Jumat, 30 September 2016

Tiga Penyebab Runtuhnya Blackberry

Dulu dalam pergaulan, orang-orang cenderung bertanya, "Minta PIN BB, dong," alih-alih meminta nomor telepon. Sebabnya jelas, betapa jayanya smartphone Blackberry, terutama di tanah air. Pun bagaimana kerennya kalau status di Facebook muncul dengan update status melalui Blackberry. Sehingga kurang afdhol rasanya jika tak punya perangkat Blackberry di tangan. Namun, itu dulu.

Blackberry yang sekarang telah pudar kedigdayaannya. John Chen, selaku CEO Blackberry telah melaporkan bahwa pabrikan asal Kanada ini telah merugi USD 372 juta atau sekitar Rp.4,8 triliun. Laporan ini disampaikan oelh Chen di laman resmi Blackberry dalam menutup kuartal kedua yang jatuh pada 31 Agustus 2016 lalu. Dan keputusan yang cukup mengejutkan banyak orang adalah Blackberry akan berhenti membuat perangkat keras.


Apa yang menjadi penyebab Blackberry menderita kerugian seperti ini? Mari kita ulas bersama-sama.

1. Hilangnya Ekslusifitas

Pasca Blackberry Messenger (BBM) mendukung sistem operasi Android dan iOS, saat itulah eksklusifitas Blackberry telah memudar. Pilihan ini memang dilematis, mengingat betapa garangnya kedua sistem operasi itu menyasar pasar. Apabila BBM tak mendukung keduanya, niscaya pemakai Blackberry pun bakal berpindah ke sistem operasi yang lain, yang berarti akan meninggalkan perangkat Blackberry. Padahal itulah jebakan yang sesungguhnya.

BBM merupakan fitur yang sangat diunggulkan oleh pemakai Blackberry. Namun saat orang-orang bisa dengan mudah mendapatkan aplikasi sejenis di perangkat lain, apalah arti BBM dibanding aplikasi chat biasa? BBM adalah aplikasi unggulan dari sistem operasi Blackberry yang hanya ada di perangkat Blackberry yang harganya cukup berkelas (baca: mahal, harganya tak sesuai dengan spesifikasi). Jika BBM hadir di Android yang notabene harganya lebih terjangkau, baik dari sisi paket data maupun perangkat, orang-orang bakal meninggalkan Blackberry beserta perangkatnya.

2. Perangkatnya Mahal

Apa penyebab Blackberry merugi? Salah satunya adalah serbuan dari perangkat yang mengusung sistem operasi Android yang harganya lebih terjangkau. Dan Blackberry pun pada tahun kemarin berupaya beradaptasi dengan pasar dengan membuat Priv. Ini adalah smartphone Android pertama yang dibuat oleh Blackberry dan telah dirilis pada November 2015. Sayangnya, tabiat Blackberry tidak hilang, harga Priv masih mahal.


Priv dibanderol dengan harga sekitar Rp.8,7 juta. Sementara di pasaran, spesifikasi yang dimiliki Priv hanya dibanderol dengan harga Rp.6 jutaan. Dan kita sudah tahu akhir cerita Priv ini. Priv lah yang membuat keputusan Blackberry untuk berhenti membuat smartphone akhirnya diketuk. Meski begitu Blackberry kadung telah mengeluarkan DTEK50 sebagai penerus Priv. Sistem operasinya Android namun berharga lebih rendah dari Priv, yakni sekitar Rp.3,9 juta. Dan tentu saja, tetap masih mahal.

3. Terlambat Beradaptasi

Blackberry memang terlambat untuk menentukan core business-nya. Keputusan menghentikan produksi smartphone ini pun harus menunggu setahun, demi melihat pangsa pasar dan kestabilan keuangan internal perusahaan. Dan keputusan untuk menghentikan produksi smartphone pun salah satunya didasari oleh penghentian dukungan Whatsapp dan Facebook untuk sistem operasi Blackberry.

Namun keterlambatan Blackberry yang paling besar adalah terlambat sadar bahwa mereka bukan lagi pemimpin pasar smartphone. Ketika menjadi pemimpin pasar, Blackberry boleh saja mengeluarkan smartphone premium dengan harga yang cukup mahal. Namun kini, siapa yang mau membeli ketika rasa gengsi sudah hilang?

Namun langkah-langkah yang telah diambil oleh Blackberry, yang salah satunya membuat perusahaan gabungan di Indonesia bernama BB Merah Putih untuk memproduksi smartphone Android, setidaknya memunculkan kembali optimisme pasar terhadap pabrikan asal Kanada ini. Setidaknya itulah yang terefleksi pada nilai saham mereka di NASDAQ pekan ini. Blackberry tetap akan bertahan di industri teknologi, namun hanya mengkhususkan diri di perangkat lunak dan sistem keamanannya saja.

Semoga sukses untuk langkah barunya, Blackberry, dan sukses untuk kita semua.

Ngomong-ngomong, saya mau jual Blackberry Curve, masih laku berapa ya? Hehe

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.


EmoticonEmoticon