25 Mei 2019

Canon EOS M100: Kamera Untuk Konten Kreator Pemula

Akhir Agustus 2018 silam, kebutuhan untuk membuat konten berupa video akhirnya terpenuhi dengan kehadiran Canon EOS M100. Pemilihan kamera ini sebetulnya lebih banyak disebabkan karena satu hal: budget. Dan karena cukup banyaknya kegiatan lain, aktivitas membuat konten sampai me-review kamera ini pun terbengkalai dan baru sekarang terealisasi. Selamat membaca.


Canon EOS M100 memang melanjutkan ciri khas EOS M10 yang kini sudah mengalami discontinue. Ciri khas yang paling menonjol adalah ia didaulat sebagai kamera low-budget dibandingkan kamera Canon seri yang lainnya. Meski begitu, sebagai penerus ia memiliki beragam pembaruan yang menempatkannya sebagai kamera kekinian.

EOS M100 dan EOS M10 masih sama-sama memiliki ciri khas layar touchscreen yang bisa diputar 180 derajat. Sebagai kamera pas-pasan, Canon pun tetap tak memasang hot shoe di bagian atas M100 sama halnya pada pendahulunya. Satu hal ini yang pada akhirnya membuat saya sedikit menyesal membeli EOS M100. Ya, sedikit saja, karena ketika melihat kemampuannya dalam merekam video, rasa penyesalan itu sedikit pudar.

Canon memberikan peningkatan pada prosesor EOS M100, yakni DIGIC 7. Sehingga kamera ini lebih bagus dalam menghasilkan gambar, lebih terang ketika low-light, dan tentu saja performa auto-fokusnya lebih cepat dan lebih baik.

EOS M10 dan M100 juga sama-sama masih memakai sensor APS-C CMOS, namun Canon membenamkan resolusi 24,2 megapiksel pada M100. Sekadar catatan, resolusi ini dipakai pula oleh kamera Canon EOS 80D yang harga bodinya saja bisa tiga kali lipat M100. Sementara EOS M10 hanya memakai sensor dengan resolusi 18 megapiksel, sama seperti kamera senior yang sudah jadul.

Saat dipakai, dapur pacu ini memang hanya sebuah tulisan diatas kertas. Pengaturan mode kamera yang mengadopsi ragam pencahayaan membuat segala kemungkinan bisa terjadi. Ketika diatas kertas auto-fokusnya cepat, tapi ketika cahaya yang menimpa objek sangat temaram, fokusnya malah tidak ketemu.






Pengalaman Pemakaian

Sebagai pemula, saya cukup sadar diri untuk menyerahkan sepenuhnya kepada mode otomatis, sehingga baik foto maupun video bakal tampil sesuai dengan kemampuan EOS M100 sendiri. Dan beberapa kali pilihan ini tidak salah juga.

Banyaknya pengaturan ISO berkat prosesor DIGIC 7, dari 100 hingga 12800 yang bisa dinaikkan pula hingga 25600, pada EOS M100 ini tidak banyak saya pakai. Sebab normalnya, kamera mengatur ISO 200 hingga 800 pada setiap jepretan foto dan perekaman video.

Yang paling sering dipakai dan bermanfaat menurut saya adalah keberadaan Dual Pixel AF System. Sebab sistem auto-fokus ini menghasilkan 24 juta phase detection yang merata ke area frame hingga 80 %. Sistem ini sangat bermanfaat sebab menghasilkan auto-fokus yang cepat. Cuma ya itu tadi, kalau ndilalah-nya pengaturannya tidak otomatis dan ketemu dengan pencahaayan yang temaram, auto-fokus ini suka enggak jelas.

Sebutan low-budget yang tersemat pada EOS M100 pun terlihat pada dukungan pembuatan video. Ia hanya mentok di resolusi Full HD, belum sampai pada taraf 4K. Untungnya kamera ini bisa merekam hingga 60 fps. Banyaknya frame yang dihasilkan M100 ini lebih banyak dua kali lipat daripada yang dihasilkan oleh M10. Makanya hasil videonya tentu lebih smooth, ya tentu perbandingannya juga dengan pendahulunya itu.

Desain dan Penyimpanan

Bentuk mirrorless memang dibuat seramping mungkin daripada DSLR biasa. Sayangnya, rampingnya mirrorless menjadi kelemahan dari sisi desain bagi para penggunanya. Itulah kenapa EOS M6 dibuat memiliki desain pegangan yang serupa DSLR. Dan, lagi-lagi, sebagai kamera low-budget, kita mesti menerima desain yang rata dari EOS M100.

Untuk mengatasi kamera yang rentan sekali jatuh, saran saya manfaatkan sebaik mungkin strap yang ada. Buat yang tidak nyaman mengalungkan strap di leher, gulunglah tali kamera itu sehingga menyerupai gelang di tangan kanan. Jangan sekali-kali melepas strap ini dan hanya memegang kameranya saja. Ya kecuali anda seorang sultan yang tak mempermasalahkan rusaknya sebuah kamera seharga Rp6 juta.

Desain layar 3 inci yang bisa diputar balik ke depan tentu sangat bemanfaat ketika selfie melakukan talking perform saat pembuatan video sendirian. Saya bisa melihat secara langsung hasil perekaman meski tanpa bantuan orang lain. Ya, hal yang sama pun berguna ketika pemotretan.

Beberapa konektivitas wireless masih dipertahankan pada M100 persis seperti pendahulunya. Ditambah lagi pada EOS M100 ada tombol koneksi Wi-Fi yang bisa langsung menghubungkan folder memori kamera dengan smartphone yang sudah terinstal aplikasi Camera Connect. Jadi buat yang kerap khawatir SD Card-nya terpapar virus dari komputer, saatnya berbahagia. Dengan hanya mengklik tombol tersebut, mengatur perangkat yang terhubung, dan menyalakan aplikasi tersebut di smartphone, transfer data tanpa kabel sudah bisa berjalan. Syaratnya, keduanya berjalan pada jaringan Wi-Fi yang sama.

Saya menghindari transfer data dengan bluetooth apalagi NFC, sebab waktu yang dibutuhkan lebih lama apalagi yang ditransfer merupakan file video.

Kesimpulan Akhir

Sebagai kamera pemula untuk konten kreator, EOS M100 sangat bisa diandalkan. Cuma untuk perekaman video, suaranya bisa dibilang cukup namun belum baik. Hal ini disebabkan kamera ini hanya menggunakan mic internal tanpa bisa dipasangi mic eksternal sebab ketiadaan hot shoe dan port untuk memasang mic-nya.

Ya sebetulnya sih suara stereo yang dihasilkan mic internal ini sudah cukup, cuma untuk mengantisipasi suara yang tidak maksimal, sebaiknya anda membeli perekam tambahan. Saya menyiasatinya dengan membeli Boya Lavalier.

Overall, performanya cukup mengesankan ketika dipakai dalam pembuatan video. Kesan ini mungkin saja hanya saya yang mengalaminya, sebab hanya terbiasa menggunakan smartphone dalam melakukan perekaman video. Cuma dengan konsep yang dipakai pada kamera DSLR dan mirrorless yakni ‘what you see is what you get’, rasanya Canon EOS M100 dengan segala kelemahannya cukup memenuhi konsep tersebut.

Untuk contoh hasil videonya, anda bisa melihat di kanal YouTube saya (subscribe ya :p):



Berikut ini beberapa hasil foto yang berhasil dijepret (Mungkin akan diperbaharui seiring frekuensi pemakaiannya meningkat):





20 Mei 2019

Huawei, Android, dan Politik ala Trump

Huawei merupakan nama yang diperhitungkan di industri teknologi global. Pabrikan asal China ini merangsek ke Amerika dan Eropa dengan keunggulan teknologi perangkat komunikasinya. Kalau ditotal, ada 70 cabang industri yang memproduksi berbagai macam dukungan terhadap keberlangsungan nama Huawei. Namun tentu yang saya dan anda kenal barangkali hanya smartphone, baik dengan nama Huawei maupun Honor.


Smartphone Huawei, termasuk Honor didalamnya, mendapatkan pangsa pasar yang cukup tinggi secara global. Pada kuartal pertama tahun 2019, mereka mengapalkan setidaknya 59,1 juta smartphone atau menguasai setidaknya 17% pangsa pasar dunia. Hal ini menandakan Huawei tumbuh sekitar 50% dibanding kuartal yang sama pada tahun lalu yang hanya mengapalkan 39,3 juta perangkat saja. Dengan jumlah sebesar ini, Huawei memposisikan diri sebagai runner-up penguasa pasar menguntit Samsung yang ada di puncak klasemen.

