone memang menjadi dekade penuh perjuangan. Sebab dari data Bloomberg, nilai perusahaan Apple masih berada di posisi ke-70 saat iPhone dibuat pertama kali. Dan sepuluh tahun setelahnya, tepatnya per-3 September 2017, Apple memuncaki perusahaan apapun di dunia ini dengan nilai $800 milyar. Well done, Apple.

Itulah mengapa, iPhone X ini menjadi istimewa, sebab kehadirannya sekaligus sebagai penanda keberhasilan Apple bukan hanya di industri teknologi, namun dalam industri apapun di dunia ini. Dan tak cuma itu saja, ada sepuluh macam hal yang menjadikan iPhone X istimewa. Sebab kesepuluh macam itu merupakan pionir dalam industri gawai pintar.



1. Saat industri ponsel sedang mengembangkan irish scanner, Apple hadir dengan Face ID.


Pemindaian muka memang bukan yang pertama. Yang kita tahu, Snapchat boleh dibilang menjadi pionir dalam membuat fitur yang satu ini. Kemudian banyak yang mengikutinya, hingga kini Facebook pun tak ketinggalan. Namun siapa yang menggunakan sensor wajah sebagai pembuka ponsel? Tentu jawabnya Apple lewat iPhone X.

Apple membuat pemindaian wajah selangkah lebih maju, sebab pertama kalinya teknologi ini digunakan sebagai pengaman ponsel. Pemindaian 3D ini tentu tak bisa disamakan dengan irish scanner. Karena meski dalam posisi gelap, sensor Face ID tetap mampu membaca wajah dan membuka ponsel.

2. Animoji yang membawa emoji ke level yang lebih tinggi.


Android Oreo boleh memperbarui emoji dengan beragam karakter yang sungguh menarik. Namun ketika Animoji keluar, emoji apapun yang ada saat ini bakal kelihatan garing dan jadul. Pasalnya, emoji yang dibenamkan Apple dalam iPhone X ini merupakan turunan dari pemindaian wajah yang digunakan dalam Face ID.

Pengguna bisa memindai mukanya sendiri dan oleh iPhone X bakal diubah ke dalam emoji yang bisa menyesuaikan mimik mukanya. Animoji akan menyesuaikan gerakan bicara pengguna, sebab fitur ini mampu beradaptasi dengan gerakan 50 otot muka manusia.

3. Selfie bokeh? Cuma ada di iPhone X.


Meski spesifikasi kamera depan iPhone X hanya 7 megapiksel, nyatanya performa barang bikinan Apple selalu bisa diadu dengan merek lain yang angkanya lebih tinggi. Begitupun kali ini. Kamera depan iPhone X yang hanya 7 MP ini dibekali dengan fitur TrueDepth.

Kalau selama ini kita disuguhi bokeh-bokehan ala fitur kamera kekinian, lewat TrueDepth pengguna bisa selfie dengan latar belakang yang blur dengan objek yang tetap tajam. Dan percaya atau tidak, fitur ini merupakan yang pertama juga.

4. Pencahayaan foto potret, membuat pengguna iPhone X bak fotografer profesional.



Fitur foto potret Apple dinamakan Portrait Lighting. Ya, pencahayaan foto potret. Lupakan sejenak Portrait Mode pada ponsel yang lain, sebab Portrait Lighting bakal membuat siapapun layaknya fotografer profesional dengan pencahayaan nan artistik.

5. Video 4k dalam 60 fps.


Apple memang sudah membenamkan kecanggihan tampilan dan perekaman video 4k. Namun dalam iPhone X, Apple memperbaikinya sehingga mampu bergerak di kecepatan 60 fps. Kabar baik buat para pegiat videografi.

6. Slo-mo pada video 1080p dengan 240 fps.



Pada iPhone 7, Apple memang telah memberikan teknologi yang mampu menghadirkan kemampuan perekaman hingga bisa membuat slow motion. Namun kala itu, iPhone 7 baru sampai merekam pada kecepatan 120 fps di resolusi 1080p. Nah, iPhone X lebih tinggi lagi, yakni sudah pada kecepatan 240 fps.

7. Chipset yang canggih.

Chipset A11 yang dipasang Apple pada iPhone X, iPhone 8 dan 8 Plus, ternyata memiliki kelebihan pada dukungan untuk neural engine. Neural engine inilah yang memungkinkan teknologi pemindaian wajah pada Face ID serta Animoji bisa terwujud. Tak cuma itu, kelak para pengembang bakal beradaptasi dengan chipset ini untuk menciptakan perangkat lunak yang sesuai.

8. Ponsel pertama yang tak memiliki 'dagu'.



Kalau tampilan ponsel adalah wajah manusia, maka iPhone X merupakan yang pertama tanpa dagu. Iya, silakan cek lagi seluruh ponsel bezel-less yang beredar di pasaran saat ini, semuanya masih memiliki dagu. Maksud dagu ini adalah bagian sisa yang berada di bawah layar. iPhone X is totally bezel-less.

9. Quad-LED True Tone Flash dengan Slow Sync.


Fitur ini sebenarnya sudah hadir sejak iPhone 7. Namun kali ini ada Slow Sync yang membedakannya. Seperti apa sih fitur ini?

Jadi begini, pernah nggak ketika memotret objek di kondisi sedikit gelap, misalnya sore hari, latar belakang akan tampak terang sebab masih ada sedikit cahaya matahari. Sehingga pengguna bakal memberikan flash untuk menerangi obyek tersebut. Sayangnya, setelah cahaya flash diberikan, latar belakang yang tadinya terang justru gelap akibat sensor hanya merekam cahaya dari flash saja.

Nah, lewat fitur ini, baik obyek maupun latar belakang akan mendapatkan porsi cahaya yang sama. Karena sensor akan menyinkronkannya. Meski fitur ini sederhana, faktanya iPhone X jadi yang pertama menerapkannya.

10. Display yang menyesuaikan dengan pencahayaan sekitar.

iPad menjadi yang pertama dalam menerapkan fitur ini. Fitur yang dinamakan dengan True Tone ini akan membuat layar ponsel menyesuaikan dengan cahaya di sekitarnya. Ya kalau ada di tempat yang terang, layar ponsel ini akan meredup, begitu juga sebaliknya. Dan meski bukan yang pertama, tapi di ranah industri ponsel, iPhone X jadi yang pertama bersamaan dengan iPhone 8 dan 8 Plus.

Spesifikasi dan harga iPhone X

Spesifikasi iPhone X sendiri, seperti iPhone pada umumnya, berada pada ranah flagship. Semuanya kelas satu. Mulai dari chipset A11 heksa core dengan co-processor M11, RAM 3GB, dua pilihan penyimpanan 64 GB atau 256 GB, layar Super AMOLED 5,8 inci. Berapa harganya?

Ada dua pilihan warna yang diberikan Apple untuk iPhone X, yakni Silver dan Space Gray. Harga yang ditawarkan pun hot sekali, yakni mulai dari $999 atau setara dengan Rp.13 juta. Berminat?
Read More

8 September 2017

5 Fakta Unik Dibalik Xiaomi Mi A1

Dari India, Xiaomi telah mengumumkan perangkat terbarunya, Xiaomi Mi A1. Sebuah ponsel flagship dengan layar 5,5 inci 1080p, bodi metal, dual-camera dengan telefoto 2x zoom dan mampu membuat bokeh yang oke.

Mengambil tempat rilis di tanah kelahiran CEO Google Sundar Pichai, Xiaomi memang menargetkan negara dengan penduduk terbanyak kedua di dunia ini untuk menjadi ranah uji coba. Sebab di negeri dengan 1,3 miliar penduduk ini, Xiaomi menempati posisi kedua pada ranah market share di bawah Samsung. Ponsel Korea itu menempati puncak klasemen penguasa pasar ponsel India dengan 24%, sementara Xiaomi mengikuti di bawahnya dengan 17%.

Bukan cuma itu saja, beberapa hal tentang Xiaomi Mi A1 pun menarik untuk disimak lebih lanjut. Katakanlah semacam fakta unik yang menyertai ponsel dari merek yang terkenal memiliki harga paling ringan di kelasnya ini.



1. Xiaomi tak malu mengaku, kalau Mi A1 mirip iPhone 7 Plus.

Coba lihat lagi spesifikasi Xiaomi Mi A1 pada paragraf awal di atas. Terlebih ketika melihat bentuk dan desain yang dibenamkan pada Mi A1 ini, orang-orang bakal dengan mudah mengasosiasikan dengan iPhone 7 Plus.

