8 April 2019

Learn and Get Exemplary Education in through Immigration Consultants

SIM GE Singapore offers good courses for students. That has ensured that the lives of the students change extraordinarily well after pursuing this course. For undergraduate programs that take place part time, admissions occur twice a year as in July and January. The age of the candidate may not be lower than 21 years at the time of registration. Other requirements must have an IB diploma to get an entry permit. So, you can continue the course after doing 10 + 2 too. The basic requirement is that candidates must have 2 years work experience to pursue this diploma. It's better to get help from an immigration consultant to get the best help for your immigration visa and study.


There are many types of courses offered to students such as BSC Biomedical engineering, Bachelor of Building and Project Management, BSc Information and Business Technology (ERP), BSc Mathematics, BSc Facility and Event Management. After that students are selected for the Hons program provided that the number of students needed is available to attend. But they are only given a degree once they are able to meet the CGPA score (Cumulative Grade Point Average) during the degree trip. The best part about all these undergraduate programs is that students benefit from the recognition of programs such as BSc Human Factors in Safety by the Ministry of Manpower for Workplace Safety and Health Officer Registration.

In Singapore, another course offered is a Bachelor of Electronic Engineering (B. Eng Electronics) as one Top Business University Singapore. This is a graduate diploma that is quite useful for students and ensures students can look forward to an engineering degree. The students are assisted by intensive preparation for the engineering degree ahead with complete knowledge of IT and telecommunications in this diploma. This diploma is recognized by the Engineering Accreditation Board, which is the official body of engineers in Singapore. This program is also a pathway to the Bachelor of Engineering degree. Students like you realize are in a very favorable position after pursuing this diploma because they can expect to get a separate degree from getting a job after the diploma.

2 April 2019

Operasi Tetap Memicu Efek Samping, Secanggih Apapun Teknologinya

Saya masih teringat ketika putri saya lahir. Proses kelahirannya tidak normal. Istri saya mesti menjalani operasi section-c atau kerap disebut operasi sesar. Pun masih teringat dengan lampu sorot dan aneka ragam peralatan canggih yang mendukung tindakan operasi tersebut.

Buat banyak orang, operasi memang harus menjadi jalan keluar dari beberapa masalah yang dihadapi di dalam tubuhnya. Operasi tentu bukan cuma proses kelahiran, bahkan yang lebih banyak terjadi justru diluar proses kelahiran itu.


Perbedaan antara operasi biasa dengan operasi section-c adalah hasil akhirnya. Kalau operasi biasa, hasil akhirnya justru sangat tidak diharapkan, kalau bisa setelah dilihat penyakitnya, benda tersebut segera dibuang. Hal yang berbeda terjadi pada operasi section-c. Tentu ‘hasil’ dari dalam tubuh itu yang ditunggu dan diharap-harapkan sejak awal.

Setelah operasi selesai dilakukan, yang terjadi pada tubuh memang lebih baik. Orang yang hamil merasa lega anaknya sudah dilahirkan, pun yang memiliki penyakit juga bernasib sama. Hanya saja persamaan keduanya tidak melulu positif, sebab banyak diantara efek yang muncul setelah operasi justru kurang baik.

Meskipun teknologi kedokteran sudah semakin maju, pun didukung dengan peralatan yang canggih, tetap saja efek samping ini masih tetap muncul. Berikut ini beberapa efek samping yang dialami setelah dilakukan operasi.

1. Sembelit
Apa pun operasi yang dijalankan oleh Anda, kebanyakan dari mereka yang dioperasi setelahnya merasa kesulitan untuk buang air besar atau pun mengalami sembelit. Hal ini tentu sangatlah normal, namun pastinya memberikan ketidaknyamanan bagi Anda. Untuk mengatasinya, Anda bisa mengkonsumsi makanan kaya serat dan minum air yang banyak. Selain itu, konsumsi juga obat sembelit dan susah buang air besar alami yang bisa dibeli di Go Apotik yang pastinya sangat terpercaya dan kualitasnya pun tidak perlu diragukan lagi.

2. Mual Muntah
Mual muntah setelah di operasi memang menjadi hal yang sangat lumrah terjadi karena reaksi yang diberikan dari obat bius atau pun merupakan reaksi yang diberikan tubuh pada obat-obatan yang sudah diberikan ketika operasi. Namun, hal ini akan membahayakan jika tidak diobati dengan segera karena mampu membuat Anda dehidrasi atau pun bekas luka sayatan dapat robek kembali. Anda harus meminum obat anti mual yang bisa didapatkan langsung dari Go Apotik dengan sangat cepat dan terjangkau.

3. Demam
Efek samping yang satu ini pastinya juga kerap dirasakan oleh mereka yang sehabis dioperasi adalah mengalami demam. Tidak perlu khawatir karena hal tersebut adalah normal dialami. Biasanya, demam akan mencapai 37 derajat pada normalnya karena merupakan respon dari penggunaan ibuprofen atau pun paracetamol. Anda bisa mengkonsumsi obat demam yang sesuai dengan dosis dari dokter. Pastikan untuk mendiskusikan dengan dokter dan membeli obatnya di tempat yang terpercaya seperti Go Apotik yang menjual berbagai jenis obat terpercaya dan berkualitas sehingga memudahkan kita untuk mendapatkan obat yang sulit untuk didapat dengan lebih cepat.

Demikianlah beberapa efek samping yang muncul pasca-operasi. Semoga anda senantiasa sehat sehingga tidak memerlukan tindakan operasi yang memicu efek samping tersebut.

23 Maret 2019

Asus VivoBook Pro F570: Sang Juru Damai, Sukses Dukung Tugas Negara

Dinamika dunia kerja kerap tak bisa ditebak. Apalagi di zaman digital yang hampir semuanya terkoneksi, perubahan bisa terjadi dalam hitungan detik.

Saya pun mengalami perubahan ini. Apa yang dulu saya anggap tidak begitu dibutuhkan, sekarang justru posisinya cukup vital.

Saya bekerja sebagai pendamping Program Keluarga Harapan, sebuah program yang dihelat Kementerian Sosial Republik Indonesia. Singkat kata, seperti yang tertulis di bio penulis di bawah, saya merupakan pekerja sosial.


Pekerjaan saya senantiasa berhubungan dengan masyarakat penerima program. Rutinitasnya adalah mengunjungi rumah-rumah mereka yang letaknya di pelosok desa dan bercengkrama dengan mereka, mendengarkan keluh-kesah mereka dalam mendidik anak, berjibaku dalam bertahan hidup, dan merasakan keceriaan kala tiga bulan rekening mereka terisi setelah pemerintah melakukan transfer bantuan.

Dalam melakukan pekerjaan, saya berbekal format kunjungan, kuesioner, catatan kerja, dan buku catatan pribadi. Persentuhan dengan komputer paling sering dua minggu sekali. Itupun hanya urusan laporan, pencetakan format, dan input data di Excell dan Word. Lima tahun sudah rutinitas semacam ini saya jalani.

Namun belum lama ini ada beberapa hal yang membuat pekerjaan ini berubah cukup drastis. Perubahan ini membuat kebutuhan saya akan laptop tiba-tiba menjadi kebutuhan yang vital. Sementara laptop saya yang dulu, sudah saya jual karena saya berpikir tidak membutuhkannya lagi.

Setidaknya ada empat poin perubahan pada pekerjaan yang menuntut saya untuk memiliki laptop dengan spesifikasi yang bagus.


Pertama, pihak kementerian meminta kalau kami harus membuat video dokumentasi kegiatan. Satu hal yang sebelumnya hanya cukup dilakukan dengan foto saja. Pada sebuah kesempatan, video dokumentasi ini pun diperlombakan untuk mencari yang paling bagus dari seluruh pendamping se-Indonesia.

Kedua, aplikasi updating data berpindah lagi ke versi Windows, dari sebelumnya memakai Android. Sayangnya, aplikasi ini berjalan secara online sehingga membutuhkan spesifikasi komputer yang bagus untuk menjalankan browser dan menyambungkannya dengan internet secara real-time. Ah, asal anda tahu, website ini selain memakan RAM yang tidak sedikit, juga tidak memiliki theme yang responsive, sehingga kalau dibuka dari smartphone cukup membuat sakit mata dan fiturnya banyak yang hilang.

