30 Agustus 2018

Belajar dari Narman untuk #BukaInspirasi di BukaLapak

Apa yang terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata 'badui'?

Badui secara umum merupakan suku bangsa pengembara di jazirah Arab. Segala hal yang tersebut sebagai badui, teridentifikasi ke dalam komunitas yang memegang teguh adat istiadat leluhurnya.

Istilah badui yang sama pun dinisbatkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia kepada sebuah suku di pedalaman Lebak, Banten. Nama suku itu kerap disebut sebagai Urang Kanekes alias Orang Kanekes menurut Bahasa Indonesia.

Kanekes merupakan nama desa yang dihuni oleh suku tersebut. Desa Kanekes masuk ke dalam teritori Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten, dan berjarak 152 km dari Jakarta. Desa ini terdiri dari 65 kampung yang terdiri atas dua macam suku Badui, yakni Badui Luar dan Badui dalam.

Kanekes dihuni oleh sekitar 11.700 jiwa yang mendiami dataran perbukitan dengan ketinggian 300 hingga 600 meter diatas permukaan laut. Hal menarik dari suku ini adalah tentang komitmennya dalam menjaga kearifan lokal, sehingga adat, budaya, dan alam sekitar disana masih sangat asri dan terawat.

Oleh karena alamnya yang asri dan kearifan lokal yang terjaga dengan baik, Desa Kanekes telah menjadi tujuan wisata budaya adat, sehingga banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Setiap pengunjung yang masuk ke kawasan ini mesti mematuhi aturan yang berlaku. Salah satu yang mungkin mencolok bagi kaum modern seperti kita adalah adanya larangan untuk membawa masuk benda-benda elektronik seperti pengeras suara, radio, tape, sampai tidak boleh membawa bungkus makanan berupa plastik dan kertas.

Selain alam dan kearifan lokal yang bisa dinikmati sebagai wisata itu, masyarakat Kanekes memiliki keterampilan dalam memproduksi kerajinan tangan yang fungsional dan bernilai ekonomis. Namun tidak semua orang berkesempatan berkunjung ke Kanekes.

Disinilah perumusan masalah yang mesti dipecahkan. Bisakah orang yang tidak berkunjung, bisa mendapatkan 'merchandise' asli khas Kanekes?

Seorang pemuda Badui bernama Narman Alchimin menjawabnya, "Bisa."


Narman merupakan penduduk asli Desa Kanekes, tepatnya Kampung Marengo yang merupakan kawasan suku Badui Luar. Ia memiliki cita-cita sederhana, yakni agar para perajin, yang merupakan salah satu penjaga adat istiadat Badui, memiliki kesinambungan hidup. Salah satu caranya ya dengan menjual hasil karya tersebut.

Kalau cuma mengandalkan pengunjung yang datang ke Desa Kanekes saja, agaknya penjualan itu bakalan tidak optimal. Namun untunglah, seorang pengunjung menyarankan Narman belajar internet, media sosial, dan marketplace.

Disinilah tantangan itu dimulai. Narman berhadapan dengan keterbatasan yang tidak memungkinkan dirinya untuk go online layaknya jutaan UMKM di Indonesia. Desa Kanekes harus tetap menjaga dirinya dan terjaga kelestariannya apapun yang terjadi. Maka tak ada toleransi untuk dibangun tower telekomunikasi, meskipun demi terpasarkannya hasil kerajinan suku Badui dengan mudah.

Maka Narman mengatasi keterbatasan itu dengan kakinya. Ia berjalan sejauh 3 kilometer ke wilayah Ciboleger. Jarak sejauh ini ia tempuh selama sejam. Jika dikalkulasi, rata-rata Narman menempuh 6 kilometer dan memakan 2 jam perjalanan jalan kaki. Dan itu dilakukannya setiap hari.


Apa yang Narman lakukan? Ia melakukan hal yang untuk ukuran kita sangat mudah, yakni mencari tempat yang terjangkau sinyal telekomunikasi. Tempat paling dekat ya cuma berada di Ciboleger tadi.

Rutinitas Narman ini dilakukan agar komitmennya terhadap adat Badui tetap terjaga, dan para penjaga adat tersebut tetap memiliki hidup yang berkesinambungan. Ia go online lewat Bukalapak. Melalui akunnya Baduy Craft, Narman mempromosikan segala macam kerajinan orang Kanekes terhadap orang luar.

Setelah tantangan sinyal teratasi, Narman punya tantangan lain yang tidak kalah melelahkan buat kita yang melihatnya. Ketika ada orang yang bertanya ketersediaan stok, memesan barang, maupun bernegosiasi harga, Narman mesti kembali ke Kanekes untuk memastikan jawabannya. Sehingga rute yang ditempuh tadi bisa semakin panjang dan melelahkan.

