20 Juli 2018

Betulkah Ponsel Menguping Percakapan Pengguna? Ini Faktanya

Beberapa orang ada yang merasa aneh dengan beragam iklan yang bertebaran di akun media sosial miliknya. Pasalnya iklan-iklan tersebut berada diluar preferensinya ketika menggunakan internet. Namun iklan ini muncul setelah dirinya berbincang-bincang dengan seorang teman dalam tema yang sama dengan iklan tersebut. Darimana media sosial tersebut bisa mengetahui perbincangan tersebut?


Satu-satunya tersangka atas siapa yang membocorkan percakapan tersebut di internet adalah ponsel. Karena benda inilah satu-satunya yang selalu ada di samping dan menjadi jalan terciptanya transmisi dari dunia nyata ke media sosial. Ponsel memiliki mikrofon yang memungkinkannya untuk merekam percakapan. Rekaman tersebut yang pada akhirnya dipergunakan oleh media sosial untuk menciptakan iklan yang tertarget. Tapi, benarkah demikian?

Isu ini beredar memang belum lama, namun tidak juga bisa dibilang sebentar. Sebab ketika Google merilis instruksi "Hello Google" untuk membuka fitur pencariannya, menguatlah asumsi bahwa ponsel memang bisa mendengarkan percakapan penggunanya. Ditambah lagi, isu ini kerap menjadi perbincangan warganet luar negeri dan juga Indonesia.

Ini beberapa contohnya.



Yang jelas Facebook telah membantah kalau mereka menggunakan mikrofon untuk mendengarkan percakapan penggunanya. Facebook, yang juga memiliki WhatsApp dan Instagram, memang memiliki akses terhadap mikrofon. Hanya saja mikrofon ini dipergunakan untuk melakukan perekaman suara dalam video, baik live maupun recorded.

Sementara itu, mereka hanya melakukan penargetan iklan berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan beberapa preferensi lainnya, bukan dengan cara mendengarkan pembicaraan penggunanya.

Kalau percaya terhadap pengakuan Facebook, maka bisa jadi Google pelakunya. Raksasa industri teknologi ini paling mungkin menjadi biang kerok dari perekaman percakapan dan memunculkan iklan tertarget ini. Pertama, dialah pembuat sistem operasi sejuta umat Android. Kedua, Google juga punya ekosistem periklanan yang mengharapkan iklannya tertarget juga.

Dan hal yang cukup mengejutkan dari pertanyaan apakah ponsel anda merekam percakapan? Jawabannya memang menyebalkan: ya. Dan pelakunya memang Google. Tapi sebelum mencak-mencak kalau Google melakukan apa yang dituduhkan diatas, saya hanya bilang tunggu dulu.

Google memang merekam percakapan penggunanya, namun hanya dengan syarat-syarat tertentu. Syarat pertama adalah Anda mengizinkan Google mengakses mikrofon dalam ponsel. Yang kedua, Google Apps dalam kondisi dipergunakan. Untuk mengetahuinya, Anda bisa melihat rekaman apa saja yang telah didapatkan Google dari Anda.

Silakan berkunjung ke halaman Google My Activity, dimana Anda bisa melihat aktivitas Anda dalam menggunakan Google dan aplikasinya. Dalam kolom pencarian, klik terlebih dulu Filter by date & product pada bagian atas. Kemudian hapus ceklis pada All products dibawah Filter by Google Product. Lalu ceklis pada bagian Voice & Audio. Klik kembali tombol Search. Lalu lihat bagaimana hasil pencariannya.


Disitu memang banyak sekali tombol Play, yang menandakan banyak rekaman suara yang berhasil diperoleh Google. Tapi coba Anda putar rekaman tersebut, maka yang terdengar hanya potongan-potongan kecil dari suara Anda sendiri atau mungkin lingkungan sekitar Anda. Yang jelas, rekaman itu didapatkan ketika Google Apps maupun Google Assistant terbuka. Intinya, Google tidak mendengarkan percakapan Anda sebagaimana kasus diatas. Jadi siapa dong?

Teknologinya Masih Mahal

Google dan berbagai pengamat teknologi pun tidak menutup kemungkinan kalau ponsel bisa dipergunakan untuk mendengarkan percakapan dan menjadikannya sebagai bahan dalam iklan tertarget (atau bisa juga tujuan mata-mata). Namun teknologi untuk mewujudkannya masih sangat mahal. Bisa-bisa Google atau perusahaan manapun bisa tekor kalau melakukannya.

Untuk mewujudkan konversi dari suara ke kode yang kemudian yang dibaca oleh algoritma periklanan membutuhkan server data yang besar. Ini yang mahal. Katakanlah setiap kali Google mengirimkan data hasil percakapan dengan kilobit data yang paling efisien yakni dalam bentuk iLBC 15kbps VOIP Codec ke server. ILBC ini mengirim data sebesar 112 KB permenit, kemudian 6,7 MB perjam, 162 MB perhari, dan 59 GB data pertahun untuk memonitor percakapan setiap harinya.

Kalau disaring hanya satu jam saja percakapan itu direkam, maka kebutuhan penyimpanan memang hanya 2,5 GB per tahun. Tapi ini tetap besar, sebab ada 2,5 miliar ponsel diluar sana. Sehingga kalau disimpan, maka butuh alokasi 6 eksabit di server. Ya, angka ini masih tetap besar, meski untuk Google. Dan ini untuk urusan menyimpan data saja.

Kemudian kalau berbicara konversi dari suara ke teks sendiri pun tak murah. Untuk 15 detik percakapan biayanya sebesar $0,006. Kalau merekam sehari cuma satu jam, maka setahun sudah $525. Itu untuk seorang pengguna dan satu ponsel. Bagaimana dengan 2,5 miliar ponsel? Maka dibutuhkan biaya $1,31 triliun untuk memproses suara ke teks yang akan dibaca oleh algoritma periklanan. Dan itu hanya teknologi konversinya, belum terhitung sumber daya pendukungnya.

Kalau biaya untuk memprosesnya sedemikian mahal, maka cukup masuk akal kalau biro periklanan tidak memakai cara tersebut untuk membuat iklan jadi lebih tertarget. Memang sih, dengan berdasarkan bacaan atas aktivitas pengguna ponsel di internet saat ini, kadang-kadang yang namanya iklan tertarget pun targetnya sering meleset. Kitanya beraktivitas apa, iklannya apa. Tapi bukan berarti mereka harus rela merugi untuk sesuatu yang mahal.

Lalu Siapa Pelakunya?

Untuk sebuah pertanyaan 'Apakah ponsel mendengarkan percakapan penggunanya untuk memunculkan iklan tertarget?' memang sampai saat ini belum ditemukan jawaban yang pasti. Yang jelas beberapa tersangka utama sudah dieliminir secara alami.

Tapi pada prinsipnya begini, ada ratusan iklan yang Anda lihat setiap hari di internet. Dari sekian ratus itu, pastilah ada satu-dua iklan yang memang sesuai dengan minat Anda pada waktu tersebut. Anda pasti selalu terfokus pada iklan yang sesuai minat Anda, apalagi baru saja menjadi bahan pembicaraan, tapi Anda mengabaikan iklan yang tidak sesuai yang jumlahnya bahkan bisa lebih banyak. Kemungkinan besar, itulah yang terjadi.

____
Sumber:
1. Android Authority
2. CBS News
3. Google
4. Sumber lain

15 Juli 2018

Alternatif Google Adsense Yang Prospektif

Rasa-rasanya banyak bloger yang merasakan betapa hampir putus asanya nge-blog ketika daftar Google Adsense ditolak. Rasa putus asa bahkan bertambah ketika sudah diterima oleh platform periklanan Google ini, kemudian di-banned tanpa ada penjelasan sama sekali.

Pada saat itulah kalau putus asa tidak semakin parah, ada keinginan untuk melirik alternatif Google Adsense. Di internet, banyak sekali alternatif Google Adsense yang bertebaran. Bahkan ketika mengetikkan kata kunci 'alternatif google adsense' maka berlomba-lombalah berbagai platform periklanan memajang tagline sebagai alternatif Adsense.

Banyak bloger yang memakai alternatif itu untuk waktu yang lama. Sayangnya, ketika ia mendaftar kembali ke Adsense dan diterima, platform alternatif itu ditinggalkan begitu saja. Sebab banyak platform periklanan yang tidak bisa disandingkan dengan Adsense. Biasanya platform yang tidak bisa ini karena sama-sama pay-per-click atau memang Adsense sendiri menganggapnya sebagai pengganggu ekosistem.

Intinya Adsense masih menjadi favorit dari mayoritas bloger yang melakukan monetisasi situsnya. Tapi ada satu lagi alternatif yang kali ini bisa disandingkan dengan platform Google ini. Karena platformnya yang bukan merupakan platform periklanan, juga karena tak perlu tampil secara menyeluruh di setiap laman situs.


Namanya JSECoin. Ya, dilihat dari namanya JSECoin merupakan cryptocurrency. Dan lazimnya cryptocurrency, untuk mendapatkan keuntungan, kalau bukan bertindak sebagai miner maka ikut trading atau menjadi refferal crypto-exchange adalah pilihannya. Lantas kenapa bisa menjadi alternatif Adsense?

Sesuai dengan namanya, JSECoin adalah Java Script Embedded Coin, sebuah platform blockchain yang cara menambangnya menggunakan platform java script yang biasa digunakan oleh bloger dan webmaster. Cara memasangnya sangat mudah, anda bisa langsung ke platform.jsecoin.com lalu create account atau login kalau sudah punya akunnya. Pada menu Publisher, silakan setup situs anda agar mendapatkan kode java script JSECoin.

Kode itulah yang kemudian dipasang di situs. Sekali pengunjung situs mengijinkan atau menekan tanda continue, maka JSECoin akan melakukan penambangan blockchain di perangkat pengunjung. Pengunjung situs juga bisa menolak dengan memilih opt-in. Sepengalaman saya dan beberapa pengakuan bloger maupun webmaster yang memakai JSECoin, situs miliknya tidak bertambah berat setelah dipasangi java script tadi. Pun dengan proses loading yang dialami oleh pengunjung.

Mengapa JSECoin dianggap prospektif?

Saat ini JSECoin sedang dalam proses ICO atau Initial Coin Offering, persis sama dengan IPO dalam perusahaan biasa. Setelah ICO selesai pada 11 Oktober 2018 nanti, nilai tukarnya bakal muncul di cryptocurrency exchange atau bursa efek blockchain. Saat ini untuk melakukan investasi atau membeli koin dan berpartisipasi dalam ICO, 1 JSE dihargai $0,006. ICO ini pun menerima koin Ethereum, yang dihargai dengan 1 ETH = 75.000 JSE.

Satu hal yang menarik buat saya sendiri adalah bukan hanya soal nominal semata apabila hard cap dari ICO itu tercapai, namun berulangkali dari para webmaster mengatakan, JSECoin telah mewujudkan teknologi yang jauh lebih baik dalam menambang cryptocurrency. Sebab sumber daya dalam menambang blockchain telah didistribusikan kepada pengguna situs, dan tentunya dengan pemberitahuan terlebih dahulu.

BACA JUGA:

Hal ini membuat para bloger seperti saya bisa mengadaptasinya untuk melakukan monetisasi. Dan kabar baiknya, JSECoin bisa disandingkan dengan Adsense atau platform periklanan lain yang serupa. Ya iyalah bisa, JSECoin 'kan bukan platform periklanan.

Ya memang agak kurang tepat kalau disebut monetisasi. Sebab saat ini JSECoin belum ada nilainya di pasaran. Diulangi lagi, JSECoin baru akan bernilai kalau ICO-nya sukses. Kemudian pemilik JSECoin bisa melakukan trading (menjual atau membeli lagi) koin ini di crypto-exchange yang menyediakan. Kemudian barulah dollar-nya bisa dinikmati.

Jadi kalau melakukan penambangan JSECoin saat ini memang tidak bernilai apa-apa. Tapi saya pun tidak mengalami kerugian apapun. Terlebih pengunjung saya tidak mengalami proses loading situs yang bertambah berat.

Yang perlu dicatat adalah kalau JSECoin ini berhasil mencapai ICO, maka yakinkan saja penambangnya bakal semakin banyak. Banyak bloger yang bakal memasang kode java script-nya, dan tentu saja untuk mendapat satu koin bakal butuh perjuangan yang keras. Karena persediaan koinnya semakin sedikit dan harganya bisa meningkat sesuai hukum ekonomi. Sekedar memberi tahu, JSECoin saya saat ini sudah 12.000 koin lebih. Silakan anda menghitung kalau saja 1 JSE = $0,5. Lumayan lah buat beli kuota.

Saya tetap menyebut pertaruhan ini sebagai sesuatu yang prospektif, bukan sebuah spekulasi. Sebabnya jelas, saya tak mengeluarkan uang sepeserpun untuk menambang JSECoin. Bahkan untuk yang ikut ICO, dan ICO tersebut gagal, uangnya pun tetap akan dikembalikan. Dari beberapa situs pemeringkat ICO, JSECoin pun mendapatkan rating yang lumayan, rata-rata 4,8 dari 5 poin atau diatas 7 dengan penilaian 10 poin.

Jadi tunggu apalagi untuk ikut memasang JSECoin di situs anda atau ikut menambangnya di Google Chrome. Yuk, ke platform.jsecoin.com (tenang, tak ada kode refferal), dan segera menambang.

Update ICO JSECoin bisa dilihat disini: jsecoin.com/ico.

Sekian artikel ini, semoga bermanfaat.

13 Juli 2018

LG G7+ ThinQ, Flagship LG dengan Jeroan Canggih dan Suara Menawan

Masyarakat Indonesia lebih mengenal LG sebagai brand pembuat peralatan elektronik rumah tangga dibandingkan produsen ponsel pintar. Nasib ini pun menimpa LG G7+ ThinQ, ponsel premium dari pabrikan Korea yang sudah resmi dipasarkan di tanah air. Warganet tampak tak begitu antusias menyambut pre-order ponsel ini seminggu terakhir. Padahal kurang apa sih LG G7+ ThinQ ini?

Dari segi tampilan, memang mainstream banget sih LG G7+ ThinQ ini. Meski begitu, material kaca Gorilla Glass 5 yang menyelimuti body depan belakang membuat ponsel ini memiliki tampilan glossy nan premium. Memang sih, begitu dipegang permukaan yang mengkilap tadi rentan dengan bekas sidik jari, tapi tak begitu parah sebab sepertinya ada coating yang khusus. Untuk memisahkan bagian depan dan belakang, di pinggiran ponsel ini melingkar bingkai aluminum yang membuatnya tampak kokoh.