Ketiga, pekerjaan saat ini menuntut terlaksananya sebuah kegiatan yang bernama Family Development Session (FDS). Di dalamnya ada materi-materi tentang keluarga yang beberapa materinya mesti memutar video. Selain itu video ini gambarnya mesti terang, juga harus diputar dengan suara yang cukup kencang agar terdengar oleh warga yang hadir ketika pemberian materi.

Keempat, data-data yang saya bawa di dalam hard disk merupakan data pribadi dan dokumen negara yang tidak boleh diakses secara sembarangan. Siapapun yang meminta, menyalin, dan menggandakan data ini harus berkirim surat ke Dinas Sosial kabupaten terlebih dahulu sebab isinya cukup sensitif. Biasanya data ini saya simpan di rumah, cuma sering saya butuhkan juga sewaktu-waktu di lapangan.

Keempat hal ini sebetulnya bisa dilakukan melalui komputer desktop. Sayangnya, pekerjaan yang saya lakukan bersifat mobile. Ya tak mungkin juga memberikan materi FDS di beberapa lokasi sambil menggendong komputer kemana-mana. Lalu bagaimana kalau saya membutuhkan update kondisi terkini warga, yang datanya ditunggu saat itu juga oleh pusat? Jarak rumah saya ke rumah warga itu tidak dekat, Ferguso!


Terpincut dengan Sang Juru Damai

Kebutuhan saya akan laptop ini sepertinya terpenuhi kalau saya bisa meminang laptop yang belum lama ini dirilis oleh Asus. Pada 14 Februari 2019 lalu, pabrikan asal Taiwan yang merajai pasar laptop di Indonesia ini merilis VivoBook Pro F570. Sebuah laptop yang menurut saya cukup unik dan memang baru pertama kali ini ada.

Asus VivoBook Pro F570
Biasanya pabrikan laptop hanya memasang prosesor AMD dengan grafis buatan AMD juga, yakni Radeon. Entah ada perjanjian atau tidak dari pabrikan laptop yang memakai AMD sebagai prosesornya sehingga pakem ini cukup kuat tertanam.

Di sisi yang lain, pabrikan kartu grafis yang menguasai pangsa pasar global sebesar 81,2 % pada kuartal akhir 2018 lalu, yakni NVidia, juga punya reputasi yang cukup baik dalam pembuatan kartu grafis. Tapi meskipun penguasaan pasarnya sangat baik, Nvidia belum pernah dipasangkan dengan prosesor AMD oleh pabrikan.

Alhasil, perseteruan antara jenama AMD dengan NVidia tak terelakkan. Petinggi keduanya sering adu komentar di media massa tentang keunggulan produk masing-masing dan kadang meledek satu sama lain. Keduanya sebetulnya sama-sama unggul dari segi performa, sehingga cukup banyak yang berharap mereka bisa berdamai dalam satu perangkat.

Nah, kehadiran Asus VivoBook Pro F570 mendobrak pakem itu. Asus menjadi juru damai bagi keduanya. Pasalnya laptop ini menggabungkan prosesor AMD dengan kartu grafis diskrit dari NVidia. Penggabungan keduanya dalam satu laptop baru pertama kali ini terjadi. Inilah yang membuat laptop ini unik dan membuat saya tertarik. Yang paling penting, ia menjawab keempat kebutuhan saya diatas.

Kolaborasi Dapur Pacu yang Energik


Asus VivoBook Pro F570 memadukan kehebatan prosesor AMD Ryzen dengan kartu grafis diskrit NVIDIA® GeForce® GTX 1050 dengan 4GB GDDR5 VRAM. Dengan perpaduan keduanya, game kekinian dengan grafis tinggi seperti Battlefield 1 dan Farcry 5 bisa dilahap dengan ganas.

Tapi saya bukanlah gamer. Kebutuhan saya dengan laptop ini sudah diutarakan di alasan pertama dan kedua diatas. Saya membutuhkannya untuk menopang lini pasca-produksi kala membuat video dokumentasi. Ditambah lagi keberadaan entri data dengan aplikasi yang dipergunakan oleh puluhan ribu orang, jelas diperlukan perangkat yang tangguh untuk menembus keangkeran server.

Asus merilis laptop ini dengan dua varian yang memakai dua jenis AMD Ryzen™. Untuk opsi pertama ada Asus VivoBook Pro F570 dengan Ryzen™ 5 2500U yang memiliki kecepatan minimum di angka 2 GHz dan bisa di-overclock sampai 3,6 GHz. Opsi selanjutnya ada yang menggunakan Ryzen™ 7 2700U yang mempunyai kecepatan minimum 2,2 GHz yang bisa di-overclock sampai 3,8 GHz.

Sekedar catatan, kecepatan tersebut cuma didapatkan dari kartu grafis onboard Radeon Vega. Jadi ketika ditambahkan dengan NVIDIA® GeForce® GTX 1050, performa keseluruhan menjadikannya laptop yang terkencang di kelasnya. Dan ini sudah melebihi ekspektasi saya akan sebuah laptop kerja.

Perangkat Audio-Visual yang Ciamik


Di setiap modul FDS membutuhkan pemutaran video beberapa kali. Penyisipan video ini bermanfaat agar materi bisa terserap dengan lebih baik dan membuat peserta bisa lebih terfokus. Agar hasilnya maksimal, tentu saya membutuhkan laptop yang bisa memutar video dengan gambar jernih dan bening ditambah suaranya jelas dan nyaring.

Asus VivoBook Pro F570 memiliki jawaban atas kebutuhan tersebut. Ia mempunyai fitur SonicMaster yang membuat perangkat audio bisa menghasilkan suara yang jernih. Ditambah lagi dengan keberadaan software AudioWizard agar audio tersebut bisa diatur secara manual sepenuhnya.

Layar 15,6 inci dengan resolusi Full HD (1920x1080 piksel) yang ditopang dengan LED-backlit dan fitur anti-glare membuat tampilan video bisa memuaskan. Setiap pikselnya dioptimalkan oleh teknologi Asus Tru2Life agar mendapatkan ketajaman dan kontras gambar yang sempurna.

Harapannya dengan komponen audio dan visual dari laptop ini, bisa membuat saya terbebas dari menggendong infocus dan sound system yang cukup merepotkan.

Desain Memikat dan Elegan


Asus VivoBook Pro F570 memiliki desain khas seri VivoBook F. Seri yang ini sedikit berbeda dari seri VivoBook S apalagi VivoBook Classic. Ketika VivoBook lainnya tampil simpel, laptop ini hadir dengan beberapa garis biru yang disebut lightning blue. Ini mengingatkan saya dengan seri TUF Gaming dan ROG.

Untunglah desainer Asus tak terlena terlalu jauh sehingga masih menyisakan desain simpel dengan sentuhan ala metal nan mewah yang disebut stunning finish yang biasa ditemui di seri VivoBook lain.

Satu hal yang membuat saya memuji desain Asus adalah penempatan lampu backlit berwarna putih di keyboard. Ini membantu pekerjaan saya sekali, sebab tidak semua rumah warga yang saya kunjungi memiliki penerangan yang cukup.

Selain keberadaan backlit putih itu, keyboard Asus VivoBook Pro F570 memiliki jarak antar tombolnya cukup memberi keleluasaan pada jari untuk mengetik. Top deh desainer Asus dalam merancang detail hingga urusan keyboard ini.

Oh iya, saya pernah bermasalah juga dengan port USB yang bermacam-macam seperti yang saya ceritakan pada artikel sebelumnya. Singkatnya, saya memiliki smartphone dengan USB Type C, sementara port ini masih belum banyak pemakainya sehingga konektivitas smartphone cukup terhambat. Syukurlah, ternyata Asus VivoBook Pro F570 memiliki port yang cukup banyak seperti USB-C 3.1, USB 3.1 Type A, USB 2.0 Type A, HDMI, LAN RJ45, dan Micro SD card reader. Ini membuat saya tak akan kesulitan lagi untuk transfer data dengan lebih cepat.

