13 Agustus 2018

Cara Mengunduh Fortnite Battle Royale di Ponsel Android

Popularitas Fortnite semakin meningkat. Sejak dirilis pada September 2017, jumlah pemainnya hingga Juni kemarin telah mencapai 125 juta orang. Meskipun bisa diunduh secara gratis, pembelian dalam game-nya telah mencapai $1 miliar pada Juli 2018. Ini membuat game besutan Epic Games ini mendapat penghasilan mencapai $300 juta lebih.


Hingga kemarin, Fortnite baru bisa dimainkan di platform PlayStation, XBox, Nintendo Switch, PC, dan mobile phone. Sayangnya untuk mobile phone ini baru bisa dimainkan di iOS saja. Artinya buat saya dan kalian yang belum memiliki rezeki untuk meminang iPhone, ya sabar saja. Hingga pada akhirnya kesabaran itu berbuah manis, sebab Epic Game telah merilis Fortnite untuk Android.

Ada yang bersorak mendengar kabar Fortnite pada akhirnya kompatibel dengan Android? Saya pun pada mulanya bersorak, sampai akhirnya sorakan ini pun terhenti sejenak karena setelah saya cek di Play Store, Google menuliskan Fortnite Battle Royal by Epic Games, Inc is not available on Google Play. Yap, Fortnite tidak ada di Play Store.

Lalu apakah kabar tentang Fortnite sudah kompatibel di Android itu hoax semata? Untunglah bukan hoax, sebab Fortnite memang bisa dimainkan di ponsel dengan sistem operasi Android. Lalu mengapa ada peringatan semacam itu dari Google?

Soal peringatan, Google mungkin berupaya memberi peringatan kalau ada banyak game yang berupaya memiripkan diri dengan Fortnite, entah dari sisi judul maupun ikon di Play Store. Ada upaya untuk mendulang untung dari tidak masuknya Fortnite di Play Store. Nah, kalau tidak ada di Play Store lantas dimana?

Ya beginilah kalau game yang sudah populer dari sononya. Tanpa menumpang ekosistem unduhan Google pun sudah banyak orang yang mencarinya. Makanya dibuatlah skema undangan, jadi hanya orang-orang tertentu dengan ponsel merek dan tipe tertentu saja yang bakal mereka undang.

Agar kita bisa diundang juga, begini caranya...

Pertama kali, kunjungilah Fortnite.com/Android pada ponsel masing-masing. Kalau sudah masuk, disitu ada tombol kuning dengan tulisan hitam yang berbunyi SIGN UP FOR EMAIL INVITE. Kemudian muncul pula pop-up yang menanyakan apakah kita sudah pernah bermain Fortnite sebelumnya? Saya sih jawab NO, karena belum pernah memainkan Fortnite sebelumnya.

Kalau menjawab NO seperti saya, maka akan dibawa ke laman selanjutnya yang berisi form pendaftaran. Ya sebagaimana biasa, isilah form ini selengkap mungkin jangan sampai ada yang terlewat. Centang tanda setuju dan klik CREATE ACCOUNT. Lalu pada laman selanjutnya ada pilihan lain memilih mana ponsel yang kita miliki dan klik SELECT. Selesai. Kalian tinggal menunggu giliran saja untuk mendapatkan tautan undangan di email dari Epic Games.



Engg...anu, ponsel saya enggak terdaftar di laman select itu bagaimana? Ya klik saja tipe ponsel yang ada, kalau sudah dapat undangannya, ya silakan beli ponsel yang kompatibel dengan Fortnite. Seriusan, mana enak bermain game dengan ponsel yang tidak kompatibel?

Silakan dicatat, inilah spesifikasi minimum agar sebuah ponsel Android bisa memainkan Fortnite Battle Royale:
  • Android versi 6.0
  • RAM 3 GB
  • GPU Adreno 530 atau Mali G71 MP20
Itu minimum ya, kalau lebih tinggi dari itu ya semakin bagus. Untuk Adreno 530 itu adanya di chipset Snapdragon 835, Mali G71 juga ada di Exynos 8895. Itu berarti secara otomatis chipsetnya mesti kelas flagship. Ponselnya berarti harus flagship juga? Ya iya lah mana ada beli ketengan chipsetnya doang!

Kalau merasa ponselnya belum masuk kelas flagship, pengin main Fortnite, dan kebetulan punya uang. Sebaiknya membeli merek Samsung. Pengguna ponsel flagship dari Samsung dalam beberapa hari ini sudah dipastikan bakal mendapatkan undangan dari Epic Games. Nah, ponsel apakah yang sebaiknya dibeli? Ya sebaiknya pertanyaan tadi dikembalikan lagi, ada berapa duit yang kalian punya?

Kalau ada flagship yang menarik perhatian saat ini, dibicarakan di mana-mana, dipuji oleh banyak reviewer, ya tidak lain dan tidak bukan cuma Samsung Galaxy Note 9.

Samsung Galaxy Note 9 merupakan ponsel flagship terbaru dari pabrikan asal Korea ini. Note 9 mengalami peningkatan yang cukup banyak dibandingkan pendahulunya, Note 8. Salah satunya dari sisi Stylush Pen yang bukan cuma warnanya saja yang menjadi kuning, tetapi fungsinya pun ditambahi seperti bisa menjadi remot ketika presentasi.

Selain itu, untuk pembeli yang melakukan pre-order di beberapa e-commerce, ada banyak sekali bonus yang kalau dihitung-hitung harganya justru lebih murah daripada ponsel flagship di kelasnya. Baru kali ini loh Samsung lebih murah. Serius.


Buat yang penasaran apa saja spesifikasi yang ditawarkan oleh Galaxy Note 9, ini dia spesifikasinya:

Chipset
CPU

GPU

RAM dan Memori
Layar
Kamera


Dimensi
Baterai
Harga
Exynos 9810 / Snapdragon 845
Octa-core (4x2.7 GHz Mongoose M3 & 4x1.8 GHz Cortex-A55)
Octa-core (4x2.8 GHz Kryo 385 Gold & 4x1.7 GHz Kryo 385 Silver)
Mali-G72 MP18
Adreno 630
8 GB dan 512 GB / 6 GB dan 128 GB
6,4 inci, rasio 18,5:9 Super AMOLED, Gorilla Glass 5
Belakang 12 MP, f/1.5-2.4, 26mm, 1/2.55", 1.4µm, dual pixel PDAF, OIS
12 MP, f/2.4, 52mm, 1/3.6", 1µm, AF, OIS, 2x optical zoom
Depan 8 MP, f/1.7, 25mm, 1/3.6", 1.22µm, AF
161.9 x 76.4 x 8.8 mm, 201 gram
4000 mAh
Rp13.499.000 (128 GB) dan Rp17.999.000 (512 GB)

Itulah cara menginstal Fortnite Battle Royale di ponsel Android yang benar. Diluar sana banyak yang menyarankan untuk mengunduh APK game ini dari sumber-sumber yang tidak jelas. Ujung-ujungnya membahayakan ponsel kalian. Waspadalah!

