21 Januari 2018

Empat Poin Hakiki Agar Bloggergate Tak Terjadi Lagi

"YouTuber Seksi Minta Menginap Gratis, Ditolak Lah Sama Hotel". Begitulah judul artikel dari Viva.co.id pada Sabtu (20/1). Isinya tentang sebuah hotel mewah yang menolak permintaan menginap gratis dari seorang beauty blogger.

Buat yang belum mengetahui kasus ini silakan googling kata kunci bloggergate. Sebab artikel ini tak membahas secara spesifik keduanya, tapi berupaya untuk melihat masalah tersebut secara umum saja.


Dunia digital marketing memang memunculkan dua hal, pertama demand promosi dari pemilik bisnis, dan kedua, supply pengaruh dari para social media influencer.

Pada kasus bloggergate diatas, hotel adalah pemilik bisnis yang menurut pembacaan sang blogger, biasanya membutuhkan promosi di dunia digital, --dunia dimana sang blogger punya eksposure yang tinggi. Akhirnya penawaran untuk melakukan promosi pun dikirimkan lewat surel.

Pemilik bisnis yang menolak permintaan itu memang tak sedikit, apalagi untuk mereka yang sudah mapan baik secara bisnis maupun eksposur di media sosial. Sayangnya penolakan sang pemilik hotel itu dilakukan dengan cara, yang menurut saya, kurang elok.

Namun elok atau tidak, kembali lagi kepada kacamata yang menilai. Sebab meminta layanan gratis pun menurut saya juga tidak elok, meski ia adalah seorang artis.

Hikmahnya adalah...

Dan buat para blogger dimanapun, cerita ini setidaknya memberikan hikmah soal 'bisnis' digital marketing. Saya mencatatnya kedalam beberapa poin.

PERTAMA. Blogger mesti berkaca seberapa tinggi tingkat eksposurnya. Selain jumlah followers, yang perlu dilihat kembali adalah statistik jangkauan dari media sosial yang dimiliki. Semua media sosial punya statistik tentang seberapa besar tingkat eksposur kita untuk meyakinkan pemilik bisnis. Untuk blogger dikenal istilah PA dan DA untuk menggantikan Google Rank. Nah, kalau sudah tahu seberapa tinggi eksposurnya, seharusnya tahu menempatkan diri di posisi yang mana dalam bisnis digital marketing.

KEDUA. Kecerdasan membaca kemauan pemilik bisnis adalah hal yang penting. Misalnya kalau pemilik bisnis itu sudah punya eksposur yang tinggi di media sosial, tentu saja ia tak ingin membuang-buang uang meski harus menggratiskan kamar yang tak terpakai di hotelnya. Ada pula pemilik bisnis yang ingin diulas terlebih dahulu dalam beberapa artikel, kemudian mereka dengan sukarela menghubungi blogger untuk memberi reward.

KETIGA. Selalu menjaga harga diri dengan membayar setiap layanan yang diberikan oleh mereka yang kita review. Untuk soal ini silakan belajar dari Wisata Kuliner-nya almarhum Bondan Winarno. Tapi, jika sudah ada hitam diatas putih kalau kita diundang untuk acara tertentu dan ada poin bahwa fasilitas seperti akomodasi dan makanan disediakan secara gratis, ya mau bagaimana lagi kecuali menerimanya. Rejeki, 'kan?

KEEMPAT. Tujuan utama blogger sejatinya adalah berbagi dengan orang lain di dunia digital. Kalau kemudian blogger mendapatkan uang dari sana, ya itu namanya rejeki. Tapi kalau pun tidak mendapatkan rejeki berupa materi, pasti ada rejeki lain yang akan menggantinya. Ini nasehat klasik sih, tapi tentu tak akan lekang dimakan waktu. Betul?

Jadi, siapa yang salah soal kasus bloggergate diatas? Menurut saya sih keduanya salah, sang blogger tidak bisa menempatkan diri, atau menawarkan jasa yang tidak dibutuhkan oleh pemilik bisnis. Dan pemilik bisnis pun salah, karena telah mempermalukan sang blogger. Itu menurut saya. Kalau menurut kamu?
Read More

20 Januari 2018

Xiaomi Redmi Note 5A Prime, Ponsel Selfie Harga Mini

Xiaomi mulai menemukan celah untuk melakukan penetrasi di pasar Indonesia. Pasca berada di urutan kelima untuk market share, pabrikan asal Cina ini optimis bisa bersaing dengan pabrikan negeri sebelahnya. Dan setelah sukses 'merusak' pasar lewat Redmi 5A, Xiaomi pun menurunkan lini Redmi yang lain yakni Redmi Note 5A Prime.

Redmi Note 5A memang bukan barang baru di Indonesia, namun Redmi Note 5A Prime baru dibawa kesini. Ponsel ini sebetulnya sudah dirilis sekitar 5 bulan silam, namun baru dimasukkan ke tanah air baru-baru ini. Mungkin ada strategi pasar dari Xiaomi yang menyebabkannya baru dimasukkan guna menguatkan lini Redmi di Indonesia.

Harga dan spesifikasi redmi note 5a prime

Sebuah Ponsel Selfie

Dalam beberapa liputan media, pasca penandatanganan kerjasama antara Xiaomi dan Shopee, Steven Shi menyebut kalau Xiaomi Redmi Note 5A Prime merupakan sebuah ponsel selfie. Pasalnya besaran megapiksel antara kamera depan dan belakang, lebih besar kamera depan. Kamera depan memiliki 16 megapiksel, sementara kamera depannya hanya 13 megapiksel.

Perihal spesifikasi lengkapnya, alangkah lebih baik kalau sekalian dibandingkan dengan Redmi Note 5A. Dan berikut ini spesifikasi dari kedua Redmi ini.

Harga dan spesifikasi redmi note 5a prime

Dengan harga yang tak terpaut jauh, sepertinya banyak yang bakal beralih ke Redmi Note 5A Prime. Apalagi di beberapa konter, harga Redmi Note 5A hampir mendekati harga resmi Redmi Note 5A Prime. Yah, Xiaomi memang begitu.

