13 November 2018

Lasso: Upaya Facebook Saingi Tik Tok dan Cara Mengunduhnya

Awal November 2018, aplikasi video pendek asal Cina, Tik Tok, mengangkangi Facebook, Instagram, Snapchat, dan YouTube untuk jumlah unduhan di internet. Tik Tok mengungguli aplikasi 'senior' yang duluan populer tersebut berdasarkan perhitungan dari SensorTower. Situs pendata terkemuka ini menyatakan Tik Tok mencapai angka unduh sebesar 3,81 juta.

Angka unduhan Tik Tok tersebut merupakan gabungan dari jumlah unduhan di Play Store dan App Store. Sementara total jumlah unduhan Facebook 'hanya' 3,53 juta sehingga menempati urutan kedua dibawah aplikasi besutan ByteDance itu. Angka unduhan Tik Tok ini memperlihatkan pesatnya pertumbuhan aplikasi yang sempat mendapat julukan aplikasi goblok dari warganet Indonesia ini. Pertumbuhannya mencapai 237 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2017.

Membanjirnya pengguna Tik Tok yang notabene penyuka video pendek dan lip-sync, yang dipenuhi oleh kaum remaja akhirnya memikat Facebook jua. Aplikasi yang memiliki pengguna terbesar ini menurut beberapa media cukup kesulitan untuk menambah pengguna di kalangan remaja. Banyak laporan menyatakan kalau Facebook malah kehilangan pengguna di usia muda (di bawah 25 tahun) sekitar dua juta orang.

Kelompok usia ini lebih memilih Instagram dan Snapchat. Kalau di tanah air, kabarnya malah beralih ke Twitter, sebab Facebook katanya menjadi sarang hoax dan hate speech. Singkat cerita, Facebook betul-betul kehilangan pengguna dari kelompok ini karena bosan terhadap Facebook. Sialnya lagi, kalangan yang baru mengenal internet, yang banyak dihuni remaja tanggung, malah menjadi pengguna Tik Tok.


Inilah yang kemudian membuat Facebook merilis Lasso, aplikasi video pendek yang tak bisa disangkal memiliki banyak kemiripan dengan Tik Tok. Harapannya kalangan muda yang tertarik ke Snapchat, dan kalangan yang gemar video pendek berpindah ke aplikasi di bawah Facebook ini. Lasso menjadi aplikasi kesekian kalinya yang terpisah dari Facebook dan berupaya menyasar segmentasi tertentu.

Lantas bagaimana cara mengunduh Lasso?

Saat dirilis, Lasso tidak dikenalkan secara bombastis oleh Facebook. Bahkan rilis media dari Facebook pun tak ada. Hanya sebuah twit dari inisiator Facebook Marketplace, Bowen Pan, lewat akunnya @bowenpan yang mengunggah dua tautan untuk mengunduh Lasso di Play Store dan App Store. Twit ini pun kemudian di-retweet oleh Product Manager Facebook, Andy Huang, di akunnya @ahuang7.



Buat yang ada di Indonesia dan berminat untuk mengunduh Lasso, tampaknya harus banyak bersabar. Sebab menurut Bowen Pan, Lasso baru tersedia untuk pengguna Android di Amerika Serikat saja. Jadi buat yang mengklik tautan yang diselipkan Bowen itu, bakal muncul keterangan di Play Store dengan tulisan 'Item ini tidak tersedia di negara Anda' dengan huruf merah dan didahului simbol tanda seru di dalam segitiga alias simbol peringatan. Untuk pengguna iOS sepertinya tidak menemui masalah ini.

Namun tentu ada cara yang mujarab untuk bisa menikmati Lasso meskipun tidak tinggal di Amerika Serikat. Yak betul, caranya dengan memakai VPN. Melalui VPN anda bisa mengakses server 'palsu' dari negara yang terdaftar. Jadi dengan aplikasi ini, anda bisa mengakses internet seolah-olah berada di negara tersebut. Untuk kasus Lasso, silakan atur VPN agar berada di Amerika Serikat.

Setelah VPN diatur ke server Amerika Serikat, maka jangan terburu-buru masuk ke Play Store atau mengklik tautan yang diberikan Bowen tadi. Biasanya Play Store masih menyimpan cache regional semula, sehingga keterangan itu masih tetap muncul. Makanya bersihkan data terlebih dahulu. Caranya bisa masuk ke menu pengaturan aplikasi dan hapus cache dan hapus data juga sekalian. Kalau ini sudah dilakukan, silakan masuk ke tautan yang diberikan Bowen itu. Unduh. Instal. Selesai.

Cara Menggunakan Lasso

Saat baru pertama kali membuka Lasso, anda bakal dihadapkan ke tampilan login dengan dua pilihan yakni login dengan Instagram dan Facebook. Silakan pilih salah satu saja. Setelahnya Lasso betul-betul mengingatkan kita akan Tik Tok dengan segala desain, tampilan, dan keunikannya. Cuma karena dirilis pertama kali di Amerika Serikat, maka kebanyakan penggunanya bukanlah orang-orang bermata sipit yang menjadi penghuni negeri asal Tik Tok.


Di bagian pembuatan video pun Lasso mencontek Tik Tok. Jadi kalau sudah terbiasa dengan Tik Tok, ya pastinya bakal mudah saja untuk menggunakan Lasso. Atau malah tak usah pindah platform sama sekali. Keduanya hanya memiliki beda yang sedikit saja, terutama di interface alias tampilan antar muka. Tapi sedikit saja bedanya. Sebab kedua aplikasi secara garis besar hampir sama, antara memilih backsound, merekam, dan mengunggahnya dengan tanda pagar tertentu yang mengelompokkan video tersebut juga sama. Durasi videonya pun sama-sama 15 detik.

Perbedaannya, Lasso memberikan pilihan untuk mengunggahnya di story Facebook, buat yang login dengan Facebook, dan insta story buat yang login dengan Instagram. Saya rasa inilah yang menjadi daya tarik bagi Lasso, yakni terintegrasi dengan aplikasi populer lainnya. Sementara Tik Tok hanya bisa mengunggah tautan secara langsung ke Twitter saja.

Satu catatan buat pengguna Lasso yang tadi sudah mengunduh dengan VPN, untuk membuka Lasso lagi pastikan VPN-nya jangan dimatikan. Sebab penggunaan server regional ini tetap berlaku bukan hanya saat mengunduhnya saja. Kalau VPN-nya tidak aktif, beranda lasso yang berisi video-video rekomendasi, video populer, dan akun-akun yang populer tidak akan muncul.

Demikian tentang Lasso, apakah anda menginginkannya segera dirilis untuk regional Indonesia? Silakan tulis pendapat anda di kolom komentar ya. Terima kasih.

11 November 2018

Saat Pocophone Membandingkan Diri Dengan OnePlus 6T

Dari gedung serbaguna Pier 36 di New York City pada Senin (29/11/2018), OnePlus merilis secara global smartphone flagship teranyarnya, OnePlus 6T. Pabrikan asal Cina ini cukup digemari oleh publik di Eropa dan Amerika tersebab mampu menghadirkan ponsel premium dengan harga minimalis.

Harga yang minimum dengan spesifikasi minimalis memang bukan domain OnePlus semata. Itulah kenapa ketika OnePlus merilis OnePlus 6T di India sehari setelah event New York itu, kompetitor utamanya langsung 'pasang tanduk'. Pesaing dengan segmentasi harga minimalis dan spesifikasi maksimalis di India dimiliki Poco F1 atau Pocophone kalau disini.


Troll pun diciptakan oleh Poco F1. Tajuknya 'Do The Ma+h' dengan simbol '+' yang dibaca 't', sehingga kurang lebih artinya 'ayo dihitung'. Simbol '+' dengan warna merah pun merupakan logo OnePlus. Sehingga semakin terang benderang pesan dari troll ini buat siapa.

Aktualisasi dari troll ini, pihak Poco F1 langsung merangsek ke KDJW Stadium di New Delhi saat OnePlus 6T dirilis. Mereka membagi-bagikan kalkulator kepada pengunjung sebagai bagian dari penyebaran pesan 'do the ma+h' tadi.