9 Agustus 2018

Meningkatkan Performa Grafis atau GPU Smartphone Agar Game Lebih Lancar

Orang-orang kerap mencari smartphone dengan RAM yang besar agar game yang dimainkannya lebih smooth, lancar, dan anti-lag. Tapi RAM dengan kapasitas besar saja tak cukup untuk membuat pengalaman bermain game lebih asyik. Ia membutuhkan prosesor dengan grafis yang memadai.

Sepertinya cukup ribet kalau rencana membeli smartphone mesti memikirkan RAM, grafis, prosesor, dan lain-lainnya. Soalnya itupun belum termasuk bagaimana perangkat lunak juga menentukan performa sebuah ponsel. Akan tetapi kalau dipikir-pikir, tak akan seribet yang dibayangkan. Pasalnya, Anda tinggal mencari tahu chipset apakah yang mengotaki sebuah smartphone.


Dalam sebuah chipset sudah terkandung segala macam perangkat keras yang tadi dibicarakan. Mulai dari prosesor, RAM, memori internal, sampai grafis yang tadi disebutkan untuk menopang kelancaran sebuah game. Semuanya telah tersedia dalam satu paket dan tidak bisa diubah kecuali dibongkar-pasang di tukang servis.

Kalau Anda membeli smartphone dengan RAM 4 GB, ya tentu saja tidak bisa ditingkatkan menjadi 6 GB kecuali melewati 'pembedahan' di tukang servis yang belum tentu 'operasinya' berhasil. Pun begitu dengan memori internal yang tadinya 32 GB menjadi 64 GB, apalagi prosesor yang tadinya quad-core menjadi octa-core. Yang terakhir bahkan mission impossible.

Pun dengan grafis pada sebuah chipset. Anda tidak bisa mengganti Mali dengan Adreno pada chipset MediaTek. Begitu juga sebaliknya, dari Adreno diganti Mali pada Snapdragon. Namun performa grafis ini kabarnya bisa ditingkatkan dengan perlakuan tertentu.

Jadi begini, grafis atau GPU itu sebetulnya prosesor atau CPU juga. Perbedaannya terletak pada kualitas dan kuantitasnya dalam melakukan komputasi data pada waktu tertentu. Kalau CPU melakukan komputasi data dengan kualitas besar dan kuantitas lebih sedikit seperti menjalankan program tertentu. Sementara GPU melakukan komputasi data dengan kualitas kecil namun memiliki kuantitas yang banyak seperti bermain game atau menonton video.

Ya, keduanya memang melakukan komputasi secara terpisah sebab tugasnya sudah dipisahkan sejak awal. Kalau tugas tersebut dicampur, misalnya untuk bermain game diserahkan pada CPU, niscaya bakal muncul masalah sirkuit yang berakibat pada terganggunya arus listrik di chipset tersebut. Namun bukan berarti CPU pun tidak memiliki andil ketika pengguna bermain game. Semuanya tetap memiliki andil, namun yang paling besar adalah GPU.

Pertanyaannya kemudian, bisakah grafis sebuah smartphone ditingkatkan performanya? Jawabannya bisa. Kalau jawabannya bisa, lantas bagaimana caranya?

Ada banyak yang mengulas kalau grafis smartphone bisa ditingkatkan. Ya jangankan grafis, beberapa smartphone gaming saja kecepatan CPU-nya bisa ditingkatkan kok. Ya tapi begitu, harganya selangit. Akhirnya banyak yang memilih untuk memakai aplikasi di PlayStore guna meningkatkan grafis agar bermain game lebih smooth.

Namun apakah aplikasi tersebut memang betul-betul meningkatkan grafis? Ya belum tentu sih, jangan-jangan cuma sekedar akal-akalan pembuat aplikasi saja agar bisa mendulang penghasilan dari Adsense. Meski banyak juga yang setelah memasang aplikasi peningkat grafis, performa smartphone ketika bermain game-nya meningkat. Tetapi apakah itu aman dilakukan ketika chipset-nya tidak mendukung? Hmmmm...patut dipertanyakan.

Makanya lebih baik cari saja smartphone yang bisa mendukung peningkatan grafis ketika bermain game secara default. Anda tak perlu menginstal aplikasi tambahan, tinggal cari saja smartphone yang dari pabrikannya sudah mendukung peningkatan grafis. Pertanyaannya kemudian, memang ada?

Banyak kok. Bahkan ada yang harganya terjangkau di kisaran dua jutaan.

Sebelumnya saya memberi tahu kalau ada yang disebut dengan GPU Turbo. Dari namanya saja, kita tentu paham kalau paduan antara GPU dan Turbo berarti sebuah nama yang ditujukan untuk meningkatkan performa grafis. GPU Turbo ini merupakan hasil kreasi Huawei di ranah software. GPU Turbo mampu meningkatkan performa grafis hingga 60%. Woowwww!

Meski mampu meningkatkan performa grafis sampai 60%, GPU Turbo malah menurunkan konsumsi daya baterai oleh chipset sebesar 30%. Simpelnya GPU Turbo membuat performa meningkat tetapi konsumsi daya yang lebih hemat. Hal ini berbeda dengan peningkatan grafis ala pengembang lain, dimana ketika grafisnya ditingkatkan, konsumsi dayanya malah lebih boros.

Sayangnya smartphone Huawei yang memakai fitur GPU Turbo ini hanya seri P, Nova, dan Y9 saja. Harga kedua seri dan satu smartphone tadi masih kurang terjangkau sebab berada di kisaran 3 jutaan keatas, bahkan seri P20 Pro dibanderol Rp12juta. Kalau budgetnya mencukupi ya sikat saja, cuma masalahnya budget untuk membeli smartphone rata-rata orang Indonesia berkisar di angka dua jutaan. Ini bisa terlihat mengapa persaingan smartphone mid-range di harga itu cukup panas.

Untunglah Huawei memiliki anak kandung bernama Honor yang memiliki segmentasi di harga lebih terjangkau. Honor ini memiliki dapur pacu, desain, dan fitur, yang rata-rata sama dengan Huawei namun dihadirkan dengan harga yang lebih merakyat. Untuk mengambil manfaat GPU Turbo dan smartphone yang paling terjangkau, Anda bisa meminang Honor 9 Lite.

Berikut spesifikasi Honor 9 Lite.


Chipset
CPU
GPU
RAM dan Memori
Layar
Kamera
Dimensi
Baterai
Harga
HiSilicon Kirin 659
Octa-core (4x2.36 GHz Cortex-A53 & 4x1.7 GHz Cortex-A53)
Mali-T830 MP2
3 GB dan 32 GB
5,6 inci, rasio 18:9
Belakang 13 MP + 2 MP, Depan 13 MP + 2 MP
151 x 71.9 x 7.6 mm, 149 gram
3000 mAh
Rp2.499.000


Yang perlu menjadi catatan soal GPU Turbo adalah belum semua game secara default mendukung fitur ini. Media mencatat baru Mobile Legends dan PUBG saja yang sudah memasang Antarmuka Pemrograman Aplikasi atau Application Programming Interface (API) untuk menjalankan GPU Turbo. Jadi ini tergantung bagaimana Huawei melobi para pengembang game itu untuk memasang API GPU Turbo. Saat ini silakan dinikmati saja apa yang sudah tersedia.