Besarnya nama Huawei di industri telekomunikasi secara umum tentu merupakan angin yang segar bagi China. Pabrikan yang berasal dari negeri tirai bambu ini tentu menjadi salah satu perlambang bagi digdayanya ekonomi negara tersebut. Namun semakin tinggi pohon tumbuh, maka angin yang bertiup tentu lebih kencang. Begitulah yang terjadi dengan Huawei.

Ekonomi China yang semakin meraksasa, membuat pemimpin di negerinya sejajar dengan pimpinan negara besar lainnya. Salah satu pemimpin tersebut adalah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Pada 1 Desember 2018 lalu, Xi Jinping dan Donald Trump terlibat pertemuan bilateral dengan mengambil momentum G20 di Buenos Aires, Argentina. Hasil dari pertemuan tersebut adalah sebuah kesepakatan 'gencatan senjata' dari perang dagang antara China dan AS yang selama ini terjadi.

Sayangnya, pertemuan tersebut kemudian dicederai oleh penangkapan Meng Wanzhou, kepala bidang keuangan Huawei sekaligus putri tertua Ren Zhengfei, di Kanada saat transit di Bandara Vancouver. Buat yang belum tahu, Ren Zhengfei adalah pendiri dan CEO Huawei. Penangkapan yang dilakukan otoritas Kanada tersebut merupakan permintaan AS karena Wanzhou dituduh melanggar sanksi terhadap Iran.

Dua bulan kemudian masalah tersebut membesar. Departemen Kehakiman AS mendakwa Meng dan juga Huawei telah menyesatkan pihak bank dan pemerintah AS atas bisnis mereka di Iran. Selain dakwaan tersebut, mereka dituduh menghalangi upaya penegakkan hukum dan melakukan percobaan untuk mencuri rahasia perdagangan yang terkait dengan alat robotik yang dikembangkan T-Mobile bernama Tappy. Huawei dan Meng membantah tuduhan tadi.

Tappy merupakan sebuah tiruan jari tangan manusia yang bisa menyentuh layar smartphone dengan cepat untuk uji responsivitas. Huawei bermaksud membelinya dari T-Mobile, namun ditolak sebab khawatir teknologi ini bakal dipergunakan untuk menyaingi T-Mobile sendiri. Sayangnya salah satu karyawan Huawei diduga menyelundupkan Tappy ke China. Namun fakta persidangan mengungkap kalau karyawan itu beraksi sendirian, tanpa menyeret Huawei.

Hanya saja bukti lanjutan menuntun kepada keberadaan skema internal Huawei yang memberikan iming-iming bonus kepada karyawan di AS. Bonus ini akan diberikan manakala karyawan tersebut mendapatkan informasi dagang perusahaan lain. Ya, mirip-mirip pencurian. Dan bisa ditebak, Huawei membantahnya dengan keras.

Gelombang tantangan bagi Huawei pun berlanjut saat jaringan 5G mulai diterapkan. Jaringan yang menjanjikan kecepatan unduh yang lebih cepat 10 hingga 20 kali lipat dari sekarang ini membuat pemerintah AS merasa khawatir. Kekhawatiran ini dipicu aturan dalam negeri China yang menyatakan kalau perusahaan China tidak boleh menolak permintaan bantuan dari pemerintahnya dalam upaya pengumpulan informasi intelijen.

Meski Ren Zhengfei membantahnya, tak bisa dipungkiri kalau China dibawah Xi Jinping memang terkesan otoriter. Apalagi beberapa kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah yang berbasis Partai Komunis China itu mengharuskan petinggi perusahaan mematuhi komitmen moral dan sosial negara. Sehingga imbasnya, banyak petinggi perusahaan yang merangkap juga sebagai anggota Partai Komunis.

Trump Larang Google dan Perusahaan Lain Bekerjasama dengan Huawei

Singkat cerita, basis kekhawatiran diatas yang dibumbui dengan beberapa rangkain peristiwa yang mengekor membuat Presiden AS, Donald Trump akhirnya mengeluarkan aturan yang cukup mengejutkan dalam lanjutan perang dagang ini. Trump menandatangani aturan kalau perusahaan AS tidak boleh bekerjasama dengan Huawei. Aturan yang dieksekusi oleh Departemen Perdagangan AS ini bahkan secara detail menyebut 68 sub-usaha Huawei juga masuk kedalamnya atau disebut juga 'Entity List'.

Dampak dari pelarangan bisnis perusahaan AS oleh Trump ini memang cukup memukul, tak cuma Huawei, tapi juga industri teknologi AS sendiri yang mayoritas berbasis di Silicon Valley. Fakta kalau industri ini terpukul adalah turunnya saham perusahaan-perusahaan di California tersebut. Sebabnya ada potensi pendapatan yang bakal hilang hingga US$11 miliar atau Rp159 triliun. Pendapatan itu merupakan hasil dari pembayaran yang biasa dilakukan Huawei karena membeli hardware dari Intel, Infineon, Qualcomm, Qorvo, Micron Technology, Western Digital, Broadcom, dan Xilinx, serta software dari Microsoft dan Google.

Ini pun belum dihitung kalau China melakukan aksi balas dendam. Salah satu yang bakal terpengaruh dengan aksi China atas perlindungannya terhadap Huawei mungkin akan memengaruhi Apple. Pasalnya, pabrikan smartphone kebanggaan AS ini merakit perangkatnya di China yang dikenal punya tenaga kerja yang jauh lebih murah dibandingkan di AS. Kalau dipindah pabrik perakitannya, kemungkinan bakal memakan waktu lama dan tentu bakal berdampak naiknya harga Apple.

Trump mungkin tidak paham kalau aturan yang sedianya menuruti kekhawatiran akan spionase dari Huawei ini berdampak serius bagi industri dalam negerinya. Pasalnya rantai ketergantungan antara Huawei dan perusahaan AS sudah berlangsung cukup lama dan saling menguntungkan. Kalangan industrialis AS pun sempat mengatakan kalau Trump memang bodoh. Ia tidak memahami persoalan ini.

Latar belakang ekonomi Trump berbasis pengusaha properti. Ia pun lebih mirip dengan makelar properti yang menunggu harga tanah naik kemudian menjualnya, atau sebaliknya, ketika tanah berharga murah ia membelinya. Ia juga hanya paham industri media dan hiburan. Makanya rantai industri terutama industri teknologi semacam ini tidak masuk di kepalanya.

Nah, bagaimana dengan Huawei sendiri?

Huawei ternyata sudah mengantisipasinya jauh-jauh hari sebelum memanasnya perang dagang antara China dengan AS. Salah satunya mereka sudah menyetok chipset dari Silicon Valley untuk keperluan 12 bulan kedepan. Mereka mungkin terpukul dengan bakal hilangnya beberapa layanan mayor dari Google yang biasanya ada di smartphone.

Aturan Trump diatas mengatur larangan bagi perusahaan AS untuk bekerjasama dengan Huawei. Makanya Alphabet, induk dari Google, masuk didalamnya. Ini berarti Huawei tak bisa lagi memasang GMail, Google Search, Google Maps, Play Store, dan layanan Google lainnya. Aturan tersebut akan berlaku bagi smartphone yang akan diproduksi. Kalau yang sudah diproduksi, layanan tersebut masih bisa berjalan di smartphone Huawei, cuma tidak akan mendapatkan update dari Google.

Untuk Android sendiri, tampaknya Huawei masih tetap mempertahankannya. Hal ini dikarenakan Huawei masih belum berhasil mengembangkan sistem operasinya sendiri diluar ekosistem Android. Dan kedepan Huawei pun masih bisa memakai Android, karena sistem operasi ini bersifat open-source yang berbasis komunitas yang bisa diperoleh oleh siapapun. Ya cuma tadi, layanan Google yang lain tak boleh dipakai.

Nah, bagaimana buat anda yang berencana membeli smartphone Huawei maupun Honor? Ya tak masalah, sebab smartphone yang telah diproduksi masih tetap mendapatkan layanan Google sebagaimana mestinya. Tentu menjadi berbeda kalau anda berniat membeli Honor 20 yang akan dirilis beberapa hari kedepan di London, Inggris. Kita nantikan kejutan apa yang diberikan Huawei.

19 Mei 2019

Asuransi Kendaraan MSIG, Berkendara Tanpa Cemas

Asuransi Kendaraan MSIG, Berkendara Tanpa Cemas - Rasa cemas dalam berkendara merupakan hal yang dialami oleh hampir setiap orang. Kecemasan ini merupakan hal yang wajar terjadi mengingat jalanan menyimpan beragam kemungkinan. Namun rasa cemas yang berlebihan dalam berkendara tentu tidak baik, sebab bisa mengganggu konsentrasi. Bagaimana mengatasi rasa cemas berkendara ini?

asuransi-kendaraan-msig-berkendara-tanpa-cemas

Banyak orang yang pada akhirnya memilih menggunakan transportasi umum, seperti kereta api, bus, hingga pesawat terbang, dibandingkan mengendarai mobil atau kendaraan pribadi. Hal ini mungkin bisa jadi pilihan yang baik mengingat ketika rasa cemas itu muncul, ia cenderung mengganggu. Hanya saja banyak orang yang memerlukan kendaraan pribadinya sesampai di daerah tujuan. Ini situasi yang dilematis.

