20 Januari 2019

Coba Sosiago Influencer Marketing Untuk Menambah Penghasilan

Sosiago merupakan platform yang dihuni influencer marketing untuk mendulang penghasilan. Pasalnya pada platform inilah banyak advertiser yang memakai jasa para influencer tersebut untuk mempromosikan produknya.

coba sosiago influencer marketing

Anda juga bisa mencoba mendaftar di Sosiago. Platform influencer marketing ini selalu membuka diri untuk mereka yang memiliki aset media sosial yang bagus serta punya kemampuan untuk mempromosikan produk berupa barang maupun jasa.

Platform yang merupakan metamorfosis dari iBlogMarket ini membuka diri terhadap siapapun yang memiliki blog, akun Instagram, akun Twitter, dan channel YouTube. Sebagaimana disebut sebelumnya, hanya mereka yang memiliki aset media sosial bagus saja yang mendaftar.

Aset media sosial adalah akun-akun di media sosial yang dimiliki. Sementara kalau aset media sosial itu disebut bagus, berarti akun media sosial itu memiliki banyak followers, subscribers, maupun visitors untuk blog. Bagus juga berarti bukan cuma soal followers, namun niche yang terawat dengan konsisten.

Lalu ukurannya apa sampai seseorang disebut sebagai influencer? Ukuran angkanya memang tidak selalu tetap, tetapi paling tidak ketika akun media sosialnya ramai dan banyak yang terpengaruh oleh postingannya, maka boleh disebut bahwa ia adalah influencer.

Tapi untuk mengetahui lebih jelas influencer seperti apa yang dibutuhkan oleh advertiser di Sosiago, cara satu-satunya adalah mendaftarkan diri di platform ini. Anda bakal melihat kebutuhan kampanye di platform ini seperti apa, misalnya berapa followers Twitter yang dibutuhkan untuk mengikuti sebuah kampanye promosi.

Langsung saja, berikut ini cara mendaftar di Sosiago.
  1. Kunjungi laman Sosiago di https://www.sosiago.id.
  2. Pilih tombol DAFTAR yang ada di sudut kanan-atas.
  3. Di laman sign up tersebut terdapat form isian. Silakan diisi sesuai dengan petunjuknya.
  4. Sebelum klik DAFTAR, pastikan anda mendaftar sebagai Influencer, bukan Advertiser.
  5. Sosiago bakal mengirimkan email untuk mengaktivasi akun anda. Silakan cek email yang anda daftarkan.
  6. Setelah lama aktivasi berhasil terbuka, akun Sosiago anda sudah jadi. Silakan melakukan login untuk melihat isi dalam Sosiago.
Di halaman depan, anda akan langsung disuguhkan dengan kampanye yang sedang berjalan. Namun sebelumnya anda mesti mengisi secara lengkap aset media sosial yang anda miliki. Anda akan diminta untuk menautkan Sosiago ke media sosial maupun blog anda. Untuk blog sendiri, anda diminta untuk menaruh trace link agar Sosiago mengetahui traffic yang datang ke blog anda.

Kalau sudah selesai semuanya, ya tinggal duduk manis sambil mendaftarkan diri ke kampanye yang sedang berjalan. Silakan sesuaikan dengan niche anda agar meningkatkan kesempatan mendapat tawaran promosi.

Demikian cara mendaftar untuk menjadi influencer di platform Sosiago. Untuk cara mendaftar menjadi influencer pebisnis di Sosiago, silakan merapat ke artikel Coba Sosiago Influencer Marketing Untuk Masifnya Bisnis Anda. Terima kasih.

16 Januari 2019

Redmi Note 7: Polemik Kamera Beresolusi 'Palsu'

Redmi, sub-brand baru dari Xiaomi, merilis smartphone pertamanya di arena CES 2019. Smartphone yang diberi nama Redmi Note 7 ini langsung menjadi perbincangan tersebab harganya menggiurkan. Price-to-spec Redmi Note 7 sangat menarik, ya memang khas Xiaomi. Namun Redmi Note 7 memantik pula sebuah polemik.


Diberitakan kamera belakang Redmi Note 7 memiliki resolusi yang cukup besar, yakni 48 megapiksel. Sebuah resolusi kamera yang membuat smartphone ini menjadi lebih menarik karena ya itu tadi, pada rentang harga Rp2 jutaan (jika dikonversi ke rupiah) smartphone ini punya resolusi yang sedemikian besar.

Hanya saja polemik pun muncul, karena chipset yang dipakai Redmi Note 7 'hanya' Snapdragon 660. Chipset ini, menurut penjelasan sang pembuatnya, Qualcomm, hanya memiliki ISP (Image Signal Processor) yang mendukung resolusi kamera hingga 25 megapiksel saja. Lalu darimana Redmi menambahkan sisa megapiksel tersebut? Apakah Redmi memalsukan spesifikasinya?

Sumbernya ada pada sensor yang dipakai Redmi Note 7. Sensor ini diketahui bernama ISOCELL GM1 yang dibuat oleh Samsung. Berdasarkan sumber yang resmi, sensor ini memang memiliki resolusi 48 megapiksel. Lalu bagaimana bisa Xiaomi eh maaf Redmi melakukannya? Sebetulnya bukan Redmi pelakunya, namun Samsung GM1 itu sendiri yang memang menjadi 'biang kerok' polemik ini.

Sebelum berlanjut, mari kita belajar dulu soal sensor pada kamera smartphone.