4 Agustus 2018

Cara Mengunduh Status WhatsApp Berupa Video dan Gambar Tanpa Aplikasi

Sejak WhatsApp memunculkan fitur status layaknya IGStory maupun FBStory, banyak orang yang membagikan sesuatu disana. Karena fiturnya mirip dan dimiliki oleh Facebook, makanya ini disebut WhatsApp Story. Kita menyebutnya status saja.

Adakalanya status WhatsApp dipergunakan untuk membagikan perasaan suka, sedih, atau informasi kekinian. Namun tak jarang di WhatsApp pun banyak yang membagikan gambar dan video tentang apa saja.


Banyak dari unggahan status berupa gambar dan video itu yang sangat menarik. Ada beberapa diantaranya sangat informatif dan ingin dibagikan ke orang lain melalui status WhatsApp sendiri. Sayangnya, tidak ada fitur save di status tersebut yang berguna agar gambar maupun video dari status teman itu bisa disimpan di ponsel kita.

Eh, kalau statusnya berupa unggahan gambar sih gampang banget, tinggal membuat tangkapan layar alias screenshot. Beres. Tetapi tentu tangkapan layar tidak bisa dipergunakan untuk menyimpan status berupa video.

Bagaimana cara menyimpan status WhatsApp berupa video?

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Cara yang pertama bisa dengan aplikasi video screen recorder yang banyak tersedia di PlayStore. Bisa juga dengan menggunakan aplikasi khusus untuk menyimpan status WhatsApp. Silakan lakukan pencarian dengan kata kunci 'save whatsapp story'.

Silakan pakai dua cara diatas. Hanya saja kali ini saya ingin membagikan cara yang bisa dipergunakan tanpa memasang aplikasi tambahan.

Yang perlu dipahami pertama kali adalah WhatsApp tidak memakai sumber daya yang besar didalam menyimpan data percakapan penggunanya. Aplikasi yang kini dimiliki Facebook ini mendistribusikan penyimpanan tersebut ke perangkat penggunanya.

Ini berarti setiap apa yang disimpan di WhatsApp, baik berupa kiriman gambar, video, maupun unggahan status, tersimpan dengan baik di memori ponsel penggunanya.

Untuk gambar dan video yang dikirimkan oleh orang lain di percakapan pribadi maupun grup WhatsApp langsung tersimpan di folder WhatsApp yang ada di Gallery. Jadi kita bisa melihatnya secara langsung, atau menghapusnya jika tidak dibutuhkan untuk memberi ruang kosong bagi memori.

Hal ini tidak berlaku bagi gambar dan video yang dibagikan melalui status. Karena mereka tidak tersimpan secara otomatis di Gallery. Yang jelas WhatsApp pun tidak menyimpannya diluar perangkat kita. Lalu dimana?

WhatsApp menyimpannya tetap di folder WhatsApp yang ada di sistem Android perangkat kita. Untuk melihatnya silakan jalan-jalan ke aplikasi File Manager atau apalah namanya yang mungki berbeda pada setiap merek dan tipe ponsel.

Di File Manager ini silakan masuk ke Internal Storage, lalu carilah folder WhatsApp, dan kalau sudah cari folder Media, terakhir carilah folder .Statuses.

Bagaimana, sudah ketemu folder .Statuses? Folder ini enggak bakal ketemu, sebab WhatsApp menyembunyikannya secara default. Untuk memunculkannya, silakan tekan tiga titik yang ada di sudut kanan atas atau dimana saja tergantung merek dan tipe ponselnya. Di tiga titik ini ada menu pengaturan untuk folder-folder tadi.

Lingkaran ungu menandakan langkah-langkah yang perlu dilakukan. Saya menggunakan File Manager di ZenUI.
Silakan klik pengaturannya. Kalau berhasil biasanya muncul pilihan Umum, Notifikasi, dan Info. Di bagian Umum ada opsi untuk menyembunyikan folder sistem. Secara default, opsi ini selalu dalam posisi ON. Matikan saja, lalu kembali ke folder Media yang ada di dalam folder WhatsApp tadi.

Kalau sudah menonaktifkan opsi menyembunyikan folder, seharusnya folder .Statuses sudah muncul. Silakan masuk ke folder tersebut dan cari status yang dibagikan oleh teman kita.

Oh iya, gambar atau video yang telah dibagikan oleh teman kita hanya bisa masuk ke folder .Statuses kalau kita sudah melihatnya dan gambar dan video itu termuat sempurna.

Itu saja ya, selamat mencoba.

3 Agustus 2018

Mengenal Lensa Aspherical Pada Kamera Smartphone Kekinian

Dalam dunia fotografi, lensa memegang peranan yang sangat penting. Benda tipis yang terbuat dari kaca ini adalah pintu bagi masuknya cahaya yang kemudian dicitrakan oleh sensor. Bagus tidaknya sebuah lensa, sangat menentukan citra gambar yang kemudian dihasilkan.

Saat ini kalau Anda ingin membeli sebuah lensa yang baru, maka di pasaran biasanya ditemukan istilah ED, LD, SLD, ELD, dan ULD. Huruf-huruf itu bukan tanpa makna, tetapi merupakan singkatan yang merepresentasikan kualitas gambar yang bakal dihasilkan. ED berarti extra-low dispersion, LD low-dispersion, SLD special low dispersion, ELD extraordinary low dispersion, dan ULD ultra-low dispersion.


Ya, selalu ada low-dispersion dalam setiap jenis lensa itu. Dispersi adalah sebuah peristiwa penguraian cahaya polikromatik (putih-bening) menjadi cahaya-cahaya monokromatik (pelangi). Peristiwa ini biasanya terjadi pada prisma cahaya yang kerap terlihat pada pelajaran sains waktu sekolah. Jadi lensa fotografi yang bagus harus memiliki dispersi yang rendah agar pembiasan cahaya putih ke cahaya monokromatik tidak terjadi.

Saat ini lensa yang dianggap bagus dalam menjaga agar dispersi itu tetap rendah disimbolkan dengan ED. Lensa ED ini menghasilkan transmisi cahaya yang bagus, yang membuat pengaturan fokus lebih cepat dan gambar yang cerah baik di viewfinder apalagi pada hasilnya.

Produsen lensa pun tidak berhenti untuk berinovasi dan menemukan sesuatu yang baru dengan memperbaiki lensa yang sudah ada. Dan diketahui, lensa ED pun masih menyimpan kelemahan, yakni adanya distorsi cahaya dan masalah spherical. Masalah spherical ini terjadi karena bentuk lensa yang sphere atau kita sebut dengan cembung, yang memang lazim ditemukan pada lensa konvensional. Masalah ini bisa memicu lensa tidak bisa mengambil fokus yang baik sebab terjadi pembiasan titik fokus.

Untuk mengantisipasinya, produsen lensa pun menciptakan lensa aspherical, atau disebut aspheric saja, yang ditandai dengan huruf ASPH. Lensa aspherical, seperti namanya, merupakan lawan dari lensa spherical. Lensa apsherical memiliki bentuk yang sedikit berbeda dari lensa pada umumnya. Satu lensa aspherical pun bisa menggantikan fungsi dari beberapa lensa spherical, namun dengan hasil gambar yang lebih baik.

