9 Februari 2019

Menghitung Untung Serbu Seru Bukalapak

Siapa yang tidak tergiur melihat gadget jutaan rupiah atau bahkan tas mewah puluhan juta dibanderol Rp12.000 saja? Ya itu cuma terjadi di program Serbu Seru Bukalapak, dimana hanya mereka yang betul-betul beruntung saja yang bakal mendapatkan barang tersebut.


Namun Serbu Seru Bukalapak bukanlah undian berhadiah, dan uang Rp12.000 bukanlah semacam tiket lotere. Uang yang dibayarkan untuk membeli barang itu akan dikembalikan jika calon pembeli tidak berhasil 'menyerbu' barang yang diincar.

Serbu Seru dimulai pertama kalinya jelang Hari Belanja Online Nasional (Habrolnas) 2018 dan masih berlangsung hingga kini (09/02/2019). Serbu Seru diadakan dalam dua babak, pertama dimulai pada pukul 11.00 dan kedua dimulai lagi pada pukul 17.00. Undian pemenang Serbu Seru bakal dilakukan mulai pukul 23.15.

Oh iya, program Serbu Seru pun tersedia bukan cuma buat para pengguna biasa dari Bukalapak juga, tapi buat para Mitra Bukalapak pun disediakan dengan barang yang nilainya lebih besar. Namun kali ini kita hanya berbicara soal Serbu Seru yang disediakan untuk pengguna biasa. Kalau mau hitung-hitungan sih ya sama juga perhitungannya.

Pada mulanya banyak yang meragukan keabsahan Serbu Seru ini. Ada yang meneliti soal akun pemenang Serbu Seru yang terpampang, ada pula yang menyamakan antara pemenang di aplikasi satu dan lainnya yang berbeda-beda, padahal barang yang 'diserbu' cuma satu saja. Namun keraguan ini berhasil ditepis dengan sabar oleh Bukalapak. Dan setiap harinya, peserta Serbu Seru selalu saja membludak.

Peserta Serbu Seru yang terlihat hanyalah angka 999+ untuk masing-masing barang. Dalam satu hari ada lebih dari 10 barang yang bisa diserbu. Kalau satu barang saja diikuti 1.000 orang, maka sudah ada 10.000 peserta Serbu Seru dalam satu babak, atau 20.000 dalam dua babak.

Akan tetapi angka ini sangat kecil. Sebab menurut data dari SimiliarWeb, jumlah pengunjung bulanan situs Bukalapak pada kuartal akhir 2018 sejumlah 116 juta orang. Angka ini apabila dirata-rata maka akan mendapatkan kunjungan harian sebanyak 3,8 juta. Maka saya mengasumsikan jumlah peserta Serbu Seru lebih banyak dari 1.000 orang.

Tapi mari kita ambil mudahnya saja bahwa jumlah peserta Serbu Seru ada 10.000 untuk masing-masing barang. Kalau diakumulasi dengan keseluruhan barang maka ada 240.000 peserta Serbu Seru setiap babaknya, atau 480.000 peserta untuk satu hari. Sungguh, ini hanya asumsi kecil agar memudahkan perhitungan. Dari jumlah 480.000 peserta Serbu Seru itu bakal didapatkan angka Rp5.760.000.000 yang didapatkan dari jumlah peserta dikalikan saldo Dana Rp12.000 yang dipakai.

Dedi Heryadi, pemenang Mini Cooper, dan Agus Priyatmoko, pemenang Vespa S125 I-Get dalam Serbu Seru mengapit bos Bukalapak Ahmad Zaky.

Untuk barang yang diserbu dalam Serbu Seru itu harganya bervariasi. Memang ada yang harganya mencapai puluhan hingga ratusan juta, tapi itu jarang dan hanya pada event dimana Bukalapak sedang 'membakar duit'. Barang yang seringkali disediakan oleh Bukalapak adalah barang yang harganya mulai dari Rp500.000 sampai Rp6 juta.

Untuk memudahkan, mari mengambil contoh Serbu Seru pada hari ini (09/02/2019) dimana ada daftar barang sebagai berikut:

1 laptop Lenovo Yoga dengan harga Rp4.750.000
1 kamera Canon EOS 4000D Kit dengan harga Rp4.250.000
1 ponsel Asus Zenfone Max Pro M1 dengan harga Rp2.530.000
1 jam Xiaomi Huami Amazfit Verge Rp2.400.000
1 Babymoov Cosydream Plus Smokey Rp1.890.000
1 kamera Sony DSC W830 seharga Rp1.590.000
1 printer Epson L120 Ink Tank Rp1.540.000
2 speaker Mobvoi TicHome seharga Rp1.399.000 x 2 = Rp2.798.000
1 Estee lauder dengan harga Rp1.380.000
2 Brica B-Pro Insta360 Rp1.350.000 x 2 = Rp2.700.000
1 ponsel ZTE Nubia M2 Play Rp1.300.000
1 Samsung J2 Prime Rp1.200.000
1 Carrier Tas Hiking 50L Rp1.100.000
1 Seterika uap Phillips seharga Rp985.000
2 Seagate Backup Plus Rp939.000 x 2 = Rp1.878.000
1 speaker Sony Extra Bass Rp899.000
1 Tescom Ion Hair Dryer Rp799.000
1 keyboard HP Mechanical Gaming GK100 Rp768.000
2 harddisk eksternal WD 1TB Rp780.000 x 2 = Rp1.560.000
1 blender Phillips Viva HR2157 Rp745.000
2 alat cukur Remington Titanium Rp629.300 x 2 = Rp1.258.600
1 headphone JBL T450BT seharga Rp599.000
1 panci presto Maxim Rp599.000
1 rice cooker Yong Ma YMC 801 Rp565.000

Jadi jumlah keseluruhan harga barang Serbu Seru pada hari ini adalah Rp39.484.600 untuk babak kedua atau pukul 17.00. Cuma saya lupa barang yang disediakan pada babak sebelumnya. Ya anggap saja sama, sehingga total pada hari ini adalah Rp78.969.200. Sementara itu, dari 29 barang pada babak pertama, Bukalapak hanya akan mendapat uang Rp348.000. Uang ini berasal dari jumlah barang yang disediakan, yakni sebanyak 29 buah, dikalikan nominal Rp12.000 yang dibayarkan pemenang. Dan jika dua babak, praktis Bukalapak hanya mendapatkan Rp348.000 x 2 = Rp696.000.

Pertanyaannya, apakah Bukalapak sedang membakar uang? Ya sangat mungkin Bukalapak sedang membakar uang. Sebab kalau uang yang terkumpul di-deposit on call pun tetap masih belum mencapai target total harga barang yang disediakan, dimana contoh pada hari ini sebesar Rp78.969.200.

Deposit On Call

Pernah mendengar istilah ini? Deposit On Call merupakan salah satu jenis deposito di dunia perbankan yang membolehkan nasabah untuk mendepositokan uangnya dalam jangka waktu satu hari saja. Nanti di akhir tempo, nasabah bakal mendapatkan keuntungan dari bunga deposito dengan perhitungan sebagai berikut: suku bunga x jumlah penempatan x (jumlah hari penempatan/jumlah hari dalam setahun).

Ada kemungkinan Bukalapak pun menerapkan metode semacam ini. Mereka mendepositokan uang yang didapatkan dari transkasi Serbu Seru ini. Sehingga setiap harinya, apabila bunga deposito 7%, maka bisa didapatkan perhitungan semacam ini: 7% x Rp5.760.000.000 x (1/365) = 0,07 x Rp5.760.000.000 x 0,0027397260273973 = Rp1.104.657. Apabila ditambahkan dengan akumulasi pembayaran Rp12.000, maka didapatkan Rp1.800.657. Tetap masih jauh dari target.

Kalaupun tidak dilakukan deposit on call, karena jumlahnya kecil, tapi paling tidak Bukalapak mendapatkan free money sebesar Rp5.760.000.000 dalam jangka waktu enam jam setiap harinya.

Yang perlu diingat adalah tidak semua keuntungan yang diperoleh harus berupa penambahan laba. Penambahan jumlah pengguna harian pun menjadi aset yang bisa dikatakan sebagai keuntungan.

BACA JUGA: Belajar dari Narman untuk #BukaInspirasi di Bukalapak

Dana Mengendap

Poin ini merupakan update setelah ada tambahan dari pembaca yang orang perbankan. Jadi kemungkinan Bukalapak untuk melakukan deposit on call sangat kecil, pasalnya rate yang diberikan oleh bank telah diketahui sangat jauh dari modal yang dikeluarkan. Nah ternyata ada cara lain untuk memanfaatkan dana mengendap ini.

Di dalam contoh, dalam satu hari Bukalapak mampu membukukan dana mengendap sebesar Rp5,7 miliar. Namun perhitungannya dana mengendap ini berbeda, sebab dana tersebut terbagi dalam dua babak. Babak pertama berakhir dari pukul 17.00 dan diundi mulai pukul 23.15, artinya ada enam jam dana peserta Serbu Seru mengendap. Kalau dinominalkan kira-kira ada Rp2,8 miliar.

Kemudian pada babak kedua perhitungannya agak samar. Meskipun dimulai pada pukul 17.00 dan berakhir pada 23.15, tapi rata-rata pengembalian dananya (apabila peserta Serbu Seru meleset) hampir sama-sama enam jam. Sehingga ada dana yang mengendap sangat mungkin waktunya sama-sama enam jam.

Dana mengendap selama enam jam inilah yang dikelola oleh Bukalapak. Menurut orang perbankan tersebut, dana Rp5,7 miliar ini bisa jadi rate-nya cukup tinggi apabila 'dipinjamkan' ke bank yang membutuhkan dana likuid yang cukup besar. Sehingga perhitungan persentasenya tidak sama dengan perhitungan deposit on call.

Rate-nya memang tidak disebutkan, namun sangat mungkin Bukalapak mendapatkan keuntungan atau bisa jadi cuma balik modal sehingga tidak terus-terusan membakar uang. Sebab kalau mendapat rate pinjaman 2% saja, maka Bukalapak bakal mendapatkan 'bonus' sebesar Rp115.200.000 atau ada surplus sebesar Rp36.503.800.

Singkatnya, Bukalapak mengelola uang yang peserta Serbu Seru bayarkan sementara, untuk mendapatkan untung materi dan penambahan aset berupa pengguna aplikasi. Mantap!

Jumlah Pengguna Bertambah

Ada peningkatan jumlah kunjungan situs Bukalapak pada bulan Januari dibandingkan kuartal 4 tahun lalu. Jika pada kuartal empat itu tercatat 116 juta kunjungan per bulan, maka di bulan Januari 2019 tercatat ada 138 juta kunjungan. Ada kenaikan sekitar 22 juta kunjungan. Dan kenaikan ini tentu bisa diklaim sebagai hasil dari adanya program Serbu Seru yang diadakan sejak akhir kuartal empat itu.

Penambahan jumlah pengguna memang bukan sebuah laba materil yang bisa meningkatkan saldo keuntungan perusahaan secara langsung. Namun pada zaman yang serba digital, pengunjung situs merupakan sebuah aset penting yang bisa dikonversi menjadi keuntungan yang lebih besar dibandingkan modal yang telah dikeluarkan. Perolehan big data dari penambahan jumlah pengguna baru dan lalu lintas situs yang meningkat pun patut diperhitungkan.

Jadi, apabila hasil penjualan pada program Serbu Seru Bukalapak tidak ada keuntungan yang tercatat, bahkan merugi banyak, maka satu-satunya keuntungan dari program Serbu Seru ini adalah jumlah pengunjung situs Bukalapak yang bertambah. Dan bisa jadi jumlah penggunanya pun bertambah.

Penambahan lalu-lintas di Bukalapak ini konon memunculkan keluhan dari pelapak di marketplace warna orange yang mengalami penurunan omset. Nah, sampai segitunya 'kan? Hal ini disebabkan karena seseorang yang ingin mengikuti Serbu Seru, maka mau tidak mau ia mesti top up Dana minimal Rp50.000.

Perihal top up Dana ini menjadi salah satu pengikat loyalitas konsumen terhadap Bukalapak. Katakanlah ada tambahan pengguna 22 juta, sebagiannya mungkin melakukan refund lagi, namun ada sebagian lagi yang bisa menjadi pelanggan tetap. Nah, potensi tambahan pengguna inilah yang menjadi tambahan keuntungan bagi Bukalapak.

Serbu Seru, Halal atau Haram?

Iya sih, mengikuti Serbu Seru seumpama berada di meja judi, sebab hanya keberuntunganlah yang membuat seseorang mendapatkan barang yang diinginkan. Namun menurut Ustad Ammi Nur Baits pengasuh Yufid TV, Serbu Seru bukanlah judi. Sebab apabila judi, maka pilihannya ada dua, yakni untung atau buntung. Namun Serbu Seru tidak begitu. Ia memang punya pilihan, namun bukan untung atau buntung, tapi untung atau tidak buntung. Mengapa begitu?

Ya karena setelah peserta Serbu Seru tidak mendapat barang yang diinginkan, maka Rp12.000 itu akan dikembalikan ke saldo Dana. Jadi Serbu Seru ini bukanlah judi, sehingga tidak haram.

Demikianlah asumsi saya terhadap program Serbu Seru Bukalapak. Apabila ada yang perlu disanggah silakan tulis di kolom komentar. Terima kasih.

8 Februari 2019

Build A Strong Business Foundation with These 3 Skills!

To compete with other entrepreneur, you must invest some skills. Because in business, you must achieve growth, new markets to enter, some products to launch soon, any events to participate, and of course relationships to build. How to reach all of them? Have some entrepreneur’s skills!


Business nowadays is not only becoming more competitive like the old time, but increasingly unpredictable. If you cannot engage customers, you will lose your business. If you don’t want to improve your skill, yes, your business will sink.

So, what skills do you have to have? Let’s get down.

Strategy formulation

There are so many strategies in this business world. But, you have to try first, which strategy is suitable for your business. So, start by breaking down your big goals into small and find your success with suitable strategy you have.

Financial management

We can say that a business called “success” from its good financial management. You cannot say the unstable financial management is a success business. If you can’t manage the financial things, your business will leads to bankruptcy, and maybe you want to go back to a full-time job slash corporate slave.


Stress management

You will have stress when you face sadness, failure, disappointment, and any other hard struggles. The key to win your energy back is to manage stress and change it to a positive thinking. How it can be done? You can change your mindset about problems you have, more and more pray or meditation, be an organized person, and get a healthy lifestyle.

To learn more about those entrepreneur’s skills, can get them in SIM Global Education. Why? Because this university has business degrees Singapore with over 50 years experience. You can choose over 80 programmes on undergraduate and postgraduate courses. With its quality education, you can build strong foundation for your business.


Credit photos: Unsplash

5 Februari 2019

Selamat Tinggal Google Plus!

'Selamat tinggal Google Plus' menjadi ucapan yang cukup banyak digaungkan akhir-akhir ini oleh para bloger. Pasalnya media sosial yang dibesut Google ini telah resmi digulung pada 2 April 2019 mendatang.


Tentu banyak yang bertanya, ada apakah gerangan? Sebuah sosok raksasa macam Google yang cukup berkuasa di jagat internet, memiliki mesin pencari yang dipergunakan hampir setiap orang, dan punya sistem operasi sejuta umat yang bernama Android, tapi kok punya media sosial yang memble hingga akhirnya ditutup begitu saja.

Pertanyaan serupa sebetulnya telah banyak dispekulasikan jawabannya sejak kasus bocornya data pengguna Google Plus. Sebab setelah setengah juta pengguna terekspos data pribadinya ke luar sistem, Google mesti menanggung malu dan akhirnya memutuskan menyuntik mati aplikasi yang sebetulnya digadang-gadang sebagai pesaing Facebook dan Twitter ini.

Tereksposnya data pribadi pengguna Google Plus terjadi pada Maret 2018. Secara teknis, ada 438 aplikasi yang dibuat oleh pihak ketiga mampu mengakses data pribadi yang terdiri atas user name, alamat email, pekerjaan, jenis kelamin dan usia.

Namun tentu saja kasus yang sama pernah menimpa dua seteru seniornya, Facebook dan Twitter. Tereksposnya data pengguna Facebook bahkan sudah mencapai level pemilihan presiden Amerika Serikat. Kurang besar apa kasus tersebut? Namun Facebook masih tegap berdiri dan memilih untuk memperbaiki celah tersebut. Lantas kenapa Google Plus begitu baper?

Masalah yang krusial selanjutnya adalah minimnya pengguna Google Plus. Ya, meski Google adalah pemilik Android, tapi Google Plus tidak bisa serta merta dijadikan bundling sebagai media sosial pilihan. Pabrikan smartphone lebih senang dengan Facebook kemudian Instagram, barulah Twitter. Sangat jarang yang menginstal Google Plus kecuali bloger.

Pengguna Google Plus yang kebanyakan bloger memang diiming-imingi sebuah mitos bahwa ketika sebuah klik berasal dari Google Plus maka blognya bakal disayang Google. Iya, itu cuma mitos yang bisa jadi benar, tapi sangat mungkin salah. Sebab Google pun tidak pernah memberikan pernyataan resminya terkait share link di platform media sosialnya itu.

Sementara itu jumlah bloger memang tidak banyak. Sehingga ekosistem Google Plus pada akhirnya tumbang. Google Plus tidak mendapatkan pengguna yang masif, yang paling tidak berada di bawah media sosial mainstream lainnya. Namun jangankan mendekati, berjarak dalam urutan angka pun jauh. Facebook yang masih memimpin klasemen pengguna dengan 2,2 miliar pengguna, Twitter dengan 335 juta berada di urutan 11, Pinterest dengan 250 juta berada di urutan 18, dan Google Plus terlempar diluar 20 besar.

Angka itu dirilis Statista dan dalam survey dari lembaga yang sama, Google Plus hanya dipakai setiap hari oleh 14 % responden sementara yang tidak pernah menyentuh media sosial ini mencapai 48 %. Survey itu dilakukan di Amerika Serikat, sebuah negeri dimana Google Plus lahir. Memang menyedihkan jumlah pengguna Google Plus ini.

Dua alasan yakni tereksposnya data pengguna dan jumlah pengguna yang tidak maksimal membuat Google akhirnya memutuskan untuk menutup Google Plus. Iya, memang dua hal itu yang terungkap di media massa, baik berupa opini, spekulasi, hingga pernyataan resmi.

Meski saya sendiri sedih atas ditutupnya Google Plus, tapi ya beginilah bisnis di ranah digital. Sebuah produk yang jauh dari ekspektasi banyak orang dan penggunanya sedikit harus ditutup daripada membebani modal dan sumber pendanaan lain dari Google. Soal apakah Google bakal membuat produk pengganti dari Google Plus, itu soal lain.

Sekarang, imbas dari dihapusnya Google Plus ini tentu terasa buat para bloger yang terbiasa membagikan postingannya di media sosial tersebut. Pertama buat yang memakai komentar Google Plus, kemudian buat yang memakai akun Google Plus sebagai admin Blogger, dan terakhir data dan gambar yang tersimpan atau terhubung ke media sosial tersebut bakal terputus. Nah, segeralah berbenah.

25 Januari 2019

Tentang Watch Time dan Engagement YouTube dan Mengapa Channel Saya Tidak Berkembang

Beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang cukup populer bertanya: mengapa channel Youtube-nya tidak berkembang? Beliau memang sosok populer, tapi mengapa akun YouTube-nya masih belum banyak view dan subscriber?


Kepopuleran sosok yang bertanya lewat inbox fanpage dan kolom komentar di blog saya ini cukup bagus. Beliau lulusan Timur Tengah, menulis banyak buku, dan kerap mengisi kajian keagamaan. Ada beberapa buku karya beliau yang pernah saya baca. Namun ketika merambah dunia digital, rupanya kepopuleran beliau --menurut bahasa saya-- masih belum menemukan momentum. Bagaimana ia menemukan momentumnya?

Sampai saat artikel ini terbit, channel YouTube beliau sudah memiliki 438 subscribers. Sejak dibuat pada 27 November 2018, di channel beliau sudah ada 41 video. Artinya kalau dirata-rata, dua hari sekali beliau mengunggah satu video di channel-nya. Sementara itu, channel tersebut mendapatkan 7 subscriber setiap harinya.

Saya pikir untuk channel yang baru berusia tiga bulan, pertumbuhan subscriber-nya cukup bagus. Mudah-mudahan ketika beliau konsisten mengunggah satu apalagi dua video setiap hari, pertumbuhannya bakal lebih pesat. Namun satu pertanyaan yang mengganjal bagi beliau adalah mengapa view-nya masih sedikit?

Pemikiran dan sikap orang lain tentu tidak bisa serta-merta disamakan dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Misalnya ketika beliau bertanya tentang view tersebut, saya sebetulnya ingin menjawabnya dengan sebutan kalau videonya kurang clickbait. Tapi membuat sebuah judul video dan thumbnail yang sedikit tricky bagi beliau (mungkin) merupakan hal yang syubhat (?).

Jadi saya bakal sedikit menguraikan jawaban mengapa view beliau sedikit padahal materi yang disampaikan di mayoritas videonya merupakan daging semua. Mudah-mudahan kita sama-sama belajar dari persoalan ini.

Sejak ada perubahan algoritma YouTube setahun belakangan ini, maka 'dewa' bagi rumus matematika komputer itu adalah engagement dan watch time. Engagement merupakan hasil perpaduan antara view dengan share dan perbincangan video tersebut di internet.

Soal engagement ini tidak mengenal sama sekali apakah itu positif atau negatif. Kedua penilaian ini sama saja memiliki saham terhadap peningkatan engagement. Misalnya ketika anda melakukan share di media sosial terhadap sebuah video YouTube, meskipun dengan komentar negatif, share itu tetap dihitung sebagai satu poin engagement.

Watch time lalu dipakai sebagai rumusan kedua. Watch time ini sedikit berbeda dengan view. Watch time mengacu pada durasi tonton dari seorang pengunjung video. Sementara view menghitung berapa kali link video itu dikunjungi.

Maka bisa dipahami kalau video yang awet berada di trending YouTube atau video yang kemudian direkomendasikan oleh YouTube kepada anda merupakan video-video yang memiliki engagement dan watch time bagus.

YouTube tidak memiliki algoritma untuk menjawab apakah video itu mampu mengedukasi penonton secara positif atau tidak. Dua rumusan diatas itulah yang menentukan viralnya sebuah video di YouTube.

Sedikitnya view dan watch time yang dialami oleh sang penanya diatas sebetulnya menjadi 'masalah' umum yang dialami YouTuber lainnya. Sebab video-video positif yang mereka miliki juga 'dilemahkan' oleh algoritma YouTube yang seperti ini.

Tapi ya bukan salah YouTube juga sih. Soalnya 'kan YouTube hanya menghitung berdasarkan engagement dan watch time saja, dan kedua hal ini sumbernya dari pengunjung. Jadi siapa yang salah kalau video berkonten negatif selalu nangkring di trending?

Tentu saja salah anda! Anda yang memberikan engagement dan watch time terus-menerus kepada video tersebut. Anda yang membagikannya di media sosial, dengan alasan mewaspadai lah, memberikan kritik lah, bahkan cuma alasan lucu-lucuan.

Jadi semoga bisa dipahami mengapa sebuah channel bisa melejit begitu pesat, dan mengapa juga ada channel yang perkembangannya kurang bagus. Anda tinggal melihatnya di trending saja. Video yang disukai di regional tertentu akan senantiasa berada di trending.

Untuk itulah kalau mau video-nya dilihat banyak orang, tinggal mengikuti kemauan pengunjung YouTube saja. Ya, tinggal melihat trending, kemudian mengikuti trend yang ada disana. Lalu, boom!

Kabar baiknya, konten positif yang ada di video anda, termasuk sang penanya diatas, tetap memiliki peminatnya sendiri. Asal sabar, konsisten, terus meningkatkan skill di YouTube, dan terus mengenalkan channel di aset media sosial yang dimiliki, channel tersebut bakal menemukan momentumnya. Insya Allah.

20 Januari 2019

Coba Sosiago Influencer Marketing Untuk Menambah Penghasilan

Sosiago merupakan platform yang dihuni influencer marketing untuk mendulang penghasilan. Pasalnya pada platform inilah banyak advertiser yang memakai jasa para influencer tersebut untuk mempromosikan produknya.

coba sosiago influencer marketing

Anda juga bisa mencoba mendaftar di Sosiago. Platform influencer marketing ini selalu membuka diri untuk mereka yang memiliki aset media sosial yang bagus serta punya kemampuan untuk mempromosikan produk berupa barang maupun jasa.

Platform yang merupakan metamorfosis dari iBlogMarket ini membuka diri terhadap siapapun yang memiliki blog, akun Instagram, akun Twitter, dan channel YouTube. Sebagaimana disebut sebelumnya, hanya mereka yang memiliki aset media sosial bagus saja yang mendaftar.

Aset media sosial adalah akun-akun di media sosial yang dimiliki. Sementara kalau aset media sosial itu disebut bagus, berarti akun media sosial itu memiliki banyak followers, subscribers, maupun visitors untuk blog. Bagus juga berarti bukan cuma soal followers, namun niche yang terawat dengan konsisten.

Lalu ukurannya apa sampai seseorang disebut sebagai influencer? Ukuran angkanya memang tidak selalu tetap, tetapi paling tidak ketika akun media sosialnya ramai dan banyak yang terpengaruh oleh postingannya, maka boleh disebut bahwa ia adalah influencer.

Tapi untuk mengetahui lebih jelas influencer seperti apa yang dibutuhkan oleh advertiser di Sosiago, cara satu-satunya adalah mendaftarkan diri di platform ini. Anda bakal melihat kebutuhan kampanye di platform ini seperti apa, misalnya berapa followers Twitter yang dibutuhkan untuk mengikuti sebuah kampanye promosi.

Langsung saja, berikut ini cara mendaftar di Sosiago.
  1. Kunjungi laman Sosiago di https://www.sosiago.id.
  2. Pilih tombol DAFTAR yang ada di sudut kanan-atas.
  3. Di laman sign up tersebut terdapat form isian. Silakan diisi sesuai dengan petunjuknya.
  4. Sebelum klik DAFTAR, pastikan anda mendaftar sebagai Influencer, bukan Advertiser.
  5. Sosiago bakal mengirimkan email untuk mengaktivasi akun anda. Silakan cek email yang anda daftarkan.
  6. Setelah lama aktivasi berhasil terbuka, akun Sosiago anda sudah jadi. Silakan melakukan login untuk melihat isi dalam Sosiago.
Di halaman depan, anda akan langsung disuguhkan dengan kampanye yang sedang berjalan. Namun sebelumnya anda mesti mengisi secara lengkap aset media sosial yang anda miliki. Anda akan diminta untuk menautkan Sosiago ke media sosial maupun blog anda. Untuk blog sendiri, anda diminta untuk menaruh trace link agar Sosiago mengetahui traffic yang datang ke blog anda.

Kalau sudah selesai semuanya, ya tinggal duduk manis sambil mendaftarkan diri ke kampanye yang sedang berjalan. Silakan sesuaikan dengan niche anda agar meningkatkan kesempatan mendapat tawaran promosi.

Demikian cara mendaftar untuk menjadi influencer di platform Sosiago. Untuk cara mendaftar menjadi influencer pebisnis di Sosiago, silakan merapat ke artikel Coba Sosiago Influencer Marketing Untuk Masifnya Bisnis Anda. Terima kasih.

16 Januari 2019

Redmi Note 7: Polemik Kamera Beresolusi 'Palsu'

Redmi, sub-brand baru dari Xiaomi, merilis smartphone pertamanya di arena CES 2019. Smartphone yang diberi nama Redmi Note 7 ini langsung menjadi perbincangan tersebab harganya menggiurkan. Price-to-spec Redmi Note 7 sangat menarik, ya memang khas Xiaomi. Namun Redmi Note 7 memantik pula sebuah polemik.


Diberitakan kamera belakang Redmi Note 7 memiliki resolusi yang cukup besar, yakni 48 megapiksel. Sebuah resolusi kamera yang membuat smartphone ini menjadi lebih menarik karena ya itu tadi, pada rentang harga Rp2 jutaan (jika dikonversi ke rupiah) smartphone ini punya resolusi yang sedemikian besar.

Hanya saja polemik pun muncul, karena chipset yang dipakai Redmi Note 7 'hanya' Snapdragon 660. Chipset ini, menurut penjelasan sang pembuatnya, Qualcomm, hanya memiliki ISP (Image Signal Processor) yang mendukung resolusi kamera hingga 25 megapiksel saja. Lalu darimana Redmi menambahkan sisa megapiksel tersebut? Apakah Redmi memalsukan spesifikasinya?

Sumbernya ada pada sensor yang dipakai Redmi Note 7. Sensor ini diketahui bernama ISOCELL GM1 yang dibuat oleh Samsung. Berdasarkan sumber yang resmi, sensor ini memang memiliki resolusi 48 megapiksel. Lalu bagaimana bisa Xiaomi eh maaf Redmi melakukannya? Sebetulnya bukan Redmi pelakunya, namun Samsung GM1 itu sendiri yang memang menjadi 'biang kerok' polemik ini.

Sebelum berlanjut, mari kita belajar dulu soal sensor pada kamera smartphone.

Sebagaimana diketahui, hardware penting yang ada pada kamera disebut sensor CMOS/CCD. Saat ini, sensor yang dipergunakan pada kamera smartphone adalah CMOS. Benda ini mampu mengoversi gambar optik menjadi sinyal elektronik. Pada peralatan kamera apapun, komponen inti terletak pada elemen photosensitive. Elemen ini memang sensitif, namun hanya sensitif pada cahaya, tidak pada warna.

Kalau sebuah sensor CMOS tadi hanya menggunakan photosensitive untuk menghasilkan gambar, maka yang ada hanyalah terang dan gelapnya foto hitam putih. Makanya dibuatlah model RGB untuk membuat foto berwarna. Model ini memang hanya terdiri atas tiga warna saja, yakni Red (merah), Green (hijau), dan Blue (biru). Namun penemuan model ini masih belum membuat foto berwarna yang maksimal.

Barulah kemudian seseorang bernama Bryce Bayer, yang kemudian disebut Bapak Digital Imaging, menciptakan foto berwarna dengan model RGB tadi. Ia menggabungkan ketiga warna tersebut dan menciptakan aneka warna dengan menambahkan sebuah filter di depan elemen photosensitive tadi.

Secara sederhana, apa yang diciptakan oleh Bayer dijelaskan pada gambar dibawah ini. Dimana blok abu-abu merupakan elemen photosensitive, sementara blok RGB berada diatasnya. Setiap piksel RGB terhubung dengan satu piksel elemen photosensitive. Nah, filter RGB ini kemudian disebut dengan Bayer filter.


Namun Bayer filter hanyalah sebuah tahap, meskipun punya andil besar dalam membuat foto hitam-putih menjadi berwarna. Sebab ketika sebuah foto hanya mengandalkan piksel satu-persatu, hasilnya masih jauh dari sempurna. Untuk itulah Bayer kemudian melanjutkan proses penyaringan lewat Bayer filter tadi menjadi sebuah susunan dari hasil filter tersebut. Proses penyusunan hasil jepretan tersebut kemudian disebut dengan Bayer array alias 'susunan Bayer'. Cara kerjanya kurang lebih seperti gambar ini.


Jadi secara singkat, ketika anda menjepret sebuah shutter, maka cahaya yang masuk akan diterima oleh elemen photosensitive kemudian diteruskan ke Bayer filter, dan terakhir dilakukan reproduksi warna sehingga menghasilkan gambar yang baik. Begitulah kira-kira.


Nah, proses diatas terjadi pada apa yang disebut dengan sensor kamera. Pada sebuah sensor tadi ada yang namanya piksel. Setiap piksel selalu mewakili satu warna RGB. Semakin banyak piksel, maka semakin banyak pula RGB-nya, dan pastinya gambar yang dihasilkan pun bakal lebih baik. Dengan rumusan ini, maka besaran resolusi kamera yang disimbolkan dengan satuan megapiksel dianggap lebih besar lebih baik. Itulah kenapa pabrikan kemudian menciptakan sensor dengan resolusi yang besar. Salah dua yang menciptakan sensor yang besar adalah Sony IMX586 dan Samsung GM1.

Sony IMX586 memiliki fitur unggulan yang disebut Quad Bayer. Pada susunan Bayer filter biasa, sebuah piksel akan membentuk susunan sendiri untuk masing-masing piksel tersebut. Namun melalui fitur Quad Bayer, satu filter disusun kedalam satu kelompok yang terdiri atas empat piksel. Setiap satu kelompok piksel ini barulah disusun seperti Bayer filter biasa.

Ketika pengguna kamera memencet shutter, maka Quad Bayer ini akan memberikan izin kepada setiap piksel untuk memperhitungkan warna yang ada dan melakukan konversi struktur piksel tadi kedalam sinyal tersendiri untuk menghasilkan foto dengan resolusi 48 megapiksel.

Sekali lagi, masing-masing piksel yang ada di setiap kelompok Quad bayer tadi tetap menghasilkan sinyal tersendiri secara independen. Resolusi 48 megapiksel yang dihasilkan sensor IMX586 memang asli buatan hardware yang dibenamkan oleh Sony, tanpa adanya interpolasi. Istilah interpolasi berarti memaksa gambar yang sebetulnya kecil atau beresolusi kecil menjadi besar atau beresolusi besar yang dihasilkan melalui software.

Untuk lebih jelas mengenai Quad Bayer bisa dilihat pada gambar dibawah ini.


Namun Quad Bayer yang terjadi pada Samsung GM1 tidak sama dengan IMX586. GM1 memang sama-sama memakai Quad Bayer, namun piksel yang membentuk kelompok tadi tidak bisa menghasilkan sinyal sendiri. Sehingga untuk menciptakan gambar dengan resolusi 48 megapiksel, Samsung membenamkan software untuk menciptakan interpolasi. Pada hakikatnya, gambar yang dihasilkan oleh hardware GM1 hanya 12 megapiksel. Hmmm... ketahuan 'kan?

Kira-kira seperti ini ilustrasinya:

Data ini diketahui dari situs Samsung sendiri, dimana resolusi sensor GM1 adalah 4000x3000 yang mana sama saja dengan gambar beresolusi 12 megapiksel.

Jadi, bisa terjawab mengapa Redmi Note 7 yang notabene memakai chipset Snapdragon 660 bisa memakai kamera dengan resolusi 48 megapiksel. Hal itu disebabkan secara hardware, GM1 sebetulnya hanya memiliki kemampuan menjepret foto dengan resolusi 12 megapiksel saja. Kemudian melalui olahan software bawaan sensornya, gambar yang sebetulnya 12 megapiksel itu diinterpolasi menjadi 48 megapiksel. Jadi sebetulnya, tidak ada kebohongan disini. ~ya hanya sedikit mengecoh.

Sementara itu, buat yang ingin benar-benar memakai kamera dengan resolusi 48 megapiksel betulan tanpa interpolasi alias memakai Sony IMX586, maka akan hadir Redmi Note 7 Pro. Kalau begitu apakah Redmi Note 7 Pro akan memakai Snapdragon 855 atau MediaTek Helio P90? Menarik untuk ditunggu.


Sumber: Weibo.

12 Januari 2019

Coba Sosiago Influencer Marketing Untuk Masifnya Bisnis Anda

Coba Sosiago Influencer Marketing - Sosiago merupakan sebuah platform internet marketing yang mempertemukan antara pengiklan atau pemilik dengan influencer. Berbagai nama besar dengan produknya yang ternama telah mendaftar di Sosiago untuk meningkatkan popularitas layanan baru mereka di internet. Kenapa mereka memilih Sosiago? Karena ada banyak hal menggiurkan disini.

coba_sosiago_influencer_marketing
Sosiago untuk masifnya bisnis anda.

Sosiago dihuni oleh 20.022 influencer dari berbagai platform, seperti Twitter, Instagram, Youtube, dan bloger. Sosiago memang masih terhitung baru, sehingga hitungan tugas yang purna dikerjakan baru 46 pekerjaan dan masih tersisa 28 kampanye yang sedang berjalan.

Jumlah pekerjaan itu tidak bisa dibilang kecil, sebab dibandingkan dengan kehadiran Sosiago yang baru seumur jagung, bekerjasama dengan puluhan bisnis besar dan ternama itu sudah menjadi catatan positif. Platform yang berkantor di bilangan Jakarta ini merupakan sebuah re-branding dari iBlogMarket, sebuah jenama populer untuk campaign marketing di internet. Re-branding ini dilakukan persis pada 18 Oktober 2018.

Bagaimana Sosiago Bisa Berpartner dengan Banyak Bisnis Besar?

Sosiago memiliki beberapa alasan untuk dipilih sebagai tempat mempopulerkan layanan bisnis. Selain dari ekosistem infuencer yang besar, Sosiago memiliki layanan yang memanjakan para punggawa di lini promosi pada bisnis tersebut. Untuk memudahkan kita sebut saja mereka sebagai pengiklan.

Hal pertama kali yang ditekankan oleh Sosiago adalah biaya topup. Biasanya untuk menggunakan sebuah platform inlfluencer, pengiklan mesti melakukan deposito. Ya, belum apa-apa sudah ‘dipalak’. Sosiago tidak begitu.

Sosiago memberikan kebebasan untuk para pengiklan melihat-lihat influencer yang cocok bagi bisnis mereka. Perlu diketahui, dengan melihat-lihat daftar influencer, tarif, dan ragam yang ditawarkan sebuah platform saja sebetulnya sudah termasuk kedalam layanan.

Melihat ragam influencer ini sebetulnya mempersilakan pihak luar untuk mengintip database Sosiago. Sebagaimana diketahui, database influencer merupakan sebuah aset bagi pengiklan. Namun Sosiago memberikan layanan yang bermanfaat ini secara cuma-cuma.

Berapa Biaya Beriklan di Sosiago?

Kalau terjadi kecocokan antara kampanye yang diinginkan dengan influencer yang ada pada Sosiago, barulah pengiklan bisa melakukan topup. Jumlah influencer yang bakal melakukan kampanye selalu tergantung dengan budget yang tersedia di dompet pengiklan. Semakin besar budget-nya, tentu semakin besar pula influencer yang bisa diikutsertakan, dan dampaknya pun secara otomatis akan semakin besar.

Setiap biaya kampanye selalu tergantung pada bagaimana kampanye itu dilakukan. Apabila kampanyenya membutuhkan spesifikasi tertentu yang cukup memberatkan, tentu biayanya akan semakin besar. Sehingga ukuran biaya kampanye ini sangat bervariasi.

Sebagaimana diketahui, perihal biaya kampanye ini masuk wilayah yang cukup sensitif. Sehingga Sosiago memberikan transparansi sebening mungkin untuk pemotongan saldo topup dengan biaya yang dibutuhkan untuk kampanye.

Sebagai contoh, apabila anda mengisi topup Rp10.000.000, sementara anda menggunakan influencer sebanyak 50 orang dengan tarif Rp150.000 per orang, maka masih tersisa saldo Rp2.500.000. Iya, sisa saldo itu bisa anda pergunakan untuk membuat kampanye lagi di lain kesempatan. Sisa saldo tersebut sesuai dengan budget yang pengiklan pergunakan untuk kampanye. Untuk layanan ini Sosiago tidak menerapkan fee service.

Fee service baru diterapkan ketika pengiklan menginginkan Sosiago mengurus semua kebutuhan kampanye, mulai dari penentuan jenis kampanye hingga pemilihan para influencer yang mengampanyekan. pengiklan tinggal duduk manis menerima hasil yang diharapkan. Apabila dirasa kurang, pengiklan difasilitasi untuk melakukan briefing online dengan influencer. Cukup adil ‘kan?

Cara Memulai Kampanye di Sosiago

Cara memulai kampanye di Sosiago cukup mudah, pengiklan tinggal berkunjung ke sosiago.id. Di interface situsnya bakal ada tombol hijau yang bertuliskan DAFTAR di sudut atas sebelah kanan atau pilih LOGIN di sampingnya apabila pengiklan sudah terdaftar. Pilih saja DAFTAR apabila pengiklan belum pernah mendaftar di Sosiago.

coba_sosiago_influencer_marketing


Kalau tombol DAFTAR yang dipilih, pengiklan akan diarahkan ke laman sign-up untuk pendaftaran username. Masukkan email yang aktif, nama pengiklan, dan password untuk login ke layanan. Pada pilihan “Silakan pilih daftar sebagai pengguna:” maka pilihlah tombol pengiklan. Perubahan warna tombol menjadi hijau menandakan opsi tersebut aktif.

coba_sosiago_influencer_marketing

Email yang didaftarkan harus aktif, sebab Sosiago akan mengirimkan tautan untuk mengonfirmasi pendaftaran tersebut. Jadi bukalah email tersebut, dan klik tombol Confirm Address. Kalau email dari Sosiago tidak ada, cobalah temukan di folder Spam. Kalau masih tak ada juga, tunggulah sebentar lagi atau bisa melakukan permintaan mengirim email konfirmasi lagi kepada Sosiago.

coba_sosiago_influencer_marketing

coba_sosiago_influencer_marketing

Setelah pendaftaran sukses, anda akan dibawa ke halaman depan yang berisi daftar rekomendasi influencer yang bisa diajak bekerjasama. pengiklan bisa melakukan sortir untuk mencari influencer yang tepat sesuai kategori kampanye, lokasi influencer, maupun jenis influencer berdasarkan rating, tarif, dan lain-lain.

coba_sosiago_influencer_marketing

Terakhir, pengiklan tinggal memilih influencer yang diperlukan, kemudian topup saldo untuk membayar mereka. Bisa juga dengan layanan kedua yang memberikan kemudahan bagi pengiklan untuk melakukan kampanye. pengiklan tinggal duduk manis, dan bisnis pun bisa populer di internet. Apapun pilihan pengiklan, Sosiago pilihannya.

9 Januari 2019

Meningkatkan Penetrasi Cabang E-Sport di Indonesia Bersama Asus Zenfone Max M2


Ridel, demikian orang-orang mengenalnya. Nama lengkapnya Ridel Yesaya Sumarandak. Usianya baru genap 16 tahun pada dua bulan sebelum laga bersejarah itu dihelat. Hitungan usia ini pernah menjadi momok mengkhawatirkan bagi dirinya. Sebab akibat usia dibawah 16 tahun, dirinya pernah ditolak berlaga di sebuah pertandingan bergengsi.

Kini ia tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mendapatkan emas di nomor Clash Royale cabang E-Sport pada Asian Games 2018. Tak tanggung-tanggung, dengan akun BenZerRidel, ia menekuk wakil dari China, Lciop.

Meski emas yang diperoleh Ridel tak dihitung karena e-sport masih cabang ekshibisi, namun banyak yang tak menyangka atas pencapaian tersebut. Pasalnya Huang Chenghui, seorang pria dibalik akun Lciop itu, berasal dari negeri superpower untuk urusan game. Dan ia harus mengakui keunggulan bocah asal Tondano, sebuah daerah yang bahkan jauh dari ibukota Jakarta.
Ridel Yesaya Sumarandak dalam poster resmi Facebook Clash Royale Indonesia.
Fenomena semacam ini sebetulnya bukan tidak mungkin akan terus berkembang besar. Perkembangannya akan menguntungkan Indonesia sebab bakal memiliki banyak stok atlet e-sport. Karena kedepan, e-sport bukan lagi cabang ekshibisi. E-sport akan menjadi cabang olahraga yang resmi, setidaknya di tingkat regional Asia.

Namun perkembangan ini tentu meminta syarat. Setidaknya ada tiga syarat yang perlu dipenuhi. Syarat yang pertama adalah kultur penerimaan masyarakat terhadap game itu sendiri harus baik. Kedua, infrastruktur internet sudah tersambung ke pelosok negeri. Ketiga atau yang terakhir yakni keberadaan perangkat gaming yang harganya terjangkau kantong masyarakat biasa.

Mari kita bahas ketiga syarat ini satu-persatu.

Sudah Diterimakah E-Sport di Tengah Masyarakat?

Masyarakat Indonesia memang masih menganggap aktivitas game adalah hobi yang merugikan. Orang-orang masih menganggap, misalnya, membeli 'skin' pada Mobile Legends, dianggap pemborosan dibandingkan patungan shuttlecock pada permainan bulutangkis di kelurahan.

Mereka beralasan kalau bermain game di smartphone hanya membuang waktu, sementara bulutangkis bisa mengeluarkan keringat dan bisa menyehatkan tubuh. Padahal, catur juga tidak membuat keluar keringat, tapi kenapa disebut olahraga? Jika logikanya hanya aktivitas fisik yang mengeluarkan keringat, tak perlu bulutangkis atau semacamnya, lari-lari keliling kompleks pun sama saja. Terlebih lari tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli raket dan shuttlecock.

Untunglah seiring semakin masifnya kompetisi game dan masuknya cabang e-sport ke dalam kompetisi olahraga konvensional, membuat pandangan akan aktivitas game ini mulai positif. Ya, pandangan positif tersebut memang baru mulai belakangan ini.

Infrastruktur Internet di Indonesia Sudah Lebih Baik

Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2017 jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143 juta. Jumlah ini sudah lebih dari setengah populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 264 juta jiwa. Angka pengguna itu diyakini telah bertambah hingga 150 juta pada tahun 2018.

Melonjaknya jumlah pengguna itu disebabkan karena perkembangan proyek Palapa Ring. Proyek pemerintah ini merupakan pembangunan jaringan kabel serat optik yang akan menjangkau 514 kabupaten dan kota di 34 provinsi. Proyek yang meliputi kabel laut dan darat sepanjang 35.280 km dan 21.807 km itu ditargetkan tuntas pertengahan tahun 2019 dan memakan biaya sebesar Rp21 triliun.

Belum lagi keberadaan BTS yang diselenggarakan secara mandiri oleh penyedia layanan telekomunikasi. Hal ini membuat konektivitas internet di Indonesia dianggap sudah baik.

Hal ini pun tentu menjadi kabar baik bagi perkembangan game dan e-sport di Indonesia. Sebab masifnya jaringan internet tentu akan meluaskan akses bagi penduduk Indonesia dimanapun berada. Tinggal satu lagi syarat yang mesti dipenuhi: terjangkaunya harga perangkat game.

Perangkat Game Masih Dianggap Mahal?

Ya, perangkat game memang masih mahal. Sebagai contoh, laptop Asus ROG yang dibanderol mulai dari belasan juta. Namun e-sport bukan cuma berbicara game komputer maupun konsol belaka. Banyak game yang ada di e-sport, seperti Arena of Valour, Mobile Legends, Clash Royale, dan Hearthstone notabene merupakan mobile gaming. Artinya nomor di cabang e-sport itu bakal dimainkan lewat smartphone.

Perkembangan game mobile memang lumayan pesat. Banyak perusahaan game konsol dan PC yang mengadopsi game mereka ke versi mobile. Sebut saja PUBG Mobile yang merupakan adaptasi dari PUBG. Kemudian menyusul pula Fortnite yang punya versi mobile dan dirilis 'eksklusif' hanya untuk smartphone flagship.

Kalau mengikuti spesifikasi yang diharapkan Fortnite, memang mitos bahwa smartphone gaming mahal memang benar. Namun banyak game mobile yang bisa dimainkan dengan spesifikasi kelas menengah. Kalau diukur dengan chipset, game tersebut bisa dimainkan dengan spesifikasi chipset Snapdragon seri 600-an. Bahkan Clash Royale, yang dimenangkan Ridel itu, bisa dimainkan dengan smartphone ber-chipset Snapdragon 400-an.

Artinya apa? Untuk memainkan game mobile secara umum tidak perlu smartphone mahal dengan spesifikasi kelas wahid. Smartphone kelas menengah dengan harga Rp2 jutaan juga bisa kok. Apalagi sekarang sudah hadir Asus Zenfone Max M2.

Asus Zenfone Max M2: A Must Buy!

Asus Zenfone Max M2 bisa dibilang merupakan alternatif dari Asus Zenfone Max Pro M2. Ia menyandang tiga kelebihan yang memang wajib dimiliki oleh smartphone gaming: chipset kuat, baterai tahan lama, dan berlayar mantap.

          Chipset Kuat                                                                                          



Zenfone Max M2 memakai chipset Snapdragon 632, chipset yang baru pertama kali hadir di Indonesia. Chipset ini merupakan versi ekonomis dari 636 dan merupakan pengganti dari Snapdragon 625. Fabrikasinya 14nm, persis dengan yang dimiliki Snapdragon 636 dan 660.

Soal kemampuan, Snapdragon 632 dibuat dengan peningkatan performa sebesar 40 % dan kualitas grafis sebesar 10 % dibandingkan pendahulunya. Hal ini terlihat dari rata-rata skor AnTuTu yang dihasilkan, yakni mencapai 104.000, sementara chipset Snapdragon 625 mendapat skor 78.000.

Chipset ini menjadi nilai plus pertama dari Zenfone Max M2, sebab selain mengalami peningkatan performa yang lebih tinggi dari pendahulunya, juga menyebabkan smartphone ini lebih hemat daya dan tidak panas ketika dipakai berlama-lama.

          Baterai Jumbo                                                                                       



Hal kedua yang pastinya menjadi ciri khas dari seri Zenfone Max adalah keberadaan baterai jumbo. Asus Zenfone Max M2 memiliki baterai 4.000 mAh. Baterai sebesar ini bisa dipergunakan untuk bermain Free Fire (game yang di-bundling dengan smartphone ini) selama 8 jam.

Chipset tangguh dan baterai besar sebetulnya percuma kalau dipasangi software yang tidak bagus untuk bermain game. Untuk itulah Asus menyerahkan sepenuhnya sistem operasi smartphone ini pada Android Oreo 8.0 yang murni. Jadi smartphone tidak banyak bloatware yang memakan memori dan memberatkan kinerja chipset dan memori, sehingga pengalaman bermain game jadi lancar.

          Layar Mantap                                                                                       



Asus Zenfone Max M2 memiliki layar resolusi HD+ dan panel IPS LC dengan lebar 6,3 inci. Layar ini selain memiliki ukuran rasio 19:9, juga memiliki rasio screen-to-body sebesar 88 %. Rasio ini cukup besar, sehingga harus memaklumi kehadiran poni yang menurut sebagian orang sedikit mengganggu. Namun apalah arti poni, kalau posisi smartphone biasanya dimiringkan saat bermain game. Dengan begitu, poni akan tertutup jari jempol ‘kan?

Untuk lebih jelasnya, berikut ini spesifikasi dari Asus Zenfone Max M2:


Dengan spesifikasi yang ditawarkan, harga Rp2,3 juta untuk versi RAM 3 GB dan memori internal 32 GB, dan Rp2,7 juta untuk versi RAM 4 GB dan memori internal 64 GB, seharusnya terjangkau oleh penggemar game. Pasalnya untuk smartphone ber-chipset dibawah itu saja masih banyak yang dibanderol sama atau bahkan lebih tinggi.

Jadi dengan tiga syarat yang hampir dipenuhi, termasuk kehadiran Asus Zenfone Max M2 sebagai smartphone game yang harganya terjangkau, seharusnya penetrasi game e-sport bisa lebih baik. Sehingga Indonesia memiliki stok yang melimpah untuk mendulang medali dan menambah prestasi dari cabang olahraga ini.


Diikutsertakan pada Lomba Blog Asus dari OomBoy.

8 Januari 2019

7 Cara Mempercepat Performa Smartphone yang Sudah Jadul

Anda punya smartphone lama yang masih setia menemani? Smartphone yang menjejaki ribuan kenangan, menemani perjuangan, sehingga sayang untuk dilego begitu saja. Namun dilema muncul ketika smartphone tersebut out-of-date sehingga gagal beradaptasi dengan perkembangan zaman yang menuntut aplikasi kekinian.


Sebelum frustasi dan membongkar tabungan, ada baiknya mencoba beberapa tips agar performa smartphone jadul tersebut kembali seperti semula. Tips ini lebih kepada pengembalian software smartphone agar berfungsi seperti awal kali pembelian. Namun perlu dicatat, karena menurunnya fungsi hardware akibat usia dan pemakaian, maka pengembalian performa ini mungkin saja gagal. Tapi tiada salahnya mencoba 'kan?

1. Melakukan factory reset.

Sebelum beranjak ke langkah-langkah lain, ada baiknya mengubah pengaturan smartphone anda ke pengaturan pabrik atau factory reset. Factory reset akan membersihkan pengaturan yang lupa anda kembalikan, data yang luput ditaruh dimana, dan membersihkan memori sehingga smartphone seperti baru keluar dari pabrik.

Untuk melakukan factory reset, yang anda perlukan tinggal masuk ke menu Pengaturan > Sistem > Opsi Setel Ulang. Namun langkah ini tentu sedikit berbeda pada setiap smartphone. Pastikan sebelum melakukan reset, pindahkan data-data penting seperti foto dan dokumen dari smartphone, lalu cabut semua komponen eksternal seperti SIM Card dan Micro-SD.

2. Melakukan pembaruan software.

Smartphone yang melambat sering disebabkan karena sistem operasinya sudah tidak bagus, fitur security-nya jebol, banyak meninggalkan bugs, dan lain sebagainya. Sehingga software ini mengakibatkan melambatnya kinerja smartphone. Makanya perlu dilakukan peningkatan software yang biasanya disediakan oleh pabrikan paling lambat setahun sekali.

Kalau anda pemakai smartphone yang ikut program Android One, seperti Xiaomi Mi A1, maka update security patch diberikan oleh Google setiap bulan. Namun untuk pabrikan secara umum, update mayor biasanya dilakukan setahun sekali. Nah, barangkali update ini luput anda lakukan, saatnya sekarang melakukannya.

Cara melakukan update sistem operasi ini cukup mudah. Anda tinggal masuk ke menu Pengaturan dan cari Pembaruan Sistem atau nama lain yang mengarah ke hal yang sama. Apabila menu ini diklik, maka akan muncul pilihan untuk melakukan pengecekan apakah ada update yang disediakan oleh pabrikan atau tidak. Satu catatan penting, anda mesti terhubung ke wi-fi sebab file yang diunduh cukup besar.

3. Melakukan pembaruan aplikasi bawaan.

Anda mesti memisahkan antara aplikasi bawaan dengan bloatware. Aplikasi bawaan selalu dipasang oleh Google untuk mendukung ekosistem Android mereka di smartphone anda, seperti Play Store. Ciri khasnya aplikasi ini tidak bisa dibuang, namun bisa dinonaktifkan saja. Sementara untuk bloatware, biasanya merupakan kerjasama antara pabrikan dengan pihak ketiga yang ingin aplikasinya muncul di smartphone pengguna. Bloatware ini kebanyakan bisa dihapus, namun pada smartphone tertentu, hanya tersedia opsi non-aktif saja.

Aplikasi bawaan ini mesti di-update agar terhindar dari keberadaan bug yang kemungkinan ada dan akan mengganggu. Kemudian kehadiran fitur-fitur baru yang bisa jadi lebih meringankan kinerja smartphone.

Untuk melakukan update aplikasi ini, silakan masuk ke Google Play Store, klik garis tiga horisontal di pojok kiri atas di samping tulisan Google Play, lalu klik Aplikasi & Game Saya. Apabila ada aplikasi yang perlu diupdate, maka akan muncul tombol hijau bertuliskan Update Semua. Untuk melakukan update terhadap semua aplikasi yang belum diupdate, silakan klik tombol tersebut. Namun untuk melakukannya satu persatu, silakan klik tombol update yang tersusun dibawahnya.

4. Matikan update otomatis.

Hal ini memang terdengar berlawanan dengan poin pertama dan kedua. Sebab kalau yang pertama dan kedua malah menyuruh melakukan update, ini malah terkesan menghalangi update. Nah, poin ini sebetulnya bukan hanya tentang update.

Ya memang sih, untuk smartphone dengan program Android One, sistem update otomatis ini tidak ada opsi untuk dimatikan. Namun untuk sistem operasi yang dimodifikasi seperti EMUI dari Huawei, ZenUI dari Asus, maupun MIUI dari Xiaomi, punya opsi semacam ini. Lalu, mengapa mesti memilih 'jangan melakukan update otomatis'?

Kadang-kadang, yang namanya update dari sebuah aplikasi itu justru lebih besar dari aplikasi itu sendiri. Disinilah perlu peranan pengguna apakah update ini diteruskan atau tidak. Sebab anda berhadapan dengan smartphone jadul yang belum tentu memorinya masih lega.

Kalau update ini dilakukan secara otomatis, bisa jadi smartphone jadul kita tidak menyanggupi beban baru yang diberikan. Alhasil bukannya semakin lancar, justru aplikasi baru semakin melambatkan performa.

5. Membersihkan cache secara rutin.

Anda tahu cache? Cache merupakan 'ingatan' data dan gambar yang sifatnya sementara. Cache ini sebetulnya memudahkan smartphone untuk 'memanggil' kembali data yang sudah pernah dipakai.

Misalnya anda sering membuka Facebook, maka cache di aplikasi Facebook tentu tersimpan rapi. Ketika anda membuka kembali aplikasi Facebook, maka cache ini akan dipanggil kembali untuk memudahkan sistem operasi membuka aplikasi tersebut.

Sepintas, cache memudahkan smartphone untuk membuka aplikasi. Namun sayangnya, tidak semua aplikasi tadi terpakai secara reguler. Ada banyak aplikasi yang tidak terpakai namun menyimpan cache yang tidak sedikit. Hal ini selain membebani memori juga akan melambatkan kinerja smartphone.

Cara membersihkannya cukup mudah. Tekan yang lama ikon aplikasi di smartphone anda, lalu ketuk menu informasi aplikasi yang disediakan. Di menu ini pilihlah opsi Penyimpanan. Di menu Penyimpanan akan muncul pilihan Hapus Penyimpanan dan Hapus Cache. Silakan pilih Hapus Cache, sebab menghapus Penyimpanan akan menghilangkan pengaturan di aplikasi tersebut, seperti data login dan lainnya.

6. Uninstall aplikasi yang sudah jarang dipergunakan.

Kalau seminggu saja sebuah aplikasi tidak lagi dipergunakan, maka lakukan uninstall. Sebab dalam waktu seminggu itu bisa diukur kalau anda memang tak butuh-butuh amat dengan aplikasi tersebut. Aplikasi yang dibutuhkan akan dipergunakan secara reguler. Makanya melakukan uninstall adalah pilihan yang tepat.

Sebuah aplikasi meski tidak dipergunakan akan tetap memakan memori dan tetap berjalan pada background process sistem operasi. Proses ini tentu bakal memperlambat kinerja smartphone. Sementara itu, aplikasi yang dipergunakan pun akan memakan memori yang lebih besar lagi. Jadi untuk mengimbanginya, hapuslah aplikasi yang tidak digunakan itu.

7. Pergunakan aplikasi versi ringan atau lite-version.

Saat ini banyak tersedia aplikasi yang dibuat versi yang lebih ringan atau bahasa yang sering dipakai adalah 'lite'. Hampir setiap aplikasi mayor memiliki aplikasi versi lite ini dan mereka resmi dibuat oleh pengembang yang sama. Dan untuk mendukung performa yang baik smartphone anda, sebaiknya pasang aplikasi tersebut di smartphone jadul anda.

Banyak aplikasi versi lite untuk aplikasi utama di Play Store. Anda tinggal memilih misalnya Facebook Lite untuk Facebook, FB Messenger Lite untuk FB Messenger, Twitter Lite untuk Twitter, Gmail Go untuk Gmail, Google Maps Go untuk Google Maps, Youtube Go untuk Youtube, dan seterusnya.

Cuma ada beberapa smartphone yang tidak mendukung versi lite dari aplikasi tersebut. Untuk mengatasinya agar smartphone jadul anda tetap cepat tanpa harus menguras memori, maka pergunakan versi website dari aplikasi tersebut. Ya memang sih, pengalaman penggunaannya tidak sama, namanya juga alternatif.

5 Januari 2019

Bagaimana Aplikasi E-Wallet Meraup Profit?

Saat mencari informasi tentang "darimana perusahaan e-wallet mendapatkan profit?", saya cukup kesulitan menemukan referensi yang pas.

Pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh beberapa orang teman itu, pada akhirnya menjadi keingintahuan saya pula. Sebab pada mulanya, saya tak ambil pusing dengan masifnya aneka ragam promo dari aplikasi kantong elektronik alias e-wallet yang ada di smartphone.


Pada mulanya saya menganggap kalau adanya selisih kecil yang biasanya mengendap di saldo e-wallet, merupakan uang yang bisa dijadikan profit. Namun setelah dikalkulasi, jumlahnya tidak signifikan untuk mendongkrak e-wallet sampai meraup profit miliaran bahkan triliunan.

Maksud saya begini. Misalnya saya mengisi saldo OVO sebesar Rp100.000. Keesokan harinya saya mesti naik Grab Bike dan membayar Rp15.000. Tentu ada sisa saldo Rp85.000. Saldo ini saya pakai untuk memesan makanan di Grab Food, dan menghabiskan Rp78.000.

Namun setelah penggunaan itu, saya tidak pernah memakai layanan Grab maupun melakukan pembelian di Tokopedia sehingga saldo Rp7.000 yang mengendap itu dipergunakan OVO untuk melakukan tindakan ekonomi lainnya. Misalnya berinvestasi, mengakuisisi bisnis lain, atau sejenisnya.

Hal yang sama pun terjadi dengan aplikasi DANA. Cuma aplikasi yang berada di bawah Elang Mahkota Teknologi dan AliPay ini kerap saya pergunakan di Bukalapak untuk mengikuti Serbu Seru - meski tak pernah dapat. Dan kondisinya sama, selalu ada saldo mengendap yang cukup lama barang Rp1.000 hingga Rp10.000 setelah transaksi rutin.

Nah, saya kira teknik saldo inilah yang membuat para pengelola e-wallet itu mendulang profit. Pada kenyataannya, saldo mengendap bukan pendulang profit utama. Bahkan bukan pendulang profit sama sekali. Lalu, apa?

Sebelum masuk ke bagaimana e-wallet mendapatkan profit, ada baiknya diketahui lebih jelas dulu bagaimana cara kerja e-wallet ini.

Cara Kerja E-Wallet

Tahun 2019 merupakan tahun dimana pembayaran non-tunai semakin masif. Salah satunya adalah dengan kehadiran berbagai aplikasi e-wallet seperti OVO, Dana, T-Cash, Paytren, AyoPop, Uang Hape, Go-Pay, dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak e-wallet yang ada, cara kerjanya hampir sama. Anda tinggal unduh aplikasinya, melakukan registrasi, mengisi saldo dengan sejumlah uang, dan melakukan transaksi menggunakan e-wallet ini.

Saat registrasi dilakukan, anda sudah memberikan kepercayaan pada pengelola e-wallet untuk dititipi sejumlah uang. Dan secara fisik, uang anda sudah diputar lagi. Angka digital yang ditunjukkan sebagai saldo, hanyalah perwakilan saja. Uang anda sudah bergerak entah kemana. Ya mirip cara kerja bank sih.

Setelah nominal saldo sudah muncul, anda bisa membelanjakan senilai angka yang ada disitu. Munculnya saldo mengendap biasanya disini, sebab jarang sekali ada barang atau layanan dengan tarif yang pas.

Soal transaksi inilah yang mestinya menjadi pertimbangan kala memilih e-wallet. Pasalnya e-wallet yang baik adalah e-wallet yang banyak diterima oleh vendor, baik vendor transportasi, vendor marketplace, vendor makanan, maupun vendor hiburan. Sayangnya, satu hal yang membuat bingung adalah beberapa layanan yang sering dipergunakan, memakai e-wallet yang berbeda-beda.

Ya sudah, cara kerjanya memang seperti itu saja. Lalu, darimanakah perusahaan e-wallet ini mendapatkan profit? Sebab mustahil kalau tanpa profit, banyak perusahaan baik perbankan, maupun raksasa kapital tergiur dengan bisnis ini.

Mari kita bahas cara kerja itu satu persatu. Sebab dari situlah profit e-wallet didapatkan.

Saat anda melakukan pengunduhan aplikasi dan melakukan registrasi, penyedia layanan e-wallet sudah mendapatkan profit. Pertama penambahan jumlah pemakai, dan kedua mendapatkan data pengguna, by name by address. Oke, ini bukan profit yang ternilai oleh uang, tapi ini merupakan aset yang kelak bisa meningkatkan valuasi.

Kalau proses registrasi tak mendapatkan profit langsung, maka saat pengguna mengisi saldo, barulah e-wallet mendapatkan keuntungan berupa nominal uang secara langsung. Pihak bank selaku perantara proses transfer itu akan membagi keuntungan dari nilai transaksi itu dengan pengelola e-wallet. Meskipun pengguna mengisi saldonya lewat Alfamart atau Indomart, tetap saja proses transfer akan melalui bank.

Setelah saldo terisi, pengguna tentu membelanjakan uangnya ke vendor yang sudah bekerjasama. Nah, sebelum e-wallet dipakai di marketplace, sebelumnya memang sudah ada perjanjian kerjasama dimana pihak vendor membayar sejumlah uang untuk memasang aplikasi e-wallet itu di layanannya.

Anda bisa mengambil contoh untuk hal ini pada Bukalapak yang memakai Dana atau Tokopedia yang memakai OVO. Hal ini disebabkan keduanya belum bisa membuat e-wallet sendiri. Tokopedia dengan TokoCash-nya dan Bukalapak dengan BukaDompet-nya, masing-masing gagal mendapat restu dari Bank Indonesia. Sesuatu yang sudah digenggam oleh e-wallet yang kini dipakai keduanya. Makanya kedua vendor marketplace ini tentu bersedia membayar untuk memakai fasilitas e-wallet tersebut.

Profit pun datang dari tampilan aplikasi maupun situs e-wallet. Sebab mereka menyediakan slot agar beberapa layanan yang bekerjasama dengannya mengiklankan diri untuk meningkatkan jumlah transaksi.

Makanya kembali ke awal, semakin banyak pengguna, maka nilai jual atau valuasi dari e-wallet akan meningkat. Makanya ketika sebuah marketplace berstatus unicorn seperti Tokopedia dan Bukalapak memakai sebuah e-wallet, maka valuasi e-wallet itu akan meningkat, sebab ada penambahan jumlah pengguna.

Anda boleh tidak percaya, namun kasus Go-Jek dengan Go-Pay bisa menjadi contoh. Meski berstatus unicorn dengan valuasi pada akhir 2018 mencapai Rp145 triliun, Go-Jek tidak banyak mendulang profit dari aplikasi transportasinya, Go-Ride. Namun bisnis ini tetap dipertahankan agar pengguna aplikasi tetap banyak. Bahkan ditambah pula dengan Go-Food.

Muara dari memperbanyak pilihan layanan Go-Jek itu agar penambahan konsumen atau istilahnya consumer acquisition semakin bergerak positif. Semaki banyak konsumen, maka jumlah transaksi Go-Pay terus meningkat. Dan disinilah profit itu bakal muncul.

Demikianlah artikel tentang "darimana aplikasi e-wallet meraup profit". Apabila ada yang perlu ditambahkan, silakan tulis di kolom komentar.