Sebagaimana diketahui, hardware penting yang ada pada kamera disebut sensor CMOS/CCD. Saat ini, sensor yang dipergunakan pada kamera smartphone adalah CMOS. Benda ini mampu mengoversi gambar optik menjadi sinyal elektronik. Pada peralatan kamera apapun, komponen inti terletak pada elemen photosensitive. Elemen ini memang sensitif, namun hanya sensitif pada cahaya, tidak pada warna.

Kalau sebuah sensor CMOS tadi hanya menggunakan photosensitive untuk menghasilkan gambar, maka yang ada hanyalah terang dan gelapnya foto hitam putih. Makanya dibuatlah model RGB untuk membuat foto berwarna. Model ini memang hanya terdiri atas tiga warna saja, yakni Red (merah), Green (hijau), dan Blue (biru). Namun penemuan model ini masih belum membuat foto berwarna yang maksimal.

Barulah kemudian seseorang bernama Bryce Bayer, yang kemudian disebut Bapak Digital Imaging, menciptakan foto berwarna dengan model RGB tadi. Ia menggabungkan ketiga warna tersebut dan menciptakan aneka warna dengan menambahkan sebuah filter di depan elemen photosensitive tadi.

Secara sederhana, apa yang diciptakan oleh Bayer dijelaskan pada gambar dibawah ini. Dimana blok abu-abu merupakan elemen photosensitive, sementara blok RGB berada diatasnya. Setiap piksel RGB terhubung dengan satu piksel elemen photosensitive. Nah, filter RGB ini kemudian disebut dengan Bayer filter.


Namun Bayer filter hanyalah sebuah tahap, meskipun punya andil besar dalam membuat foto hitam-putih menjadi berwarna. Sebab ketika sebuah foto hanya mengandalkan piksel satu-persatu, hasilnya masih jauh dari sempurna. Untuk itulah Bayer kemudian melanjutkan proses penyaringan lewat Bayer filter tadi menjadi sebuah susunan dari hasil filter tersebut. Proses penyusunan hasil jepretan tersebut kemudian disebut dengan Bayer array alias 'susunan Bayer'. Cara kerjanya kurang lebih seperti gambar ini.


Jadi secara singkat, ketika anda menjepret sebuah shutter, maka cahaya yang masuk akan diterima oleh elemen photosensitive kemudian diteruskan ke Bayer filter, dan terakhir dilakukan reproduksi warna sehingga menghasilkan gambar yang baik. Begitulah kira-kira.


Nah, proses diatas terjadi pada apa yang disebut dengan sensor kamera. Pada sebuah sensor tadi ada yang namanya piksel. Setiap piksel selalu mewakili satu warna RGB. Semakin banyak piksel, maka semakin banyak pula RGB-nya, dan pastinya gambar yang dihasilkan pun bakal lebih baik. Dengan rumusan ini, maka besaran resolusi kamera yang disimbolkan dengan satuan megapiksel dianggap lebih besar lebih baik. Itulah kenapa pabrikan kemudian menciptakan sensor dengan resolusi yang besar. Salah dua yang menciptakan sensor yang besar adalah Sony IMX586 dan Samsung GM1.

Sony IMX586 memiliki fitur unggulan yang disebut Quad Bayer. Pada susunan Bayer filter biasa, sebuah piksel akan membentuk susunan sendiri untuk masing-masing piksel tersebut. Namun melalui fitur Quad Bayer, satu filter disusun kedalam satu kelompok yang terdiri atas empat piksel. Setiap satu kelompok piksel ini barulah disusun seperti Bayer filter biasa.

Ketika pengguna kamera memencet shutter, maka Quad Bayer ini akan memberikan izin kepada setiap piksel untuk memperhitungkan warna yang ada dan melakukan konversi struktur piksel tadi kedalam sinyal tersendiri untuk menghasilkan foto dengan resolusi 48 megapiksel.

Sekali lagi, masing-masing piksel yang ada di setiap kelompok Quad bayer tadi tetap menghasilkan sinyal tersendiri secara independen. Resolusi 48 megapiksel yang dihasilkan sensor IMX586 memang asli buatan hardware yang dibenamkan oleh Sony, tanpa adanya interpolasi. Istilah interpolasi berarti memaksa gambar yang sebetulnya kecil atau beresolusi kecil menjadi besar atau beresolusi besar yang dihasilkan melalui software.

Untuk lebih jelas mengenai Quad Bayer bisa dilihat pada gambar dibawah ini.


Namun Quad Bayer yang terjadi pada Samsung GM1 tidak sama dengan IMX586. GM1 memang sama-sama memakai Quad Bayer, namun piksel yang membentuk kelompok tadi tidak bisa menghasilkan sinyal sendiri. Sehingga untuk menciptakan gambar dengan resolusi 48 megapiksel, Samsung membenamkan software untuk menciptakan interpolasi. Pada hakikatnya, gambar yang dihasilkan oleh hardware GM1 hanya 12 megapiksel. Hmmm... ketahuan 'kan?

Kira-kira seperti ini ilustrasinya:

Data ini diketahui dari situs Samsung sendiri, dimana resolusi sensor GM1 adalah 4000x3000 yang mana sama saja dengan gambar beresolusi 12 megapiksel.

Jadi, bisa terjawab mengapa Redmi Note 7 yang notabene memakai chipset Snapdragon 660 bisa memakai kamera dengan resolusi 48 megapiksel. Hal itu disebabkan secara hardware, GM1 sebetulnya hanya memiliki kemampuan menjepret foto dengan resolusi 12 megapiksel saja. Kemudian melalui olahan software bawaan sensornya, gambar yang sebetulnya 12 megapiksel itu diinterpolasi menjadi 48 megapiksel. Jadi sebetulnya, tidak ada kebohongan disini. ~ya hanya sedikit mengecoh.

Sementara itu, buat yang ingin benar-benar memakai kamera dengan resolusi 48 megapiksel betulan tanpa interpolasi alias memakai Sony IMX586, maka akan hadir Redmi Note 7 Pro. Kalau begitu apakah Redmi Note 7 Pro akan memakai Snapdragon 855 atau MediaTek Helio P90? Menarik untuk ditunggu.


Sumber: Weibo.

12 Januari 2019

Coba Sosiago Influencer Marketing Untuk Masifnya Bisnis Anda

Coba Sosiago Influencer Marketing - Sosiago merupakan sebuah platform internet marketing yang mempertemukan antara advertiser atau pemilik dengan influencer. Berbagai nama besar dengan produknya yang ternama telah mendaftar di Sosiago untuk meningkatkan popularitas layanan baru mereka di internet. Kenapa mereka memilih Sosiago? Karena ada banyak hal menggiurkan disini.

coba_sosiago_influencer_marketing
Sosiago untuk masifnya bisnis anda.

Sosiago dihuni oleh 20.022 influencer dari berbagai platform, seperti Twitter, Instagram, Youtube, dan bloger. Sosiago memang masih terhitung baru, sehingga hitungan tugas yang purna dikerjakan baru 46 pekerjaan dan masih tersisa 28 kampanye yang sedang berjalan.

Jumlah pekerjaan itu tidak bisa dibilang kecil, sebab dibandingkan dengan kehadiran Sosiago yang baru seumur jagung, bekerjasama dengan puluhan bisnis besar dan ternama itu sudah menjadi catatan positif. Platform yang berkantor di bilangan Jakarta ini merupakan sebuah re-branding dari iBlogMarket, sebuah jenama populer untuk campaign marketing di internet. Re-branding ini dilakukan persis pada 18 Oktober 2018.

Bagaimana Sosiago Bisa Berpartner dengan Banyak Bisnis Besar?

Sosiago memiliki beberapa alasan untuk dipilih sebagai tempat mempopulerkan layanan bisnis. Selain dari ekosistem infuencer yang besar, Sosiago memiliki layanan yang memanjakan para punggawa di lini promosi pada bisnis tersebut. Untuk memudahkan kita sebut saja mereka sebagai advertiser.

Hal pertama kali yang ditekankan oleh Sosiago adalah biaya topup. Biasanya untuk menggunakan sebuah platform inlfluencer, advertiser mesti melakukan deposito. Ya, belum apa-apa sudah ‘dipalak’. Sosiago tidak begitu.

Sosiago memberikan kebebasan untuk para advertiser melihat-lihat influencer yang cocok bagi bisnis mereka. Perlu diketahui, dengan melihat-lihat daftar influencer, tarif, dan ragam yang ditawarkan sebuah platform saja sebetulnya sudah termasuk kedalam layanan.

Melihat ragam influencer ini sebetulnya mempersilakan pihak luar untuk mengintip database Sosiago. Sebagaimana diketahui, database influencer merupakan sebuah aset bagi advertiser. Namun Sosiago memberikan layanan yang bermanfaat ini secara cuma-cuma.

Berapa Biaya Beriklan di Sosiago?

Kalau terjadi kecocokan antara kampanye yang diinginkan dengan influencer yang ada pada Sosiago, barulah advertiser bisa melakukan topup. Jumlah influencer yang bakal melakukan kampanye selalu tergantung dengan budget yang tersedia di dompet advertiser. Semakin besar budget-nya, tentu semakin besar pula influencer yang bisa diikutsertakan, dan dampaknya pun secara otomatis akan semakin besar.

Setiap biaya kampanye selalu tergantung pada bagaimana kampanye itu dilakukan. Apabila kampanyenya membutuhkan spesifikasi tertentu yang cukup memberatkan, tentu biayanya akan semakin besar. Sehingga ukuran biaya kampanye ini sangat bervariasi.

Sebagaimana diketahui, perihal biaya kampanye ini masuk wilayah yang cukup sensitif. Sehingga Sosiago memberikan transparansi sebening mungkin untuk pemotongan saldo topup dengan biaya yang dibutuhkan untuk kampanye.

Sebagai contoh, apabila anda mengisi topup Rp10.000.000, sementara anda menggunakan influencer sebanyak 50 orang dengan tarif Rp150.000 per orang, maka masih tersisa saldo Rp2.500.000. Iya, sisa saldo itu bisa anda pergunakan untuk membuat kampanye lagi di lain kesempatan. Sisa saldo tersebut sesuai dengan budget yang advertiser pergunakan untuk kampanye. Untuk layanan ini Sosiago tidak menerapkan fee service.

Fee service baru diterapkan ketika advertiser menginginkan Sosiago mengurus semua kebutuhan kampanye, mulai dari penentuan jenis kampanye hingga pemilihan para influencer yang mengampanyekan. Advertiser tinggal duduk manis menerima hasil yang diharapkan. Apabila dirasa kurang, advertiser difasilitasi untuk melakukan briefing online dengan influencer. Cukup adil ‘kan?