Di bagian depan, LG G7+ ThinQ dihuni layar IPS LCD dengan lebar 6,1 inci, yang memiliki rasio 19,5:8. Layar dengan kerapatan piksel 1440 x 3120 ini cukup istimewa, sebab di setiap pikselnya ditambahi lagi dengan piksel putih. Hasilnya gambar yang dihasilkan menjadi cerah. Cukup? Ternyata tidak, sebab ada lagi keistimewaan layar dengan densitas ~564 ppi ini. Layar ini pun mampu menghasilkan cahaya sebanyak 1000 nits, sehingga ketika ponsel dipakai di tengah terik mentari, layarnya masih tampak jelas.

Satu hal lagi dari layar LG G7+ ThinQ yang paling terlihat adalah adanya poni. Kalau ada yang bilang poni hanya sekedar tren, sebetulnya benar juga, tapi kurang tepat. Sebab poni merupakan tempat bagi kamera depan dan ambience sensor, tanpa menghalangi layar untuk jadi lebar. Sayangnya, meski ngetren ada saja yang tak suka dengan poni. Makanya LG membuat pengaturan layar yang bisa menyamarkan poni ini dengan warna hitam atau warna gradasi RGB. Masya Allah cantik sekali.

Pada bagian belakang, LG memasangkan dua kamera dengan desain vertikal. Please, setelah poni, jangan bilang ini pun terinspirasi dari iPhone. Sebab LG memasang dua kamera tersebut bukan di pinggir, tapi di tengah ponsel. Walaupun sama-sama beresolusi 16 MP, dua kamera ini memiliki fungsi yang berbeda.

Satu kamera dengan bukaan f/1.6 memiliki fungsi sebagai kamera utama, sementara kamera kedua dengan bukaan f/1.9 digunakan untuk mengambil gambar dengan sudut lebar, atau kalau keminggris disebut  super wide angle. Sementara itu kamera bagian depan memiliki resolusi 8 MP dengan bukaan f/1.9.

Masih di seputaran body belakang, LG menempatkan sensor autofokus dan flash di samping dua kamera tersebut. Sementara itu di bagian bawahnya ada sensor sidik jari berbentuk bulat yang disusul dibawahnya ada logo G7 ThinQ. Loh, kog logonya gitu? Plus-nya mana? Sabar, nanti dijelaskan.

Masuk ke bagian dapur pacu, LG memasang chipset unggulan dari Qualcomm, yakni Snapdragon 845 dengan octa-core dengan kecepatan 2,8 GHz. Untuk urusan grafis dipercayakan pada Adreno 630. Ya memang LG G7+ ThinQ bukanlah yang pertama hadir di Indonesia dengan chipset kelas premium ini. Ada Asus Zenfone 5z yang telah mendahuluinya. Ya tapi kalau menjadi yang pertama tapi kemudian susah ditemukan alias ghaib, buat apa?

LG G7+ ThinQ hadir dengan dua varian RAM dan memori. LG tampaknya ingin masuk di pasar tanah air yang sudah dihuni Samsung Galaxy S9 maupun Apple iPhone 8 daripada harus turun di kelas yang dihuni oleh flagship nanggung seperti Zenfone 5z, Honor View 10, maupun Nokia 8. Itulah kenapa LG membawa varian tertinggi dari LG G7 ThinQ, yakni RAM 6 GB dan memori 128 GB, yang kemudian untuk membedakannya disebut LG G7+ ThinQ. Sementara LG G7 ThinQ memiliki RAM 4 GB dengan kapasitas penyimpanan 64 GB.

LG G7+ ThinQ berjalan di Android Oreo 8.0 tanpa banyak kustomisasi. Kalau pernah memakai Samsung, user interface-nya 11-12 lah. Sama-sama simpel. Kabarnya, LG G7+ ThinQ ini akan segera mendapatkan pembaruan Android P 9.0 sesaat setelah dirilis secara resmi.

Agar lebih afdhol sebagai ponsel kelas premium, LG G7+ ThinQ punya beberapa fitur sebagai nilai tambah. Pertama, dari sisi soundsystem ada Boombox dan Hi-Fi Quad-DAC. Boombox dengan dukungan DTS-X 3D merupakan teknologi LG yang mampu memaksimalkan ruang ponsel untuk menciptakan suara speaker internal yang maksimal. Jadi melalui Boombox ini, suara yang dihasilkan bakal lebih ngebass, kencang, namun tetap jernih.

Kalau Quad-DAC ini merupakan teknologi yang mirip, tapi berlaku ketika LG G7+ ThinQ dipasangi earphone atau headphone. Quad-DAC bakal mengurangi noisy, impedansi, dan distorsi, tapi disisi lain meningkatkan dynamic range suara sehingga menghasilkan bunyi yang renyah dan alami di telinga.

Fitur kedua adalah AI atau kecerdasan buatan. Ponsel LG yang memiliki AI ditandai dengan frase ThinQ, yang kalau dilafalkan bisa berbunyi think you. Ya, sedikit maksa sih, tapi suka-suka LG lah.

AI yang pertama ada di kamera. AI ini pertama kali dipakai oleh LG V30S ThinQ, yang berguna untuk memilah-milah frame dalam sekali jepretan kamera, kemudian menyajikan filter yang paling pas agar menghasilkan gambar terbaik.

Untuk AI yang kedua di LG G7+ ThinQ, LG memercayakan pada Google Assitant dan Google Lens. Google Assistant bakal membantu pengguna untuk mengoperasikan ponsel, sementara Google Lens fungsinya mirip Bixby Vision yakni bisa memunculkan data dari gambar yang ditampilkan di Google Photos maupun kamera secara langsung. Kecuali Google Lens yang muncul pada kamera secara langsung, Google Assistant dan Google Lens pada Google Photos sudah bisa dinikmati di ponsel kelas mid-range. Bedanya pada LG G7+ ThinQ, kedua kecerdasan buatan ini bisa diakses instan lewat tombol di bawah tombol volume dan power. Lalu buat apa beli mahal-mahal ponsel flagship ini?

BACA JUGA



Iya, kalau dipikir-pikir buat apa mengeluarkan kocek hingga Rp11.499.000 hanya untuk menikmati performa yang bisa didapatkan pada ponsel flagship yang lebih murah? Apalagi baterainya tergolong kecil, cuma 3,000mAh.

Jawabannya adalah LG G7+ ThinQ ini diiklankan oleh BTS atau Bangtan Boys, boyband asal Korea yang sedang kondang itu. Eh, serius? Ya enggaklah, kecuali anda penggila K-Pop terkhusus BTS, ya mungkin saja.

Ada banyak nilai lebih dari sebuah ponsel flagship, sebab ketika sebuah ponsel memasuki kelas premium maka segala bagian dari ponsel itu mestilah nomor satu. Jadi bukan bagian tertentu saja yang dijadikan sales point, namun menihilkan atau mengurangi spesifikasi bagian yang lain agar harganya lebih rendah. Dan LG sepertinya ingin all out di kelas flagship, dan dalam jangka panjang ingin lepas dari bayang-bayang rekan senegaranya, Samsung.

12 Juli 2018

Bukan Cuma Harga dan Spesifikasi, Inilah Yang Wajib Dipertimbangkan Sebelum Beli Smartphone

Pertimbangan dalam membeli smartphone selalu dikaitkan dengan harga dan spesifikasinya. Kalau muncul smartphone terbaru, banyak yang membandingkannya dengan smartphone yang sudah keluar sebelumnya di rentang harga yang setara.