Fingerprint Sensor yang Menjamin Keamanan


Saya sih berharap laptop ini memiliki pemindai biometrik pada kamera di bagian atas layarnya. Hanya saja teknologi tersebut bakal membuat harga laptop ini melambung tinggi. Maka cukuplah saat ini dengan keberadaan fingerprint sensor yang menciptakan perlindungan yang lebih baik untuk data di dalamnya.

Fingerprint sensor ini diletakkan di dalam bingkai persegi yang mengitari touchpad. Saya kira peletakkan ini bakal mengganggu fungsi gesture-command pada touchpad, ternyata tidak begitu. Touchpad tersebut cukup luas untuk dipakai aneka gesture, dan fingerprint sensor ini hanya terletak di sudut kanan atasnya.

Dari sisi software, sensor ini ditopang oleh Windows Hello sebab Asus VivoBook Pro F570 telah terpasang Windows 10 orisinal. Dan ini membuat saya bisa bernafas lega ketika menaruh data-data penting di dalam laptop ini.

Beberapa fitur lain yang menjadi pertimbangan agar Asus VivoBook Pro F570 segera dipinang adalah keberadaan sistem pendinginan dari teknologi Asus IceCool. Sistem ini bekerja dengan teknis pemutaran kipas dan penyaluran panas lewat pipa kecil. Sehingga saya bisa bekerja seharian dengan laptop ini tanpa takut ia berubah jadi setrika.

Penutup

Kolaborasi antara AMD dan NVidia sebetulnya sudah menjadi garansi kalau Asus VivoBook Pro F570 ini melampaui ekspektasi saya. Dengan beberapa pekerjaan saya yang bersinggungan dengan kebutuhan akan spesifikasi yang mumpuni untuk membuat video dan input beragam data ke server, sebetulnya bisa menjadi jaminan kalau laptop ini bisa diandalkan untuk anda yang menjadi gamer, desainer, maupun mahasiswa yang membutuhkan laptop dengan spesifikasi mumpuni dengan harga terjangkau.

Dengan berat yang hanya 1,9 kg, Asus VivoBook Pro F570 ini tidak akan membebani punggung ketika melakukan mobilitas di lapangan. Portabilitasnya saya pikir bisa diandalkan, apalagi buat anda yang tingkat mobilitasnya 'hanya' berkutat di ruang kerja, bertemu klien, kemudian pulang ke rumah.

Sekali lagi, perpaduan antara AMD dan NVidia dalam satu laptop merupakan barang yang langka. Ini bisa menjadi sebuah momentum bagi kita semua untuk menjadi pelaku sejarah yang menyeksamai sang juru damai dalam mendamaikan dua jenama tersebut.

Nah, buat anda yang tertarik dengan laptop ini silakan meminangnya di toko resmi terdekat yang menjual produk Asus dengan harga Rp13.999.000 untuk versi Ryzen™ 7 2700U, RAM 8GB, penyimpanan 1 TB HDD dan 256 GB M.2 SATA3 SSD. Untuk versi Ryzen™ 5 2500U, RAM 8 GB, penyimpanan 1 TB HDD, dijual dengan harga Rp11.799.000.

ASUS VivoBook Pro F570 Ryzen™ 7 juga dijual eksklusif di JD.ID, melalui mobile site di https://m.jd.id/camp/asus-f570zd-r7591t-316210179.html atau desktop site di https://www.jd.id/campaign/asus-f570zd-r7591t-3162.html.


*Artikel ini diikutsertakan pada lomba yang dihelat Asus dan Blogger Borneo.

18 Maret 2019

Adakah Cara Mudah Mencari Uang di Internet?

Ada alasan mengapa sidebar trending post sepekan di blog ini selalu muncul artikel soal UC News. Alasan sederhananya karena artikel itu menempati page one dalam Google Search dalam beberapa kata kunci soal UC News. Namun ada alasan yang tidak sederhana yang bisa jadi pernah ada di alam imaji kita.

Berbicara soal internet, hal yang kerap terbayangkan adalah beberapa kemudahan yang didapat dunia digital ini. Salah satu kemudahan itu terkait pula dengan pemenuhan kebutuhan primer manusia: bertahan hidup. Ya, bertahan hidup zaman now tentu diaplikasikan dengan cara mencari uang. Maka kata kunci tentang 'mencari uang di internet' dan variasinya sering diketikkan banyak orang di kolom pencarian Google.

Saat pertama kali hadir, UC News memang menawarkan kemudahan dalam mencari uang. Artikel yang ketika di blog sendiri hanya mendapat views paling banyak ribuan, di platform tersebut dilipatgandakan hingga sepuluh kali. Secara penghasilan, banyak dari teman-teman yang merasakan lonjakan yang cukup besar dibandingkan platform blogger yang menjadi basis mereka.

Kabar ini tentu tersebar ke banyak orang. Sebab selain UC News sendiri mengiklankan di televisi hingga mem-blocking acara Hitam Putih dan menayangkan salah satu kreator UC News, kabar bahwa mudahnya mencari uang di internet lewat UC News tersebar begitu rupa. Saya pun kebagian berkahnya dengan membanjirnya kunjungan ke blog melalui artikel tutorial tentang menulis di UC News dan cara pembayaran lewat Payoneer.

Sampai saat ini kedua artikel tersebut masih menjadi 'artikel jangkar' yang menyumbang hampir 50% kunjungan. Dan apabila UC News masih menerapkan metode refferal, saya pun mungkin banyak kebanjiran fee penghasilan kreator. Sebab ada ribuan referensi yang mendaftar melalui link yang saya pasang di artikel tersebut.

Hal yang sama pun terjadi pada Payoneer. Sebelum saya mencopot kode refferal di artikel tentang Payoneer, saya mengantongi 127 refferal. Kalau dihitung, potensi penghasilan ditaksir mencapai Rp44 jutaan. Sayangnya, untuk mendapatkan fee refferal yang bernilai $25 per refferal tersebut, seseorang harus mendapatkan transfer dengan batas minimal senilai $100. Baru juga cair tiga kali senilai $75, Payoneer menaikkan batas minimalnya senilai $1,000. Kenaikan inilah yang menyebabkan saya mencopot kode refferal tersebut. Mungkin bakal saya pasang lagi sih, hehe



Sudah ya curhatnya...

Pada intinya, berkah akibat banyak orang mencari kata kunci 'mudahnya mencari uang di internet' masih menimpa saya. Alhamdulillah. Berkah ini semoga terus berlanjut dan semakin membesar di kemudian hari. Tapi pertanyaannya, memangnya semudah apa sih mencari uang di internet?

Pada beberapa kasus pemula (maaf, demi kemudahan untuk menyebut mereka yang baru terjun ke dunia internet), beberapa 'cara mudah' dalam mencari uang di internet kerap ditelan mentah-mentah. Cara ini pada akhirnya menjadi jebakan yang membuat para pemula ini mendapatkan pengalaman berharga: bahwa mencari uang di internet sama susahnya dengan dunia nyata. ~Ya karena operator di balik dunia maya ini orang-orang dari dunia nyata juga lah...

Saya mengetahui pemula kerap terjebak kedalam 'cara mudah' tadi, sebab saya adalah pemula dan pernah terjebak di dalamnya. Salah satu yang diklaim sebagai cara mudah mencari uang di internet adalah mengisi survey. Ya, mengisi survey apapun, baik tentang produk kecantikan, tiket perjalanan, pendidikan, sampai tentang politik. Satu survey biasanya memakan waktu 5 hingga 25 menit.

Mengapa saya menyebutnya jebakan? Karena sebetulnya survey itu sendiri bukan jebakan sih. Cuma karena dimunculkan bersamaan dengan cara mudah mencari uang di internet, akhirnya disebut sebagai jebakan. Bayangkan saja, satu isian survey dihargai sekitar 10 hingga 70 poin. Sementara untuk bisa dicairkan, dibutuhkan sekurangnya 5000 poin. Silakan dibayangkan berapa banyak survey yang diisi dan paket data yang dihabiskan untuk mencapai pencairan yang senilai dengan uang Rp50.000 itu. Betul-betul tidak mudah.