Cara Memulai Kampanye di Sosiago

Cara memulai kampanye di Sosiago cukup mudah, advertiser tinggal berkunjung ke sosiago.id. Di interface situsnya bakal ada tombol hijau yang bertuliskan DAFTAR di sudut atas sebelah kanan atau pilih LOGIN di sampingnya apabila advertiser sudah terdaftar. Pilih saja DAFTAR apabila advertiser belum pernah mendaftar di Sosiago.

coba_sosiago_influencer_marketing


Kalau tombol DAFTAR yang dipilih, advertiser akan diarahkan ke laman sign-up untuk pendaftaran username. Masukkan email yang aktif, nama advertiser, dan password untuk login ke layanan. Pada pilihan “Silakan pilih daftar sebagai pengguna:” maka pilihlah tombol Advertiser. Perubahan warna tombol menjadi hijau menandakan opsi tersebut aktif.

coba_sosiago_influencer_marketing

Email yang didaftarkan harus aktif, sebab Sosiago akan mengirimkan tautan untuk mengonfirmasi pendaftaran tersebut. Jadi bukalah email tersebut, dan klik tombol Confirm Address. Kalau email dari Sosiago tidak ada, cobalah temukan di folder Spam. Kalau masih tak ada juga, tunggulah sebentar lagi atau bisa melakukan permintaan mengirim email konfirmasi lagi kepada Sosiago.

coba_sosiago_influencer_marketing

coba_sosiago_influencer_marketing

Setelah pendaftaran sukses, anda akan dibawa ke halaman depan yang berisi daftar rekomendasi influencer yang bisa diajak bekerjasama. Advertiser bisa melakukan sortir untuk mencari influencer yang tepat sesuai kategori kampanye, lokasi influencer, maupun jenis influencer berdasarkan rating, tarif, dan lain-lain.

coba_sosiago_influencer_marketing


Terakhir, advertiser tinggal memilih influencer yang diperlukan, kemudian topup saldo untuk membayar mereka. Bisa juga dengan layanan kedua yang memberikan kemudahan bagi advertiser untuk melakukan kampanye. Advertiser tinggal duduk manis, dan bisnis pun bisa populer di internet. Apapun pilihan advertiser, Sosiago pilihannya.

9 Januari 2019

Meningkatkan Penetrasi Cabang E-Sport di Indonesia Bersama Asus Zenfone Max M2


Orang-orang mengenalnya Ridel. Nama lengkapnya Ridel Yesaya Sumarandak. Usianya baru genap 16 tahun pada dua bulan sebelum laga bersejarah itu dihelat. Hitungan usia ini pernah menjadi momok mengkhawatirkan bagi dirinya. Sebab akibat usia dibawah 16 tahun, dirinya pernah ditolak berlaga di sebuah pertandingan bergengsi.

Kini ia tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mendapatkan emas di nomor Clash Royale cabang E-Sport pada Asian Games 2018. Tak tanggung-tanggung, dengan akun BenZerRidel, ia menekuk wakil dari China, Lciop.

Meski emas yang diperoleh Ridel tak dihitung karena e-sport masih cabang ekshibisi, namun banyak yang tak menyangka atas pencapaian tersebut. Pasalnya Huang Chenghui, seorang pria dibalik akun Lciop itu, berasal dari negeri superpower untuk urusan game. Dan ia harus mengakui keunggulan bocah asal Tondano, sebuah daerah yang bahkan jauh dari ibukota Jakarta.
Ridel Yesaya Sumarandak dalam poster resmi Facebook Clash Royale Indonesia.
Fenomena semacam ini sebetulnya bukan tidak mungkin akan terus berkembang besar. Perkembangannya akan menguntungkan Indonesia sebab bakal memiliki banyak stok atlet e-sport. Karena kedepan, e-sport bukan lagi cabang ekshibisi. E-sport akan menjadi cabang olahraga yang resmi, setidaknya di tingkat regional Asia.

Namun perkembangan ini tentu meminta syarat. Setidaknya ada tiga syarat yang perlu dipenuhi. Syarat yang pertama adalah kultur penerimaan masyarakat terhadap game itu sendiri harus baik. Kedua, infrastruktur internet sudah tersambung ke pelosok negeri. Ketiga atau yang terakhir yakni keberadaan perangkat gaming yang harganya terjangkau kantong masyarakat biasa.

Mari kita bahas ketiga syarat ini satu-persatu.

Sudah Diterimakah E-Sport di Tengah Masyarakat?

Masyarakat Indonesia memang masih menganggap aktivitas game adalah hobi yang merugikan. Orang-orang masih menganggap, misalnya, membeli 'skin' pada Mobile Legends, dianggap pemborosan dibandingkan patungan shuttlecock pada permainan bulutangkis di kelurahan.

Mereka beralasan kalau bermain game di smartphone hanya membuang waktu, sementara bulutangkis bisa mengeluarkan keringat dan bisa menyehatkan tubuh. Padahal, catur juga tidak membuat keluar keringat, tapi kenapa disebut olahraga? Jika logikanya hanya aktivitas fisik yang mengeluarkan keringat, tak perlu bulutangkis atau semacamnya, lari-lari keliling kompleks pun sama saja. Terlebih lari tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli raket dan shuttlecock.

Untunglah seiring semakin masifnya kompetisi game dan masuknya cabang e-sport ke dalam kompetisi olahraga konvensional, membuat pandangan akan aktivitas game ini mulai positif. Ya, pandangan positif tersebut memang baru mulai belakangan ini.

Infrastruktur Internet di Indonesia Sudah Lebih Baik

Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2017 jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143 juta. Jumlah ini sudah lebih dari setengah populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 264 juta jiwa. Angka pengguna itu diyakini telah bertambah hingga 150 juta pada tahun 2018.

Melonjaknya jumlah pengguna itu disebabkan karena perkembangan proyek Palapa Ring. Proyek pemerintah ini merupakan pembangunan jaringan kabel serat optik yang akan menjangkau 514 kabupaten dan kota di 34 provinsi. Proyek yang meliputi kabel laut dan darat sepanjang 35.280 km dan 21.807 km itu ditargetkan tuntas pertengahan tahun 2019 dan memakan biaya sebesar Rp21 triliun.

Belum lagi keberadaan BTS yang diselenggarakan secara mandiri oleh penyedia layanan telekomunikasi. Hal ini membuat konektivitas internet di Indonesia dianggap dianggap sudah baik.

Hal ini pun tentu menjadi kabar baik bagi perkembangan game dan e-sport di Indonesia. Sebab masifnya jaringan internet tentu akan meluaskan akses bagi penduduk Indonesia dimanapun berada. Tinggal satu lagi syarat yang mesti dipenuhi: terjangkaunya harga perangkat game.

Perangkat Game Masih Dianggap Mahal?

Ya, perangkat game memang masih mahal. Sebagai contoh, laptop Asus ROG yang dibanderol mulai dari belasan juta. Namun e-sport bukan cuma berbicara game komputer maupun konsol belaka. Banyak game yang ada di e-sport, seperti Arena of Valour, Mobile Legends, Clash Royale, dan Hearthstone notabene merupakan mobile gaming. Artinya nomor di cabang e-sport itu bakal dimainkan lewat smartphone.

Perkembangan game mobile memang lumayan pesat. Banyak perusahaan game konsol dan PC yang mengadopsi game mereka ke versi mobile. Sebut saja PUBG Mobile yang merupakan adaptasi dari PUBG. Kemudian menyusul pula Fortnite yang punya versi mobile dan dirilis 'eksklusif' hanya untuk smartphone flagship.

Kalau mengikuti spesifikasi yang diharapkan Fortnite, memang mitos bahwa smartphone gaming mahal memang benar. Namun banyak game mobile yang bisa dimainkan dengan spesifikasi kelas menengah. Kalau diukur dengan chipset, game tersebut bisa dimainkan dengan spesifikasi chipset Snapdragon seri 600-an. Bahkan Clash Royale, yang dimenangkan Ridel itu, bisa dimainkan dengan smartphone ber-chipset Snapdragon 400-an.

Artinya apa? Untuk memainkan game mobile secara umum tidak perlu smartphone mahal dengan spesifikasi kelas wahid. Smartphone kelas menengah dengan harga Rp2 jutaan juga bisa kok. Apalagi sekarang sudah hadir Asus Zenfone Max M2.

Asus Zenfone Max M2: A Must Buy!

Asus Zenfone Max M2 bisa dibilang merupakan alternatif dari Asus Zenfone Max Pro M2. Ia menyandang tiga kelebihan yang memang wajib dimiliki oleh smartphone gaming: chipset kuat, baterai tahan lama, dan berlayar mantap.

          Chipset Kuat                                                                                          



Zenfone Max M2 memakai chipset Snapdragon 632, chipset yang baru pertama kali hadir di Indonesia. Chipset ini merupakan versi ekonomis dari 636 dan merupakan pengganti dari Snapdragon 625. Fabrikasinya 14nm, persis dengan yang dimiliki Snapdragon 636 dan 660.

Soal kemampuan, Snapdragon 632 dibuat dengan peningkatan performa sebesar 40 % dan kualitas grafis sebesar 10 % dibandingkan pendahulunya. Hal ini terlihat dari rata-rata skor AnTuTu yang dihasilkan, yakni mencapai 104.000, sementara chipset Snapdragon 625 mendapat skor 78.000.

Chipset ini menjadi nilai plus pertama dari Zenfone Max M2, sebab selain mengalami peningkatan performa yang lebih tinggi dari pendahulunya, juga menyebabkan smartphone ini lebih hemat daya dan tidak panas ketika dipakai berlama-lama.

          Baterai Jumbo                                                                                       



Hal kedua yang pastinya menjadi ciri khas dari seri Zenfone Max adalah keberadaan baterai jumbo. Asus Zenfone Max M2 memiliki baterai 4.000 mAh. Baterai sebesar ini bisa dipergunakan untuk bermain Free Fire (game yang di-bundling dengan smartphone ini) selama 8 jam.

Chipset tangguh dan baterai besar sebetulnya percuma kalau dipasangi software yang tidak bagus untuk bermain game. Untuk itulah Asus menyerahkan sepenuhnya sistem operasi smartphone ini pada Android Oreo 8.0 yang murni. Jadi smartphone tidak banyak bloatware yang memakan memori dan memberatkan kinerja chipset dan memori, sehingga pengalaman bermain game jadi lancar.

          Layar Mantap                                                                                       



Asus Zenfone Max M2 memiliki layar resolusi HD+ dan panel IPS LC dengan lebar 6,3 inci. Layar ini selain memiliki ukuran rasio 19:9, juga memiliki rasio screen-to-body sebesar 88 %. Rasio ini cukup besar, sehingga harus memaklumi kehadiran poni yang menurut sebagian orang sedikit mengganggu. Namun apalah arti poni, kalau posisi smartphone biasanya dimiringkan saat bermain game. Dengan begitu, poni akan tertutup jari jempol ‘kan?

Untuk lebih jelasnya, berikut ini spesifikasi dari Asus Zenfone Max M2:


Dengan spesifikasi yang ditawarkan, harga Rp2,3 juta untuk versi RAM 3 GB dan memori internal 32 GB, dan Rp2,7 juta untuk versi RAM 4 GB dan memori internal 64 GB, seharusnya terjangkau oleh penggemar game. Pasalnya untuk smartphone ber-chipset dibawah itu saja masih banyak yang dibanderol sama atau bahkan lebih tinggi.

Jadi dengan tiga syarat yang hampir dipenuhi, termasuk kehadiran Asus Zenfone Max M2 sebagai smartphone game yang harganya terjangkau, seharusnya penetrasi game e-sport bisa lebih baik. Sehingga Indonesia memiliki stok yang melimpah untuk mendulang medali dan menambah prestasi dari cabang olahraga ini.

8 Januari 2019

7 Cara Mempercepat Performa Smartphone yang Sudah Jadul

Anda punya smartphone lama yang masih setia menemani? Smartphone yang menjejaki ribuan kenangan, menemani perjuangan, sehingga sayang untuk dilego begitu saja. Namun dilema muncul ketika smartphone tersebut out-of-date sehingga gagal beradaptasi dengan perkembangan zaman yang menuntut aplikasi kekinian.


Sebelum frustasi dan membongkar tabungan, ada baiknya mencoba beberapa tips agar performa smartphone jadul tersebut kembali seperti semula. Tips ini lebih kepada pengembalian software smartphone agar berfungsi seperti awal kali pembelian. Namun perlu dicatat, karena menurunnya fungsi hardware akibat usia dan pemakaian, maka pengembalian performa ini mungkin saja gagal. Tapi tiada salahnya mencoba 'kan?

1. Melakukan factory reset.

Sebelum beranjak ke langkah-langkah lain, ada baiknya mengubah pengaturan smartphone anda ke pengaturan pabrik atau factory reset. Factory reset akan membersihkan pengaturan yang lupa anda kembalikan, data yang luput ditaruh dimana, dan membersihkan memori sehingga smartphone seperti baru keluar dari pabrik.

Untuk melakukan factory reset, yang anda perlukan tinggal masuk ke menu Pengaturan > Sistem > Opsi Setel Ulang. Namun langkah ini tentu sedikit berbeda pada setiap smartphone. Pastikan sebelum melakukan reset, pindahkan data-data penting seperti foto dan dokumen dari smartphone, lalu cabut semua komponen eksternal seperti SIM Card dan Micro-SD.

2. Melakukan pembaruan software.

Smartphone yang melambat sering disebabkan karena sistem operasinya sudah tidak bagus, fitur security-nya jebol, banyak meninggalkan bugs, dan lain sebagainya. Sehingga software ini mengakibatkan melambatnya kinerja smartphone. Makanya perlu dilakukan peningkatan software yang biasanya disediakan oleh pabrikan paling lambat setahun sekali.

Kalau anda pemakai smartphone yang ikut program Android One, seperti Xiaomi Mi A1, maka update security patch diberikan oleh Google setiap bulan. Namun untuk pabrikan secara umum, update mayor biasanya dilakukan setahun sekali. Nah, barangkali update ini luput anda lakukan, saatnya sekarang melakukannya.

Cara melakukan update sistem operasi ini cukup mudah. Anda tinggal masuk ke menu Pengaturan dan cari Pembaruan Sistem atau nama lain yang mengarah ke hal yang sama. Apabila menu ini diklik, maka akan muncul pilihan untuk melakukan pengecekan apakah ada update yang disediakan oleh pabrikan atau tidak. Satu catatan penting, anda mesti terhubung ke wi-fi sebab file yang diunduh cukup besar.

3. Melakukan pembaruan aplikasi bawaan.

Anda mesti memisahkan antara aplikasi bawaan dengan bloatware. Aplikasi bawaan selalu dipasang oleh Google untuk mendukung ekosistem Android mereka di smartphone anda, seperti Play Store. Ciri khasnya aplikasi ini tidak bisa dibuang, namun bisa dinonaktifkan saja. Sementara untuk bloatware, biasanya merupakan kerjasama antara pabrikan dengan pihak ketiga yang ingin aplikasinya muncul di smartphone pengguna. Bloatware ini kebanyakan bisa dihapus, namun pada smartphone tertentu, hanya tersedia opsi non-aktif saja.

Aplikasi bawaan ini mesti di-update agar terhindar dari keberadaan bug yang kemungkinan ada dan akan mengganggu. Kemudian kehadiran fitur-fitur baru yang bisa jadi lebih meringankan kinerja smartphone.

Untuk melakukan update aplikasi ini, silakan masuk ke Google Play Store, klik garis tiga horisontal di pojok kiri atas di samping tulisan Google Play, lalu klik Aplikasi & Game Saya. Apabila ada aplikasi yang perlu diupdate, maka akan muncul tombol hijau bertuliskan Update Semua. Untuk melakukan update terhadap semua aplikasi yang belum diupdate, silakan klik tombol tersebut. Namun untuk melakukannya satu persatu, silakan klik tombol update yang tersusun dibawahnya.

4. Matikan update otomatis.

Hal ini memang terdengar berlawanan dengan poin pertama dan kedua. Sebab kalau yang pertama dan kedua malah menyuruh melakukan update, ini malah terkesan menghalangi update. Nah, poin ini sebetulnya bukan hanya tentang update.

Ya memang sih, untuk smartphone dengan program Android One, sistem update otomatis ini tidak ada opsi untuk dimatikan. Namun untuk sistem operasi yang dimodifikasi seperti EMUI dari Huawei, ZenUI dari Asus, maupun MIUI dari Xiaomi, punya opsi semacam ini. Lalu, mengapa mesti memilih 'jangan melakukan update otomatis'?

Kadang-kadang, yang namanya update dari sebuah aplikasi itu justru lebih besar dari aplikasi itu sendiri. Disinilah perlu peranan pengguna apakah update ini diteruskan atau tidak. Sebab anda berhadapan dengan smartphone jadul yang belum tentu memorinya masih lega.

Kalau update ini dilakukan secara otomatis, bisa jadi smartphone jadul kita tidak menyanggupi beban baru yang diberikan. Alhasil bukannya semakin lancar, justru aplikasi baru semakin melambatkan performa.

5. Membersihkan cache secara rutin.

Anda tahu cache? Cache merupakan 'ingatan' data dan gambar yang sifatnya sementara. Cache ini sebetulnya memudahkan smartphone untuk 'memanggil' kembali data yang sudah pernah dipakai.

Misalnya anda sering membuka Facebook, maka cache di aplikasi Facebook tentu tersimpan rapi. Ketika anda membuka kembali aplikasi Facebook, maka cache ini akan dipanggil kembali untuk memudahkan sistem operasi membuka aplikasi tersebut.

Sepintas, cache memudahkan smartphone untuk membuka aplikasi. Namun sayangnya, tidak semua aplikasi tadi terpakai secara reguler. Ada banyak aplikasi yang tidak terpakai namun menyimpan cache yang tidak sedikit. Hal ini selain membebani memori juga akan melambatkan kinerja smartphone.

Cara membersihkannya cukup mudah. Tekan yang lama ikon aplikasi di smartphone anda, lalu ketuk menu informasi aplikasi yang disediakan. Di menu ini pilihlah opsi Penyimpanan. Di menu Penyimpanan akan muncul pilihan Hapus Penyimpanan dan Hapus Cache. Silakan pilih Hapus Cache, sebab menghapus Penyimpanan akan menghilangkan pengaturan di aplikasi tersebut, seperti data login dan lainnya.

6. Uninstall aplikasi yang sudah jarang dipergunakan.

Kalau seminggu saja sebuah aplikasi tidak lagi dipergunakan, maka lakukan uninstall. Sebab dalam waktu seminggu itu bisa diukur kalau anda memang tak butuh-butuh amat dengan aplikasi tersebut. Aplikasi yang dibutuhkan akan dipergunakan secara reguler. Makanya melakukan uninstall adalah pilihan yang tepat.

Sebuah aplikasi meski tidak dipergunakan akan tetap memakan memori dan tetap berjalan pada background process sistem operasi. Proses ini tentu bakal memperlambat kinerja smartphone. Sementara itu, aplikasi yang dipergunakan pun akan memakan memori yang lebih besar lagi. Jadi untuk mengimbanginya, hapuslah aplikasi yang tidak digunakan itu.

7. Pergunakan aplikasi versi ringan atau lite-version.

Saat ini banyak tersedia aplikasi yang dibuat versi yang lebih ringan atau bahasa yang sering dipakai adalah 'lite'. Hampir setiap aplikasi mayor memiliki aplikasi versi lite ini dan mereka resmi dibuat oleh pengembang yang sama. Dan untuk mendukung performa yang baik smartphone anda, sebaiknya pasang aplikasi tersebut di smartphone jadul anda.

Banyak aplikasi versi lite untuk aplikasi utama di Play Store. Anda tinggal memilih misalnya Facebook Lite untuk Facebook, FB Messenger Lite untuk FB Messenger, Twitter Lite untuk Twitter, Gmail Go untuk Gmail, Google Maps Go untuk Google Maps, Youtube Go untuk Youtube, dan seterusnya.

Cuma ada beberapa smartphone yang tidak mendukung versi lite dari aplikasi tersebut. Untuk mengatasinya agar smartphone jadul anda tetap cepat tanpa harus menguras memori, maka pergunakan versi website dari aplikasi tersebut. Ya memang sih, pengalaman penggunaannya tidak sama, namanya juga alternatif.

5 Januari 2019

Bagaimana Aplikasi E-Wallet Meraup Profit?

Saat mencari informasi tentang "darimana perusahaan e-wallet mendapatkan profit?", saya cukup kesulitan menemukan referensi yang pas.

Pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh beberapa orang teman itu, pada akhirnya menjadi keingintahuan saya pula. Sebab pada mulanya, saya tak ambil pusing dengan masifnya aneka ragam promo dari aplikasi kantong elektronik alias e-wallet yang ada di smartphone.


Pada mulanya saya menganggap kalau adanya selisih kecil yang biasanya mengendap di saldo e-wallet, merupakan uang yang bisa dijadikan profit. Namun setelah dikalkulasi, jumlahnya tidak signifikan untuk mendongkrak e-wallet sampai meraup profit miliaran bahkan triliunan.

Maksud saya begini. Misalnya saya mengisi saldo OVO sebesar Rp100.000. Keesokan harinya saya mesti naik Grab Bike dan membayar Rp15.000. Tentu ada sisa saldo Rp85.000. Saldo ini saya pakai untuk memesan makanan di Grab Food, dan menghabiskan Rp78.000.

Namun setelah penggunaan itu, saya tidak pernah memakai layanan Grab maupun melakukan pembelian di Tokopedia sehingga saldo Rp7.000 yang mengendap itu dipergunakan OVO untuk melakukan tindakan ekonomi lainnya. Misalnya berinvestasi, mengakuisisi bisnis lain, atau sejenisnya.

Hal yang sama pun terjadi dengan aplikasi DANA. Cuma aplikasi yang berada di bawah Elang Mahkota Teknologi dan AliPay ini kerap saya pergunakan di Bukalapak untuk mengikuti Serbu Seru - meski tak pernah dapat. Dan kondisinya sama, selalu ada saldo mengendap yang cukup lama barang Rp1.000 hingga Rp10.000 setelah transaksi rutin.