Fenomena orang-orang mengendarai mobil maupun kendaraannya sendiri secara masif sering terlihat ketika arus mudik dan arus balik saat lebaran. Kalau jujur memilih, mereka tentu memilih menggunakan transportasi umum, agar perjalanannya lebih nyaman. Namun pilihan itu diurungkan, sebab kendaraan tersebut diperlukan di daerah tujuannya untuk bersilaturahmi. Dan rasa cemas lain juga bisa muncul sebab ada kekhawatiran kendaraan yang ditinggalkan menjadi sasaran tindak kriminal. Selain itu, membawa kendaraan sendiri cenderung menghemat biaya perjalanan.

Akhirnya rasa cemas itupun berupaya dihilangkan habis-habisan. Meskipun setiap tahunnya jumlah korban akibat arus mudik selalu banyak, dari luka ringan, cacat, hingga kehilangan nyawa, tapi demi beberapa alasan yang telah diuraikan, banyak orang tetap berkendara ke kampung halaman mereka. Rasa cemas itu terus dipupus sejak meniatkan diri dalam menyiapkan kendaraan hingga sepanjang jalan. Mudik harus tetap berjalan, meski berkendara dengan rasa cemas yang selalu berkelindan.

Pernahkan anda bertanya kepada mereka yang berkendara dengan resiko yang cukup tinggi, baik mereka yang pekerjaan sehari-harinya berkendara di jalan maupun yang menempuh arus mudik setahun sekali? Apakah mereka memiliki rasa cemas ketika berkendara? Jawabannya iya, tentu saja mereka cemas. Tapi rasa cemas itu ternyata bisa diminimalisir dengan beberapa hal.

Untuk mereka yang setiap harinya berkendara di jalan raya, seperti sopir bus maupun driver ojek online, rasa cemas itu seumpama ombak di laut. Mereka kemudian berperan menjadi para peselancar. Apabila baru pertama kali melihat ombak di laut, mungkin saja rasa takut itu muncul. Namun ketika sudah terbiasa, malah mereka berharap selalu ada ombak yang bisa meluncurkan papan selancar mereka dengan baik. Ya, ala bisa karena biasa.

Lain halnya dengan mereka yang menempuh arus mudik. Jalur yang biasa mereka tempuh mungkin hanya dilewati tiga atau empat kali dalam setahun. Kalau dibilang biasa melintasi jalur tersebut, rasanya tidak juga. Namun motivasi mereka untuk berlebaran, bersilaturahmi, dan berkumpul dengan keluarga di kampung halaman bisa memupus rasa cemas itu. Meskipun pupus rasa cemas itu, tetap saja masih terus tersisa. Kecemasan bisa menghampiri sebab bisa jadi mobil yang dikendarainya tergores, penyok, maupun mesinnya rusak akibat benturan.

Makanya ada satu lagi cara preventif yang bisa meminimalisir rasa cemas dalam berkendara. Anda bisa membeli asuransi kendaraan agar kendaraan yang dikendarai bisa terproteksi dengan baik. Sebab proteksi ini penting, karena di jalanan segala kemungkinan bisa terjadi. Bisa jadi mobil anda terserempet mobil lain, dan sangat mungkin pula terserempet oleh motor karena betapa masifnya pemotor saat jalur sibuk seperti arus mudik.

Salah satu asuransi yang bisa anda pilih adalah MSIG. Anda bisa beli asuransi mobil di MSIG sebab proteksinya lengkap, cara pembeliannya mudah, dan tentu saja metode klaimnya simpel dan cepat. Asuransi MSIG pun bisa menjadi pilihan karena kemudahan dan kenyamanannya dalam berasuransi, sebab memberikan opsi layanan online yang sangat memudahkan kliennya sehingga disebut MSIG Online. Apa sih MSIG Online itu?

asuransi-kendaraan-msig-berkendara-tanpa-cemas

MSIG Online merupakan bagian dari PT. Asuransi MSIG Indonesia, sebuah konsorsium perusahaan asuransi yang paling besar di Indonesia, MS & AD. Gabungan perusahaan ini telah memiliki pengalaman di tanah air, sebab telah beroperasi setidaknya selama 40 tahun. MSIG Indonesia juga dinaungi oleh MSIG Asia yang jaringannya berpusat di Jepang. Jadi secara kemapanan dalam mendampingi kliennya, MSIG telah memiliki pengalaman yang cukup panjang dan stabil selama puluhan tahun.

Ada tiga tipe untuk proteksi dari MSIG untuk anda dan sekeluarga kala berkendara. Berikut ini asuransi yang ditawarkan MSIG:
  1. Asuransi Perjalanan. Asuransi MSIG yang satu ini merupakan asuransi yang memproteksi perjalanan anda ke dalam negeri maupun ke luar negeri. Jenis proteksinya melindungi diri dan keluarga anda ketika melakukan perjalanan.
  2. Asuransi Kendaraan Bermotor. Asuransi MSIG yang ini melakukan proteksi kendaraan bermotor anda. Sehingga anda bisa lebih nyaman dan aman dalam berkendara tanpa dihantui rasa cemas sebagaimana telah disinggung diatas. Proteksinya melindungi kendaraan anda dari kerusakan ketika berkendara, kecelakaan pribadi, kecelakaan yang melibatkan orang lain, dan beragam kemungkinan lain yang terjadi di perjalanan anda.
  3. Asuransi Mudik Aman. Asuransi ini sangat cocok bagi anda yang sebentar lagi akan melakukan perjalanan menuju kampung halaman atau lebih populer dikenal dengan nama mudik. Asuransi MSIG ini hampir sama fungsinya dengan asuransi jiwa, sebab memberikan proteksi ketika (mudah-mudahan tidak) anda meninggal dunia, kecelakaan yang mengakibatkan cacat, hingga biaya perawatan di rumah sakit akibat kecelakaan. Selain itu ada manfaat tambahan dari asuransi ini, yakni bantuan biaya pemakaman dan bantuan perlindungan terhadap kebakaran di rumah yang ditinggalkan (hanya berlaku untuk paket keluarga).
Nah, sedemikian komplitnya MSIG menawarkan produknya untuk anda. Hal ini dilakukan MSIG agar dengan asuransi kendaraan MSIG, anda bisa berkendara tanpa cemas. Anda berminat untuk menjadi bagian dan merasakan manfaat dari MSIG?

28 April 2019

Review: Asus VivoBook X505Z, Performa Puas Meski Budget Terbatas

Asus cukup spartan dalam merilis laptop. Dalam setahun, empat hingga lima kali pabrikan asal Taiwan ini mengenalkan laptop terbaru mereka dari berbagai seri. VivoBook, ZenBook, TUF, hingga ROG silih berganti membombardir pasar Indonesia.


Apakah konsumen kebingungan dengan banyaknya laptop maupun notebook Asus? Sepertinya tidak, sebab masing-masing seri dan tipenya menggarap segmen tersendiri. Konsumen jadi punya banyak pilihan dalam membeli laptopnya, tinggal disesuaikan antara kebutuhan dan budget saja.

Untuk konsumen yang membutuhkan laptop untuk penggunaan sehari-hari seperti mengetik, berinternet, maupun desain grafis yang ringan, Asus juga punya banyak pilihan. Kebetulan, beberapa minggu lalu, Asus mengirimkan Asus VivoBook X505Z.

Laptop ini dikirim Asus sebagai hadiah lomba yang dibesut oleh Asus dan Blogger Borneo dalam mengulas Asus VivoBook Pro F570. Saya mendapatkan juara kedua, dan laptop itulah hadiahnya. Dan hanya kurang dari sepekan saja, laptop itupun tiba di rumah.

Beragam kesibukan cukup mendera saya, sehingga ulasan laptop ini belum bisa langsung dikerjakan. Meski begitu, ditengah kesibukan tersebut, saya memang mengandalkan laptop hadiah tersebut untuk sekalian diuji-pakai. Hasilnya saya ceritakan di artikel ini.

Asus VivoBook X505Z sepertinya memang dibuat khusus untuk mereka yang hanya menggunakan laptop sebagai sarana mengerjakan tugas menggunakan Microsoft Office, berselancar dengan peramban Chrome, maupun memutar video dengan beragam aplikasi multimedia.

Beberapa tugas dasar itu memang bisa ditingkatkan. Misalnya ketika dibutuhkan penyuntingan gambar bahkan diharuskan membuatnya sendiri di aplikasi seperti Corel Draw maupun Adobe Photoshop, Asus VivoBook X505Z cukup tangguh menjalankannya. Cuma jangan meminta lebih.