Katakanlah smartphone terbaru dengan spesifikasi Snapdragon 425 octa core 1,4 GHz, RAM 3 GB dan memori internal 32 GB, dibanderol dengan harga Rp1.799.000. Sementara dengan harga yang sama, kamu bisa mendapatkan smartphone dengan dapur pacu Snapdragon 450 octa-core 1,8 GHz, dengan RAM dan memori internal serupa dari merek sebelahnya. Kebanyakan warganet biasanya akan dengan cepat mengulik harga dan spesifikasi tersebut, kemudian dengan enteng membuat hestek #mending-mendingan.


Buat yang tersirat di pikirannya kalau artikel ini bakalan menyindir Mifans, ya kamu benar, meski tidak sepenuhnya begitu. Sebab tahun ini, budget phone bukan cuma milik Xiaomi saja. Ada banyak merek yang melakukan penetrasi di pasar smartphone murah dengan spesifikasi yang cukup mewah. Setiap kali muncul smartphone baru, banyak pengulas gawai menyebutnya Xiaomi-killer. Sebutan ini karena si 'beras kecil' itu memang dikenal sebagai pionir budget phone.

Meskipun Xiaomi tak juga 'mati' walaupun banyak yang berupaya membunuhnya, produksi smartphone murah dengan spesifikasi yang mewah tadi sudah bergeser ke banyak merek. Kemarin kita melihat betapa luar biasanya hype Asus Zenfone Max Pro M1, dan vibe-nya hingga sekarang masih cukup terasa. Asus pun merilis Zenfone Live L1 yang ditengarai sebagai budget phone dari pabrikan asal taiwan ini.

Advan pun merilis Advan i6 yang diklaim sebagai budget phone dengan fitur yang kaya namun banderolnya satu jutaan saja. Dan pelan namun pasti, ada Infinix yang secara konsisten merilis seri Hot untuk bertarung di kelas budget phone tadi. Huawei punya Y5 Prime, dan ‘anaknya’, Honor punya 7A. Diluar beberapa merek itu, tentu masih banyak.

Jadi kalau berbicara "jangan melihat smartphone dari harga dan spesifikasinya" itu pasti menyindir merek tertentu, fix kamu kurang banyak membuka situs Mojok terutama kolom Konter. Sebabnya karena sudah banyak merek yang memproduksi budget phone seperti diatas. Ditambah lagi, penetrasi smartphone flagship di Indonesia enggak begitu nggilani. Banyak produsen ponsel yang bermain aman dengan memproduksi  dan memasukkan smartphone di kisaran harga sejutaan dan dua jutaan di tanah air ini.

Lantas mengapa pertimbangan membeli smartphone sebaiknya tidak hanya melihat perbandingan harga dan spesifikasi yang ditawarkan saja? Sebab ada beberapa faktor lain yang semestinya dipertimbangkan pula.

Pertama, pengalaman pengguna dalam menggunakan smartphone biasanya menjadi faktor yang penting. Pengalaman pengguna atau biar keminggris sebut saja user experience dan disingkat UX saja, merupakan tujuan akhir dari desain yang dibesut oleh para produsen smartphone. Seorang desainer UX pasti tahu kalau ditanyakan mengapa sebuah sensor sidik jari di belakang, posisinya berada di tengah dan sedikit keatas. Begitu juga tombol dan fungsi lainnya yang berkaitan dengan penggunaan, peletakkannya seolah mainstream banget. Lama-lama memang terkesan konvensional.

Desain yang konvensional ini bukan tanpa sebab. Karena desain itu sudah melewati riset dan penelitian yang objeknya merupakan pengguna smartphone juga. Sehingga desain itu berbasis kebutuhan pengguna terhadap kenyamanan dalam menggunakan smartphone.

Kenyamanan ini semestinya dipertimbangkan dengan baik, karena smartphone cakep dengan spesifikasi gahar dengan harga yang dipangkas habis-habisan boleh jadi tidak nyaman saat digunakan. Buat apa cakep kalau enggak bikin nyaman, ya ‘kan? Mending putus! #eh...

Kedua, mengenai layanan purnajual. Layanan purnajual menjadi faktor lain yang sebaiknya dipilih ketika membeli sebuah smartphone. Sebabnya apa? Manusia itu diberikan perasaan bosan, iri hati, dan cemburu yang lumayan besar, sehingga punya potensi yang tidak setia. Termasuk tidak setia kepada smartphone, atau sebaliknya.

Smartphone yang baru dirilis sering menjadi ‘racun’ bagi sebagian orang. Sehingga banyak yang rela menjual smartphone lamanya demi mendapatkan yang baru. Kalau smartphone yang memiliki layanan purnajual yang baik, maka harga jual kembalinya pun cukup tinggi. Jadi kalau ada kamu bukan tipe setia, ya sebaiknya mempertimbangkan betul soal ini.

Sayangnya, produsen smartphone yang memiliki layanan purnajual yang baik selalu menjual smartphone-nya dengan harga yang tak murah. Soal ini, mau tak mau memang Samsung yang mesti dijadikan contoh. Serius, saya tidak dibayar, dan Mojok pun belum tidak dibayar juga oleh Samsung. Ini murni karena pabrikan asal Korea ini masih stabil di pasaran, toko offline-nya banyak, dan tempat servisnya pun melimpah.

Kalau membeli smartphone dengan bekal murah dan spesifikasi bagus saja, khawatir kalau ada apa-apa langsung dibuang begitu saja. Kemudian jangan pun mengeluh di Twitter, sebab bakal dinyinyiri warganet, “Beli murah aja banyak maunya, dasar #OKB.”

Ketiga, inovasi dari produsen smartphone. Di tengah desain yang rata-rata mirip dari produsen smartphone, selalu ada pionir yang memulainya. Apple sering disebut pionir untuk urusan inovasi, baik dari sisi desain, fitur, maupun strategi membangun brand value. Contohnya desain body iPhone 7 yang sampai sekarang masih banyak ditiru oleh produsen smartphone lain. Dan yang kini cukup mencolok adalah penggunaan poni, dimana iPhone X menjadi yang pertama mempopulerkannya.

Banyak yang menyebut kalau Apple senantiasa merilis smartphone dengan harga yang overpriced. Meski sebutan itu tak sepenuhnya salah, namun ada alasan mengapa Apple berbuat demikian. Yang pertama tentu saja karena pasar Apple sudah stabil, sehingga apapun kata orang, tak menggoyahkan posisinya sebagai runner up pasar smartphone secara global dan selama beberapa tahun menduduki posisi pertama. Berdasarkan laporan Counterpoint untuk kuartal I tahun 2018, Apple berada di posisi kedua dengan angka 14,5 %, dimana Samsung memimpin di angka 21,7 %.

Yang kedua soal biaya riset dan pengembangan Apple yang pada 2017, menurut Statista.com, menghabiskan USD10 miliar, dan masih dibawah Samsung yang menghabiskan USD12,7 miliar.

Inovasi yang membuat smartphone produksi Apple sering diimitasi, selalu diawali dari riset yang menghabiskan dana miliaran dollar itu. Mahalnya biaya itu kemudian dibebankan kepada pembeli smartphone. Pola Apple ini jangan disamakan dengan pabrikan yang hanya bisa mencontek terinspirasi desain yang sudah ada, sehingga bisa melepas smartphone-nya dengan harga yang lebih rendah.

Ketiga hal itulah yang membuat harga dan spesifikasi selalu tidak bisa dijadikan tolok ukur dari bagus-tidaknya sebuah smartphone. Dan ketiganya seharusnya menjadi pertimbangan tambahan ketika akan membeli smartphone. Kalau dijadikan tag kampanye, ketiga hal itu boleh saja diringkas menjadi nyaman, aman, dan inovatif.

Tapi kalau budget-nya pas-pasan, lalu menginginkan smartphone dengan spesifikasi yang mumpuni ya apa boleh buat. Sayangnya, smartphone demikian pun dijual lewat jalur flash sale dengan ketersediaan barang yang terbatas, dan akhirnya menjadi barang gaib. Apakah kamu cukup sakti untuk mendapatkan barang gaib?

___________
Artikel ini pernah dimuat di Mojok.co dengan sedikit perubahan.

8 Juli 2018

Kenali Tiga Sebab Mengapa Ponsel Android Jadi Lambat

Ponsel yang lambat selalu menjadi faktor mengapa banyak orang kesal dengan gawai yang satu ini. Bahkan ketika belum hitungan minggu lepas dari bungkusnya, ponsel selalu memancing emosi dengan performanya yang melambat drastis. Daripada dibanting, kemudian menyesal, alangkah lebih baik mengenali sebab-sebab mengapa sebuah ponsel tiba-tiba melambat semacam itu.

Ya, ini bukan soal ponsel lama dan baru. Sebab banyak ponsel baru yang kerap mengalami pelambatan performa yang mengundang kesal. Meskipun performa yang melambat ini pasti ditemui pada ponsel yang sudah dimakan usia, akan tetapi kalau mengetahui sebabnya, lambatnya performa ini bisa disikapi dengan bijak. Dan bersyukur pun kalau bertemu dengan jalan keluarnya.

Kalau dilihat dari jenisnya, ada tiga macam penyebab ponsel yang melambat. Dua diantaranya terkait dengan perangkat keras dan lunak, yang ketiga terkait dengan pandangan manusia sendiri terhadap ponsel. Mari kita kupas satu-persatu.


Perangkat keras yang berpengaruh pada pelambatan fungsi ponsel.

Perangkat keras, atau sering disebut hardware, yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pelambatan fungsi ponsel adalah baterai, penyimpanan baik RAM maupun memori internal dan eksternal, serta chipset. Tiga benda ini merupakan penyumbang terbanyak dari melambatnya fungsi ponsel anda. Biasanya ketiga hal ini bakal menurunkan kecepatan performa ponsel kalau usianya sudah tua. Kalau ponsel masih baru, berarti ada cacat pabrik yang biasanya sangat jarang terjadi.

BACA JUGA:


Baterai yang sudah uzur kerap menimbulkan macetnya arus elektronik. Arus elektronik yang tidak lancar yang disebabkan oleh baterai yang kurang bagus menyebabkan perangkat keras lainnya tidak memunculkan fungsinya yang maksimal. Sebuah baterai memiliki usia pakai berkisar selama tiga hingga empat tahun. Kalau lebih ya syukur, kalau kurang dari itu silakan catat mereknya untuk diketahui saja.

Adakalanya baterai dari ponsel baru pun mengalami kondisi seperti diatas. Baterai tersebut bisa jadi kurang pas untuk mengaliri kebutuhan perangkat elektronik dari ponsel tadi. Imbasnya baterai mengalami voltage drop, yang ditandai dengan panasnya bagian baterai. Hal ini terutama memicu chipset sebagai pengatur segala macam interaksi di dalam ponsel ikut pula menjadi panas. Atau bisa jadi sebaliknya, chipset yang menjadi sebab dari memanasnya suhu baterai dan sekitarnya. Dengan kata lain, chipset kurang baik atau gagal mengatur arus. Sehingga ponsel pun berubah menjadi seterikaan.

Melambatnya fungsi ponsel pun disebabkan oleh memori yang sudah penuh. Memori penuh memang bisa diatasi dengan cara menghapus data, tapi jejak-jejak memori yang masih tersisa mengakibatkan memori tak lagi menyimpan dengan sempurna. Hal ini bisa menambah pekerjaan chipset dalam membaca memori tersebut. Apalagi kalau yang dipakai adalah memori eksternal, terlebih kalau barang tersebut tergolong kelas paling rendah. Tambah kasihan lagi chipset-nya.

Lambat memperbarui perangkat lunak menjadi sebab ponsel melambat.

Pabrikan ponsel yang baik senantiasa menyediakan pembaruan terpadu dan rutin bagi perangkatnya. Misalnya pembaruan sistem operasi Android. Mengapa ini penting? Sebab ini terkait erat dengan kompatibilitas sistem operasi tersebut dengan aplikasi di dalamnya. Sama halnya dengan aplikasi yang tidak diperbarui. Dua hal ini menjadi penyebab utama mengapa dalam kasus tertentu, ponsel tiba-tiba sangat berjalan lambat.

Cara mengatasinya bisa dengan melakukan pembaruan secara rutin dan menghapus aplikasi yang tidak dibutuhkan oleh anda. Selain bermanfaat untuk mengosongkan memori, menghapus aplikasi berguna agar meminimalisir munculnya background apps yang bekerja yang menguras kinerja ponsel.

Nah, background apps atau aplikasi yang bekerja dibawah permukaan, yang tidak terlihat, yang berada diluar kendali anda, bisa jadi merupakan penyumbang terbesar bagi melambatnya ponsel. Untuk itu sering-seringlah mengecek penggunaan RAM, caranya Settings > Memory > Memory used by apps. Silakan ketuk dua kali di bagian Memory used by apps, kemudian bakal terlihat aplikasi mana saja yang mengonsumsi RAM yang cukup besar.

Efek nocebo saat membeli ponsel.

Ya, ini sudah masuk pembahasan psikologi. Mengapa saya menuliskannya? Sebab, permasalahan ini bisa jadi menjadi sebab mengapa ponsel anda berjalan lambat. Ponsel yang anda beli sebetulnya memang performanya segitu saja, tetapi dengan iklan yang bagus dan anda terpengaruh, menyebabkan ekspektasi terhadap ponsel ini menjadi tinggi.

Ini yang disebut dengan efek nocebo, yakni sebuah keadaan yang berada diluar substansi dan disebabkan karena pengaruh orang lain, iklan, atau apapun saja yang mengakibatkan persepsi terhadap sebuah kondisi. Kalau disebut efek nocebo, berarti persepsi yang muncul adalah persepsi negatif. Hal yang berbeda kalau efek yang muncul adalah placebo, kebalikan dari efek nocebo.

Untuk mengantisipasi efek ini, beberapa alat ukur yang telah dibuat manusia bisa menjadi alat bantu. Misalnya untuk mengukur bagus-tidaknya sebuah kamera, ada DxOMark yang telah membuat parameter-parameter tertentu dan menghasilkan skor untuk dijadikan rujukan. Ada AnTuTu Benchmark untuk performa ponsel, dan lain-lain. Dan yang paling utama, tidak perlu tergoda iklan ketika membeli ponsel, dan sebetulnya dalam membeli apapun.

6 Juli 2018

Cara Mengaktifkan dan Manfaat Developer Mode pada Ponsel Android

Banyak yang bilang, untuk mengaktifkan fitur tertentu pada sebuah ponsel Android adalah dengan melakukan root. Cara ini memang betul, tapi resikonya pun cukup besar. Ponsel anda, kecuali merek Xiaomi, tidak akan bisa diklaim garansinya, dan paling parah bisa-bisa mengalami gagal fungsi. Tapi tenang saja, tanpa melakukan root, ponsel Android anda bisa naik level.

