Review SOTOSOP.IN, Editor Gambar Gratis Mirip Photoshop

Siapa bilang editor gambar itu mahal? Banyak kok yang murah, bahkan gratis. Salah satunya adalah Sotosop.in.

Sotosop.in merupakan aplikasi editor gambar gratis berbasis browser. Jadi selama komputer anda memiliki browser, tersambung ke internet, maka apapun jenis sistem operasi yang anda pakai, anda bisa menggunakannya tanpa perlu melakukan instalasi apapun.

review sotosop.in
Sotosop.in 

Saya menemukan Sotosop.in dari beranda Facebook seorang teman yang merupakan pegiat digital. Setelah saya telusuri, ia membagikan langsung dari pengembangnya. Nama pengembang Sotosop.in adalah Wahyu Putra, lulusan IPB yang kini menjadi founder Startup Digital Indonesia.


Ya, Wahyu Putra 'hanya' mengembangkan Sotosop.in dari API milik PhotoPEA.com yang disediakan secara gratis. API adalah Application Program Interface, yakni sebuah susunan protokol program komputer dan web developer untuk membuat sebuah software. Nah, API dari PhotoPEA tadi dipakai untuk dipergunakan sebagai 'bahan baku' Sotosop.in.

PhotoPEA.com sendiri merupakan sebuah situs editor gambar yang dibuat oleh programmer dari Ukraina, Ivan Kutskir. Disini anda bisa berlangganan untuk menikmati fitur-fitur tertentu mulai dari $9 hingga $1400. Namun PhotoPEA.com sendiri bisa dinikmati seluruh fitur edtior gambarnya meskipun kita memakainya secara gratis. Akan tetapi, PhotoPEA.com masih menggunakan iklan dari Adsense.

Sementara itu, Sotosop.in sendiri tidak ada iklan. API yang dipergunakan pun merupakan API gratis yang memang sengaja diberikan cuma-cuma oleh Ivan Kutskir. Jadi 100% editor gambar ini halal. Untuk saat ini, selain tanpa iklan, Sotosop.in masih sama persis dengan PhotoPEA.com dari sisi tampilan dan fitur-fiturnya. Kabarnya kedepan bakal ada tambahan fitur seperti template banner, spanduk, dan lainnya yang bisa dipakai oleh desainer lokal.

Pengalaman Menggunakan Sotosop.in

Setelah seharian menggunakan Sotosop.in ada beberapa kesan yang ingin saya sampaikan. Kesan ini mungkin sedikit berbeda tergantung dari intensitas penggunaannya dengan editor gambar lain maupun spesifikasi komputer yang dipakai.

1. Loading Situs Sotosop.in

Yang harus diperhatikan pertama kali, penggunaan Sotosop.in harus selalu menggunakan koneksi internet. Tidak ada versi offline untuk aplikasi ini.

Kalau koneksinya menggunakan paket kuota internet, pastilah bakalan boros menyedot anggaran. Untuk itu sangat disarankan untuk menggunakan paket internet berlangganan. Sebab untuk membukanya saja diperlukan kuota 2,32 MB dan baru berhasil dibuka dalam waktu 4,5 detik. Saya belum tahu seberapa lama kalau Sotosop.in sudah banyak pemakainya.

sotosop vs canva
Loading situs Sotosop vs Canva

Besaran kapasitas loading untuk Sotosop.in sebetulnya hampir sama dengan Canva.com. Cuma karena Sotosop.in memakai sumberdaya PhotoPEA, maka total permintaan yang dibutuhkan untuk membuka halamannya jauh lebih besar.

2. Tampilan yang Sama dengan Editor Gambar Lain

Simbol perintah dan letak menu yang sama dengan editor gambar lain mungkin terdengar sepele. Akan tetapi tampilan antarmuka ini tentu memudahkan buat yang mau bermigrasi dari Photoshop ke Sotosop.in sebab tidak perlu membiasakan lebih banyak.

tampilan sotosop
Tampilan layar editor Sotosop.in.
Misalnya fungsi untuk membuat selection secara otomatis juga masih disimbolkan dengan tongkat ajaib. Eh, iya juga, bahkan namanya masih sama memakai 'magic wand'. Begitu juga dengan nama dan simbol lain yang fungsinya sama, nama dan simbolnya juga masih sama dengan yang dipakai oleh Photoshop.

3. Mampu Membaca File .PSD dan .XD

Ada beberapa aplikasi yang hanya bisa membaca file-file secara umum saja, seperti .jpeg, .png, .gif, .pdf, .tiff, dan .svg. Namun tidak bisa dipergunakan untuk membaca file yang dihasilkan secara khusus dari aplikasi tertentu, misalnya file .psd dari Adobe Photoshop dan .xd dari Adobe XD.

Akan tetapi Sotosop.in sama seperti PhotopPEA.com, yang ternyata bisa membuka kedua file khusus dari Adobe tersebut. Cuma untuk hasilnya tentu saja Sotosop.in tidak bisa menghasilkan kedua file tersebut. Hasil dari Sotosop.in hanya berupa file gambar saja.

4. Banyak Font yang Tersedia

Integrasinya dengan Google Font library, membuat pengguna Sotosop.in bisa memanfaatkan ratusan huruf dalam membuat desain.

5. Hati Jadi Adem dan Tenang

Err... baiklah ini tidak terkait dari penggunaan aplikasi secara teknis. Tetapi ternah enggak sih memikirkan sesuatu ketika memakai software bajakan? Misalnya, apakah kita sedang melakukan kejahatan dan bagaimana hukumnya dalam agama?

Kalau tidak apa-apa dan no problem ketika menggunakan software bajakan, ya silakan saja. Akan tetapi buat yang membutuhkan ketenangan karena diganggu rasa bersalah, Sotosop.in bisa menjadi solusi.

Itulah pengalaman saya dalam memakai Sotosop.in. Sekali lagi, pengalaman saya ini mungkin berbeda dengan yang lain sebab ditentukan oleh pengetahuan, koneksi internet, dan perangkat komputer yang berbeda.

Akan tetapi mudah-mudahan ketika memakai aplikasi semacam Sotosop.in ini, kita sedang sama-sama berupaya menuju pemakaian aplikasi yang bebas bajakan. Ya, sebelum punya duit banyak, carilah sebanyak mungkin aplikasi alternatif yang gratis. Hehe.

Mencari Keyword dengan Google Keyword Planner

Mencari keyword yang tepat untuk judul artikel agar ramah SEO, kadang-kadang sama sulitnya dengan membuat satu artikel utuh. Bahkan untuk menentukan tema, niche, atau pokok bahasan sejak membuat blog pertama kali, keyword kerap membuat pusing.

Seorang teman yang bergiat di komunitas wirausaha sempat terkejut ketika mengetahui urusan keyword atau kata kunci ini. Pada mulanya, ia pengin agar komunitas tersebut dikenal orang banyak. Maka iapun membuat situs dan media sosial secara lengkap dengan target keyword nama komunitasnya sendiri yakni 'indramayu young enterpreneur'.

mencari keyword

Tentu saja situs yang dibuatnya berhasil menduduki peringkat pertama di Google Search. Pasalnya, siapa yang mencari kata kunci tersebut? Siapa saja pesaingnya? Hampir tidak ada. Makanya ketika keyword itu diketik di kolom pencarian, tentu saja Google memberikan hasil semacam itu.

Saat teman saya kebingungan mengapa situsnya tak jua dikunjungi orang, saya pun sedikit menguatkannya dengan kata pamungkas: sabar. Kemudian barulah saya menceritakan soal keyword dari sedikit pengetahuan yang saya dapatkan.

Keyword atau kata kunci merupakan kata ataupun rangkaian kata yang dimasukkan pengguna di Google, Bing, Yandex, dan mesin pencari lainnya untuk mencari informasi tertentu di jutaan situs yang ada di internet.

Keyword yang umum akan menghasilkan informasi yang umum juga. Misalnya kita mencari keyword 'ikan'. Maka mesin pencari akan memunculkan ikan secara umum, baik definisinya, jenis-jenisnya, hingga olahan masakan yang memakai ikan sebagai bahan bakunya.

Hal yang berbeda ketika kita mencari keyword 'cara memasak ikan buntal'. Meskipun keyword-nya mengandung ikan, namun informasi yang diinginkan dari keyword tersebut cukup spesifik. Sehingga mesin pencari akan memberikan hasil yang berbeda dengan keyword 'ikan' tadi.

Keyword 'ikan' memunculkan hasil sebanyak 135.000.000 hasil pencarian dalam waktu 0,39 detik, sementara keyword 'cara memasak ikan buntal' memunculkan hasil sebanyak 25.300 hasil pencarian dalam waktu 0,36 detik. Artinya dari segi persaingan, tentu saja bertarung di keyword 'ikan' bakal lebih sulit dibandingkan dengan keyword satunya lagi.

