Sabtu, 14 Mei 2016

Pentingnya Membuat Fanpage di Facebook, Karena Akun Biasa Saja Tak Cukup

Mengapa fanpage di Facebook lebih penting dibanding sebuah personal account? Inilah yang berupaya saya jawab lewat postingan kali ini. Jadi buat kamu yang masih tetap nyaman dengan personal account dan menguntungkan secara bisnis, just go on. Tapi secara empiris, menumbuhkan peluang bisnis dan meningkatkan keuntungan melalui Facebook, bisa diraih secara maksimal menggunakan fanpage. Mari kita cek alasannya.

Anggap saja ada seseorang bernama Abdul. Hobinya adalah membuat miniatur kendaraan. Ia ingin agar hobi ini menghasilkan banyak keuntungan. Sayangnya, Abdul ini sama sekali belum dikenal secara luas, kecuali oleh teman-teman sepermainannya saja. Satu ketika, ada yang mengusulkan untuk mengorbitkan Abdul melalui internet lewat optimasi kata kunci 'pembuat miniatur kendaraan'. Sayangnya, si pengusul ini mematok harga yang terlampau tinggi untuk dijangkau oleh kantong Abdul. Tapi internet menjadi sebuah peluang lain baginya, apalagi tersambung dengan sebuah nama yang cukup populer: Facebook.

Ya, yang bisa dilakukan satu-satunya oleh Abdul adalah membuat akun Facebook. Membuat sebuah akun di situs milik Mark Zuckerberg ini konon sangat mudah bagi banyak orang, bahkan yang awam internet. Apalagi dibandingkan dengan membuat blog untuk landing page, bahkan sampai mengoptimasi kata kunci agar sering muncul di mesin pencari. Ini sudah masuk ke tahap advance. Sementara Facebook adalah awal mula.

Keterbatasan Jaringan

Akhirnya dibuatlah akun Facebook dengan nama Abdul Miniatur Kendaraan. Karena untuk membuat Abdul Pembuat Miniatur Kendaraan tidak cukup tempat. Pelan-pelan, Abdul dengan cukup tekun melengkapi isian profil dengan memuat seluruh kemampuan dan karyanya dalam membuat miniatur kendaraan. Ia pun rajin login ke Facebook dan menambah pertemanan hingga jumlah 5000 teman. Setelah jumlah itu, Abdul tak bisa lagi menambah maupun menerima pertemanan. Ia stuck untuk menambah jaringan.

Facebook Analytic

Namun meski hanya mencapai 5000 teman, Abdul tak patah semangat, ia senantiasa tag teman-temannya untuk melihat foto-foto hasil karyanya. Sebanyak 50 orang ia tag setiap kali ia update status. Ada yang remove tag, ada juga yang merasa nggak enak dan hanya memberikan jempol, reaksi hati, tertawa, sedih, dan untungnya nggak ada yang marah. Sayangnya, Abdul tak bisa melihat, ada berapa sih orang yang benar-benar melihat foto-foto karya yang diunggahnya tersebut? Ia tak bisa melihat jumlah jaringan yang berhasil ia jangkau melalui postingan tersebut.

Lain hari, ia ditanya temannya karena jarang muncul di beranda atau news feed Facebook. Ya, biasa lah, kadang soal tegur-menegur di Facebook begitu sensitif, apalagi jika sudah unfollow, unfriend, apalagi sampai block. Abdul menjawab akun Facebooknya baik-baik saja. Ia berkilah tak ada unfollow, unfriend, apalagi sampai block. Apa yang terjadi dengan Abdul dan temannya ini?

News Feed Algorythm

Sedikit cerita, personal account yang kita miliki diatur sedemikian oleh Facebook untuk muncul hanya kepada orang-orang yang sering berinteraksi saja. Artinya, jika Abdul dan temannya ini tidak pernah berinteraksi dalam waktu yang cukup lama, baik saling berkomentar, saling memberi reaksi di postingan, bahkan ketika cuma berkirim pesan, Facebook mencatat seluruhnya. Orang-orang yang berseliweran di news feed inilah yang dipilih oleh Facebook berdasarkan tingkat interaksi kita dengan mereka. Silakan baca How News Feed Works di Facebook.