Cara mudah mencari uang selanjutnya yang menjebak para pemula adalah membuat blog untuk dipasangi iklan. Pada titik ini, motivasi membuat blog didasari dengan keinginan untuk mudah mendapatkan uang dengan hadirnya iklan. Ya sebetulnya tidak salah, namun kurang tepat. Sebab blog secara singkat merupakan manifestasi dari skill menulis, desain grafis, hingga videografi.

Pada awal kali membuat blog, yang waktu itu niche-nya tentang film, motivasi saya pun sama. Pencarian terhadap penyedia layanan iklan terus dilakukan, sebab saat itu Adsense belum berpihak. Berbagai platform periklanan seperti Chitika, Bidvertiser, Infolinks, sampai platform iklan afiliasi pernah saya coba. Kala itu blog saya penuh dengan banner. Setiap hari dipusingkan dengan bagaimana caranya agar blog tersebut tampil baik dan menghasilkan, tanpa ada pikiran tentang konten.

Pasca mendaftar beberapa kali, Adsense pun menerima saya. Sayangnya, hanya beberapa hari saja Adsense melakukan banned terhadap akun saya. Banned ini terjadi karena grafik penghasilan saya tak pernah kunjung naik, selalu $0 setiap harinya. Akhirnya saya mencoba untuk mengklik sendiri iklan tersebut, dan grafik itupun naik sekitar $0,5. Rasa senang atas kenaikan grafik itupun runtuh seketika, sebab ada notifikasi yang menyebut bahwa 'your account is disable'. Konyol sih, jadi ingin tertawa kalau mengingat kejadian ini.

Saya pun belum memahami saat itu kalau sebuah email yang pernah di-banned bakal selamanya di-blacklist oleh Adsense. Saya pun membuat email yang baru, dan ternyata hasilnya sama juga, terkena banned lagi tanpa melakukan apa-apa. Mungkin ada sepuluh kali mencoba selama sepuluh hari, dan hasilnya sama: banned! Nah, pengetahuan baru kala itu, Adsense mencatat pelanggaran ternyata berdasarkan IP Address dari komputer yang mengklik sendiri iklannya. Jadi kalau komputernya belum diganti, membuat seberapa banyak email dan akun pun hasilnya bakal sama saja.

Seiring pengetahuan bertambah kalau blog pun perlu diperbanyak artikelnya agar kunjungan pun meningkat, saat itu sempat terpikir untuk melakukan auto-generated content (AGC). Ya, cara ini memang cara yang cukup mudah meski beresiko tinggi karena blognya bisa di-take down Google. Untunglah cara ini pun belum sempat saya lakukan karena selain saya tak bisa membuat blog AGC, juga ada rasa tidak enak mengambil karya orang lain.

Kesimpulannya, dunia internet dan dunia nyata pun sama-sama sulit dalam mencari uang. Di dunia nyata, kita mesti mencari pekerjaan atau sumber penghasilan, bekerja keras dan cerdas, berkeringat, dan baru kemudian dibayar. Di dunia internet pun sama, kita mencari sumber penghasilan, bekerja keras dan cerdas, berkeringat, dan baru kemudian mendapatkan bayaran. Besar kecilnya uang yang dihasilkan tersebut selalu sepadan dengan kerja keras yang dikeluarkan dan kecerdasan yang dimiliki.

Mekanisme yang sama pun terjadi kalau ada pelanggaran dalam dunia internet. Anonimitas tidak lagi menjadi kamar besi yang bisa melindungi siapapun setelah berbuat salah. Kalau kita melakukan kesalahan di internet, malunya pun sama saja terbawa ke dunia nyata. Jadi kalau di dunia nyata anda adalah orang baik, tetap pertahankan hal tersebut di dunia internet. Dan jika kebetulan anda berniat jahat, ingatlah kalau sepandai-pandainya tupai melompat pastilah akan terjatuh juga.

Jadi silakan hentikan imaji tentang mencari uang di internet itu mudah. Yang terasa mudah itu kalau Allah SWT sudah memberikan jalan rezeki. Misalnya pada awalnya dia selalu gagal dalam bermitra dengan Adsense di blognya, eh dia malah sukses berjualan produk di media sosial maupun e-commerce. Tapi apakah jalan hidup seseorang dalam menggapai kesuksesan itu semudah mencari kata kunci 'mudahnya mencari uang di internet' di Google? Tentu tidak, Ferguso!

Semua membutuhkan niat, usaha, dan doa.... ~tsaaahhh kayak di sinetron religi ya.

9 Maret 2019

Domain Authority 2.0, Haruskah Blogger Khawatir?

Sejak 5 Maret 2019, para blogger mengeluhkan skor DA dan PA mereka yang menurun secara drastis. Angka penurunannya cukup signifikan, sebab ada yang hingga 20 poin.

Keluhan itu tertangkap di beranda media sosial, dimana sebagiannya ada yang me-mention pakar SEO ihwal kejadian ini. Kebanyakan tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Sebab soal DA dan PA ini memang suka-suka MOZ saja.


Sebelum berlanjut ke fenomena penurunan ini, barangkali ada yang belum memahami soal DA dan PA, maka izinkan saya menjelaskannya sepintas terlebih dahulu.

DA atau Domain Authority merupakan sebuah metrik untuk memprediksi posisi sebuah domain di hasil pencarian mesin pencari. Metrik ini memakai ukuran angka 0-100, dimana angka yang lebih besar lebih bagus.

PA merupakan Page Authority. PA sendiri sama dengan DA, namun bukan mengukur sebuah domain, tetapi halaman tertentu dalam domain tersebut. Pola pengukurannya sama dari 0-100.

Algoritma matrikulasi yang menghasilkan skor DA dan PA atas sebuah situs ini diciptakan oleh MOZ. Metrik dari perusahaan internet yang bermarkas di Seattle ini mengukur kualitas dan kuantitas link eksternal atau biasa disebut backlink yang menautkan situs yang diukur.

Sebenarnya bukan MOZ saja yang memiliki skor semacam ini, namun Ahrefs juga punya DR alias Domain Rating (DR). Ahrefs merupakan perusahaan saingan MOZ, namun dalam banyak kesempatan, DA lebih banyak dipakai.

Itulah kenapa setiap kali ada tawaran job buat blogger, yang ditanya setelah statistik visitor biasanya skor DA. Skor ini pun bisa dicek secara mandiri oleh siapapun di laman MOZ.

Nah, karena kaitannya dengan penghasilan, maka penurunan skor DA dan PA yang dialami oleh blogger cukup membuat resah.

Kabarnya MOZ sedang melakukan pembaruan algoritma agar skor DA dan PA yang dihasilkan jauh lebih baik. Hasil pembaruan ini membuat DA kemudian disebut Domain Authority 2.0.

Kenapa MOZ melakukan pembaruan algoritma DA ini? Ya karena subjek dimana skor ini dinisbatkan juga selalu memperbarui dirinya. Ya, subjeknya adalah mesin pencari, dan yang terbesar bernama Google. Si raksasa ini, sebagaimana kita tahu, sering memperbarui algoritmanya 'kan?

Pembaruan ini dilakukan MOZ agar lebih cocok disinkronisasi dengan pembaruan dari Google.

Tapi buat para blogger yang skor DA-nya mengalami penurunan, sebetulnya tidak usah khawatir.

Pertama, metrik DA yang diciptakan MOZ secanggih apapun posisinya hanyalah aplikasi pihak ketiga. Sebab sekali lagi, subjek utama dari semuanya adalah Google. Jadi perubahan ini tidak berpengaruh terhadap situs di mata Google.

Jadi daripada galau melihat penurunan DA dan PA, alangkah bijak kalau membuka situs Google Analytics. Silakan lihat di alat tersebut, situs anda sehat atau tidak, visitor-nya jatuh atau stabil, dan sumber backlink-nya berkualitas atau tidak, dan seterusnya.

