Senin, 17 Oktober 2016

Harga dan Cara Kerja Facebook Workplace, dan Mengapa Kita Tak Membutuhkannya

Facebook Workplace merupakan aplikasi berbasis website yang pertama kali digunakan di internal pekerja Facebook. Kemudian sebelum diluncurkan secara publik, versi beta-nya telah diujicobakan kepada banyak perusahaan besar seperti Danone, Oxfam, Booking.com, dan lain-lain. Namun setelah diluncurkan seminggu lalu, seberapa menarik Facebook Workplace untuk digunakan oleh perusahaan dan organisasi di Indonesia?


Facebook Workplace adalah Facebook yang kita pakai. Artinya kalau kita kecanduan terhadap jejaring sosial yang satu ini, besar kemungkinan Facebook Workplace pun menyuntikkan candu yang sama. Akan berbeda halnya jika kita bisa hidup tanpa Facebook, tak seperti 1,6 miliar orang di luar sana.

Yang menarik dari Facebook Workplace ini setelah diluncurkan adalah bagaimana perusahaan, organisasi, komunitas, dan grup-grup di Indonesia menyikapinya? Kalau pendapat saya, orang-orang di Indonesia tak akan memakai Facebook Workplace.

Fitur dan Cara Kerja Facebook Workplace

Layanan yang pernah disebut sebagai Facebook for Work ini mengetengahkan fitur Facebook Group, Facebook Messenger, built-in audio dan video calling. Seseorang bisa terhubung dengan Facebook Workplace asal sebelumnya ia sudah punya akun Facebook. Namun jaringan pertemanannya tak akan pernah tahu kalau ia tergabung dalam Facebook Workplace. Namun teman-temannya yang tergabung dalam Facebook Workplace bisa melihat akun Facebook-nya, Events, dan juga live video.

Facebook Workplace memang berbeda dengan Facebook pada umumnya, meski masih menyisakan hal yang sama seperti reaksi yang mengandung emoticon itu. Perbedaan itu salah satunya ada pada pemasangan algoritma untuk memunculkan news feed dan fitur pencariannya yang jauh lebih baik dibanding Facebook biasa. Ada pula dasbor yang memungkinkan kita menganalisa jumlah jangkauan postingan yang selama ini dimiliki oleh Fanpage.

Untuk mendaftarkan diri di aplikasi ini, kita mesti punya email perusahaan. Jika nama perusahaanmu adalah Sumber Rejeki, maka email sumberrejeki@gmail.com atau sumberrejeki@yahoo.co.id tak akan diterima. Email yang bisa didaftarkan adalah admin@sumberrejeki.com atau semacamnya.

Jika Facebook Workplace kita sudah jadi, setiap orang yang terhubung melalui akun Facebook-nya masing-masing akan menerima email undangan untuk bergabung dengan Facebook Workplace milik perusahaan tersebut. Dan, ini yang keren, jika Sumber Rejeki tadi sudah mendaftar di Facebook Workplace, maka undangan sign in kepada para anggotanya akan memiliki link sumberrejeki.facebook.com.

Lantas, apa setelahnya?

Pada Facebook Workplace, seseorang bisa berkreasi dengan beragam fitur yang, lagi-lagi, sebenarnya sudah ada di Facebook biasa. Fitur seperti Group, News Feed, Events, Search, Chat, Notifications, pengiriman file dan lain-lain tersedia disini. Namun hanya tersedia dalam lingkup internal akun-akun yang terdaftar dalam sebuah Facebook Workplace saja.

Jadi itu saja? Ya memang itu saja, namanya juga Facebook.

Dan saya berupaya menebak-nebak akankah Facebook Workplace ini dipakai oleh banyak perusahaan di Indonesia? Dan tebakan saya adalah: tidak banyak yang memakainya. Kenapa?

1. Facebook Workplace mahal

Dibandingkan dengan Facebook yang gratis, Facebook Workplace buat saya cukup mahal. Entah kalau perusahaan yang banyak uang. Silakan hitung jika sebuah perusahaan dengan karyawan 100 orang, kemudian mendaftar Facebook Workplace. Tarifnya akan mencapai USD 300 per bulan, atau hampir mencapai Rp.4 juta. Silakan cek saja tarif Facebook Workplace disini https://workplace.fb.com/pricing/.

Kecil sih, tapi rela buang uang sebanyak itu untuk mendapatkan aplikasi yang sebenarnya bisa didapat secara gratis?

Perbedaannya pun selain fitur yang kabarnya canggih itu, Facebook Workplace tak ada iklan. Sama sekali tidak ada.

2. Fitur Facebook Workplace sudah tersedia di aplikasi lain

Alh-alih berhubungan lewat media sosial, organisasi maupun perusahaan di Indonesia tampaknya lebih banyak memilih fitur perpesanan seperti Whatsapp dengan grupnya, lalu BBM juga dengan grupnya. Meski untuk itu, mereka harus keluar masuk aplikasi untuk video call maupun mengirim email.

Apalagi sebelumnya sudah ada aplikasi berbasis website sejenis yang mirip dengan Facebook Workplace ini.

3. Kurangnya kultur egaliter di lingkungan kerja

Suka atau tidak, setuju atau menolak pendapat ini, silakan. Tapi saya melihat jika lingkungan kerja di Indonesia, masih tumbuh sikap tidak egaliter antara atasan-bawahan, senior-junior, serta antar-divisi. Dan fitur-fitur semacam jejaring sosial menumbuhkan sifat egaliter dimana semua orang duduk dan berdiri pada posisi yang sama. Yang membedakan adalah tugas dan tanggung jawabnya saja. Untuk itulah, Facebook Workplace sepertinya kurang diminati.

Apakah start-up yang sedang marak di tanah air akan memakainya? Alasan nomor tiga dan nomor dua mungkin terpenuhi, tapi apakah alasan nomor satu dimiliki oleh start-up ini?

Dan saya masih menunggu perusahaan di tanah air yang menggunakan Facebook Workplace sebagai communication tools antar pekerjanya. Kita tunggu saja. Sebelum itu, yuk lihat dulu videonya disini.


Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.


EmoticonEmoticon