Lantas bagaimana kalau Redmi Note 5A Prime dibandingkan dengan merek sebelah yang juga mengusung jargon ponsel selfie di rentang harga Rp1,7 juta hingga Rp2 jutaan? Kalau dibandingkan dengan Oppo dan Vivo yang sama-sama mengusung tema selfie, tentu saja Redmi Note 5A Prime lebih unggul jika diadu terutama di rentang spesifikasi dan harganya. Namun tentu saja pengalaman pemakaian, apalagi soal selera, yang bakal mengaburkan soal siapa yang muncul sebagai pemenang.

Tapi paling tidak Redmi Note 5A Prime merupakan sebuah penetrasi Xiaomi untuk menggusur tahta empat brand yang masih bertengger diatasnya, yakni Vivo, Advan, Oppo, dan sang raja Samsung.


Terlebih setelah Xiaomi merilis lapak resmi di laman Shopee -market place yang dikenal dengan bebas ongkir-, maka penetrasi itu semakin kuat saja. Dan buat yang mau mencicipi Redmi Note 5A secara perdana, maka Senin tanggal 22 Januari 2018 mulai pukul 12.00 adalah waktu yang tepat, sebab ada flash sale dari Shopee untuk ponsel yang satu ini.

Nah, apakah dengan melihat harga dan spesifikasi yang ditawarkan bakal menjadi rebutan lagi seperti di e-commerce sebelah? Sepertinya tidak. Sebab harganya yang Rp1.999.000 belum menjadi budget phone buat sebagian orang Indonesia, seperti saya. Iya, saya.
Read More

18 Januari 2018

Susahnya Jadi Youtuber Jaman Now

Iming-iming kaya dari YouTube memang menjadi salah satu motivasi mengapa setiap hari banyak kanal baru hadir di platform berbagi video milik raksasa internet Google ini. Tidak salah, tapi tak sepenuhnya motivasi ini bisa terus dipegang. Sebab alih-alih menjadi cambuk semangat, malah bisa menjadi bumerang yang kelak menghantam balik. Loh, kenapa?

Sekitar bulan April 2017, YouTube menelurkan kebijakan baru dimana iklan hanya bakal tampil pada video yang sudah memperoleh 10.000 views. Artinya selama video itu belum memperoleh jumlah penayangan tersebut, maka tombol dollar di dasbor kreator tak akan menjadi hijau. Ya sederhanyanya video dengan jumlah penayangan di bawah 10.000 views tak akan ada iklan yang tampil, alias tak akan jadi sumber penghasilan.


Kebijakan yang tertuang dalam YouTube Partner Program (YPP) pada waktu itu memang tidak muncul secara sepihak dari situs yang sudah hadir sejak 2005 ini. Namun kegelisahan para pengiklan yang selama ini setia memasang iklannya di YouTube mulai mengambil sikap. Sikapnya jelas, mereka mengurangi belanja iklannya di YouTube sejak setahun kebelakang.

Alasan para pengiklan mundur selangkah dari YouTube kabarnya disebabkan banyak konten di YouTube yang tidak orisinal. Mengutip dari The Verge, konten-konten tadi banyak yang mengambil (membajak) video orang lain, mengambil dari label film atau musik ternama, dan tak jarang pula mengambil konten dari kreator YouTube lainnya.

Lantas, apakah dengan kebijakan pembatasan jumlah penayangan itu kegiatan pembajakan, re-upload, scam, dan hoax di YouTube berkurang? Tentu saja tidak. Makanya YouTube pun mengambil kebijakan baru meski YPP yang lama belum genap setahun.

Pembatasan Subscriber dan Jam Tayang

Dalam YouTube Creator Blog disebutkan kalau platform berbagi video ini ingin menaikkan standarnya. Praktis, YPP pun kemudian berubah lagi. Per 16 Januari 2018, YPP mensyaratkan 1.000 subscriber dan 4.000 jam tayang selama setahun untuk sebuah kanal YouTube yang mau menampilkan iklan.

Banyak pihak yang mengeluh terhadap kebijakan ini. Pasalnya, 4.000 jam tayang memang bukan jumlah yang sedikit untuk sebuah kanal YouTube kecil, apalagi kanal yang baru. Di forum-forum seperti Indonesian AdSense Publisher Discussion (IAPD), masalah ini pun banyak dibahas. Rata-rata memang mengeluh dengan kebijakan baru YouTube ini.

Di Twitter para kreator tekno pun masalah YPP sempat menjadi bahasan. Akun @AduGadget menuliskan kalau kebijakan baru itu dihiraukannya, terlebih setelah mendapatkan penghasilan $2 per bulannya.

Namun lain lagi akun @PapersBoy milik Putu Reza, pemilik kanal YouTube Project: Review. Ia berpendapat kalau kebijakan ini memiliki dua sisi. Sisi yang pertama bisa dikatakan bagus, sebab YouTube sebenarnya lebih kepada sarana untuk menunjukkan karya dalam bentuk video, alih-alih menjadi kaya. Namun jeleknya, kata Putu, kebijakan ini mematikan kreator yang baru tumbuh.

Putu memang menuliskan serangkaian twit tentang kebijakan YPP ini. Dan ia menutupnya dengan kesimpulan terhadap YouTuber jaman sekarang yang kurang memiliki konten bagus, minim konsistensi, namun ingin cepat kaya.



Apakah Susah Menjadi YouTuber?

Setidaknya begitulah pertanyaan yang banyak diajukan oleh beberapa kawan. Susah enggak sih untuk menjadi YouTuber? Saya menjawab tergantung kondisinya. Sebab untuk sekedar punya akun YouTube itu gampang banget. Kemudian mengisinya dengan video pun sangat mudah. Tapi untuk secara konsisten menghasilkan video yang orisinil, kreatif, dan menarik minat banyak orang untuk menonton yang menjadi letak susah menjadi YouTuber.

Apalagi kalau mindset-nya menjadi YouTuber bisa menghasilkan uang dengan mudah. Yang ada dalam pikirannya adalah uang dari AdSense. Sehingga ia lupa untuk menghasilkan konten secara baik, benar, dan konsisten.

