Selasa, 21 Juni 2016

Pasca Banner Ad, Inilah Peluang dan Tantangan Blogger

Kepunahan banner ad tinggal menunggu waktu. Blindness dan page loading menjadi isu yang menenggelamkan salah satu jenis iklan yang pernah menjadi raja ini. Ditambah pula penggunaan AdBlocker yang semakin masif. Indonesia menjadi negara kelima yang menjadi pengguna AdBlocker paling banyak. Data dari Techinasia, ada 38 juta pengguna smartphone yang memasang penangkal iklan di perangkat mereka. Lalu, jika banner ad telah hilang dari peredaran, apa yang bakal terjadi, terutama pada blogger?


Jenis Blogger

Kalau boleh dibagi, saya ingin membagi blogger ke dalam empat bagian. Blogger pertama mendedikasikan dirinya hanya untuk memproduksi konten dan dipublikasikan secara online, mau dibaca oleh orang lain atau tidak, mau dapat duit atau tidak, blogger jenis ini benar-benar tidak peduli sama sekali. Blogger jenis kedua adalah blogger yang melakukan monetisasi pada blognya dengan bekerja sama lewat penyedia layanan iklan, seperti Google Adsense, Infolinks, IdBlognetwork, dan lainnya. Pendapatannya berasal dari model-model iklan CPC dan CPA yang terwujud dalam banner ad. Blogger jenis ketiga pun melakukan monetisasi di dalam blognya, tapi sumbernya berbeda. Blogger jenis ini lebih menitikberatkan pada jaringannya sendiri, alih-alih diserahkan kepada semacam Adsense. Jadi wajar kalau blogger macam ini begitu rutin melakukan kopi darat, liputan, dan lain-lain. Sumber pemasukannya berasal dari content replacement, review product, sponsored content, bahkan jadi buzzer di social media. Sementara untuk blogger keempat merupakan gabungan antara blogger jenis kedua dengan jenis ketiga.

Seiring banner ad yang semakin menurun popularitasnya, ada sesuatu yang muncul dengan cepat menggantikannya. Dialah native ad. Iklan jenis ini memang sudah lama sekali dikerjasamakan dengan blogger jenis ketiga, bahkan sebelum istilah native ad muncul. Kalau menurut Facebook, native ad merupakan segala jenis iklan diluar iklan banner. Sementara untuk yang lain, seperti Google Adword dan Buzzfeed, native ad pun bisa jadi berbentuk banner, cuma bentuknya memang serupa dengan konten yang ada di sekitarnya. Blogger jenis ketiga sebenarnya telah mengerjakan native ad lewat konten bersponsor maupun content replacement. Tapi ternyata antara native ad dengan konten bersponsor ternyata berbeda.

Menurut Techinasia, native ad memang bisa berbentuk artikel tetapi tujuan dibuatnya artikel tersebut adalah secara langsung mempromosikan brand atau produk. Native ad adalah iklan secara langsung, hanya bentuknya menyerupai konten. Sementara konten bersponsor adalah sebuah artikel atau konten yang kemunculannya disponsori oleh brand atau produk tertentu. Misalnya begini, baik native ad maupun konten bersponsor disponsori oleh brand lipstik. Jika native ad, maka judul artikel yang muncul bakal menjadi "Bibir Merekah dengan Warna Elegan, Hanya dengan Lipstik Merk X" sementara konten bersponsor bisa jadi muncul dengan judul "Lima Tips Memilih Lipstik Untuk Daerah Tropis".

Lebih jelas bedanya? Kalau artikel native ad bisa kita sebut dengan artikel yang memakai gaya hard selling, sementara konten bersponsor memakai gaya soft selling.  Native ad secara langsung dan tegas memberikan arahan dan ajakan agar pembaca membeli dan memakai produk tersebut. Konten bersponsor menyajikan informasi yang lebih kaya dan umum, tapi tidak secara langsung mengajak pembaca untuk membeli dan menggunakan produk tersebut. Keduanya lumrah dipakai oleh blogger jenis ketiga, bukan?

Peluang dan Tantangan

Seiring meredupnya popularitas banner ad, beserta menurunnya penggunaan dan penghasilannya, saya tak hendak mengajak blogger jenis kedua untuk berpindah ramai-ramai ke native ad. Google Adsense pun pelan-pelan mengadopsi teknik native ad dan menerapkan bentuk iklan yang baru ke publisher-nya. Contoh terbaru adalah matched content. Sepertinya, ya, sepertinya tak ada masalah. Jadi tidak usah terlampau khawatir buat anda yang berjenis blogger kedua. Namun satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah perihal peluang dan tantangan blogger di ranah monetisasi.


