21 Oktober 2018

Mengenal Realme, Pendatang Baru dengan Bodi Oppo dan Harga Xiaomi

Indonesia kehadiran pendatang baru di pasar perponselan. Namanya Realme. Nama yang sudah wara-wiri sejak lima bulan kemarin terutama di India. Meski masih muda, tercatat sudah empat ponsel yang dirilisnya. Apa istimewanya merek ini?

Realme ini ibarat partai politik, yang mana meski dijargoni sebagai pendatang baru yang fresh, namun tetap mengandung ‘entitas’ lama yang susah dilepaskan. Baik dan buruk entitas lama tersebut, maka begitulah setidaknya Realme tercitrakan. Entitas tersebut adalah Oppo.


Sejarahnya, delapan tahun silam Oppo pernah merilis Oppo Real yang menandai sebuah produk subsidiari dari seri ponsel Oppo. Oppo Real ini memang tak begitu moncer layaknya ponsel Oppo seri yang lain. Ya mungkin belum terpikir untuk mengembangkannya lebih lanjut saat itu.

Hingga pada akhirnya beberapa pabrikan pun membuat produk alternatif. Misalnya Huawei dengan Honor dan Xiaomi dengan Poco. Salah satu alasan pembuatan produk alternatif ini, biasanya menyasar segmentasi yang berbeda dari target pasar indukannya. Begitu pula Oppo dengan Realme.

Saat masih berada di bawah Oppo, Realme merilis Realme 1 yang cukup sukses menjalani debutnya di India. Pemisahan Oppo dan Realme terjadi pada akhir Juli 2018 atau setidaknya sebulan setelah dirilisnya Realme 1 itu. Pemisahan ini ditandai dengan hengkangnya Wakil Presiden Oppo, Sky Li, untuk menduduki jabatan baru sebagai CEO Realme.

Perpindahan seperti Sky Li ini memang bukan yang pertama. Lima tahun yang lalu, Pete Lau hengkang dari BBK Electronics untuk mendirikan OnePlus. Sebuah merek yang memang dianggap masih saudara kandung dengan Oppo dan Vivo. Dan OnePlus yang menyasar konsumen di Amerika dan Eropa ini terbilang sukses untuk sasaran segmentasi yang dicanangkannya.

Apakah perpindahan Sky Li lewat Realme-nya, bisa dibilang sama dan akan bernasib sama dengan Pete Lau dan OnePlus-nya? Sayangnya, Realme baru seumur jagung untuk diprediksi begitu jauh. Makanya mari kita tengok saja dulu, seperti apa ponsel yang baru dirilis Realme di tanah air pada Selasa (9/10/2018) kemarin.

Realme C1, entri-level yang cukup menggoda


Kita mulai dulu dari Realme C1. Ponsel dengan layar 6,2 inci dengan resolusi 720p berponi ini masuk kategori entry level. Meski begitu, spesifikasi dapur pacu yang diusung tak entri-entri banget lah. Sebab ada Snapdragon 450 yang menjadi inti tenaga dari Realme C1.

Dapur pacu tadi sama-sama dimiliki oleh Realme 2, yang menjadi ponsel middle-range dari Realme yang akan kita bahas selanjutnya. Oleh karenanya, Realme C1 ini cukup menggoda tersebab harga yang ditawarkan cukup jauh dibandingkan Realme 2.
Selain Snapdragon 450, Realme C1 ditopang oleh RAM 2 GB dan memori internal 16 GB. Ponsel ini punya dukungan daya sebesar 4.230 mAh. Daya sebesar ini diklaim bertahan hingga 18 jam untuk mendengarkan musik, 15 jam untuk memutar video, serta 10 jam untuk bermain game.

Di sektor kamera, Realme C1 memiliki konfigurasi kamera belakang 13 megapiksel dan 2 megapiksel. Sayangnya, kamera depannya hanya memiliki 5 megapiksel. Sehingga Realme C1 ini tidak mengklaim sebagai selfie phone seperti ‘ibu kandungnya’. Ditambah lagi, tidak ada fingerprint scanner pada ponsel ini. Belum tertarik? Tenang, masih ada Realme 2.

Realme 2, sebuah downgrade dari Realme 1



Pihak Realme keberatan ketika Realme C1 dan Realme 2 dianggap sama saja. Dan keberatan ini memang beralasan, sebab keduanya memang berbeda meski memiliki dimensi yang sama.

Ya meski chipsetnya sama, baterainya sama, layarnya sama, poninya sama, namun ketika bodi itu dibalik dan tampak bagian belakangnya, maka antara Realme C1 dan Realme 2 tampak perbedaan yang mencolok. Realme mengadopsi bodi diamond cut yang dimiliki ponsel Oppo kekinian. Sementara Realme C1 hanya bodi glossy biasa.

Di Realmi 2 pun sudah terpasang fingerprint scanner. Satu hal yang tak ada pada Realmi C1, bahkan Realmi 1 sebagai pendahulunya yang hanya mengandalkan face unlock saja.

Kalau dibandingkan dengan Realmi 1, Realmi 2 ini sebetulnya mengalami downgrade. Penurunan itu terlihat ketika Realmi 1 memakai layar Full HD dengan resolusi 1080p, namun Realmi 2 hanya 720p saja. Pun begitu dengan chipset yang menjadi otaknya.

Realmi 1 memakai chipset MediaTek Helio P60 yang setara dengan Snapdragon seri 600. Sementara Realmi 2 hanya memakai Snapdragon 450, sama dengan Realmi C1. Realmi menyediakan dua varian RAM dan memori, yakni RAM 3 GB dan memori 32 GB serta 4 GB dan memori 64 GB.

Konfigurasi kamera belakang Realmi 2 terdiri atas 13 megapiksel dan 2 megapiksel. Sementara untuk kamera depan terpasang modul kamera selfie dengan resolusi 8 megapiksel.

Downgrade ini mungkin cukup beralasan, sebab konsumen diberi pilihan untuk meminang Realmi 2 Pro dengan spesifikasi yang lebih tinggi baik dibandingkan dengan Realmi 1 apalagi Realmi 2 dan Realmi C1.

Realmi 2 Pro: pilihan baru untuk kelas menengah


Realmi 2 Pro hadir dengan tawaran yang lebih menggiurkan. Kalau boleh dibilang, kalau kamu belum cukup uang untuk meminang Oppo F9, ya bolehlah melipir sedikit ke ponsel ini. Kenapa demikian?

Dilihat dari desain bodinya, Realme 2 Pro memiliki kesamaan dengan Oppo F9. Ditambah lagi dengan poni waterdrop yang berada diatas layar 6,3 incinya. Bodi bagian belakang pun memakai desain diamond-cut yang memberikan efek kaca unik yang kekinian dan aksen yang memang tak berbeda dengan salah satu seri ponsel dari ‘ibu kandungnya’ itu.

Untuk dapur pacunya, Realme 2 Pro memakai Snapdragon 660 yang didukung oleh beberapa varian RAM dan memori internal. Ada yang memakai RAM 4 GB memori internal 64 GB, RAM 6 GB memori 64 GB, dan RAM 8 GB memori 128 GB. Dapur pacu ini ditopang oleh daya sebesar 3.500 mAh.

Konfigurasi kamera Realme 2 Pro di bagian belakang terdiri atas 16 megapiksel dan 2 megapiksel untuk kamera sekunder. Sementara itu bagian depannya dipasangi modul kamera selfie dengan resolusi sebesar 16 megapiksel.

Sebagaimana judul artikel ini, Realme memang membanderol ketiga ponsel ini dengan harga yang cukup murah menarik. Dimulai dari Realme C1 yang dibanderol di angka Rp1.499.000, kemudian Realmi 2 Rp1.999.000 untuk RAM 3 GB dan memori 32 GB, Rp2.399.000 untuk RAM 4 GB dan memori 64 GB. Sementara itu Realmi 2 Pro dibanderol mulai dari Rp2.899.000 untuk RAM 4 GB dan memori 64 GB, Rp3.299.000 untuk RAM 6 GB dan memori 64 GB, serta RpRp3.699.000 untuk RAM 8 GB dan memori 128 GB.

Realme menggandeng Lazada untuk pemasarannya. Realme 2 sudah bisa dipesan mulai 16 Oktober, Realmi 2 Pro bisa diperoleh pada 23 Oktober, dan Realme C1 bisa diperoleh pada 30 Oktober. Lalu, apakah ini flash sale? Ya tergantung seberapa banyak orang tertarik dengan ponsel Oppo dengan harga Xiaomi ini.