Dalam sebuah perbandingan yang dirilis edmundoptics.com, sebuah obyek cahaya dengan kekuatan 587,6 nm pada sudut 1° yang menimpa lensa spherical dan lensa aspherical ternyata menghasilkan kadar pembiasan fokus yang berbeda. Lensa spherical menghasilkan 713.84 μm pembiasan fokus, sementara lensa aspherical hanya menghasilkan 8,11 μm saja. Dan tentu saja angka pembiasan yang kecil merupakan angka yang lebih baik.

Pembiasan fokus pada spherical lens (kiri) dan aspherical lens (kanan).

Penerapan pada smartphone

Zaman sekarang, fotografi bukan hanya domain kamera dengan lensa yang bisa dicopot-pasang atau dikenal dengan istilah SLR saja. Kini banyak ponsel yang sudah mengadopsi mekanisme kerja SLR sehingga hasil gambar yang dihasilkan pun sudah setara. Mekanisme kerja yang diadopsi pun sudah termasuk penerapan lensa aspherical pada kamera smartphone.

Smartphone yang memakai lensa aspherical yang baru dirilis dan resmi dipasarkan di Indonesia adalah Huawei Nova 3i. Sebetulnya tidak begitu terkejut kalau Huawei menelurkan smartphone yang punya nilai tambah yang baik. Perusahaan asal China ini memberikan budget untuk riset dan pengembangan cukup besar, yakni $14 miliar. Biaya riset dan pengembangan ini merupakan urutan ketiga dibawah Amazon dan Alphabet (perusahaan induk dari Google).


Smartphone Huawei Nova 3i memang bukan smartphone flagship, akan tetapi keberadaan lensa aspherical menjadi sesuatu yang menarik terutama di pasar smartphone. Inovasi di ranah kamera ini seolah-olah menegaskan kalau Huawei merupakan 'king maker' setelah hype seri Huawei P20 yang kerap diadu dengan SLR.

Lensa aspherical pada Huawei Nova 3i mampu menghasilkan gambar yang lebih jernih. Sehingga buat yang gemar memotret obyek dengan senjata kamera smartphone, Huawei Nova 3i merupakan perangkat yang cocok.

Huawei Nova 3i pun didukung oleh fitur multichannel image recognition yang mampu memisah-misahkan citra obyek kemudian menggabungkannya dengan AI yang dimiliki oleh smartphone ini. Proses ini mampu menghasilkan hasil gambar yang lebih baik ketimbang smartphone sekelasnya.

Berikut spesifikasi dari Huawei Nova 3i.

Spesifikasi Detail
Prosesor Huawei Kirin 710 octa-core 2,2GHz
Grafis Mali-G51 MP4
Layar 6.3“ 19,5:9 (2340x1080) IPS LCD
Memori 4GB RAM
Penyimpanan 128 GB
Kamera Belakang: 16 MP + 2 MP f/2.2
Depan: 24 MP + 2 MP f/2.0
Baterai 3340mAh
Dimensi 157,6 x 75,2 x 7,6mm
Berat 169 gram
Harga Rp4.199.000

2 Agustus 2018

Hati-Hati Meminjam Uang di Internet

Aplikasi financial technology (fintech) kerap menjadi penolong ketika Anda sedang membutuhkan uang. Meskipun pada akhirnya harus mengembalikan uang lebih banyak, tetapi pada saat susah, Anda kerap tak memiliki pilihan lain. Namun tahukah bahwa transaksi yang telah Anda lakukan itu mungkin saja ilegal, sebab banyak fintech yang tidak memiliki izin?

Akhir Juli 2018, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis daftar fintech yang tidak memiliki izin. Jumlahnya cukup fantastis, ada 227 buah fintech yang sudah beroperasi tapi tidak memiliki izin dari OJK. Artinya segala macam usaha yang mereka lakukan, alias model bisnis yang mereka jalankan, tidak memiliki landasan hukum.


Berdasarkan informasi yang dihimpun, dari 227 aplikasi fintech itu ternyata dikembangkan oleh 155 pengembang (developer) program saja. Ini berarti satu developer bisa memiliki 3 hingga 5 buah aplikasi fintech. Setengah developer itu berasal dari China. Berikut informasi resmi dari OJK.

Sebelum ada yang berteriak komunis, aseng-asing, dan lain-lain, di China sendiri developer fintech semacam ini sudah terusir. Negeri tirai bambu itu telah membuat aturan untuk mengetatkan platform peer-to-peer lending, model bisnis yang selama ini dipakai oleh fintech tersebut. Mereka kemudian bermigrasi ke Indonesia, yang dinilainya lebih longgar dibanding di negara asalnya.

Namun bukan (hanya) itu yang perlu diwaspadai...

Aplikasi fintech itu berjalan di platform Android, yang biasanya membutuhkan beberapa permintaan untuk mengakses beberapa hal dari perangkat pengguna. Banyak yang tidak mempedulikan hal ini, sebab ketika muncul pop-up pemberitahuan biasanya langsung menekan tombol 'allow' agar aplikasi tersebut segera dipergunakan.

Padahal ketika diperlihatkan, banyak dari aplikasi tersebut yang mengakses beberapa hal yang melampaui batasan privasi. Nah, batasan privasi ini mungkin saja debatable, tapi bagi saya pribadi beberapa hal berikut ini merupakan privasi yang harus saya jaga: isi sms, daftar kontak, dan daftar panggilan. Bahkan saya tidak mengizinkan apabila sebuah aplikasi merekam visual dan audio secara otomatis tanpa sepengetahuan saya.

Akan tetapi tidak begitu dengan sebuah aplikasi yang saya temukan. Aplikasi ini masuk kedalam daftar 227 fintech yang dirilis OJK diatas. Saya menemukan permission request-nya cukup aneh sebab melebihi batas kewajaran sebuah aplikasi. Silakan dilihat di daftar berikut ini.


Permission request semacam ini mungkin merupakan sebuah model bisnis dari aplikasi fintech seperti ini. Makanya di aplikasi lain pun ditemukan hal serupa. Ini contohnya.


Kalau berdalih aplikasi tersebut tidak berizin, bagaimana dengan yang berizin? Ini, saya ambil satu aplikasi yang tidak ada di daftar 227 itu.


Untuk melihat permission access sebelum aplikasi tersebut diinstal bisa dilihat di bagian Additional Information pada halaman aplikasi tersebut di Play Store. Kemudian klik pada bagian view details. Setelah itu akan muncul pop-up yang menunjukan izin apa saja yang bakal diberikan ketika aplikasi tersebut diinstal.

Mengapa aplikasi tersebut membutuhkan permission access sedemikian banyak, dan menerabas privasi pengguna perangkat? Dari yang saya dengar, hal itu digunakan untuk mencegah gagal bayar para debitur secara teknis.