Hal itu bakal jauh bermanfaat dan bisa terasa langsung pengaruhnya dibandingkan mengecek DA dan PA di situs MOZ.

DA dan PA hanyalah alat ukur yang berguna untuk mengetahui posisi situs sendiri dibandingkan posisi situs pesaing.

Kedua, kalau kaitannya dengan job blogger, ya tinggal dijelaskan saja kalau DA dan PA sedang mengalami pembaruan. Toh, pada akhirnya yang dinilai dari sebuah situs adalah kontennya. Kalau kontennya bagus dan punya nilai lebih, job biasanya mengikuti.

Ya memang sih, untuk menjelaskan ke agency soal penurunan skor ini ibarat kejadian saat pembubuhan disclosure pada konten bersponsor. Memang banyak agency yang paham, tapi lebih banyak juga yang tak paham.

Situs ini sendiri tidak terpengaruh oleh perubahan algoritma MOZ terkait DA dan PA ini, masih bertahan di angka DA 21 dan PA 29. Akan tetapi buat yang terpengaruh, terutama mereka yang skornya turun, setidaknya ada dua hal yang menjadi penyebabnya.

Penyebab pertama adalah konten yang miskin. Konten yang dimaksud merupakan konten yang hanya penuh dengan kode HTML alih-alih teks. Satu halaman sebaiknya memiliki rasio teks hingga 75% dibanding HTML.

Google kurang menyukai konten semacam ini.Oleh karenanya pastikan agar situs kita memiliki rasio yang cukup tinggi sebelum diindeks oleh Google.

Itulah sebabnya situs-situs jual-beli yang banyak terdampak dari penurunan skor DA dan PA ini. Sebab situs jenis ini lebih banyak menonjolkan HTML daripada konten yang banyak. Kalau Google tidak suka, tentu MOZ mesti menyesuaikannya.

Penyebab kedua adalah backlink yang tidak berkualitas. Backlink yang dimaksud biasanya dibaca oleh Google sebagai spam. Kemudian backlink yang tidak berkualitas selanjutnya berasal dari situs sembarangan. Maksudnya begini, situs sembarangan ini merupakan situs yang tidak relevan dengan situs anda. Orang-orang menyebutnya backlink yang tidak kontekstual.

Nah, intinya jangan khawatir meskipun skor DA dan PA turun. Kembalikan semangat ngeblog dengan meniatkan kembali tujuan membuat situs sebagai tempat berbagi informasi. Insya Allah, badai pasti berlalu. Amiin...

3 Maret 2019

Cara Memasang Facebook Piksel di Blogger

Facebook Piksel merupakan sebuah alat yang disediakan Facebook untuk melacak pengunjung situs anda yang terhubung ke media sosial ini. Fungsi lanjutan dari alat ini adalah pengumpulan data pengunjung sehingga sebaran promosi yang dilakukan di Facebook lebih terarah.


Facebook Piksel ini kalau dilihat sepintas mirip dengan Google Analytics. Ya memang mirip sih, karena sama-sama alat untuk menganalisis. Perbedaannya bakal terlihat di hasilnya. Anda bakal mengetahuinya sendiri setelah memasang Piksel ini.

Kalau buat saya sendiri, pemasangan Facebook Piksel ini disebabkan ditutupnya Google Plus, sehingga share media sosial yang lumayan bagus hanya di Facebook. Engagement yang beberapa kali saya peroleh, memang masih lebih baik di Facebook daripada di Twitter. Lebih parah lagi kalau share di Instagram. Makanya Facebook Piksel saya pasang agar bisa menambah pundi-pundi klik kunjungan ke situs saya sekaligus mencari tahu data analisisnya.

Sebelumnya, anda mesti terdaftar didalam Facebook Business. Untuk mengaksesnya, anda wajib memiliki Fanpage. Sebetulnya ribet juga sih, sebab notifikasi dari Fanpage yang terdaftar di Facebook Business ini tidak masuk kedalam aplikasi Facebook seperti biasa, namun bisa masuk ke email, atau ke aplikasi Fanpage Manager.

Langsung saja, begini cara memasang Facebook Piksel di situs anda. Hal pertama yang mesti anda siapkan adalah mengunjungi Facebook Business, dan biar lebih mudah silakan memakai komputer, laptop, maupun tablet agar tampilannya lebih leluasa.

Pertama
Di halaman Facebook Business, silakan kunjungi garis tiga horisontal atau kerap disebut 'hamburger menu' dan carilah menu Piksel yang berada di bawah menu Ukuran & Laporan.



Kedua
Sebuah sambutan "Selamat Datang" akan tampil setelah menu Piksel tadi diklik. Tampilan tersebut bukan fokusnya, silakan ke bawahnya dan anda akan menemukan tombol berwarna hijau dengan tulisan putih yang berbunyi "Siapkan Piksel".



Ketiga
Anda akan dibawa kedalam tiga pilihan, pertama "Hubungkan Platform Partner, kedua "Manually Install Pixel Code Yourself", dan "Instruksi Email Untuk Pengembang". Untuk menginstal sendiri di situs anda, silakan pilih yang kedua.


Keempat
Setelah pilihan itu, anda akan diajak untuk melakukan empat langkah lagi untuk menyiapkan Facebook Piksel di situs anda sendiri.

Pertama, siapkan menu edit template di situs anda. Kalau saya sendiri, saya pergi ke menu Tema pada Blogger untuk mengedit HTML template blog saya. Temukan tag </head> didalam template tersebut.


Kalau tag </head> sudah ditemukan, silakan salin kode berikut ini tepat di atas tag tersebut. Kalau edit template blogger anda memunculkan tanda error, silakan lakukan parse kode html tersebut. Mohon maaf, untuk situs berbasis wordpress saya belum mencobanya. Tetapi biasanya lebih mudah, karena memakai adds-on.

Setelah menambahkan kode html di template, ada menu ketiga yang mempersilahkan anda untuk memilih laporan mana yang akan dimunculkan. Disitu ada Email, Phone Number, dan lain-lain yang secara default telah diceklis 'on'. Saya membiarkannya terceklis seperti itu.

Terakhir, silakan dicek apakah Piksel pada situs anda sudah aktif atau belum. Kalau sudah aktif, maka tampilan menu keempat akan tampak sebagai gambar dibawah ini. Silakan klik "Lanjutkan".


Terakhir
Selesai. Anda tinggal melihat laporan yang disediakan oleh Facebook Business.

Apakah Facebook Pixel ini lebih baik dari Google Analytics? Sudah dijelaskan diatas, keduanya ada perbedaan. Membandingkan dua hal yang berbeda, meski sama-sama sebagai sebuah alat analisis tentu tidak bijaksana. Saran saya, silakan memakai keduanya, sebab dua alat ini hadir dengan platform yang berbeda.

Setelah mencoba beberapa waktu, saya melihat ada perbedaan hasil antara data yang disodorkan oleh Facebook Piksel dengan Google Analytics. Hasil analisis dari Facebook Piksel menghasilkan angka kunjungan yang lebih sedikit. Katakanlah Facebook Piksel menyodorkan angka 200, sementara Google Analytics di angka 220.

Lagi-lagi hal ini bisa dimaklumi karena kedua alat analisis ini hadir dari platform yang berbeda. Anda tinggal memilih mana yang paling tepat dan bakal sering anda pergunakan atau butuhkan. Saran saya, keduanya dipasang saja. 

Baiklah, segitu saja artikel tentang cara memasang Facebook Piksel ini. Apabila ada yang berkenan membagikan pengalaman dari manfaat Facebook Piksel ini? Silakan tulis di kolom komentar ya.

9 Februari 2019

Menghitung Untung Serbu Seru Bukalapak

Siapa yang tidak tergiur melihat gadget jutaan rupiah atau bahkan tas mewah puluhan juta dibanderol Rp12.000 saja? Ya itu cuma terjadi di program Serbu Seru Bukalapak, dimana hanya mereka yang betul-betul beruntung saja yang bakal mendapatkan barang tersebut.