Blogger jenis kedua, dengan komunitasnya sendiri, telah banyak 'melenceng' sejauh ini. Saya memberi tanda kutip dalam kata melenceng tersebut. Para blogger jenis kedua lebih banyak menarik minat blogger lain untuk terjun di bisnis yang sama. Blogger jenis kedua lebih suka memproduksi konten yang berisikan tutorial maupun keuntungan menjadi publisher, katakanlah, Adsense. Sementara itu, jumlah advertiser, jika tidak mengalami penurunan, jumlahnya stagnan. Mungkin jauh lebih banyak publisher dibandingkan advertiser. Ini, menurut Indri Lidyawati, pemilik situs JuraganCipir.com, menyebabkan jumlah CPC yang diterima oleh para publisher di Indonesia sangat kecil. Apakah niche tutorial adsense ini salah? Tidak ada yang bilang salah, namun alangkah lebih bagus jika ditambahkan dengan produksi konten yang menarik minat brand lain yang belum beriklan, atau bahkan sektor UMKM agar beriklan di Adwords. Karena selain nilai CPC ini kecil, serbuan native ad tak bisa dibendung lagi.

Sementara itu brand kecil lebih banyak memilih untuk bergerilya sendiri. Bisa dengan mengirimkan produknya kepada blogger untuk di-endorse, atau mengembangkan pelanggannya sendiri di media sosial. Mereka sepertinya terlanjur melihat betapa mahalnya beriklan di Adwords dan sejenisnya. Apalagi tak ada penjelasan bagaimana keuntungan beriklan di Adwords, bahkan mungkin mereka tak tahu caranya dan bagaimana mengoptimasinya. Ini mengapa blog yang ber-niche tutorial adsense dan lain sebagainya itu saya katakan 'melenceng'. Karena mereka hanya memikirkan penerimaan, tanpa mau memikirkan juga sumber penerimaan itu.

Itulah, sudah banner ad meredup, ditambah sikap dan posisi blogger jenis kedua yang kurang menguntungkan. Mau apa lagi?

Potensi yang besar kemudian berada di blogger jenis ketiga. Blogger ini bergiat serupa blogger jenis pertama, namun tidak apatis dengan peluang monetisasi atas blognya. Namun ada beberapa hal yang perlu untuk diketahui bagi blogger jenis ketiga ini terkait dengan monetisasi yang dilakukannya.

Yang perlu diperhatikan pertama kali adalah soal tarif iklan. Komunitas blogger jenis ketiga belum menentukan kesepakatan standar ukuran untuk sebuah blog harus ditarif berapa untuk sebuah konten bersponsor atau artikel native ad. Kalau ukurannya banner dengan model CPC atau CPA 'kan gampang. Sementara penentuan ukuran ini dirasa agak sulit. Ukurannya sangat kualitatif. Meski banyak yang melakukan pengukuran kuantitatif, misalnya dengan Alexa rank, Klout score Blogger, jumlah follower di Twitter dan Instagram, pernah menang lomba, dan ditambah dengan jumlah karakter dalam artikel, tetap saja keputusan penarifan merupakan hasil kompromistis.


Belum adanya standar tarif itu tentu membuat blogger jenis ketiga tidak kompak. Ada yang menerima content replacement dengan tarif Rp.100.000, ada juga yang menerimanya dengan harga dibawah dan diatas jumlah itu. Ada yang menerima job review dengan harga yang ala kadarnya, ada juga yang menerimanya dengan harga yang fantastis. Ada yang ramai soal ini, ada juga yang diam-diam saja. Karena tawaran tersebut langsung datang ke email masing-masing. Blogger jenis ketiga adalah manajer di blognya sendiri. Adapun soal agensi yang mengaturnya, itu lain soal.

Penutup

Akhirnya, menilik tantangan dan peluang yang dihadapan mata, para blogger mesti mengakomodasi perubahan-perubahan yang terjadi. Ramalan akan runtuhnya banner ad, serta belum ditemukannya formula terbaik dalam merumuskan tarif iklan dalam native ad maupun sponsored content di blog, menjadi tantangan yang masih harus dihadapi para blogger. Mungkin diluar sana ada yang sudah menemukan formula terbaik, tapi kesannya malah menjadi agensi alih-alih menawarkan standarisasi agar adil bagi semuanya. Sebelum semuanya berakhir dan agar monetisasi yang dilakukan tidak menjadi bumerang bagi blog, yang perlu tetap dilakukan adalah menjaga agar konten tetap berkualitas dan kontekstual, disamping hal-hal teknis soal blogging. Artikel yang berkualitas bisa diartikan artikel yang orisinil, memiliki penuturan yang baik, dan mudah dipahami.

Demikian peluang dan tantangan blogger pasca banner ad. Happy blogging.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.


EmoticonEmoticon