Ya memang sih, hari ini ponsel mana yang nggak meniru-niru desain dari ponsel premium berlogo buah apel digigit itu. Namun Xiaomi dengan lantang mengakui kalau 12MP Telephoto lens + 12MP Wide Angle yang dimilikinya sama dengan iPhone 7 Plus.

Sengaja atau tidak, Xiaomi memang menyamakan Mi A1 dengan iPhone 7 Plus dalam sebuah twit dari akun twitter Xiaomi di @xiaomi.



Sebenarnya bukan cuma soal kamera saja yang mirip, namun desain lekuk bagian bawah pun juga mirip. Bingkai kamera juga hampir sama, namun dibedakan dengan letak flash yang berada di sebelah kiri. Sementara lokasi flash iPhone ada di sebelah kanan. Jika pada iPhone 7 Plus ada logo Apple, maka pada Xiaomi Mi A1 ada finger print.

Ya, mending mengaku terus terang daripada urusannya di pengadilan.

2. Pertama kalinya, ponsel Xiaomi nggak pakai MIUI.

Tagline Xiaomi Mi A1 adalah 'Created by Xiaomi, Powered by Google'. Tagline ini memang bukan tanpa alasan, sebab Google memang sedang membuat program bernama Android One. Program ini berupaya mewujudkan ponsel Android yang berharga murah dan dipasarkan di negara yang sedang berkembang.

Mi A1 memang bukanlah yang pertama dalam program ini. Namun untuk perangkat flagship, Mi A1 memang yang pertama mendapatkan dukungan Google. Dan julukan 'yang pertama' ini pun berlaku bagi internal Xiaomi. Sebab Mi A1 merupakan ponsel pintar pertama Xiaomi yang tidak menggunakan MIUI, sebuah Android customized yang sangat khas dengan ponsel asal China ini.

Mi A1 memakai Android murni tanpa kustomisasi layaknya MIUI. Ponsel ini sudah dipasang Android Nougat. Kelak pada akhir tahun 2017, Mi A1 bakal mendapat pembaruan Android 8.0 Oreo.

3. Mi A1 adalah Mi 5X tanpa MIUI.

Coba perhatikan spesifikasi Mi A1 berikut ini: dimensi 155,4 x 75,8 x 7,3, berat 168 gram, baterai 3080mAh, layar 5,5 inci, resolusi layar 1080x1920p, Snapdragon 625 octa-core, RAM 4 GB, ROM 64 GB, kamera depan 12 MP, kamera belakang 5 MP, Android 7.1.2. Ya, spesifikasi ini sama dengan milik Xiaomi Mi 5X yang sudah meluncur lebih dulu pada Juli 2017 kemarin.

Pada spesifikasi tersebut, satu hal yang membedakan Mi A1 dengan Mi 5X hanyalah berat saja. Mi 5X lebih ringan 3 gram dibandingkan Mi A1. Dan perbedaan yang memang paling ditonjolkan dari keduanya adalah soal penggunaan MIUI. Sebab Mi A1 merupakan program Android One dari Google.

Eh, harganya pun jika dikalkulasi sedikit lebih murah Mi 5X, loh. Mi A1 dibanderol Rs.14,999 atau setara dengan $234,5, sementara Mi 5X dibanderol sebesar 1,499 Yuan atau setara dengan $230,5. Bedanya 4 dollar. Lumayan, buat beli kuota.

4. Meski program Android One, Xiaomi membuatnya tak murni lagi.

Tujuan dibuatnya program Android One oleh Google adalah setiap penggunanya merasakan seperti apa sih Android yang sesungguhnya. Jadi program Android One akan meniadakan segala software diluar Google, ya semacam Android yang masih murni. Istilahnya stock Android.

Namun setelah Mi A1 meluncur, program itu seperti omong kosong. Sebab Xiaomi memasang tiga aplikasinya sendiri yakni aplikasi kamera Xiaomi, Mi Store, dan Mi Remote. Entah siapa yang perlu disalahkan atas ketidak-konsistenan ini. Kalau Xiaomi mesti disalahkan, mengapa Google mengijinkannya?

5. Terima kenyataan, Indonesia masuk ke dalam pasar Xiaomi Mi A1.

Entah harus merasa senang atau sedih, ketika Director of Product Management Xiaomi Global, Donovan Sung, berkata kalau Xiaomi Mi A1 bakal masuk ke Indonesia akhir September ini. Senangnya, karena bakal ada ponsel rasa flagship, dengan Android murni, namun harganya nggak bikin gaji tabungan bertahun-tahun terkuras habis.

Namun sedihnya, ketika ponsel ini masuk ke Indonesia maka kita harus menerima kenyataan. Sebab Android Mi A1 merupakan program Android One, dimana program ini merupakan program Google untuk memberikan pengalaman menggunakan Android secara murni pada belahan dunia ketiga.

Ya, secara kasar, Google memandang Indonesia sebagai negara yang kismin, eh, miskin. Iya, apa iya sih?

Kabar baik buat yang sudah menunggu Xiaomi Mi A1, ponsel rasa flagship dengan chipset Snapdragon 625, RAM 4 GB, memory 64 GB, dan baterai 3.080 mAh ini telah meluncur secara resmi di tanah air. Harganya dibanderol pada angka Rp.3,1 juta. Hampir sama dengan harga di India.

Sayangnya, Xiaomi ini belum bisa didapatkan di toko ponsel terdekat. Sebab barangnya baru datang pada 6 Oktober mendatang. Eits, buat yang mau beli dengan tawaran menarik, anda bisa ke Lazada buat ikut Flash Sale Xiaomi Mi A1.


Read More

5 September 2017

Mengapa Vivo V5 Plus Banyak Disukai Pengguna Instagram?

‘Biarlah gambar yang berbicara’ tampaknya dipahami betul oleh Kevin Systrom. Pemahaman ini yang kemudian menghantarkannya pada kesuksesan dibalik media sosial yang membuat bos Facebook kepincut dan membeli ciptaannya bersama Mike Krieger itu pada April 2012 silam.

Ya, kita sedang berbicara Instagram. Media sosial bikinan Kevin dan Mike yang diluncurkan pada 2010 itu kini cukup menyita perhatian. Sepertinya tiada momentum bahagia yang terlewat tanpa diunggah di Instagram. Dan bisa kita saksikan kalau disini orang-orang ‘berbicara’ lewat fotonya masing-masing.


Instagram merangkum mereka yang berbahagia dengan liburannya, makanannya, dan tentu saja pasangan serta keluarganya. Bahkan akun Instagram dengan unggahan tertentu, misalnya traveler girl yang mengunggah foto-foto perjalanan nan menakjubkan biasanya banyak diikuti pengguna Instagram lainnya.

Untunglah saat ini kita hidup di era kekinian, dimana sebuah kamera besar bisa digantikan dengan ponsel pintar yang ukurannya cukup di kantong celana. Apalagi setelah kehadiran Vivo V5 Plus yang keberadaannya disukai para pengguna Instagram dari mana saja.

Mengapa pengguna Instagram banyak yang suka dengan ponsel yang satu ini? Simak tujuh alasannya berikut ini.

1. Kamera canggih dengan hasil jepretan nan aduhai.


Kamera Vivo V5 Plus. Sumber: http://vivoglobal.id/produk/detail/v5plus

Ponsel Android yang baru diluncurkan di awal tahun 2017 ini memiliki 1 kamera belakang yang beresolusi 16 mp, dan 2 kamera depan yang beresolusi 20 mp dan 8 mp. Baik kamera belakang atau depan, masing-masing sudah dilengkapi dengan sensor autofocus. Sementara itu, LED Flash hanya ditempatkan di kamera belakang. Keberadaan LED tersebutlah yang mampu membuat gambar terlihat jernih, meskipun berada pada situasi minim cahaya.

Vivo V5 Plus mempunyai resolusi rekaman sebesar 2160p @30fps dan 1080p @30fps. Jadi selain menghasilkan foto terbaik, ponsel ini juga mampu membuat video berkualitas tinggi.

2. Desain menggemaskan dan layar yang lapang.


Body Vivo V5 Plus nan elegan. Sumber: http://vivoglobal.id/produk/detail/v5plus

Dari segi tampilan, Vivo V5 Plus memiliki desain berkelas yang menawan. Ponsel ini memiliki sisi lengkung di setiap sudutnya. Ukurannya yang tidak terlalu besar, yakni 5,5 inci, serta bobotnya yang cukup ringan, yakni 158 gram, juga menjadikannya lebih nyaman saat digenggam.

Vivo V5 Plus mempunyai dimensi 152, 58 mm x 74 mm x 7,26 mm, dengan bahan luar yang terbuat dari metal. Layarnya menggunakan LCD IPS yang terlindungi Corning Gorilla Glass 5, sehingga cukup aman saat terjatuh dari ketinggian hingga 1,5 meter. Saat dinyalakan, layar ponsel ini juga mampu menghadirkan tampilan yang cukup jernih karena resolusi yang dimilikinya sebesar 1080 x 1920 piksel, serta kerapatan layar yang mencapai 401 ppi.

3. Memori bisa muat banyak.


Memory Vivo V5 Plus muatnya banyak.

Dibandingkan dengan tipe-tipe sebelumnya, ponsel Android dari Vivo ini memiliki RAM terbesar, yakni 4GB. Memori internalnya juga mempunyai kapasitas yang besar, yaitu 64 GB. Namun sayangnya, tidak ada slot khusus untuk memori eksternal sehingga pengguna perlu memindahkan data setelah memori internalnya mencapai ambang kapasitas maksimal.

4. Prosesor yang cepat dan jauh dari ngelag.


Qualcomm Snapdragon 625 jadi otak nan tokcer.

Vivo V5 Plus terbukti memiliki performa yang lebih baik jika dibandingkan dengan ponsel lain. Hal itu terjadi berkat keberadaan prosesor dengan tenaga terbaik di kelasnya. Di dalam ponsel ini, Anda akan mendapati prosesor Qualcomm Snapdragon 625 dan GPU Andreno 506. Sementara itu, CPU yang digunakan berjenis Octa-core 2,0 GHz Cortex-A53.

5. Kartu SIM bisa dipakai untuk dua nomor.

Vivo V5 Plus mendukung dua nano SIM.

Vivo V5 Plus memiliki 2 slot kartu GSM yang dapat dioperasikan bersamaan. Salah satu kartu SIM berukuran nano yang paling banyak digunakan adalah kartu XL. Selain memberikan bonus kouta, operator ini juga kerap memberikan bonus telepon dan SMS untuk para pelanggan yang baru selesai mengisi pulsa XL.

Namun terkadang karena kesibukan, seseorang kerap lupa mengisi serta tidak menyadari bahwa pulsa XL yang dimiliki sudah hampir habis. Padahal, masih banyak keperluan yang mengharuskannya menelepon atau berkirim SMS. Jika kondisi tersebut terjadi, cara termudah yang bisa dilakukan adalah membeli pulsa XL di situs Traveloka atau klik di sini.

Sebenarnya, Traveloka adalah satu di antara sekian banyak layanan pengisian pulsa online yang bisa Anda manfaatkan. Sekadar informasi, situs semacam ini biasanya menawarkan harga yang terjangkau dan proses yang lebih cepat.

6. Sistem operasi yang sudah mendukung dipasangi Marshmallow.


Android Marshmallow ready di Vivo V5 Plus.

Vivo V5 Plus dijalankan dengan sistem operasi Android 6.0.1. (Marshmallow), yang sudah dibungkus dengan Funtouch OS versi 3.0. Hal itu kemudian menjadikan ponsel Android ini memiliki beragam tampilan (home screen) yang cukup menarik. Jadi, pengguna bisa mengganti-ganti tampilan ponselnya sesuka hati.

Selain itu, keberadaan Funtouch OS tersebut juga membuat Vivo V5 Plus memiliki pemutar musik dengan fitur-fitur menarik, seperti keberadaan mode BBE, menu HiFi, serta pengaturan equalizer. Terlebih, ponsel ini juga dilengkapi chip audio AK4376 sehingga menjadikan audionya berkualitas tinggi.

7. Fitur pengaman dengan sidik jari yang aman dan membuat nyaman.


Fitur pemindai sidik jari membuat Vivo V5 Plus jadi ponsel yang aman dan nyaman.

Ponsel Android ini juga sudah dilengkapi dengan fitur pengaman khusus, yakni pemindai sidik jari atau fingerprint. Dengan adanya fitur tersebut, pengguna dapat meminimalisasi adanya tindak kejahatan, seperti pencurian data di dalam ponsel, karena hanya sidik jari yang terdaftarlah yang dapat membuka ponsel tersebut.

Demikianlah ulasan mengenai Vivo V5 Plus. Anda juga tertarik menggunakannya?
Read More