Namun untuk mengetahui popularitas dari sebuah kata kunci memang tidak bisa dilihat langsung dari Google Search. Jadi sebelum menentukan keyword yang dipilih, carilah yang kira-kira populer. Jangan karena dengan begitu bisa page one, lantas keyword yang tidak ada pencarinya malah dipilih.

Untuk mencari kata kunci yang populer pada saat tertentu, silakan pergunakan Google Trends. Namun kalau mau merencanakan kata kunci, baik untuk niche situs secara keseluruhan maupun artikel rutin yang diunggah di situs, silakan pergunakan Keyword Planner.

Keyword Planner

Banyak yang bilang memakai Keyword Planner ini berbayar, sebab layanan ini terintegrasi dengan Google Ads. Ya, memanfaatkan Google Ads memang harus bayar, tapi kita bisa memanfaatkan fitur Keyword Planner secara gratis kok.

Silakan kunjungi https://ads.google.com lalu carilah menu Tools & Settings dengan simbol kunci ring pas. Di menu ini akan ditunjukkan menu scroll-down, lalu pilih saja Keyword Planner.

Oh iya, sudah mendaftar sebagai pengiklan di Google Ads? Kalau belum, silakan daftar dulu ya. Soalnya hanya pengiklan Google Ads yang bisa mempergunakan fitur Keyword Planner ini.

Oke lanjut. Kita akan dibawa kepada dua buah menu, yakni 'Discover new keywords' dan 'Get search volume and forecasts'. Masing-masing menu bisa kita pergunakan untuk kebutuhan riset keyword secara gratis.

mencari keyword
Ada dua menu pada fitur Keyword Planner.

Discover new keywords berguna untuk mencari tahu popularitas keyword berdasarkan jumlah klik dan impresinya. Buat yang belum paham, jumlah klik adalah ketika situs yang mengandung kata kunci tersebut diklik oleh pengguna mesin pencari. Sementara impresi adalah situs tersebut hanya terlihat saja di mesin pencari, tetapi tidak diklik oleh pengguna.

Di menu inipun bisa terlihat apakah keyword tersebut memiliki persaingan yang tinggi, rendah, atau tidak ada pesaingnya sama sekali. Dan bisa ditebak, keyword 'indramayu young entrepreneur' milik teman saya itu memang tidak ada klik, impresi, dan tidak memiliki persaingan sama sekali dalam kurun waktu setahun ini.

Selain untuk melihat jumlah klik dan impresi yang didapat oleh keyword yang kita cari, menu ini pun menunjukkan hal lain. Disini ditunjukkan turunan lain dari keyword yang sedang kita cari. Misalnya soal 'indramayu young enterpreneur', maka ditunjukkan beragam varian kata kunci 'enterpreneur' lengkap dengan klik dan impresinya.

Sementara itu Get search volume and forecasts lebih ke perencanaan spesifik dari keyword yang akan dibuat kampanyenya. Disini sudah termuat perkiraan nominal yang akan dibelanjakan, klik, dan impresinya, apabila menggunakan keyword tersebut. Silakan pergunakan budget iklan yang anda miliki, kalau tidak.... ya tidak apa-apa.

Keyword untuk Membuat Artikel

Kalau sudah membuat situs yang memiliki kata kunci dengan keyword tertarget, tentu mengisinya dengan artikel-artikel yang relevan adalah keharusan. Hal ini berguna untuk memberikan sinyal pada Google kalau situs kita membahas tema tersebut. Sehingga ketika ada yang mencari dengan tema yang relevan, situs kita bakal diprioritaskan oleh Google atau mesin pencari lainnya.

Ya, orang bilang hal semacam ini dengan sebutan niche. Niche itu mesti konsisten, tidak gado-gado. Kalau pembahasan sekali dua kali melenceng sih wajar. Misalnya niche-nya membahas teknologi, tapi satu-dua kali membahas tentang wisata. Ya tak masalah.

Kalaupun niche-nya membahas teknologi, maka upayakan saja kalau membahas tentang wisata, misalnya, kaitkan dengan teknologi. Misalnya review aplikasi tertentu yang bermanfaat untuk wisata, misalnya review Google Trips.

Selain niche yang konsisten, artikel yang menargetkan keyword yang ramai dicari juga penting untuk membuat artikel bisa masuk ke hasil pencarian pengguna di mesin pencari.

Misalnya kita akan membuat artikel tentang wirausaha. Maka masukkan saja kata tersebut pada menu Discover tadi. Setelah itu klik tombol Get Started.

mencari keyword

Setelahnya bakal muncul perkiraan pencarian bulanan dari keyword tersebut hingga biaya kampanye yang akan diperlukan. Sekali lagi, biaya ini kalau kita mengambil opsi pemasangan iklan.

Keyword lain juga muncul lengkap dengan data-data yang sama dengan keyword yang kita cari. Kalau kita mau menantang diri sendiri, silakan ambil keyword yang nilai kompetisinya tinggi untuk ditempatkan sebagai keyword artikel kita.

mencari keyword

Setelah keyword diriset, silakan buat artikel dengan memasukkan keyword tersebut ke judul, deskripsi pencarian, paragraf awal, link artikel, dan menempatkan keyword ke beberapa paragraf lainnya. Jangan lupa, berikan caption dan properti (Title text dan ALT text) dengan keyword tersebut ke gambar yang disertakan.

Kalau bisa, jumlah kata dalam satu artikel tersebut mencapai 600 hingga 900. Konon artikel dengan jumlah lebih sedikit dari itu tidak disukai oleh mesin pencari. Sementara kalau terlalu banyak, mata manusia juga kelelahan, dan ini tentu saja tidak baik.

Untuk itulah di blog ini anda jarang menemukan judul-judul artikel yang puitis ataupun clickbait. Sebab saya berusaha sebisa mungkin agar mudah ditemukan oleh mesin pencari. Meskipun saat ini posisi rata-rata dari blog ini berada di angka 10 pada Google Search, mudah-mudahan nanti bisa lebih baik lagi.

Nah kira-kira begitulah pemanfaatan Keyword Planner untuk membuat artikel yang ramah terhadap mesin pencari. Kalau ada tambahan silakan kemukakan saja di kolom komentar.

Bahaya Dibalik #AgeChallenge dari FaceApp

Siapa sih yang tidak tahu FaceApp akhir-akhir ini? Aplikasi yang viral dengan tanda pagar #AgeChallenge ini membuat beranda media sosial jadi penuh foto hasil olah digital, dimana foto-foto tersebut merupakan 'cerminan' masa tua para penggunanya.

Tapi anda semestinya berhati-hati, sebab FaceApp merupakan aplikasi yang memungkinkan developer-nya mengunggah foto-foto tersebut di tempat lain tanpa bisa digugat secara hukum.


Apa itu FaceApp sebenarnya?

FaceApp adalah sebuah aplikasi olah digital yang bisa diunduh melalui Play Store maupun App Store. Mereka menggunakan algoritma artificial intelligence alias kecerdasan buatan untuk melakukan pengeditan otomatis terhadap foto yang diunggah.

Pengguna bisa mengubah fotonya menjadi tua, muda, beruban, berjenggot atau menghilangkannya, berambut panjang, mengubah jenis kelamin, mengganti warna kulit, tersenyum, dan lain sebagainya. Pengeditan ini betul-betul otomatis, pengguna hanya tinggal melakukan klik sekali dua kali tanpa direpotkan dengan skill olah digital pada software yang mahal.

Proses instan yang sekali klik, lalu hasilnya mencengangkan karena terkesan alami membuat FaceApp diunduh banyak orang. Saat ini sudah ada 100 juta lebih pengguna Android yang mengunduh FaceApp. Di App Store, FaceApp menjadi aplikasi olah digital gratis nomor satu dan aplikasi olah digital yang laris kedua di toko aplikasi khusus pengguna iOS tersebut.

FaceApp dibuat oleh Wireless Lab dan diluncurkan awal tahun 2017. Pada beberapa bulan pertamanya, aplikasi asal Rusia ini menuai kontroversi. Hal ini disebabkan kemampuannya dalam mengubah warna kulit membuat sekelompok penganut rasialisme memanfaatkannya untuk memasifkan kebencian rasial.

Kontroversi itu tak membuatnya berhenti. FaceApp tetap dipakai oleh banyak orang, tetapi tidak sampai viral seperti awal kemunculannya. Namun akhir-akhir ini, FaceApp kembali 'berulah'.

