Sabtu, 18 Juni 2016

Indosat Ooredoo vs Telkomsel, Slapstick Yang Tidak Lucu



Apple pernah mengeluarkan iklan video untuk produknya, iPhone. Vendor yang didirikan oleh Steve Jobs itu berupaya menjelaskan kemandirian mereka dalam membangun industrinya. Dalam video yang diberi judul "If it's not an iPhone, it's not an iPhone" tersebut menjelaskan bahwa Apple mampu membuat hardware dan software sendiri tanpa tergantung dengan pihak lain. Apple benar-benar menegaskan soal kemandirian ini, karena itu orisinalitasnya tak akan mampu disamai oleh kompetitor. Bahkan Apple pun menyindir vendor yang punya desain mirip dengan iPhone. "If it's not an iPhone, it's not an iPhone" menjadi penutup iklan tersebut. Sangat menohok.


Terang saja, iklan ini menohok vendor lain yang memakai Android sebagai sistem operasinya, juga memakai hardware dari perusahaan yang lain. Siapa yang paling tersinggung? Tentu saja Samsung. Karena vendor asal Korea ini menjadi satu-satunya yang pernah bersengketa soal hak cipta produk. Beberapa desain Samsung Galaxy diduga meniru desain iPhone. Sehingga secara emosional, selain sebagai vendor yang sedang berjaya, Samsung memiliki kans untuk melakukan 'serangan balik'. Ya, Samsung akhirnya melakukannya dengan video di bawah ini.


Samsung menonjolkan kemampuan produknya dalam mengakomodasi penggunanya, yakni lewat personal customization yang begitu menakjubkan. "Tentu anda bisa mengganti latar belakang, tapi mengapa hanya berhenti disitu?" menjadi kalimat yang mengakhiri iklan. Bahkan copy write yang menjadi tagline iklan ini sangat mirip dengan tagline iklan Apple, yakni "If it doesn't look like your phone, it's not your phone." Karena kita semua tahu bahwa Apple sangat lemah dalam personal costumization. Rancangan iOS sangat rigid dan kaku, sehingga pengguna iPhone hanya bisa mengubah ikon aplikasi tertentu saja dan background. Sementara widget untuk homescreen, ikon, dan suara tema tak bisa diganti-ganti.

Perseteruan Apple dan Samsung tahun 2015 itu memang sempat memanaskan kembali jagat persaingan vendor smartphone, terutama keduanya. Namun apa yang dilihat oleh para pengamat, pengagum dan penikmat, seperti saya disini adalah soal kreatifitasnya. Saling sindir antar keduanya memang mirip komedi untuk orang-orang yang kapasitas pengetahuannya cukup baik. Artinya, seseorang tak akan tahu kalau Apple menyindir smartphone pemakai Android, kalau tak membaca di ulasan-ulasan situs berita teknologi. Juga tak mungkin tahu dengan iklan Samsung yang pada dasarnya merupakan sindiran balik atas Apple. Karena apa? Mereka kreatif dalam mengemas iklan. Ya, kalau dalam istilah komedi, mereka jauh dari nuansa slapstick.

Slapstick antara Indosat Ooredoo dan Telkomsel

Sayangnya, slapstick memang lumrah dipertontonkan di negeri ini. Tak cuma komedinya, bahkan iklan yang seharusnya menyabung simpati pelanggan ternyata ikut-ikutan berkarakter slapstick. Seperti yang dilakukan Indosat Ooredoo baru-baru ini. Beredar gambar di internet bahwa Indosat Ooredoo melakukan promo yang menyatakan bahwa tarif mereka murah dibandingkan Telkomsel. Ya, ada nama Telkomsel dibawa secara langsung, tanpa inisial dan tanpa menyebut ciri khas saja. Ini yang dimaksud slapstick.


Seperti dikutip di berbagai media, CEO dan Presiden Direktur Indosat Ooredoo, Alexander Rusli, membenarkan gambar-gambar yang viral itu. Tapi dirinya menyangkal bahwa gambar itu merupakan iklan. Gambar itu, katanya, merupakan bagian dari kampanye Below The Line (BTL) yang dilakukan oleh Indosat. Menurutnya, spanduk tersebut merupakan kampanye kepada masyarakat bahwa tarif seluler Indosat Ooredoo, baik tarif SMS, telepon, maupun internet jauh lebih murah dibanding Telkomsel. Kampanye ini bertujuan mengajak masyarakat untuk beralih ke layanan IM3, punya Indosat Ooredoo. Ya, bukan iklan tapi mengajak beralih ke sebuah produk? Entahlah.

