Rabu, 19 Oktober 2016

Mengapa Anak Muda Sekarang Lebih Suka SMS Dibanding Telepon?

Kalau kita keluar, entah ke mall, tempat makan, dan lainnya, mungkin bertemu dengan sekumpulan anak muda yang sedang berkumpul. Mereka mengitari meja, duduk-duduk lesehan, maupun berjejer di bangku taman. Dan mereka bercakap-cakap dengan akrab, satu sama lain, tapi...dengan gadget-nya masing-masing.

Mereka adalah generasi milenial. Sebuah frase yang sebenarnya hanya menunjuk pada periodisasi kelahiran jelang dan saat memasuki milenium ketiga. Mereka lahir lima tahun atau tepat setelah terompet tahun baru pergantian tahun dari tahun 1999 ke tahun 2000 menggema. Namun lambat laun, frase 'generasi milenial' ini kemudian diperluas untuk menyebut sebuah sifat, bawaan, karakter, yang melekat secara umum pada orang-orang yang lahir pada usia tersebut.


Lantas apa hubungan antara sifat generasi milenial dengan SMS dan telepon?

SMS mewakili perpesanan lewat teks, sementara telepon mewakili komunikasi lewat suara. Jadi baik SMS maupun telepon sebenarnya bukan hanya mewakili fitur ponsel konvensional saja, namun beragam aplikasi yang ada di smartphone kekinian pun termasuk keduanya. Seperti Whatsapp, yang ada fitur telepon dan SMS-nya. Facebook Messenger, BBM, dan juga Google Allo.

Sebuah penelitian yang dihelat RealityMine mengungkap sebuah hasil yang cukup membuat kita kembali mengusap-usap tombol call. Sebabnya, penelitian tersebut menunjuk bahwa pemakaian SMS ternyata jauh lebih banyak dilakukan oleh mereka yang berusia 18-34 tahun. Semakin usia bertambah, semakin menurun pula penggunaan SMS tersebut. Apa artinya?

Hal ini berarti, generasi milenial tak cuma mereka yang baru lahir jelang 2000-an saja, bisa jadi sifat dan karakter generasi milenial tersebut berpengaruh pada generasi yang lahir satu dekade sebelumnya. Karena mereka sama-sama tumbuh saat teknologi (mobile tech) mulai berkembang cukup pesat.

Dan yang paling menarik adalah, pemakaian SMS yang cukup banyak ternyata memang dipengaruhi oleh sifat generasi milenial ini. Mari kita uraikan.

1. Generasi milenial sering kurang fokus

Banyaknya informasi yang masuk menyebabkan generasi saat ini sulit mencerna satu isu secara mendalam. Mereka senantiasa menemui distraksi, alias pengalihan. Hmmm...tahu pengalihan isu 'kan? Makanya SMS menjadi pilihan yang cukup efektif untuk berkomunikasi. Sebabnya jelas, karena telepon butuh fokus yang lebih banyak dibanding SMS. Sementara kebiasaan generasi milenial adalah suka teralihkan fokusnya.

2. Gemar berprasangka

Pernah mendengar kalau generasi sekarang suka menghakimi? Coba tengok kasus cyber bullying. Orang yang belum tentu salah, sudah dihujat habis-habisan di internet. Dan sifat ini terbawa ketika mendapati telepon masuk. Sifat generasi milenial berprasangka yang tidak-tidak terhadap telepon masuk tersebut. Yang ada di pikiran mereka adalah, "Jangan-jangan yang menelepon bakal mengganggu waktu libur saya, jangan-jangan dia mau pinjam uang, jangan-jangan... dan jangan-jangan lainnya."

Sementara prasangka terhadap lawan bicara bakal menurun ketika melakukan komunikasi melalui SMS. Ada jeda waktu untuk berpikir dan membalas pesan tersebut, sehingga SMS jauh lebih disukai oleh anak muda sekarang. Dan juga anak muda tahun-tahun kemarin yang kini sudah tua menginjak usia 35-an.

3. Sok sibuk

Iya, generasi milenial memang sok sibuk. Mudah-mudahan memang sibuk betulan, sibuk yang bermanfaat. Sehingga mereka agak kurang nyaman kalau mengangkat telepon. Karena dengan menerima telepon, waktu mereka terbuang banyak. Ya, waktu untuk mengakses internet, stalking, menonton drama Korea, kepo terhadap pacar baru Taylor Swift, dan lainnya, bakal terganggu dengan mengangkat telepon. Maka kalian mengertilah, SMS saja!

4. Efektif atau suka yang instan?

Generasi milenial suka yang instan. Kalau boleh diistilahkan secara positif, generasi ini ingin sesuatu yang lebih efektif. Jadi kalau mau memberi kabar gembira, bukannya bisa SMS saja, sambil mengirim emoticon mungkin, atau sambil mengirim gambar ucapan, dibandingkan dengan telepon yang menghabiskan banyak waktu. Ya, SMS memang lebih efektif, murah, dan instan.

Dari keempat macam alasan tersebut hendaknya menjadikan siapapun untuk memahami kondisi yang terjadi. Jadi kalau kita kebetulan memiliki tim yang dihuni generasi milenial, maka pahami hal ini. Mereka lebih banyak mengirim teks, jadi mereka tentu bakal lebih aktif di grup WA, misalnya. Ataupun jika kita kesulitan menghubunginya lewat telepon, coba saja kirim pesan di akun Facebook-nya. Dan kalau mereka update status tapi tak membalas pesan, maka kita tahu apa yang harus dilakukan.

Apakah telepon bakal punah? Tentu saja tidak. Telepon sangat berguna ketika digunakan pada tempatnya. Misalnya menelepon orang tua, mereka yang gagap teknologi, dan bos kita. Dan yang paling penting, telepon biasanya digunakan pada kondisi urgen maupun darurat.

Admin di beberapa blog. Kunjungi personal blognya di Doel.web.id. Untuk menghubungi saya bisa ke email ini.

4 comments

Eh bener banger sih ini.. Hahaha *nunjuk diri sendiri*

hmmm..mungkin saat ini lebih tepatnya chat via sosial media bang..hehe kan sekarang juga mulai jarang yang pake sms :D

Betul mas, maksud tulisan ini juga gitu, SMS mewakili komunikasi lewat teks, sementara telepon mewakili komunikasi lewat suara.


EmoticonEmoticon