27 Oktober 2018

Cara Menggunakan Tanda Pagar (Hashtag), Biar Konten Anda Mudah Ditemukan


Hashtag atau dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan tanda pagar merupakan sebuah ujaran baru yang kerap ditemui dalam unggahan di media sosial. Pengguna media sosial kerap menaruh tanda pagar atau sering disebut tagar ini dengan apa yang ingin dikehendakinya. Misalnya kalau ia mengunggah makanan, maka tagar yang menyertainya adalah #food, #makanan, #dietgagal, dan semacamnya.


Fitur tagar ini sebetulnya bukan cuma buat gaya-gayaan agar unggahannya lebih berwarna, tapi memang dibuat karena memiliki fungsi. Salah satu fungsi tagar dalam media sosial adalah agar unggahan tersebut mudah dicari, mudah dikelompokkan, dan mendapatkan jangkauan yang baik alias banyak dilihat oleh orang lain. Tentu saja ini cocok buat yang memakai media sosial untuk internet marketing.

Lantas bagaimana sih menggunakan tagar yang sebenarnya? Atau bukan 'sebenarnya' sih, tapi bagaimana 'sebaiknya' menggunakan tagar. Sebab yang benar belum tentu baik 'kan?

Relevansi tagar

Ada banyak sekali pengguna media sosial, yang tahu kalau tagar merupakan cara agar unggahannya bakal dilihat banyak orang, kemudian membuat banyak sekali tagar. Sayangnya, tagar tersebut tidak relevan dengan unggahannya. Misalnya seseorang dengan unggahan kosmetika berjenis scrub yang salah satunya beraroma kopi, sebut saja akun @kosmetikakita kemudian menuliskan tagar dengan aneka ragam tagar sampai 15 buah, seperti #produkbebaskimia #natural #scrubhomemade dan lain-lain yang disandingkan dengan #kopi.

Iya sih, orang-orang yang mencari dengan tagar #kopi bakal menemukan unggahan produk kosmetika ini, tapi apa ini relevan? Orang-orang yang mencari melalui tagar #kopi biasanya laki-laki yang jauh dari citra pemakai scrub. Sehingga kalau ada yang melihat unggahan kosmetika tersebut mereka tak akan merespon apa-apa.

Kalaupun dengan menarget pengunjung tagar #kopi untuk memfollow akun tersebut, ya yang datang biasanya akun robot saja. Mereka memang bakal memenuhi angka follower di akun anda, tapi apa enaknya di-follow robot 'kan?

Contoh masalah lainnya adalah kerapnya pengguna media sosial berselancar di tagar yang sedang nongkrong di trending topic. Ini lumrah terjadi di Twitter. Sudah pun tak ada kaitannya, ditulis pula seluruh tagar yang sedang trending tersebut. Iya sih dilihat banyak orang, tapi apakah dengan jangkauan itu kemudian efektif untuk mempromosikan konten yang telah dibuat? Biasanya enggak sama sekali.

Jadi, sebelum menuliskan tagar, ajukan pertanyaan tentang relevansi unggahan dengan tagar yang dibuat.

Tagar tak terkait merek

Anda boleh punya merek, tapi tak usah dipromosikan menjadi tagar. Misalnya anda memiliki produk keripik kentang balado dengan nama Chipsahoy, maka tagar yang sebaiknya dibuat bukanlah #cipsahoy. Lah, kalau penginnya #chipsahoy bagaimana? Ya sudah sih, suka-suka anda saja.

Namun sebaiknya, membuat tagar adalah disesuaikan dengan pencarian yang tidak terlampau spesifik. Misalnya kalau kasusnya keripik kentang balado tadi, maka mulailah tagar dengan #food lalu disusul #keripikkentang #keripikbalado #keripikgurih dan seterusnya yang tidak menyebutkan mereknya. Syukur kalau tagar tersebut mewakili secara resmi merek tersebut, misalnya XL Axiata memiliki tagar yang di-buzz kawan-kawan buzzer dengan #JadiLebihBaik.

Tagar #JadiLebihBaik tentu mudah untuk disandingkan dengan kalimat lain. Kesan tagar tersebut jadi natural. Sehingga ketika tanpa sengaja pihak diluar buzzer tadi mengklik tagar itu, maka yang muncul adalah promosi tentang XL Axiata. Meski memang tagar tersebut sepertinya tidak mewakili XL yang notabene perusahaan telekomunikasi, tetapi siapa duga kalau tagar tersebut merupakan penanda kalau XL selalu ingin jadi lebih baik. Ya 'kan? Udah mirip orang lagi nge-buzzer belum? #eh

Kalau bisa, tagar hanya dua kata saja

Pernah melihat tagar yang sangat panjang? Misalnya #kodekerasbuatyangmerasasaja. Iya sih, itu memang tagar dan pastinya akan berfungsi dan bakal menjadi tagar pencarian kalau, sekali lagi, kalau yang menuliskan tagar tersebut sangat banyak.

Tapi sebagai pengawal tagar, sebaiknya buatlah tagar dari dua suku kata saja. Jangan banyak-banyak, sebab tagar pun perlu dibaca meski tanpa spasi. Tagar yang pendek memudahkan ingatan orang untuk mencari lagi di lain kesempatan.

Nah, tiga poin tadi setidaknya menjadi panduan bagaimana sebaiknya menggunakan tagar. Kalau bagaimana cara yang benar menggunakan tagar, saya yakin semuanya sudah benar.

Demikian, barangkali ada yang mau menambahkan silakan tulis saja di kolom komentar.

Hallo! Tentang saya bisa dibaca disini. Untuk menghubungi pun bisa ke email ini.

4 comments

Wahh keren kak tips nya. terimakasih info nya kak:) sukses kedepannya:)

Iya, seringnya kita bikin tagar sesuka hati dan nggak releven. padahal itu pengaruh banget dnegn apostingan dita di sosmed untuk terbaca. dan kadang kala atagarnya kebanyakan..hehehe

Yuk diaplikasikan bareng-bareng.

Silakan tinggalkan komentar ya, tapi jangan pakai anonim biar bisa dikunjungi balik dan jangan nitip backlink karena bakal terdeteksi spam by default... Thanks.
EmoticonEmoticon