Kabarnya, 'perang' ini memang ada pemicunya. Sempat beredar screen shoot yang mempertontonkan tim sales Telkomsel berupaya mencegat pemasaran kartu SIM Indosat Ooredoo. Dalam gambar tersebut diperlihatkan tim sales Telkomsel memborong kartu SIM Indosat yang masih disegel. Siapa yang salah? Belum tahu, karena pihak BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) akan memanggil Indosat Ooredoo terkait materi kampanye itu. Dan bukan tidak mungkin, ada pemanggilan untuk Telkomsel juga.


Anggaplah screen shoot yang menyatakan bahwa ada tindakan pemborongan yang dilakukan Telkomsel terhadap kartu SIM Indosat Ooredoo itu benar adanya. Dan kondisi di medan yang dihadapi sales memang tak semulus suara gadis-gadis call center. Tapi semestinya Indosat Ooredoo tak perlu melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri. Jika dibandingkan dengan kondisi perang, maka tindakan Telkomsel dalam memborong kartu itu merupakan tindakan intelijen yang menyita amunisi. Salah, tapi dibenarkan dalam perang. Adapun tindakan Indosat Ooredoo ketika melakukan kampanye BTL-nya mirip dengan mengumbar keburukan lawan di medan yang netral. Benar, tapi bakal disalahkan.


Pemakai telepon di Indonesia yang melebihi jumlah penduduk di Indonesia memang merupakan jumlah yang mencengangkan. Eh, tapi kog bisa? Bisa dong, 'kan banyak telepon seluler yang memiliki dua kartu SIM di dalamnya. Jumlah sebanyak ini memang pangsa pasar yang sangat menggiurkan bagi pemain di bidang telekomunikasi, termasuk penyedia layanan seperti Indosat Ooredoo, XL, Tri, Smartfren, dan Telkomsel. Namun, baik perang tarif dan perang layanan sayangnya sering tak substantif. Bombastis saat promo, tapi nyatanya hanya hitung-hitungan tarif layanan yang ujungnya harganya segitu juga.

Sayangnya, hal ini pun ditambah dengan kelakuan vendor-vendor itu yang bikin miris. Betapa perang antara vendor penyedia layanan itu telah menghilangkan kreatifitas dagang diantara mereka. Ataukah memang mereka memandang bahwa slapstick begitu cocok dihadirkan di negeri ini, menyusul dengan suksesnya komedi-komedi slapstick yang bahkan muncul di pentas tangga lagu di televisi dan tayangan sahur saat bulan puasa? Sayangnya mereka juga lupa, keberadaan komedi slapstick lambat laun hilang, sirna, dan terganti, karena pertama sering dipanggil KPI, kedua digantikan oleh stand up comedy atau tayangan komedi yang lebih mendidik, dan ketiga kesadaran akan tayangan yang mendidik di kalangan keluarga Indonesia. Mungkin mereka ingin digantikan dengan vendor yang berkualitas, yang transparan dalam menentukan tarif, dan beretika dalam melakukan promo? Iya, mungkin begitu.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

6 comments

Wahh persaingan di bidang teknologi itu sangat bisa di bilang kejam juga ya saling sindir namun kita sebagai pengguna tidak tahu itu

Itu kocak banget telkomsel yang ngejek XL :D itu benar adanya mas itu fakta ? kalau boleh tahu itu di pasang di daerah mana ya saya pengen tahu :D

wah plang yg diatas itu looh. ngeri banget persaingannya :D nyindirnya jelasss,,wkwk

Yang Telkomsel ngejek XL itu kurang tau mas, katanya di wilayah Jakarta. Di Google banyak, emang kayak gitu balighonya, tapi kebetulan itu yang samping-sampingan sama XL.

perangnya koq gitu ya? Malah jadi gak elegan sih kalau aku bilang...

Iya, gak kreatifnya udah nggak level sales lagi.


EmoticonEmoticon