Kampanye #AgeChallenge tersebut sebetulnya diinisiasi oleh FaceApp. Meski diinisiasi oleh developer-nya sendiri, kampanye ini viral dan membuat nama FaceApp kembali melambung.

Mereka belajar dari kasus lama, sehingga kampanye yang mengandung promosi tersebut bukan lagi mengangkat warna kulit. Tetapi lebih kepada perubahan wajah dari yang semula muda diubah menjadi tua. Di foto yang diubah, pengguna tampak berusia 30 - 40 tahun lebih tua dari usia sebenarnya.


Mengapa mesti berhati-hati dengan FaceApp?

Bagian ini khusus buat mereka yang cukup serius memperhatikan perlindungan data pribadi. Kalau tidak terlalu peduli, ya berhentilah membaca artikel ini. Sebab kabarnya, data pengguna FaceApp cukup rentan disalahgunakan.

Pada term and condition atau syarat dan ketentuan layanan yang dibuat Wireless Lab selaku pengembang FaceApp, ditemukan beberapa hal yang cukup mengganjal. Kutipan syarat dan ketentuan tersebut saya sertakan di bawah ini.

"you grant FaceApp a perpetual, irrevocable, nonexclusive, royalty-free, worldwide, fully-paid, transferable sub-licensable license to use, reproduce, modify, adapt, publish, translate, create derivative works from, distribute, publicly perform and display your User Content and any name, username or likeness provided in connection with your User Content in all media formats and channels now known or later developed, without compensation to you".

Secara singkat pada ketentuan layanan tersebut, pengguna memberikan FaceApp kebebasan untuk mendistribusikan, mengubah, mereproduksi, menayangkan, dan semacamnya terhadap konten yang diunggah pengguna di FaceApp. Dan FaceApp tidak memberikan kompensasi apapun.

Ketika pengguna sudah menyetujui syarat dan ketentuan FaceApp di awal ketika melakukan instalasi, maka aturan tersebut melekat dan tak bisa dibatalkan kecuali pengguna berhenti menggunakan FaceApp. Ya jarang juga 'kan ketika menginstal aplikasi, kita membaca aturannya dengan detail?


FaceApp juga berkantor di Saint Petersburg, Rusia, dimana wilayah ini tidak masuk Uni Eropa apalagi Amerika Serikat. Sekadar informasi, Uni Eropa dan Amerika Serikat cukup ketat untuk persoalan penyalahgunaan data pribadi. Sehingga ketika ada masalah apapun, orang-orang tidak bisa menggunakan hukum di kedua wilayah tersebut untuk menggugat Wireless Lab, selaku pengembang FaceApp.

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam syarat dan ketentuan FaceApp selanjutnya.

"FaceApp, its Affiliates, or Service Providers may transfer information that we collect about you, including personal information across borders and from your country or jurisdiction to other countries or jurisdictions around the world. If you are located in the European Union or other regions with laws governing data collection and use that may differ from U.S. law, please note that we may transfer information, including personal information, to a country and jurisdiction that does not have the same data protection laws as your jurisdiction."

Sebagai pengguna akhir, end-user, yang hanya berharap manfaat dari aplikasi yang diinstal di smartphone, tentu banyak berharap kalau aplikasi apapun, termasuk FaceApp tidak memberikan bahaya apapun. Tetapi tentu potensi bahaya ini bisa berlainan antara aplikasi yang satu dengan aplikasi yang lainnya.

Pasalnya melihat permission request dari FaceApp juga sudah mencurigakan. Banyak yang merasa kalau 'akses terhadap galeri foto di smartphone' yang memaksa pengguna untuk selalu membukanya cukup berlebihan. Maksudnya ketika kita mengatur agar galeri foto tak bisa dibuka oleh aplikasi pihak ketiga, FaceApp ini tetap mampu menerobosnya dengan memanfaatkan 'celah' pada sistem operasi.

Misalnya terhadap pengguna iOS. Pada pengguna sistem operasi milik Apple ini, FaceApp bisa tetap melihat-lihat isi library meskipun penggunanya telah mengatur permission request sebagai 'never' alias tidak pernah mengizinkan kepada aplikasi lain untuk melihat isinya. Celahnya adalah, Apple mengubah 'never' tadi menjadi 'read and write' ketika pengguna mengunggah foto ke aplikasi lain lebih dari sekali.

iOS saja rentan seperti itu, apalagi Android. Di permission request-nya saja, FaceApp sudah meminta cukup banyak akses.

Untuk itulah menggunakan FaceApp ini memang mesti waspada. Sebab ngomong-ngomong soal Saint Petersburg, kemenangan Donald Trump juga 'disumbang' oleh para 'pegiat digital' dari salah satu kota di Rusia yang berada di ujung Teluk Finlandia ini.

Tetapi tentu saja kesenangan dalam melihat foto diri menjadi jauh lebih tua atau menjadi muda kembali jauh lebih mengasyikkan dibandingkan mengurusi potensi penyalahgunaan data pribadi.

UPDATE:

Wireless Lab akhirnya merespon berita-berita miring tentang syarat dan ketentuan dalam FaceApp. Intinya, dalam rilis pers yang dikeluarkan startup Rusia tersebut menjelaskan kalau FaceApp tidak seperti yang dituduhkan.

FaceApp membantah kalau mereka mengambil foto dari galeri yang tak pernah diunggah pengguna, tidak juga mengirimkannya ke Rusia, dan tak pernah mengaktifkan aplikasi tanpa sepengetahuan pengguna.

Cara Mengganti Jenis Iklan yang Dilihat di Facebook

Facebook sering memunculkan iklan di beranda penggunanya. Postingan berupa iklan ini akan ditandai dengan 'sponsored' di bawah akun pengunggahnya. Kalau dulu kita tak pernah tahu mengapa iklan ini bisa muncul, sekarang Facebook memberitahukannya.

Ada fitur baru dari facebook yang bernama "Why am I seeing this ad?" atau "Mengapa saya melihat iklan ini?". Eh, baiklah fitur ini sebetulnya sudah ada sejak empat tahun silam. Namun Facebook memperbaruinya pada 11 Juli 2019.


Sejak empat tahun silam, fitur "Why am I seeing this ad?" ini hanya memunculkan dua garis besar terkait iklan yang muncul. Pertama, terkait peta demografi pengguna Facebook sendiri, misalnya lokasi pekerjaan, jenis kelamin, pendidikan, dan lain sebagainya. Kedua, situs-situs yang pernah dikunjungi diluar Facebook. Nah, buat yang belum tahu, Facebook memang memata-matai aktivitas kita di internet.

Pembaruan terhadap fitur "Why am I seeing this ad?" tersebut memberi penjelasan lebih spesifik mengapa iklan tersebut muncul di beranda pengguna. Alasannya lebih detil mengapa kita menjadi target dari iklan tersebut. Singkat kata, Facebook membuka hasil pembacaannya terhadap penggunanya.

Hasil pembacaan algoritma Facebook terhadap pengguna ini akan dibuka setelah kita menggunakan fitur "Why am I seeing this ad?" tersebut. Disitu bakal terlihat kalau kita berminat pada bidang A, B, X, Y, dan seterusnya. Kemudian Facebook juga menjelaskan kalau hasil pembacaan itu datang darimana. Datanya bisa diambil dari klik suka terhadap fanpage maupun situs yang dikunjungi.

Memangnya Facebook sebaik itu?

Menurut saya ini kabar yang cukup baik. Sebab Facebook mengupayakan sebuah transparansi terhadap bagaimana mereka bekerja dan menggunakan data penggunanya. Akan tetapi apakah Facebook juga tidak diuntungkan dari perubahan mekanisme pembacaan iklan ini? Oh, tentu saja Pulgoso! Facebook jelas diuntungkan dengan pembaruan "Why am I seeing this ad?" ini.

Pembaruan ini bakal membuat pengguna yang memahami akan mengubah preferensi iklannya. Dia akan mengganti minatnya dengan sebenar-benarnya minat yang disukainya. Atau opsi pengguna lainnya, dia bakal menghilangkan agar iklan itu tak muncul lagi. Yang berarti iklan itu memang tak disukainya.

Dari dua opsi itu saja, Facebook mendapatkan penargetan lebih baik. Pertama buat orang yang ingin mengganti preferensi iklan kepada hal-hal yang disukainya saja. Maka Facebook mendapatkan target lebih detil dari pengguna semacam ini. Artinya pengiklan pun senang sebab konversinya bakalan semakin baik.

Kalau untuk pengguna jenis kedua, Facebook juga bisa mengetahui kalau iklan yang disuguhkan ternyata tidak disukai. Itu berarti Facebook bisa menggantinya dengan iklan yang lebih disukai. Jika iklan tersebut tidak disukai lagi, Facebook akan mencoba dengan iklan yang lain sampai ada iklan yang diklik orang tersebut. Ya, Facebook selalu menang.