Salah satunya adalah permission request untuk mengakses nomor telepon dan daftar panggilan. Hal ini dilakukan ketika debitur tidak membayar hutangnya dan mematikan teleponnya, maka fintech bakal menelepon orang-orang yang sering berhubungan dengan debitur. Mereka akan dilibatkan untuk ikut menagih hutang terhadap debitur. Kalau kurang paham saya berikan gambarannya.

Aldo punya hutang kepada fintech ABC. Suatu ketika, Aldo terkena PHK dari perusahaannya sehingga gagal membayar kepada ABC. Namun tentu saja ABC tidak mau tahu apa yang terjadi pada Aldo. Hutang harus tetap dibayar. Aldo pun terus ditagih. Karena pusing, Aldo akhirnya mematikan teleponnya.

Aplikasi milik ABC yang sudah mengakses perangkat Aldo mengetahui kalau Aldo sering menelepon Siska, Rudi, dan Toni, begitupun sebaliknya. Maka ABC pun menelepon ketiga orang itu untuk memberitahu kalau Aldo memiliki hutang pada mereka. ABC akan membuat Aldo tidak nyaman dengan hutangnya, sebab yang ikut 'menagih' kali ini bukan hanya ABC tetapi Siska, Rudi, dan Toni.


Lalu, untuk apa izin akses ke kamera dan mikrofon? Saya belum mendengar izin akses ini dipergunakan untuk apa. Akses ini mungkin dipergunakan ketika debitur gagal bayar tadi, aplikasi bisa melakukan perekaman video untuk menganalisis keberadaan debitur. Sekali lagi, kalau yang ini hanya kemungkinan.

Kalau beberapa akses tadi tidak diberikan, aplikasi tersebut sudah diatur agar tidak bisa berfungsi optimal. Sehingga masalah akses ini cukup dilematis.

Lantas apa masalahnya?

Saya pribadi tidak memiliki masalah apapun terkait beberapa aplikasi fintech tadi. Hanya saja saya tidak akan menginstal aplikasi tersebut sebab privasi adalah hal yang penting. Kalau masalah hutang, ya memang harus dibayar, baik bunga rendah ataupun tinggi, dan ada atau tidak adanya aplikasi yang mengintai privasi kita.

Untuk itu, kalau membutuhkan, saya lebih memilih untuk meminjam uang ke platform offline yang memiliki izin dan memiliki cabang yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal. Dan kalapun bisa memilih, ya tentu tidak akan meminjam uang sama sekali.

28 Juli 2018

Tak Punya Budget Buat Hijrah ke Software Orisinal, Bagaimana Caranya?

Sebagai pelaku industri digital, kebutuhan akan peranti lunak atau software, semacam kebutuhan para tukang ojek akan motornya. Kebutuhan yang seolah-olah tak bisa tergantikan. Sayangnya, banyak diantara peranti tersebut harganya tidak ramah di kantong.


Dimulai dari Windows 10, harganya berkisar di angka Rp1,8 juta. Meski harganya mendekati ponsel di kelas mid-range dengan sistem operasi Android, mau tak mau memang mesti dibeli. Sebab tanpa keberadaan sistem operasi di komputer, software yang lain tidak ada gunanya. Nah, permulaan saja sudah berat begini.

Peranti untuk menulis, Windows 10 memang sudah menyediakan Notepad maupun Wordpad. Untuk membuat draft sebelum dituangkan ke blog, saya terbiasa menuliskannya di Notepad karena formatnya lebih netral. Namun Notepad saja tidak selalu bisa diandalkan manakala klien meminta dikirimkan file dalam bentuk .doc yang berarti harus menggunakan Microsoft Word.

Sebagaimana diketahui, harga Microsoft Word dan kawan-kawan yang tergabung dalam Microsoft Office dibanderol sekitar Rp3 jutaan. Ya, itu untuk Microsoft Office 2016, versi dibawahnya biasanya lebih murah.

Untuk kebutuhan blogging, menulis saja ternyata tidak cukup. Banyak pemenang lomba blog memiliki jurus rahasia untuk mendulang hadiah. Jurus rahasia itu terletak pada keberadaan infografis, gambar, dan video yang sangat elok. Artinya ada dua kebutuhan software lagi yang mesti dipenuhi, yakni software edit gambar dan edit video.

Banyak yang menggunakan Corel Draw untuk mendesain gambar. Cuma asal tahu saja, harga CorelDRAW Graphics Suite 2018 full version dipatok di angka $669 atau sekitar Rp9,6 juta. Mamaia mahalnya 'kan? Untuk mengedit video, khususnya para Youtuber yang amatir, kabarnya banyak yang memakai Filmora. Software buatan China itu dibanderol $60 (sekitar Rp800 ribuan) untuk lisensi sepanjang masa atau separuhnya untuk lisensi setahun. Kalau YouTuber tingkat pro biasanya memakai Adobe Premiere yang harganya lebih mahal.

Nah, mari kita hitung berapa budget yang dibutuhkan untuk membeli software saja. Jadi Windows 10 + Microsoft Office + CorelDRAW Graphics Suite 2018 + Filmora Wondershare berarti Rp1.800.000 + Rp3.000.000 + Rp9.600.000 + Rp800.000 = Rp15.200.000. Wow, lebih mahal dibandingkan Oppo Find X ya. Ini berarti kebutuhan untuk menjadi bloger saja memang semahal itu, belum komputernya, gear untuk memotret, internet, dan kebutuhan kopi yang biasanya wajib menemani ketika menulis.

Di satu sisi, itulah mengapa jasa seorang pekerja digital, konten kreator, dan sejenisnya tidak bisa dipandang sebelah mata dan dihargai dengan 'harga pertemanan'. Sebab modalnya guedhe, bro!

Namun di sisi yang lainnya, sebetulnya ada alternatif-alternatif yang bisa dilakukan agar budget-nya tidak semahal itu. Tapi ini khusus bloger ya, soalnya kalau desainer grafis ya kalau kebutuhannya CorelDRAW atau Photoshop memang setahu saya belum bisa digantikan yang lain. Nah, mari kita simak tips agar budget yang keluar bisa lebih hemat.

Beli paketan

Saat ini, produsen laptop, notebook, tablet, maupun komputer built-up sudah memasangkan perangkat yang mereka rakit dengan ketersediaan software yang orisinal. Misalnya kalau kita membeli sebuah laptop, pemilik toko sudah menginstalnya dengan Windows 10 bawaan dari produsennya. Kalau tokonya resmi, software ini terjamin orisinalitasnya.

Dengan cara ini, kita sudah memangkas budget untuk software menjadi Rp13.400.000. Namun cara ini hanya bisa dilakukan kalau kita membeli laptop atau komputer yang baru.

Kalau sering online atau terhubung ke wifi, sebaiknya memilih laptop dengan sistem operasi Chrome. Dengan sistem operasi ini, banyak software gratis yang bisa didapatkan dari Google. Misalnya untuk menggantikan Microsoft Office ada Google Docs, Google Sheets, dan Google Slides. Bahkan di Chrome sendiri, kita bisa menggunakan Microsoft Office secara online dan gratis.

