30 Maret 2017

3 Hal Yang Perlu Dilakukan Agar Tokopedia Menjadi Raja E-Commerce Nusantara


Sebagai salah satu dari enam unicorn di Asia Tenggara (Sumber: Techcrunch), Tokopedia tentu memiliki prospek yang cerah sebagai calon korporasi yang akan merajai e-commerce di wilayah ini. Tokopedia muncul saat era telepon pintar mulai mengakuisisi komputer jinjing, sehingga start-up yang berusia sepuluh tahun ini setidaknya bakal banyak berbicara di level tanah air.

Berdasarkan peta e-commerce yang dirilis iPrice, Tokopedia menempati posisi kunjungan terbanyak kedua setelah Lazada, yakni 39 juta kunjungan per bulan. Angka kunjungan tersebut memang memiliki jarak 10 juta dari urutan diatasnya, tapi yang jadi istimewa adalah Tokopedia hanya memiliki Nakama (sebutan karyawan di Tokopedia) dengan jumlah yang berada di posisi empat, yakni 796 orang.


Sejak 2014, Tokopedia mulai menjemput bola agar memperbanyak Toppers (pengguna Tokopedia), terutama para pegiat usaha mikro agar membuka lapak di Tokopedia. Baru pada 2015, Indramayu, kota dimana saya tinggal, kebagian kunjungan dalam tajuk Tokopedia Meet Up: Perluas Pasar Bisnis Lokal. Saya menjadi bagian dari peserta, yang bahkan sekelas co-founder-nya, Leontinus Alpha Edison, pun ikut turun gunung mengisi acaranya.

Sehebat itukah Tokopedia? Memang sehebat itu, bahkan mungkin jauh lebih hebat dari perkiraan saya. Namun mengapa Tokopedia jadi bahan bahasan soal nasehat terhadap e-commerce untuk lomba iPrice ini? Sebab tak ada gading yang tidak retak. Namun alasan yang paling masuk akal adalah banyak orang termasuk saya, kala memandang Tokopedia dan e-commerce lainnya ibarat pepatah: gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.

Saya pernah lima kali bertransaksi di Tokopedia. Empat kali berhasil dan satu kali saya batalkan sebab barangnya ternyata sedang kosong. Dari pengalaman inilah setidaknya saya bisa mengambil kesimpulan ada yang sebaiknya perlu dibenahi dari Tokopedia.

1. Mempercepat Waktu Konfirmasi



Menurut beberapa sumber, Tokopedia dibentuk untuk menjembatani gelapnya jual-beli di internet. Karena sebelumnya jual-beli di dunia maya hanya didasari oleh rasa saling percaya antara para pelaku transaksi. Hal ini memang punya dampak yang sangat positif, yakni tumbuhnya saling percaya antara penjual dan pembeli disebabkan perantara yang dijalani oleh Tokopedia.

Sebagai jembatan, Tokopedia telah memberikan fasilitas yang bagus, plus disertai rambu-rambu yang jelas. Nah, sayangnya entah mengapa Tokopedia dirasakan lebih menganak-emaskan penjual. Sehingga waktu kirim barang dari penjual ke tangan pembeli bisa memakan waktu yang lama.

Jika menuruti aturan Tokopedia, penjual bisa 'menunda' pengiriman hingga lima setengah hari lamanya. Sebab jika notifikasi pesanan masuk ke penjual pada hari kesatu, maka harus ada konfimasi selambat-lambatnya hari kedua. Kemudian waktu pengiriman dihitung setelah hari ketiga hingga hari keenam. Setelah hari ketujuh tiada konfirmasi, maka Tokopedia akan membatalkan secara otomatis pesanan tersebut. Nah, bayangkan berapa lama sebuah barang sampai di pembeli apabila berjodoh dengan penjual yang gemar dikejar-kejar tenggat waktu?

Sebab Tokopedia tak bisa memberi tugas kepada jasa logistik untuk mengirimkan barang secepat kilat, maka langkah yang perlu dilakukan adalah lebih memperpendek waktu konfirmasi itu. Sebab banyak orang yang membeli secara online, tapi butuh agar barang itu cepat sampai, tanpa peduli proses dan jarak tempuh pengiriman.

2. Bekerjasama Dengan Semua Jasa Pengiriman



Ada berapa banyak orang yang trauma terhadap sebuah jasa logistik? Misalnya memesan gelas, ternyata yang datang adalah remah-remah kaca. Di lain waktu memesan sebuah buku, namun yang datang ternyata jilidan kertas lusuh. Sehingga orang-orang yang trauma ini memilih untuk mencoba-coba jasa logistik lainnya.

Saya pun pernah mengalaminya, ketika membeli dua buah barang di Tokopedia. Saya bertransaksi dan dikonfirmasi pada hari yang sama, menggunakan paket pengiriman yang sama, dan dikirim dari kota yang sama. Ternyata waktu sampainya barang tidak sama, bahkan berjarak hingga dua hari. Kenapa? Entahlah. Yang jelas saya tak akan memakai jasa logistik itu lagi. Kecuali barang dan biaya pengirimannya gratis. :)

Oleh karenanya Tokopedia meski mengupayakan agar penjual tidak hanya memberikan satu pilihan jasa logistik bagi calon pembeli. Ingat, mengupayakan bukan berarti memaksa agar penjual wajib memajang lebih dari satu pilihan jasa logistik. Sebab ini kaitannya dengan ketersediaan jasa logistik tersebut di kota asal penjual. Tapi, bukankah setiap kota, kecuali kota terpencil, pasti punya lebih dari satu pilihan? Paling tidak, Kantor Pos, TIKI, dan JNE biasanya selalu hadir di berbagai kota.

3. Standarisasi Unggahan Gambar



Tokopedia memang sudah menyediakan secara lengkap isian info produk bagi calon penjual yang mau bergabung maupun penjual yang sudah lama. Disitu ada begitu banyak data-data yang perlu diisi agar barang yang dijual terlihat dengan jelas. Dan patut diakui UX dan UI-nya sangat bagus. Sayangnya, bagi para calon pembeli yang fakir sinyal, halaman Tokopedia sering berat ketika diunggah. Ada beberapa toko yang memiliki gambar lebih dari 500 kb. Jadi berapa ukuran satu halaman penuh toko tersebut ketika diunggah? Saya nggak bisa membayangkan betapa beratnya.

Sebenarnya soal unggahan laman ini lebih kasuistik. Mengapa muncul kasus semacam ini? Sebab secara teknis, laman sebuah toko di Tokopedia memungkinkan untuk diunggah gambar-gambar yang memberatkan unggahan laman. Ini tidak bagus, kata Google. Sebab kata si mbah, laman yang tidak menampilkan isi dalam kurun waktu kurang dari tiga detik berpotensi ditinggalkan pengunjung.

Maka sebaiknya meski dibuat batasan, misalnya sebuah gambar mesti memiliki ukuran 80 kb. Diluar dari ukuran tersebut, sistem bisa menolak calon gambar yang bakal diunggah. Resikonya memang gambar tersebut tidak sejelas ketika ukurannya masih besar, tapi tetap cukup jelas untuk dipajang di beranda toko. Namun yang terpenting adalah unggahan laman bisa lebih cepat.

Tiga hal itu yang bisa saya sarankan untuk Tokopedia berdasarkan pengalaman kunjungan toko dan transaksi. Mungkin masih banyak, atau boleh jadi sebenarnya lebih sedikit dibanding apa yang seharusnya disarankan. Tapi paling tidak tiga hal itulah yang saya temukan sepanjang interaksi dengan Tokopedia. Mudah-mudahan bermanfaat.

-----------
Disclaimer: Diikutsertakan dalam Kompetisi Blog E-Commerce iPrice

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

Silakan tinggalkan komentar ya, tapi jangan pakai anonim biar bisa dikunjungi balik dan jangan nitip backlink karena bakal terdeteksi spam by default... Thanks.
EmoticonEmoticon