Jadi kalau pembaruan "Why am I seeing this ad?" tadi dianggap lebih berpihak kepada pengguna, maaf anda salah.

Untuk mengetahui bagaimana fitur ini bisa dipergunakan, silakan anda rujuk video berikut.



Cara Mengubah Preferensi Iklan

Sekarang Facebook menyediakan menu Ad Preferences yang bisa diakses di https://www.facebook.com/ads/preferences. Di sini anda bisa mengetahui ketertarikan anda terhadap berbagai hal yang berhasil direkam oleh Facebook sejak pertama kali anda memiliki akun.

Misalnya anda pernah mengklik fanpage tentang 5 Minutes Craft, maka di laman ini akan muncul ketertarikan tentang Do it Yourself (DIY) di menu Hobi dan aktivitas. Begitu juga dengan hal-hal yang lain. Ada yang langsung memunculkan fanpage resmi, ada juga fanpage yang tercipta secara otomatis dari Facebook sendiri.

Pada masing-masing minat tadi, ada logo 'x' atau tanda silang kalau dibuka di komputer. Namun kalau melalui smartphone, tombol silang ini tidak ada. Yang ada hanyalah simbol titik tiga yang bisa diklik.

Klik tanda silang untuk menhilangkan minat di preferensi iklan Facebook.


Untuk mengubah preferensi iklan, silakan klik tanda silang tadi untuk menghilangkan minat tersebut. Kalau di smartphone, silakan klik titik tiga tersebut dan pilih 'remove'. Kalau mau banyak preferensi yang hilang, silakan hapus semuanya saja. Tapi apakah betul-betul tak ada fanpage yang kita sukai?

Kalaupun preferensi tadi dihapus semuanya, Facebook tetap memunculkan iklan. Sebab apa yang kita unggah, apa yang pernah diklik, grup apa yang sering dikomentari, dan apa yang pernah dibagikan oleh penggunanya selalu diketahui oleh Facebook. Dan aktivitas tersebut akan memunculkan preferensi baru dan tentu saja bakal menghadirkan iklan yang baru.

Ya, tak ada cara untuk menghilangkan iklan di Facebook. Lhah Facebook itu berbayar kok. Cuma alat pembayarannya bukan memakai uang, tetapi memakai data pribadi kita untuk dipergunakan sebagai target iklan.

Atasi Mata Kering dengan Insto Dry Eyes

Buat yang pernah mengalami mata kering, pasti tahu betapa tidak nyamannya gangguan mata yang satu ini. Meski sumber sakitnya di bagian depan, tapi keseluruhan kepala rasanya ikut-ikutan sakit juga.

Mata kering merupakan kondisi dimana mata tidak mendapatkan lubrikasi yang normal. Kondisi ini menyebabkan mata sangat rentan terganggu oleh benda asing dari luar. Dalam istilah kedokteran, mata kering disebut keratoconjunctivitis sicca.

Secara fisik, mata kering bisa tampak sebab biasanya bola mata menjadi berwarna kemerah-merahan. Selain warna bola mata yang sedikit berubah, mata kering juga bisa tampak sembab. Hal ini dikarenakan kelenjar air mata merespon mata yang kering itu dengan menghasilkan lebih banyak air mata.

Untuk yang tidak memiliki gejala fisik seperti diatas, mata kering juga memiliki banyak gejala lain yang tidak tampak. Beberapa gejalanya seperti mata pegel, perih, dan sepet. Gejala ini disebabkan oleh banyak faktor.

bye bye mata kering

Faktor Penyebab Mata Kering

Sepengalaman saya, faktor yang menyebabkan mata kering sangat banyak. Sebab meskipun memiliki kelopak yang berguna untuk melindungi, namun mata tidak serta merta aman setiap saat. Hal ini disebabkan fungsi mata sendiri sebagai organ penglihatan yang hanya diistirahatkan ketika tidur. Saat mata dibawa beraktivitas, potensinya untuk terganggu oleh banyak hal sangat besar.

Saya sendiri pernah mengalami mata kering semacam ini. Aktivitas saya sebagai pekerja sosial cukup menumbuhkan potensi terserang gejala-gejala mata kering diatas. Sebab selain banyak beraktivitas diluar ruangan, berurusan dengan entri data di depan komputer dan smartphone juga hampir sama durasinya.

Pada mulanya saya tak terlalu menghiraukan ketika mata lelah. Karena bisa jadi hal tersebut disebabkan karena saya berkendara cukup lama menuju ke wilayah dampingan. Untuk mengatasinya kadang-kadang hanya dikompres dengan air hangat saja agar otot-otot mata kembali normal. Tindakan ini kadang berhasil, namun lebih sering gagal. Kalau gagal malah jadi perih, karena mata kemasukan air.

Kalau mengingat-ingat jalan menuju lokasi dampingan saya yang penuh debu, karena ada sebagian yang masih belum diaspal, sebagian lagi jalannya rusak, dan hampir separuh lagi berupa jalan sawah yang masih berupa tanah, memang sangat mungkin menjadi penyebab mengapa mata terasa perih-perih gitu. Bahkan ketika menemui jalan yang tak berdebu sama sekali, terpaan angin sawah di musim kemarau yang dingin seperti sekarang cukup membuat mata perih juga.

bye bye mata kering

Gejala ini ditambah akibat seringnya saya beraktivitas di depan komputer. Baik karena melakukan entri tugas pekerjaan, maupun aktivitas menjadi bloger. Aktivitas ini kerap saya lakukan hingga larut malam karena siangnya mesti ke lapangan. Mungkin ini yang menyebabkan mata pegel.

Kalaupun tidak di depan komputer, aktivitas saya yang lain ya seperti orang-orang pada umumnya. Misalnya mengunjungi media sosial, berselancar di situs-situs informasi, dan utamanya bermain game. Semuanya dilakukan melalui smartphone.

Rutinitas saya bersama smartphone cukup intens. Apalagi sekarang ketika tugas entri data di pekerjaan bisa menggunakan smartphone. Sebelum amanah pekerjaan pun, smartphone sudah menjadi sarana digital yang jauh lebih sering dibuka daripada komputer. Setelah saya tahu, kebiasaan ini ternyata yang menjadi penyebab mengapa mata sepet.

Kalau beraktivitas di rumah, mata perih semakin tidak menemukan kesembuhannya. Sebab ada pendingin ruangan di rumah agar anak saya merasa nyaman. Kenyamanan anak tentu kebahagiaan saya. Tetapi masalahnya, saya tidak nyaman dengan hawa dingin dari AC.

Kalau bertemu AC, kalau bisa dimatikan, ya lebih bagus. Namun adakalanya demi kepentingan bersama, saya yang mesti jauh-jauh dengan benda yang satu ini. Paling tidak, jauh dari hembusan anginnya secara langsung. Sebab meski tidak langsung masuk angin, hembusan AC membuat mata perih.

Faktor-faktor seperti debu jalanan, sering berkendara, lama di depan komputer dan smartphone, terkena AC, memang menjadi beberapa faktor penyebab mata kering. Faktor lainnya juga sangat mungkin menyebabkannya, seperti terlalu lama membaca buku, terkena hembusan hair dryer, atau apapun saja aktivitas yang membuat mata jarang berkedip. Tetapi ada juga faktor internal seperti gangguan hormon maupun efek samping dari obat-obatan yang menyebabkan mata kering.

Selain itu usia juga memiliki pengaruh yang cukup signifikan. Semakin tua usia seseorang, maka potensi terkena mata keringnya cukup besar. Hal ini disebabkan kelenjar air mata yang dimilikinya mengalami penurunan produksi air mata seiring menuanya usia.

bye mata kering

Solusi Mengatasi Mata Kering

Saya sering disarankan oleh istri untuk mengurangi durasi di depan layar komputer dan menatap smartphone. Tujuannya sangat baik, sebab berguna mengurangi gejala mata kering. Namun kedua hal tersebut terkait pekerjaan saya untuk mengentri data dan hobi saya sebagai bloger.

Banyak yang menyarankan juga agar banyak memakan ikan laut, sebab sumber makanan tersebut mengandung banyak omega-3. Kandungan tersebut bermanfaat buat menyehatkan mata dan mengurangi mata kering. Untunglah saya gemar makan ikan laut, apalagi dibakar, dan lebih senang lagi kalau ditraktir.

Mereka tidak menyarankan saya untuk meninggalkan rokok. Sebab saya memang tidak merokok. Tetapi saya sudah sebisa mungkin menghindari orang-orang yang merokok, agar tidak menjadi perokok pasif.