Software alternatif

Windows 10 atau bahkan dibawahnya memang tidak bisa digantikan dengan yang lain. Pasalnya software pendukung buat sistem operasi ini sangat melimpah di pasaran, dan kebutuhan kerja pun masih banyak yang menggunakan software Windows-based. Berbeda halnya kalau lingkungan kita bisa mendukung penggunaan Linux.

Sementara itu, untuk kebutuhan bloger, saya biasa membuat desain sederhana untuk gambar cover blogpost memakai Canva. Ini merupakan software online, yang lagi-lagi tentu saja fleksibilitasnya masih kalah jauh dibandingkan CorelDRAW. Untung saja, buat bloger, CorelDRAW bukanlah software wajib, sehingga bisa diganti oleh apa saja, yang budgetnya gratis lebih ringan.

Kalau untuk editing video, Filmora juga menyediakan software mereka secara gratis, tapi tentu ada fitur yang sedikit hilang dan bakal ditandai dengan watermark. Ya namanya juga gratis, kok mau minta banyak?

Sudah berapa budget yang bisa dipangkas? Yap, tinggal Rp3.000.000 saja kebutuhan untuk Microsoft Office yang sebetulnya sudah dipangkas kalau kita membeli laptop berbasis Chrome sebagaimana diatas.

Menguatkan komitmen

Tips terakhir yang mesti diutamakan dan sebetulnya harus jadi yang pertama kali ditekankan adalah komitmen. Ya, komitmen untuk memakai software yang orisinal. Menjaga komitmen ini memang berat, sebab lingkungan sekitar masih kurang mendukung, Misalnya cibiran teman-teman yang mengatakan: "Kenapa harus keluar duit beli yang orisinal, kalau bisa memakai bajakan?". Ini memerlukan komitmen mental yang teguh.

Komitmen selanjutnya adalah komitmen untuk menabung. Sebab dengan menabung, budget yang dibutuhkan untuk membeli software orisinal itu bisa terpenuhi. Meski harus memakan waktu lama, tapi akan selalu ada rasa puas apabila tercapai.

Yang terakhir, mari kita membayangkan berapa banyak hak-hak para teknisi, buruh teknologi, serta para ilmuwan yang karyanya telah dibajak? Ada berapa orang yang kita rampas hak mereka setiap saat?

Lantas, dari perampasan hak tadi, kemudian software-nya kita pakai untuk mendulang uang atau mencari ilmu. Kalau disandingkan dengan etika, lantas etiskah demikian? Dan kalau berbicara soal agama, halalkah yang semacam ini? Yuk, coba tanyakan ke hati masing-masing.

Vivo V9 6GB: Gaharnya Upgrade dari Vivo V9

Banyak yang bilang kalau Vivo tidak kreatif dalam menamai varian terbaru dari V9. Ketika ada upgrade spesifikasi, pabrikan asal China ini hanya menambahkan 6GB di belakang V9 guna menandai kalau ponsel teranyar ini memakai RAM 6GB. Padahal upgrade-nya bukan cuma itu.
Sebelumnya, Vivo V9 dirilis di tanah air pada 29 Maret 2018.


Vivo membenamkan Snapdragon 450 octa-core dengan kecepatan maksimum sebesar 1,8 GHz pada ponsel high-end itu. Asal tahu saja, V9 tersebut merupakan downgrade kalau dibandingkan V9 yang dirilis di India. Di negeri yang dipimpin Narendra Modi itu, V9 memakai Snapdragon 626 dengan kecepatan 2,2 GHZ.

Alasan pihak Vivo melakukan downgrade pada V9 yang dirilis di Indonesia tentu sudah pada tahu 'kan? Mereka menganggap kalau pengguna V9 di Indonesia, hanya cukup dengan Snapdragon 450. Tepatnya bukan anggapan sih, tapi menurut hasil riset.

Belum genap sebulan, hype perilisan Vivo V9 di Candi Borobudur yang besar-besaran itu tenggelam oleh geger Xiaomi Redmi Note 5 dan Asus Zenfone Max Pro M1 yang dirilis pada 18 dan 23 April 2018.

Satu hal yang menarik dari dua ponsel pesaing itu adalah faktor chipset-nya. Baik Redmi Note 5 dan Zenfone Max Pro M1 memakai Snapdragon 636 yang diklaim sedikit lebih baik dibanding Snapdragon 450 milik V9.

Terlebih buat para jama'ah Antutudiyah, skor kedua chipset tersebut cukup jomplang meski dengan besaran RAM yang seimbang. Snapdragon 636 mendapat rata-rata skor diatas 110.000-an, sementara Snapdragon 450 hanya mendapat 63.000-an.

Skor AnTuTu-nya gede, harganya murah, makanya barangnya jadi gaib.

Namun hype ini rupanya ditangkap oleh pihak Vivo. Bahwa ada ceruk pengguna ponsel di tanah air yang membutuhkan spesifikasi lebih tinggi dari Snapdragon 450.

Pertimbangan ini yang mungkin membuat Vivo pada akhirnya berani merilis V9 6GB. Peningkatan V9 6GB bukan soal RAM saja, akan tetapi dibekali dengan chipset Snapdragon 660 AIE. Chipset ini menurut Qualcomm sendiri bisa memiliki kecepatan maksimum hingga 2,2 GHz. Sehingga wajar kalau Vivo V9 6GB kemudian memiliki skor AnTuTu yang bisa dibanggakan, yakni berada di rata-rata 140.000-an. Ya iyalah, RAM 6GB gitu loh~

Kalau embel-embel AIE di belakang nama chipset tersebut merupakan tanda kalau Vivo V9 6GB sudah mendukung kecerdasan buatan. Kepanjangan AIE sendiri adalah Artificial Intelligence Engine. Berdasarkan rilis dari Qualcomm, chipset Snapdragon yang sudah mendukung machine learning ini adalah 845, 835, 821, 820 dan 660. Sehingga tanpa embel-embel AIE pun sebetulnya Snapdragon 660 sudah mendukung penggunaan AI secara default.

Vivo menerapkan AI ini pada beberapa fitur unggulan dari V9 6GB. Fitur unggulan Vivo tentu saja sektor kamera depan yang memiliki resolusi 12MP. Eh, iya betul ukuran resolusinya segitu, mengalami penurunan dibanding V9 yang memiliki 24 MP. Akan tetapi meskipun megapikselnya menurun, tak akan mempengaruhi kualitas gambar. Baca lagi deh artikel Mojok soal megapiksel kamera.

Kamera depan ini ditingkatkan melalui keberadaan Dual Pixel, yang bermakna sensor lensanya memiliki 2PD alias dua dioda foto yang terpisah dan ada 24 juta unit fotografis. Peningkatan ini memungkinkan fokus saat pengambilan gambar secara otomatis bekerja lebih cepat meskipun objek sedang bergerak. Kamera depan ini didukung AI yang membuat pengolahan gambar menjadi lebih baik.

Kamera belakang pun begitu, meskipun megapikselnya masih tetap sama, yakni kamera ganda dengan masing-masing 13 MP dan 2 MP, akan tetapi sudah mengalami peningkatan. Peningkatannya kira-kira sama dengan kamera depan, yakni keberadaan AI yang kali ini lebih pada keinginan untuk menyaingi DSLR dengan bokeh-nya.