Padahal, menurut banyak YouTuber yang sudah sukses, kalau sudah konsisten dan karyanya bagus, namanya materi itu bakal mengikuti. Sebab pemasukan YouTuber bukan semata dari AdSense saja, akan tetapi ada yang dari endorse produk maupun replacement. Nah, masih berpikir jadi YouTuber itu susah?
Read More

14 Januari 2018

Perubahan Algoritma Facebook di Tahun 2018 dan Dampaknya Pada Bisnis Digital

Facebook kini memiliki 2,07 miliar pengguna aktif. Angka ini merupakan potensi bagi digitalisasi bisnis yang kian hari kian berkembang. Oleh karenanya banyak pelaku bisnis, baik perusahaan maupun perorangan untuk menancapkan nama mereknya di media sosial yang berdiri pada 2004 silam ini.

Media sosial yang digawangi Mark Zuckerberg ini pun membuka keran bisnisnya dengan memberi kesempatan yang luas pada pemegang merek untuk beriklan di Facebook Ads. Pelaku usaha pun menyambutnya dengan baik. Facebook untung, pemilik usaha pun semakin luas dalam menjangkau pelanggannya. Praktis, ada lonjakan penghasilan bersih yang diperoleh perusahaan yang bermarkas di Menlo Park, California ini.


Pada 2016, Facebook mendapat $6,8 miliar dalam penghasilan iklan. Sementara itu, setahun kemudian ada lonjakan sebesar $3,32 miliar atau 49% dari iklan itu. Penghasilan bersih pun bahkan melonjak hingga 79%, dari $2,6 miliar pada 2016 menjadi $4,7 miliar pada kuartal 3 tahun 2017. Menggiurkan memang, terutama bagi investor Facebook.

Namun jalan pikiran Mark Zuckerberg tak selalu linier dengan para investor, yang biasanya hanya memikirkan untung semata. Sebuah unggahan status ketiga di tahun 2018 dari pria berumur 33 tahun pada media sosial yang dibuatnya itu cukup menggegerkan banyak orang. Bahkan saham Facebook per tulisan ini dibuat sedang turun 8,4 poin atau 4,47%. Penurunan saham berkode FB di NASDAQ tersebut diduga kuat diakibatkan oleh status tersebut. Apa yang ditulisnya?



Mark Zuckerberg menuliskan penjelasan apa yang bakal dilakukan Facebook dengan beranda Facebook atau yang lazim disebut News Feed itu pada 2018 ini. Menurutnya, yang juga dimuat di Facebook News Room ini, kedekatan antar keluarga dan teman yang menjadi tujuan dari Facebook semakin hilang. Ini disebabkan semakin maraknya iklan yang sejatinya tak relevan dengan hubungan personal antar pengguna Facebook namun tetap muncul di News Feed.

"Kami sudah meneliti bahwa penggunaan media sosial untuk menghubungkan antar manusia, juga baik untuk kebaikan kita. Sebab semakin terhubung dan kesepian yang berkurang, akan terkorelasi dengan kebahagiaan dan kesehatan pada masa yang akan datang," ungkap Mark.

Dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli, Mark akhirnya memutuskan untuk merombak algoritma Facebook besar-besaran. Algoritma Facebook, seperti diketahui, menitikberatkan pada mekanisme News Feed. Algoritma ini akan bekerja dengan memberi prediksi tentang postingan mana yang akan dimunculkan di awal News Feed. Prediksi ini akan diambil dari postingan orang-orang yang memang sering berinteraksi dengan kita di Facebook. Maksudnya bagaimana?

'Meaningful Interaction'

Frase ini yang menjadi tonggak dasar perombakan algoritma Facebook pada 2018. Secara sederhana, algoritma bakal membaca bahwa sebuah percakapan antar dua pengguna Facebook yang terjadi secara berulang-ulang tentang sebuah tema menandakan interaksi tersebut bermakna. Itu maksud dari 'meaningful interaction'. Seseorang dengan minat tertentu, akan dibaca oleh algoritma dengan minat tersebut, dan pada akhirnya memunculkan pengguna Facebook yang memiliki minat yang sama.

Misalnya begini, si A memiliki ketertarikan dengan pertanian. Beberapa kali akun Facebook-nya berbicara tentang pertanian. Pengguna Facebook dalam jaringan pertemanannya, katakanlah si M, juga punya ketertarikan yang sama. Keduanya sering berkomentar tentang pertanian. Maka algoritma bakal memunculkan postingan si M di urutan pertama dalam News Feed si A. Bahkan ketika si M bereaksi terhadap sebuah Fanpage yang si A tidak terhubung. Dengan catatan, Fanpage tadi juga membahas pertanian.

Oh iya, menurut Mark Hull, Product Management Facebook, setiap postingan memang diberi poin oleh Facebook. Dimana postingan dengan poin tertinggi bakal ditempatkan di bagian atas News Feed seseorang. Dan pada algoritma lama, poin tertinggi ditempati oleh postingan yang memiliki banyak reaksi, komentar, dan share.

Algoritma Facebook yang sekarang merombak mekanisme peringkat postingan itu, dan menggantinya dengan 'meaningful interaction' sebagaimana si A dan si M diatas.

Imbas Pada Pemilik Fanpage

Para pemegang merek yang sudah menancapkan pengaruhnya di Facebook cukup beralasan jika harus gerah dengan algoritma baru ini. Meski dalam News Room-nya, Facebook menyangkal konten Fanpage bakal dieliminir, tapi tetap saja algoritma ini bakal mengurangi konten-konten yang berbicara umum atau tidak terlibat kedalam 'meaningful interaction' yang dimaksud.

Jadi Fanpage kemungkinan bakal tenggelam apabila tidak menjadi sumber atau bahan diskusi dalam interaksi bermakna yang diharapkan oleh algoritma ini. Bahkan ketika konten tadi didorong melalui iklan. Dan hal inilah yang membuat saham Facebook turun. Sebab banyak investor yang khawatir penghasilan Facebook akan turun karena algoritma ini dipastikan bakal mengurangi minat para pengiklan.

Akhirnya, yang bisa dilakukan pemilik Fanpage (seperti saya) saat ini adalah menunggu seperti apa algoritma ini berpengaruh. Dan ketika saatnya tiba, tentu akan selalu hadir trik untuk tetap bisa melakukan promosi dan memanfaatkan potensi digital yang terkandung dalam media sosial terbesar di jagat ini.


