Canon EOS M100: Kamera Untuk Konten Kreator Pemula

Akhir Agustus 2018 silam, kebutuhan untuk membuat konten berupa video akhirnya terpenuhi dengan kehadiran Canon EOS M100. Pemilihan kamera ini sebetulnya lebih banyak disebabkan karena satu hal: budget. Dan karena cukup banyaknya kegiatan lain, aktivitas membuat konten sampai me-review kamera ini pun terbengkalai dan baru sekarang terealisasi. Selamat membaca.


Canon EOS M100 memang melanjutkan ciri khas EOS M10 yang kini sudah mengalami discontinue. Ciri khas yang paling menonjol adalah ia didaulat sebagai kamera low-budget dibandingkan kamera Canon seri yang lainnya. Meski begitu, sebagai penerus ia memiliki beragam pembaruan yang menempatkannya sebagai kamera kekinian.

EOS M100 dan EOS M10 masih sama-sama memiliki ciri khas layar touchscreen yang bisa diputar 180 derajat. Sebagai kamera pas-pasan, Canon pun tetap tak memasang hot shoe di bagian atas M100 sama halnya pada pendahulunya. Satu hal ini yang pada akhirnya membuat saya sedikit menyesal membeli EOS M100. Ya, sedikit saja, karena ketika melihat kemampuannya dalam merekam video, rasa penyesalan itu sedikit pudar.

Canon memberikan peningkatan pada prosesor EOS M100, yakni DIGIC 7. Sehingga kamera ini lebih bagus dalam menghasilkan gambar, lebih terang ketika low-light, dan tentu saja performa auto-fokusnya lebih cepat dan lebih baik.

EOS M10 dan M100 juga sama-sama masih memakai sensor APS-C CMOS, namun Canon membenamkan resolusi 24,2 megapiksel pada M100. Sekadar catatan, resolusi ini dipakai pula oleh kamera Canon EOS 80D yang harga bodinya saja bisa tiga kali lipat M100. Sementara EOS M10 hanya memakai sensor dengan resolusi 18 megapiksel, sama seperti kamera senior yang sudah jadul.

Saat dipakai, dapur pacu ini memang hanya sebuah tulisan diatas kertas. Pengaturan mode kamera yang mengadopsi ragam pencahayaan membuat segala kemungkinan bisa terjadi. Ketika diatas kertas auto-fokusnya cepat, tapi ketika cahaya yang menimpa objek sangat temaram, fokusnya malah tidak ketemu.






Pengalaman Pemakaian

Sebagai pemula, saya cukup sadar diri untuk menyerahkan sepenuhnya kepada mode otomatis, sehingga baik foto maupun video bakal tampil sesuai dengan kemampuan EOS M100 sendiri. Dan beberapa kali pilihan ini tidak salah juga.

Banyaknya pengaturan ISO berkat prosesor DIGIC 7, dari 100 hingga 12800 yang bisa dinaikkan pula hingga 25600, pada EOS M100 ini tidak banyak saya pakai. Sebab normalnya, kamera mengatur ISO 200 hingga 800 pada setiap jepretan foto dan perekaman video.

Yang paling sering dipakai dan bermanfaat menurut saya adalah keberadaan Dual Pixel AF System. Sebab sistem auto-fokus ini menghasilkan 24 juta phase detection yang merata ke area frame hingga 80 %. Sistem ini sangat bermanfaat sebab menghasilkan auto-fokus yang cepat. Cuma ya itu tadi, kalau ndilalah-nya pengaturannya tidak otomatis dan ketemu dengan pencahaayan yang temaram, auto-fokus ini suka enggak jelas.

Sebutan low-budget yang tersemat pada EOS M100 pun terlihat pada dukungan pembuatan video. Ia hanya mentok di resolusi Full HD, belum sampai pada taraf 4K. Untungnya kamera ini bisa merekam hingga 60 fps. Banyaknya frame yang dihasilkan M100 ini lebih banyak dua kali lipat daripada yang dihasilkan oleh M10. Makanya hasil videonya tentu lebih smooth, ya tentu perbandingannya juga dengan pendahulunya itu.

Desain dan Penyimpanan

Bentuk mirrorless memang dibuat seramping mungkin daripada DSLR biasa. Sayangnya, rampingnya mirrorless menjadi kelemahan dari sisi desain bagi para penggunanya. Itulah kenapa EOS M6 dibuat memiliki desain pegangan yang serupa DSLR. Dan, lagi-lagi, sebagai kamera low-budget, kita mesti menerima desain yang rata dari EOS M100.

Untuk mengatasi kamera yang rentan sekali jatuh, saran saya manfaatkan sebaik mungkin strap yang ada. Buat yang tidak nyaman mengalungkan strap di leher, gulunglah tali kamera itu sehingga menyerupai gelang di tangan kanan. Jangan sekali-kali melepas strap ini dan hanya memegang kameranya saja. Ya kecuali anda seorang sultan yang tak mempermasalahkan rusaknya sebuah kamera seharga Rp6 juta.

Desain layar 3 inci yang bisa diputar balik ke depan tentu sangat bemanfaat ketika selfie melakukan talking perform saat pembuatan video sendirian. Saya bisa melihat secara langsung hasil perekaman meski tanpa bantuan orang lain. Ya, hal yang sama pun berguna ketika pemotretan.

Beberapa konektivitas wireless masih dipertahankan pada M100 persis seperti pendahulunya. Ditambah lagi pada EOS M100 ada tombol koneksi Wi-Fi yang bisa langsung menghubungkan folder memori kamera dengan smartphone yang sudah terinstal aplikasi Camera Connect. Jadi buat yang kerap khawatir SD Card-nya terpapar virus dari komputer, saatnya berbahagia. Dengan hanya mengklik tombol tersebut, mengatur perangkat yang terhubung, dan menyalakan aplikasi tersebut di smartphone, transfer data tanpa kabel sudah bisa berjalan. Syaratnya, keduanya berjalan pada jaringan Wi-Fi yang sama.

Saya menghindari transfer data dengan bluetooth apalagi NFC, sebab waktu yang dibutuhkan lebih lama apalagi yang ditransfer merupakan file video.

Kesimpulan Akhir

Sebagai kamera pemula untuk konten kreator, EOS M100 sangat bisa diandalkan. Cuma untuk perekaman video, suaranya bisa dibilang cukup namun belum baik. Hal ini disebabkan kamera ini hanya menggunakan mic internal tanpa bisa dipasangi mic eksternal sebab ketiadaan hot shoe dan port untuk memasang mic-nya.

Ya sebetulnya sih suara stereo yang dihasilkan mic internal ini sudah cukup, cuma untuk mengantisipasi suara yang tidak maksimal, sebaiknya anda membeli perekam tambahan. Saya menyiasatinya dengan membeli Boya Lavalier.

Overall, performanya cukup mengesankan ketika dipakai dalam pembuatan video. Kesan ini mungkin saja hanya saya yang mengalaminya, sebab hanya terbiasa menggunakan smartphone dalam melakukan perekaman video. Cuma dengan konsep yang dipakai pada kamera DSLR dan mirrorless yakni ‘what you see is what you get’, rasanya Canon EOS M100 dengan segala kelemahannya cukup memenuhi konsep tersebut.

Untuk contoh hasil videonya, anda bisa melihat di kanal YouTube saya (subscribe ya :p):



Berikut ini beberapa hasil foto yang berhasil dijepret (Mungkin akan diperbaharui seiring frekuensi pemakaiannya meningkat):





Artikel Terkait:

6 Komentar untuk "Canon EOS M100: Kamera Untuk Konten Kreator Pemula"

  1. Saya dulu penggila kamera DSLR sampai 6 buah dan menghabiskan banyak duit he he he, tetapi seiring waktu setelah gagdet genggam mulai memiliki kamera yang mumpuni dan praktis, hobi itu kini lenyap. Tapi masih sering juga memeriksa review kamera kamera baru dari situs situs tekno

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap pak Sofyan sampe punya enam biji ya...

      Ada yg belum bisa tergantikan dari fungsi kamera digital, terutama dalam perekaman video, meskipun banyak smartphone.

      Cuma karena banyak pehobi foto yang langsung upload di medsoa, pengguna kamera digital semakin berkurang.

      Hapus
  2. apakah suatu saat kamera bakal tergantikan dengan smart phone ya bang, wah kalau gitu kudu segera jual nih kamera ku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau beli kamera digital harganya 5 juta, terus beli smartphone harga yg sama... tentu kalau fotografer lebih memilih beli kamera digital.

      Semuanya berkembang, cuma kebutuhan jeprat-jepret banyak orang kebanyakan berpindah memakai smartphone.

      Hapus
  3. kemaren ngelirik ini, tapi dapet komendasi dari temen buat sony a6000 atau a7 sekalian katanya. hahaha

    btw, salam blogger kak
    www.lilpjourney.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh A7 udah fullframe euy, beraaaat 😄

      Hapus

Silakan sampaikan pendapatnya ya. Maaf dimoderasi buat menghindari spam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel