Asus Zenfone Max M2 dan Penetrasi E-Sport Indonesia

Ridel, demikian orang-orang mengenalnya. Nama lengkapnya Ridel Yesaya Sumarandak. Usianya baru genap 16 tahun pada dua bulan sebelum laga bersejarah itu dihelat. Hitungan usia ini pernah menjadi momok mengkhawatirkan bagi dirinya. Sebab akibat usia dibawah 16 tahun, dirinya pernah ditolak berlaga di sebuah pertandingan bergengsi.


Kini ia tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mendapatkan emas di nomor Clash Royale cabang E-Sport pada Asian Games 2018. Tak tanggung-tanggung, dengan akun BenZerRidel, ia menekuk wakil dari China, Lciop.

Meski emas yang diperoleh Ridel tak dihitung karena e-sport masih cabang ekshibisi, namun banyak yang tak menyangka atas pencapaian tersebut. Pasalnya Huang Chenghui, seorang pria dibalik akun Lciop itu, berasal dari negeri superpower untuk urusan game. Dan ia harus mengakui keunggulan bocah asal Tondano, sebuah daerah yang bahkan jauh dari ibukota Jakarta.
Ridel Yesaya Sumarandak dalam poster resmi Facebook Clash Royale Indonesia.
Fenomena semacam ini sebetulnya bukan tidak mungkin akan terus berkembang besar. Perkembangannya akan menguntungkan Indonesia sebab bakal memiliki banyak stok atlet e-sport. Karena kedepan, e-sport bukan lagi cabang ekshibisi. E-sport akan menjadi cabang olahraga yang resmi, setidaknya di tingkat regional Asia.

Namun perkembangan ini tentu meminta syarat. Setidaknya ada tiga syarat yang perlu dipenuhi. Syarat yang pertama adalah kultur penerimaan masyarakat terhadap game itu sendiri harus baik. Kedua, infrastruktur internet sudah tersambung ke pelosok negeri. Ketiga atau yang terakhir yakni keberadaan perangkat gaming yang harganya terjangkau kantong masyarakat biasa.

Mari kita bahas ketiga syarat ini satu-persatu.

Sudah Diterimakah E-Sport di Tengah Masyarakat?

Masyarakat Indonesia memang masih menganggap aktivitas game adalah hobi yang merugikan. Orang-orang masih menganggap, misalnya, membeli 'skin' pada Mobile Legends, dianggap pemborosan dibandingkan patungan shuttlecock pada permainan bulutangkis di kelurahan.

Mereka beralasan kalau bermain game di smartphone hanya membuang waktu, sementara bulutangkis bisa mengeluarkan keringat dan bisa menyehatkan tubuh. Padahal, catur juga tidak membuat keluar keringat, tapi kenapa disebut olahraga? Jika logikanya hanya aktivitas fisik yang mengeluarkan keringat, tak perlu bulutangkis atau semacamnya, lari-lari keliling kompleks pun sama saja. Terlebih lari tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli raket dan shuttlecock.

Untunglah seiring semakin masifnya kompetisi game dan masuknya cabang e-sport ke dalam kompetisi olahraga konvensional, membuat pandangan akan aktivitas game ini mulai positif. Ya, pandangan positif tersebut memang baru mulai belakangan ini.

Infrastruktur Internet di Indonesia Sudah Lebih Baik

Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2017 jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143 juta. Jumlah ini sudah lebih dari setengah populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 264 juta jiwa. Angka pengguna itu diyakini telah bertambah hingga 150 juta pada tahun 2018.

Melonjaknya jumlah pengguna itu disebabkan karena perkembangan proyek Palapa Ring. Proyek pemerintah ini merupakan pembangunan jaringan kabel serat optik yang akan menjangkau 514 kabupaten dan kota di 34 provinsi. Proyek yang meliputi kabel laut dan darat sepanjang 35.280 km dan 21.807 km itu ditargetkan tuntas pertengahan tahun 2019 dan memakan biaya sebesar Rp21 triliun.

Belum lagi keberadaan BTS yang diselenggarakan secara mandiri oleh penyedia layanan telekomunikasi. Hal ini membuat konektivitas internet di Indonesia dianggap sudah baik.

Hal ini pun tentu menjadi kabar baik bagi perkembangan game dan e-sport di Indonesia. Sebab masifnya jaringan internet tentu akan meluaskan akses bagi penduduk Indonesia dimanapun berada. Tinggal satu lagi syarat yang mesti dipenuhi: terjangkaunya harga perangkat game.

Perangkat Game Masih Dianggap Mahal?

Ya, perangkat game memang masih mahal. Sebagai contoh, laptop Asus ROG yang dibanderol mulai dari belasan juta. Namun e-sport bukan cuma berbicara game komputer maupun konsol belaka. Banyak game yang ada di e-sport, seperti Arena of Valour, Mobile Legends, Clash Royale, dan Hearthstone notabene merupakan mobile gaming. Artinya nomor di cabang e-sport itu bakal dimainkan lewat smartphone.

Perkembangan game mobile memang lumayan pesat. Banyak perusahaan game konsol dan PC yang mengadopsi game mereka ke versi mobile. Sebut saja PUBG Mobile yang merupakan adaptasi dari PUBG. Kemudian menyusul pula Fortnite yang punya versi mobile dan dirilis 'eksklusif' hanya untuk smartphone flagship.

Kalau mengikuti spesifikasi yang diharapkan Fortnite, memang mitos bahwa smartphone gaming mahal memang benar. Namun banyak game mobile yang bisa dimainkan dengan spesifikasi kelas menengah. Kalau diukur dengan chipset, game tersebut bisa dimainkan dengan spesifikasi chipset Snapdragon seri 600-an. Bahkan Clash Royale, yang dimenangkan Ridel itu, bisa dimainkan dengan smartphone ber-chipset Snapdragon 400-an.

Artinya apa? Untuk memainkan game mobile secara umum tidak perlu smartphone mahal dengan spesifikasi kelas wahid. Smartphone kelas menengah dengan harga Rp2 jutaan juga bisa kok. Apalagi sekarang sudah hadir Asus Zenfone Max M2.

Asus Zenfone Max M2: A Must Buy!

Asus Zenfone Max M2 bisa dibilang merupakan alternatif dari Asus Zenfone Max Pro M2. Ia menyandang tiga kelebihan yang memang wajib dimiliki oleh smartphone gaming: chipset kuat, baterai tahan lama, dan berlayar mantap.

          Chipset Kuat                                                                                          



Zenfone Max M2 memakai chipset Snapdragon 632, chipset yang baru pertama kali hadir di Indonesia. Chipset ini merupakan versi ekonomis dari 636 dan merupakan pengganti dari Snapdragon 625. Fabrikasinya 14nm, persis dengan yang dimiliki Snapdragon 636 dan 660.

Soal kemampuan, Snapdragon 632 dibuat dengan peningkatan performa sebesar 40 % dan kualitas grafis sebesar 10 % dibandingkan pendahulunya. Hal ini terlihat dari rata-rata skor AnTuTu yang dihasilkan, yakni mencapai 104.000, sementara chipset Snapdragon 625 mendapat skor 78.000.

Chipset ini menjadi nilai plus pertama dari Zenfone Max M2, sebab selain mengalami peningkatan performa yang lebih tinggi dari pendahulunya, juga menyebabkan smartphone ini lebih hemat daya dan tidak panas ketika dipakai berlama-lama.

          Baterai Jumbo                                                                                       



Hal kedua yang pastinya menjadi ciri khas dari seri Zenfone Max adalah keberadaan baterai jumbo. Asus Zenfone Max M2 memiliki baterai 4.000 mAh. Baterai sebesar ini bisa dipergunakan untuk bermain Free Fire (game yang di-bundling dengan smartphone ini) selama 8 jam.

Chipset tangguh dan baterai besar sebetulnya percuma kalau dipasangi software yang tidak bagus untuk bermain game. Untuk itulah Asus menyerahkan sepenuhnya sistem operasi smartphone ini pada Android Oreo 8.0 yang murni. Jadi smartphone tidak banyak bloatware yang memakan memori dan memberatkan kinerja chipset dan memori, sehingga pengalaman bermain game jadi lancar.

          Layar Mantap                                                                                       



Asus Zenfone Max M2 memiliki layar resolusi HD+ dan panel IPS LC dengan lebar 6,3 inci. Layar ini selain memiliki ukuran rasio 19:9, juga memiliki rasio screen-to-body sebesar 88 %. Rasio ini cukup besar, sehingga harus memaklumi kehadiran poni yang menurut sebagian orang sedikit mengganggu. Namun apalah arti poni, kalau posisi smartphone biasanya dimiringkan saat bermain game. Dengan begitu, poni akan tertutup jari jempol ‘kan?

Untuk lebih jelasnya, berikut ini spesifikasi dari Asus Zenfone Max M2:


Dengan spesifikasi yang ditawarkan, harga Rp2,3 juta untuk versi RAM 3 GB dan memori internal 32 GB, dan Rp2,7 juta untuk versi RAM 4 GB dan memori internal 64 GB, seharusnya terjangkau oleh penggemar game. Pasalnya untuk smartphone ber-chipset dibawah itu saja masih banyak yang dibanderol sama atau bahkan lebih tinggi.

Jadi dengan tiga syarat yang hampir dipenuhi, termasuk kehadiran Asus Zenfone Max M2 sebagai smartphone game yang harganya terjangkau, seharusnya penetrasi game e-sport bisa lebih baik. Sehingga Indonesia memiliki stok yang melimpah untuk mendulang medali dan menambah prestasi dari cabang olahraga ini.
Artikel Terkait:

9 Komentar untuk "Asus Zenfone Max M2 dan Penetrasi E-Sport Indonesia"

  1. Keren ulasannya bang, mengulas dari sisi berbeda. Good luck bang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita berada di 20 besar ya Kang Maman. Amiin.

      Hapus
    2. Kalau bang doel saya yakin pasti menang, udah mastah juara lomba soalnya, hehe..

      Hapus
    3. Amiin... belum pernah menang lomba Asus apapun Kang Maman, kasihanilah hehe

      Hapus
  2. Semoga sukses bang Doel.
    Menang kompetisi menang juga ngegamenya :)

    BalasHapus
  3. Anak pertama saya, kalau sunat minta dibelikan PS. Padahal, bapaknya asing banget sama PSan...haha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk Dibeliin Pak, Kali Aja Jadi Atlet Esport hihi

      Hapus
  4. E SPort sekarang mulai diakui pemerintah
    menpora dah ngadain lomba esport untuk tingkat SMA kl g salah
    btw soal smartphone, Zenfone MAX M2 ini memang pantas dicari
    performa tinggi, baterai awet, ga cepet panas lagi
    sukses terus mas :) ulasan yang menarik

    BalasHapus

Silakan sampaikan pendapatnya ya. Maaf dimoderasi buat menghindari spam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel