Minggu, 08 Mei 2016

Matched Content, Semacam Native Advertising dari Google Adsense

Matched Content merupakan fitur baru yang dimunculkan oleh Google Adsense untuk meningkatkan kinerja iklan. Fitur ini berbentuk konten-konten yang terkait dengan artikel namun ketika di klik akan memberikan penghasilan bagi publisher. Pada matched content itu, ada konten yang dipromokan, ada pula konten punya kita. Jadi di dalam satu display iklan, meski salah satunya tidak diiklankan, Click Through Rate-nya bernilai sama.



Pertanyaan yang ingin saya kemukakan, mengapa Google mulai memberlakukan iklan semacam ini disamping serius membenahi konten-konten yang bersponsor? Ada apakah gerangan yang membuat raja mesin pencari ini memberlakukan perangai demikian? Apakah yang terjadi dengan banner ad andalan Adsense?


Native Advertising

Techinasia pernah menulis bahwa banner ad pelan-pelan mulai menemui ajalnya. Kini raja baru bahkan telah muncul meski belum ada serah terima mahkota. Banner ad telah digantikan oleh sesuatu yang sebenarnya bukan iklan, namun cocok untuk dipakai di industri periklanan. Ya, native advertising, atau kita sebut saja native ad.

Apakah Google sebelumnya tak pernah membuat native ad bagi Adwords? Tentu tidak. Dalam Adwords, pengiklan bisa memilih fitur native ad ini. Misalnya mau dimunculkan di mesin pencari, email ataupun aplikasi Google yang lain. Yang pada intinya mereka tampil dengan tidak memunculkan diri sebagai banner ad.

na·tive ad·ver·tis·ing
n. Native advertising is a form of paid media where the ad experience follows the natural form and function of the user experience in which it is placed.
http://www.sharethrough.com/nativeadvertising/

Pada awal kemunculannya, banner ad memang menjadi raja periklanan di dunia internet. Namun pelan tapi pasti, banner itu seperti menjadi sampah bagi halaman website. Oleh karena itu, sebagus apapun iklan yang ada, pembaca sering melewatkan iklan yang direpresentasikan oleh banner. Setidaknya riset dari Jakob Nielsen, pakar di bidang web usability, membuktikan bahwa pembaca mengalami 'banner blindness'.

Untuk itulah menempatkan iklan menjadi terlihat oleh pembaca menjadi prioritas yang utama. Sehingga para penyedia konten mesti memberikan ruang untuk kehadiran native ad ini. Apakah native ad ini iklan? Iya lah iklan, tapi kehadirannya sering terselubung diantara konte-konten yang tersebar dalam sebuah website. Apakah semacam replacement content? Ya, salah satunya. Kalau di Twitter ia menjelma menjadi Twit dari akun yang tak pernah kita follow, begitu pun di Facebook, ia menjadi kutipan status dari fanpage yang tak pernah kita like, lalu cuma tersedia keterangan di bawahnya: bersponsor.


Enaknya native ad itu para penyedia konten jadi tak memikirkan kode iklan dari pihak ketiga yang kadang memberatkan kecepatan dalam membuka sebuah laman website. Belum lagi jika menemukan pop-up, banner yang tidak simetris dan lain-lain. Penampilan banner ad ini mengganggu sekali. Lain soal dengan native ad. Dalam sistem periklanan ini, mencopot iklan berarti tak mendapat konten apapun dari sebuah website.

Native ad menjadi penantang serius bagi banner ad yang menjadi andalan Adsense. Itulah mengapa Google menganjurkan agar setiap tulisan yang disponsori untuk memperlihatkan hubungan sponsorship itu di awal artikel. Hal ini diperlukan agar pembaca tidak menyangka bahwa konten itu murni, padahal sebenarnya iklan yang disisipkan di konten. Itulah, bahkan mungkin native ad itu telah dikenal sebelum disebut dengan native ad.

Matched Content

Matched Content ini bukan layanan baru dari Google, namun terintegrasi dengan Adsense yang telah lama hadir memberikan penghasilan bagi penyedia konten. Matched Content sekilas mirip dengan native ad, namun Google tetap ketat menjaga ekosistemnya. Apa itu? yakni dengan tetap memberi tahu pembaca bahwa itu adalah iklan Google. Tak ada pengelabuan iklan yang seolah-olah konten. Google tetap rigid soal ini.

Lalu apa yang perlu dilakukan agar akun Adsense kita direstui oleh Google untuk ditampilkan Matched Content ini?

1. Posting Minimal

Ada postingan minimal yang diperlukan agar kita bisa menampilkan Matched Content ini. Postingan yang diperlukan adalah 1000 postingan. Google menyebutnya 1000 halaman unik. Berapakah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai 1000 postingan ini? Jika sehari satu postingan, maka setahun hanya mendapat 365 posting saja. Jika begitu, sanggupkah jika tiga hari satu postingan?

2. Traffic

Langkah kedua adalah traffic dengan jumlah kunjungan 1000 visitors per hari. Dengan jumlah postingan sebanyak 1000 buah, sepertinya visitor sebanyak ini bisa didapatkan. Itu hitung-hitungan diatas kertas saja. Tapi menurut banyak pakar SEO, hal ini sangat mungkin terjadi.

Lalu apa kelemahan dari Matched Content ini? Kabarnya sih CPC-nya kecil dibanding banner ad. Tapi meski kecil potensi di kliknya sangat besar loh. Karena Matched Content mampu menggantikan fitur related post di blog kita. Sayangnya untuk blog ini, baik traffic maupun kontennya belu sampai angka 1000.

Jika kedua langkah ini sudah ditempuh, segera lihat di pojok kanan atas di tab Settings kemudian Site management. Dan lihat situs yang terpasang iklan Adsense milik kita, apabila sudah ada tulisan ready, maka situs tersebut bisa dipasang iklan Adsense. Untuk lebih jelasnya, silakan disimak penjelasannya disini.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

1 comments so far

Makasih atas infonya bang... Saya mau coba nih jenis iklan ini, kali aja udah diizinin sama Google. Salam dari newbie


EmoticonEmoticon