Pada sistem operasi Android ada sebuah pengaturan yang dinamakan Developer Mode, Developer Setting, atau apapun saja yang mengandung nama developer atau Pengembang. Soalnya setiap merek ada penamaan yang sedikit berbeda. Pengaturan ini disembunyikan secara default dari pabrikannya. Di berbagai forum internet, banyak yang berpendapat disembunyikannya menu ini disebabkan karena pengguna Android kebanyakan tidak membutuhkan Developer Mode.


Developer Mode mulai hilang sejak Android 4.2, sehingga mayoritas pengguna ponsel Android sekarang yang rata-rata sudah memakai Android 5 keatas tak akan menemukan lagi menu ini. Meski tidak tampak, menu ini tetap ada dan bisa dimunculkan kembali. Untuk yang khawatir apakah cara memunculkan menu Developer Mode ini sama seperti root, jawabannya tidak. Developer Mode sudah default ada dari pabrikan, hanya saja disembunyikan. Sementara root adalah mengubah pengaturan pabrikan secara 'paksa', sehingga pabrikan tidak menerima lagi klaim garansinya.

Untuk memunculkan Developer Mode caranya sangat mudah. Sebagai catatan, saya memakai Asus Zenfone 4 Max Pro. Buat yang memakai ponsel Asus, caranya kurang lebih sama saja.

Pertama-tama silakan masuk ke menu Setting atau Pengaturan. Kalau sudah ketemu cari menu About atau Tentang ponsel. Setelah diklik pada menu tersebut maka muncul beberapa opsi, dan temukan menu Software information atau informasi perangkat lunak. Di dalam menu tersebut ada menu akhir Build number yang tidak muncul apapun setelah diklik.

Pada Build number itulah tersembunyi menu Developer Mode. Untuk mengaktifkannya klik sebanyak delapan kali pada menu tersebut. Kalau berhasil akan muncul notifikasi sesaat yang berbunyi kurang lebih 'Sekarang kamu adalah Pengembang'. Untuk memastikannya, anda bisa melihat di menu Setting ada menu baru yang disimbolkan dengan tanda kurawal '{}' dan bernama Developer options atau bervariasi sesuai merek masing-masing.


Manfaat Developer Mode

Developer Mode bakal memunculkan fitur yang tidak ada sebelumnya. Meskipun beberapa diantaranya tidak terlalu penting, karena dengan atau tanpa fitur ini, ponsel Android anda memiliki kemampuan yang sama, tapi ada beberapa diantaranya yang bisa meningkatkan performa ponsel secara signifikan.

Beberapa fitur yang tak begitu penting misalnya melihat penggunaan RAM, mengaktifkan jejak sentuhan pada layar, membuat layar menjadi monokrom, dan lainnya, namun ada menu pada Developer Mode yang bisa meningkatkan kecepatan sistem operasi.

Sebetulnya bukan meningkatkan kecepatan perangkat, sebab hal ini tergantung kepada hardware yang ada pada ponsel. Namun lewat Developer Mode kecepatan transisi pergantian menu yang terkesan lambat bisa dipercepat. Melalui Developer Mode, transisi saat membuka aplikasi tadi bisa dihilangkan, sehingga kecepatan prosesor dalam memproses data bisa sedikit lebih cepat. Imbasnya proses transisi yang tadinya penuh drama, jadi terkesan kaku. Ibarat pesulap yang tadinya perlu asap untuk menghilang, tiba-tiba langsung menghilang begitu saja. Memang cepat, tapi kaku.

Untuk yang tidak terlalu peduli dengan drama animasi saat transisi aplikasi pada Android, menu pada Developer Mode ini bisa diterapkan. Caranya silakan non-aktifkan animasi pada Windows animation scale, Transition animation scale, Animator duration scale pada menu Drawing di Developer Mode.

Ada juga menu pengaturan jaringan yang bisa mengaktifkan menu Mobile Data saat Wi-Fi sedang aktif, hal ini untuk menghindari interupsi koneksi data saat sinyal Wi-Fi tiba-tiba hilang, atau sebaliknya. Lewat Developer Mode juga performa GPU alias prosesor grafis bisa ditingkatkan lebih dari pengaturan default.

Pada intinya, memang banyak hal yang bisa dilakukan melalui Developer Mode. Namun ketika menu ini disembunyikan, ya memang karena tidak penting-penting banget sih, sebab anda bisa tetap menggunakan ponsel Android dengan lancar, normal, dan tanpa kendala apapun. Cuma untuk mereka yang ingin mengetahui ponsel Android dalam kacamata pengembang program alias developer, ya bisa dengan mengaktifkan menu ini.

Untuk menyembunyikan kembali menu ini dari menu Setting, silakan tekan yang lama simbol menu tersebut sehingga bisa digeser, kemudian geser ke App info. Di menu App info lakukan Clear data. Atau bisa juga ke Setting > Device > Apps, dan lakukan hal yang sama. Secara otomatis, menu Developer options bakal menghilang dengan sendirinya. Silakan cek untuk memastikannya. Untuk mengaktifkan kembali, ya kembali ke cara diatas.

3 Juli 2018

Xiaomi Mi A1 Setelah Setahun, Masihkah Layak Dipinang?

Sebelum Xiaomi Redmi Note 5 menjadi ponsel yang sering disebut di internet, ada Mi A1 yang mendahuluinya. Ponsel ini banyak diperbincangkan karena beberapa hal menarik, terutama dari sisi software-nya yang tak biasa.

Xiaomi Mi A1 dirilis pada September 2017, dan menjadi satu-satunya seri Mi dari pabrikan asal Cina ini yang beredar resmi di Indonesia. Keunikannya terletak pada keberadaan sistem operasi Android murni, alias Stock Android tanpa kostumisasi MIUI.



Meski begitu, ketika Xiaomi banyak merilis ponsel baru pada 2018, apakah Mi A1 masih layak untuk dipinang?

Mi A1 dirilis dengan banderol resmi Rp3.099.000. Xiaomi membenamkan chipset Snapdragon 625 dengan prosesor Octa-core berkecepatan 2,0 GHz, Cortex A53, dan grafis Adreno 506. Mi A1 pun ditopang oleh RAM berkapasitas 4 GB dan memori internal 64 GB. Khusus memori internal ini, selain bisa diperluas hingga 128 GB, ada dukungan cloud storage dari Google hingga 100 GB.

Mengapa Google kok baik betul? Ya inilah istimewanya ponsel dengan program dari Google, alias Android One. Meski tanpa kostumisasi pabriknya, ponsel Android One ditangani langsung oleh Google untuk update sistem operasinya setiap bulan. Mi A1 ini, bakal diberi keistimewaan untuk memperoleh hal-hal yang baru dari Google seperti sistem operasi, keamanan, hingga aplikasi terbaru dari Google.

Jadi kalau pemakai Xiaomi resmi biasa, update sistem operasi akan didapat dari pabrikan. Update ini menurut pengalaman yang sudah-sudah, memakan waktu yang cukup lama.

BACA JUGA


Untuk yang sudah nyaman dengan MIUI, Mi A1 memang tidak cocok untuk dipinang. Sebab Android stock memang sangat simpel dan tampilannya berbeda dengan MIUI. Tapi buat yang tidak suka Xiaomi tersebab MIUI-nya, ya inilah saatnya untuk memiliki ponsel Xiaomi.

Buat para jamaah AnTuTu-diyah, inilah skor Xiaomi Mi A1.



Dari sisi desain, bentuknya mirip iPhone 7. Tapi tentu Xiaomi tak sendirian yang desain ponselnya punya kemiripan dengan ponsel buatan Apple itu. Dengan lekuk garis antena dan setup kamera ganda di belakang, memang cukup mirip dengan ponsel tersebut.