Narman menginspirasi kita semua meski melalui video berdurasi 3 menit 52 detik di akun Youtube Bukalapak. Ia tetap menjaga komitmen komunitas, mengatasi keterbatasan, dan memenuhi cita-citanya.


Mungkin diluar sana pun banyak Narman lainnya yang belum terekspos. Banyak dari mereka yang menjadi alasan dari 85 juta kunjungan situs Bukalapak setiap bulannya dan pembukuan transaksi lebih dari Rp50 miliar setiap hari.

Bukalapak memang terbuka dan prospektif. Ada puluhan ribu pengusaha mikro hingga besar yang berada di situs marketplace yang didirikan oleh Achmad Zaky ini. Namun kesuksesan itu selalu tergantung pada bagaimana seseorang membuka inspirasinya, menunaikan cita-citanya, komitmen terhadap visinya, dan kerja keras dalam mengatasi hambatan yang muncul. Ya, seperti Narman.

Eh, sebentar, dari tadi ngobrol soal Bukalapak sudah tahu 'kan Bukalapak ini apa? Lalu, sudah tahu belum kalau ada PROMO MERDEKA DARI MAHAL di Bukalapak? Ya sudah cepat kunjungi link ini.


--***--


*Gambar adalah screenshot dari video Mendobrak Keterbatasan (Kisah Narman - Pelapak Suku Baduy Luar) | BukaKisah

Seorang pekerja sosial yang suka dengan gadget dan dunia digital.

24 komentar:

  1. Salut ma mas Narman. Semangatnya liar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. luar biasa ya pak, mantap emang mas Narman ini.

      Hapus
  2. Aku langsung penasaran ingin lihat sosok Narman dan langsung meluncur ke channelnya.
    Salut dengan semangatnya 👍

    BalasHapus
  3. Luar biasa kang Narman, semangat dan kegigihannya patut ditiru, sangat menginspirasi. Dengan segala keterbatadan yang ada, kang Narman telah membuktikan kepada kita, semua bisa diatasi, semua ada solusi, tinggal bagaimana merealisasikannya.

    Tentunya dengan kisah perjuangan kang Narman yang tak kenal lelah dalam mempromosikan ragam hasil kerajinan khas baduy, kita bisa mengambil pelajaran darinya bahwa rintangan seberat apapun mampu kita atasi asal ada kemauan, tekad yang kuat dan semangat yang mrnggebu-gebu dan pantang menyerah, serta tak mengenal kata putus asa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya hampir sama, jangan-jangan sodaraan sama Kang Maman nih :)

      Hapus
  4. Wah Mantap nih Informasinya Suntikan energi untuk terus berjualan

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Wah mantap dikunjungi orang Kalimantan hehe

      Hapus
  6. Suku baduy memang menjaga kelestarian alamnya, kala itu teman saya ke sana dan dia bercerita bahwa satu piring saja itu tidak boleh ada di baduy pedalaman atau disebut baduy asli, tapi kang Narman ini oke pisan, semoga saja yang dia lakukan menjadikan inspirasi terhadap orang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang Narman jni baduy luar, kalo baduy dalam mungkin aktivitas Kang Narman lebih terbatas lagi.

      Hapus
  7. Wah semangatnya Mas Narman memang luar biasa. Rela bersusah payah berjalan jauh untuk mengjangkau sinyal inet demi memasarkan hasil kerajinan masyarakatnya. Sangat inspiratif dan patut dicontoh oleh kita yang tidak mengalami kendala inet. Kerenn.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kang Narman ini sungguh inspiratif, makanya ceeitangc diangkat oleh Bukalapak.

      Hapus
  8. reviewnya mantap bang, bisa belajar juga nich

    BalasHapus
  9. Dengan adanya sinyal komunikasi semuanya bisa ngakses ya bang,,
    semoga daerah daerah lain juga bisa kaya gitu sehingga bisa mendongkrak perekonomian warga sekitarnya. Syukur syukur kalau bisa tembus ke expor.. Aamiin..

    BalasHapus
  10. Terbesit pemikiran untuk berjualan online seperti Kang Narman. Sayangnya kita yang tinggal di kota dengan segala kemudahan akses komunikasi dan transportasi justru kalah semangat dengan mereka yang jauh dari akses komunikasi. Disitu kadang saya menjadi malu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Pak Dody, pukulan telak buat saya yang banyak alasan untuk memulai usaha.

      Hapus