Faktor-faktor yang menyebabkan mata kering diatas sebisa mungkin saya hindari. Tetapi adakalanya terpaksa karena tuntutan pekerjaan atau kebutuhan hobi. Untuk itulah terakhir yang saya lakukan adalah menggunakan obat tetes mata.

Untuk obat tetes mata, saya memakai Insto dari Combiphar. Merek yang satu ini sudah menjadi langganan setia apabila mata tiba-tiba merah karena beberapa sebab. Namun kali ini ada yang unik dari Insto.

Saya sempat bingung saat bermaksud mengambil Insto dari rak obat-obatan di toko ritel. Sebab disitu Insto terdiri dari dua macam. Pertama ada Insto dengan kemasan berwarna hijau bergradasi ke putih. Kemudian yang kedua ada Insto dengan kemasan hijau bergradasi ke putih lalu biru di bagian bawahnya. Setelah saya amati dengan seksama, keduanya berbeda. Insto yang pertama bertuliskan Insto Regular, sementara yang kedua bertuliskan Insto Dry Eyes.

Saya pun mengambil yang kedua, Insto Dry Eyes. Sebab peruntukkannya memang berbeda dibandingkan yang reguler. Insto Dry Eyes diperuntukkan khusus buat mengurangi gejala mata kering seperti yang telah disebutkan diatas. Obat tetes mata ini mengandung Hydroxypropyl methylcellulose, sebuah zat yang memiliki kandungan yang mirip dengan air mata.

Oh iya, sekadar informasi saja, air mata yang berfungsi melumasi bola mata itu mengandung tiga hal besar, yakni lemak, lendir, dan air. Fungsi air mata sendiri selain memberikan pelumas agar mata tidak kekeringan, juga bisa mengusir bakteri jahat dari mata. Nah, Insto Dry Eyes ini dibuat semirip mungkin dengan air mata. Singkatnya obat tetes mata ini merupakan air mata buatan.

Buat yang baru pertama kali mencoba Insto Dry Eyes, rasa di matanya sedikit berbeda dengan Insto reguler atau Insto sebelumnya. Kalau dulu, bahkan obat tetes mata apapun bakal memunculkan rasa pahit di tenggorokan. Nah, Insto Dry Eyes ini enggak. Tetes mata yang ini hanya menimbulkan sensasi adem, dan selang beberapa saat gejala mata kering pun berangsur-angsur menghilang.

bye mata kering
Kini Insto Dry Eyes menjadi bawaan wajib.
Itulah mengapa, saat ini Insto Dry Eyes menjadi bawaan wajib ketika saya beraktivitas. Sebetulnya saya berharap saya tak pernah menggunakannya. Tetapi daripada nanti mata kering ini menjadi semakin parah lebih baik mencegahnya terlebih dulu. Bye, mata kering!

Tentang Pemblokiran Smartphone Black Market yang Wajib Diketahui

Google pernah melakukan survey tentang apa saja yang dipertimbangkan konsumen Indonesia sebelum membeli smartphone. Hasilnya menunjukkan kalau kecepatan menjadi prioritas pertama sebelum konsumen membeli smartphone. Disusul kemudian oleh baterai, memori, dan terakhir barulah kamera.

Survey yang dipaparkan oleh Google kepada media pada Mei 2019 tersebut mengambil responden sebanyak 2.000 orang dengan usia diatas 18 tahun. Responden tersebut dipilih karena baru saja membeli smartphone baru dalam tiga bulan terakhir. Selain itu, data yang dipakai Google juga diambil dari Google Search, YouTube, dan lembaga riset Canalys pada kuartal IV tahun 2018.


Artinya apa sih? Dengan beberapa alasan konsumen dalam membeli smartphone diatas, darimana smartphone itu berasal bukan jadi pertimbangan utama. Apakah smartphone itu masuk ke Indonesia melalui jalur resmi atau melalui jalur impor langsung, tidak terlalu diperhatikan oleh calon konsumen. Yang berkembang di tengah-tengah konsumen itu adalah smartphone itu garansinya terbagi dua. Ada yang bergaransi resmi, ada juga yang bergaransi distributor.

Menurut pengalaman saya juga, konsumen memang tak terlalu peduli soal resmi atau tidak garansi yang dimiliki sebuah smartphone. Yang mereka butuhkan adalah apakah smartphone yang mereka cari ada di toko atau tidak. Kalau ada, harganya cocok, ya dibungkus. Mungkin perhatian terhadap ini ada, tapi perhatiannya tidak begitu besar dan kalah oleh kebutuhan dalam membeli smartphone yang diincarnya.

Itulah mengapa bisnis smartphone yang kerap disebut smartphone black market ini muncul. Hal ini sejalan dengan konsep hukum ekonomi dimana ada permintaan maka disitu akan selalu ada yang memberikan penawaran. Apalagi smartphone black market ini biasanya memiliki harga yang lebih murah daripada yang bergaransi resmi.

Mengapa smartphone black market bisa berharga lebih murah? Karena mereka hanya membayar biaya masuk saja. Itupun kalau membayar biaya masuk. Bagaimana kalau smartphone tersebut hasil selundupan. Sementara yang bergaransi resmi harus memenuhi kewajiban membayar pajak, mengikuti aturan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri), dan lain-lain yang membuat harganya terkatrol naik. Menurut berbagai informasi, negara dirugikan sebesar Rp2,8 triliun per tahun gara-gara masuknya smartphone black market ini.

Nah kali ini santer terdengar kabar kalau pemerintah akan melakukan pemblokiran smartphone black market. Ada tiga kementerian yang terlibat, yakni Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan. Mereka sedang merampungkan aturannya agar rencana pemblokiran ini bisa segera dilaksanakan tanpa merugikan banyak pihak.

Tiga kementerian ini akan melakukan tugas yang berbeda. Kemenkominfo bakal memberlakukan regulasi yang mengatur IMEI (International Mobile Equipment Identity) alias nomor identitas khusus yang dikeluarkan oleh GSMA (Global System Mobile Association untuk setiap keping SIM (Subscriber Identity Module). Melalui aturan ini Kominfo bakal memaksa provider telekomunikasi untuk melakukan pengawasan terhadap IMEI yang terhubung dengan kartu SIM yang mereka keluarkan. Apabila tidak terdaftar di data base maka smartphone tersebut akan diblokir.

Sementara itu, Kemenperin yang selama ini sudah mengatur soal TKDN, akan diminta juga mengeluarkan aturan yang senada sesuai dengan kapasitasnya. Sementara Kemendag bakal diposisikan sebagai pengawas pasar untuk mengawasi masihkah smartphone black market ini beredar setelah ada aturannya.

Cuma banyak isu-isu yang cukup membuat panik pengguna smartphone black market saat ini. Kalau diblokir, tentu mereka bakal rugi. Sementara mereka pun membeli di toko yang terbuka dan tidak sembunyi-sembunyi. Maksudnya kalaupun dilarang, ya seharusnya ada pembinaan khusus agar toko itu tidak menjual smartphone black market.

Makanya ada beberapa poin yang saya coba rangkum dari berbagai sumber terkait isu semacam ini.

1Apabila aturannya sudah jadi, smartphone yang diblokir hanya yang beredar di pasar saja. Kalau yang sudah diaktifkan bersama dengan kartu SIM, atau dengan kata lain sudah dipergunakan oleh masyarakat, itu tidak akan diblokir.
2Istilah pemblokiran terhadap smartphone ini bukan berarti smartphone tersebut mati total. Hanya saja fungsinya untuk menangkap sinyal provider akan ditutup. Saat ini mesin DIRBS (device identification, registration, and blocking system) yang dipergunakan untuk mendeteksi IMEI dan memblokir smartphone-nya sudah sampai di Indonesia. Meskipun diblokir, smartphone tersebut masih bisa dipergunakan normal untuk berinternet, namun dengan jaringan Wi-Fi.
3Pembelian smartphone dari luar negeri tidak akan bisa dipasangkan dengan kartu SIM lokal. Artinya smartphone tersebut nasibnya bakal sama dengan smartphone black market. Hal ini secara tidak langsung tentu bakal mengganggu kunjungan wisatawan dari luar negeri. Sebab smartphone mereka bakal terdeteksi sebagai smartphone black market karena IMEI-nya tidak terdaftar.
4Investasi untuk alat identifikasi perangkat atau EIR (Equipment Identity Register) yang harus dimiliki oleh provider masih simpang siur. Apakah alat yang tidak murah itu harus disediakan oleh pemerintah ataukah provider itu melakukan investasi sendiri. Ini yang masih menjadi bahan diskusi.
5Pemerintah sedang menyiapkan aturannya mengenai pendaftaran smartphone black market. Artinya ketika anda menginginkan smartphone diluar negeri yang belum masuk ke Indonesia, bisa mendaftarkan smartphone tersebut dengan mekanisme tertentu. Sehingga tetap bisa dipergunakan sebagaimana biasa.
6Tanggal 17 Agustus 2019 dianggap sebagai dimulainya waktu pemblokiran. Ternyata itu kurang tepat. Yang benar adalah pemerintah, yakni Kemkominfo, Kemendag, dan Kemenperin bakal menandatangani peraturan masing-masing pada tanggal tersebut. Jangka waktu pelaksanaan aturan tersebut masih sangat tentatif dan belum ada yang mengetahuinya apakah sebulan kemudian, enam bulan kemudian, atau setahun kemudian.