Sumber informasi:

  1. Facebook Investor Relation: https://newsroom.fb.com/news/2018/01/news-feed-fyi-bringing-people-closer-together/
  2. Facebook Newsroom: https://newsroom.fb.com/news/2018/01/news-feed-fyi-bringing-people-closer-together/
Read More

8 Januari 2018

Kisah Xiaomi Redmi 5A Yang Naik Harga

Sudah bisa ditebak, Xiaomi Redmi 5A bakal laris bak kacang goreng. Dengan spesifikasi yang wah, dibanderol dengan harga murah, tentu membuat tertarik siapa saja. Tapi ada sebuah pilihan, lebih baik barang murah tapi stok terbatas, atau harga barang itu lebih tinggi tapi tersedia?

Kedua pilihan ini tentu saja merupakan dilema. Sebuah pilihan yang serba sulit. Nah, pilihan itulah yang kini melanda orang-orang yang ingin meminang Xiaomi Redmi 5A itu.


Pasca dirilis secara resmi oleh Xiaomi Indonesia, Redmi 5A menyita perhatian. Hype dimana-mana. Lazada yang memanen hype itu, dan dibuktikan dengan ludesnya belasan ribu Redmi 5A dalam waktu tak lebih dari 10 menit. Bahkan hal ini terjadi dalam dua kali flash sale. Ya setidaknya itu klaim orang dalam Lazada sendiri. Percaya atau tidak? Saya sih percaya saja.

Banyak yang kecewa karena sistem flash sale Lazada yang tiba-tiba melakukan pembatalan sepihak. Ada juga yang beruntung mendapatkannya. Dan seperti biasa, yang kecewa tidak memperoleh satu unit pun dari Redmi 5A mengumpat dimana-mana. Mereka menyalahkan Lazada, dan Xiaomi juga. Tapi kalau saya sih melihatnya wajar terjadi bottle neck semacam itu. Pasalnya ya hype tadi.

Banyak orang ingin membeli smartphone yang sebenarnya dijual normal di harga Rp.1,4 juta hingga Rp.1,5 juta ini pun masih wajar. Sehingga ketika dipangkas di harga Rp.999 ribu, pengguna Lazada yang mencapai 58 juta orang perbulan (Data dari iPrice), ditambah pengguna internet lain yang jumlahnya dua kali lipat dari itu, ikut mengantri Redmi 5A. Jadi wajar saja sistem yang biasanya hanya menerima traffic sejuta pengunjung perhari, tiba-tiba mendapat lonjakan traffic yang lebih tinggi.

Jadi wajar dong ketika 15.000 unit yang disediakan Xiaomi Indonesia untuk flash sale Lazada, ludes sebentar saja. Sangat wajar. Tapi bukan ini yang ingin saya bahas.

Hunger Marketing

Istilah hunger marketing pernah muncul ketika Xiaomi pertama kali masuk ke Indonesia dan dipasarkan lewat e-commerce. Hype di internet, dan ludes lewat e-commerce. Sebuah pasangan serasi. Hunger marketing, secara sederhana, adalah penciptaan kondisi agar konsumen merasa 'lapar' terhadap barang yang dijual, kemudian barang itu disediakan dalam stok terbatas. Sehingga rasa 'lapar' ini dipelihara untuk keuntungan merek yang bersangkutan. Apple juga sering dianggap melakukan trik hunger marketing ini.

Saat dirilis, Xiaomi menyebut harga Redmi 5A di China kalau dikonversi sebesar Rp.1.3 juta. Kemudian ketika diketahui harganya Rp.999 ribu, tentu saja trik perbandingan harga tadi berhasil. Apalagi sebelumnya Donovan Sung telah membandingkan Redmi 5A dengan merek sebelah, yang dari sisi spesifikasi lebih rendah, tapi dari sisi harga lebih mahal. Redmi 5A akhirnya jadi barang incaran. Hingga agenda flash sale Lazada yang sukses itu.

Rasa lapar konsumen kemudian disuguhkan dengan (maaf saya menyebutnya:) drama kelangkaan Redmi 5A. Orang lapar kalau disuguhkan dengan makanan yang sedikit lebih mahal, ia bakal mau saja. Dan begitulah trik hunger marketing itu bekerja. Distributor di lini bawah seperti konter dan penjual perorangan mengambil untung dengan menjual Xiaomi Redmi 5A lebih tinggi dari harga resmi.

Loh, pada merek sebelah, kalau konter dengan jalur distributor resmi menjual barang dengan harga yang berbeda dari harga resmi, bisa kena sanksi. Sayangnya di Xiaomi hal ini tak terjadi. Saya melihatnya sejak Xiaomi Mi A1. Harga resminya Rp.3.099.000, tapi ada yang menjualnya hingga Rp.3,3 juta. Itu saat pertama kali smartphone kelas menengah Xiaomi tanpa MIUI ini muncul. Sekarang harganya sudah normal lagi. Sepertinya hal yang sama juga bakal terjadi pada Redmi 5A.

Dengan melihat fenomena yang diciptakan Xiaomi ini, sebenarnya pabrikan asal Cina ini tanpa sengaja menunjukkan dua hal. Pertama, jalur distribusinya belum sebagus merek lainnya di Indonesia, sebab standarisasi harga belum bisa diatur. Kedua, Xiaomi sengaja memelihara soal hype ini agar banyak orang terus membicarakan Xiaomi. Dengan begitu, nama Xiaomi terdongkrak tanpa banyak promo, dan lambat laun mereka pun menguasai pasar smartphone Indonesia. Benarkah?

Untuk jumlah orang yang membicarakan Xiaomi di internet, banyak merek memang kalah jauh. Namun kalau mau menggeser posisi Samsung, Oppo, Advan dan Vivo di empat besar pemilik market share Indonesia, Xiaomi mesti memperbaiki jalur distribusi tadi dan tak cuma mengandalkan hype semata.

Ibaratnya, suburnya tanah tak ditentukan oleh petir yang sekali menggelegar, tapi ditentukan oleh rintik-rintik hujan yang bersahutan. Hype boleh sesekali, tapi tentu itu tak cukup.
Read More

22 Desember 2017

Asyiknya Metode Pembayaran Satu Atap Lewat KUDO

Saat ini aplikasi pembayaran iuran kebutuhan rumah tangga, seperti listrik, air, telepon, tiket, kredit motor, dan lain-lain memang lumayan banyak. Mulai dari yang gratis hingga berbayar bisa langsung diunduh lewat gadget kesayangan. Salah satu aplikasi yang menyediakan fasilitas pembayaran semacam ini adalah KUDO.

