12 Juli 2018

Bukan Cuma Harga dan Spesifikasi, Inilah Yang Wajib Dipertimbangkan Sebelum Beli Smartphone


Pertimbangan dalam membeli smartphone selalu dikaitkan dengan harga dan spesifikasinya. Kalau muncul smartphone terbaru, banyak yang membandingkannya dengan smartphone yang sudah keluar sebelumnya di rentang harga yang setara.

Katakanlah smartphone terbaru dengan spesifikasi Snapdragon 425 octa core 1,4 GHz, RAM 3 GB dan memori internal 32 GB, dibanderol dengan harga Rp1.799.000. Sementara dengan harga yang sama, kamu bisa mendapatkan smartphone dengan dapur pacu Snapdragon 450 octa-core 1,8 GHz, dengan RAM dan memori internal serupa dari merek sebelahnya. Kebanyakan warganet biasanya akan dengan cepat mengulik harga dan spesifikasi tersebut, kemudian dengan enteng membuat hestek #mending-mendingan.


Buat yang tersirat di pikirannya kalau artikel ini bakalan menyindir Mifans, ya kamu benar, meski tidak sepenuhnya begitu. Sebab tahun ini, budget phone bukan cuma milik Xiaomi saja. Ada banyak merek yang melakukan penetrasi di pasar smartphone murah dengan spesifikasi yang cukup mewah. Setiap kali muncul smartphone baru, banyak pengulas gawai menyebutnya Xiaomi-killer. Sebutan ini karena si 'beras kecil' itu memang dikenal sebagai pionir budget phone.

Meskipun Xiaomi tak juga 'mati' walaupun banyak yang berupaya membunuhnya, produksi smartphone murah dengan spesifikasi yang mewah tadi sudah bergeser ke banyak merek. Kemarin kita melihat betapa luar biasanya hype Asus Zenfone Max Pro M1, dan vibe-nya hingga sekarang masih cukup terasa. Asus pun merilis Zenfone Live L1 yang ditengarai sebagai budget phone dari pabrikan asal taiwan ini.

Advan pun merilis Advan i6 yang diklaim sebagai budget phone dengan fitur yang kaya namun banderolnya satu jutaan saja. Dan pelan namun pasti, ada Infinix yang secara konsisten merilis seri Hot untuk bertarung di kelas budget phone tadi. Huawei punya Y5 Prime, dan ‘anaknya’, Honor punya 7A. Diluar beberapa merek itu, tentu masih banyak.

Jadi kalau berbicara "jangan melihat smartphone dari harga dan spesifikasinya" itu pasti menyindir merek tertentu, fix kamu kurang banyak membuka situs Mojok terutama kolom Konter. Sebabnya karena sudah banyak merek yang memproduksi budget phone seperti diatas. Ditambah lagi, penetrasi smartphone flagship di Indonesia enggak begitu nggilani. Banyak produsen ponsel yang bermain aman dengan memproduksi  dan memasukkan smartphone di kisaran harga sejutaan dan dua jutaan di tanah air ini.

Lantas mengapa pertimbangan membeli smartphone sebaiknya tidak hanya melihat perbandingan harga dan spesifikasi yang ditawarkan saja? Sebab ada beberapa faktor lain yang semestinya dipertimbangkan pula.

Pertama, pengalaman pengguna dalam menggunakan smartphone biasanya menjadi faktor yang penting. Pengalaman pengguna atau biar keminggris sebut saja user experience dan disingkat UX saja, merupakan tujuan akhir dari desain yang dibesut oleh para produsen smartphone. Seorang desainer UX pasti tahu kalau ditanyakan mengapa sebuah sensor sidik jari di belakang, posisinya berada di tengah dan sedikit keatas. Begitu juga tombol dan fungsi lainnya yang berkaitan dengan penggunaan, peletakkannya seolah mainstream banget. Lama-lama memang terkesan konvensional.

Desain yang konvensional ini bukan tanpa sebab. Karena desain itu sudah melewati riset dan penelitian yang objeknya merupakan pengguna smartphone juga. Sehingga desain itu berbasis kebutuhan pengguna terhadap kenyamanan dalam menggunakan smartphone.

Kenyamanan ini semestinya dipertimbangkan dengan baik, karena smartphone cakep dengan spesifikasi gahar dengan harga yang dipangkas habis-habisan boleh jadi tidak nyaman saat digunakan. Buat apa cakep kalau enggak bikin nyaman, ya ‘kan? Mending putus! #eh...