Namun Serbu Seru Bukalapak bukanlah undian berhadiah, dan uang Rp12.000 bukanlah semacam tiket lotere. Uang yang dibayarkan untuk membeli barang itu akan dikembalikan jika calon pembeli tidak berhasil 'menyerbu' barang yang diincar.

Serbu Seru dimulai pertama kalinya jelang Hari Belanja Online Nasional (Habrolnas) 2018 dan masih berlangsung hingga kini (09/02/2019). Serbu Seru diadakan dalam dua babak, pertama dimulai pada pukul 11.00 dan kedua dimulai lagi pada pukul 17.00. Undian pemenang Serbu Seru bakal dilakukan mulai pukul 23.15.

Oh iya, program Serbu Seru pun tersedia bukan cuma buat para pengguna biasa dari Bukalapak juga, tapi buat para Mitra Bukalapak pun disediakan dengan barang yang nilainya lebih besar. Namun kali ini kita hanya berbicara soal Serbu Seru yang disediakan untuk pengguna biasa. Kalau mau hitung-hitungan sih ya sama juga perhitungannya.

Pada mulanya banyak yang meragukan keabsahan Serbu Seru ini. Ada yang meneliti soal akun pemenang Serbu Seru yang terpampang, ada pula yang menyamakan antara pemenang di aplikasi satu dan lainnya yang berbeda-beda, padahal barang yang 'diserbu' cuma satu saja. Namun keraguan ini berhasil ditepis dengan sabar oleh Bukalapak. Dan setiap harinya, peserta Serbu Seru selalu saja membludak.

Peserta Serbu Seru yang terlihat hanyalah angka 999+ untuk masing-masing barang. Dalam satu hari ada lebih dari 10 barang yang bisa diserbu. Kalau satu barang saja diikuti 1.000 orang, maka sudah ada 10.000 peserta Serbu Seru dalam satu babak, atau 20.000 dalam dua babak.

Akan tetapi angka ini sangat kecil. Sebab menurut data dari SimiliarWeb, jumlah pengunjung bulanan situs Bukalapak pada kuartal akhir 2018 sejumlah 116 juta orang. Angka ini apabila dirata-rata maka akan mendapatkan kunjungan harian sebanyak 3,8 juta. Maka saya mengasumsikan jumlah peserta Serbu Seru lebih banyak dari 1.000 orang.

Tapi mari kita ambil mudahnya saja bahwa jumlah peserta Serbu Seru ada 10.000 untuk masing-masing barang. Kalau diakumulasi dengan keseluruhan barang maka ada 240.000 peserta Serbu Seru setiap babaknya, atau 480.000 peserta untuk satu hari. Sungguh, ini hanya asumsi kecil agar memudahkan perhitungan. Dari jumlah 480.000 peserta Serbu Seru itu bakal didapatkan angka Rp5.760.000.000 yang didapatkan dari jumlah peserta dikalikan saldo Dana Rp12.000 yang dipakai.

Dedi Heryadi, pemenang Mini Cooper, dan Agus Priyatmoko, pemenang Vespa S125 I-Get dalam Serbu Seru mengapit bos Bukalapak Ahmad Zaky.

Untuk barang yang diserbu dalam Serbu Seru itu harganya bervariasi. Memang ada yang harganya mencapai puluhan hingga ratusan juta, tapi itu jarang dan hanya pada event dimana Bukalapak sedang 'membakar duit'. Barang yang seringkali disediakan oleh Bukalapak adalah barang yang harganya mulai dari Rp500.000 sampai Rp6 juta.

Untuk memudahkan, mari mengambil contoh Serbu Seru pada hari ini (09/02/2019) dimana ada daftar barang sebagai berikut:

1 laptop Lenovo Yoga dengan harga Rp4.750.000
1 kamera Canon EOS 4000D Kit dengan harga Rp4.250.000
1 ponsel Asus Zenfone Max Pro M1 dengan harga Rp2.530.000
1 jam Xiaomi Huami Amazfit Verge Rp2.400.000
1 Babymoov Cosydream Plus Smokey Rp1.890.000
1 kamera Sony DSC W830 seharga Rp1.590.000
1 printer Epson L120 Ink Tank Rp1.540.000
2 speaker Mobvoi TicHome seharga Rp1.399.000 x 2 = Rp2.798.000
1 Estee lauder dengan harga Rp1.380.000
2 Brica B-Pro Insta360 Rp1.350.000 x 2 = Rp2.700.000
1 ponsel ZTE Nubia M2 Play Rp1.300.000
1 Samsung J2 Prime Rp1.200.000
1 Carrier Tas Hiking 50L Rp1.100.000
1 Seterika uap Phillips seharga Rp985.000
2 Seagate Backup Plus Rp939.000 x 2 = Rp1.878.000
1 speaker Sony Extra Bass Rp899.000
1 Tescom Ion Hair Dryer Rp799.000
1 keyboard HP Mechanical Gaming GK100 Rp768.000
2 harddisk eksternal WD 1TB Rp780.000 x 2 = Rp1.560.000
1 blender Phillips Viva HR2157 Rp745.000
2 alat cukur Remington Titanium Rp629.300 x 2 = Rp1.258.600
1 headphone JBL T450BT seharga Rp599.000
1 panci presto Maxim Rp599.000
1 rice cooker Yong Ma YMC 801 Rp565.000

Jadi jumlah keseluruhan harga barang Serbu Seru pada hari ini adalah Rp39.484.600 untuk babak kedua atau pukul 17.00. Cuma saya lupa barang yang disediakan pada babak sebelumnya. Ya anggap saja sama, sehingga total pada hari ini adalah Rp78.969.200. Sementara itu, dari 29 barang pada babak pertama, Bukalapak hanya akan mendapat uang Rp348.000. Uang ini berasal dari jumlah barang yang disediakan, yakni sebanyak 29 buah, dikalikan nominal Rp12.000 yang dibayarkan pemenang. Dan jika dua babak, praktis Bukalapak hanya mendapatkan Rp348.000 x 2 = Rp696.000.

Pertanyaannya, apakah Bukalapak sedang membakar uang? Ya sangat mungkin Bukalapak sedang membakar uang. Sebab kalau uang yang terkumpul di-deposit on call pun tetap masih belum mencapai target total harga barang yang disediakan, dimana contoh pada hari ini sebesar Rp78.969.200.

Deposit On Call

Pernah mendengar istilah ini? Deposit On Call merupakan salah satu jenis deposito di dunia perbankan yang membolehkan nasabah untuk mendepositokan uangnya dalam jangka waktu satu hari saja. Nanti di akhir tempo, nasabah bakal mendapatkan keuntungan dari bunga deposito dengan perhitungan sebagai berikut: suku bunga x jumlah penempatan x (jumlah hari penempatan/jumlah hari dalam setahun).

Ada kemungkinan Bukalapak pun menerapkan metode semacam ini. Mereka mendepositokan uang yang didapatkan dari transkasi Serbu Seru ini. Sehingga setiap harinya, apabila bunga deposito 7%, maka bisa didapatkan perhitungan semacam ini: 7% x Rp5.760.000.000 x (1/365) = 0,07 x Rp5.760.000.000 x 0,0027397260273973 = Rp1.104.657. Apabila ditambahkan dengan akumulasi pembayaran Rp12.000, maka didapatkan Rp1.800.657. Tetap masih jauh dari target.

Kalaupun tidak dilakukan deposit on call, karena jumlahnya kecil, tapi paling tidak Bukalapak mendapatkan free money sebesar Rp5.760.000.000 dalam jangka waktu enam jam setiap harinya.

Yang perlu diingat adalah tidak semua keuntungan yang diperoleh harus berupa penambahan laba. Penambahan jumlah pengguna harian pun menjadi aset yang bisa dikatakan sebagai keuntungan.