Nah, saya kira teknik saldo inilah yang membuat para pengelola e-wallet itu mendulang profit. Pada kenyataannya, saldo mengendap bukan pendulang profit utama. Bahkan bukan pendulang profit sama sekali. Lalu, apa?

Sebelum masuk ke bagaimana e-wallet mendapatkan profit, ada baiknya diketahui lebih jelas dulu bagaimana cara kerja e-wallet ini.

Cara Kerja E-Wallet

Tahun 2019 merupakan tahun dimana pembayaran non-tunai semakin masif. Salah satunya adalah dengan kehadiran berbagai aplikasi e-wallet seperti OVO, Dana, T-Cash, Paytren, AyoPop, Uang Hape, Go-Pay, dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak e-wallet yang ada, cara kerjanya hampir sama. Anda tinggal unduh aplikasinya, melakukan registrasi, mengisi saldo dengan sejumlah uang, dan melakukan transaksi menggunakan e-wallet ini.

Saat registrasi dilakukan, anda sudah memberikan kepercayaan pada pengelola e-wallet untuk dititipi sejumlah uang. Dan secara fisik, uang anda sudah diputar lagi. Angka digital yang ditunjukkan sebagai saldo, hanyalah perwakilan saja. Uang anda sudah bergerak entah kemana. Ya mirip cara kerja bank sih.

Setelah nominal saldo sudah muncul, anda bisa membelanjakan senilai angka yang ada disitu. Munculnya saldo mengendap biasanya disini, sebab jarang sekali ada barang atau layanan dengan tarif yang pas.

Soal transaksi inilah yang mestinya menjadi pertimbangan kala memilih e-wallet. Pasalnya e-wallet yang baik adalah e-wallet yang banyak diterima oleh vendor, baik vendor transportasi, vendor marketplace, vendor makanan, maupun vendor hiburan. Sayangnya, satu hal yang membuat bingung adalah beberapa layanan yang sering dipergunakan, memakai e-wallet yang berbeda-beda.

Ya sudah, cara kerjanya memang seperti itu saja. Lalu, darimanakah perusahaan e-wallet ini mendapatkan profit? Sebab mustahil kalau tanpa profit, banyak perusahaan baik perbankan, maupun raksasa kapital tergiur dengan bisnis ini.

Mari kita bahas cara kerja itu satu persatu. Sebab dari situlah profit e-wallet didapatkan.

Saat anda melakukan pengunduhan aplikasi dan melakukan registrasi, penyedia layanan e-wallet sudah mendapatkan profit. Pertama penambahan jumlah pemakai, dan kedua mendapatkan data pengguna, by name by address. Oke, ini bukan profit yang ternilai oleh uang, tapi ini merupakan aset yang kelak bisa meningkatkan valuasi.

Kalau proses registrasi tak mendapatkan profit langsung, maka saat pengguna mengisi saldo, barulah e-wallet mendapatkan keuntungan berupa nominal uang secara langsung. Pihak bank selaku perantara proses transfer itu akan membagi keuntungan dari nilai transaksi itu dengan pengelola e-wallet. Meskipun pengguna mengisi saldonya lewat Alfamart atau Indomart, tetap saja proses transfer akan melalui bank.

Setelah saldo terisi, pengguna tentu membelanjakan uangnya ke vendor yang sudah bekerjasama. Nah, sebelum e-wallet dipakai di marketplace, sebelumnya memang sudah ada perjanjian kerjasama dimana pihak vendor membayar sejumlah uang untuk memasang aplikasi e-wallet itu di layanannya.

Anda bisa mengambil contoh untuk hal ini pada Bukalapak yang memakai Dana atau Tokopedia yang memakai OVO. Hal ini disebabkan keduanya belum bisa membuat e-wallet sendiri. Tokopedia dengan TokoCash-nya dan Bukalapak dengan BukaDompet-nya, masing-masing gagal mendapat restu dari Bank Indonesia. Sesuatu yang sudah digenggam oleh e-wallet yang kini dipakai keduanya. Makanya kedua vendor marketplace ini tentu bersedia membayar untuk memakai fasilitas e-wallet tersebut.

Profit pun datang dari tampilan aplikasi maupun situs e-wallet. Sebab mereka menyediakan slot agar beberapa layanan yang bekerjasama dengannya mengiklankan diri untuk meningkatkan jumlah transaksi.

Makanya kembali ke awal, semakin banyak pengguna, maka nilai jual atau valuasi dari e-wallet akan meningkat. Makanya ketika sebuah marketplace berstatus unicorn seperti Tokopedia dan Bukalapak memakai sebuah e-wallet, maka valuasi e-wallet itu akan meningkat, sebab ada penambahan jumlah pengguna.

Anda boleh tidak percaya, namun kasus Go-Jek dengan Go-Pay bisa menjadi contoh. Meski berstatus unicorn dengan valuasi pada akhir 2018 mencapai Rp145 triliun, Go-Jek tidak banyak mendulang profit dari aplikasi transportasinya, Go-Ride. Namun bisnis ini tetap dipertahankan agar pengguna aplikasi tetap banyak. Bahkan ditambah pula dengan Go-Food.

Muara dari memperbanyak pilihan layanan Go-Jek itu agar penambahan konsumen atau istilahnya consumer acquisition semakin bergerak positif. Semaki banyak konsumen, maka jumlah transaksi Go-Pay terus meningkat. Dan disinilah profit itu bakal muncul.

Demikianlah artikel tentang "darimana aplikasi e-wallet meraup profit". Apabila ada yang perlu ditambahkan, silakan tulis di kolom komentar.