Ngomong-ngomong kamera ganda, keistimewaan dari Mi A1 juga berada disini. Hingga saat ini, Xiaomi masih mengandalkan hasil jepretan ponsel ini untuk diadu dengan ponsel lain. Bahkan dalam rangka mengenalkan Mi A1 pada awal rilis, Xiaomi mengundang media untuk memotret Vanka, salah satu anggota JKT48.

Kamera ganda dengan setup 12 MP (f/2.2, 26mm, 1.25µm) dan 12 MP (f/2.6, 50mm, 1µm) ini masih bisa diandalkan untuk melakukan pemotretan guna kebutuhan media sosial. Untuk contoh fotonya bisa dilihat di gambar di bawah ini.


Foto mi ragit dengan flash.
Mickey Mouse dari jarak dekat.
Suasana Masjid Islamic Center Indramayu.
Yang ini kalau malam hari.
Sementara itu kamera depannya hanya 5 MP saja. Sehingga ponsel ini bisa diketahui peruntukannya bukan buat selfie-phone. Meski begitu, Xiaomi tampak memberikan efek beauty secara otomatis, sehingga hasil fotonya tampak sedikit pucat.


Ini contoh selfie-nya.
Spesifikasi lainnya, Mi A1 memiliki layar 5,5 inci, rasionya 16:9 belum kekinian, dan screen to body ratio sebesar 70%. Layar ini sudah Full HD dan mendapat perlindungan Gorilla Glass 3.

Yang sangat disayangkan adalah kapasitas baterainya yang cuma 3080 mAh. Untuk penggunaan standar, ponsel ini bertahan hingga 12 jam. Sayangnya, ponsel dengan spesifikasi ini sayang sekali kalau cuma pemakaian standar. Paling tidak ya dipakai untuk nge-game macam AOV, Mobile Legend, PUBG.

Buat siapa ponsel ini? Dan apakah masih layak?

Mi A1 ditujukan buat mereka yang punya preferensi tampilan sistem operasi yang simpel, kemudian pengin memiliki ponsel berkamera jempolan, desain sederhana, dan harganya sangat kompetitif. Saat ini Xiaomi Mi A1 dibanderol di harga Rp2.699.000.

Di rentang harga itu, persaingan ponsel sangat panas. Pabrikan banyak menerjunkan ponsel dengan tajuk best-budget-nya di rentang harga ini. Namun kalau mau mencari ponsel dengan dukungan penuh dari Google, tanpa kostumisasi bermacam-macam, tanpa bloatware yang menyebalkan, ya Mi A1 ini wajib dibeli.

26 Juni 2018

Canggihnya Memotret Objek dengan Google Lens

Pada Juni 2018, Google merilis aplikasi Google Lens secara terpisah. Aplikasi yang pada mulanya terintegrasi dengan Google Photos, lalu terpasang di Google Assistant, kini bisa dinikmati secara terpisah tanpa harus membuka kedua aplikasi itu terlebih dulu.


Google Lens merupakan terobosan dari Google, dimana sebuah artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan tertanam dalam aplikasi kamera. Google Lens bisa dipadankan dengan Bixby Vision yang dimiliki oleh Samsung.

Pemotretan memakai Google Lens ini membuat pengguna seakan-akan memiliki kamera yang hanya ada di film-film fiksi-sains. Sebab dengan Google Lens, setiap obyek yang masuk ke dalam frame bakal dipindai dengan kecerdasan buatan milik Google. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh Google Lens?

Pertama, smart text selection. Google Lens memberikan kemampuan pengguna untuk memindai teks. Fitur ini berguna untuk mengetahui informasi lebih mendetail mengenai teks yang dipindai. Misalnya nama menu di restoran, informasi merek yang masih asing, atau teks apapun. Bahkan lewat fitur ini pengguna bisa memindai seluruh teks dan menyalinnya di editor teks. Jadi selain pengenalan teks, Google Lens mampu menginformasikan konteks yang terkandung dalam teks tersebut.

Kedua, pencarian obyek sejenis. Kalau penasaran dengan harga sebuah baju yang dipakai oleh orang lain, pengguna bisa memotretnya melalui Google Lens. Setelah itu bakal muncul daftar gambar baju yang sama sekaligus harganya. Menarik, ya? Hal ini pun berlaku untuk obyek yang lainnya.

Ketiga, Google Lens bekerja secara real-time. Kecanggihan Google Lens versi kamera (bukan versi yang terintegrasi di Google Photos) bekerja secara real-time. Yang berarti ketika pengguna memotret sebuah obyek, maka seketika itu pula informasinya tersaji. Hanya saja kecepatan pembacaan obyek tadi dipengaruhi oleh performa ponsel dan sinyal internet.
Aplikasi Google Lens pada Xiaomi Mi A1. (Foto: dokumen pribadi)
Cara instal Google Lens buat pengguna di Indonesia

Ada kabar buruk buat pengguna Android di Indonesia. Selain dibutuhkan ponsel dengan chipset Snapdragon seri 600 ke atas, atau chipset dari produk lain yang setara, pengguna Android di Indonesia akan menemukan keterangan kalau aplikasi Google Lens belum bisa dipergunakan. Untuk saat ini Google Lens hanya diperuntukkan di beberapa negara saja, seperti Amerika Serikat dan kawasan Eropa.

Namun jangan khawatir, sebab banyak jalan menginstal Google Lens secara resmi dari Play Store, maksudnya bukan melalui hasil unduhan .apk. Salah satunya adalah dengan mempergunakan VPN. Saya memakai Secure VPN Pro, sebuah aplikasi VPN berbayar yang kemarin (25/6) bisa diunduh secara gratis. Terima kasih kepada om Lucky Sebastian atas informasinya. Blio tahu aja kalau ada followers-nya yang merupakan sobat kismin.

Pokoknya inti dari instal aplikasi yang belum dirilis di Indonesia bisa menggunakan VPN. Mau VPN gratis atau berbayar, yang penting berfungsi. Buat yang belum tahu, fungsi VPN atau virtual private network adalah menyembunyikan jaringan internet publik. Kalau memakai jaringan VPN Amerika, maka seolah-olah anda berada di Amerika, padahal masih ada di Jonggol, misalnya.

Setelah VPN itu aktif, aturlah hingga kita berada di zonasi United States. Sayangnya, Play Store saya masih bingung sehingga membaca posisi saya berada di Abu Dhabi. Untuk mengatasi Play Store yang tidak membaca posisi sesuai dengan VPN, maka biarkan saja terlebih dahulu.

Anda bisa menggunakan PC untuk melakukan pencarian Google Lens di Play Store atau langsung masuk ke tautan ini. Dari sini, pastikan login dengan akun Google yang sama dengan ponsel. Play Store bakal membaca posisi ponsel anda sesuai dengan VPN yang telah diatur. Kalau memang bisa diinstal, bakal ada tulisan 'instal' dengan tombol hijau seperti biasa. Kalau tak ada tulisan tersebut, coba restart ponsel anda, dan atur lagi VPN-nya.

Tombol instal di PC itu bakal membuat ponsel secara otomatis melakukan proses instalasi Google Lens. Hal yang sama juga berlaku untuk aplikasi yang lain. Penggunaan kuotanya pun, ya menggunakan kuota internet yang ada di ponsel bukan di PC. Jadi pastikan betul kalau kuota internet di ponsel selalu penuh dan aktif, syukur kalau tersambung ke Wi-Fi. Dan tunggulah sampai Google Lens selesai terpasang.