Jika anda membeli laptop ini dan bakal banyak menghabiskan waktu dengan aplikasi desain grafis, semoga bisa dipikirkan kembali. Sebab bukannya tidak bisa, akan tetapi laptop ini memiliki respon yang cukup lambat terutama ketika membuka aplikasi pertama kali dan menyimpannya.

Aplikasi untuk menyunting video pun bernasib serupa. Saya mencoba dengan aplikasi yang tergolong ringan, Filmora. Hasilnya sama saja, responnya tak begitu membanggakan. Ada beberapa jeda ketika video disunting, terlebih rasa lambat itu hadir ketika dilakukan proses rendering untuk mengekspor hasilnya.

Lantas, apakah perlu dibatalkan saja jika anda punya niat untuk membeli laptop ini? Saya pikir jangan dulu, sebab ada beberapa keistimewaan dari laptop ini yang mungkin tidak dipunyai laptop lain di rentang harga yang sama. Pun dengan adanya peluang upgrade yang bisa dilakukan untuk meningkatkan performa laptop ini.

Asus VivoBook X505Z memakai prosesor AMD Ryzen 3 2200U dengan clockspeed di angka 2,5 GHz yang bisa overclock hingga 3,4 GHz. Kartu grafisnya dipercayakan kepada AMD Radeon Vega 3.

Kapasitas penyimpanan Asus VivoBook X505Z dipercayakan pada hardisk SATA 1 TB dengan kecepatan 5400 rpm. Nah, tadi disinggung ada potensi upgrade untuk meningkatkan performa, yakni ada slot kosong untuk dipasangi SSD M.2 agar respon dalam membuka aplikasi bisa lebih cepat.

Upgrade selanjutnya pun bisa dilakukan sebab Asus VivoBook X505Z memiliki slot kosong untuk memasang RAM tambahan. Secara default, Asus hanya memberikan RAM sebesar 4 GB saja untuk menopang performa laptop. Jadi kalau anda melakukan upgrade ini, performanya bakal semakin meningkat.

Saat dilakukan benchmarking, Asus VivoBook X505Z mendapatkan skor 641 di Cinebench. Lalu CPUZ mencatat skor 219 untuk single threads dan 926 untuk multi threads. Skor ini sedikit diatas Intel Core i5 3470.



Keunggulan dapur pacu yang cukup tangguh untuk menopang aktivitas sehari-hari ditunjang pula dengan tampilan luar Asus VivoBook X505Z yang elegan. Meski berbahan plastik, Asus memberikan finishing serupa pola yang menyerupai metal di sekitar touchpad. Pola titik melingkar dengan fokus pada dua sentral mengapit tulisan Sonic Master menjadi pola dasar yang mewarnai keyboard.


Selalu ada satu hal yang membuat saya kurang suka dengan keyboard pada laptop Asus adalah keberadaan tombol power yang berdekatan dengan tombol delete. Bahkan ia menempati posisi tombol delete buat yang terbiasa dengan keyboard konvensional. Alpanya backlit juga membuat keyboard yang sebetulnya enak dipakai ini jadi punya nilai minus. Ya memang kalau ada LED backlit-nya harganya jadi naik sih.

Hal menarik lain adalah pada layar 15,6 inci yang dimiliki Asus VivoBook X505Z ini, yakni tidak membuat laptop ini memiliki ukuran yang lebar. Keunggulan ini disebabkan fitur NanoEdge display yang membuat layar memiliki bezel yang tipis. Di cover depannya pun, ada pola mirip bunga yang berfungsi sebagai anti-fingerprint-magnet. Bukan alat canggih sih, cuma pola grip yang membuat sidik jari tidak membekas.



Overall, dengan bobot tanpa charger yang hanya 1,68 kg, Asus VivoBook X505Z layak dinobatkan sebagai laptop yang wajib anda pilih di rentang harga Rp6,4 juta. Apabila anda memiliki budget lebih, Asus VivoBook X505Z yang lebih tinggi bisa dipinang juga, yakni mulai Rp8 juta hingga Rp11,3 juta.

Di dalam paket pembelian, sudah tersedia charger, Windows 10 pre-install, dan tas punggung. Berminat?

8 April 2019

Learn and Get Exemplary Education in through Immigration Consultants

SIM GE Singapore offers good courses for students. That has ensured that the lives of the students change extraordinarily well after pursuing this course. For undergraduate programs that take place part time, admissions occur twice a year as in July and January. The age of the candidate may not be lower than 21 years at the time of registration. Other requirements must have an IB diploma to get an entry permit. So, you can continue the course after doing 10 + 2 too. The basic requirement is that candidates must have 2 years work experience to pursue this diploma. It's better to get help from an immigration consultant to get the best help for your immigration visa and study.


There are many types of courses offered to students such as BSC Biomedical engineering, Bachelor of Building and Project Management, BSc Information and Business Technology (ERP), BSc Mathematics, BSc Facility and Event Management. After that students are selected for the Hons program provided that the number of students needed is available to attend. But they are only given a degree once they are able to meet the CGPA score (Cumulative Grade Point Average) during the degree trip. The best part about all these undergraduate programs is that students benefit from the recognition of programs such as BSc Human Factors in Safety by the Ministry of Manpower for Workplace Safety and Health Officer Registration.

In Singapore, another course offered is a Bachelor of Electronic Engineering (B. Eng Electronics) as one Top Business University Singapore. This is a graduate diploma that is quite useful for students and ensures students can look forward to an engineering degree. The students are assisted by intensive preparation for the engineering degree ahead with complete knowledge of IT and telecommunications in this diploma. This diploma is recognized by the Engineering Accreditation Board, which is the official body of engineers in Singapore. This program is also a pathway to the Bachelor of Engineering degree. Students like you realize are in a very favorable position after pursuing this diploma because they can expect to get a separate degree from getting a job after the diploma.

2 April 2019

Operasi Tetap Memicu Efek Samping, Secanggih Apapun Teknologinya

Saya masih teringat ketika putri saya lahir. Proses kelahirannya tidak normal. Istri saya mesti menjalani operasi section-c atau kerap disebut operasi sesar. Pun masih teringat dengan lampu sorot dan aneka ragam peralatan canggih yang mendukung tindakan operasi tersebut.

Buat banyak orang, operasi memang harus menjadi jalan keluar dari beberapa masalah yang dihadapi di dalam tubuhnya. Operasi tentu bukan cuma proses kelahiran, bahkan yang lebih banyak terjadi justru diluar proses kelahiran itu.


Perbedaan antara operasi biasa dengan operasi section-c adalah hasil akhirnya. Kalau operasi biasa, hasil akhirnya justru sangat tidak diharapkan, kalau bisa setelah dilihat penyakitnya, benda tersebut segera dibuang. Hal yang berbeda terjadi pada operasi section-c. Tentu ‘hasil’ dari dalam tubuh itu yang ditunggu dan diharap-harapkan sejak awal.

Setelah operasi selesai dilakukan, yang terjadi pada tubuh memang lebih baik. Orang yang hamil merasa lega anaknya sudah dilahirkan, pun yang memiliki penyakit juga bernasib sama. Hanya saja persamaan keduanya tidak melulu positif, sebab banyak diantara efek yang muncul setelah operasi justru kurang baik.

Meskipun teknologi kedokteran sudah semakin maju, pun didukung dengan peralatan yang canggih, tetap saja efek samping ini masih tetap muncul. Berikut ini beberapa efek samping yang dialami setelah dilakukan operasi.

1. Sembelit
Apa pun operasi yang dijalankan oleh Anda, kebanyakan dari mereka yang dioperasi setelahnya merasa kesulitan untuk buang air besar atau pun mengalami sembelit. Hal ini tentu sangatlah normal, namun pastinya memberikan ketidaknyamanan bagi Anda. Untuk mengatasinya, Anda bisa mengkonsumsi makanan kaya serat dan minum air yang banyak. Selain itu, konsumsi juga obat sembelit dan susah buang air besar alami yang bisa dibeli di Go Apotik yang pastinya sangat terpercaya dan kualitasnya pun tidak perlu diragukan lagi.

2. Mual Muntah
Mual muntah setelah di operasi memang menjadi hal yang sangat lumrah terjadi karena reaksi yang diberikan dari obat bius atau pun merupakan reaksi yang diberikan tubuh pada obat-obatan yang sudah diberikan ketika operasi. Namun, hal ini akan membahayakan jika tidak diobati dengan segera karena mampu membuat Anda dehidrasi atau pun bekas luka sayatan dapat robek kembali. Anda harus meminum obat anti mual yang bisa didapatkan langsung dari Go Apotik dengan sangat cepat dan terjangkau.