Kedua, mengenai layanan purnajual. Layanan purnajual menjadi faktor lain yang sebaiknya dipilih ketika membeli sebuah smartphone. Sebabnya apa? Manusia itu diberikan perasaan bosan, iri hati, dan cemburu yang lumayan besar, sehingga punya potensi yang tidak setia. Termasuk tidak setia kepada smartphone, atau sebaliknya.

Smartphone yang baru dirilis sering menjadi ‘racun’ bagi sebagian orang. Sehingga banyak yang rela menjual smartphone lamanya demi mendapatkan yang baru. Kalau smartphone yang memiliki layanan purnajual yang baik, maka harga jual kembalinya pun cukup tinggi. Jadi kalau ada kamu bukan tipe setia, ya sebaiknya mempertimbangkan betul soal ini.

Sayangnya, produsen smartphone yang memiliki layanan purnajual yang baik selalu menjual smartphone-nya dengan harga yang tak murah. Soal ini, mau tak mau memang Samsung yang mesti dijadikan contoh. Serius, saya tidak dibayar, dan Mojok pun belum tidak dibayar juga oleh Samsung. Ini murni karena pabrikan asal Korea ini masih stabil di pasaran, toko offline-nya banyak, dan tempat servisnya pun melimpah.

Kalau membeli smartphone dengan bekal murah dan spesifikasi bagus saja, khawatir kalau ada apa-apa langsung dibuang begitu saja. Kemudian jangan pun mengeluh di Twitter, sebab bakal dinyinyiri warganet, “Beli murah aja banyak maunya, dasar #OKB.”

Ketiga, inovasi dari produsen smartphone. Di tengah desain yang rata-rata mirip dari produsen smartphone, selalu ada pionir yang memulainya. Apple sering disebut pionir untuk urusan inovasi, baik dari sisi desain, fitur, maupun strategi membangun brand value. Contohnya desain body iPhone 7 yang sampai sekarang masih banyak ditiru oleh produsen smartphone lain. Dan yang kini cukup mencolok adalah penggunaan poni, dimana iPhone X menjadi yang pertama mempopulerkannya.

Banyak yang menyebut kalau Apple senantiasa merilis smartphone dengan harga yang overpriced. Meski sebutan itu tak sepenuhnya salah, namun ada alasan mengapa Apple berbuat demikian. Yang pertama tentu saja karena pasar Apple sudah stabil, sehingga apapun kata orang, tak menggoyahkan posisinya sebagai runner up pasar smartphone secara global dan selama beberapa tahun menduduki posisi pertama. Berdasarkan laporan Counterpoint untuk kuartal I tahun 2018, Apple berada di posisi kedua dengan angka 14,5 %, dimana Samsung memimpin di angka 21,7 %.

Yang kedua soal biaya riset dan pengembangan Apple yang pada 2017, menurut Statista.com, menghabiskan USD10 miliar, dan masih dibawah Samsung yang menghabiskan USD12,7 miliar.

Inovasi yang membuat smartphone produksi Apple sering diimitasi, selalu diawali dari riset yang menghabiskan dana miliaran dollar itu. Mahalnya biaya itu kemudian dibebankan kepada pembeli smartphone. Pola Apple ini jangan disamakan dengan pabrikan yang hanya bisa mencontek terinspirasi desain yang sudah ada, sehingga bisa melepas smartphone-nya dengan harga yang lebih rendah.

Ketiga hal itulah yang membuat harga dan spesifikasi selalu tidak bisa dijadikan tolok ukur dari bagus-tidaknya sebuah smartphone. Dan ketiganya seharusnya menjadi pertimbangan tambahan ketika akan membeli smartphone. Kalau dijadikan tag kampanye, ketiga hal itu boleh saja diringkas menjadi nyaman, aman, dan inovatif.

Tapi kalau budget-nya pas-pasan, lalu menginginkan smartphone dengan spesifikasi yang mumpuni ya apa boleh buat. Sayangnya, smartphone demikian pun dijual lewat jalur flash sale dengan ketersediaan barang yang terbatas, dan akhirnya menjadi barang gaib. Apakah kamu cukup sakti untuk mendapatkan barang gaib?

___________
Artikel ini pernah dimuat di Mojok.co dengan sedikit perubahan.

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

Silakan tinggalkan komentar ya, tapi jangan pakai anonim biar bisa dikunjungi balik dan jangan nitip backlink karena bakal terdeteksi spam by default... Thanks.
EmoticonEmoticon