Beberapa poin di artikel ini sudah saya perbarui. Saya ucapkan terima kasih kepada Ario Pratomo dan Wisnu Kumoro yang sudah mewawancarai Plt. Humas Kemkominfo, Ferdinandus Setu, sehingga ada kejelasan terkait pemblokiran smartphone black market ini.

Itulah beberapa poin yang perlu diketahui terkait wacana pemblokiran smartphone black market. Semuanya masih belum final sebab aturannya masih dirumuskan. Kalau aturan itu sudah disahkan, halaman ini akan saya perbarui. Terima kasih, semoga teman-teman berbahagia selalu.

Pengalaman Ikut Reksa Dana Modal Rp10.000 di Bukalapak

Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, tempat dimana saya bekerja tidak memberikan tunjangan hari raya (THR). Tentu saja setiap tahunnya anak dan istri di rumah merasakan kesedihan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya pula. Sedih bukan karena tidak mau bersyukur dan merasa tidak cukup, tetapi perasaan melihat pekerja di bidang lain menerima tunjangan itu membuat rasa itu hadir begitu saja.

Soal gaji setiap bulan, untuk hidup di kota kecil Indramayu, kami merasa cukup. Sudah pun gaji diatas UMR, apatah lagi ketika melihat ke tempat kerja lain banyak yang masih memberikan gaji dibawah ketentuan. Rasa syukur itu selalu membuncah. Namun tentu saja THR berbeda. Ia merupakan manifestasi perhatian pemberi kerja kepada pekerjanya, meskipun statusnya tenaga kontrak, di hari raya.

Beberapa hari setelah hari raya Idul Fitri, istri memberikan ide agar menyisihkan uang harian sebesar Rp5.000 hingga Rp10.000. Ia pun membuat celengan dari kardus bekas minuman ringan. Pinggirannya diberi selotip dan bagian atasnya dilubangi untuk memasukkan uang kertas. Dan bagian paling uniknya adalah idenya untuk memberi nama celengan tersebut sebagai 'celengan THR'.

Idenya adalah celengan tersebut dipergunakan sebagai tabungan, yang hanya dibuka ketika hari raya tiba. Ia tak mau mengetahui isinya berapa, yang jelas saya harus menggunakan uang tersebut untuk diberikan kepadanya sebagai THR. Berapapun besarnya, judulnya adalah THR. Kalau dihitung-hitung, jika saya menabung lima hari sebesar Rp10.000, maka dengan asumsi setahun adalah 300 hari, dibagi 5, maka hingga hari raya tiba kira-kira celengan itu akan berisi Rp.600.000. Memangnya uang segitu cukup untuk THR? Ya cukup lah untuk meramaikan meja dengan aneka ragam hidangan atau membeli dua baju takwa.

Sialnya, saya orang yang paling tidak bisa menabung di celengan. Ada saja tindakan jahil untuk mengorek tabungan tersebut. Apalagi celengan kali ini berbahan kardus. Dengan sekali sobek, selotip pembungkusnya pun melebar dan menunjukkan lembaran uang didalamnya. Seminggu menabung, uang didalamnya ternyata sudah berjumlah Rp85.000. Nominal yang lebih dari cukup untuk membeli kuota internet. Dan 'celengan THR' itu hanya berumur seminggu saja.

Saya pun merasa bersalah dengan tindakan mencongkel celengan kardus tersebut. Rasa bersalah ini yang membawa saya mencari alternatif menabung agar terhindar dari pencongkelan celengan demi kebutuhan yang sebetulnya dipaksakan. Rasa bersalah itulah yang kemudian membawa saya memutuskan untuk mendaftar reksa dana saat berselancar mencari kebutuhan kamera di Bukalapak.


Reksa dana merupakan sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal atau investor. Dana yang telah terkumpul itu nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi, ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito. Jadi ketika kita mendaftar lalu menyetorkan sejumlah uang ke reksa dana, kita disebut sebagai investor.

Masalahnya, saya menganggap kalau mendaftar reksa dana membutuhkan banyak modal. Jadi meski ingin ikut-ikutan menjadi investor reksa dana sejak lama, saya selalu mengurungkan niat. Hingga ketidaksengajaan itu hadir dan menemukan jalannya. Sebab ikut berinvestasi di reksa dana ternyata bisa dengan modal Rp10.000 saja. Caranya bagaimana?

1Silakan buka aplikasi Bukalapak di smartphone anda. Kemudian pilih semua kategori dan carilah menu Pinjaman dan Investasi. Di menu inilah Bukalapak menempatkan reksa dana. Namanya BukaReksa dengan logo kombinasi antara Rp+ dan grafik menanjak.
2Untuk yang pertama kali mengenal reksa dana, ada simulasi untuk mengetahui sikap, pengetahuan, dan kebutuhan anda dalam berinvestasi. Setelah uji wawasan reksa dana selesai, anda akan ditawarkan lagi untuk mengisi kuesioner untuk mengisi profil resiko agar tidak salah pilih dalam membeli produk.
3Sebelum membeli produk reksa dana, silakan daftarkan diri anda terlebih dahulu untuk memiliki akun reksa dana. Akun ini merupakan sebentuk KYC (know your customer) kalau di bank. Siapkan KTP, dan isi seluruh formulir yang tersedia. Kalau sudah aplikasi akan meminta anda untuk menunggu dua hari bursa untuk mengetahui apakah akun anda diterima atau ditolak.
4Sebelum aplikasi itu disetujui, anda bisa membeli reksa dana di menu produk. Silakan pilih produk yang, menurut saya, memiliki grafik bagus. Grafik ini muncul di samping nama produk yang akan dibeli. Sekadar informasi, saya membeli Reksa Dana Syariah Mandiri Bukareksa dengan nilai NAB Rp1.100-an per unit. Minimal pembelian adalah Rp10.000. Sehingga ketika saya membayar sebesar Rp25.000 hasil cashback pembelian rekening listrik, saya mendapatkan 22,4 unit NAB. Nah, NAB ini merupakan singkatan dari nilai aktiva bersih alias jumlah unit yang dikelola oleh manajer investasi atas produk reksa dana kita.
5Silakan beli reksa dana yang diinginkan. Proses ini sama seperti kita membeli barang di Bukalapak seperti biasanya. Pembelian ini akan diproses dua hari bursa. Jadi setelah pembelian, anda tidak akan langsung bisa melihat profil reksa dana anda di Bukalapak. Setelah pembelian berhasil, akan ada notifikasi yang muncul dari aplikasi Bukalapak. Setelahnya anda baru bisa melihat profil akun anda, dimana Bukalapak membuatnya dengan animasi tanaman yang cukup menarik.

Portofolio investasi di Bukalapak nanti tampilannya seperti ini.

Sebetulnya sangat tidak disarankan untuk memulainya dengan nominal Rp10.000 saja. Alangkah lebih baik, anda membeli paket yang disediakan. Misalnya ada paket reksa dana dengan beberapa produk dengan pembelian minimal Rp500.000. Sebab selain tumbuhnya lebih cepat, pemotongan saldo mengendap sebesar Rp10.000 tidak akan begitu berpengaruh terhadap nominal yang bisa diambil.

Mengikuti reksa dana tentu saja tidak bisa dipergunakan untuk kebutuhan mendadak. Itulah kenapa model tabungan semacam ini hanya diperuntukkan buat kebutuhan jangka panjang. Bahkan profilnya cenderung beresiko meskipun kita mengambil resiko paling rendah sekalipun. Sebab produk yang kita pilih tadi merupakan sebuah usaha yang memiliki kemungkinan (meskipun sedikit) untuk pailit.

Tetapi begitulah resikonya. Dan menurut saya resikonya cukup sepadan, sebab uang tersebut akan bertambah. Semakin besar kita menaruh uang, maka semakin besar pula resikonya. Tetapi peluang untuk cepat mendapatkan untung juga semakin besar.

Dengan mengikuti reksa dana ini, mudah-mudahan saya bisa memberikan THR kepada kepada keluarga.

Tentang Better Ads Standards dan Imbasnya pada Publisher Adsense

Buat yang membuka dasbor Google Adsense sekarang, pasti ada yang bertanya-tanya perihal kemunculan notifikasi Better Ads Standards Global. Notifikasi ini kemudian diikuti pemberitahuan tentang standar iklan yang lebih baik yang mulai berlaku pada 9 Juli 2019. Mulai tanggal tersebut maka iklan yang tidak memenuhi standar tidak akan muncul dan terlihat oleh pengguna.

Better Ads Standards

Apa itu Better Ads Standards?

Pada mulanya ada sebuah koalisi yang terdiri dari 128 perusahaan biro iklan. Mereka ini membuat sebuah standar tentang iklan yang muncul di internet, baik situs mobile maupun desktop. Standar ini mengatur tentang iklan mana yang akan muncul dan iklan mana yang tidak bisa muncul di peramban atau aplikasi pengguna situs. Penerapan standar ini sebelumnya diawali oleh sebuah penelitian.

Penelitian yang mendasari Better Ads Standards ini dilakukan di Eropa dan Amerika Utara (Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko). Ada 66.000 pengguna internet yang dijadikan sampel. Mereka diberikan berbagai macam iklan, mulai dari iklan banner biasa, iklan video, sampai iklan pop-up dengan waktu mundur. Penelitian ini berguna untuk meneliti tentang persepsi pengguna internet sebuah iklan.

Kesimpulan dari penelitian tersebut menghasilkan persepsi terhadap berbagai jenis iklan yang muncul di situs mobile dan situs desktop. Untuk situs mobile sendiri ada 8 jenis iklan yang kurang diminati bahkan cenderung mengganggu pengalaman menggunakan situs. Iklan tersebut antara lain: iklan pop-up, iklan yang muncul sebelum situs dibuka, iklan yang memenuhi 30% halaman situs, animasi flash, iklan yang muncul setelah situs dibuka dengan hitung mundur untuk ditutup, iklan bergulir yang memenuhi seluruh halaman, iklan besar yang menempel, dan iklan video bersuara yang berjalan secara otomatis.

Kemudian kesimpulan penelitian terhadap iklan pada situs desktop menghasilkan empat jenis iklan yang juga cenderung mengganggu. Iklan tersebut diantaranya: iklan pop-up, iklan video bersuara yang berjalan secara otomatis, iklan yang muncul sebelum situs dibuka dengan hitung mundur, dan iklan banner besar yang menempel. Iklan-iklan tersebut akhirnya diputuskan tidak memenuhi standar.


Hasil lain dari penelitian tersebut membuktikan juga kalau persepsi pengguna di Amerika dan Eropa tersebut ternyata sama atas sebuah iklan. Sehingga koalisi merumuskan bahwa persepsi yang sama pun akan ditunjukkan oleh pengguna lain secara global. Untuk itulah pada Januari 2019, koalisi memutuskan kalau standar tersebut harus mulai diterapkan. Dan tanggal pastinya sudah dirumuskan seperti diatas.

Imbasnya Bagi Publisher Adsense

Bersama Google Ads, Adsense merupakan ekosistem periklanan dari Google. Adsense yang menempatkan iklan, Google Ads yang menampung dan mencari pengiklan. Google sendiri merupakan anggota dari koalisi yang akan mematuhi Better Ads Standards. Sehingga sebagai produk layanan dari Google, baik Adsense maupun Google Ads tentu saja mengikuti standar tersebut.

Sebagai bagian dari ekosistem periklanan Google, publisher Adsense tentu wajar apabila bertanya-tanya tentang standar ini. Namun kalau dipikir-pikir, Adsense sendiri sebetulnya cukup lama menerapkan standar ini terhadap para publisher Adsense. Cuma ada beberapa publisher yang mengambil kesempatan dengan mengakali kode iklan untuk ditempel pada jenis iklan-iklan yang mengganggu, misalnya pada iklan besar yang menempel diam di halaman situs (sticky ads).

Untuk mengatasi publisher yang kurang memenuhi standar itulah, Google akhirnya mengambil momentum penerapan standar itu dengan melakukan bersih-bersih iklan melalui Chrome. Iklan yang tidak memenuhi standar tidak akan muncul di halaman yang sedang dibuka pengguna. Para publisher bisa melihat apakah iklan di situs mereka memenuhi standar atau tidak dengan mengunjungi Ad Experience Report. Tapi laporan ini baru efektif setelah tanggal 9 Juli 2019.

Nah, sebelum situsnya tidak bisa menampilkan iklan pada peramban sejuta umat Chrome, dipersilakan untuk mengulas sendiri di situsnya. Masih ada atau tidak ke-12 jenis iklan yang mengganggu tersebut. Kalau ada, ya tentu sangat disarankan agar segera dicopot agar situs tidak mendapatkan hukuman dari Google.

Buat saya sendiri, penerapan standar ini cukup fair. Artinya bakal ada persaingan yang sehat, sebab bakal tercipta publisher yang mematuhi penempatan iklan sesuai dengan standar. Jadi kalaupun bisa lolos dari patroli Adsense, kali ini Chrome pun ikut menyaring untuk membuat pengguna internet lebih nyaman.

Kalau pihak pengiklan dan publisher sudah memfokuskan agar pengunjung situs tidak terganggu dengan iklan yang mengganggu, ya masa sih tega buat memasang Adblocks, hehehe.

Cara Memasang Facebook Messenger di Blog

Pernahkah anda melihat situs-situs besar yang melayani konsumennya dengan plugin aplikasi chatting? Keberadaan aplikasi chatting ini tentu memudahkan bagi konsumen maupun calon konsumen untuk menghubungi pengelola situs. Sang empunya situs pun diuntungkan karena pelayanan terhadap calon konsumen dan konsumen lama terjaga dengan baik. Sehingga ada hubungan timbal balik dua arah yang saling menguntungkan.

Pada banyak situs besar, yang dipasang memang plugin aplikasi chatting yang kurang familiar bagi blogger seperti saya. Kalaupun bisa dicari cara-caranya di Google untuk pemasangan aplikasi tersebut, persyaratan dasar pun tidak bisa terpenuhi. Sebab biasanya aplikasi tersebut selain berbayar, juga hanya berjalan pada hosting mandiri baik dengan platform dari Wordpress, Drupal, Joomla maupun lainnya. Bagaimana dengan para pemakai platform Blogger?


Ya jangan berkecil hati terlebih dulu. Meskipun hanya memakai hosting gratis, domain gratis, dan memakai platform Blogger, anda tetap bisa memiliki tampilan seperti situs profesional yang memiliki plugin aplikasi chatting. Caranya bisa dengan memakai aplikasi chatting milik Facebook, yakni Facebook Messenger.

Aplikasi chatting yang dimiliki Facebook itu akan tampil di sudut kanan bawah dan memunculkan sapaan ketika sebuah laman dikunjungi. Istimewanya lagi, anda tidak perlu repot-repot berkunjung ke aplikasi pihak ketiga lainnya untuk membuka pesan yang dikirim pengunjung lewat aplikasi tersebut. Karena pesan itu akan masuk ke inbox pesan dari Fanpage yang dikaitkan. Kenapa tak direpotkan? Karena Facebook merupakan aplikasi yang sering dibuka, baik lewat komputer apalagi lewat smartphone.

Berikut ini cara memasang Facebook Messenger di blog:

1 Sebelum berlanjut ke cara membuatnya, pastikan dulu anda memiliki Fanpage Facebook. Cara membuat fanpage sudah banyak sekali bertebaran, termasuk di blog ini. Kalau sudah punya, silakan kunjungi situs facebook dengan komputer anda. Ingat ya, dengan komputer bukan melalui smartphone atau versi mobile.
2 Kalau situs Facebook sudah dikunjungi, silakan pergi ke fanpage yang sudah anda miliki. Lalu ke menu Pengaturan yang ada di bagian kanan atas, kemudian klik Platform Messenger yang ada di deretan menu sebelah kiri. Ada enam submenu lagi.


3 Pada submenu Pengaturan Umum, silakan masukkan domain blog anda secara lengkap, misalnya https://www.doel.web.id pada kolom yang tersedia di 'Domain dalam Daftar Putih'. Klik simpan hingga muncul keterangan 'Berhasil disimpan'.
4 Pada submenu Plugin Obrolan Pelanggan, klik 'Menyiapkan'. Anda akan diarahkan ke beberapa tahap tampilan pop-up. Tampilan yang pertama merupakan keterangan persiapan. Setelah klik 'selanjutnya', atur bahasa yang anda pergunakan. Saya mengaturnya kedalam Bahasa Indonesia. Kalau anda mau, sapaan "Hi! How can we help you?" bisa diganti sesuka anda. Setelah diganti, jangan lupa tekan 'Simpan'.