Di media sosial, Poco F1 menjelaskan maknanya. ‘Do the math’ dan kalkulator merupakan pesan agar pecinta gajet mampu menghitung mana yang lebih menawarkan harga terjangkau dengan spesifikasi bagus. Ya tentu, troll tadi berupaya memberikan citra agar Poco F1 lebih unggul dibanding OnePlus 6T. Tapi apa iya begitu? Nanti dulu.

Kegelisahan Poco F1 wabil khusus bapaknya, Xiaomi, di India cukup beralasan. Pasalnya, pada kuartal kedua tahun 2018 ini, OnePlus telah mengungguli Samsung dan Apple di negara tersebut. Keunggulan ini terletak pada pangsa pasar smartphone premium yang dicatat oleh Counterpoint Research, dimana OnePlus mendapat angka 40 %, Samsung 34 %, dan Apple 14 %. Pertumbuhan OnePlus di pasar premium melejit sebesar 446 %.

Itulah mengapa OnePlus 6T harus diantisipasi kedatangannya oleh kompetitor. Ya kebetulan Poco F1 yang langsung membuka ruang seteru. Lantas Apple dan Samsung, seperti biasa, sok kalem saja.

OnePlus 6T hadir sebagai upgrade dari OnePlus 5T yang dirilis November 2017. Meskipun tidak banyak perbedaan dengan OnePlus 6 yang telah dirilis Mei lalu, nyatanya OnePlus 6T menjadi unggulan dari pabrikan yang satu almamater dengan Oppo dan Vivo ini. Smartphone ini hadir dengan chipset versi tertinggi buatan Qualcomm, yakni Snapdragon 845.

Chipset dengan fabrikasi 10nm tersebut bukan satu-satunya penanda bahwa OnePlus 6T merupakan smartphone flagship. Tampak dari luar pun, layar dengan ukuran 6,41 inci langsung terlihat kejernihannya sebab memakai panel AMOLED. Panel ini memungkinkan OnePlus 6T dipasangi In Display Fingerpint Sensor.

Layar tersebut dilindungi oleh kaca yang terbuat dari Corning Gorilla Glass 6, yang notabene versi tertinggi dari produsen kaca pelindung layar smartphone yang paling banyak dipakai. Oh iya, ada poni kecil yang manis yang disebut waterdrop notch di atas layar tersebut.

Sentuhan kaca pun bukan hanya di bagian depan saja, di bodi belakang pun diberi sentuhan yang sama. Sehingga kilaunya asli, bukan kilau imitasi dari plastik. Buat yang khawatir dengan ringkihnya bodi kaca tadi, OnePlus memasang frame metal pada tepiannya sehingga kesan kokoh tetap didapat ketika dipegang.

Untuk konfigurasi kamera sendiri, OnePlus 6T punya dua kamera utama dengan resolusi 16 megapiksel dengan f/1.7 dan 20 megapiksel dengan bukaan yang sama. Keduanya sudah memiliki fitur penstabil gambar (OIS) untuk mencegah foto blur akibat sedikit goncangan tangan. Sementara di bagian depan, yang ditempatkan di dalam poni kecil itu, terdapat kamera dengan resolusi 16 megapiksel dengan bukaan f/2.0.

Untuk perekaman video sendiri, kamera belakang OnePlus 6T mampu merekam gambar hingga 2160 piksel dengan frame rate 60 fps. Sementara pada kamera depan hanya sanggup merekam dengan resolusi 1080 piksel dengan frame rate 30 fps. Kamera depan dan belakang sudah dipasangi fitur penstabil gambar elektronik (gyro-EIS). Buat yang suka slow motion, OnePlus 6T sudah bisa melakukannya, namun hanya terbatas pada 1080 piksel pada 240 fps dan 720 piksel pada 480 fps.

OnePlus 6T beroperasi dengan Android 9.0 atau Android Pie dengan kustomisasi OxygenOS ala OnePlus. Catu daya untuk keseluruhan pengoperasian smartphone ini dipasangi baterai sebesar 3700 mAh.

Dengan pilihan warna Mirror Black dan Midnight Black, OnePlus 6T dijual dengan harga yang bervariasi. Harga terendah dimulai dari OnePlus 6T dengan RAM 6 GB dan penyimpanan 128 GB yang dibanderol di angka USD549 atau setara dengan Rp8,3 juta. Sementara itu untuk versi 8 GB RAM dan penyimpanan 128 GB dibanderol dengan harga USD579 dollar atau setara dengan Rp8,8 juta. Terakhir, varian harga yang paling tinggi dipegang varian RAM 8 GB dan penyimpanan 256 GB dengan harga USD629 dollar atau setara dengan Rp 9,5 juta.

Buat yang punya duit dan ingin meminang OnePlus 6T, sayangnya tidak ada cara lain selain mengimpornya. Atau tunggu saja beberapa pekan lagi, sebab bakal banyak yang menjualnya di marketplace lokal. Sebab smartphone ini tidak resmi dijual di Indonesia. Pernah resmi sih, tapi hengkang akibat penguasaan pasar yang kecil.

Untuk itulah harga diatas bakal lebih mahal lagi barang lima ratusan ribu hingga satu juta rupiah kalau smartphone ini dijual di tanah air. Tapi kalau ada perbandingan harga resmi antara OnePlus 6T dengan Poco F1, ya memang kalau pakainya kalkulator, Poco F1 bakalan menang. Tapi monmaap nih, hari gini masih melakukan komparasi pakai kalkulator? Memangnya tak ada Google?

3 November 2018

Inilah Akibat Mengabaikan Update Algoritma Google Broad Core

Google melakukan pembaruan algoritmanya ratusan kali dalam setahun. Ada pembaruan mayor dan adapula pembaruan minor. Yang mayor seperti Google Panda dan Google Penguin. Pembaruan mayor ini sangat berimbas pada hasil pencarian. Sehingga memperhatikan perubahan demi perubahan algoritma Google adalah kewajiban bagi pegiat internet, siapapun dan kapanpun.

Nah, kesalahan saya adalah tidak mengikuti pembaruan ini dalam tiga bulan terakhir. Sebenarnya, para suhu SEO di tanah air telah berbincang-bincang di pelbagai forum internet tentang adanya pembaruan algoritma yang disebut 'broad core' ini. Kesalahan saya adalah tidak menyimaknya, mengikutinya, dan menerapkannya di blog yang saya miliki. Alhasil ada penurunan pengunjung blog selama tiga bulan yang cukup signifikan dibandingkan biasanya.


Pembaruan 'broad core' ini telah dirilis sejak 1 Agustus 2018 lalu. Ya, tiga bulan kemarin sejak artikel ini dibuat. Dan selama tiga bulan itu, jumlah pengunjung blog semakin menurun, dan sekarang stagnan di angka setengahnya saja. Tapi tentu tidak ada kata terlambat untuk memulai.

Pembaruan 'Medic' Core

Algoritma 'broad core' ini disebut juga dengan 'Medic' core. Sebab saat pertama kali dirilis, banyak situs yang membahas tentang kesehatan mengalami perubahan pada jumlah kunjungan mereka. Perubahan ini terjadi persis setelah pembaruan algoritma tersebut.

Namun Google sendiri mengonfirmasi kalau pembaruan ini berimbas secara global. Maksud Google, semua niche situs (bukan hanya kesehatan), segala bahasa, dan di regional manapun, akan terkena imbasnya. Tapi pihak Google merinci kalau yang terkena imbas adalah situs YMYL. YMYL adalah Your Money Your Life, maksudnya situs yang membahas tentang uang dan kegiatan manusia. Google merinci situs-situs YMYL:
  • Situs yang membutuhkan pendaftaran dengan menggunakan KTP, SIM, rekening bank, dan lainnya yang memungkinkan adanya pencurian data pribadi.
  • Situs yang memfasilitasi transaksi moneter dan keuangan.
  • Situs yang memberikan informasi yang bisa berimbas pada kesehatan manusia secara langsung.
  • Situs yang memberikan nasehat tentang keputusan-keputusan dalam kehidupan, seperti situs parenting, situs jual-beli rumah, kendaraan, dan lainnya.
  • Situs yang memberikan nasehat keuangan, kebahagiaan, serta konsultasi hukum.
Situs atau blog dengan bahasan diatas bakal mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi memang bisa positif ataupun negatif atas dampak yang ditimbulkan dari pembaruan algoritma ini. Dan sebagaimana sudah disebut, kalau mengalami penurunan pengunjung situs yang bersumber dari Google, berarti itu imbas negatif dari pembaruan ini. Kalau terjadi sebaliknya, ya berarti positif.

Kabar buruk dari pembaruan algoritma 'medic' core adalah tidak ada yang bisa dilakukan setelah terkena imbas. Seperti misalnya blog saya yang mengalami penurunan pengunjung, ya tak ada yang bisa dilakukan. Misalnya merubah templatenya, menurunkan beberapa widget, atau apapun saja. Tidak ada, kata Google.

Namun seperti juga kalimat saya pada ujung paragraf ketiga, bahwa tak ada kata terlambat untuk memulai. Ada postingan-potingan lanjutan yang bisa diunggah yang ramah terhadap algoritma ini. Apa itu?

Menurut beberapa pakar SEO di luar negeri yang saya rangkum dari searchengineland.com, pembaruan ini mengedepankan hasil pencarian dari situs yang dianggap E-A-T. Tiga kata tersebut merupakan kependekan dari expertise, authoritativeness, dan trustworthiness.

Expertise, authoritativeness, dan trustworthiness kalau dibahasa Indonesiakan menjadi kepakaran, otoritatif, dan kepercayaan. Sehingga makna secara harfiahnya berarti situs yang bakal dimunculkan oleh Google di halaman pertama adalah situs yang dibuat atau ditulis oleh para pakar di bidangnya, yang memiliki wewenang imliah untuk menjelaskan, dan telah dipercaya oleh publik untuk berbicara itu.

Kepakaran dalam menulis artikel memang tidak menjadi domain profesor-doktor di bidangnya. Sebab hal ini bisa didapatkan ketika seseorang konsisten mengungkapkan gagasannya di internet tentang satu bidang. Sehingga konsistensi ini yang membuatnya kemudian memiliki otoritas untuk berbicara sampai akhirnya gagasan-gagasannya dipercaya oleh publik internet alias netizen. Begitu kira-kira.

Jadi selain kontennya matang, daging semua, sebuah situs mesti konsisten dalam mengupas satu hal. Inilah yang menjadi inti dari algoritma baru dari Google. Loh, bukannya ini sudah lama diterapkan oleh Google? Ada sedikit perbedaan.

Kita mengetahui bahwa Google senantiasa mengubah algoritmanya, minor maupun mayor. Konten adalah raja, konteks adalah ratu, dan artikel yang ramah SEO, adalah kunci dari artikel yang kemudian berada di halaman pertama Google. Namun algoritma kali ini memiliki satu hal lain yang berbeda dari pembaruan sebelumnya, yakni tindak lanjut.

Situs-situs YMYL adalah situs tentang keputusan, yakni keputusan untuk membeli atau tidak, mematuhi nasehat atau tidak, dan seterusnya. Maka fungsi algoritma 'medic' ini adalah merayapi artikel mana yang bakal menghasilkan lead yang bagus, untuk kemudian mengganjarnya dengan page one. Makanya para pakar SEO itu menyimpulkannya kedalam situs yang E-A-T. Sebab situs yang mengandung E-A-T adalah situs yang mampu mempengaruhi pembaca untuk melakukan tindak-lanjut.

Lalu apakah blog anda sudah begitu? Yuk, benahi sama-sama.

31 Oktober 2018

Cara Membuat Share Location Palsu di WhatsApp

"Ente ada dimana?"
"Di Belanda, cuy,"
"Gaya ente, nih,"
"Lah gak percaya, nih..."

Kemudian percakapan di WhatsApp tersebut diakhiri dengan kiriman share location yang menunjukkan kalau orang kedua itu berada di Belanda. Ya share location atau live location merupakan sebuah fitur di WhatsApp yang memanfaatkan keberadaan Global Positioning System (GPS) smartphone. Live location ini bakal menunjukkan lokasi terkini secara langsung dari seseorang yang mengirimkannya.

Karena sifatnya langsung, WhatsApp membatasi fitur live location paling lama 8 jam saja. Saat ini hanya selama itu saja fitur tersebut diberikan, entah kalau besok-besok ada pembaruan lagi. Salah satu manfaat pembatasan ini adalah penghematan baterai dan paket data penggunanya.

Fitur live location atau lebih terkenal dengan sebutan share loc ini kerap dijadikan pembuktian terhadap seseorang yang kurang percaya pada temannya yang bilang otewe padahal masih mandi. Atau sebagai penunjuk lokasi pertemuan dimana teman-teman yang lain belum paham jalan menuju tempat tersebut. Intinya fitur live location adalah Google Maps yang dikirimkan melalui WhatsApp, dan orang lain bisa mengetahui posisi terkini anda apabila mengirimkan fitur live location.

Sayangnya, anda tidak bisa lagi mempercayai fitur ini sepenuhnya. Karena seseorang bisa menggunakan lokasi palsu dengan memakai fitur live location ini. Jadi, ketika mengirimkan live location, seseorang tampak berada di lokasi tersebut padahal hakikatnya ia tak berada disana.


Lah kok bisa? Bisa lah. Jadi intinya begini, fitur live location pada WhatsApp menggunakan GPS. Nah, dengan memanipulasi GPS tadi, anda bisa mengirimkan live location palsu kepada orang lain melalui WhatsApp. Ini dimungkinkan karena WhatsApp menggunakan Google Maps untuk memunculkan fitur tersebut. Sementara itu, Google Maps menggunakan GPS dalam smartphone untuk menjalankan fitur-fitur yang ada dalam petanya.

GPS inilah yang diakali jika anda ingin menghadirkan lokasi palsu ke dalam fitur share location WhatsApp. Caranya cukup mudah, yang pertama kali dilakukan adalah menginstal aplikasi untuk membuat GPS palsu. Aplikasi ini banyak tersedia di Play Store, dan saya memakai Fake GPS GO Location Spoofer Free dari IncorporateApps dengan ukuran cuma 5,2 MB. Iya, saya memakai versi gratis, sehingga ketika menjalankannya pasti bakal muncul iklan yang mengganggu.

Setelah aplikasi tersebut diinstal, maka akan muncul pengaturan untuk pertama kalinya. Disini, anda akan dibawa untuk mengatur aktivasi GPS palsu di sistem Android. Istilahnya mocked up location. Pengaturan GPS palsu ini hanya bisa dipergunakan apabila Android anda berada pada mode developer. Untuk mengaktifkan mode developer dan manfaatnya, silakan merujuk ke tautan tersebut.

Apabila sistem GPS palsu di smartphone anda sudah diatur, silakan mengatur posisi anda di peta yang ditunjukkan oleh aplikasi Fake GPS. Pergunakan fitur pencarian agar lebih mudah. Saya contohkan misalnya: Jakarta. Ya terserah Jakartanya dimana. Kalau sudah diatur, klik tombol segitiga 'play' berwarna kuning di sudut kanan bawah. Kalau muncul fake location engaged, itu artinya berhasil.

Patut diketahui, tidak semua status fake location engaged ini muncul, ada juga yang mengalami error. Tapi tanda error ini belum tentu gagal juga, sebab ketika ada logo aplikasi Fake GPS di atas layar smartphone sebaris dengan tanda baterai dan notifikasi lainnya, itu artinya berhasil.

Silakan masuk lagi seperti biasa ke WhatsApp, kemudian klik tanda klip dan cari fitur Location atau Lokasi. Apabila fitur peta di WhatsApp tersebut sudah berubah, bukan lagi di tempat yang anda berada saat itu, maka 'fake location engaged' itu berhasil. Kalau belum berhasil, silakan ulangi pengaturan lokasi palsu di aplikasi tersebut. Kalau berhasil, anda tinggal mengirimkan live location ke grup maupun pesan pribadi dengan teman anda. Dan kalau belum ada yang tahu anda memakai Fake GPS, teman anda di ujung sana akan menganggap anda berada di lokasi palsu tersebut.

Untuk mengembalikan GPS ke posisi aslinya, silakan geser ke bawah tab notifikasi seperti biasa. Lalu pada aplikasi Fake GPS, tekan tanda off yang disimbolkan dengan persegi berwarna putih.

Cara ini jangan dipergunakan untuk hal-hal yang tidak baik, misalnya selingkuh, ngakunya di rumah sendiri padahal di rumah janda sebelah kampung. Atau bilangnya otewe padahal masih di kasur, sehingga teman anda menunggu begitu lama. Tapi apapun, do with your own risk. Demikian cara membuat share location palsu di WhatsApp. Sampai jumpa di artikel selanjutnya.

Untuk lebih jelasnya bisa disimak lewat video berikut ini:

30 Oktober 2018

Huawei Mate 20 dan Mate 20 Pro: Flagship Huawei Terbaru dengan Chipset dan Kamera ‘Monster’

Huawei terus menabalkan diri sebagai salah satu pimpinan pasar smartphone global. Setelah sukses menggeser Apple pada kuartal kedua tahun 2018, pabrikan asal Cina ini tidak tinggal diam setelah Apple merilis iPhone terbarunya.

Huawei pun menyindir Apple tersebab iPhone terbaru itu hampir serupa dengan iPhone sebelumnya. Sindiran itu ditutup dengan pesan "sampai jumpa di London”. Nah, apa yang terjadi kemudian di London telah sama-sama disaksikan pada Selasa (16/10/2018) sore waktu setempat. Ya tentu saya enggak terbang ke London dan hadir di ExCel Center sih, tapi 'kan ada streaming yang disediakan oleh Huawei.

Para pecinta gajet kemudian dibuat cukup terperangah dengan keberanian Huawei dalam membuat desain suksesor Mate 10 ini. Dari venue tersebut, Huawei menampilkan empat varian dari Huawei Mate 20 yang memiliki keunikan di bagian belakangnya. Ya, keunikan ini sebetulnya telah terungkap dari berbagai bocoran yang muncul di internet. Namun tentu saja bocoran tetaplah bocoran, sehingga ketika yang asli sudah mewujud resmi, yang bocoran tetiba fana. Halahhh.

Empat varian tersebut terdiri atas Huawei Mate 20, Huawei Mate 20 Pro, Huawei Mate 20 X, dan Huawei Mate 20 RS Porsche Design. Meski memiliki banyak perbedaan di beberapa aspek, keempatnya sama-sama memakai chipset Kirin 980. Chipset ini merupakan varian tertinggi dari chipset in-house Huawei.

Sebetulnya seri Mate 20 ini sudah ada yang dikenalkan sejak Agustus kemarin, yakni Huawei Mate 20 Lite. Ya setiap yang diberi imbuhan Lite, selalu tidak setara varian flagship. Itulah makanya smartphone ini dihadirkan terpisah. Kalau disandingkan, Huawei Mate 20 Lite hampir sejajar dengan Huawei Nova 3i yang telah hadir resmi di tanah air.

Nah ngomong-ngomong soal hadir secara resmi di tanah air, kabar yang santer beredar adalah tidak seluruh varian Mate 20 akan diboyong Huawei kesini. Huawei Mate 20 Lite sudah dipastikan tidak hadir karena secara spesifikasi sudah diwakili Nova 3i tadi. Huawei Mate 20 X dan Mate 20 RS Porsche Design pun bakal mengalami nasib yang sama. Makanya biar pembaca Mojok tidak dituduh penyuka barang impor kemudian dituduh antek asing, kita ngomongin yang bakal resmi saja: Huawei Mate 20 dan Huawei Mate 20 Pro.

Dari segi tampilan, Huawei Mate 20 dan Mate 20 Pro memiliki perbedaan cukup siginifikan. Perbedaan ini terletak di bagian depan, dimana Mate 20 memiliki poni yang disebut waterdrop notch, sementara Mate 20 Pro masih memakai poni jadul seperti iPhone X pertama. Poni pada Huawei Mate 20 menjadi tempat kamera selfie beresolusi 24 MP sekaligus untuk sensor face unlock. Sementara itu Mate 20 Pro memakai kamera selfie dengan resolusi yang sama, namun dipergunakan untuk 3D Face Unlock dan 3D Live Object.

Masih dari tampilan depan, Huawei Mate 20 ternyata memiliki layar yang sedikit lebar dibandingkan Mate 20 Pro. Iya sedikit, sebab perbedaannya hanya 0,14 inci saja. Huawei Mate 20 memiliki bentang layar sebesar 6,53 inci sementara Mate 20 Pro terpasang layar 6,39 inci. Namun soal bentang inipun bukan perbedaan satu-satunya, sebab keduanya memakai jenis layar yang berbeda.

Huawei Mate 20 memakai layar berjenis IPS LCD sedangkan Mate 20 Pro dipasangi layar OLED. Layar OLED pada Mate 20 Pro ini membuatnya bisa memiliki desain curved di sisi kiri dan kanannya. Menariknya, layar OLED pada Mate 20 Pro ini ternyata bukan diproduksi Samsung sebagaimana Mate 10 Pro, namun berasal dari pabrikan lokal Cina, BOE Technology. Kabarnya kerjasama Huawei dengan BOE ini terus berlanjut untuk menciptakan smartphone lipat yang konsepnya sudah tersiar kemana-mana.

Di bagian belakang, perbedaan yang siginifikan pun terlihat. Meski sama-sama memiliki konfigurasi tiga kamera yang desainnya tidak biasa, yakni ketiganya disusun dalam bentuk persegi, namun desain ini memiliki perbedaan antara Huawei Mate 20 dan Mate 20 Pro. Letak perbedaannya ada pada penempatan ketiga kameranya. Untuk menandai yang mana Mate 20 dan yang mana Mate 20 Pro, Huawei membedakannya dengan peletakkan lampu flash.

Pada Huawei Mate 20, posisi flash diletakkan pada sebelah kanan atas. Kalau dirunut searah jarum jam, maka peletakkan kameranya sebagai berikut. Pertama ada kamera dengan lensa telephoto dengan resolusi 8 MP, kemudian kamera dengan lensa ultra-wide angle dengan resolusi 12 MP, dan terakhir ada kamera dengan lensa wide angle dengan resolusi 16 MP.

Huawei Mate 20 Pro berbeda. Flash-nya terletak di sebelah kiri atas. Sehingga kalau dirunut searah jarum jam, maka di sebelah kanannya ada kamera berlensa wide angle dengan resolusi 40 MP, kemudian kamera dengan lensa ultra wide angle dengan resolusi 20 MP, dan terakhir di bawah flash ada kamera telephoto dengan resolusi 8 MP.

Seluruh kamera pada keduanya, baik kamera belakang maupun kamera depan, dibuat oleh Leica. Hasil jepretannya memang mencengangkan. Kalau dilihat sekilas, mungkin banyak yang tidak percaya kalau foto-foto tersebut dijepret 'hanya' dengan kamera smartphone. Tapi buat yang pernah melihat sebagus apa hasil dari Huawei P20 Pro, maka pikirkan saja kalau Huawei seri flagship Mate 20 ini sedikit diatasnya.


Kembali lagi buat yang masih tetap pusing membedakan Huawei Mate 20 dan Mate 20 Pro berdasarkan flash, maka lihat saja apakah ada bulatan fingerprint scanner di bawah modular kamera itu. Kalau ada bulatan fingerprint scanner, itu berarti Huawei Mate 20. Sebab Huawei Mate 20 Pro tidak memilikinya, karena diganti dengan in-screen fingerprint alias pemindai sidik jari di dalam layar. Keren sih, tapi monmaap ya duluan Vivo.

Fitur keamanan tambahan bagi keduanya berada pada bagian depan, yakni face unlock. Huawei Mate 20 Pro diklaim lebih canggih dari Mate 20 sebab sudah memakai 3D Face Unlock. Namun sebuah media di Jerman memberitakan bahwa kemungkinan ada celah didalam software-nya sehingga dua orang dengan potongan muka yang sama bisa membuka kunci face unlock ini. Mungkin bakal diatasi Huawei dengan update software periode selanjutnya.

Jeroan Huawei Mate 20 dan Mate 20 Pro memiliki banyak kesamaan. Keduanya sama-sama memakai chipset in-house Huawei yakni Kirin 980 yang dibuat dengan fabrikasi 7nm yang diklaim 20 % lebih baik performanya, 40 % lebih irit daya, dan peningkatan efisiensi sebesar 58 % dibandingkan chipset dengan proses fabrikasi 10nm. Dan lebih menariknya lagi ada dual-core NPU (Neural Processing Unit) yang memungkinkan pemrosesan AI lebih cepat 120 % dibandingkan chipset lainnya.

Huawei Mate 20 memiliki dua varian RAM, yakni 4 GB dan 6 GB, entah yang mana dari keduanya yang dibawa ke Indonesia. Untuk Huawei Mate 20 Pro hanya memiliki varian RAM 6 GB. Keduanya punya kapasitas penyimpanan 128 GB yang bisa ditambahkan dengan memori eksternal berjenis nano memori. Untuk masalah daya, Huawei Mate 20 memiliki baterai berdaya 4.000 mAh dengan fitur Super Charge 22,5W. Sementara Huawei Mate 20 Pro memakai baterai dengan daya 4.200 mAh dengan fitur Super Charge 40W, 15 W wireless charging, dan reverse wireless charging.

Oh iya satu lagi buat netijen Indonesia yang belinya kagak tapi suka mengeluh "sayang enggak ada NFC-nya", kedua Huawei Mate 20 ini ada NFC-nya. Meski banyak pabrikan mengakui berdasarkan hasil riset NFC ini jarang dipakai, namun untuk smartphone kelas flagship, rasanya kok gimana gitu kalau tak ada fitur yang satu ini.

Itulah sekelumit fitur yang ada pada Huawei Mate 20 dan Huawei Mate 20 Pro. Buat kamu yang tertarik, silakan tunggu saja Huawei memboyong keduanya kesini. Yang pasti, siapkan saja budget sekitar Rp14 jutaan untuk meminang Huawei Mate 20 versi RAM 4 GB dan memori 128 GB, Rp15 jutaan untuk RAM 6 GB dan memori 128 GB, dan siapkan lebih banyak hingga Rp18 jutaan kalau mau Huawei Mate 20 Pro. Harga tersebut merupakan konversi dari harga resmi di Eropa, kalau diboyong ke Indonesia, biasanya lebih murah Rp2 jutaan.

Bagaimana, siap punya smartphone 'upgrade' dari Huawei P20 Pro yang tersohor itu?


Artikel yang hampir sama pernah dimuat di Mojok.co

27 Oktober 2018

Cara Menggunakan Tanda Pagar (Hashtag), Biar Konten Anda Mudah Ditemukan

Hashtag atau dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan tanda pagar merupakan sebuah ujaran baru yang kerap ditemui dalam unggahan di media sosial. Pengguna media sosial kerap menaruh tanda pagar atau sering disebut tagar ini dengan apa yang ingin dikehendakinya. Misalnya kalau ia mengunggah makanan, maka tagar yang menyertainya adalah #food, #makanan, #dietgagal, dan semacamnya.


Fitur tagar ini sebetulnya bukan cuma buat gaya-gayaan agar unggahannya lebih berwarna, tapi memang dibuat karena memiliki fungsi. Salah satu fungsi tagar dalam media sosial adalah agar unggahan tersebut mudah dicari, mudah dikelompokkan, dan mendapatkan jangkauan yang baik alias banyak dilihat oleh orang lain. Tentu saja ini cocok buat yang memakai media sosial untuk internet marketing.

Lantas bagaimana sih menggunakan tagar yang sebenarnya? Atau bukan 'sebenarnya' sih, tapi bagaimana 'sebaiknya' menggunakan tagar. Sebab yang benar belum tentu baik 'kan?

Relevansi tagar

Ada banyak sekali pengguna media sosial, yang tahu kalau tagar merupakan cara agar unggahannya bakal dilihat banyak orang, kemudian membuat banyak sekali tagar. Sayangnya, tagar tersebut tidak relevan dengan unggahannya. Misalnya seseorang dengan unggahan kosmetika berjenis scrub yang salah satunya beraroma kopi, sebut saja akun @kosmetikakita kemudian menuliskan tagar dengan aneka ragam tagar sampai 15 buah, seperti #produkbebaskimia #natural #scrubhomemade dan lain-lain yang disandingkan dengan #kopi.

Iya sih, orang-orang yang mencari dengan tagar #kopi bakal menemukan unggahan produk kosmetika ini, tapi apa ini relevan? Orang-orang yang mencari melalui tagar #kopi biasanya laki-laki yang jauh dari citra pemakai scrub. Sehingga kalau ada yang melihat unggahan kosmetika tersebut mereka tak akan merespon apa-apa.

Kalaupun dengan menarget pengunjung tagar #kopi untuk memfollow akun tersebut, ya yang datang biasanya akun robot saja. Mereka memang bakal memenuhi angka follower di akun anda, tapi apa enaknya di-follow robot 'kan?

Contoh masalah lainnya adalah kerapnya pengguna media sosial berselancar di tagar yang sedang nongkrong di trending topic. Ini lumrah terjadi di Twitter. Sudah pun tak ada kaitannya, ditulis pula seluruh tagar yang sedang trending tersebut. Iya sih dilihat banyak orang, tapi apakah dengan jangkauan itu kemudian efektif untuk mempromosikan konten yang telah dibuat? Biasanya enggak sama sekali.

Jadi, sebelum menuliskan tagar, ajukan pertanyaan tentang relevansi unggahan dengan tagar yang dibuat.

Tagar tak terkait merek

Anda boleh punya merek, tapi tak usah dipromosikan menjadi tagar. Misalnya anda memiliki produk keripik kentang balado dengan nama Chipsahoy, maka tagar yang sebaiknya dibuat bukanlah #cipsahoy. Lah, kalau penginnya #chipsahoy bagaimana? Ya sudah sih, suka-suka anda saja.

Namun sebaiknya, membuat tagar adalah disesuaikan dengan pencarian yang tidak terlampau spesifik. Misalnya kalau kasusnya keripik kentang balado tadi, maka mulailah tagar dengan #food lalu disusul #keripikkentang #keripikbalado #keripikgurih dan seterusnya yang tidak menyebutkan mereknya. Syukur kalau tagar tersebut mewakili secara resmi merek tersebut, misalnya XL Axiata memiliki tagar yang di-buzz kawan-kawan buzzer dengan #JadiLebihBaik.

Tagar #JadiLebihBaik tentu mudah untuk disandingkan dengan kalimat lain. Kesan tagar tersebut jadi natural. Sehingga ketika tanpa sengaja pihak diluar buzzer tadi mengklik tagar itu, maka yang muncul adalah promosi tentang XL Axiata. Meski memang tagar tersebut sepertinya tidak mewakili XL yang notabene perusahaan telekomunikasi, tetapi siapa duga kalau tagar tersebut merupakan penanda kalau XL selalu ingin jadi lebih baik. Ya 'kan? Udah mirip orang lagi nge-buzzer belum? #eh

Kalau bisa, tagar hanya dua kata saja

Pernah melihat tagar yang sangat panjang? Misalnya #kodekerasbuatyangmerasasaja. Iya sih, itu memang tagar dan pastinya akan berfungsi dan bakal menjadi tagar pencarian kalau, sekali lagi, kalau yang menuliskan tagar tersebut sangat banyak.

Tapi sebagai pengawal tagar, sebaiknya buatlah tagar dari dua suku kata saja. Jangan banyak-banyak, sebab tagar pun perlu dibaca meski tanpa spasi. Tagar yang pendek memudahkan ingatan orang untuk mencari lagi di lain kesempatan.

Nah, tiga poin tadi setidaknya menjadi panduan bagaimana sebaiknya menggunakan tagar. Kalau bagaimana cara yang benar menggunakan tagar, saya yakin semuanya sudah benar.

Demikian, barangkali ada yang mau menambahkan silakan tulis saja di kolom komentar.

21 Oktober 2018

Mengenal Realme, Pendatang Baru dengan Bodi Oppo dan Harga Xiaomi

Indonesia kehadiran pendatang baru di pasar perponselan. Namanya Realme. Nama yang sudah wara-wiri sejak lima bulan kemarin terutama di India. Meski masih muda, tercatat sudah empat ponsel yang dirilisnya. Apa istimewanya merek ini?

Realme ini ibarat partai politik, yang mana meski dijargoni sebagai pendatang baru yang fresh, namun tetap mengandung ‘entitas’ lama yang susah dilepaskan. Baik dan buruk entitas lama tersebut, maka begitulah setidaknya Realme tercitrakan. Entitas tersebut adalah Oppo.


Sejarahnya, delapan tahun silam Oppo pernah merilis Oppo Real yang menandai sebuah produk subsidiari dari seri ponsel Oppo. Oppo Real ini memang tak begitu moncer layaknya ponsel Oppo seri yang lain. Ya mungkin belum terpikir untuk mengembangkannya lebih lanjut saat itu.

Hingga pada akhirnya beberapa pabrikan pun membuat produk alternatif. Misalnya Huawei dengan Honor dan Xiaomi dengan Poco. Salah satu alasan pembuatan produk alternatif ini, biasanya menyasar segmentasi yang berbeda dari target pasar indukannya. Begitu pula Oppo dengan Realme.

Saat masih berada di bawah Oppo, Realme merilis Realme 1 yang cukup sukses menjalani debutnya di India. Pemisahan Oppo dan Realme terjadi pada akhir Juli 2018 atau setidaknya sebulan setelah dirilisnya Realme 1 itu. Pemisahan ini ditandai dengan hengkangnya Wakil Presiden Oppo, Sky Li, untuk menduduki jabatan baru sebagai CEO Realme.

Perpindahan seperti Sky Li ini memang bukan yang pertama. Lima tahun yang lalu, Pete Lau hengkang dari BBK Electronics untuk mendirikan OnePlus. Sebuah merek yang memang dianggap masih saudara kandung dengan Oppo dan Vivo. Dan OnePlus yang menyasar konsumen di Amerika dan Eropa ini terbilang sukses untuk sasaran segmentasi yang dicanangkannya.

Apakah perpindahan Sky Li lewat Realme-nya, bisa dibilang sama dan akan bernasib sama dengan Pete Lau dan OnePlus-nya? Sayangnya, Realme baru seumur jagung untuk diprediksi begitu jauh. Makanya mari kita tengok saja dulu, seperti apa ponsel yang baru dirilis Realme di tanah air pada Selasa (9/10/2018) kemarin.

Realme C1, entri-level yang cukup menggoda


Kita mulai dulu dari Realme C1. Ponsel dengan layar 6,2 inci dengan resolusi 720p berponi ini masuk kategori entry level. Meski begitu, spesifikasi dapur pacu yang diusung tak entri-entri banget lah. Sebab ada Snapdragon 450 yang menjadi inti tenaga dari Realme C1.

Dapur pacu tadi sama-sama dimiliki oleh Realme 2, yang menjadi ponsel middle-range dari Realme yang akan kita bahas selanjutnya. Oleh karenanya, Realme C1 ini cukup menggoda tersebab harga yang ditawarkan cukup jauh dibandingkan Realme 2.
Selain Snapdragon 450, Realme C1 ditopang oleh RAM 2 GB dan memori internal 16 GB. Ponsel ini punya dukungan daya sebesar 4.230 mAh. Daya sebesar ini diklaim bertahan hingga 18 jam untuk mendengarkan musik, 15 jam untuk memutar video, serta 10 jam untuk bermain game.

Di sektor kamera, Realme C1 memiliki konfigurasi kamera belakang 13 megapiksel dan 2 megapiksel. Sayangnya, kamera depannya hanya memiliki 5 megapiksel. Sehingga Realme C1 ini tidak mengklaim sebagai selfie phone seperti ‘ibu kandungnya’. Ditambah lagi, tidak ada fingerprint scanner pada ponsel ini. Belum tertarik? Tenang, masih ada Realme 2.

Realme 2, sebuah downgrade dari Realme 1



Pihak Realme keberatan ketika Realme C1 dan Realme 2 dianggap sama saja. Dan keberatan ini memang beralasan, sebab keduanya memang berbeda meski memiliki dimensi yang sama.

Ya meski chipsetnya sama, baterainya sama, layarnya sama, poninya sama, namun ketika bodi itu dibalik dan tampak bagian belakangnya, maka antara Realme C1 dan Realme 2 tampak perbedaan yang mencolok. Realme mengadopsi bodi diamond cut yang dimiliki ponsel Oppo kekinian. Sementara Realme C1 hanya bodi glossy biasa.

Di Realmi 2 pun sudah terpasang fingerprint scanner. Satu hal yang tak ada pada Realmi C1, bahkan Realmi 1 sebagai pendahulunya yang hanya mengandalkan face unlock saja.

Kalau dibandingkan dengan Realmi 1, Realmi 2 ini sebetulnya mengalami downgrade. Penurunan itu terlihat ketika Realmi 1 memakai layar Full HD dengan resolusi 1080p, namun Realmi 2 hanya 720p saja. Pun begitu dengan chipset yang menjadi otaknya.

Realmi 1 memakai chipset MediaTek Helio P60 yang setara dengan Snapdragon seri 600. Sementara Realmi 2 hanya memakai Snapdragon 450, sama dengan Realmi C1. Realmi menyediakan dua varian RAM dan memori, yakni RAM 3 GB dan memori 32 GB serta 4 GB dan memori 64 GB.

Konfigurasi kamera belakang Realmi 2 terdiri atas 13 megapiksel dan 2 megapiksel. Sementara untuk kamera depan terpasang modul kamera selfie dengan resolusi 8 megapiksel.

Downgrade ini mungkin cukup beralasan, sebab konsumen diberi pilihan untuk meminang Realmi 2 Pro dengan spesifikasi yang lebih tinggi baik dibandingkan dengan Realmi 1 apalagi Realmi 2 dan Realmi C1.

Realmi 2 Pro: pilihan baru untuk kelas menengah


Realmi 2 Pro hadir dengan tawaran yang lebih menggiurkan. Kalau boleh dibilang, kalau kamu belum cukup uang untuk meminang Oppo F9, ya bolehlah melipir sedikit ke ponsel ini. Kenapa demikian?

Dilihat dari desain bodinya, Realme 2 Pro memiliki kesamaan dengan Oppo F9. Ditambah lagi dengan poni waterdrop yang berada diatas layar 6,3 incinya. Bodi bagian belakang pun memakai desain diamond-cut yang memberikan efek kaca unik yang kekinian dan aksen yang memang tak berbeda dengan salah satu seri ponsel dari ‘ibu kandungnya’ itu.

Untuk dapur pacunya, Realme 2 Pro memakai Snapdragon 660 yang didukung oleh beberapa varian RAM dan memori internal. Ada yang memakai RAM 4 GB memori internal 64 GB, RAM 6 GB memori 64 GB, dan RAM 8 GB memori 128 GB. Dapur pacu ini ditopang oleh daya sebesar 3.500 mAh.

Konfigurasi kamera Realme 2 Pro di bagian belakang terdiri atas 16 megapiksel dan 2 megapiksel untuk kamera sekunder. Sementara itu bagian depannya dipasangi modul kamera selfie dengan resolusi sebesar 16 megapiksel.

Sebagaimana judul artikel ini, Realme memang membanderol ketiga ponsel ini dengan harga yang cukup murah menarik. Dimulai dari Realme C1 yang dibanderol di angka Rp1.499.000, kemudian Realmi 2 Rp1.999.000 untuk RAM 3 GB dan memori 32 GB, Rp2.399.000 untuk RAM 4 GB dan memori 64 GB. Sementara itu Realmi 2 Pro dibanderol mulai dari Rp2.899.000 untuk RAM 4 GB dan memori 64 GB, Rp3.299.000 untuk RAM 6 GB dan memori 64 GB, serta RpRp3.699.000 untuk RAM 8 GB dan memori 128 GB.

Realme menggandeng Lazada untuk pemasarannya. Realme 2 sudah bisa dipesan mulai 16 Oktober, Realmi 2 Pro bisa diperoleh pada 23 Oktober, dan Realme C1 bisa diperoleh pada 30 Oktober. Lalu, apakah ini flash sale? Ya tergantung seberapa banyak orang tertarik dengan ponsel Oppo dengan harga Xiaomi ini.

19 Oktober 2018

Empat Alasan Tak Usah Beli iPhone XS dan iPhone XS Max

Ratusan orang berjubel di depan Apple Orchad Road, Singapura sejak Kamis (20/09/2018) sore. Mereka bermaksud menjadi barisan pertama yang memiliki iPhone terbaru di Asia Tenggara. Sebab di tempat yang baru berusia setahun itulah Apple melego iPhone terbaru yang dirilis sembilan hari sebelumnya.

Pemandangan yang sama terjadi di beberapa kota di 11 negara lain yang mana Apple memasarkan iPhone XS dan XS Max untuk pertama kalinya secara global. Meski hal yang sama tidak terjadi di negeri asal Apple sendiri, serta ada opsi pemesanan lewat daring yang mestinya mencegah antrian semacam ini terjadi. Namun antrian tetap ada, sebab beginilah setiap iPhone baru diperlakukan. Sebegitu worthed-kah?

Seperti diketahui, iPhone bukanlah sekedar perangkat teknologi biasa. Ia telah mengejawantah kedalam perangkat lifestyle yang mendongkrak pemakainya beberapa tingkat di kancah pergaulan sosial. Maka tak heran kalau ponsel buatan pabrikan ponsel dengan nilai valuasi tertinggi di dunia ini selalu diantri oleh banyak orang.

Antrian tersebut disebut oleh media CNET sebagai sebuah art form, dengan ukuran keunggulan adalah siapa yang lebih lama mengantri. Para pengantri ini adalah mereka yang rata-rata membeli untuk pemakaian sendiri dan keluarga, tak lebih dari itu. Sebab Apple Retail Store yang baru membuka penjualan serentak pada Jum'at (21/09/2018) pukul 09.00 pagi waktu setempat, hanya membolehkan setiap pengantri membeli dua perangkat saja.

Ya mungkin diantaranya ada reseller yang menjualnya lagi dengan harga yang lebih tinggi, tapi menurut beberapa media setempat, rata-rata mereka antri membeli hanya untuk pemakaian pribadi.

Sebagaimana diketahui, Apple sebetulnya merilis tiga iPhone baru, yakni iPhone XS, iPhone XS Max, dan iPhone XR. Namun Apple akan melego iPhone XR yang harganya paling rendah pada 21 Oktober mendatang atau 50 hari setelah perilisan. Alasan tanggal penjualan yang berbeda ini menurut beberapa media bisnis adalah guna menjaring pembeli dengan budget terbaik dulu.

Orang-orang yang menginginkan iPhone terbaru untuk pertama kalinya, tentu mau tak mau mesti merogoh kocek yang lebih dalam untuk iPhone XS dan iPhone XS Max. Buat pemilik budget rendah, yang hanya sanggup membeli Xiaomi iPhone XR mesti menunggu lebih lama. Kelompok ini boleh jadi bakal tergoda berisiknya para pengguna iPhone XS maupun XS Max, sehingga akan meningkatkan budget-nya untuk meminang salah satu dari dua itu. Cerdas nian kau Apple.

Namun buat orang-orang yang tidak akan membeli iPhone terbaru tadi dan membutuhkan alasan untuk menangkis agar tidak dicap miskin, sini saya bantu menyusun argumentasinya. Dan karena yang terbit duluan iPhone XS dan iPhone XS Max, maka obrolan kita ini tentu tentang dua perangkat tersebut.

Desain yang mirip dengan iPhone seri sebelumnya

Jangka waktu setahun, setidaknya ada lebih dari sepuluh ponsel dikenalkan. Ponsel baru ini hadir dengan desain, dapur pacu, dan layanan yang diperbaiki dari seri sebelumnya. Hal yang langsung terlihat adalah sisi desain. Sisi ini akan membuat ponsel yang lama cenderung terlihat jadul. Namun apa jadinya kalau ponsel yang baru terlihat mirip dengan ponsel yang lama?

Setidaknya itulah yang terjadi dengan iPhone XS dan iPhone XS Max. Antara iPhone X dan iPhone XS terlihat kembar. Dan meski layarnya lebih lebar, iPhone XS Max pun desainnya sama saja dengan iPhone X. Wicis, kata anak Jaksel, kalau dilihat sekilas kedua iPhone baru ini bakal sulit dibedakan dengan iPhone X. Ibarat pacaran, kenapa mesti cari yang baru kalau tampangnya sama. Eh, bener gak sih?

Orang-orang bakal mengira kita masih memakai iPhone X, barang diskontinu. Jadi, kebutuhan buat nampangnya berkurang banyak. Jadi sudahlah, enggak usah beli.

Dapur pacu yang sok-sok misterius

Buat yang menonton Apple Event, Tim Cook dan timnya tidak menjabarkan spesifikasi detail tentang isi di dalam iPhone. Ya biasanya 'kan kalau spesifikasi ponsel selalu menyertakan chipset, RAM, GPU, memori internal, sampai baterai. Nah, penjelasan tentang besaran RAM dan baterai tidak diungkapkan pada ajang perilisan tersebut.

Apple memang menjelaskan chipset A12 Bionic secara jelas. Penerus A11 ini merupakan chipset dengan pabrikasi 7nm yang 15% lebih cepat daya prosesnya dan 50% lebih efisien dalam mengonsumsi daya baterai dibandingkan pendahulunya. Dan mungkin dengan penjelasan chipset tersebut, penjelasan spesifikasi tentang RAM tak begitu penting. Begitu pula dengan baterai. Baterai tiga iPhone baru itu hanya dijelaskan lebih memiliki daya tahan beberapa jam dibandingkan baterai yang dipakai pendahulunya.

Meski kemudian spesifikasi RAM dan baterai itu terungkap, yakni masing-masing 4 GB untuk iPhone XS dan XS Max, baterainya 2.658 mAh untuk iPhone XS dan 3.174 mAh untuk iPhone XS Max. Namun terungkapnya spesifikasi tersebut bukan oleh Apple sendiri selaku pabrikan, tapi dari pengembang software penguji benchmark, Geekbench. Jadi perilaku misterius Apple ini membuat kita ibarat beli kucing dalam karung. Mahal pulak kucingnya! Jangan beli, ya.

Inovasi yang minim kebaruan

Setiap tahunnya, ketika orang-orang menggelontorkan banyak uang dan rela berdesakan demi membeli iPhone, alasan paling kuat darinya adalah keberadaan inovasi yang dihadirkan pabrikan ini. Lalu, apakah inovasi tersebut hadir di tahun ini?

Setelah memakai desain tahun lalu, iPhone XS dan XS Max selaku varian tertinggi hampir tak punya inovasi yang bisa menjadi trendsetter teknologi, sebagaimana biasa. Banyak orang agak kesusahan untuk me-notice, kata anak Jaksel lagi, inovasi terbaru di industri perponselan dalam ajang Apple Event itu. Ya memang sih, banyak hal baru dari Apple yang dibenamkan di iPhone terbarunya itu. Tapi apakah itu betul-betul baru?

Apple bilang iPhone kali ini mendukung dual SIM, meski yang satunya memakai e-SIM. Namun soal dual SIM, ponsel China yang membuat Nokia babak-belur pun telah memakainya. Pun ketika Apple bilang aperture dalam kamera iPhone ini bisa diatur selayaknya DSLR. Maka pinjamilah Tim Cook untuk mencicipi Samsung Galaxy S9. Jadi, ya enggak usah beli.

Harganya yang mahal

Apple Retail Store di Orchad Road Singapura membanderol iPhone XS termurah di angka $1,649 atau sekitar Rp24,5 juta (kurs $1=Rp14.800). Dan iPhone XS Max versi paling tinggi dibanderol $2,349 atau setara dengan Rp34,8 juta. Harga setinggi ini bakal merangkak naik ketika hadir di Indonesia melalui jalur non-resmi.

Sekedar perbandingan, varian tertinggi Samsung Galaxy Note 9 ada di angka Rp17 jutaan. Ponsel tersebut merupakan varian tertinggi dan selalu menjadi panutan ponsel Android untuk bertanding dengan iPhone. Artinya ketika dibandingkan dengan iPhone XS termurah pun, Note 9 ini masih mendapat kembalian Asus Zenfone 5z maupun Xiaomi BlackShark.

Namun Apple tetaplah Apple dengan segala eksklusivitasnya. Ia tak pernah bisa apple-to-apple dengan perangkat Android. Makanya keterpisahan perangkat Apple dengan iOS-nya tentu tak selalu bisa disamakan dengan perangkat Android. Sehingga untuk yang punya duit, empat alasan itu tak relevan.

Jadi, alasan diatas hanya pas untuk yang terbiasa menunggu flash sale, sebab ponselnya jadi lebih murah beberapa ratus ribu daripada harga di konter. Dan ya monmaap nih, Apple memang tak melirik segmen pembeli macam ini.

Tulisan yang sama pernah dimuat di Mojok.co

7 Oktober 2018

Mengintip Fitur Tiga Kamera pada Samsung Galaxy A7

Kamera ganda pada smartphone sepertinya bakal menjadi masa lalu. Sebab kamera belakang dengan tiga lensa mulai diproduksi oleh beberapa pabrikan. Tren ini diawali oleh Huawei P20 Pro yang memikat banyak orang, pun dipastikan Oppo R17 Pro dan LG V40 bakal menyusulnya. Sebelum kedua merek terakhir mewujudkannya, pemilik pasar smartphone terbesar secara global, Samsung, telah merealisasikannya melalui Galaxy A7.


Samsung Galaxy A7 telah dirilis secara global di India pada Selasa (25/09/2018) kemarin. Sebelumnya, Samsung telah mengenalkannya ke publik beberapa hari sebelumnya. Smartphone ini merupakan kelanjutan dari seri A yang dipasang Samsung di kelas menengah. Dan sebagaimana judul artikel ini, daya tarik Galaxy A7 terletak pada konfigurasi kamera belakangnya yang terdiri dari tiga buah kamera.

Oke, baiklah, mungkin ada yang sedikit bertanya-tanya soal Galaxy A7. Pasalnya smartphone dengan nama yang sama pernah meluncur pada tahun 2017 silam. Bahkan bukan hanya tahun kemarin, sejak 2015 smartphone ini pernah dirilis dengan dapur pacu Exynos 5430 dan Android KitKat. Kemudian Samsung pun menghidupkannya lagi setahun kemudian dengan nama yang sama dan beberapa upgrade.

Agar tidak menjadi judul sinetron ‘smartphone yang tertukar’, Samsung kemudian menambahkan tahun di belakangnya kemudian diberi tanda kurung. Misalnya, Samsung Galaxy A7 (2017) untuk membedakannya dengan Samsung Galaxy A7 (2016) dan Galaxy A7 (2015). Cuma untuk Galaxy A7 kali ini tak ada tahun, meskipun kalau tahun depan rilis Galaxy A7 yang baru, kayanya Galaxy A7 yang sekarang akan menjadi Galaxy A7 (2018). Ya sudahlah, suka-suka Samsung saja...

Perbedaan paling mencolok dari Galaxy A7 sekarang dengan lineup Galaxy seri A sebelumnya adalah tiga kamera ini. Fitur ini sekaligus menjadi yang pertama bukan hanya di seri A saja, namun dari keseluruhan smartphone yang pernah diproduksi Samsung.

Tiga kamera belakang ini dihuni oleh masing-masing lensa kamera yang memiliki tugas berbeda. Dimulai dari atas, ada kamera dengan resolusi 5 megapiksel dengan bukaan f/2.2 yang bertugas untuk membuat bokeh. Kemudian bergeser ke kamera di tengah yang memiliki resolusi 24 megapiksel dengan bukaan f/1.7 yang berguna buat mencari titik fokus dalam sebuah jepretan. Dan paling bawah ada kamera dengan resolusi 8 megapiksel dengan bukaan f/2.4. Kamera yang terakhir ini memiliki sudut 120 derajat, sehingga Samsung menyebutnya lensa Ultra Wide.

Konfigurasi tiga kamera ini berbeda dengan Huawei P20 Pro. Smartphone flagship ini memiliki lensa RGB, telephoto, dan monochrome yang membuat hasil fotonya mampu bersaing dengan DSLR. Cuma ya namanya juga flagship, tentu Galaxy A7 tak sebanding kalau disetarakan.


Hanya saja buat yang sedang atau pernah memakai smartphone Samsung, terutama di seri mid-range, kamera dari pabrikan asal Korea ini memang jempolan. Warnanya natural, fokusnya tajam, tetap bagus saat low-light, serta bokeh-nya dapet. Hal yang sama pun berlaku buat Galaxy A7 ini. Dengan konfigurasi tiga kamera tersebut, ada banyak gaya pemotretan yang bisa diterapkan tanpa takut kehilangan kualitas foto. Cuma buat yang berharap lensa lebar tadi mirip dengan kamera sekelas Go-Pro agaknya mesti menuai kekecewaan.

Karena dari beberapa hasil foto di situs gadget India, kualitas foto dengan lensa biasa memang sesuai dengan nama besar Samsung di ranah kamera smartphone. Namun ketika melakukan jepretan dengan lensa lebar, gambar yang dihasilkan memang tak terlalu bisa dibanggakan.

Namun kekecewaan itu semestinya bisa diobati, sebab kamera Galaxy A7 mampu merekam video slow-motion ala Galaxy S9, juga fitur pembuatan timelapse, pro lightning, dan scene optimizer dari kamera belakang tadi. Meski Samsung tidak pernah menyebutkan adanya fitur kecerdasan buatan alias AI pada kameranya, namun fitur dan konfigurasi ketiga kamera tadi semestinya terdengar menjanjikan.

Tiga kamera ini ditempatkan secara vertikal di sudut kanan atas. Di bawah tiga kamera tadi ada LED flash yang berguna membantu penerangan saat memotret. Sementara di sekelilingnya merupakan permukaan kaca yang menutup keseluruhan bodi belakang. Desainnya simpel, sebab hanya ada tulisan Samsung saja di bagian ini.

Kemudian sebaliknya, ada layar 6 inci dengan panel Super AMOLED dengan resolusi 1080x2220 piksel dan rasio 18,5:9. Meski mengklaim layar ini sebagai infinity display, Galaxy A7 tetap memiliki dagu dan dahi yang lebar. Sehingga penempatan kamera depan, yang punya resolusi 24 megapiksel dengan bukaan f/2.0, dan beberapa sensor tampak leluasa di bagian atas layar. Ya, smartphone Samsung selalu menjadi pilihan buat mereka yang alergi poni, baik poni lebar maupun poni tetesan air.

Dimanakah letak fingerprint Galaxy A7 ini? Tenang, ia tak meniru Vivo V11 Pro yang menaruh sensor sidik jari di layar, atau menghilangkannya sama sekali dan menggantinya dengan facial recognition seperti iPhone XS. Galaxy A7 masih memakai sidik jari fisik, cuma penempatannya di sisi sebelah kanan yang berfungsi juga sebagai tombol power. Menarik pun bosque...

Untuk dapur pacu Galaxy A7, Samsung memasanginya dengan Exynos 7885 dengan kecepatan prosesor sebesar 2,2 GHz. Chipset ini memiliki dua opsi sokongan, yakni RAM 4 GB dan memori internal 64 atau RAM 6 GB dan memori internal 128 GB. Dapur pacu ini ditopang daya sebesar 3300mAh tanpa fitur pengisian cepat. Dari sisi software, Galaxy A7 sudah memakai Android 8.0 Oreo.

Buat yang berminat, sayangnya belum ada kabar kapan Galaxy A7 ini dipasarkan di tanah air. Cuma berdasarkan kebiasaan, kalau di India dipasarkan, biasanya di Indonesia pun bakal dipasarkan juga dengan harga yang mirip meski dengan chipset berbeda.

Samsung membanderol Galaxy A7 di India dengan harga Rs23,990 atau setara dengan Rp4,9 juta untuk 4GB + 64GB, sementara untuk 6GB + 128GB dibanderol Rs.28,990 atau setara dengan Rp5,9 juta.

Tenang saja, Samsung merupakan brand anti-ghoib club. Jadi buat yang mau beli, tinggal siapkan uangnya, kalau enggak ya sudah jangan nyinyir biar tak kelihatan kerenya.