19 Oktober 2018

Empat Alasan Tak Usah Beli iPhone XS dan iPhone XS Max

Ratusan orang berjubel di depan Apple Orchad Road, Singapura sejak Kamis (20/09/2018) sore. Mereka bermaksud menjadi barisan pertama yang memiliki iPhone terbaru di Asia Tenggara. Sebab di tempat yang baru berusia setahun itulah Apple melego iPhone terbaru yang dirilis sembilan hari sebelumnya.

Pemandangan yang sama terjadi di beberapa kota di 11 negara lain yang mana Apple memasarkan iPhone XS dan XS Max untuk pertama kalinya secara global. Meski hal yang sama tidak terjadi di negeri asal Apple sendiri, serta ada opsi pemesanan lewat daring yang mestinya mencegah antrian semacam ini terjadi. Namun antrian tetap ada, sebab beginilah setiap iPhone baru diperlakukan. Sebegitu worthed-kah?

Seperti diketahui, iPhone bukanlah sekedar perangkat teknologi biasa. Ia telah mengejawantah kedalam perangkat lifestyle yang mendongkrak pemakainya beberapa tingkat di kancah pergaulan sosial. Maka tak heran kalau ponsel buatan pabrikan ponsel dengan nilai valuasi tertinggi di dunia ini selalu diantri oleh banyak orang.

Antrian tersebut disebut oleh media CNET sebagai sebuah art form, dengan ukuran keunggulan adalah siapa yang lebih lama mengantri. Para pengantri ini adalah mereka yang rata-rata membeli untuk pemakaian sendiri dan keluarga, tak lebih dari itu. Sebab Apple Retail Store yang baru membuka penjualan serentak pada Jum'at (21/09/2018) pukul 09.00 pagi waktu setempat, hanya membolehkan setiap pengantri membeli dua perangkat saja.

Ya mungkin diantaranya ada reseller yang menjualnya lagi dengan harga yang lebih tinggi, tapi menurut beberapa media setempat, rata-rata mereka antri membeli hanya untuk pemakaian pribadi.

Sebagaimana diketahui, Apple sebetulnya merilis tiga iPhone baru, yakni iPhone XS, iPhone XS Max, dan iPhone XR. Namun Apple akan melego iPhone XR yang harganya paling rendah pada 21 Oktober mendatang atau 50 hari setelah perilisan. Alasan tanggal penjualan yang berbeda ini menurut beberapa media bisnis adalah guna menjaring pembeli dengan budget terbaik dulu.

Orang-orang yang menginginkan iPhone terbaru untuk pertama kalinya, tentu mau tak mau mesti merogoh kocek yang lebih dalam untuk iPhone XS dan iPhone XS Max. Buat pemilik budget rendah, yang hanya sanggup membeli Xiaomi iPhone XR mesti menunggu lebih lama. Kelompok ini boleh jadi bakal tergoda berisiknya para pengguna iPhone XS maupun XS Max, sehingga akan meningkatkan budget-nya untuk meminang salah satu dari dua itu. Cerdas nian kau Apple.

Namun buat orang-orang yang tidak akan membeli iPhone terbaru tadi dan membutuhkan alasan untuk menangkis agar tidak dicap miskin, sini saya bantu menyusun argumentasinya. Dan karena yang terbit duluan iPhone XS dan iPhone XS Max, maka obrolan kita ini tentu tentang dua perangkat tersebut.

Desain yang mirip dengan iPhone seri sebelumnya

Jangka waktu setahun, setidaknya ada lebih dari sepuluh ponsel dikenalkan. Ponsel baru ini hadir dengan desain, dapur pacu, dan layanan yang diperbaiki dari seri sebelumnya. Hal yang langsung terlihat adalah sisi desain. Sisi ini akan membuat ponsel yang lama cenderung terlihat jadul. Namun apa jadinya kalau ponsel yang baru terlihat mirip dengan ponsel yang lama?

Setidaknya itulah yang terjadi dengan iPhone XS dan iPhone XS Max. Antara iPhone X dan iPhone XS terlihat kembar. Dan meski layarnya lebih lebar, iPhone XS Max pun desainnya sama saja dengan iPhone X. Wicis, kata anak Jaksel, kalau dilihat sekilas kedua iPhone baru ini bakal sulit dibedakan dengan iPhone X. Ibarat pacaran, kenapa mesti cari yang baru kalau tampangnya sama. Eh, bener gak sih?

Orang-orang bakal mengira kita masih memakai iPhone X, barang diskontinu. Jadi, kebutuhan buat nampangnya berkurang banyak. Jadi sudahlah, enggak usah beli.

Dapur pacu yang sok-sok misterius

Buat yang menonton Apple Event, Tim Cook dan timnya tidak menjabarkan spesifikasi detail tentang isi di dalam iPhone. Ya biasanya 'kan kalau spesifikasi ponsel selalu menyertakan chipset, RAM, GPU, memori internal, sampai baterai. Nah, penjelasan tentang besaran RAM dan baterai tidak diungkapkan pada ajang perilisan tersebut.

Apple memang menjelaskan chipset A12 Bionic secara jelas. Penerus A11 ini merupakan chipset dengan pabrikasi 7nm yang 15% lebih cepat daya prosesnya dan 50% lebih efisien dalam mengonsumsi daya baterai dibandingkan pendahulunya. Dan mungkin dengan penjelasan chipset tersebut, penjelasan spesifikasi tentang RAM tak begitu penting. Begitu pula dengan baterai. Baterai tiga iPhone baru itu hanya dijelaskan lebih memiliki daya tahan beberapa jam dibandingkan baterai yang dipakai pendahulunya.

Meski kemudian spesifikasi RAM dan baterai itu terungkap, yakni masing-masing 4 GB untuk iPhone XS dan XS Max, baterainya 2.658 mAh untuk iPhone XS dan 3.174 mAh untuk iPhone XS Max. Namun terungkapnya spesifikasi tersebut bukan oleh Apple sendiri selaku pabrikan, tapi dari pengembang software penguji benchmark, Geekbench. Jadi perilaku misterius Apple ini membuat kita ibarat beli kucing dalam karung. Mahal pulak kucingnya! Jangan beli, ya.

Inovasi yang minim kebaruan

Setiap tahunnya, ketika orang-orang menggelontorkan banyak uang dan rela berdesakan demi membeli iPhone, alasan paling kuat darinya adalah keberadaan inovasi yang dihadirkan pabrikan ini. Lalu, apakah inovasi tersebut hadir di tahun ini?

Setelah memakai desain tahun lalu, iPhone XS dan XS Max selaku varian tertinggi hampir tak punya inovasi yang bisa menjadi trendsetter teknologi, sebagaimana biasa. Banyak orang agak kesusahan untuk me-notice, kata anak Jaksel lagi, inovasi terbaru di industri perponselan dalam ajang Apple Event itu. Ya memang sih, banyak hal baru dari Apple yang dibenamkan di iPhone terbarunya itu. Tapi apakah itu betul-betul baru?

Apple bilang iPhone kali ini mendukung dual SIM, meski yang satunya memakai e-SIM. Namun soal dual SIM, ponsel China yang membuat Nokia babak-belur pun telah memakainya. Pun ketika Apple bilang aperture dalam kamera iPhone ini bisa diatur selayaknya DSLR. Maka pinjamilah Tim Cook untuk mencicipi Samsung Galaxy S9. Jadi, ya enggak usah beli.

Harganya yang mahal

Apple Retail Store di Orchad Road Singapura membanderol iPhone XS termurah di angka $1,649 atau sekitar Rp24,5 juta (kurs $1=Rp14.800). Dan iPhone XS Max versi paling tinggi dibanderol $2,349 atau setara dengan Rp34,8 juta. Harga setinggi ini bakal merangkak naik ketika hadir di Indonesia melalui jalur non-resmi.

Sekedar perbandingan, varian tertinggi Samsung Galaxy Note 9 ada di angka Rp17 jutaan. Ponsel tersebut merupakan varian tertinggi dan selalu menjadi panutan ponsel Android untuk bertanding dengan iPhone. Artinya ketika dibandingkan dengan iPhone XS termurah pun, Note 9 ini masih mendapat kembalian Asus Zenfone 5z maupun Xiaomi BlackShark.

Namun Apple tetaplah Apple dengan segala eksklusivitasnya. Ia tak pernah bisa apple-to-apple dengan perangkat Android. Makanya keterpisahan perangkat Apple dengan iOS-nya tentu tak selalu bisa disamakan dengan perangkat Android. Sehingga untuk yang punya duit, empat alasan itu tak relevan.

Jadi, alasan diatas hanya pas untuk yang terbiasa menunggu flash sale, sebab ponselnya jadi lebih murah beberapa ratus ribu daripada harga di konter. Dan ya monmaap nih, Apple memang tak melirik segmen pembeli macam ini.

Tulisan yang sama pernah dimuat di Mojok.co

7 Oktober 2018

Mengintip Fitur Tiga Kamera pada Samsung Galaxy A7

Kamera ganda pada smartphone sepertinya bakal menjadi masa lalu. Sebab kamera belakang dengan tiga lensa mulai diproduksi oleh beberapa pabrikan. Tren ini diawali oleh Huawei P20 Pro yang memikat banyak orang, pun dipastikan Oppo R17 Pro dan LG V40 bakal menyusulnya. Sebelum kedua merek terakhir mewujudkannya, pemilik pasar smartphone terbesar secara global, Samsung, telah merealisasikannya melalui Galaxy A7.


Samsung Galaxy A7 telah dirilis secara global di India pada Selasa (25/09/2018) kemarin. Sebelumnya, Samsung telah mengenalkannya ke publik beberapa hari sebelumnya. Smartphone ini merupakan kelanjutan dari seri A yang dipasang Samsung di kelas menengah. Dan sebagaimana judul artikel ini, daya tarik Galaxy A7 terletak pada konfigurasi kamera belakangnya yang terdiri dari tiga buah kamera.

Oke, baiklah, mungkin ada yang sedikit bertanya-tanya soal Galaxy A7. Pasalnya smartphone dengan nama yang sama pernah meluncur pada tahun 2017 silam. Bahkan bukan hanya tahun kemarin, sejak 2015 smartphone ini pernah dirilis dengan dapur pacu Exynos 5430 dan Android KitKat. Kemudian Samsung pun menghidupkannya lagi setahun kemudian dengan nama yang sama dan beberapa upgrade.

Agar tidak menjadi judul sinetron ‘smartphone yang tertukar’, Samsung kemudian menambahkan tahun di belakangnya kemudian diberi tanda kurung. Misalnya, Samsung Galaxy A7 (2017) untuk membedakannya dengan Samsung Galaxy A7 (2016) dan Galaxy A7 (2015). Cuma untuk Galaxy A7 kali ini tak ada tahun, meskipun kalau tahun depan rilis Galaxy A7 yang baru, kayanya Galaxy A7 yang sekarang akan menjadi Galaxy A7 (2018). Ya sudahlah, suka-suka Samsung saja...

Perbedaan paling mencolok dari Galaxy A7 sekarang dengan lineup Galaxy seri A sebelumnya adalah tiga kamera ini. Fitur ini sekaligus menjadi yang pertama bukan hanya di seri A saja, namun dari keseluruhan smartphone yang pernah diproduksi Samsung.

Tiga kamera belakang ini dihuni oleh masing-masing lensa kamera yang memiliki tugas berbeda. Dimulai dari atas, ada kamera dengan resolusi 5 megapiksel dengan bukaan f/2.2 yang bertugas untuk membuat bokeh. Kemudian bergeser ke kamera di tengah yang memiliki resolusi 24 megapiksel dengan bukaan f/1.7 yang berguna buat mencari titik fokus dalam sebuah jepretan. Dan paling bawah ada kamera dengan resolusi 8 megapiksel dengan bukaan f/2.4. Kamera yang terakhir ini memiliki sudut 120 derajat, sehingga Samsung menyebutnya lensa Ultra Wide.

Konfigurasi tiga kamera ini berbeda dengan Huawei P20 Pro. Smartphone flagship ini memiliki lensa RGB, telephoto, dan monochrome yang membuat hasil fotonya mampu bersaing dengan DSLR. Cuma ya namanya juga flagship, tentu Galaxy A7 tak sebanding kalau disetarakan.


Hanya saja buat yang sedang atau pernah memakai smartphone Samsung, terutama di seri mid-range, kamera dari pabrikan asal Korea ini memang jempolan. Warnanya natural, fokusnya tajam, tetap bagus saat low-light, serta bokeh-nya dapet. Hal yang sama pun berlaku buat Galaxy A7 ini. Dengan konfigurasi tiga kamera tersebut, ada banyak gaya pemotretan yang bisa diterapkan tanpa takut kehilangan kualitas foto. Cuma buat yang berharap lensa lebar tadi mirip dengan kamera sekelas Go-Pro agaknya mesti menuai kekecewaan.

Karena dari beberapa hasil foto di situs gadget India, kualitas foto dengan lensa biasa memang sesuai dengan nama besar Samsung di ranah kamera smartphone. Namun ketika melakukan jepretan dengan lensa lebar, gambar yang dihasilkan memang tak terlalu bisa dibanggakan.

Namun kekecewaan itu semestinya bisa diobati, sebab kamera Galaxy A7 mampu merekam video slow-motion ala Galaxy S9, juga fitur pembuatan timelapse, pro lightning, dan scene optimizer dari kamera belakang tadi. Meski Samsung tidak pernah menyebutkan adanya fitur kecerdasan buatan alias AI pada kameranya, namun fitur dan konfigurasi ketiga kamera tadi semestinya terdengar menjanjikan.

Tiga kamera ini ditempatkan secara vertikal di sudut kanan atas. Di bawah tiga kamera tadi ada LED flash yang berguna membantu penerangan saat memotret. Sementara di sekelilingnya merupakan permukaan kaca yang menutup keseluruhan bodi belakang. Desainnya simpel, sebab hanya ada tulisan Samsung saja di bagian ini.

Kemudian sebaliknya, ada layar 6 inci dengan panel Super AMOLED dengan resolusi 1080x2220 piksel dan rasio 18,5:9. Meski mengklaim layar ini sebagai infinity display, Galaxy A7 tetap memiliki dagu dan dahi yang lebar. Sehingga penempatan kamera depan, yang punya resolusi 24 megapiksel dengan bukaan f/2.0, dan beberapa sensor tampak leluasa di bagian atas layar. Ya, smartphone Samsung selalu menjadi pilihan buat mereka yang alergi poni, baik poni lebar maupun poni tetesan air.

Dimanakah letak fingerprint Galaxy A7 ini? Tenang, ia tak meniru Vivo V11 Pro yang menaruh sensor sidik jari di layar, atau menghilangkannya sama sekali dan menggantinya dengan facial recognition seperti iPhone XS. Galaxy A7 masih memakai sidik jari fisik, cuma penempatannya di sisi sebelah kanan yang berfungsi juga sebagai tombol power. Menarik pun bosque...

Untuk dapur pacu Galaxy A7, Samsung memasanginya dengan Exynos 7885 dengan kecepatan prosesor sebesar 2,2 GHz. Chipset ini memiliki dua opsi sokongan, yakni RAM 4 GB dan memori internal 64 atau RAM 6 GB dan memori internal 128 GB. Dapur pacu ini ditopang daya sebesar 3300mAh tanpa fitur pengisian cepat. Dari sisi software, Galaxy A7 sudah memakai Android 8.0 Oreo.

Buat yang berminat, sayangnya belum ada kabar kapan Galaxy A7 ini dipasarkan di tanah air. Cuma berdasarkan kebiasaan, kalau di India dipasarkan, biasanya di Indonesia pun bakal dipasarkan juga dengan harga yang mirip meski dengan chipset berbeda.

Samsung membanderol Galaxy A7 di India dengan harga Rs23,990 atau setara dengan Rp4,9 juta untuk 4GB + 64GB, sementara untuk 6GB + 128GB dibanderol Rs.28,990 atau setara dengan Rp5,9 juta.

Tenang saja, Samsung merupakan brand anti-ghoib club. Jadi buat yang mau beli, tinggal siapkan uangnya, kalau enggak ya sudah jangan nyinyir biar tak kelihatan kerenya.

30 September 2018

Smartphone RAM Besar, Memang Penting atau Gimmick?

Saat ini seolah ada perlombaan untuk besar-besaran RAM bagi pabrikan smartphone. Seolah, RAM besar maka smartphone itu paling baik. Untuk itu pabrikan berhak membanderol smartphone itu dengan harga yang lebih tinggi. Makanya, benarkah RAM besar itu penting atau hanya gimmick marketing belaka?

RAM merupakan kepanjangan dari random access memory, dimana RAM yang terdapat di smartphone berbeda dengan yang ada di laptop atau PC. RAM pada komputer bisa ditambahkan kapasitasnya, apalagi jika motherboard-nya masih menyisakan slot untuk memasang RAM tambahan. Namun tidak begitu dengan RAM pada smartphone.

RAM pada smartphone. Gambar: xda-developer.com.
RAM pada smartphone sudah terpasang secara default dari pabrikan. Apabila anda membeli smartphone dengan RAM 3 GB, maka sulit untuk menambahkan RAM tersebut menjadi 4 GB, misalnya. Sebab chipset pada smartphone berbeda dengan motherboard pada laptop.

Pada smartphone, komponen semacam RAM, memori, CPU, GPU, menyatu dalam chipset. Seseorang mungkin bisa menambahkan memori internal, seperti yang dilakukan seorang YouTuber luar negeri. Mungkin ada juga yang bisa menambahkan kapasitas RAM. Namun kedua proses ini memakan resiko yang tidak sedikit, oleh karenanya tidak banyak orang yang mampu dan mau melakukannya.

Makanya pabrikan pun pada akhirnya berlomba-lomba membuat smartphone dengan RAM yang cukup besar. Alasannya agar orang-orang cukup puas dengan kapasitas RAM di dalam smartphone-nya. Namun apakah penambahan RAM itu cukup penting? Lalu sebetulnya apa sih fungsi RAM sendiri?

Fungsi RAM di dalam smartphone

Fungsi RAM di dalam smartphone sebetulnya sama dengan fungsi RAM pada laptop atau komputer pada umumnya. RAM berfungsi untuk menyimpan data random/acak secara sementara sebelum data tersebut ditransmisikan ke bagian lain. Ya, hal yang perlu dicatat adalah RAM itu sama-sama melakukan penyimpanan seperti halnya hardisk atau memori internal.

Sebuah komputasi yang terjadi pada sistem kerja komputer membutuhkan pemanggilan data secara simultan dan teratur. Misalnya smartphone yang membuka sistem operasi untuk pertama kalinya, maka sistem operasi yang baru hidup itu dirilis dari memori internal dimana data-data sistem berada di sana secara terstruktur. Begitu pun ketika sistem operasi membuka aplikasi lain. Aplikasi ini tentu sudah ada pada memori internal, atau ada pun di memori eksternal. Kata kuncinya adalah penyimpanan itu teratur dan terlokalisir.

Namun adakalanya sistem operasi membutuhkan tempat untuk menyimpan sementara. Misalnya ketika sebuah aplikasi berjalan, terlebih aplikasi online, maka tempat penyimpanan sementara ini mutlak dibutuhkan.

Kalau proses ini diibaratkan lalu lintas, maka RAM adalah jalannya dan kendaraan adalah data yang tersimpan. Namun dalam lalu lintas tentu ada yang mengatur 'kan? Nah, sang pengatur lalu lintas ini tentu tidak lain dan tidak bukan adalah sistem operasi. Istilah untuk menyebut hal ini adalah manajemen RAM.

Saat ini iOS kerap disebut-sebut sebagai pemilik manajemen RAM terbaik, sehingga iPhone dipandang handal perihal multitasking meski memiliki RAM 2 GB saja. Untuk manajemen RAM pada sistem operasi Android hasil kostumisasi pabrikan, seperti ZenUI, MIUI, EMUI, OxygenOS, ColorOS, dan lainnya, pandangan orang bervariasi. Untuk itulah guna mengantisipasi sistem Android yang memakan banyak slot memori RAM, maka pabrikan pun mengambil jalan pintas dengan membuat RAM semakin besar.

Saat tulisan ini dibuat, RAM yang paling tinggi yang dimiliki smartphone adalah 8 GB. RAM sebesar ini rata-rata dimiliki oleh smartphone flagship seperti Samsung Galaxy Note 9, OnePlus 6, Huawei P20 Pro, Xiaomi Mi 8 Explorer Edition, dan Honor 10. Namun sebentar lagi, Oppo bakal melakukan upgrade pada Oppo Find X sehingga punya RAM 10 GB, dan jadi yang terbesar.

Penting atau sekedar gimmick?

Sayangnya, semakin besar kapasitas RAM, maka harga yang dibanderol pun semakin besar pula. Padahal, harga peningkatan tersebut tidak sebanding dengan harga yang ditawarkan. Oleh karenanya, banyak yang bilang kalau peningkatan RAM ini hanyalah akal-akalan marketing saja untuk mendulang laba yang lebih besar.

Peningkatan RAM ini ibarat perlombaan memperbesar angka resolusi pada kamera smartphone. Banyak pabrikan yang menaruh angka besar pada resolusi kamera smartphone-nya. Namun sebagaimana yang anda juga tahu, resolusi sebuah kamera tidak menjadi faktor penentu utama dalam hasil akhir pemotretan. Sama halnya dengan RAM. Sebuah RAM tidak menjadi penentu utama dari melejitnya kinerja smartphone secara signifikan.

Faktor-faktor lain seperti manajemen RAM pada sistem operasi, chipset yang dipakai, kapasitas daya, hingga kebiasaan pemakai membuat RAM besar atau kecil kerap bukan penentu smartphone tersebut menjadi nomor satu. Apalagi kalau harga yang dibanderol setelah peningkatan RAM itu sangat tidak wajar, ya lebih baik mencari smartphone yang lain dibanding termakan gimmick marketing. Demikian.

22 September 2018

4 Tips Mengirim Tulisan dan Dimuat di Mojok.co

Mojok.co, selanjutnya disebut Mojok, merupakan situs dengan segmentasi anak muda. Jangkauannya cukup luas, apalagi ketika artikelnya membahas tema yang sedang viral. Ada banyak rubrik di situs ini, dan beberapa diantaranya membutuhkan penulis lepas untuk mengisi rubrik tersebut dengan artikel terbaiknya. Kabar baiknya lagi, Mojok membayar setiap penulis yang artikelnya dimuat, loh.


Rubrik yang dibuka oleh Mojok untuk penulis luar diantaranya Esai, Rerasan, Konter, Otomojok, dan Balbalan. Rubrik Esai khusus buat anda yang gemar dengan isu-isu kontemporer yang sedang viral, maupun timeless. Ada pula Rerasan yang membahas tema serupa dengan Esai namun ditulis dengan bahasa Jawa. Konter untuk tema gadget dan dunia digital lainnya. Yang terakhir ada Otomojok yang membahas tentang otomotif.

Kalau anda ingin tulisannya dimuat di Mojok, bukalah laptop, kemudian buatlah tulisan sesuai dengan salah satu rubrik diatas. Kalau sudah selesai, simpan tulisan tersebut dalam file .doc atau .docx dan kirimkan melalui surel ke alamat redaksi@mojok.co dengan subjek surel sesuai dengan rubrik yang bakal diisi. Silakan tunggu selambatnya dalam sepekan. Kalau tak jua dimuat, ya berarti belum rezekinya saja. Silakan bikin lagi dan kirim tulisan lainnya hingga redaksi bosan menerima artikel anda.

Kalau tak dimuat terus-terusan, mungkin artikel anda tak selaras dengan gaya Mojok. Dan sebagai orang yang artikelnya pernah dimuat beberapa kali disitu, saya ingin berbagi tips. Ya bukannya lagi sombong sih, cuma bermaksud sharing saja siapa tahu bisa menjadi jalan rezeki teman-teman bloger yang sponsored post-nya masih minim atau tak ada sama sekali.

Tips pertama: bercermin dulu siapa kita.

Dimana-mana yang namanya belum kenal, tentu kenalan. Mojok pun begitu. Redaksinya ingin mengenal siapa kita. Meski boleh jadi, ketika tulisannya menohok ulu hati redaksi, dan mereka cocok, ya langsung bungkus. Tapi untuk kasus yang biasa, sepertinya, Mojok pun sama saja dengan media lainnya. Mereka ingin tahu siapa kita terlebih dahulu.

Maka dari itu, upayakan branding kita sedang berjalan. Maksudnya ketika kita berkenalan dengan orang lain, orang sudah tahu siapa kita. Konon, kartu nama yang baik bagi seorang penulis adalah blog. Ya, blog bakal menceritakan anda banyak hal. Blog anda niche-nya apa, maka begitulah orang lain mengenal anda. Blog ini niche-nya teknologi dan gadget, maka Mojok pun berkenan memuat beberapa artikel saya tentang ulasan spesifikasi gadget.

Kalau tak punya blog? Ceritakan dengan singkat dan sederhana siapa diri anda di badan surel di paragraf terakhir pada prakata pengiriman artikel. Mudah-mudahan biodata singkat tersebut membantu.

Tips kedua: sering membaca Mojok.

Sering membaca Mojok membuat persentase artikel anda dimuat bakal lebih besar. Eh, serius? Iya dong, serius. Dengan membaca artikel-artikel di Mojok, maka secara naluriah artikel anda berikutnya akan mengikuti alur dari artikel-artikel yang ada disitu. Kenali gaya bahasanya, dan kenali pula bagaimana karakteristik artikel tersebut.

Kalau teliti, artikel-artikel di Mojok bernada satir namun tetap dengan bahasa yang khas Mojok: lucu dan unik, kadang-kadang ngapak dan njawani. Hal ini sesuai dengan tagline Mojok yang 'Sedikit Nakal Banyak Akal'. Makanya kalau mau mengirim artikel disana, ya sesuaikan dengan gaya bahasa tersebut. Dan jalan satu-satunya untuk bisa menulis dengan gaya bahasa tersebut tentu saja banyak-banyak membaca situs Mojok.

Tips ketiga: update isu kontemporer.

Setelah reborn, Mojok mendapuk diri sebagai media yang update. Ada isu-isu yang ditulis redaksi selayaknya straight news, meski pada akhirnya ada imbuhan pendapat redaksi yang nyinyir dan satir. Ya memang begitulah Mojok. Untuk itulah, sebagai calon penulis Mojok, anda semestinya pun update isu-isu terbaru yang ada di sekitar anda, baik skala lokal, nasional, bahkan internasional yang sedang viral.

Ya kecuali anda bakal menulis tema yang timeless, yang isinya berlaku sampai kapan saja. Kalau anda bakal menulis ini, ya memang tak perlu meng-update pikiran anda dengan isu yang viral, dan tak perlu menghabiskan kuota internet dengan mengunjungi Google Trend maupun trending topic di Twitter.

Tips keempat: memperbanyak doa.

Ya berdoa memang jalan terakhir setelah anda dengan kerja keras, siang dan malam, membuat tulisan yang seluruhnya sudah sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Sebab hanya Tuhan yang mampu mengetuk hati dewan redaksi Mojok, terutama mas Agus Mulyadi sang pimred, agar memuat tulisan anda.

Nah sebagai penutup, buat yang biasanya bersemangat ketika mendengar fee, Mojok menyediakan honorarium. Ya, Mojok membayar setiap artikel yang dimuat sebesar 'cukup untuk mengajak pasangan makan di tempat yang enak'. Kalau dihitung nominalnya, sepertinya dua kali fee sponsored post bagi bloger pemula. Tapi, Mojok membayarnya tak seperti 'ahensi' yang menunggu hingga 14 hari. Kalau hari ini dimuat, dua-tiga hari bagian keuangan bakal mengirim email konfirmasi kalau fee sudah ditransfer.

Email dari Mojok seperti ini selalu menyenangkan.

Jadi, sudah siap dengan artikel yang bakal dikirim, atau artikelnya masih berupa niat saja?

Untuk keterangan lebih lanjut dalam mengirim artikel, silakan ke laman berikut.

21 September 2018

Mi TV 4A, Televisi Pintar Pertama Xiaomi di Indonesia

Asian Games 2018 telah berakhir. Itu berarti, televisi bakal kembali ke habitatnya seperti semula. Acara sinetron, gosip, komedi slapstick, dan produk jurnalistik yang berat sebelah bakal memenuhi layar kaca lagi.

Ajang empat tahunan itu memang tak bisa dibandingkan dengan tayangan televisi biasa. Tayangan telanjang dada prestasi Jonatan Christie di cabang bulutangkis memang tak bisa disepadankan dengan sinetron berjudul ‘Anakku Anak Suamiku, Tapi Bukan Anakku’ dan semacamnya. Tapi seharusnya penonton televisi berhak memilih tayangan yang menurutnya baik.


Sialnya model hiburan televisi kerap saling mengimitasi antara stasiun televisi satu dengan yang lain. Sehingga penonton tak memiliki banyak pilihan terhadap keberadaan acara tersebut. Dalam banyak kasus, televisi akhirnya difungsikan sebagai pengobat sepi di ruang tunggu klinik maupun pengusir kantuk di kala jadwal ronda.

Apalagi setelah penetrasi smartphone yang semakin gila-gilaan dan koneksi internet yang terus berkembang. Televisi akhirnya kehilangan pamor. Hidupnya bak kerakap tumbuh di batu. Hidup tak berkembang, namun tak jua tumbang.

Pada acara-acara penting di televisi, yang dulu pernah dinikmati dengan khusyuk, sekarang tidak lagi. Sebagai contoh event Asian Games kemarin. Lini masa Twitter maupun beranda Facebook, kerap menggambarkan hal yang sama. Beberapa kata kunci pun kerap menjadi trending topic.

Apa yang bisa kita simpulkan dari sini? Ya, penonton televisi, khususnya di Indonesia, tidak pernah melepaskan tangannya dari smartphone meskipun acara televisi itu penting pake banget. Mereka ingin menjadi orang pertama yang memberi kabar di media sosial, menganalisisnya, dan saling berinteraksi atas kabar tersebut dengan jejaringnya masing-masing.

Jika anda tidak menyimpulkan hal demikian, ya tidak masalah. Tetapi kesimpulan tersebut justru dipakai oleh tim riset Xiaomi untuk meyakinkan divisi pemasarannya agar memasukkan televisi pintar ke Indonesia.

Maka masuklah Xiaomi Mi TV 4A 32” ke Indonesia pada Rabu (5/9/2018) lalu. Televisi pintar ini dikenalkan bersamaan dengan Redmi 6 dan Redmi 6A yang merupakan penerus dari Redmi 5A. Meski secara global telah dikenalkan pada tahun kemarin, namun Mi TV merupakan televisi pintar milik Xiaomi yang pertama di Indonesia.

Xiaomi memang piawai dalam hal demikian. Ia melakukan filter terhadap barang mana yang semestinya diproduksi untuk regional tertentu, dan mana yang semestinya tidak. Dan melakukan rekayasa soal kapan masuknya. Metode ini menyebabkan sampai hari ini mereka pun belum memasukkan flagship-nya ke Indonesia. Mungkin.

Loh, bukannya Pocophone F1 itu flagship? Iya, tapi flagship chipset-nya doang.

Tidak masuknya flagship ini pun biasanya berdasarkan kesimpulan riset. Di India, menurut Business Today, Xiaomi mengkhawatirkan ponsel flagship-nya terlalu mahal. Hal yang sama bisa saja terjadi dan menjadi alasan mengapa Xiaomi tak kunjung memasukkan flagship-nya ke tanah air. India dan Indonesia dipandang memiliki kemiripan satu sama lain dalam kacamata Xiaomi. Sama-sama kere?

Lain smartphone flagship, lain pula televisi pintar. Banyak yang bilang harga yang ditawarkan untuk televisi ini sangat affordable, khas Xiaomi lah. Inilah mungkin kode huruf A yang nyempil setelah angka 4 pada Mi TV 4A. Ya, A untuk Affordable.

Harga yang cukup affordable inilah kemudian yang membuat Xiaomi berani memasukkan Mi TV ini. Sebab dari daftar komparasi harga televisi pintar yang sudah ada, Mi TV menduduki posisi harga terendah untuk spesifikasi serupa.

Tapi bukankah setiap seri televisi dari beragam merek punya keunikan sendiri yang membuatnya kadang tidak apple to apple kalau dibandingkan? Makanya lebih baik mencari kesamaan dari deretan televisi tadi. Apa yang membuatnya, paling tidak bisa sedikit saja, bisa membuat penonton televisi menaruh smartphone-nya saat menonton? Jawabannya adalah konten yang bejibun banyaknya.

Mi TV 4A sendiri membekali diri dengan 700.000 jam konten yang terdiri dari beragam genre yang bisa dinikmati penggunanya. Konten itu berasal dari 12 penyedia layanan video-on-demand (VOD) lokal dan global, seperti Hooq, Catchplay, dan Iflix. Waduh, kalau satu judul konten saja durasinya 1,5 jam, maka sudah ada 470.000-an konten. Konten sebanyak itu, bagaimana mencarinya?

Mi TV ini dilengkapi dengan desain antarmuka Xiaomi PatchWall yang memang dirancang untuk memudahkan pencarian konten. Kalau masih merasa repot dengan ketak-ketik, anda tinggal mengambil remote dan mengaktifkan fitur Google Voice Search, lalu menyebutkan judul kontennya saja. Ya memang semudah itu, namanya juga tipi pinter.

Remote yang dimaksud pun bukan smartphone Xiaomi yang memiliki IR blaster, tapi ini remote betulan. Istimewanya remote ini adalah tombolnya yang sederhana dan cuma berjumlah 12 biji. Jadi tidak dipusingkan dengan salah pilih tombol karena terlalu banyak. Untuk pengoperasian Google Voice Search tadi, remote ini memakai bluetooth untuk mengoneksikannya ke televisi.

Selain fitur pencarian tersebut, secara umum Mi TV 4A menggunakan Android TV yang memungkinkan pengguna juga bisa menginstal game dari Play Store, menonton Youtube, serta menonton konten lainnya dengan Chromecast yang sudah built-in. Lumayan komplit sih emang. Tapi kalau melihat dapur pacunya, ya jangan berharap bisa main PUBG apalagi Fortnite secara langsung.

Dari sisi dapur pacu, Mi TV 4A dibekali dengan chipset Amlogic Cortex A53 quad-core dengan arsitektur 64 bit, dengan dukungan grafis Mali-450. Chipset ini didukung oleh RAM 1 GB dan memori internal 8 GB eMMC.

Hari gini, masih pake RAM 1 GB dan memori 8 GB? Eh, mas, ngapunten ini cuma tipi.

Dari sisi tampilan, Mi TV 4A memakai panel HD LED beresolusi 1366x768p dengan bentang layar 32 inci. Bezelnya tipis, cuma 12 mm dengan kedalaman 10 mm. Bezel ini terbuat dari plastik yang sama dengan bodi belakangnya.

Di bagian belakang, ada tiga lubang HDMI, dua lubang USB 2.0, lubang kabel Ethernet, jack input audio, lubang earphone, serta lubang antena. Untuk koneksi wireless, televisi ini mendukung Wi-Fi dan Bluetooth 4.2.

Sekali lagi, Xiaomi membanderol televisi ini dengan harga yang cukup affordable. Ini bahasa halus dari murah meski enggak pake banget. Harganya Rp2 juta dapat kembalian seribu perak. Harga yang disebut-sebut merusak harga pasar televisi pintar, sebab merek lain dibanderol jauh diatasnya, padahal spesifikasinya serupa.

Mi TV 4A bakal hadir pada 20 September 2018 di situs mi.com dan tanggal 29 September 2018 di Authorized Mi Store. Sementara buat yang melakukan pemesanan, pre-order-nya sudah dibuka sehari setelah acara launching.

Apakah bakal menjadi televisi gaib? Sebab price-to-spec-nya yang menggiurkan. Bisa jadi begitu. Tapi beginilah cara jualan Xiaomi, dari mulai smartphone dan kini televisi, Xiaomi selalu memberikan harga yang murah sebetulnya. Sebetulnya apa? Sebetulnya mengandung iklan. He-he-he. Apakah sistem operasi PatchWall itupun bakal ditaruh iklan? Nah, itu yang belum dijelaskan Xiaomi. Mudah-mudahan tidak.

19 September 2018

Hobi Traveling dan Penyuka Gadget Wajib Punya Kalibre Predator Echo

Satu hal yang menjadi alasan dari kebiasaan membuka ponsel di pagi hari beberapa saat setelah bangun tidur, adalah kabar baik biasanya bersumber dari sana. Seperti pada pagi itu, sebuah direct message di Twitter mengabarkan hal yang cukup menggembirakan. Saya memenangkan giveaway dari travel bloger kenamaan mbak Mariza lewat akun Twitter-nya @IamMariza.


Kegembiraan itu sangat beralasan, sebab DM Twitter itu menjelaskan bahwa saya mendapatkan hadiah utama: backpack Kalibre Predator Echo. Sedikit tidak percaya pada mulanya, sebab tak pernah sekalipun saya menang giveaway di media sosial. Hikss...kasihan, ya. Apalagi peserta yang ikut di giveaway tersebut lebih dari 1000 orang.

Pagi yang menggembirakan itu pun disusul tiga hari kemudian setelah tas tersebut datang. Sebuah tas punggung yang hitam, kokoh, dan elegan langsung tampak dari balik plastik pembungkus paket yang dibawa petugas logistik. Tampak di sudut atas, tulisan tangan nama pengirim dan penerima disertai pesan 'Happy Traveling!' meyakinkan saya bahwa inilah tas yang dimaksud.

Ya, dibalik plastik itu merupakan Kalibre Predator Echo. Sebuah tas punggung yang diproyeksikan sebagai tas untuk traveling, dimana pelakunya membutuhkan banyak gadget untuk dibawa serta. Tas yang dibuat oleh pabrikan asal Hongkong ini memiliki ciri khas cangkang di bagian luarnya untuk melindungi isi di dalamnya. Cangkang ini merupakan ciri khas dari Kalibre seri Predator yang telah dirilis sebelumnya.

Cangkang tadi tentu dibuat bukan tanpa fungsi. Sebab setelah saya lihat-lihat postur tasnya, cangkang ini menjaganya tetap bertahan dengan bentuknya, sehingga isi di bagian dalamnya terjaga dari benturan dan perubahan bentuk. Jadi kalau membawa gadget, cangkang ini melindunginya dari benturan. Pun kalau membawa dokumen, maka kertas-kertas di dalamnya tidak mudah terlipat dan kusut. Sehingga apa yang ada di dalamnya betul-betul aman. Ya, berkat cangkang.

Di bagian atas ada kompartemen untuk wadah kacamata. Bukan cuma resleting dan kantong saja, tapi memang disediakan wadah kacamata di dalamnya yang bisa dicopot dari kantongnya. Sedikit turun ke bawah, Kalibre menyediakan ruang untuk tempat selang minuman buat yang sering kehausan ketika bepergian. Jadi wadah airnya ditaruh di dalam tas, kemudian melalui selang, anda bisa meminumnya langsung tanpa membuka isi tas.

Di bagian bawah, Kalibre menaruh rain cover yang akan menjadi penyelamat isi tas anda ketika musim hujan tiba.

Sementara itu di bagian belakang, Kalibre membuat Air Flow Back System. Sistem ini merupakan sebuah desain ergonomis yang memungkinkan sirkulasi udara tetap mengalir diantara punggung anda dan bagian belakang tas.

Resleting yang dipergunakan sebagai pintu masuk berada di sisi luar yang agak masuk ke dalam dari tas. Selain resletingnya mendukung pemasangan gembok, posisinya juga memungkinkan untuk disebut juga desain anti-maling.

Tas ini memang berbeda dari tas pada umumnya yang memiliki banyak kantong di luar. Sementara tas ini hanya punya satu kompartemen saja yang bisa diakses dari resleting tadi. Kompartemen utama ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama yang menempel dengan cangkang adalah kompartemen untuk tempat apa saja, bisa baju, sepatu, snack, minuman, dan lain-lain. Sementara kompartemen kedua menempel dengan bagian belakang tas, yang bisa diisi dengan gadget, seperti laptop, tablet, ponsel, flashdisk, dan pena.

Untuk lebih jelasnya, anda bisa melihat-lihat tas Kalibre di video berikut:


Untuk harganya, saat ini Kalibre membanderol Predator Echo di harga Rp725.000. Anda bisa mendapatkannya di toko-toko Kalibre resmi yang bisa dilihat disini, maupun di marketplace. Harga segini memang worthed untuk tas yang memberikan kenyamanan dan keamanan dalam satu tempat. Soal anda suka atau tidak, tentu soal selera.

12 September 2018

Membuat Keamanan Berlapis Untuk Akun Facebook

Banyak kasus tentang seseorang yang kehilangan akses atas akun Facebook-nya. Kalau akun Facebook yang dibuat bukan untuk tujuan serius, misalnya hanya bersilaturahmi dengan teman-teman, kehilangan semacam ini memang bisa diatasi dengan membuat lagi akun yang baru.

Namun banyak yang membuat Facebook untuk menjadi aset digital, misalnya membangun merek, jualan online, maupun untuk tujuan politik. Maka kehilangan akun Facebook merupakan petaka yang sangat disesalkan untuk terjadi. Sebab kehilangan Facebook yang bukan disebabkan oleh lupa password, cenderung petaka yang meribetkan.

Diluar sana, memang banyak orang jahat yang berupaya memanfaatkan akun Facebook anda untuk tujuan buruk, misalnya menipu. Mereka akan berupaya memancing anda agar melakukan login di laman situs yang mirip Facebook. Padahal form login tersebut merupakan sebuah 'alat rekam' untuk mendapatkan akses username dan password Facebook anda. Ya, para ahli menyebutnya phising.

Untuk mengamankan akun dari kejadian tersebut, sebetulnya Facebook telah menyiapkan caranya. Salah satu cara untuk meningkatkan keamanan akun adalah dengan cara membuat autentikasi dua-faktor atau two-factor authentication alias 2FA.

Cara yang sama sebetulnya banyak dilakukan oleh situs lain. Biasanya situs-situs yang berhubungan dengan aset penting baik berupa data pribadi, dokumen penting, maupun aset digital seperti mata uang kripto. Nah, kebetulan di Facebook pun tersedia 2FA ini.

Dua-faktor autentikasi di Facebook ini pun memakai Google Authenticator. Aplikasi dari Google ini semacam generator yang akan memunculkan kode-kode acak sebanyak enam digit setiap kali dilakukan login pada situs yang terdaftar.

Misalnya anda mendaftarkan akses login untuk situs Facebook, maka setiap kali anda login dan memasukkan username serta password seperti biasa, anda akan diminta oleh Facebook untuk memasukkan enam digit angka yang ada di aplikasi Google Authenticator ini.

Sepintas terdengar ribet, apalagi kalau anda melakukan login di ponsel. Sebab ketika anda membuka Facebook untuk melakukannya, pada waktu yang sama anda pun harus membuka Google Authenticator untuk menengok enam digit angka yang disediakan. Masalah pun akan muncul ketika ponsel anda punya RAM 1 GB, atau ponsel yang kerap mesti melakukan reload aplikasi ketika masuk ke recent apps.

Namun percayalah cara ini merupakan cara yang ampuh untuk mencegah diambilnya akun Facebook anda oleh orang lain. Ibaratnya begini, anda memiliki rumah yang kuncinya diambil orang. Namun pintu rumah anda memiliki gembok rahasia yang kuncinya masih tetap dipegang anda. Dengan begitu mustahil ada orang yang masuk tanpa izin ke rumah anda 'kan?

Bagaimana membuat 2FA di Facebook?

Pertama kali yang mesti dilakukan adalah perbarui aplikasi Facebook anda. Silakan ke Play Store untuk melakukan pembaruan. Sambil melihat dan memperbarui aplikasi Facebook, silakan cari aplikasi Google Authenticator di Play Store. Logonya menyerupai huruf G dan berwarna abu-abu, lebih jelasnya silakan lihat gambar diatas.

Setelah Facebook diperbarui, silakan login sebagaimana biasanya. Kalau anda mengakses Facebook dari peramban seperti Chrome, Mozilla, Opera dan lainnya di komputer, silakan ke tanda segitiga ke bawah yang ada di sudut kanan atas. Kalau diklik, maka akan muncul sederet pilihan ke bawah. Lalu pilih saja Pengaturan.

Setelah laman Pengaturan terbuka, cari menu 'Keamanan dan Login Info' yang ada di sebelah kiri lalu 'Gunakan Autentikasi Dua-Faktor'. Anda bisa langsung melakukan klik pada tombol 'Mulai' yang akan mengarahkan anda kepada pop-up yang memunculkan dua macam alat autentikasi, yakni SMS dan Aplikasi Autentikasi (pilihannya dua yakni Google Authenticator dan Duo Mobile).

Untuk yang memilih SMS, silakan masukkan nomor telepon yang bisa dikirimi SMS. Dari nomor itu, Facebook akan mengirim kode tertentu setiap kali login dilakukan. Sepengalaman saya, cara ini tergantung dengan operator yang dipakai, ada yang telat, dan ada yang lancar-lancar saja. Daripada terganggu, makanya pilih saja dengan aplikasi.

Buat yang memilih Aplikasi Autentikasi, saya lebih menyarankan Google Authenticator. Kalau memilih Aplikasi Autentikasi akan dilanjutkan dengan tampilan pop-up berupa barcode dan 24 huruf kode yang mesti dimasukkan ke aplikasi Google Authenticator. Makanya aktifkan saja pemindai barcode agar lebih mudah. Dan selesai. Kalau disitu ada tanda nonaktifkan 2FA, berarti aplikasi pihak ketiga untuk keamanan Facebook tadi sudah aktif.

Untuk pemasangan 2FA di ponsel Android, silakan simak tutorialnya di video berikut ini.

9 September 2018

4 Alasan Mengapa Huawei Nova 3i Wajib Dipinang

Akhir Agustus kemarin, ada teman yang meminta rekomendasi guna membeli ponsel baru. Jujur agak riskan sebetulnya kalau ada permintaan semacam ini. Pasalnya selepas itu biasanya saya dituduh tiga hal: pertama buzzer ponsel, kedua jadi sales lepas, dan ketiga mendapat fee gede.

Untuk orang-orang yang menuduh itu, biasanya saya meminta balik ke mereka untuk membaca blog saja, atau searching di Google untuk mendapatkan rekomendasi yang lebih banyak dan mungkin lebih baik. Namun kali ini tidak, ia tetap ngotot untuk meminta rekomendasi dari saya secara langsung.

Maka saya pun menjawab dengan yakin bahwa ia mesti membeli Huawei P20 Pro. Sebuah ponsel flagship yang sukar dicari kelemahannya, karena ya memang terlalu banyak kelebihannya. Ibarat kata, kalau ada seseorang membeli Huawei P20 Pro, maka ia membeli kamera DSLR namun bonusnya ponsel dengan performa jempolan. Menang banyak lah pokoknya.

Teman saya kemudian bertanya, "Berapa harganya?"


Ketika saya menjawabnya dengan angka Rp12 juta, ia tertawa masam. Saya pun memahami, mungkin ia tak menganggarkan budget sedemikian besar. Lantas saya memberikan tawaran kepadanya kalau ada ponsel Huawei lain yang mirip, namun dibanderol dengan harga sepertiganya saja dari Huawei P20 Pro.

"Sebentar, kamu bukan sedang menjadi buzzer 'kan? Atau mendadak sales dan sedang mencari fee yang besar dari sales Huawei?" Ya, kekhawatiran saya atas tiga tuduhan itu dilontarkannya dalam satu tarikan nafas. Bikin kzl.

Saya tiba-tiba ingin mundur saja dari perekomendasi ponsel yang tidak ada honornya ini. Lebih baik langsung saja membantu saudara yang punya toko ponsel di tengah kota Indramayu. Fee-nya jelas meski tak besar, ya kalau mau lebih besar lagi meski siap didandani jadi maskot dan berjoged. Tetapi entah malaikat dari mana yang membisikkan saya untuk tenang dan tetap meladeninya.

Akhirnya saya pun menjelaskan mengapa dari Huawei P20 Pro lantas berpindah ke produk Huawei lagi. Sebuah nama yang tidak begitu terdengar gaungnya di tanah air, tak sering disebut-sebut oleh netizen, apalagi di kota saya yang balihonya saja tak pernah kelihatan. Maka wajar jika teman saya ini bertanya mengapa Huawei?

Huawei Menjadi Urutan Kedua di Dunia

Akhir Juli, sebuah data yang dirilis International Data Corporation (IDC) menempatkan Huawei di posisi kedua sebagai merek ponsel terlaris secara global. Iya, global. Data pada kuartal kedua tahun 2018 tersebut mencatat pabrikan Cina ini mengapalkan 54,2 juta unit ponsel atau setara dengan 15,8 % pangsa pasar global.