3. Demam
Efek samping yang satu ini pastinya juga kerap dirasakan oleh mereka yang sehabis dioperasi adalah mengalami demam. Tidak perlu khawatir karena hal tersebut adalah normal dialami. Biasanya, demam akan mencapai 37 derajat pada normalnya karena merupakan respon dari penggunaan ibuprofen atau pun paracetamol. Anda bisa mengkonsumsi obat demam yang sesuai dengan dosis dari dokter. Pastikan untuk mendiskusikan dengan dokter dan membeli obatnya di tempat yang terpercaya seperti Go Apotik yang menjual berbagai jenis obat terpercaya dan berkualitas sehingga memudahkan kita untuk mendapatkan obat yang sulit untuk didapat dengan lebih cepat.

Demikianlah beberapa efek samping yang muncul pasca-operasi. Semoga anda senantiasa sehat sehingga tidak memerlukan tindakan operasi yang memicu efek samping tersebut.

23 Maret 2019

Asus VivoBook Pro F570: Sang Juru Damai, Sukses Dukung Tugas Negara

Dinamika dunia kerja kerap tak bisa ditebak. Apalagi di zaman digital yang hampir semuanya terkoneksi, perubahan bisa terjadi dalam hitungan detik.

Saya pun mengalami perubahan ini. Apa yang dulu saya anggap tidak begitu dibutuhkan, sekarang justru posisinya cukup vital.

Saya bekerja sebagai pendamping Program Keluarga Harapan, sebuah program yang dihelat Kementerian Sosial Republik Indonesia. Singkat kata, seperti yang tertulis di bio penulis di bawah, saya merupakan pekerja sosial.


Pekerjaan saya senantiasa berhubungan dengan masyarakat penerima program. Rutinitasnya adalah mengunjungi rumah-rumah mereka yang letaknya di pelosok desa dan bercengkrama dengan mereka, mendengarkan keluh-kesah mereka dalam mendidik anak, berjibaku dalam bertahan hidup, dan merasakan keceriaan kala tiga bulan rekening mereka terisi setelah pemerintah melakukan transfer bantuan.

Dalam melakukan pekerjaan, saya berbekal format kunjungan, kuesioner, catatan kerja, dan buku catatan pribadi. Persentuhan dengan komputer paling sering dua minggu sekali. Itupun hanya urusan laporan, pencetakan format, dan input data di Excell dan Word. Lima tahun sudah rutinitas semacam ini saya jalani.

Namun belum lama ini ada beberapa hal yang membuat pekerjaan ini berubah cukup drastis. Perubahan ini membuat kebutuhan saya akan laptop tiba-tiba menjadi kebutuhan yang vital. Sementara laptop saya yang dulu, sudah saya jual karena saya berpikir tidak membutuhkannya lagi.

Setidaknya ada empat poin perubahan pada pekerjaan yang menuntut saya untuk memiliki laptop dengan spesifikasi yang bagus.


Pertama, pihak kementerian meminta kalau kami harus membuat video dokumentasi kegiatan. Satu hal yang sebelumnya hanya cukup dilakukan dengan foto saja. Pada sebuah kesempatan, video dokumentasi ini pun diperlombakan untuk mencari yang paling bagus dari seluruh pendamping se-Indonesia.

Kedua, aplikasi updating data berpindah lagi ke versi Windows, dari sebelumnya memakai Android. Sayangnya, aplikasi ini berjalan secara online sehingga membutuhkan spesifikasi komputer yang bagus untuk menjalankan browser dan menyambungkannya dengan internet secara real-time. Ah, asal anda tahu, website ini selain memakan RAM yang tidak sedikit, juga tidak memiliki theme yang responsive, sehingga kalau dibuka dari smartphone cukup membuat sakit mata dan fiturnya banyak yang hilang.

Ketiga, pekerjaan saat ini menuntut terlaksananya sebuah kegiatan yang bernama Family Development Session (FDS). Di dalamnya ada materi-materi tentang keluarga yang beberapa materinya mesti memutar video. Selain itu video ini gambarnya mesti terang, juga harus diputar dengan suara yang cukup kencang agar terdengar oleh warga yang hadir ketika pemberian materi.

Keempat, data-data yang saya bawa di dalam hard disk merupakan data pribadi dan dokumen negara yang tidak boleh diakses secara sembarangan. Siapapun yang meminta, menyalin, dan menggandakan data ini harus berkirim surat ke Dinas Sosial kabupaten terlebih dahulu sebab isinya cukup sensitif. Biasanya data ini saya simpan di rumah, cuma sering saya butuhkan juga sewaktu-waktu di lapangan.

Keempat hal ini sebetulnya bisa dilakukan melalui komputer desktop. Sayangnya, pekerjaan yang saya lakukan bersifat mobile. Ya tak mungkin juga memberikan materi FDS di beberapa lokasi sambil menggendong komputer kemana-mana. Lalu bagaimana kalau saya membutuhkan update kondisi terkini warga, yang datanya ditunggu saat itu juga oleh pusat? Jarak rumah saya ke rumah warga itu tidak dekat, Ferguso!


Terpincut dengan Sang Juru Damai

Kebutuhan saya akan laptop ini sepertinya terpenuhi kalau saya bisa meminang laptop yang belum lama ini dirilis oleh Asus. Pada 14 Februari 2019 lalu, pabrikan asal Taiwan yang merajai pasar laptop di Indonesia ini merilis VivoBook Pro F570. Sebuah laptop yang menurut saya cukup unik dan memang baru pertama kali ini ada.

Asus VivoBook Pro F570
Biasanya pabrikan laptop hanya memasang prosesor AMD dengan grafis buatan AMD juga, yakni Radeon. Entah ada perjanjian atau tidak dari pabrikan laptop yang memakai AMD sebagai prosesornya sehingga pakem ini cukup kuat tertanam.

Di sisi yang lain, pabrikan kartu grafis yang menguasai pangsa pasar global sebesar 81,2 % pada kuartal akhir 2018 lalu, yakni NVidia, juga punya reputasi yang cukup baik dalam pembuatan kartu grafis. Tapi meskipun penguasaan pasarnya sangat baik, Nvidia belum pernah dipasangkan dengan prosesor AMD oleh pabrikan.

Alhasil, perseteruan antara jenama AMD dengan NVidia tak terelakkan. Petinggi keduanya sering adu komentar di media massa tentang keunggulan produk masing-masing dan kadang meledek satu sama lain. Keduanya sebetulnya sama-sama unggul dari segi performa, sehingga cukup banyak yang berharap mereka bisa berdamai dalam satu perangkat.

Nah, kehadiran Asus VivoBook Pro F570 mendobrak pakem itu. Asus menjadi juru damai bagi keduanya. Pasalnya laptop ini menggabungkan prosesor AMD dengan kartu grafis diskrit dari NVidia. Penggabungan keduanya dalam satu laptop baru pertama kali ini terjadi. Inilah yang membuat laptop ini unik dan membuat saya tertarik. Yang paling penting, ia menjawab keempat kebutuhan saya diatas.

Kolaborasi Dapur Pacu yang Energik


Asus VivoBook Pro F570 memadukan kehebatan prosesor AMD Ryzen dengan kartu grafis diskrit NVIDIA® GeForce® GTX 1050 dengan 4GB GDDR5 VRAM. Dengan perpaduan keduanya, game kekinian dengan grafis tinggi seperti Battlefield 1 dan Farcry 5 bisa dilahap dengan ganas.

Tapi saya bukanlah gamer. Kebutuhan saya dengan laptop ini sudah diutarakan di alasan pertama dan kedua diatas. Saya membutuhkannya untuk menopang lini pasca-produksi kala membuat video dokumentasi. Ditambah lagi keberadaan entri data dengan aplikasi yang dipergunakan oleh puluhan ribu orang, jelas diperlukan perangkat yang tangguh untuk menembus keangkeran server.

Asus merilis laptop ini dengan dua varian yang memakai dua jenis AMD Ryzen™. Untuk opsi pertama ada Asus VivoBook Pro F570 dengan Ryzen™ 5 2500U yang memiliki kecepatan minimum di angka 2 GHz dan bisa di-overclock sampai 3,6 GHz. Opsi selanjutnya ada yang menggunakan Ryzen™ 7 2700U yang mempunyai kecepatan minimum 2,2 GHz yang bisa di-overclock sampai 3,8 GHz.

Sekedar catatan, kecepatan tersebut cuma didapatkan dari kartu grafis onboard Radeon Vega. Jadi ketika ditambahkan dengan NVIDIA® GeForce® GTX 1050, performa keseluruhan menjadikannya laptop yang terkencang di kelasnya. Dan ini sudah melebihi ekspektasi saya akan sebuah laptop kerja.