Fitur AI selanjutnya ada pada peningkatan sektor performa. V9 6GB dianggap memiliki kemampuan multitasking yang jauh lebih baik dibanding pendahulunya. Terbukti dengan skor AnTuTu diatas, serta beberapa fitur yang terbilang canggih untuk ponsel kelas menengah. Misalnya game mode yang memungkinkan game terus berlanjut meskipun ada telepon masuk. Juga beberapa printilan fitur keamanan seperti face-unlock dan face app-lock.

Oh iya, salah satu musabab mengapa Vivo dianggap tidak kreatif dalam melakukan upgrade V9 ke V9 6GB bukan cuma soal nama. Desain V9 6GB pun masih sama plék dengan V9 pendahulunya. Dimensinya sama, ukuran dan jenis layarnya sama, bahkan aksen garis penguat desainnya pun masih sama. Berponi juga.

Dari sisi baterai pun, V9 dan V9 6GB masih sama, yakni 3260mAh. Dan yang disayangkan adalah, memori internal yang masih sama 64 GB serta balutan body plastik yang masih dipakai sebagai cover belakang.

Yang berbeda adalah ketersediaan warna, dimana V9 6GB hanya ada warna merah dan hitam saja. Dimana V9 memiliki pilihan warna yang lebih beragam, seperti hitam, emas, merah, dan biru.

Meskipun kehadiran V9 6GB ini terbilang telat, akan tetapi jangan remehkan kemampuan sales Vivo di tataran grassroot. Terbukti meskipun digempur sana-sini oleh ponsel pesaing, Vivo tetap mengklaim penjualan V9 tetap moncer. Sehingga Vivo optimis kalau penjualan V9 6GB ini pun bakal bernasib serupa. Apalagi Vivo menawarkan V9 6GB hanya Rp4.299.000, terpaut Rp500.000 saja dibanding V9.

Jadi, buat siapakah Vivo V9 6GB ini? Ya tentu saja buat kamu yang punya duit doyan main game dan multitasking tapi ingin terlihat tetap menawan ketika tampil di media sosial. Dan satu lagi, V9 6GB ini cocok buat kamu yang tergabung dalam komunitas BASAH-GALE alias BArisan SAkit Hati GAgal fLash salE. He-he~


___
Artikel ini pertama kali tayang di Mojok.co

27 Juli 2018

Beli Ponsel Flagship Atau Jangan? Baca Dulu Ini

Banyak orang yang membuat tingkatan ponsel sesuai dengan harganya. Sebab harga biasanya selalu selaras dengan spesifikasi dan layanan yang ditawarkan oleh ponsel tersebut. Meskipun tidak selalu selaras, tetapi tingkatan ponsel yang paling tinggi bakal dibanderol cukup mahal.

Ada beberapa tingkatan ponsel sesuai dengan harganya. Yang perlu diingat, beberapa tingkatan ponsel ini sebetulnya dinamis, terutama tingkat bawah. Yang pertama di kelas bawah, ada yang disebut entry-level. Di tingkat entry-level ini, ponsel hanya memiliki fitur dasar saja yang penting fungsi utamanya berfungsi. Harganya tentu saja terjangkau, biasanya berkisar di bawah satu juta.


Diatas tingkatan entry-level ada yang kerap disebut mid-range. Di kelas mid-range ini rentangnya cukup panjang. Inilah kenapa di tingkatan bawah, klasifikasinya sangat dinamis. Sebab jarang merek ponsel yang menyebut ponsel yang dirilisnya sebagai mid-range atau bahkan entry-level. Mid-range saat ini ditengarai dengan harganya yang berkisar antara Rp1,5-juta hingga Rp3-jutaan.

Pada beberapa ponsel mid-range juga ada yang disebut sebagai budget-phone. Ponsel jenis ini dibanderol dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan ponsel lain dengan spesifikasi yang sama. Ponsel jenis ini yang sedang ramai di pasaran saat ini adalah Redmi 5A untuk rentang harga sejutaan, Asus Zenfone Max Pro M1 dan Redmi Note 5 untuk harga dua-setengah-jutaan.

Persaingan ponel mid-range dengan harga Rp2 jutaan memang sangat panas. Selain tiga ponsel yang pernah gaib diatas, merek lain pun mencoba peruntungan dengan menelurkan ponsel berharga sama dan spesifikasi yang juga menggiurkan. Namun banyak faktor yang membuat Honor, Advan, Infinix, dan lainnya tidak se-hype Asus dan Xiaomi untuk kasus tersebut.

Diatas ponsel mid-range ada ponsel high-end. Harga ponsel high-end ini memang cukup mendekati ponsel flagship. Rata-rata ponsel di tingkatan ini memiliki fitur-fitur yang setara flagship, namun tentu saja tidak semuanya. Ponsel di tingkatan ini cocok buat Anda yang ingin membeli ponsel flagship namun khawatir banyak fitur yang tidak dipergunakan. Akhirnya daripada membuang budget percuma, ya memang lebih baik membeli ponsel high-end.

Harga ponsel high-end biasanya berkisar di angka Rp4 jutaan hingga Rp7 jutaan. Samsung Galaxy A8 Star yang tercatat sebagai ponsel high-end bahkan dibanderol dengan harga Rp8 juta. Samsung gitu loh.

Tingkatan yang paling tinggi ada ponsel flagship. Dilihat dari etimologinya, flag yang berarti bendera dan ship yang berarti kapal. Flagship merupakan sebuah penanda kapal yang diistilahkan sebagai ponsel yang menandai merek. Misalnya kalau orang menyebut Huawei, maka produk yang bisa disebut adalah Huawei P20 Pro, Samsung pun begitu, ada Samsung Galaxy S9 Plus, Oppo dengan Find X, dan lain-lain. Dan tidak semua merek memiliki produk ponsel di tingkat flagship.

Jika, Anda punya budget sekitar Rp13 juta, yang merupakan rata-rata harga ponsel flagship, dan hendak membeli sebuah ponsel, di tingkatan manakah yang bakal Anda pilih? Apakah entry-level, mid-range, high-end, atau bahkan menghabiskan semuanya dengan membeli ponsel flagship?

Sebaiknya berkaca kepada kebutuhan Anda

Ya, utamakan kebutuhan alih-alih keinginan untuk tampil bergaya dengan menenteng ponsel flagship. Kalau memang kebutuhannya sudah berada di tingkatan flagship, misalnya untuk multitasking yang membutuhkan grafis berat, ya apa boleh buat. Akan tetapi kalau kebutuhannya masih pada tingkatan kamera bagus, grafis yang bisa memainkan game mobile berat, spesifikasi ponsel mid-range juga sudah bisa.

Budget bisa dialihkan untuk dukungan lain

Harga ponsel flagship biasanya dua hingga tiga kali dari harga ponsel mid-range. Untuk itulah alangkah lebih baik kalau memang tidak membutuhkan ponsel flagship, budget tersebut bisa dialihkan ke yang lain. Misalnya kalau Anda merupakan seorang bloger, ya lebih baik dialihkan untuk membeli laptop yang bagus. Misalnya membeli ponsel cukup empat jutaan saja, maka laptop yang bisa dibeli dengan harga sembilan juta sudah di tingkatan prosesor core i5.