5 Selanjutnya adalah pengaturan warna balon percakapan yang bisa diganti-ganti sesuka hati anda juga. Untuk bagian ini saya memilih warna khas alami Facebook, yakni biru.


6 Pada tahap terakhir, masukkan kembali domain blog yang akan dipasangi Facebook Messenger ini. Klik simpan. Kemudian anda bisa memilih centang pada opsi instal. Saya memilih menginstal sendiri. Terakhir, anda tinggal menyalin kode snippet yang telah disediakan.


7 Selanjutnya silakan ke platform Blogger untuk menaruh kode snippet tadi. Buka menu Tema dan klik Edit HTML. Taruhlah kode snippet tadi di bawah kode <body> atau diatas </body>. Kalau diatas </body> ada </b:if> ya taruhlah diatas kode itu. Biasanya akan muncul kesalahan karena kode dari Facebook tidak memakai tanda petik pada attributin=setup_tool. Silakan kasih tanda petik pada kode tersebut sehingga menjadi attribution="setup_tool".

Silakan lihat hasilnya seperti apa. Kalau langkah-langkahnya sudah ditempuh, anda sudah berhasil. Sehingga anda bakal melihat di sudut kanan bawah dari blog anda akan muncul logo Facebook Messenger. Aplikasi ini biasanya tidak muncul pada homepage, namun hanya keluar ketika anda mengunjungi postingan. Pada template tertentu seperti yang saya pakai, Facebook Messenger hanya muncul kadang-kadang saja kalau dikunjungi melalui smartphone. Saya belum tahu penyebabnya.

Memasang Facebook Messenger di blog mudah 'kan? Silakan pertimbangkan kembali apakah blog anda membutuhkan aplikasi semacam ini. Pasalnya kode-kode semacam ini bisa menyumbang beratnya loading blog anda karena memanggil javascript dari tempat lain.

4 Update dalam Ketentuan Layanan Facebook yang Perlu Diketahui

"Idih, banyak iklan bener sih Facebook ini?"

Mungkin banyak yang bertanya semacam itu. Facebook memang membanjiri layanannya dengan iklan. Ada iklan di bawah unggahan tautan, diantara jeda video, dan yang paling sering biasanya postingan dengan tulisan 'sponsored' di beranda Facebook.

Satu hal lain yang kerap ditanyakan adalah mengapa status atau postingan yang telah diunggah tiba-tiba hilang. Facebook memang kerap membabat unggahan siapapun, bahkan hingga akun yang mengunggahnya. Mungkin masih segar di ingatan ketika akun Abu Janda Al-Boliwudi disikat karena dianggap memiliki lalu-lintas yang tidak normal.

Lalu-lintas yang tidak normal yang dialami oleh akun Abu Janda merujuk pada sebuah kejadian dimana akun-akun palsu membanjiri akun tersebut dengan like, komentar, maupun share. Ketidaknormalan ini disebabkan akun tersebut hanya berasal dari beberapa IP Address yang sama. Ini merupakan pelanggaran bagi Ketentuan Layanan Facebook.

Nah, sebelum misuh-misuh atau menuduh Facebook melakukan konspirasi, silakan bertanya pada diri sendiri: sudahkah membaca Ketentuan Layanan Facebook? Ya, Term of Service kata orang Inggris, semestinya dibaca terlebih dahulu sebelum menggunakan layanan. Sehingga selain mengetahui apa saja yang diatur, diperbolehkan, dan dilarang, pengguna juga memahami kalau layanan tersebut memiliki tujuan tertentu.


Akhir Juni ini, Facebook sudah menyiapkan draft Ketentuan Layanan yang akan berlaku pada 31 Juli 2019 mendatang. Pada periode sosialisasi ini Facebook berharap agar sebagai pengguna layanannya, kita membaca ketentuan yang sudah diatur mereka.

Sebenarnya suka-suka Facebook juga sih mau apa terhadap platform miliknya. Karena Facebook juga berbisnis dengan data yang kita unggah dan dengan perilaku yang kita lakukan didalam platformnya, maka perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg ini harus membuat tata aturan yang kemudian disandingkan dengan hukum positif yang berlaku secara global.

Jadi biar tidak misuh-misuh lagi, dan bertanya 'saya salah apa?', sebaiknya perlu diketahui apa saja yang diatur dalam Ketentuan Layanan Facebook. Kalau tidak memiliki waktu banyak untuk mempelajarinya, sesuai informasi yang disediakan newsroom.facebook.com maka saya ringkas menjadi empat hal yang diperbarui dalam ketentuan tersebut.

1. Facebook memperjelas bagaimana mereka mendapatkan uang.

Ya, kita tahu kalau menggunakan Facebook itu gratis. Tetapi sejatinya tidak betul-betul gratis, sebab kita membayarnya dengan memberikan data pribadi, aktivitas, dan minat, sehingga mereka bisa memberikan iklan yang relevan.

Meski dalam beberapa kasus data kita bisa dipanen oleh pihak ketiga, tapi Facebook juga berurusan dengan hukum yang berlaku atas kelalaiannya. Dan ini diatur juga dalam ketentuan yang lain. Disini Facebook menjelaskan kalau kita semua yang memakai Facebook memang dipergunakan untuk 'dijual' kepada para pengiklan.

Anda akan paham hal ini kalau memosisikan diri sebagai pengiklan di Facebook. Di platform Ads Manager, Facebook akan memberikan rincian secara global tentang data yang sudah dikumpulkan dari mulai lokasi, jenis kelamin, pendidikan, minat, dan lain-lain. Dengan begitu, pengiklan akan memilih mana dari pengguna Facebook yang kira-kira sesuai dan akan membeli produknya.

2. Facebook merinci tentang konten yang dihapus.

Pernah enggak ketika konten anda, baik status maupun postingan hasil share, tiba-tiba dihapus oleh Facebook? Apakah Facebook memberikan penjelasan mengapa konten tersebut dihapus? Ya, tidak. Facebook tidak menjelaskannya.

Dalam pembaruan ketentuan kali ini, Facebook akan menjelaskan yang terjadi kenapa konten anda dihapus. Dalam beberapa waktu kemarin, Facebook sudah mencobanya. Dan saya pikir ini sangat baik, sebab kita bisa tahu apakah keputusan Facebook itu salah atau memang sudah tepat. Kalau keputusannya salah, kita pun bisa mengajukan banding dan menyanggah kalau penghapusan itu tidak tepat.

3. Facebook meminta izin untuk menggunakan properti intelektual kita.

Ketika anda mendaftar di Facebook, bahkan secara umum di internet, maka konten yang telah diunggah itu akan tersebar kemana-mana. Namun yang perlu dicatat adalah konten tersebut masih tetap milik anda. Misalnya konten blog anda dimuat di blog lain. Itu tidak masalah selama ada pencantuman sumber yang jelas.

Facebook pun seperti itu. Ketika sebuah konten diunggah di Facebook, maka konten tersebut bebas dipergunakan oleh Facebook dimanapun. Anda tetap sebagai empunya konten tersebut selama anda belum menghapusnya. Salah satu contoh penggunaan properti anda adalah ketika Facebook mengklaim anda menyukai layanan tertentu dalam konten bersponsor, misalnya "Tomi, Alex, Warjo, dan 3 teman lainnya menyukai DOEL web id". Nah, Facebook menggunakan properti yang melekat pada Tomi, Alex, dan Warjo.

4. Apa yang terjadi ketika kita menghapus konten di Facebook?

Facebook bakal tetap menyimpan konten yang dihapus tersebut di server-nya selama 90 hari setelah konten itu dihapus oleh pengguna. Namun perlu dicatat, Facebook tidak akan memperlihatkan konten tersebut kepada publik. Ini semacam cookies bagi konten yang diunggah di layanan Facebook.

Menurut saya, ini berfungsi barangkali sebagai sarana penyelidikan bagi tindak pelanggaran UU ITE. Jadi yang perlu diketahui bagi para pelapor maupun advokatnya, proses permintaan barang bukti yang telah dihapus sebelum di-screenshot bisa diperoleh dari Facebook. Asal sesuai durasi yang sudah ditentukan. Maka sekali lagi berhati-hatilah mengunggah konten. Meskipun bisa dihapus, tapi tetap bisa dilacak. CMIIW.

Buat yang memperhatikan Ketentuan Layanan Facebook ini, memang tidak akan menemukan hal baru yang diatur. Semuanya merupakan aturan lama yang sudah hadir sejak lama. Namun kalau dicermati, Facebook memberikan rincian pada ketentuan layanannya kali ini, sehingga perkara teknis yang kerap dipertanyakan sudah dijabarkan dalam halaman update tersebut.