Cara instal Google Lens semacam ini tentu tidak perlu dilakukan kalau anda tinggal di Amerika Serikat, atau memang Google sudah merilis Google Lens untuk pengguna Android di Indonesia. Kalau sudah begitu, tinggal ke Play Store, cari Google Lens, instal, dan tinggal pakai.

Cara memakai Google Lens

Cara memakai Google Lens seperti memakai kamera pada umumnya. Anda tinggal menyalakan ponsel, lalu ke aplikasi Google Lens, setelah aplikasinya terbuka tinggal diarahkan saja ke obyek yang ingin dibaca.Iya, memang cara memakainya seperti memakai kamera biasa. Mudah ya? Iya memang semudah itu. Untuk lebih jelasnya, silakan simak video berikut ini.


Yang patut diingat sekali lagi adalah kecepatan Google Lens dalam memproses data tergantung dari kecepatan performa perangkat dan jaringan. Itulah kenapa Google langsung memberikan tanda 'Your Device isn't compatible with this version' di Play Store kepada ponsel yang memang dibawah spesifikasi minimum Google Lens.

24 Juni 2018

Asus Zenfone 4 Max Pro ZC554 KL Jelang Setahun, Masih Layak?

Asus Zenfone 4 Max Pro dirilis pada September 2017 di Indonesia, sebulan setelah perilisannya di Taiwan. Ponsel ini dikenal dengan baterainya yang bongsor, sebab termasuk seri Zenfone Max. Setelah hampir satu tahun ponsel itu beredar di pasaran, apakah masih layak untuk dibeli?

Saat dirilis, harga Asus Zenfone 4 Max Pro dibanderol di angka Rp2.999.000. Saat ini, harga resminya berada di angka Rp2.699.000. Penurunan harga ini merupakan hal yang wajar dari setiap seri ponsel dari merek apapun. Penurunan ini biasanya dilakukan untuk menyesuaikan harga dengan ponsel seri baru yang bakal turun selanjutnya.

Zenfone 4 Max Pro. (Foto: dokumen pribadi)
Jualan Asus Zenfone 4 Max Pro berada di kapasitas baterainya yang lumayan jumbo. Ya iya lah, namanya juga seri Zenfone Max. Zenfone 4 Max Pro punya baterai sebesar 5000mAh yang diklaim bertahan sekitar 46 hari waktu standby. Dalam penggunaan normal, misalnya media sosial, internet, chatting, kadang-kadang juga YouTube, main Mobile Legend, dengan akses Wi-Fi dan cahaya layar normal, maka daya tahannya dari 100% turun ke 2% membutuhkan waktu sekitar 23 jam.

Daya tahan itu bisa ditingkatkan dengan memakai fitur Power Saving ataupun Super Saving untuk waktu penghematan yang lebih banyak. Sayangnya, untuk seri Max, rata-rata charging dari 0% ke 100% membutuhkan waktu sampai 3,5 jam. Ya, Zenfone 4 Max Pro belum mendukung fast-charging tersebab spesifikasinya yang masih tergolong medioker.


Spesifikasi Zenfone 4 Max Pro memang medioker untuk ukuran harga segitu dan dirilis pada saat itu. Ponsel ini diotaki oleh Snapdragon 430 octa-core dengan kecepatan 1,4 GHz, yang ditopang dengan RAM 3 GB dan memori 32 GB. Sistem operasinya menggunakan Android 7.1.1 dengan kustomisasi ZenUI 4. Hasil benchmark menggunakan AnTuTu, ponsel ini mendapatkan skor 43,453.

Ditilik dari sisi depan, Zenfone 4 Max Pro masih memakai layar HD dengan bentang layar 5,5 inci, rasio 16:9. Meski bezel kiri dan kanannya cukup tipis tapi dagunya masih lebar, sebab disitu ada tombol recent apps dan back yang mengapit finger print sensor yang merangkap tombol home. Dahinya pun masih lebar, karena ada kamera depan, flash dan proximity sensor. Ya sih, saat itu poni dan layar 18:9 belum se-ngetren sekarang.

Ngomong-ngomong soal kamera, Asus memberikan tiga kamera pada Zenfone 4 Max Pro ini. Satu kamera ada di depan dengan resolusi 16MP dengan ukuran sensor 18mm, bukaan f/2.0 dengan LED flash, sementara dua kamera lagi berada di belakang. Dua kamera belakang ini memiliki jenis yang berbeda, sebab pertama kamera biasa dengan resolusi 16MP, ukuran sensor 26mm, bukaan f/2.0, yang dilengkapi dengan LED flash. Dan kamera satunya lagi difungsikan sebagai kamera sudut lebar (wide) yang bisa mengambil gambar dengan luas pandang 120 derajat.

Untuk hasil fotonya, silakan dinilai sendiri.

Ini untuk hasil foto cahaya normal:

Ini untuk hasil foto kondisi sore (low light):

Hasil foto kamera depan, dengan cahaya yang cukup:

Hasil foto kamera depan, dengan kondisi minim cahaya (low light):

Hasil foto lensa wide dalam kondisi cahaya cukup:

Hasil foto lensa wide dalam kondisi minim cahaya (low light):

Kalau pakai lampu flash, fotonya begini:

Berikut hasil videonya:


Nah, pertanyaannya, apakah Zenfone 4 Max Pro masih layak dibeli? Di rentang harga resminya yang sudah Rp2.699.000, Zenfone 4 Max Pro sudah memiliki banyak pesaing terutama berasal dari seri Max Asus sendiri. Setelah Zenfone 4 Max Pro dirilis, Asus merilis Asus Zenfone Max Plus M1 dengan harga Rp2.799.000. Kalau boleh dibilang kelemahan, Zenfone Max Plus memakai MediaTek MT6750T yang setara dengan Snapdragon 430 milik Asus Zenfone 4 Max Pro, serta baterainya yang 'cuma' 4130mAh. Namun dari sisi layar, Zenfone Max Plus sudah kekinian dengan memakai rasio 18:9.

Zenfone 4 Max Pro dan Zenfone Max Plus M1 ternyata belum juga membuat Asus kembali pada treknya seperti semula. Hingga pada akhirnya, bersamaan dengan perilisan Zenfone 5, Asus merilis Zenfone Max Pro M1. Ponsel dengan chipset Snapdragon 636 ini membuat nama Asus kembali terdongkrak. Meskipun ponselnya sulit didapatkan, tapi paling tidak hype merek Asus menjadi ramai kembali setelah beberapa tahun belakangan tenggelam.

Kembali kepada pertanyaan diatas, dengan beberapa perilisan ponsel terbaru dari Asus, sebetulnya Zenfone 4 Max Pro masih cukup layak dipinang untuk kebutuhan baterai yang besar. Ya, ini sih dengan syarat kalau anda gagal terus di flash sale Zenfone Max Pro M1. Sebab dibandingkan membeli Zenfone Max Plus, ya lebih baik mundur lagi ke belakang untuk meminang Zenfone 4 Max Pro.

Pada rentang harga ini, persaingannya memang sangat panas. Hampir semua merek merilis ponsel di rentang harga dua-jutaan, ada Xiaomi Mi A1, Xiaomi Redmi Note 5, Oppo A83, Vivo V5, Huawei Nova 2 Lite, Samsung J7 Core, dan Honor 9 Lite. Lalu, mau pilih yang mana? Masih #LebihMendingZenfone atau tergoda ke merek yang lain?