Perangkat Audio-Visual yang Ciamik


Di setiap modul FDS membutuhkan pemutaran video beberapa kali. Penyisipan video ini bermanfaat agar materi bisa terserap dengan lebih baik dan membuat peserta bisa lebih terfokus. Agar hasilnya maksimal, tentu saya membutuhkan laptop yang bisa memutar video dengan gambar jernih dan bening ditambah suaranya jelas dan nyaring.

Asus VivoBook Pro F570 memiliki jawaban atas kebutuhan tersebut. Ia mempunyai fitur SonicMaster yang membuat perangkat audio bisa menghasilkan suara yang jernih. Ditambah lagi dengan keberadaan software AudioWizard agar audio tersebut bisa diatur secara manual sepenuhnya.

Layar 15,6 inci dengan resolusi Full HD (1920x1080 piksel) yang ditopang dengan LED-backlit dan fitur anti-glare membuat tampilan video bisa memuaskan. Setiap pikselnya dioptimalkan oleh teknologi Asus Tru2Life agar mendapatkan ketajaman dan kontras gambar yang sempurna.

Harapannya dengan komponen audio dan visual dari laptop ini, bisa membuat saya terbebas dari menggendong infocus dan sound system yang cukup merepotkan.

Desain Memikat dan Elegan


Asus VivoBook Pro F570 memiliki desain khas seri VivoBook F. Seri yang ini sedikit berbeda dari seri VivoBook S apalagi VivoBook Classic. Ketika VivoBook lainnya tampil simpel, laptop ini hadir dengan beberapa garis biru yang disebut lightning blue. Ini mengingatkan saya dengan seri TUF Gaming dan ROG.

Untunglah desainer Asus tak terlena terlalu jauh sehingga masih menyisakan desain simpel dengan sentuhan ala metal nan mewah yang disebut stunning finish yang biasa ditemui di seri VivoBook lain.

Satu hal yang membuat saya memuji desain Asus adalah penempatan lampu backlit berwarna putih di keyboard. Ini membantu pekerjaan saya sekali, sebab tidak semua rumah warga yang saya kunjungi memiliki penerangan yang cukup.

Selain keberadaan backlit putih itu, keyboard Asus VivoBook Pro F570 memiliki jarak antar tombolnya cukup memberi keleluasaan pada jari untuk mengetik. Top deh desainer Asus dalam merancang detail hingga urusan keyboard ini.

Oh iya, saya pernah bermasalah juga dengan port USB yang bermacam-macam seperti yang saya ceritakan pada artikel sebelumnya. Singkatnya, saya memiliki smartphone dengan USB Type C, sementara port ini masih belum banyak pemakainya sehingga konektivitas smartphone cukup terhambat. Syukurlah, ternyata Asus VivoBook Pro F570 memiliki port yang cukup banyak seperti USB-C 3.1, USB 3.1 Type A, USB 2.0 Type A, HDMI, LAN RJ45, dan Micro SD card reader. Ini membuat saya tak akan kesulitan lagi untuk transfer data dengan lebih cepat.

Fingerprint Sensor yang Menjamin Keamanan


Saya sih berharap laptop ini memiliki pemindai biometrik pada kamera di bagian atas layarnya. Hanya saja teknologi tersebut bakal membuat harga laptop ini melambung tinggi. Maka cukuplah saat ini dengan keberadaan fingerprint sensor yang menciptakan perlindungan yang lebih baik untuk data di dalamnya.

Fingerprint sensor ini diletakkan di dalam bingkai persegi yang mengitari touchpad. Saya kira peletakkan ini bakal mengganggu fungsi gesture-command pada touchpad, ternyata tidak begitu. Touchpad tersebut cukup luas untuk dipakai aneka gesture, dan fingerprint sensor ini hanya terletak di sudut kanan atasnya.

Dari sisi software, sensor ini ditopang oleh Windows Hello sebab Asus VivoBook Pro F570 telah terpasang Windows 10 orisinal. Dan ini membuat saya bisa bernafas lega ketika menaruh data-data penting di dalam laptop ini.

Beberapa fitur lain yang menjadi pertimbangan agar Asus VivoBook Pro F570 segera dipinang adalah keberadaan sistem pendinginan dari teknologi Asus IceCool. Sistem ini bekerja dengan teknis pemutaran kipas dan penyaluran panas lewat pipa kecil. Sehingga saya bisa bekerja seharian dengan laptop ini tanpa takut ia berubah jadi setrika.

Penutup

Kolaborasi antara AMD dan NVidia sebetulnya sudah menjadi garansi kalau Asus VivoBook Pro F570 ini melampaui ekspektasi saya. Dengan beberapa pekerjaan saya yang bersinggungan dengan kebutuhan akan spesifikasi yang mumpuni untuk membuat video dan input beragam data ke server, sebetulnya bisa menjadi jaminan kalau laptop ini bisa diandalkan untuk anda yang menjadi gamer, desainer, maupun mahasiswa yang membutuhkan laptop dengan spesifikasi mumpuni dengan harga terjangkau.

Dengan berat yang hanya 1,9 kg, Asus VivoBook Pro F570 ini tidak akan membebani punggung ketika melakukan mobilitas di lapangan. Portabilitasnya saya pikir bisa diandalkan, apalagi buat anda yang tingkat mobilitasnya 'hanya' berkutat di ruang kerja, bertemu klien, kemudian pulang ke rumah.

Sekali lagi, perpaduan antara AMD dan NVidia dalam satu laptop merupakan barang yang langka. Ini bisa menjadi sebuah momentum bagi kita semua untuk menjadi pelaku sejarah yang menyeksamai sang juru damai dalam mendamaikan dua jenama tersebut.

Nah, buat anda yang tertarik dengan laptop ini silakan meminangnya di toko resmi terdekat yang menjual produk Asus dengan harga Rp13.999.000 untuk versi Ryzen™ 7 2700U, RAM 8GB, penyimpanan 1 TB HDD dan 256 GB M.2 SATA3 SSD. Untuk versi Ryzen™ 5 2500U, RAM 8 GB, penyimpanan 1 TB HDD, dijual dengan harga Rp11.799.000.

ASUS VivoBook Pro F570 Ryzen™ 7 juga dijual eksklusif di JD.ID, melalui mobile site di https://m.jd.id/camp/asus-f570zd-r7591t-316210179.html atau desktop site di https://www.jd.id/campaign/asus-f570zd-r7591t-3162.html.


*Artikel ini diikutsertakan pada lomba yang dihelat Asus dan Blogger Borneo.

18 Maret 2019

Adakah Cara Mudah Mencari Uang di Internet?

Ada alasan mengapa sidebar trending post sepekan di blog ini selalu muncul artikel soal UC News. Alasan sederhananya karena artikel itu menempati page one dalam Google Search dalam beberapa kata kunci soal UC News. Namun ada alasan yang tidak sederhana yang bisa jadi pernah ada di alam imaji kita.

Berbicara soal internet, hal yang kerap terbayangkan adalah beberapa kemudahan yang didapat dunia digital ini. Salah satu kemudahan itu terkait pula dengan pemenuhan kebutuhan primer manusia: bertahan hidup. Ya, bertahan hidup zaman now tentu diaplikasikan dengan cara mencari uang. Maka kata kunci tentang 'mencari uang di internet' dan variasinya sering diketikkan banyak orang di kolom pencarian Google.

Saat pertama kali hadir, UC News memang menawarkan kemudahan dalam mencari uang. Artikel yang ketika di blog sendiri hanya mendapat views paling banyak ribuan, di platform tersebut dilipatgandakan hingga sepuluh kali. Secara penghasilan, banyak dari teman-teman yang merasakan lonjakan yang cukup besar dibandingkan platform blogger yang menjadi basis mereka.

Kabar ini tentu tersebar ke banyak orang. Sebab selain UC News sendiri mengiklankan di televisi hingga mem-blocking acara Hitam Putih dan menayangkan salah satu kreator UC News, kabar bahwa mudahnya mencari uang di internet lewat UC News tersebar begitu rupa. Saya pun kebagian berkahnya dengan membanjirnya kunjungan ke blog melalui artikel tutorial tentang menulis di UC News dan cara pembayaran lewat Payoneer.

Sampai saat ini kedua artikel tersebut masih menjadi 'artikel jangkar' yang menyumbang hampir 50% kunjungan. Dan apabila UC News masih menerapkan metode refferal, saya pun mungkin banyak kebanjiran fee penghasilan kreator. Sebab ada ribuan referensi yang mendaftar melalui link yang saya pasang di artikel tersebut.

Hal yang sama pun terjadi pada Payoneer. Sebelum saya mencopot kode refferal di artikel tentang Payoneer, saya mengantongi 127 refferal. Kalau dihitung, potensi penghasilan ditaksir mencapai Rp44 jutaan. Sayangnya, untuk mendapatkan fee refferal yang bernilai $25 per refferal tersebut, seseorang harus mendapatkan transfer dengan batas minimal senilai $100. Baru juga cair tiga kali senilai $75, Payoneer menaikkan batas minimalnya senilai $1,000. Kenaikan inilah yang menyebabkan saya mencopot kode refferal tersebut. Mungkin bakal saya pasang lagi sih, hehe



Sudah ya curhatnya...

Pada intinya, berkah akibat banyak orang mencari kata kunci 'mudahnya mencari uang di internet' masih menimpa saya. Alhamdulillah. Berkah ini semoga terus berlanjut dan semakin membesar di kemudian hari. Tapi pertanyaannya, memangnya semudah apa sih mencari uang di internet?

Pada beberapa kasus pemula (maaf, demi kemudahan untuk menyebut mereka yang baru terjun ke dunia internet), beberapa 'cara mudah' dalam mencari uang di internet kerap ditelan mentah-mentah. Cara ini pada akhirnya menjadi jebakan yang membuat para pemula ini mendapatkan pengalaman berharga: bahwa mencari uang di internet sama susahnya dengan dunia nyata. ~Ya karena operator di balik dunia maya ini orang-orang dari dunia nyata juga lah...

Saya mengetahui pemula kerap terjebak kedalam 'cara mudah' tadi, sebab saya adalah pemula dan pernah terjebak di dalamnya. Salah satu yang diklaim sebagai cara mudah mencari uang di internet adalah mengisi survey. Ya, mengisi survey apapun, baik tentang produk kecantikan, tiket perjalanan, pendidikan, sampai tentang politik. Satu survey biasanya memakan waktu 5 hingga 25 menit.

Mengapa saya menyebutnya jebakan? Karena sebetulnya survey itu sendiri bukan jebakan sih. Cuma karena dimunculkan bersamaan dengan cara mudah mencari uang di internet, akhirnya disebut sebagai jebakan. Bayangkan saja, satu isian survey dihargai sekitar 10 hingga 70 poin. Sementara untuk bisa dicairkan, dibutuhkan sekurangnya 5000 poin. Silakan dibayangkan berapa banyak survey yang diisi dan paket data yang dihabiskan untuk mencapai pencairan yang senilai dengan uang Rp50.000 itu. Betul-betul tidak mudah.

Cara mudah mencari uang selanjutnya yang menjebak para pemula adalah membuat blog untuk dipasangi iklan. Pada titik ini, motivasi membuat blog didasari dengan keinginan untuk mudah mendapatkan uang dengan hadirnya iklan. Ya sebetulnya tidak salah, namun kurang tepat. Sebab blog secara singkat merupakan manifestasi dari skill menulis, desain grafis, hingga videografi.

Pada awal kali membuat blog, yang waktu itu niche-nya tentang film, motivasi saya pun sama. Pencarian terhadap penyedia layanan iklan terus dilakukan, sebab saat itu Adsense belum berpihak. Berbagai platform periklanan seperti Chitika, Bidvertiser, Infolinks, sampai platform iklan afiliasi pernah saya coba. Kala itu blog saya penuh dengan banner. Setiap hari dipusingkan dengan bagaimana caranya agar blog tersebut tampil baik dan menghasilkan, tanpa ada pikiran tentang konten.

Pasca mendaftar beberapa kali, Adsense pun menerima saya. Sayangnya, hanya beberapa hari saja Adsense melakukan banned terhadap akun saya. Banned ini terjadi karena grafik penghasilan saya tak pernah kunjung naik, selalu $0 setiap harinya. Akhirnya saya mencoba untuk mengklik sendiri iklan tersebut, dan grafik itupun naik sekitar $0,5. Rasa senang atas kenaikan grafik itupun runtuh seketika, sebab ada notifikasi yang menyebut bahwa 'your account is disable'. Konyol sih, jadi ingin tertawa kalau mengingat kejadian ini.

Saya pun belum memahami saat itu kalau sebuah email yang pernah di-banned bakal selamanya di-blacklist oleh Adsense. Saya pun membuat email yang baru, dan ternyata hasilnya sama juga, terkena banned lagi tanpa melakukan apa-apa. Mungkin ada sepuluh kali mencoba selama sepuluh hari, dan hasilnya sama: banned! Nah, pengetahuan baru kala itu, Adsense mencatat pelanggaran ternyata berdasarkan IP Address dari komputer yang mengklik sendiri iklannya. Jadi kalau komputernya belum diganti, membuat seberapa banyak email dan akun pun hasilnya bakal sama saja.

Seiring pengetahuan bertambah kalau blog pun perlu diperbanyak artikelnya agar kunjungan pun meningkat, saat itu sempat terpikir untuk melakukan auto-generated content (AGC). Ya, cara ini memang cara yang cukup mudah meski beresiko tinggi karena blognya bisa di-take down Google. Untunglah cara ini pun belum sempat saya lakukan karena selain saya tak bisa membuat blog AGC, juga ada rasa tidak enak mengambil karya orang lain.

Kesimpulannya, dunia internet dan dunia nyata pun sama-sama sulit dalam mencari uang. Di dunia nyata, kita mesti mencari pekerjaan atau sumber penghasilan, bekerja keras dan cerdas, berkeringat, dan baru kemudian dibayar. Di dunia internet pun sama, kita mencari sumber penghasilan, bekerja keras dan cerdas, berkeringat, dan baru kemudian mendapatkan bayaran. Besar kecilnya uang yang dihasilkan tersebut selalu sepadan dengan kerja keras yang dikeluarkan dan kecerdasan yang dimiliki.

Mekanisme yang sama pun terjadi kalau ada pelanggaran dalam dunia internet. Anonimitas tidak lagi menjadi kamar besi yang bisa melindungi siapapun setelah berbuat salah. Kalau kita melakukan kesalahan di internet, malunya pun sama saja terbawa ke dunia nyata. Jadi kalau di dunia nyata anda adalah orang baik, tetap pertahankan hal tersebut di dunia internet. Dan jika kebetulan anda berniat jahat, ingatlah kalau sepandai-pandainya tupai melompat pastilah akan terjatuh juga.

Jadi silakan hentikan imaji tentang mencari uang di internet itu mudah. Yang terasa mudah itu kalau Allah SWT sudah memberikan jalan rezeki. Misalnya pada awalnya dia selalu gagal dalam bermitra dengan Adsense di blognya, eh dia malah sukses berjualan produk di media sosial maupun e-commerce. Tapi apakah jalan hidup seseorang dalam menggapai kesuksesan itu semudah mencari kata kunci 'mudahnya mencari uang di internet' di Google? Tentu tidak, Ferguso!

Semua membutuhkan niat, usaha, dan doa.... ~tsaaahhh kayak di sinetron religi ya.

9 Maret 2019

Domain Authority 2.0, Haruskah Blogger Khawatir?

Sejak 5 Maret 2019, para blogger mengeluhkan skor DA dan PA mereka yang menurun secara drastis. Angka penurunannya cukup signifikan, sebab ada yang hingga 20 poin.

Keluhan itu tertangkap di beranda media sosial, dimana sebagiannya ada yang me-mention pakar SEO ihwal kejadian ini. Kebanyakan tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Sebab soal DA dan PA ini memang suka-suka MOZ saja.


Sebelum berlanjut ke fenomena penurunan ini, barangkali ada yang belum memahami soal DA dan PA, maka izinkan saya menjelaskannya sepintas terlebih dahulu.

DA atau Domain Authority merupakan sebuah metrik untuk memprediksi posisi sebuah domain di hasil pencarian mesin pencari. Metrik ini memakai ukuran angka 0-100, dimana angka yang lebih besar lebih bagus.

PA merupakan Page Authority. PA sendiri sama dengan DA, namun bukan mengukur sebuah domain, tetapi halaman tertentu dalam domain tersebut. Pola pengukurannya sama dari 0-100.

Algoritma matrikulasi yang menghasilkan skor DA dan PA atas sebuah situs ini diciptakan oleh MOZ. Metrik dari perusahaan internet yang bermarkas di Seattle ini mengukur kualitas dan kuantitas link eksternal atau biasa disebut backlink yang menautkan situs yang diukur.

Sebenarnya bukan MOZ saja yang memiliki skor semacam ini, namun Ahrefs juga punya DR alias Domain Rating (DR). Ahrefs merupakan perusahaan saingan MOZ, namun dalam banyak kesempatan, DA lebih banyak dipakai.

Itulah kenapa setiap kali ada tawaran job buat blogger, yang ditanya setelah statistik visitor biasanya skor DA. Skor ini pun bisa dicek secara mandiri oleh siapapun di laman MOZ.

Nah, karena kaitannya dengan penghasilan, maka penurunan skor DA dan PA yang dialami oleh blogger cukup membuat resah.

Kabarnya MOZ sedang melakukan pembaruan algoritma agar skor DA dan PA yang dihasilkan jauh lebih baik. Hasil pembaruan ini membuat DA kemudian disebut Domain Authority 2.0.

Kenapa MOZ melakukan pembaruan algoritma DA ini? Ya karena subjek dimana skor ini dinisbatkan juga selalu memperbarui dirinya. Ya, subjeknya adalah mesin pencari, dan yang terbesar bernama Google. Si raksasa ini, sebagaimana kita tahu, sering memperbarui algoritmanya 'kan?

Pembaruan ini dilakukan MOZ agar lebih cocok disinkronisasi dengan pembaruan dari Google.

Tapi buat para blogger yang skor DA-nya mengalami penurunan, sebetulnya tidak usah khawatir.

Pertama, metrik DA yang diciptakan MOZ secanggih apapun posisinya hanyalah aplikasi pihak ketiga. Sebab sekali lagi, subjek utama dari semuanya adalah Google. Jadi perubahan ini tidak berpengaruh terhadap situs di mata Google.

Jadi daripada galau melihat penurunan DA dan PA, alangkah bijak kalau membuka situs Google Analytics. Silakan lihat di alat tersebut, situs anda sehat atau tidak, visitor-nya jatuh atau stabil, dan sumber backlink-nya berkualitas atau tidak, dan seterusnya.

Hal itu bakal jauh bermanfaat dan bisa terasa langsung pengaruhnya dibandingkan mengecek DA dan PA di situs MOZ.

DA dan PA hanyalah alat ukur yang berguna untuk mengetahui posisi situs sendiri dibandingkan posisi situs pesaing.

Kedua, kalau kaitannya dengan job blogger, ya tinggal dijelaskan saja kalau DA dan PA sedang mengalami pembaruan. Toh, pada akhirnya yang dinilai dari sebuah situs adalah kontennya. Kalau kontennya bagus dan punya nilai lebih, job biasanya mengikuti.

Ya memang sih, untuk menjelaskan ke agency soal penurunan skor ini ibarat kejadian saat pembubuhan disclosure pada konten bersponsor. Memang banyak agency yang paham, tapi lebih banyak juga yang tak paham.

Situs ini sendiri tidak terpengaruh oleh perubahan algoritma MOZ terkait DA dan PA ini, masih bertahan di angka DA 21 dan PA 29. Akan tetapi buat yang terpengaruh, terutama mereka yang skornya turun, setidaknya ada dua hal yang menjadi penyebabnya.

Penyebab pertama adalah konten yang miskin. Konten yang dimaksud merupakan konten yang hanya penuh dengan kode HTML alih-alih teks. Satu halaman sebaiknya memiliki rasio teks hingga 75% dibanding HTML.

Google kurang menyukai konten semacam ini.Oleh karenanya pastikan agar situs kita memiliki rasio yang cukup tinggi sebelum diindeks oleh Google.

Itulah sebabnya situs-situs jual-beli yang banyak terdampak dari penurunan skor DA dan PA ini. Sebab situs jenis ini lebih banyak menonjolkan HTML daripada konten yang banyak. Kalau Google tidak suka, tentu MOZ mesti menyesuaikannya.

Penyebab kedua adalah backlink yang tidak berkualitas. Backlink yang dimaksud biasanya dibaca oleh Google sebagai spam. Kemudian backlink yang tidak berkualitas selanjutnya berasal dari situs sembarangan. Maksudnya begini, situs sembarangan ini merupakan situs yang tidak relevan dengan situs anda. Orang-orang menyebutnya backlink yang tidak kontekstual.

Nah, intinya jangan khawatir meskipun skor DA dan PA turun. Kembalikan semangat ngeblog dengan meniatkan kembali tujuan membuat situs sebagai tempat berbagi informasi. Insya Allah, badai pasti berlalu. Amiin...

3 Maret 2019

Cara Memasang Facebook Piksel di Blogger

Facebook Piksel merupakan sebuah alat yang disediakan Facebook untuk melacak pengunjung situs anda yang terhubung ke media sosial ini. Fungsi lanjutan dari alat ini adalah pengumpulan data pengunjung sehingga sebaran promosi yang dilakukan di Facebook lebih terarah.


Facebook Piksel ini kalau dilihat sepintas mirip dengan Google Analytics. Ya memang mirip sih, karena sama-sama alat untuk menganalisis. Perbedaannya bakal terlihat di hasilnya. Anda bakal mengetahuinya sendiri setelah memasang Piksel ini.

Kalau buat saya sendiri, pemasangan Facebook Piksel ini disebabkan ditutupnya Google Plus, sehingga share media sosial yang lumayan bagus hanya di Facebook. Engagement yang beberapa kali saya peroleh, memang masih lebih baik di Facebook daripada di Twitter. Lebih parah lagi kalau share di Instagram. Makanya Facebook Piksel saya pasang agar bisa menambah pundi-pundi klik kunjungan ke situs saya sekaligus mencari tahu data analisisnya.

Sebelumnya, anda mesti terdaftar didalam Facebook Business. Untuk mengaksesnya, anda wajib memiliki Fanpage. Sebetulnya ribet juga sih, sebab notifikasi dari Fanpage yang terdaftar di Facebook Business ini tidak masuk kedalam aplikasi Facebook seperti biasa, namun bisa masuk ke email, atau ke aplikasi Fanpage Manager.

Langsung saja, begini cara memasang Facebook Piksel di situs anda. Hal pertama yang mesti anda siapkan adalah mengunjungi Facebook Business, dan biar lebih mudah silakan memakai komputer, laptop, maupun tablet agar tampilannya lebih leluasa.

Pertama
Di halaman Facebook Business, silakan kunjungi garis tiga horisontal atau kerap disebut 'hamburger menu' dan carilah menu Piksel yang berada di bawah menu Ukuran & Laporan.



Kedua
Sebuah sambutan "Selamat Datang" akan tampil setelah menu Piksel tadi diklik. Tampilan tersebut bukan fokusnya, silakan ke bawahnya dan anda akan menemukan tombol berwarna hijau dengan tulisan putih yang berbunyi "Siapkan Piksel".



Ketiga
Anda akan dibawa kedalam tiga pilihan, pertama "Hubungkan Platform Partner, kedua "Manually Install Pixel Code Yourself", dan "Instruksi Email Untuk Pengembang". Untuk menginstal sendiri di situs anda, silakan pilih yang kedua.


Keempat
Setelah pilihan itu, anda akan diajak untuk melakukan empat langkah lagi untuk menyiapkan Facebook Piksel di situs anda sendiri.

Pertama, siapkan menu edit template di situs anda. Kalau saya sendiri, saya pergi ke menu Tema pada Blogger untuk mengedit HTML template blog saya. Temukan tag </head> didalam template tersebut.


Kalau tag </head> sudah ditemukan, silakan salin kode berikut ini tepat di atas tag tersebut. Kalau edit template blogger anda memunculkan tanda error, silakan lakukan parse kode html tersebut. Mohon maaf, untuk situs berbasis wordpress saya belum mencobanya. Tetapi biasanya lebih mudah, karena memakai adds-on.

Setelah menambahkan kode html di template, ada menu ketiga yang mempersilahkan anda untuk memilih laporan mana yang akan dimunculkan. Disitu ada Email, Phone Number, dan lain-lain yang secara default telah diceklis 'on'. Saya membiarkannya terceklis seperti itu.

Terakhir, silakan dicek apakah Piksel pada situs anda sudah aktif atau belum. Kalau sudah aktif, maka tampilan menu keempat akan tampak sebagai gambar dibawah ini. Silakan klik "Lanjutkan".


Terakhir
Selesai. Anda tinggal melihat laporan yang disediakan oleh Facebook Business.

Apakah Facebook Pixel ini lebih baik dari Google Analytics? Sudah dijelaskan diatas, keduanya ada perbedaan. Membandingkan dua hal yang berbeda, meski sama-sama sebagai sebuah alat analisis tentu tidak bijaksana. Saran saya, silakan memakai keduanya, sebab dua alat ini hadir dengan platform yang berbeda.

Setelah mencoba beberapa waktu, saya melihat ada perbedaan hasil antara data yang disodorkan oleh Facebook Piksel dengan Google Analytics. Hasil analisis dari Facebook Piksel menghasilkan angka kunjungan yang lebih sedikit. Katakanlah Facebook Piksel menyodorkan angka 200, sementara Google Analytics di angka 220.

Lagi-lagi hal ini bisa dimaklumi karena kedua alat analisis ini hadir dari platform yang berbeda. Anda tinggal memilih mana yang paling tepat dan bakal sering anda pergunakan atau butuhkan. Saran saya, keduanya dipasang saja. 

Baiklah, segitu saja artikel tentang cara memasang Facebook Piksel ini. Apabila ada yang berkenan membagikan pengalaman dari manfaat Facebook Piksel ini? Silakan tulis di kolom komentar ya.