Spesifikasi yang tidak terpaut cukup jauh

Buat yang selalu mengacu kepada skor Antutu, jarak antara ponsel mid-range, high-end, dengan flagship memang sangat terpaut jauh. Angkanya bisa terpaut puluhan hingga seratus ribu. Akan tetapi untuk urusan performa ketika dipakai, biasanya tidak begitu terasa. Ya, biasanya.

Urusan kamera pun begitu. Kamera ponsel flagship denga kamera pada ponsel mid-range apalagi high-end biasanya tak terlalu signifikan perbedaannya ketika cukup cahaya. Hanya saja, perbedaan itu mulai tampak ketika memotret dalam kondisi temaram alias low-light.

Flagship is always flagship

Dari semua alasan diatas, membeli ponsel flagship tentu memiliki banyak keuntungan. Pertama performa yang terjamin bisa melahap semua spesifikasi piranti lunak di PlayStore. Kemudian kamera yang bisa memotret dalam situasi apapun. Desain yang ciamik dan body yang biasanya sudah memiliki beragam sertifikat anti-air, anti-debu, maupun anti-goncangan.

Lantas kalau punya budget Rp13 juta mau dibelikan ponsel di tingkatan mana? Jawabannya kembali pada diri masing-masing. Refleksikan dengan jujur kebutuhan Anda. Dan terakhir, ya uang itu uang Anda. Anda yang berhak untuk menentukan mau dihabiskan untuk apa. Sebab tentu saja Anda yang bertanggungjawab atas pilihan tersebut.

25 Juli 2018

Urgen, Setiap Situs Harus Segera Memasang HTTPS

Banyak pemilik situs yang tak menyadari kalau peranan http dan https cukup penting dalam kacamata Google. Atau mungkin https sebetulnya sudah dipasang, tapi tak begitu tahu kegunaan dan manfaatnya apa. Terlebih bagi pengunjung, yang sering pula tak begitu peduli dengan apakah situs yang dikunjunginya memakai https atau belum.

Sejak 2016, Google sudah memberikan peringatan agar setiap pemilik blog, situs, website, dan sejenisnya memasang https dalam domain ubahsuaian (domain TLD) mereka. Situs yang domainnya sudah memakai https bakal diberi tanda secure dan berwarna hijau.

Sementara itu, yang masih memakai http hanya diberikan bulatan dengan huruf 'i' saja di dalamnya. Bulatan ini kalau diklik bakal memunculkan tanda kalau situs tersebut tidak aman dan memperingatkan agar tidak melakukan input data apapun ke situs tersebut.

Google pun akhirnya memberikan peringatan itu secara terang-terangan. Melalui Google Chrome mulai versi 68, situs yang tidak memakai https bakal diberi tanda 'not secure' secara langsung. Sebetulnya, tanda ini sudah diberikan, namun hanya apabila pengunjung memasukkan data tertentu ke dalam situs. kalau tak memasukkan apapun, dan cuma berkunjung saja, domain situs hanya didampingi bulatan dengan huruf 'i' di dalamnya tadi, belum ada tanda 'not secure' seperti sekarang.


Apa itu HTTPS dan bedanya apa dengan HTTP?

Situs adalah sebuah perwujudan interaksi di dalam internet antara pemilik situs dengan pengunjung situs. Kalau diibaratkan sebuah jalan, situs adalah jalan tersebut dan pengunjung adalah mereka yang membawa kendaraan. Situs yang memakai https ibarat jalan yang diberi pagar di samping kiri-kanan dan bebas hambatan. Kalau bahasa kerennya, situs yang memakai https memakai koneksi yang terenkripsi.

Sementara itu, situs yang tidak memiliki https sama seperti jalan yang tidak dipagari. Semua pengguna jalan bisa menyeberang dan berpotensi menghambat koneksi, bahkan menimbulkan kecelakaan. Di dalam sebuah koneksi tanpa https, pihak ketiga bisa menginterupsi koneksi dan menyisipkan piranti lunak yang bisa membahayakan perangkat atau mencuri data yang dimasukkan ke situs tersebut.

Meskipun sebuah koneksi https manfaatnya lebih banyak untuk pengunjung, tetapi bukan berarti tak ada manfaatnya sama sekali buat pemilik situs. Google memberikan tanda secara tersirat kalau situs yang memakai https akan lebih diperhatikan oleh mesin pencarinya. Maksudnya, situs yang memakai https bakal lebih diutamakan posisinya di mesin pencari.

Cara memasang https di domain ubahsuaian blogspot.

Sudah banyak yang membahas cara memasang https ini, tetapi barangkali ada yang belum tahu maka saya sertakan saja disini. Untuk situs yang memakai self hosting, https ini bisa didapatkan dalam sebuah paket SSL (Secure Socket Layers) yang berbayar ataupun satu paket bersama hosting-nya. Jadi tinggal disetting sesuai petunjuk dari tempat hosting saja.

Sayangnya, hal yang sedikit ribet kalau hosting-nya menumpang di Google alias ubahsuaian dari Blogspot. Kita mesti menumpang SSL dari pihak ketiga, yang sudah pun berbayar, pengaturannya ribet. Untunglah keribetan ini tidak lagi terjadi setelah Google memberikan fitur https pada domain ubahsuaian sejak tahun 2017.

Caranya memang masih ribet, cuma tak seribet saat Google belum merilis fitur tersebut. Sekarang tinggal masuk ke dasbor Blogger > Settings > Basic > HTTPS > pilih Yes semua untuk Https Availability dan Https Redirect. Kalau cara ini sudah dilakukan, coba lihat domain anda, sudah ada https-nya belum? Biasanya sudah langsung ada https-nya cuma warnanya belum hijau.

Untuk membuatnya berwarna hijau, masuklah ke menu pengaturan Theme, lalu Edit HTML template situs anda. Kalau pusing melihat kode begitu banyak, silakan aktifkan fitur pencarian dengan tombol Ctrl + F dan carilah http. Kalau http sudah ketemu, ubah semuanya menjadi https. Pastikan tak ada satupun http yang terlewat diubah kedalam https. Semuanya mesti berubah. Kalau sudah, silakan kunjungi kembali situs anda, lihatlah apakah domainnya sudah didampingi dengan https berwarna hijau atau belum? Kalau belum, berarti masih ada http yang belum berubah.

Jadi ada beberapa tahap untuk mengikuti pembaruan dari Google ini. Pertama, memperbaharui Google Chrome ke versi 68 dengan cara berkunjung ke chrome://settings dan pilih About. Kedua, mengubah koneksi situs dari http menjadi https. Kedua hal ini urgen untuk dilakukan agar aktivitas kita di internet senantiasa aman dan terlindung.

Lantas, kalau enggak memasang https kenapa? Ya sebetulnya enggak apa-apa sih, tapi 'kan jadi aneh, sudah membuat konten capek, patuh aturan Google, eh situsnya malah ditandai dengan 'situs ini tidak aman'. Mau begitu? Ya kalau saya sih enggak mau.