KUDO merupakan sebuah startup yang didirikan pada Juli 2014 oleh Albert Lucius dan Agung Nugroho. Kedua orang ini pun masih memimpin KUDO, dimana Albert sebagai CEO, dan Agung menjabat COO. Keduanya memang berpengalaman dalam menjalankan perusahaan setelah empat tahun bekerja di bawah naungan perusahaan konsultasi bisnis, The Boston Consulting Group.

cara daftar KUDO


KUDO dan Grab

Maka tidak heran kalau dalam perjalanannya, KUDO banyak diminati untuk kerjasama. Hingga sebuah perusahaan aplikasi transportasi asal Malaysia yang cukup menjadi raja di Asia Tenggara, yakni Grab, kepincut untuk meminang KUDO. Menurut Reuters, Grab mengucurkan dana segar hingga US$ 10 juta kepada KUDO. Meskipun menurut beberapa sumber Grab dan KUDO, angkanya kurang dari itu, tapi kerjasama itu membuka banyak hal bagi perjalanan keduanya. Dan fix, Grab telah bekerjasama dengan KUDO pada April 2017.

Bagi Grab sendiri, akuisisi ini sangat bermanfaat bagi ekosistem pembayaran yang dimilikinya, GrabPay. Pengguna ponsel yang telah menginstal KUDO cukup banyak di Indonesia, bahkan hingga menjangkau pedesaan. Sehingga penetrasi GrabPay bisa langsung masuk tanpa menunggu waktu yang lama. Grab memang mengincar Indonesia. Dengan masterplan-nya yang telah tersusun hingga 2020 yang bernama 'Grab 4 Indonesia', Grab telah menyediakan US$ 700 juta atau sekitar Rp.9,2 Triliun. Dan yang pasti 14% dari nominal investasi itu telah masuk ke KUDO.

Kerjasama dengan Grab itu memang membuat perubahan di KUDO. Yang paling kentara adalah setiap agen KUDO bisa menerima pendaftaran driver Grab dan menyediakan top up bagi driver. Tapi apa yang paling penting?

KUDO tetap Gratis

Perbedaan yang paling mendasar dari berjualan secara offline dan online, adalah soal lapak. Kalau offline lapaknya (biasanya) bayar, namun online tidak. Kalau ada kios online yang berbayar, berarti kios yang luar biasa. Enggak semua yang luar biasa itu positif, sebab 'kejadian luar biasa' berarti bencana. Nah, KUDO yang berarti Kios Untuk Dagang Online menjaga agar kios online itu betul-betul gratis.

Setiap orang yang menggunakan KUDO, secara otomatis dia menjadi agen KUDO. Menjadi agen KUDO pun sama halnya seperti melakukan instalasi aplikasi KUDO, gratis. Biaya baru dibutuhkan ketika kita melakukan top up. Mengapa perlu biaya ketika top up? Ya iyalah, pulsa, listrik, tiket, dan lain-lain itu 'kan bukan punya KUDO. Listrik dimiliki oleh PLN, pulsa punya provider, air punya PDAM, tiket punya KAI dan maskapai, dan KUDO hanya punya aplikasi yang diberikan secara gratis. Masih kurang?

Yang perlu diingat adalah dalam KUDO tidak ada istilah 'hak berdagang', 'uang masuk', atau 'biaya administrasi'. Kalau kita melakukan top up Rp.250.000,- yang masuk ke saldo agen KUDO ya tetap segitu. Saldo itu bakal berkurang kalau digunakan untuk melakukan transaksi, itu pun akan digantikan dengan uang tunai dari konsumen. Kalau pembayaran itu untuk sendiri berarti diganti dengan pulsa, listrik, atau apa saja yang dibayarkan lewat KUDO.

Bayar-bayar di KUDO, Murah!

Ini yang membuat saya kepincut. Sebab melakukan pembayaran di KUDO banyak murahnya. Tapi sebelum terkecoh dengan propaganda promosi ala saya kemudian menyesal di kemudian hari, lebih baik saya beri penjelasan.

Harga dasar pembayaran di KUDO memang sama dengan harga dasar di keagenan lain. Misalnya harga dasar pulsa 5.000, maka harga dasarnya Rp.5.600. Harga ini kalau dijual di konsumen bisa mencapai Rp.6.500 hingga Rp.7.000. Nah, asyiknya melakukan pembayaran di KUDO adalah banyak bonus yang tersedia. Misalnya ada kupon-kupon tertentu yang bisa ditukarkan dengan barang atau uang saldo tunai. Dengan catatan nominal transaksi agen kita sudah mencapai poin tertentu.

Kalau dihitung-hitung tentu lebih murah. Ya, kalaupun kamu berat untuk mengatakan lebih murah, maka saya katakan harga pembayaran di KUDO jelas lebih bersaing daripada lapak sebelah hehehe. Silakan bandingkan.

Cara Jadi Agen KUDO

Cara menjadi agen KUDO sangat mudah. Ikuti petunjuknya di bawah ini.


  1. Silakan unduh aplikasi KUDO di Play Store.
  2. Daftar melalui aplikasi atau disini. Jangan lupa masukkan kode referal agar bisa dapat bonus: A1psfg3.
  3. Isi saldo KUDO. Isi saldo ini bisa melalui virtual account, di merchant semisal Alfamart, maupun tramsfer ATM.
  4. Dan mulailah berjualan.

Seperti namanya, KUDO memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin punya kios tapi terbatas tempat. Sehingga buat yang hanya menggunakannya bagi keperluan pribadi alias bukan untuk berjualan, keuntungan-keuntungan yang ditawarkan KUDO bakal lambat diperoleh.