Lah, jadi jumlah teman Abdul yang 5000 itu bagaimana? Nggak berpengaruh banyak. Yang muncul di news feed hanyalah mereka yang berinteraksi saja. Jika Abdul berinteraksi dengan 5000 orang itu, maka yang dimunculkan oleh Facebook adalah yang paling seringnya saja. Tetap bukan semua orang yang muncul. Jadi wajar jika ada pertanyaan dari teman Abdul tadi. Karena algoritma Facebook memang mengaturnya demikian. Facebook bukan Twitter yang memunculkan semuanya dalam satu time line. Facebook berupaya melakukan spesifikasi atas minat dan hubungan masing-masing penggunanya yang diwujudkan dalam lalu lintas di news feed.

Sampai disini, Abdul kebingungan untuk meningkatkan popularitasnya, dan yang penting tentang pembuatan miniatur kendaraannya. Lama ia berpikir, dan akhirnya ia pun membaca tulisan ini. Hai Abdul, apa kabar? Kamu sepertinya butuh untuk membuat fanpage, ya.

Pentingnya Fanpage


Perlu dipahami dari pembuatan fanpage adalah mekanismenya mirip Twitter, yakni interaksinya hampir satu arah. Orang-orang mesti follow kita dulu, atau dalam kasus ini diganti dengan like. Orang-orang mesti like fanpage kita dulu dan barulah jaringan kita bakal bertambah. Kita mesti mengejawantahkan sebuah alasan, mengapa orang mesti like fanpage kita? Atau dalam kasus ini fanpage yang akan dimiliki oleh Abdul.


Abdul memberi nama fanpagenya dengan nama Abdul Pembuat Miniatur Kendaraan. Ya, di fanpage bisa membuat nama sepanjang itu. Namun sayangnya, sebagaimana membuat fanpage pertama kali, Abdul kesulitan untuk menambah jumlah penggemarnya. Hanya ia sendiri yang menjadi penggemar fanpage tersebut. Tapi tiba-tiba Abdul ingat, ia punya social media asset dengan jumlah pertemanan 5000 orang. Diundanglah semuanya oleh Abdul untuk me-like fanpage barunya itu. Dari 5000 orang, sayangnya hanya 2 persen saja yang menerima undangannya untuk me-like fanpage barunya. Sisanya acuh tak acuh saja. Inilah realita yang terjadi.

Apakah Abdul frustasi demi melihat jumlah like fanpage-nya jauh dari ekspektasi? Untungnya tidak. Abdul tetap berkarya dan membuat miniatur kendaraannya. Kali ini strateginya ia ubah. Ia posting foto karyanya di fanpage, diberi watermark, dan diberi caption sebagaimana biasa. Dari akun pribadinya, Abdul share postingan di fanpage tersebut dan diberi caption lagi, "buat karya-karya Abdul yang lain, silakan intip di fanpage ini."

Ya, Abdul berupaya menciptakan magnet. Karena ia paham, personal account dengan fanpage amatlah berbeda. Pelan tapi pasti, semakin banyak orang yang berinteraksi dengan fanpage-nya. Karena beberapa kali pula, Abdul memberikan semacam tutorial bagaimana membuat miniatur kendaraan yang paling sederhana. Postingan ini sangat dinanti-nantikan oleh para penggemar fanpage-nya. Apalagi postingannya dalam bentuk foto-foto yang cukup representatif. Abdul paham, bahwa foto lebih mudah menarik impresi pengguna Facebook dibanding tulisan.

Postingan fanpage milik Abdul banyak yang share, imbasnya fanpage tersebut banyak yang like. Asyiknya lagi, dalam setiap postingan, Abdul bisa tahu seberapa banyak orang yang melihat postingan tersebut. Dari sana, Abdul akhirnya menjadwal waktu-waktu kapan saja dan postingan seperti apa yang paling membuat jangkauan fanpage jadi luas. Dari situ juga, Abdul melacak postingan mana yang memberi jumlah konversi paling bagus, atau dalam bahasa lain paling membuat dagangan Abdul laris. Ya, laris, bukankah tujuannya memang agar laris?

Lalu apa setelah fanpage? Sebaiknya tak usah kemana-mana dulu. Lihat jumlah konversinya. Konversi memegang peranan penting. Kalau konversinya bagus dengan fanpage ini, berarti fanpage cukup potensial dan bisa dilanjutkan dengan membuat Facebook Ads untuk menambah jangkauan. Kalau ini sudah masuk dalam tahap berbayar, silakan dipikirkan lagi.


Setidaknya Abdul memahami bahwa membuat fanpage buat bisnisnya itu cukup penting. Meski membangun personal account juga tak kalah penting. Personal account sebagai dasar, dan fanpage untuk memperluas jangkauan. Yuk yang punya bisnis, fanpage-nya dibuat saja, ya.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.


EmoticonEmoticon