Meski ditilik di pasar Indonesia, Huawei memang belum masuk lima besar. Namun pelan tapi pasti, pasar lokal biasanya tak akan berbeda jauh dengan pasar global. Ini cuma soal waktu. Sebab apa yang dilakukan Huawei memang selazimnya perusahaan teknologi, yakni melakukan riset dan pengembangan tanpa henti.

Anggaran riset dan pengembangan Huawei mencapai USD 13,3 miliar pada 2017. Budget sebesar ini menempati urutan keenam dan menempati urutan kedua diantara pabrikan pembuat ponsel lainnya. Besarnya anggaran ini membuat fasilitas riset Huawei berada di berbagai kota besar dunia, seperti Berlin untuk riset jaringan 5G, San Fransisco untuk riset desain UX, London untuk pusat analisa data, Moskow untuk riset algoritma, dan Paris untuk pusat desain estetika.

Apakah anggaran riset memegang peranan yang begitu penting? Iya. Setidaknya setiap produk baru yang diluncurkannya bakal membawa teknologi baru pada perangkat. Ia bukan semata melakukan imitasi dari produk yang sudah beredar di pasaran maupun yang sedang tren. Seperti apa contohnya?

Sebagai contohnya, saya memberikan penjelasan pada ponsel yang disebutkan harganya sepertiga dari Huawei P20 Pro diatas. Karena kalau memakai penjelasan dengan Huawei P20 Pro, tentu tak aneh 'kan? Wajar lah ponsel mahal, makanya bagus. Gitu.

Ya, namanya Huawei Nova 3i. Ponsel ini memang belum lama dirilis di tanah air, yakni pada akhir Juli 2018. Harganya dibanderol di angka Rp4,2 juta. Ada empat hal mengapa ponsel ini cocok untuk dijadikan contoh betapa Huawei tidak sia-sia menganggarkan budget besar dalam risetnya.

Desain Membanggakan dan Bukan Contekan


Huawei Nova 3i memakai layar IPS LCD dengan lebar 6,3 inci dengan rasio 19,5:9. Bezelnya tipis yang kalau dirasiokan sebesar 82,2 % dan memiliki poni diatasnya. Untuk yang khawatir benturan, layar ini telah dilapisi pelindung Gorilla Glass 4.

Yang memikat dari Huawei Nova 3i adalah bodi bagian belakangnya. Bodi ini dilapisi kaca yang membuatnya mengkilap dan terkesan mewah. Huawei membawa dua varian warna untuk tanah air, yakni warna black dan iris purple. Khusus untuk iris purple, desain warna yang sama ditemukan pula pada Huawei P20 Pro dengan sebutan twilight.

Baik twilight maupun iris purple merupakan sebuah inovasi Huawei dalam mendesain bodi belakang ponsel. Pada iris purple Huawei Nova 3i, pertemuan warna biru dengan warna ungu menjadikan bagian belakang ponsel ini sangat cantik. Makanya pola gradasi semacam ini menjadi trend setter baru di industri ponsel. Huawei menjadi pelopor, dan disinilah kita paham mengapa riset menjadi sangat penting. Setidaknya kalau dibawa nongkrong, orang-orang tidak melihat ponsel anda sebagai contekan.


Empat Kamera, Lensa Aspherical, dan Canggih


Huawei Nova 3i memiliki empat kamera. Yang pertama berada di depan dengan konfigurasi 24 megapiksel dan 2 megapiksel. Kamera dengan resolusi besar bertugas untuk melakukan perekaman detail, sementara yang beresolusi kecil itu bertugas menghasilkan efek buram pada latar belakang alias bokeh.

Kamera bagian belakang pun begitu. Ada konfigurasi dua kamera dengan resolusi masing-masing 16 megapiksel dan 2 megapiksel. Mekanismenya sama seperti kamera depan, yakni yang resolusinya besar untuk merekam detail, yang kecil untuk membuat bokeh. Namun ada yang menarik disini, yakni ada tulisan ASPH dibawah kamera belakang tadi.

ASPH ini merupakan singkatan dari lensa aspherical. Saya sudah pernah membahasnya pada artikel sebelumnya. Singkatnya, lensa aspherical merupakan perbaikan dari lensa spherical yang banyak dipakai di kamera manapun. Lensa aspherical memiliki dimensi yang lebih tipis dari lensa spherical, namun memiliki fungsi mengurangi dispersi yang signifikan. Dispersi adalah perubahan dari warna putih ke warna pelangi seperti peristiwa pada prisma cahaya.

Pada kamera Huawei Nova 3i ini pun ada kecerdasan buatan (AI) yang mampu memisah-misahkan citra objek dan menggabungkannya kembali untuk mendapatkan hasil foto terbaik. Huawei menyebutnya multichannel image recognition. Keren 'kan?


Dapur Pacu Yang Kuat dengan Memori Jumbo


Hasil riset Huawei pun menghasilkan in-house chipset yakni Kirin. Untuk Huawei Nova 3i sendiri memakai Kirin 710 dengan prosesor octa-core berkecepatan 2,2 GHz, grafis Mali-G51 MP4, dan untuk di Indonesia hanya tersedia varian RAM 4 GB dan memori internal 128 GB.

Untuk chipset sendiri, Kirin 710 merupakan chipset yang cukup kuat di kelasnya. Performa chipset ini mengungguli chipset dari Huawei P20 Lite yang memakai Kirin 659. Kalau dibandingkan dengan chipset lain, Kirin 710 lebih unggul beberapa hal jika dibandingkan dengan Snapdragon 660, misalnya untuk kecepatan unduh dan kecepatan proses maksimal prosesor.

Memori internal sebesar 128 GB tentu membuat kapasitas perangkat menjadi lega. Sepengalaman saya, jarang yang menghabiskan memori sebanyak itu apabila menggunakan ponselnya buat kebutuhan fotografi dan videografi semata. Cuma lain soal apabila dipergunakan untuk mengoleksi game high-end pada satu perangkat.


Ada GPU Turbo untuk Pengalaman Gaming Lebih Baik


Selain chipset yang kuat untuk berurusan dengan fotografi dan multitasking, Huawei Nova 3i pun jago untuk diajak urusan gaming. Apalagi Huawei sendiri sedang mengembangkan GPU Turbo yang telah dipakai di beberapa ponsel Huawei dan anaknya, Honor.

Nah, ini satu lagi bukti kalau anggaran riset Huawei itu berguna banget buat pengembangan perangkatnya sendiri. Dan tentu saja penggunanya bakal dimanjakan dengan peningkatan-peningkatan software yang ada di perangkatnya.

GPU Turbo ini menjadi bukti sahih atas hasil riset Huawei sekaligus menandakan Huawei Nova 3i cocok untuk siapapun yang hobi bermain game. GPU Turbo, sesuai namanya, bertugas meningkatkan performa grafis (GPU) sehingga gambar yang dihasilkan lebih halus dan lancar. Penggunaan daya ketika perangkat mengaktifkan GPU Turbo pun lebih irit 30 %.

Empat kelebihan itu saya sampaikan kepada teman saya yang berniat membeli ponsel tadi. Namun ada satu hal yang ia tanyakan lagi pada saya.

"Kalau Huawei begitu hebat, mengapa gaungnya jarang terdengar di Indonesia?"

"Ya kalau kamu tahu jaringan telekomunikasi di Indonesia, niscaya tak ada pertanyaan ini. Huawei sudah hadir disini sejak 18 tahun silam, bro. Bisa dibayangkan berapa tower yang sudah mereka bangun, modem yang mereka buat, dan manfaat dari itu semua."

Ia pun mengangguk. Entah anggukan paham, atau hanya alasan agar ia bisa segera pergi.

Demikian artikel tentang kelebihan Huawei Nova 3i ini. Ponsel ini memang layak untuk menjadi ponsel baru anda di tahun 2018. Jika ada yang kurang dari ponsel ini atau ada yang ditanyakan, silakan paparkan di kolom komentar, dan saya akan menjawab semampunya. Terima kasih.

Untuk versi lain dari ulasan mengenai spesifikasi Huawei Nova 3i, silakan kunjungi tulisan saya di Mojok.co.

------
Tulisan ini diikutsertakan pada Oom Boy Punya Gawe Berhadiah Huawei