Yuk, jadi agen KUDO.
Read More

21 Desember 2017

Harga dan Spesifikasi Xiaomi Redmi 5A, Si Ponsel Perusak Pasar

Banyak yang tercengang menyaksikan betapa percaya dirinya Donovan Sung, Director of Product Management and Marketing Xiaomi Global, yang hadir di Jakarta pada Rabu (20/12) mengenalkan smartphone terbaru dari Xiaomi, Redmi 5A. Kepercayaan diri itu diwujudkan dalam materi peluncuran smartphone Xiaomi terbaru ini dengan berani membandingkannya dengan smartphone dari merek sebelah yang memiliki spesifikasi yang hampir sama.


Keberanian itu pun diteruskan dengan pembanderolan harga yang sungguh diluar dugaan. Aset media sosial Xiaomi dan beberapa punggawa pengulas gadget di tanah air pun meluncurkan tebak-tebakan soal harga Redmi 5A. Dan rata-rata tebakan followers-nya salah! Termasuk saya. Saya menebak kalau dengan spesifikasi RAM 2GB dan memori 16GB apalagi didukung dengan Snapdragon 425, harga Redmi 5A bakal berkisar di angka Rp.1.299.000. Ternyata, Donovan Sung memunculkan harga yang fantastis rendahnya, yakni Rp.999.000. Ya, cuma sejuta!

Tepukan meriah Mi Fans menyambut harga yang terbilang rendah itu. Bahkan sebelumnya, Donovan Sung menyatakan kalau harga Redmi 5A di Indonesia ini lebih murah dibanding di negara asalnya, China. Di negeri tirai bambu, Redmi 5A dibanderol ¥ 630 atau sekitar Rp.1.300.000. Mengapa bisa lebih murah? Entahlah, Donovan Sung tak menjelaskan. Akan tetapi, kita bisa berasumsi kalau biaya perakitan di tanah air lebih murah dibandingkan dengan China.

Spesifikasi Redmi 5A

Redmi 5A dibekali dengan chipset Qualcomm Snapdragon 425 Quad-Core 1,4 GHz. Kemudian RAM 2 GB dan memori 16 GB. Komponen hardware ini menjadi bekal yang cukup bagi Xiaomi untuk menerapkan MIUI 9 berbasis Android Nougat 7.1. Sehingga ada banyak fitur dari Android Nougat yang bisa diterapkan dalam ponsel yang tergolong entry-level ini, misalnya mode split screen.

Baterai 3000mAh dirasa cukup untuk menunjang komponen hardware tersebut. Xiaomi pun mengklaim kalau smartphone ini sanggup diajak melakukan talk-time 3G hingga 21 jam. Ini berarti kalau ditambah cekrak-cekrek lewat kamera 13 MP dengan PDAF maupun selfie lewat kamera depan yang 5 MP, rasanya durasi itu bakal berkurang.

Untuk fasilitas SIM Card, Redmi 5A pun bukan penganut hybrid, sehingga pengguna jaman now yang memiliki kartu SIM lebih dari satu tak harus bergantian dengan Micro SD. Redmi 5A memiliki dua slot. Slot pertama menampung satu kartu nano-SIM, dan slot kedua menampung satu Micro SD dan satu nano-SIM.

Baca juga: Mengapa Harga Ponsel Xiaomi Bisa Murah?

Soal body, Xiaomi Redmi 5A memang setipe dengan Xiaomi yang lainnya di level yang serupa. Dengan balutan metallic matte finish yang tak meninggalkan sidik jari, serta dukungan layar HD berukuran 5 inci, Redmi 5A wajar mengklaim dirinya sebagai rajanya smartphone entry-level saat ini. Mau bukti?

Keberanian Membandingkan

Saat ini brand smartphone memang sedang musim membanding-bandingkan perangkat satu dengan yang lain. Tak terkecuali dengan Xiaomi. Tak kurang ada dua jenis smartphone yang dibandingkan dengan Redmi 5A. Yang pertama jenis smartphone top seller di entry-level, dan kedua di jenis smartphone harga sejuta.



Dari tabel yang terlihat, Redmi unggul memimpin keduanya, baik di top seller smartphone entry-level yang memunculkan Samsung J2 Prime dan Oppo A37 sebagai dua besar top seller. Kemudian smartphone harga sejuta dengan penantang Samsung J1 Ace dan lenovo Vibe C. Ya, Redmi unggul pada kedua jenis smartphone itu. Dan dengan kemunculan harga Redmi 5A yang cukup meledak itulah, Xiaomi sudah 'merusak' pasar smartphone di Indonesia lagi.

Identitas Xiaomi sebagai brand murah tapi tak murahan di tanah air memang mendapat tempat sendiri. Mi Fans yang saat ini berjumlah 273.228 menjadi pemasok utama keberhasilan tersebut hingga akhirnya Xiaomi mampu merebut tempat di lima besar market share di Indonesia versi riset IDC pada 2017. Xiaomi mendapat market share sebesar 6,2%.

Angka market share Xiaomi memang masih jauh dari Samsung yang masih memimpin di angka 30%. Tapi angka milik Xiaomi ini tak terpaut jauh dengan Vivo dan Oppo yang pengeluaran promosinya terlihat cukup fantastis. Untuk lebih lengkapnya, silakan dibaca artikel saya disini.

Redmi 5A memang baru hadir di pasar (baru Lazada, Mi Store, dan Indosat) pada 27 Desember 2017, tapi euforia pasca peluncuran begitu gegap gempita. Akankah Xiaomi terus merangsek dan memimpin pasar smartphone di tanah air? Ya kita lihat saja nanti.

Nah, sekarang kita bisa mulai membeli si ponsel perusak pasar ini. Pembeliannya memang ekslusif dipegang Lazada. Silakan klik banner di bawah, atau klik link pembelian ini.

harga dan spesifikasi Xiaomi Redmi 5A
Read More

3 Desember 2017

Mengulik Terlemparnya Asus dari 5 Besar Merek Smartphone di Indonesia

Pada kuartal akhir 2017, International Data Corporation (IDC) merilis data market share smartphone sebagaimana biasanya. Yang tidak biasa, justru terlemparnya beberapa merek smartphone yang pernah bercokol di lima besar, termasuk Asus.