BACA JUGA: Belajar dari Narman untuk #BukaInspirasi di Bukalapak

Dana Mengendap

Poin ini merupakan update setelah ada tambahan dari pembaca yang orang perbankan. Jadi kemungkinan Bukalapak untuk melakukan deposit on call sangat kecil, pasalnya rate yang diberikan oleh bank telah diketahui sangat jauh dari modal yang dikeluarkan. Nah ternyata ada cara lain untuk memanfaatkan dana mengendap ini.

Di dalam contoh, dalam satu hari Bukalapak mampu membukukan dana mengendap sebesar Rp5,7 miliar. Namun perhitungannya dana mengendap ini berbeda, sebab dana tersebut terbagi dalam dua babak. Babak pertama berakhir dari pukul 17.00 dan diundi mulai pukul 23.15, artinya ada enam jam dana peserta Serbu Seru mengendap. Kalau dinominalkan kira-kira ada Rp2,8 miliar.

Kemudian pada babak kedua perhitungannya agak samar. Meskipun dimulai pada pukul 17.00 dan berakhir pada 23.15, tapi rata-rata pengembalian dananya (apabila peserta Serbu Seru meleset) hampir sama-sama enam jam. Sehingga ada dana yang mengendap sangat mungkin waktunya sama-sama enam jam.

Dana mengendap selama enam jam inilah yang dikelola oleh Bukalapak. Menurut orang perbankan tersebut, dana Rp5,7 miliar ini bisa jadi rate-nya cukup tinggi apabila 'dipinjamkan' ke bank yang membutuhkan dana likuid yang cukup besar. Sehingga perhitungan persentasenya tidak sama dengan perhitungan deposit on call.

Rate-nya memang tidak disebutkan, namun sangat mungkin Bukalapak mendapatkan keuntungan atau bisa jadi cuma balik modal sehingga tidak terus-terusan membakar uang. Sebab kalau mendapat rate pinjaman 2% saja, maka Bukalapak bakal mendapatkan 'bonus' sebesar Rp115.200.000 atau ada surplus sebesar Rp36.503.800.

Singkatnya, Bukalapak mengelola uang yang peserta Serbu Seru bayarkan sementara, untuk mendapatkan untung materi dan penambahan aset berupa pengguna aplikasi. Mantap!

Jumlah Pengguna Bertambah

Ada peningkatan jumlah kunjungan situs Bukalapak pada bulan Januari dibandingkan kuartal 4 tahun lalu. Jika pada kuartal empat itu tercatat 116 juta kunjungan per bulan, maka di bulan Januari 2019 tercatat ada 138 juta kunjungan. Ada kenaikan sekitar 22 juta kunjungan. Dan kenaikan ini tentu bisa diklaim sebagai hasil dari adanya program Serbu Seru yang diadakan sejak akhir kuartal empat itu.

Penambahan jumlah pengguna memang bukan sebuah laba materil yang bisa meningkatkan saldo keuntungan perusahaan secara langsung. Namun pada zaman yang serba digital, pengunjung situs merupakan sebuah aset penting yang bisa dikonversi menjadi keuntungan yang lebih besar dibandingkan modal yang telah dikeluarkan. Perolehan big data dari penambahan jumlah pengguna baru dan lalu lintas situs yang meningkat pun patut diperhitungkan.

Jadi, apabila hasil penjualan pada program Serbu Seru Bukalapak tidak ada keuntungan yang tercatat, bahkan merugi banyak, maka satu-satunya keuntungan dari program Serbu Seru ini adalah jumlah pengunjung situs Bukalapak yang bertambah. Dan bisa jadi jumlah penggunanya pun bertambah.

Penambahan lalu-lintas di Bukalapak ini konon memunculkan keluhan dari pelapak di marketplace warna orange yang mengalami penurunan omset. Nah, sampai segitunya 'kan? Hal ini disebabkan karena seseorang yang ingin mengikuti Serbu Seru, maka mau tidak mau ia mesti top up Dana minimal Rp50.000.

Perihal top up Dana ini menjadi salah satu pengikat loyalitas konsumen terhadap Bukalapak. Katakanlah ada tambahan pengguna 22 juta, sebagiannya mungkin melakukan refund lagi, namun ada sebagian lagi yang bisa menjadi pelanggan tetap. Nah, potensi tambahan pengguna inilah yang menjadi tambahan keuntungan bagi Bukalapak.

Serbu Seru, Halal atau Haram?

Iya sih, mengikuti Serbu Seru seumpama berada di meja judi, sebab hanya keberuntunganlah yang membuat seseorang mendapatkan barang yang diinginkan. Namun menurut Ustad Ammi Nur Baits pengasuh Yufid TV, Serbu Seru bukanlah judi. Sebab apabila judi, maka pilihannya ada dua, yakni untung atau buntung. Namun Serbu Seru tidak begitu. Ia memang punya pilihan, namun bukan untung atau buntung, tapi untung atau tidak buntung. Mengapa begitu?

Ya karena setelah peserta Serbu Seru tidak mendapat barang yang diinginkan, maka Rp12.000 itu akan dikembalikan ke saldo Dana. Jadi Serbu Seru ini bukanlah judi, sehingga tidak haram.

Demikianlah asumsi saya terhadap program Serbu Seru Bukalapak. Apabila ada yang perlu disanggah silakan tulis di kolom komentar. Terima kasih.

8 Februari 2019

Build A Strong Business Foundation with These 3 Skills!

To compete with other entrepreneur, you must invest some skills. Because in business, you must achieve growth, new markets to enter, some products to launch soon, any events to participate, and of course relationships to build. How to reach all of them? Have some entrepreneur’s skills!


Business nowadays is not only becoming more competitive like the old time, but increasingly unpredictable. If you cannot engage customers, you will lose your business. If you don’t want to improve your skill, yes, your business will sink.

So, what skills do you have to have? Let’s get down.

Strategy formulation

There are so many strategies in this business world. But, you have to try first, which strategy is suitable for your business. So, start by breaking down your big goals into small and find your success with suitable strategy you have.

Financial management

We can say that a business called “success” from its good financial management. You cannot say the unstable financial management is a success business. If you can’t manage the financial things, your business will leads to bankruptcy, and maybe you want to go back to a full-time job slash corporate slave.


Stress management

You will have stress when you face sadness, failure, disappointment, and any other hard struggles. The key to win your energy back is to manage stress and change it to a positive thinking. How it can be done? You can change your mindset about problems you have, more and more pray or meditation, be an organized person, and get a healthy lifestyle.

To learn more about those entrepreneur’s skills, can get them in SIM Global Education. Why? Because this university has business degrees Singapore with over 50 years experience. You can choose over 80 programmes on undergraduate and postgraduate courses. With its quality education, you can build strong foundation for your business.


Credit photos: Unsplash

5 Februari 2019

Selamat Tinggal Google Plus!

'Selamat tinggal Google Plus' menjadi ucapan yang cukup banyak digaungkan akhir-akhir ini oleh para bloger. Pasalnya media sosial yang dibesut Google ini telah resmi digulung pada 2 April 2019 mendatang.


Tentu banyak yang bertanya, ada apakah gerangan? Sebuah sosok raksasa macam Google yang cukup berkuasa di jagat internet, memiliki mesin pencari yang dipergunakan hampir setiap orang, dan punya sistem operasi sejuta umat yang bernama Android, tapi kok punya media sosial yang memble hingga akhirnya ditutup begitu saja.

Pertanyaan serupa sebetulnya telah banyak dispekulasikan jawabannya sejak kasus bocornya data pengguna Google Plus. Sebab setelah setengah juta pengguna terekspos data pribadinya ke luar sistem, Google mesti menanggung malu dan akhirnya memutuskan menyuntik mati aplikasi yang sebetulnya digadang-gadang sebagai pesaing Facebook dan Twitter ini.

Tereksposnya data pribadi pengguna Google Plus terjadi pada Maret 2018. Secara teknis, ada 438 aplikasi yang dibuat oleh pihak ketiga mampu mengakses data pribadi yang terdiri atas user name, alamat email, pekerjaan, jenis kelamin dan usia.