Sebagai pengguna Asus, informasi ini cukup mengejutkan. Asus memang tak sendiri, bersama Lenovo dan Smartfren, pabrikan Taiwan ini terlempar entah di posisi berapa. Sebab ia digolongkan dalam data IDC sebagai 'others'. Yang artinya, market share Asus berada di bawah 6,2 persen di Indonesia.

asus di indonesia

Lima besar merek smartphone versi IDC masih ditempati oleh Samsung di posisi pertama dengan 30,0%, disusul kemudian Oppo dengan 25,5%, Advan 8,3%, Vivo 7,5%, dan Xiaomi 6,2%. Sementara semua merek diluar itu digabungkan kedalam 'others' dengan angka 22,5%.

Pertanyaannya, mengapa Asus bisa terlempar? Padahal menurut data yang dirilis oleh IDC pada Februari 2016, kuartal IV 2015 Asus berhasil menjadi nomor satu dengan market share sebesar 21,9% mengungguli Samsung yang berada di angka 19,7%. Dan pertumbuhan market share Asus pun paling besar saat itu, yakni 127,5% dari tahun 2014 hingga 2015. Dan jawaban mengapa Asus bisa terlempar ada dua jenis, pertama faktor eksternal dan kedua faktor internal.


Faktor Eksternal

Faktor eksternal ini memang diluar Samsung yang masih digdaya selama tiga tahun terakhir. Pasalnya kehadiran ponsel asal China memang mengubah peta persaingan pasar smartphone di Indonesia. Apalagi semuanya tahu betapa agresifnya Oppo dan Vivo di lapangan. Mereka berani jor-joran menyasar calon konsumen dengan strategi pemasaran yang terbilang kuno. Sebuah metode yang kuno, kalau berhasil ya tetap akan terus dipertahankan. Misalnya menyebarkan brosur di pinggir jalan dengan menari-nari agar menarik perhatian. Begitulah Oppo dan Vivo.

Bahkan untuk Vivo sendiri, peluncuran Vivo V7+ terbilang cukup berani. Pasalnya blocking delapan stasiun televisi nasional dilakukannya demi sebuah ponsel yang harga dan spesifikasinya terbilang cukup ya begitulah. Tapi apapun cibiran netizen, kenyataannya kedua ponsel asal China ini mampu menemani Samsung di lima besar.

Untuk Advan, saya sendiri cukup kaget sebab pabrikan lokal ini mampu mengungguli Vivo. Mungkin karena Advan mampu melakukan inovasi, seperti ekosistem sistem operasi IDOS, fitur keamanan Xlocker dan Privacy Protector. Sehingga banyak orang ingin mencoba-coba kecanggihan ponsel yang dibuat di Kawasan Candi Semarang ini.

Sementara itu, Xiaomi berhasil menyodok lima besar karena strateginya menyasar pasar offline. Pendirian outlet-outlet Xiaomi di Indonesia dengan bekerjasama dengan peritel ponsel berimbas positif pada raihan market share yang didata oleh IDC.

Faktor Internal

Salah satu penyebab mengapa Asus kurang bergairah di pasar Indonesia, bahkan dunia, mungkin disebabkan aspek penamaan yang absurd. Pada tahun 2014, saya menggunakan Asus Zenfone 5 setelah era BlackBerry usai. Setahun kemudian, giliran Asus Zenfone Max menggantikannya sebagai daily-driver saya. Pada kuartal keempat tahun 2017, ada yang menawari Asus Zenfone 4 Max Pro, dan saya pun menyambutnya.


Asus Zenfone 4 sebetulnya telah dirilis Asus sejak Januari 2014 bersamaan dengan Asus Zenfone 5 dan Asus Zenfone 6. Setelah itu, Asus memundurkan lagi penghitungannya dengan merilis seri Zenfone 2 pada Maret 2015. Seri ini cukup banyak dipuji karena desainnya yang keren dan unik.

Dari Zenfone 2, Asus pun merilis Zenfone 3 pada 2016 dan Zenfone 4 pada 2017. Tampaknya keabsurdan itu ingin dihapus sejak Zenfone 2 dirilis. Sayangnya, saat jelang perilisan Zenfone 3, Asus sudah kehilangan market share.

Menurut saya ada satu momentum dimana Asus kehilangan market share-nya. Saat penggunanya banyak berpindah ke ponsel lain demi sebuah game. Tentu anda masih ingat dengan game yang satu ini. Ya, Pokemon Go!

Game ini cukup memukul Asus karena kompatibiltas chipset Intel yang tidak mendukungnya. Saat game ini berada di puncak hype, Asus tak bisa mengambil bagian di dalamnya. Smartphone dengan chipset Intel banyak dijadikan bahan bully di internet, termasuk Asus. Dan ketika Pokemon Go! sudah menyesuaikan infratsrukturnya untuk kompatibel dengan chipset Intel, semuanya sudah terlambat. Orang-orang sudah mencicipi ponsel yang lain. Mereka selingkuh, dan nyaman dengan yang lain.

Hype Pokemon Go! memang usai, tapi Asus juga membutuhkan waktu untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Untuk itulah Zenfone 3 diluncurkan dengan memboyong seluruh serinya, mulai dari yang paling murah, hingga yang paling mahal. Sayangnya, pangsa pasar Indonesia masih berada di level-entry. Seri Zenfone 3 belum begitu dilirik oleh mereka yang sudah masuk middle-level. Kelompok ini lebih memilih merek Samsung.

Untuk mengembalikan kejayaan, siapapun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Ini termasuk Asus juga. Untuk itulah, perlu recovery besar-besaran terhadap strategi yang diterapkan oleh Asus saat ini. Kalau menirukan strategi lapangan persis Vivo dan Oppo, agaknya bakal menurunkan citra Asus yang di kelompok pengguna komputer masih disegani. Tapi tentu tak ada salahnya dicoba dengan memperbanyak sentuhan di tingkat bawah untuk lebih mengenalkan produk-produk terbarunya.

Sebab kalau Asus salah strategi, alih-alih kejayaan kembali, bukan tak mungkin yang didapat justru hengkangnya pabrikan Taiwan ini dari tanah air akibat gagal bersaing.
Read More

21 November 2017

Hindari Trik CEK INBOX, Gunakan Cara Ini

Banyak yang bertanya-tanya, mengapa setiap kali online shop ditanya jawabannya selalu sama, yakni "cek inbox, sis", "cek inbox, gan", atau "PM ya". Jawaban yang mengulang-ulang semacam itu ternyata memiliki berbagai alasan. Dari beberapa online shop, saya mendapatkan jawaban mengapa mereka memberikan jawaban semacam itu.