Namun tentu saja kasus yang sama pernah menimpa dua seteru seniornya, Facebook dan Twitter. Tereksposnya data pengguna Facebook bahkan sudah mencapai level pemilihan presiden Amerika Serikat. Kurang besar apa kasus tersebut? Namun Facebook masih tegap berdiri dan memilih untuk memperbaiki celah tersebut. Lantas kenapa Google Plus begitu baper?

Masalah yang krusial selanjutnya adalah minimnya pengguna Google Plus. Ya, meski Google adalah pemilik Android, tapi Google Plus tidak bisa serta merta dijadikan bundling sebagai media sosial pilihan. Pabrikan smartphone lebih senang dengan Facebook kemudian Instagram, barulah Twitter. Sangat jarang yang menginstal Google Plus kecuali bloger.

Pengguna Google Plus yang kebanyakan bloger memang diiming-imingi sebuah mitos bahwa ketika sebuah klik berasal dari Google Plus maka blognya bakal disayang Google. Iya, itu cuma mitos yang bisa jadi benar, tapi sangat mungkin salah. Sebab Google pun tidak pernah memberikan pernyataan resminya terkait share link di platform media sosialnya itu.

Sementara itu jumlah bloger memang tidak banyak. Sehingga ekosistem Google Plus pada akhirnya tumbang. Google Plus tidak mendapatkan pengguna yang masif, yang paling tidak berada di bawah media sosial mainstream lainnya. Namun jangankan mendekati, berjarak dalam urutan angka pun jauh. Facebook yang masih memimpin klasemen pengguna dengan 2,2 miliar pengguna, Twitter dengan 335 juta berada di urutan 11, Pinterest dengan 250 juta berada di urutan 18, dan Google Plus terlempar diluar 20 besar.

Angka itu dirilis Statista dan dalam survey dari lembaga yang sama, Google Plus hanya dipakai setiap hari oleh 14 % responden sementara yang tidak pernah menyentuh media sosial ini mencapai 48 %. Survey itu dilakukan di Amerika Serikat, sebuah negeri dimana Google Plus lahir. Memang menyedihkan jumlah pengguna Google Plus ini.

Dua alasan yakni tereksposnya data pengguna dan jumlah pengguna yang tidak maksimal membuat Google akhirnya memutuskan untuk menutup Google Plus. Iya, memang dua hal itu yang terungkap di media massa, baik berupa opini, spekulasi, hingga pernyataan resmi.

Meski saya sendiri sedih atas ditutupnya Google Plus, tapi ya beginilah bisnis di ranah digital. Sebuah produk yang jauh dari ekspektasi banyak orang dan penggunanya sedikit harus ditutup daripada membebani modal dan sumber pendanaan lain dari Google. Soal apakah Google bakal membuat produk pengganti dari Google Plus, itu soal lain.

Sekarang, imbas dari dihapusnya Google Plus ini tentu terasa buat para bloger yang terbiasa membagikan postingannya di media sosial tersebut. Pertama buat yang memakai komentar Google Plus, kemudian buat yang memakai akun Google Plus sebagai admin Blogger, dan terakhir data dan gambar yang tersimpan atau terhubung ke media sosial tersebut bakal terputus. Nah, segeralah berbenah.

25 Januari 2019

Tentang Watch Time dan Engagement YouTube dan Mengapa Channel Saya Tidak Berkembang

Beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang cukup populer bertanya: mengapa channel Youtube-nya tidak berkembang? Beliau memang sosok populer, tapi mengapa akun YouTube-nya masih belum banyak view dan subscriber?


Kepopuleran sosok yang bertanya lewat inbox fanpage dan kolom komentar di blog saya ini cukup bagus. Beliau lulusan Timur Tengah, menulis banyak buku, dan kerap mengisi kajian keagamaan. Ada beberapa buku karya beliau yang pernah saya baca. Namun ketika merambah dunia digital, rupanya kepopuleran beliau --menurut bahasa saya-- masih belum menemukan momentum. Bagaimana ia menemukan momentumnya?

Sampai saat artikel ini terbit, channel YouTube beliau sudah memiliki 438 subscribers. Sejak dibuat pada 27 November 2018, di channel beliau sudah ada 41 video. Artinya kalau dirata-rata, dua hari sekali beliau mengunggah satu video di channel-nya. Sementara itu, channel tersebut mendapatkan 7 subscriber setiap harinya.

Saya pikir untuk channel yang baru berusia tiga bulan, pertumbuhan subscriber-nya cukup bagus. Mudah-mudahan ketika beliau konsisten mengunggah satu apalagi dua video setiap hari, pertumbuhannya bakal lebih pesat. Namun satu pertanyaan yang mengganjal bagi beliau adalah mengapa view-nya masih sedikit?

Pemikiran dan sikap orang lain tentu tidak bisa serta-merta disamakan dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Misalnya ketika beliau bertanya tentang view tersebut, saya sebetulnya ingin menjawabnya dengan sebutan kalau videonya kurang clickbait. Tapi membuat sebuah judul video dan thumbnail yang sedikit tricky bagi beliau (mungkin) merupakan hal yang syubhat (?).

Jadi saya bakal sedikit menguraikan jawaban mengapa view beliau sedikit padahal materi yang disampaikan di mayoritas videonya merupakan daging semua. Mudah-mudahan kita sama-sama belajar dari persoalan ini.

Sejak ada perubahan algoritma YouTube setahun belakangan ini, maka 'dewa' bagi rumus matematika komputer itu adalah engagement dan watch time. Engagement merupakan hasil perpaduan antara view dengan share dan perbincangan video tersebut di internet.

Soal engagement ini tidak mengenal sama sekali apakah itu positif atau negatif. Kedua penilaian ini sama saja memiliki saham terhadap peningkatan engagement. Misalnya ketika anda melakukan share di media sosial terhadap sebuah video YouTube, meskipun dengan komentar negatif, share itu tetap dihitung sebagai satu poin engagement.

Watch time lalu dipakai sebagai rumusan kedua. Watch time ini sedikit berbeda dengan view. Watch time mengacu pada durasi tonton dari seorang pengunjung video. Sementara view menghitung berapa kali link video itu dikunjungi.

Maka bisa dipahami kalau video yang awet berada di trending YouTube atau video yang kemudian direkomendasikan oleh YouTube kepada anda merupakan video-video yang memiliki engagement dan watch time bagus.

YouTube tidak memiliki algoritma untuk menjawab apakah video itu mampu mengedukasi penonton secara positif atau tidak. Dua rumusan diatas itulah yang menentukan viralnya sebuah video di YouTube.

Sedikitnya view dan watch time yang dialami oleh sang penanya diatas sebetulnya menjadi 'masalah' umum yang dialami YouTuber lainnya. Sebab video-video positif yang mereka miliki juga 'dilemahkan' oleh algoritma YouTube yang seperti ini.

Tapi ya bukan salah YouTube juga sih. Soalnya 'kan YouTube hanya menghitung berdasarkan engagement dan watch time saja, dan kedua hal ini sumbernya dari pengunjung. Jadi siapa yang salah kalau video berkonten negatif selalu nangkring di trending?

Tentu saja salah anda! Anda yang memberikan engagement dan watch time terus-menerus kepada video tersebut. Anda yang membagikannya di media sosial, dengan alasan mewaspadai lah, memberikan kritik lah, bahkan cuma alasan lucu-lucuan.

Jadi semoga bisa dipahami mengapa sebuah channel bisa melejit begitu pesat, dan mengapa juga ada channel yang perkembangannya kurang bagus. Anda tinggal melihatnya di trending saja. Video yang disukai di regional tertentu akan senantiasa berada di trending.

Untuk itulah kalau mau video-nya dilihat banyak orang, tinggal mengikuti kemauan pengunjung YouTube saja. Ya, tinggal melihat trending, kemudian mengikuti trend yang ada disana. Lalu, boom!

Kabar baiknya, konten positif yang ada di video anda, termasuk sang penanya diatas, tetap memiliki peminatnya sendiri. Asal sabar, konsisten, terus meningkatkan skill di YouTube, dan terus mengenalkan channel di aset media sosial yang dimiliki, channel tersebut bakal menemukan momentumnya. Insya Allah.