Seorang pegiat online shop, sebut saja Andini, menjawab bahwa kebiasaannya memberikan jawaban "cek inbox" pada setiap pertanyaan calon pelanggan di Facebook merupakan sebuah kebijaksanaan harga. Ia memang membagi harga itu kedalam dua golongan, yakni harga end-user dan harga reseller. Sebab ada saja yang berniat menjadi reseller, dan menjadi tak etis kalau harganya langsung dicantumkan di postingan. Pembeli jaman sekarang suka membandingkan-bandingkan harga alias price police.

Alasan kedua disampaikan pegiat online shop yang lain, anggap saja namanya Putri. Ia memaparkan kalau postingannya yang ada di Facebook sengaja dibuat semenarik mungkin tapi tidak mencantumkan harga sama sekali. Kemudian dengan menjawab setiap pertanyaan soal harga dengan "cek inbox", Putri bermaksud agar postingannya selalu mendapatkan jangkauan yang baik di Google. Intinya, trik Putri ini berupaya memaksimalkan algoritma Facebook agar postingannya dibaca banyak orang.

Kalau trik yang diberikan Andini, memang kebijakan internal yang debatable. Lhah wong dia sendiri yang punya usaha dan punya kebijakan, orang lain urusannya apa? Lain soal kalau trik yang diterapkan Putri. Trik Putri ini memang memaksimalkan algoritma Facebook, dimana setiap postingan yang mendapatkan banyak respon, entah itu komentar, like dan share, bakal diunggulkan di news feed Facebook. Bahkan news feed dari akun Facebook lain yang tidak berteman. Jadi kalau setiap komentar dibalas dengan "cek inbox", akan menimbulkan reaksi berantai terhadap komentar-komentar lainnya. Ujung-ujungnya postingan itu bakal terus naik di Facebook.

Dilema "Cek Inbox"

Mengenai trik Andini, saya tak mau ikut campur. Sebab itu urusan dapur bisnis seseorang. Namun perihal trik yang dilakukan Putri, agaknya saya kurang bersepakat.

Trik "cek inbox" yang diterapkan Putri untuk meningkatkan jangkauan pada algoritma Facebook, alih-alih meningkatkan jangkauan, kenyataannya justru menuai nyinyir di news feed lainnya. Apa bukti nyinyirnya? Meme.


Konten digital yang satu ini memang sangat mewabah. Apapun yang sedang viral pasti ada meme-nya. Meme jadi (semacam) puncak kenyinyiran bagi netizen Indonesia. Sehingga kalau soal "cek inbox" ini dibuat memenya, berarti ada kejengahan bagi netizen soal perilaku online shop yang setiap kali ditanya di kolom komentar, jawabannya selalu "cek inbox".

Lantas, bagaimanakah menyiasatinya? Agar jangkauannya semakin bertambah, tapi tidak dengan trik "cek inbox"?



1. Membuat Fanpage resmi untuk online shop

Ya, pertama kali yang mesti dilakukan, buatlah fanpage resmi online shop. Meski terjun di bisnis online shop, hindarilah penggunaan frase 'online shop' ini bersama nama brand. Misalnya nama yang dipakai adalah Tetukuan. Ya sudah, pakai saja Tetukuan ini. Sebab apabila namanya jadi Tetukuan Online Shop, kesannya jadi kaya iklan-iklan spam. Mengapa mesti membuat fanpage?

Dalam fanpage ada fasilitas statistik postingan. Di menu insight atau wawasan, kita bisa melihat sejauh mana postingan itu menjangkau pengguna Facebook. Jadi kalau memakai trik-trik tertentu, ya enggak cuma klaim semata kalau postingannya bakal menjangkau banyak orang. Jadi pindahkan postingan-postingan jualan di akun pribadi, dan beralihlah ke fanpage.

Oh iya, fanpage pun berguna kalau kita punya budget untuk memakai Facebook Ads. Sebab selain budget, fanpage menjadi syarat yang pertama.

2. Share setiap postingan fanpage

Sekarang Facebook sudah membolehkan share postingan fanpage ke grup. Kalau dulu, share dari fanpage ke grup belum bisa. Ini menambah kesempatan untuk meluaskan jangkauan postingan di Facebook. Untuk itu, setiap kali posting di fanpage sebaiknya di-share melalui akun pribadi, baik ke jaringan pertemanan maupun ke grup-grup yang diikuti. Ini bertujuan agar postingan di fanpage itu mendapatkan jangkauan yang maksimal.

3. Riset waktu terbaik untuk posting

Amati waktu terbaik untuk posting. Memang ada waktu-waktu yang baku dimana postingan tersebut akan mendapatkan reaksi yang baik. Misalnya saat jam istirahat makan siang, maupun peak hour setelah isya. Namun setiap akun punya jaringan pertemanan yang berbeda-beda. Sehingga kita mesti mengetahui kekhususan waktu terbaik untuk posting yang sesuai dengan jejaring pertemanan yang dimiliki.

4. Memakai gambar yang menarik

Pakailah gambar yang memiliki warna kontras dengan latar belakang Facebook yang biru. Ya, warna apa saja yang penting bertolak belakang dengan warna Facebook. Usahakan gambarnya persegi, agar tampilnya penuh tidak tertutup. Gambar menjadi alasan mengapa Facebook memberikan fitur warna-warni pada postingan status.

Gambar-gambar ini mesti dipakai setiap kali posting di fanpage. Kalau enggak bisa menggunakan Corel maupun Photoshop dalam mendesain gambar yang menarik, pakai saja Powerpoint. Buatlah gambar yang sederhana saja, sebab kuncinya bukan pada bagus atau tidak, tapi eye catching.

Jadi untuk meningkatkan jangkauan postingan di Facebook sebaiknya enggak lagi memakai trik "cek inbox". Sebab trik itu menurut saya sudah selayaknya diganti. Apalagi kalau patokannya agama, dimana setiap barang yang diperdagangkan selain kondisinya harus disebutkan, juga harganya mesti dicantumkan di awal secara transparan.

Demikian semoga bermanfaat.
Read More